Claim Missing Document
Check
Articles

PERAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DALAM MENINGKATKAN KESADARAN LINGKUNGAN SISWA Noprika Rahmadhini; Susy Amizera; Rahmi Susanti
Seminar Nasional Pendidikan IPA Ke III Tahun 2025 Vol 3, No 1 (2025): Prosiding Seminar Pendidikan IPA
Publisher : Seminar Nasional Pendidikan IPA Ke III Tahun 2025

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan lingkungan di sekolah sering kali hanya bersifat teoritis dan kurang menyentuh pada aspek praktik nyata. Padahal, pendekatan berbasis pengalaman langsung lebih efektif dalam menumbuhkan kesadaran dan empati siswa terhadap isu lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kegiatan ekstrakurikuler dalam meningkatkan kesadaran lingkungan siswa di lingkungan sekolah. Melalui metode studi literatur dengan  pendekatan kualitatif deskriptif menganalisis  jurnal ilmiah dan laporan penelitian yang relevan, dikaji berbagai aktivitas ekstrakurikuler yang terbukti mampu membentuk sikap dan perilaku ramah lingkungan. Hasil kajian menunjukkan bahwa keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan di luar jam pelajaran formal dapat meningkatkan pengetahuan, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap isu-isu lingkungan. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam menjaga kebersihan, mengelola sampah, melakukan penghijauan, dan memahami pentingnya keberlanjutan. Dengan demikian, ekstrakurikuler berperan sebagai media pendidikan nonformal yang efektif dalam membentuk karakter peduli lingkungan di kalangan pelajar. 
Problema Induksi dalam Ilmu Pengetahuan dan Kegagalan Zainuddin Memahami Hukum Tak Tertulis Budaya Minang Sri Winarsih Daya; Rahmi Susanti; Umi Chotimah; Yosef Yosef
Jurnal el-Huda Vol 17 No 01 (2026): Jurnal el-Huda
Publisher : LP2M, Institut Agama Islam Qamarul Huda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59702/el-huda.v17i01.359

Abstract

Artikel ini menganalisis keterkaitan antara Problema Induksi—sebagaimana dikemukakan oleh David Hume dan dipopulerkan oleh Karl Popper—dalam kerangka filsafat ilmu, dengan kegagalan karakter Zainuddin dalam memahami dan menavigasi tatanan sosial serta hukum tak tertulis (adat) Budaya Minang, seperti yang digambarkan dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck oleh Hamka. Problema Induksi menunjukkan bahwa pengalaman masa lalu tidak menjamin kebenaran universal di masa depan, sebuah keterbatasan yang tercermin dalam cara Zainuddin (seorang perantau dengan latar belakang yang tidak sepenuhnya Minang) berusaha menarik kesimpulan tentang masyarakat Minang berdasarkan pengamatan terbatasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-filosofis dan studi literatur. Hasilnya menunjukkan bahwa kegagalan Zainuddin berakar pada penalaran yang terlalu menyederhanakan dan menggeneralisasi, mirip dengan kelemahan penalaran induktif, yang pada akhirnya membuatnya gagal memenuhi ekspektasi sosial dan hukum adat yang kompleks, khususnya terkait sistem kekerabatan Matrilineal.
Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Asesmen Diagnostik untuk Guru IPA MGMP Palembang Rahmi Susanti; Elvira Destiansari; Riyanto Riyanto; Yenny Anwar; Melia Sari; Miftahul Khairah
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2026): Mei
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppm.v9i2.10973

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru IPA dalam menyusun dan mengimplementasikan asesmen diagnostik kognitif dan nonkognitif sebagai landasan pembelajaran di era Kurikulum Merdeka. Partisipan kegiatan terdiri dari guru-guru yang tergabung dalam MGMP IPA Kecamatan Bukit Kecil Palembang. Model kegiatan yang digunakan adalah pelatihan dan pendampingan. Metode dan tahap pelaksanaan secara umum meliputi persiapan, pelaksanaan pelatihan, pendampingan dan evaluasi serta refleksi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pada pengetahuan dan keterampilan guru dalam merancang asesmen diagnostik. Berdasarkan umpan balik peserta bahwa lebih dari 80% peserta pelatihan menyatakan sangat setuju terhadap manfaat pelatihan dan pendampingan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini berhasil menjawab kebutuhan guru dalam menerapkan asesmen diagnostik sebagai dasar pembelajaran diferensiasi dan menunjukkan urgensi keberlanjutan program untuk memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah.
Science Process Skills of Madrasah Students and Implications for Science Learning in Islamic Education Nurfika Putri Utami; Rahmi Susanti; Desi Desi
JIE (Journal of Islamic Education) Vol. 11 No. 2 (2026): JIE: (Journal of Islamic Education)
Publisher : Yayasan Letiges Konsultan Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35723/jie.v11i2.760

Abstract

This study aimed to describe the profile of basic science process skills (SPS) among Grade XI students at MAN 3 Palembang and to analyze its implications for science learning in madrasahs within the context of Islamic education. The study employed a quantitative descriptive approach using a survey method involving 314 Grade XI students selected through total sampling. Data were collected using the Basic Process Skills Test (BAPS), consisting of 36 multiple-choice items, and were analyzed using descriptive statistics in the form of percentages. The results showed that students’ basic science process skills were generally at a moderate level, with an average achievement score of 65.89%. Among the six basic SPS aspects, prediction achieved the highest percentage (79.30%), followed by classification (73.51%), whereas measurement obtained the lowest percentage (50.11%). These findings indicate that students possess fundamental scientific thinking skills but still require reinforcement, particularly in measurement skills. In the context of Islamic education, the findings suggest the need for science learning in madrasahs to place greater emphasis on inquiry, laboratory activities, and scientific investigations integrated with Islamic values to develop students’ scientific competencies while fostering reflective and responsible individuals. This study provides diagnostic information regarding the strengths and weaknesses of each SPS aspect that can serve as a basis for developing learning strategies, assessment practices, and science curricula in madrasahs to support the improvement of science learning quality within Islamic education.
Science Process Skills Profile of Madrasah Students in Supporting the Quality of Islamic Education Suprihatin Suprihatin; Rahmi Susanti; Ermayanti Ermayanti
JIE (Journal of Islamic Education) Vol. 11 No. 2 (2026): JIE: (Journal of Islamic Education)
Publisher : Yayasan Letiges Konsultan Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35723/jie.v11i2.762

Abstract

Science process skills (SPS) are essential competencies in science learning that support students' scientific thinking and inquiry abilities. However, empirical evidence regarding the SPS profiles of madrasah students as a basis for improving science learning within the context of Islamic education remains limited. This study aimed to analyze the science process skills profiles of tenth-grade students at State Islamic Senior High School 3 Palembang based on six basic science process skill indicators and to examine differences according to gender. A quantitative descriptive approach was employed involving 230 tenth-grade students selected through total sampling. Data were collected using the Basic Science Process Skills (BAPS) test and analyzed using descriptive statistics and an independent-samples t-test at a significance level of 0.05. The results showed that the observation, communication, and classification indicators were categorized as high, whereas measurement and drawing conclusions were categorized as moderate. Prediction achieved the highest score in both gender groups. Although female students obtained a higher average SPS score (67%) than male students (63%), the difference was not statistically significant (p = 0.337 > 0.05). This study was limited to a single madrasah, and therefore the findings cannot be generalized to other Islamic educational settings. Nevertheless, the findings provide an empirical basis for teachers to design inquiry-oriented science instruction that strengthens students' science process skills and contributes to the improvement of science learning in Islamic educational institutions.