Claim Missing Document
Check
Articles

KARAKTERISTIK BALOK BAMBU LAMINA SUSUN TEGAK DARI BILAH BAMBU ANDONG (Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud.) Widjaja) Ignasia Maria Sulastiningsih; Adi Santoso; Krisdianto Krisdianto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3502.944 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2016.34.3.167-177

Abstract

The objective of the study was to determine the effect of various layer compositions on the properties of 3-layer vertically glued laminated bamboo beam (LBB). Bamboo strips for LBB fabrication were prepared from mature culms (± 4 years old) of andong bamboo (Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud.) Widjaja) collected from private gardens in West Java. The strips were pre-treated by soaking them in 7% boron solution for four hours. Three-layer LBBs were manufactured with six different layer compositions, including bamboo combination with wood planks of manii (Maesopsis eminii Engl.) or sengon (Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) as the core layer. The LBB was manufactured using Water Based Polymer-Isocyanate (WBPI) adhesive. The glue spread and cold pressing time applied were 250 g/m2  and one hour, respectively. Results showed that the average density, moisture content, thickness swelling, and width expansion of LBB were 0.65 g/cm3; 11.1%; 2.09%; and 1.99%, respectively. No delamination occurred in all samples using WBPI adhesive, which indicates high bonding quality. The average bonding strength and percentage bamboo failure (dry test) of  LBB were 61.6 kg/cm2  and 90%, respectively. The physical and mechanical properties of LBB were significantly affected by the layer composition. The presence of wood laminates as the core layer of LBB and the cross wide orientation of the core layer decreased mechanical properties of LBB. On the contrary, the presence of cross-layer in LBB structure increased dimensional stability of the produced LBB.Three-layer thick laminated bamboo beam made of vertically glued andong bamboo strips with various constituted layer  composition and  all constitued layers laminated together in parallel grain direction had strength values comparable to those of class II of solid wood strength, eventhough the core layer was made of sengon or manii planks.
PENGARUH KOMPOSISI ARAH LAPISAN TERHADAP SIFAT PAPAN BAMBU KOMPOSIT I.M. Sulastiningsih; Surdiding Ruhendi; Muh. Yusram Massijaya; Wayan Darmawan; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.998 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2014.32.3.221-234

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi arah lapisan terhadap sifat papan bambu komposit (PBK). Jenis bambu yang digunakan adalah bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea) berumur sekitar 4 tahun yang diperoleh dari tanaman rakyat di Jawa Barat. Bilah bambu andong yang digunakan untuk membuat PBK diberi perlakuan pendahuluan dengan jalan direndam dalam larutan boron 7% selama 2 jam. Produk PBK 5 lapis dibuat dengan 4 macam variasi komposisi arah lapisan. Bambu lamina dibuat dengan menggunakan perekat isosianat water based polymer-isocyanate (WBPI) dengan berat labur perekat 250 g/m2 permukaan, dikempa dingin dengan lama pengempaan 45 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kerapatan, kadar air, pengembangan tebal, dan pengembangan lebar PBK berturut-turut adalah 0,79g/cm3, 12,60%, 2,38%, dan 1,13%. Kualitas perekatan PBK yang dibuat dengan perekat isosianat (WBPI) cukup baik yang ditunjukkan oleh tidak terjadinya delaminasi pada semua contoh uji untuk pengujian delaminasi. Keteguhan rekat rata-rata (uji kering) PBK yang dibuat dari bambu andong dengan perekat isosianat adalah 70,4 kg/cm2.  Sifat fisis dan mekanis PBK sangat dipengaruhi oleh komposisi arah lapisan penyusun PBK. Sifat mekanis PBK menurun dengan meningkatnya jumlah lapisan silang dalam komposisi lapisan penyusun PBK. Sebaliknya keberadaan lapisan silang dalam komposisi lapisan penyusun PBK meningkatkan kestabilan dimensi PBK yang dihasilkan.
PENGKLASIFIKASIAN KETAHANAN 20 JENIS BAMBU TERHADAP RAYAP KAYU KERING Jasni Jasni; Ratih Damayanti; Ignasia Maria Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9555.502 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2017.35.3.171-183

Abstract

Dua puluh jenis bambu dari berbagai daerah di Indonesia diuji ketahanannya terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus Light.). Masing-masing jenis bambu dibuat contoh uji dengan ukuran 5 cm x 2,5 cm x 1 cm. Pengujian dilakukan selama 12 minggu dengan mengacu pada SNI 7207-2014. Parameter yang diamati dan dijadikan sebagai dasar klasifikasi meliputi persentase penurunan berat bambu, persentase jumlah rayap yang hidup, dan derajat serangan (subyektif). Penelaahan berdasarkan persentase penurunan berat menunjukkan sebanyak dua jenis bambu termasuk kelas ketahanan I, enam jenis termasuk kelas ketahanan II, lima jenis termasuk kelas ketahanan III, empat jenis termasuk kelas ketahanan IV, dan tiga jenis termasuk kelas ketahanan V. Berdasarkan jumlah rayap yang hidup, sebanyak dua jenis termasuk kelas ketahanan I, satu jenis termasuk kelas ketahanan II, sepuluh jenis termasuk kelas ketahanan III, lima jenis termasuk kelas ketahanan IV, dan dua jenis termasuk kelas ketahanan V. Hasil pengelompokan berdasarkan derajat serangan menunjukkan dua jenis bambu mengalami kerusakan sebesar 38 - 40,5% dengan nilai 90 (termasuk kerusakan berat) dan 18 jenis bambu mengalami kerusakan sebesar 18,4 - 34,9% dengan nilai 70 (termasuk kerusakan sedang).
PENGARUH CAMPURAN JENIS KAYU TERHADAP SIFAT VENIR LAMINA (Effect of wood species cominations on laminated veneer properties) I M Sulastiningsih; Rodjak Memed; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 8 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5998.692 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1993.11.8.308-312

Abstract

experimental laminated veneer ( 5 - ply ) were made from 12 wood species veneers glued with urea formaldehyde. Thickness of veneer was 1.5 mm and the range of veneer density was 0.38 - 0.83 g/cm3. Veneers were divided into 3 groups based on their densily i.e. low, medium and high. The laminated veneer properties were tested in accordance with the plywood standards ( JAS and ASTM) the properties tested were density,moisture content, bending strength, tensile strength, compression strength , and moisture resistant. Bonding strengththe results showed that all kinds of wood species combination could be made for laminated veneer glued with urea formaldehyde without any difficullty. The density of laminated veneer was higher than an average veneer density of single. wood species or an average veneer density of mixed wood species. The mechanical properties of laminated veneer increased as the densily of laminated veneer increased and the relationship could be expressed by linear regression equations. As a result, some laminated veneer properties could be estimated from its density without considering its wood species.
PENGARUH KADAR PEREKAT TERHADAP SIFAT PAPAN PARTIKEL BAMBU I M Sulastiningsih; Novitasari Novitasari; Agus Turoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.669 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2006.24.1.1-8

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar perekat terhadap sifat papan partikel bambu. Bambu yang digunakan adalah bambu betung (Dendrocalamus asper), sedangkan perekatnya adalah urea formaldehida (UF) cair. Bentuk partikel bambu yang digunakan adalah untai. Papan partikel bambu sekala laboratorium dibuat dengan target kerapatan 0,70 g/cm3 dengan kadar perekat bervariasi yaitu 8, 9, 10, 11 dan 12% dari berat kering partikel bambu.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisis dan mekanis papan partikel bambu sangat dipengaruhi oleh kadar perekat yang digunakan. Semakin tinggi kadar perekat semakin baik sifat papan partikel bambu yang dihasilkan. Penggunaan kadar perekat minimum 11% dari berat kering partikel bambu menghasilkan papan partikel bambu yang cukup kuat dan stabil serta memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia.
PENGARUH BAHAN PENGAWETAN PHOXIM TERHADAP SIFAT PAPAN PARTIKEL KAYU KARET (hevea brasiliensis) (effect of phoxim preservation on the properties of rubber wood particleboard (hevea brasiliensis)) Rodjak Memed; I M Sulastiningsih; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 8 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1885.984 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1993.11.8.329-332

Abstract

The objectives of the study was to determine the effect of phoxim on the properties of rubber wood particleboard (Hevea brasiliensis ) phoxim concentration used were 0.05,1, 1.5 and 2 % based on particle dry weight.The result showed, that the addition of phoxim preservative to particleboard reduced the values of modulus of rupture, modulus of elasticity, internal bond strength and shear strength, but increased the thicknees swelling and water absorption of particleboard. However, the phyrical. and mechanical properties of particleboard treated With phoxim preservative up to 2 % met the FAO standard for medium density particleboard and met JIS for type 150 particleboard. Compared with Indonesian standard all particleboards produced met the standard requirements except for internal bond strength.
SIFAT PAPAN WOL KAYU DARI KAYU SENGON DAN KAYU KARET PADA BEBERAPA MACAM UMUR l M Sulastiningsih; Adi Santoso; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 3 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3991.364 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1995.13.3.101-109

Abstract

The  results  of  laboratory  test   of  wood-wool  board properties  made from  rubberwood (Hevea   brasiliensis)    and sengon  (Paraserianthes   falcataria)    are  reported  in this paper.   The wood used were obtained feom  different age groups i.e. 10  and 20 years for rubberwood and 5,  10  and  15  years for  sengon.  The properties  tested  were  board density,  moisture   content, thickness  reduction  due  to compression and bending strength.The physical  and mechanical properties  of sengon  wood-wool board which the  wood-wool was soaked  in  cold  water for  24 hours prior  to  board fabrication  were improved.  However, that treatment  did not improve the properties  of rubberwood wood-wool board.   The properties of wood-wool board made from different age groups of tree seem to be similar.
BEBERAPA SIFAT BAMBU LAMINA YANG TERBUAT DARI TIGA JENIS BAMBU l. M. Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.551 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.3.277-287

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kemungkinan penggunaan bambu lamina sebagai bahan substitusi kayu, khususnya mengetahui pengaruh jenis bambu terhadap sifat bambu lamina yang direkat dengan urea formaldehida. Bambu yang digunakan dalam penelitian ini adalah bambu andong (Gigantochloa pseudoarandinacea), bambu mayan (Gigantochloa robusta) dan bambu tali (Gigantochloa apus) yang berasal dari tanaman rakyat di Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa sifat bambu lamina dipengaruhi oleh jenis bambu yang digunakan kecuali kadar air, keteguhan tekan sejajar serat dan keteguhan rekat. Kerapatan bambu lamina bervariasi antara 0,62 - 0,79 g/ cm'. Bambu lamina dari bambu tali merniliki nilai keteguhan lentur tertinggi sedangkan bambu lamina dari bambu mayan memiliki keteguhan lentur terenclah. Keteguhan rekat bambu lamina yang diuji dengan cara geser tekan bervariasi antara 67,03 - 86,19 kg/ cm2 dan 54,43 - 62,94 kg/ cm berturut-turut untuk uji kering dan uji basah. Sifat perekatan bambu lamina dari bambu andong, mayan dan tali cukup baik. Bambu lamina (3lapis) masing-masing dari bambu andong, mayan dan tali setara dengan kayu kelas kuat II. Pembuatan bambu lamina secara teknis dapat dilakukan dan produk tersebut dapat digunakan sebagai bahan substitusi kayu.
SIFAT-SIFAT PAPAN PARTIKEL KAYU KELAPA Rozak Memed; Paribotro Sutigno; I M Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 2 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9951.723 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1984.1.2.7-10

Abstract

This report  deals with the  laboratory  tests  on  the  properties of  particle board made  from  coconut  wood  and from  coconut wood with  hardwood bonded by urea formaldehyde. The  tests include board density, moisture  content, water absorption, thickness swelling and bending  strength.The  result  reveals that physical and  mechanical  properties of  particle boards  made  from  coconut wood  conform with FAO Standard.  The  properties  of  particle boards  made  from   coconut  wood mixture  with  hardwood in  the proportion of  1 : 1 which conform the  FAO  Standard are limited to density and water absorption. 
KAJIAN TEKNIS DAN EKONOMIS PEMANFAATAN KAYU PERUPUK I M Sulastiningsih; Setiasih Irawanti; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 3 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1996.14.3.85-99

Abstract

Formerly perupuk wood was not recognized as good raw material by wood working manufacturers. Because of the increasing scarcity of ramin wood, the perupuk   wood had gained the benefit of the situation as indicated by increasing demand and price of perupuk   wood.The technical and economic studies on perupuk   wood (Lophopetalum.   spp)  utilization  wascarried out at one wood working mill in Gresik, East Java in 1994.   The objectives of the study were to identify   kind  of products  resulted from perupuk    utilization,  recovery level of each product, productivity and efficiency ofperupuk wood working machineries,  and its value added.The study showed that kind of products  resulted from perupuk    utilization were moulding,smooth-four-side (S4S), finger jointed  stick, solid jointed  board and finger jointed  board. The average  recovery  of perupuk    utilization  was  55%  and  the highest  recovery  (65.60%) was obtained by smooth-four-side product.  The double planer machine had the highest productivity because all products  used the machine to get the standard dimensions. The efficiency of some perupuk    wood  working  machineries  still  low.   The  value  added  of perupuk    wood  working products  were 90%,  55%,   52%,  37% and  24% for  smooth-four-side,  finger jointed  board, moulding,  solid jointed board and fingerjointed stick respectively.Key words :   perupuk,   wood working,  recovery and value  added.