Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Parasitisme Sosial dan Budaya: Studi Kasus tentang Dinamika Hubungan Etnis Batak dan Melayu di Deli Serdang Nuriza Dora; Yemmi Sofia Ginting; Wafiq Nurhalizah; Khairunnisa Sitompul
JISPENDIORA Jurnal Ilmu Sosial Pendidikan Dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu Sosial, Pendidikan Dan Humaniora (JISPENDIORA)
Publisher : Badan Penerbit STIEPARI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/jispendiora.v4i3.2786

Abstract

This study examines the phenomenon of social and cultural parasitism in the context of ethnic relations between the Batak and Malay communities in Deli Serdang Regency, North Sumatra, Indonesia. Social and cultural parasitism is reflected in patterns of dominance, wherein one ethnic group gains disproportionate access to economic, social, and symbolic resources, often at the expense of the other. The objective of this research is to analyze how such forms of dominance emerge, persist, and contribute to structural inequality and potential interethnic tensions.Adopting a qualitative approach and employing a case study method, the research investigates various dimensions of dependency within everyday social interactions. The analysis is grounded in Social Conflict Theory and Social Capital Theory to uncover underlying mechanisms that perpetuate inequality and group stratification.Findings reveal that the Batak community’s economic and symbolic dominance reinforces the marginalization of the Malay community, a condition further intensified by historical legacies and local policy dynamics. The study proposes strategic recommendations for inclusive policy-making, interethnic social capital development, and culturally sensitive adaptation efforts aimed at fostering social harmony and equitable integration within a multicultural society.
NETRALISME ANTAR ETNIK DALAM INTERAKSI SOSIAL PASAR TRADISIONAL DI PASAR TUNTUNGAN, MEDAN Nuriza Dora; Saripah Aini Simbolon; Cahaya Permata Sari
Jurnal Nirta : Inovasi Multidisiplin Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Nirta : Studi Inovasi
Publisher : Nirta Learning Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the dynamics of inter-ethnic neutrality that is formed and maintained in social interactions at Tuntungan Market, Medan. This market is one of the traditional markets inhabited by communities with various ethnic backgrounds such as Batak, Karo, and Javanese, so that this market becomes a social forum that reflects unity amidst differences. The method used in this study is qualitative with a descriptive approach. Data collection techniques through interviews, observations, and documentation. The findings of the study indicate that inter-ethnic interactions occur in a neutral and harmonious atmosphere, which can be seen from the use of Indonesian as the main language of communication, a professional attitude in buying and selling transactions, and the absence of ethnic-based conflicts. The attitude of helping each other, social awareness, and common economic interests are the main factors that give birth to this neutrality. Neutrality in the market does not eliminate each other's cultural identities, but builds functional cooperation and mutual respect to create a peaceful and productive social life. The results of the study show that social interactions in the Tuntungan traditional market are dominated by the practice of neutralism, namely the attitude of mutual acceptance and setting aside ethnic differences for the sake of economic and social interests. Where this neutralism is formed through economic cooperation, cultural tolerance and the use of market language as a unifying tool.
Viral Content and Social Change in Rural Communities Nuriza Dora; Nasution, Nasution; Tsuchiya Takeshi
The Journal of Society and Media Vol. 9 No. 2 (2025): Digital Expression and Solidarity Media
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jsm.v9n2.p551-577

Abstract

The rise of viral content on social media has transformed social behaviour and value systems, particularly in rural Indonesian communities exposed to unfiltered digital information. This study examines how viral content shapes traditional values and intergenerational relations. Using a qualitative case study approach, data were gathered through interviews, observations, and document analysis involving content creators, housewives, civil servants, and rural youth. The analysis included data reduction, classification, and interpretation. Findings reveal that viral content exerts both positive and negative effects. While some content promotes education and creativity, much of it normalises unethical behaviour and fosters individualism. Content creators often prioritize popularity over ethics, parents and teachers struggle to monitor youth exposure, and younger generations increasingly perceive traditional values as obsolete. This shift weakens communal norms such as cooperation, respect, and collective responsibility. The study concludes that viral content accelerates cultural transformation and erodes moral education in rural settings. Therefore, strengthening media literacy, digital ethics, and cultural revitalisation programs is crucial to balancing modernisation with the preservation of local wisdom and social cohesion in the digital era.
Perbedaan Hasil Belajar Siswa Sistem Reguler dengan Sistem Boarding School pada Mata Pelajaran IPS: (Studi Pada SMP Negeri 2 Gunung Meriah dan SMP Darul Muta`allimin) Fitri Handayani; Hendri Fauza; Nuriza Dora
Concept: Journal of Social Humanities and Education Vol. 3 No. 1 (2024): Maret: Concept: Journal of Social Humanities and Education
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Yappi Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/concept.v3i1.1078

Abstract

The aim of this research is to determine the differences in social studies learning outcomes between regular and boarding school students. This research uses a quantitative approach with comparative methods. Data collection techniques use tests and documentation. The data analysis technique uses the t test. From the results of calculations that have been carried out using the t test with a significance level of 5%, the calculated value of tcount ≤ ttable or 1.462 ≤ 2.005746 is obtained. So Ha is rejected and H0 is accepted. It can be concluded from the results of these calculations that there is no significant difference in social studies learning outcomes between regular schools and boarding schools. This is proven by the R2 obtained which was only 2.9% while the remaining 97.1% was influenced by other variables.
Gagar Mayang Tradisi Pemakaman Etnis Jawa di Desa Aek Nagali, Kec. Bandar Pulau, Kab. Asahan Wati, Mila; Nuriza Dora
Indonesian Journal of Multidisciplinary Scientific Studies Vol 2 No 2 (2024): Terbitan Edisi Maret 2024
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STAI Raudhatul Akmal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33151/ijomss.v2i3.181

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang Gagar Mayang yang merupakan salah satu dari tradisi etnis Jawa yang hingga sekarang masih dilestarikan oleh suku Jawa di Desa Aek. Nagali, Kec. Bandar Pulau, Kab. Asahan yang memiliki arti sebagai bukti atau tanda terhadap orang yang sudah meninggal dalam keadaan belum menikah ataupun masih Gadis/Lajang. Penelitian ini memiliki keunikan dimana Gagar Mayang adalah rangkaian bucket atau disebut juga dengan Bokor Kencono yang terbuat dari janur (daun kelapa muda) yang dihias dengan bunga dan daun yang dibentuk sedemikian rupa diatas batang pisang. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu mencari tahu proses dan makna dari gagar mayang sebagai media dari upacara adat dari Etnis Jawa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Etnografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Gagar Mayang mempunyai makna yang mengungkapkan hubungan antara manusia dengan lingkungan alam. Bentuk dari setiap rangkaiam janur memiliki makna ataupun nilai tersendiri dalam kehidupan. Gagar mayang ini berfungsi sebagai saksi suatu peristiwa, dimana menjadi saksi meninggalnya gadis/lajang yang masih bujangan/perawan. Sedangkan kembar mayang menjadi saksi terjadi perubahan status dari gadis/lajang yang melepas masa bujangan/perawan ke status perkawinan. Oleh karena itu, ada dua istilah Gagar Mayang sebagai saksi meninggalnya gadis/lajang sedangkan Kembar Mayang sebagai saksi dalam akad nikah sebagai media upacara.
Rumah Dua Belas Jabu Dan Simbolisasi Budaya Karo Di Desa Beganding Kecamatan Simpang Empat Amanda; Nuriza Dora
Indonesian Journal of Multidisciplinary Scientific Studies Vol 2 No 1 (2024): Terbitan Edisi Januari 2024
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STAI Raudhatul Akmal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33151/ijomss.v2i1.190

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang suatu ornament atau bangunan tradisional dari suku batak karo yaitu rumah dua belas jabu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Rumah Dua Belas Jabu ini adalah salah satu rumah adat dari suku batak karo yang saat ini masi ada dan dilestarikan di daerah-daerah tertentu. Dan di sini saya akan menganalisis mengenai yaitu rumah adat dua blas Jabu di desa beganding kecamatan simpang empat. Yang dimana akan di jabarkan mengenai awal mula adanya rumah adat tersebut dan juga ciri-ciri dan keunikan dari rumah dua belas jabu tersebut. Rumah dua belas jabu Ini dapat dilihat dari sudut kemiringan atap yang cukup besar, teritisan yang lebar dan lantai bangunan yang diangkat dari muka tanah. Bangunan rumah adat Batak Karo yaitu salah satuya adalah rumah dua belas jabu yang di mana rumah adat trsebut masi sering di huni oleh masyarakat sekitar yang di dalamnnya terdapat dua belas keluarga. Yang dimana di dalamnya di sekat-sekat sebanyak 12 bagian yang nantinya setiap bagian akan di huni oleh satu keluarga. Biasanya rumah adat dua belas jabu ini tidak ada di setiap desa-desa di tanah karo, melainnkan hanya di sebagian desa saja yang memppunyai rumah adat dua belas jabu ini. Metode yang saya gunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode etnografi.
Memelihara Adat Mandailing Mengalap Boru Di Era Modernisasi Pada Desa Pematang Simalungun Ritonga, Rayhan Aulia Annisa; Nuriza Dora
Indonesian Journal of Multidisciplinary Scientific Studies Vol 2 No 1 (2024): Terbitan Edisi Januari 2024
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STAI Raudhatul Akmal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33151/ijomss.v2i1.191

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang tradisi mengalap boru masyarakat di Desa Pematang Simalungun, Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun. Tradisi menggalap/mangambat boru ini adalah tradisi yang sudah ada sejak dahulu, dimana tradisi ini adalah suami yang wajib memberikan sejumlah uang dan kain terhadap anak namboru istri pada saat walimatul’urs (pesta pemberangkatan istri ketempat suami) sebagai permintaan izin terhadap anak namboru istri. Tradisi menggalap boru ini adalah suatu syarat agar pernikahannya dianggap sah oleh adat mandailing. Penelitiaan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Tujuan penelitian ini untuk menggali dan mengkaji tentang tradisi mengalap baru pada adat mandailing di Desa Pematang Simalungun. Hasil dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana adat mandailing dalam acara adat pernikahan pada adat mandailing di Desa Pematang Simalungun.
Tradisi Bancakan Syukuran Kelahiran Anak Sapi Pada Etnis Jawa Di Desa Bulu Cina Kabupaten Deli Serdang Dea Ayu Pitaloka; Nuriza Dora
Indonesian Journal of Multidisciplinary Scientific Studies Vol 2 No 1 (2024): Terbitan Edisi Januari 2024
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STAI Raudhatul Akmal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33151/ijomss.v2i1.192

Abstract

Tradisi pemeliharaan sapi perlu dilestarikan. Sapi sering disebut sebagai hewan rojo koyo yang berarti hewan sapi merupakan salah satu hewan yang dapat menopang kehidupan ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan serangkai tradisi dalam pemeliharaan sapi ternak di Desa Suruhkalang. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Metode yang digunakan diskriptif yaitu peneliti melakukan pendeskripsian setiap data yang ditemukan. Sumber data dalam penelitian ini yaitu peternak sapi di Desa Suruhkalang. Adapun data dalam penelitian ini adalah serangkaian tradisi yang dilaksanakan peternak sapi di Desa Suruhkalang. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan konten analisis. Konten analisis menggambarkan karakteristik isi dari suatu pesan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyrakat Desa Suruhkalang masih mempertahankan tradisi dalam memlihara sapi. Tradisi yang dijalankan peternak sapi yaitu (1) tradisi memilih bibit sapi, (2) tradisi saat sapi melahirkan, (3) tradisi menjaga kesehatan sapi, dan (4) tradisi memandikan sapi dan peralatan sapi di hari raya IdulFitri. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan masyarakat tetap menjungjung tinggi tradisi dan melestarikannya. Dengan penelitian ini mampu mengeskplorasi tradisi beternak sapi di Desa Suruhkalang serta mampu menjadi dokumentasi generasi mendatang.
Weton: Sistem Penanggalan Tradisional Etnis Jawa Di Desa Laut Tador Kabupaten Batu Bara Syifa Alwardah; Nuriza Dora
Indonesian Journal of Multidisciplinary Scientific Studies Vol 2 No 1 (2024): Terbitan Edisi Januari 2024
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STAI Raudhatul Akmal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33151/ijomss.v2i1.193

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang adat Jawa perhitungan weton sebelum melaksanakan pernikahan di desa Laut Tador Kecamatan Laut Tador Kabupaten Batu Bara. Masyarakat Laut Tador percaya bahwa dengan menghitung weton dapat meramal masa depan kehidupan rumah tangga. Masih banyak masyarakat yang percaya d Penelitian ini menggunakantentang perhitungan weton. Weton ini merupakan penanggalan jawa yang diyakini dapat menetukan hari baik dan tidak baiknya acara pernikahan yang akan dilaksanakan. Perhitungan weton tidak hanya digunakan untuk mencari hari pernikahan, tatpi juga bias digunakan untuk melihat watak seseorang, menetukan jodh atau tidaknya seseorang. Perhitungan weton biasanya memerlukan kecocokan antara kedua pasangan. Tetapi tidak semua perhitungan menghasilkan kecocokan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Etnografi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Tujuan penelitian ini untuk menggali dan mengkaji prosesi perhitungan weton di desa Laut Tador. Hasil dari penelitian ini adalah masyarakat Laut Tador memiliki pandangan hidup terhadap pernikahan sebagai suatu yang sakral dan suci. Prosesi pernikahan adat jawa ini memang tidak diselanggarakan secara lengkap, tetapi masih berpegang pada aturan buku pernikahan jawa. Serta solusi yang harus dilakukan ketika perhitungan weton menghasilkan ketidak cocokan.
Tradisi Ayun Masal Adat Banjar di Desa Kota Rantang Denisa Safitri; Nuriza Dora
Indonesian Journal of Multidisciplinary Scientific Studies Vol 2 No 1 (2024): Terbitan Edisi Januari 2024
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STAI Raudhatul Akmal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33151/ijomss.v2i1.194

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang tradisi ayun masal adat banjar yang dilaksanakan di desa kota rantang kecamatan hamparan perak sebagai bentuk rasa syukur terhadap kelahiran dan pertumbuhan seorang anak dalam keluarga Banjar. Tradisi ini dilaksanakan beriringan dengan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan harapan anak-anak suku banjar dapat meneladani sikap nabi Muhammad SAW. Pada penelitian ini peneliti menggunakan penelitian kualitatif dengan metode etnografi. Penelitian ini dilakukan di desa kota rantang kecamatan hamparan perak. Adapun subjek utama yang dijadikan penulis dalam penelitian ini yaitu masyarakat setempat. Pada penelitian ini penulis membahas mengenai system nilai pengetahuan mengenai ayun masala adat banjar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tradisi ayun masal adat banjar yang dilaksanakan di desa kota rantang kecamatan hamparan perak. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi dan wawancara. dengan kepala desa dan masyarakat setempat. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa pelaksanaan tradisi ayun banjar masih terus dilakukan sampai saat ini dengan tujuan melestarikan tradisi dan budaya dari suku banjar., amun perlengkapan yang digunakan memiliki beberapa perbedaan disesuaikan dengan tempat dan kebiasaan masyarakat setempat.