Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH P'ERMETRIN TERHADAP SIFAT FISIS, MEKANIS DAN KEAWETAN PAPAN PARTIKEL I M Sulastiningsih; Jasni Jasni; M I lskandar
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 4 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1999.16.4.219-229

Abstract

Industri papan partikel di Indonesia pada umumnya menggunakan jenis kayu dengan kelas awet rendah sebagai bahan bakunya sehingga mudah diserang oleh organisme perusak kayu misalnya rayap. Oleh karena itu untuk meningkatkan keawetan papan partikel tersebut perlu dilakukan pengawetan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan pengawet permetrin terhadap sifat fisis, mekanis dan keawetan papan pertikel kayu karet dengan menggunakan perekat urea formaldehida cair. Kandungan bahan aktif permetrin dalam larutan bahan pengawet yang digunakan adalah 36,8% dan kodar bahan pengawet yang ditambahkan dalam perekat urea formaldehida adalah 0%; 0,25%; 0,50%; 0,75% dan 1% dan berat perekat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan pengawet permetrin dalam perekat urea formaldehida pada pembuatan papan partikel kayu karet hanya berpengaruh pada sifat pengembangan tebal setelah direndam air dingin selama 24 jam, modulus patah dan kuat pegang sekrup tegak lurus permukaan papan partikel. Secara keseluruhan penambahan bahan pengawet permetrin pada perekat urea formaldehida dalam pembuatan papan partikel dapat meningkatkan kestabilan dimensi dan sifat mekanis papan partikel. Pemberian bahan pengawet permetrin dengan kadar 0,25% dalam perekat urea formaldehida efektif untuk menahan serangan rayap kayu kering pada papan partikel.
PENGARUH LAPISAN KAYU TERHADAP SIFAT BAMBU LAMINA I M Sulastiningsih; Nurwati Nurwati; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2005.23.1.15-22

Abstract

Bambu yang termasuk tanaman cepat tumbuh dan mempunyai daur yang relatif pendek (3-4 tahun) merupakan salah satu sumber daya alam yang cukup menjanjikan sebagai bahan pengganti kayu untuk bahan bangunan. Masalah pemanfaatan bambu sebagai bahan bangunan adalah keterbatasan bentuk dan dimensinya. Pembuatan produk bambu lamina merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut.Penelitian pengaruh lapisan kayu terhadap sifat bambu lamina (3 lapis) telah dilakukan di laboratorium produk majemuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan, Bogor. Bambu yang digunakan adalah bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea), sedangkan perekatnya adalah tanin resorsinol formaldehida (TRF). Kayu yang digunakan adalah mangium (Acacia mangium) dan tusam (Pinus merkusii). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapisan kayu sangat berpengaruh terhadap sifat fisis dan mekanis bambu lamina. Bambu lamina yang semua lapisannya terdiri dari bambu, kerapatannya lebih tinggi (0,8 g/cm3) dibanding bambu lamina yang lapisan tengahnya dari kayu mangium (0,7 g/cm3) dan tusam (0,64 g/cm3). Bambu lamina yang lapisan tengahnya kayu tusam mempunyai sifat kestabilan dimensi yang paling rendah dibanding bambu lamina lainnya. Sifat mekanis bambu lamina menurun dengan adanya lapisan kayu dalam komposisi lapisan penyusunnya.
PENGARUH LAMA PERENDAMAN PARTIKEL, MACAM KATALIS DAN KADAR SEMEN TERHADAP SIFAT PAPAN SEMEN Ignasia Maria Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.3.203-213

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh lama perendaman partikel, macam katalis dan kadar semen terhadap sifat papan semen. Papan semen skala laboratorium dibuat dengan menggunakan partikel kayu manii (Maesopsis eminii) yang sudah direndam dalam air dingin selama 24 jam dan 48 jam. Perbandingan antara partikel kayu : semen : air dua macam yaitu 1 : 2,4 : 2 (kadar semen 240%) dan 1: 2,5 : 2 (kadar semen 250%). Katalis yang digunakan tiga macam yaitu kalsium klorida (CaCl,), magnesium klorida (MgCl,). dan aluminium sulfat (Al2 (SO4)3) dengan tingkat kadar 5% dari berat semen. Di samping itu dibuat juga papan semen tanpa menggunakan katalis sebagai kontrol atau pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman partikel 48 jam tidak berpengaruh nyata dalam memperbaiki sifat papan semen manii dibanding lama perendaman partikel 24 jam. Sifat papan semen manii sangat dipengaruhi oleh macam katalis yang digunakan. Penggunaan katalis MgCl2 memberikan sifat kestabilan dimensi dan keteguhan lentur yang lebih baik dibanding katalis lainnya. Kadar semen sangat berpengaruh terhadap sifat fisis dan mekanis papan semen manii. Semakin tinggi kadar semen semakin baik sifat fisis dan mekanis papan semen yang dihasilkan. Penggunaan kadar semen semen 250% dapat meningkatkan keteguhan lentur sekitar 31% disbanding kadar semen 240%. Peningkatan kadar semen menyempurnakan stabilitas dimensi sekitar 24-30% pada pengembangan tebal, sekitar 20-40% pada pengembangan linier dan sekitar 10-12% pada penyerapan air.
KUALITAS HARDBOARD DUA JENIS BAMBU DENGAN TAMBAHAN TANIN RESORSINOL FORMALDEHIDA Dian Anggraini Indrawan; Ignasia Maria Sulastiningsih; Rossi Margareth Tampubolon; Gustan Pari; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2017.35.1.29-42

Abstract

Hardboard dapat dibuat dari berbagai macam bahan serat berligno-selulosa. Di Indonesia dewasa ini ketersediaan bahan baku serat konvensional (khususnya kayu hutan alam tropis) untuk hardboard semakin terbatas dan langka, sedangkan produksi domestik hardboard belum dapat memenuhi kebutuhan yang ada. Bahan baku serat alternatif  yang potensinya berlimpah dan belum banyak dimanfaatkan perlu diperkenalkan, diantaranya bambu. Penelitian pemanfaatan bambu sebagai bahan baku pembuatan hardboard telah dilakukan dengan memanfaatkan dua jenis bambu yaitu bambu tali (Gigantochloa apus) dan bambu ampel (Bambusa vulgaris). Masing-masing jenis bambu diolah menjadi pulp dengan proses semi-kimia soda panas terbuka.  Hardboard dibuat dengan 5 proporsi campuran pulp bambu tali + bambu ampel yaitu 100%+0%, 75%+25%, 50%+50%, 25%+75%, dan 0%+100%. Tiap proporsi ditambahkan perekat tanin-esorsinol-formaldehida (TRF) sebesar 0%, 6% and 8% dari berat kering pulp. Lembaran hardboard dibentuk dengan cara basah lalu diuji sifat fisis dan mekanisnya. Hasil penelitian menunjukkan penambahan TRF hingga 8% meningkatkan sifat fisis dan mekanis hardboard. Hardboard dari serat pulp bambu ampel 100% memiliki kualitas tertinggi karena sifatnya banyak memenuhi persyaratan JIS dan ISO untuk kerapatan, modulus elastisitas lentur (MOE), modulus patah (MOR) dan keteguhan rekat internal (IB). Sementara itu, hardboard dari serat bambu tali 100% memiliki kualitas terendah. Performa hardboard dari campuran pulp bambu tali + bambu ampel pada proporsi 50%+50% dan 25%+75% memiliki tingkatan kualitas pada urutan kedua dan ketiga. Papan serat bambu tali yang berkualitas rendah diharapkan dapat diperbaiki melalui penambahan perekat TRF.
SIFAT PAPAN WOL KAYU DARI SEMBILAN-JENIS KAYU KALIMANTAN BARAT I M Sulastiningsih; Rozak Memed; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 4 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1990.8.4.134-139

Abstract

The results of laboratory test of ioood-wool  board properties made /Tont nine wood species obtained from West Ka• limantan province are reported  in  this paper.  The properties tested were board density,  moisture eontent.. thickness reduction due to  compreuion  and bending strength.The study revealed that the averageyield of uiood-taoo!  was 365.4 kg per cubic meter of  log input. The wood-wool of Shorea smithiana Sym. must be soaked in cold water for 24 hours prior to manufacturing of uood-uoo;  board, whereaathe other apecieadid .not  require soaking.The  physical and mechanical properties of  uiood-wool boards made from  Bix wood apecies catalyzed either with CaCl2 solution or Ca(OH)2 BUBpenaion meet the DIN 1101 standard.
SIFAT PAPAN WOL KAYU SEBELAS JENIS KAYU DARI SUMATRA SELATAN DAN JAWA BARAT I M Sulastiningsih; Rozak Memed; Paribroto Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 4 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1988.5.4.179-183

Abstract

The  results  of  laboratory  test of wood-wool   board properties  manufactured  from  11 individual  wood  species obtained from  South  Sumatra  and  West Java are reported  in this paper. The tests comprising board density, moisture content, thickness reduction due to  compression   and  bending  strength.The study  reveals that average yield  of  wood-wool is 315 kg per cubic  meter  of log input. The physical and mechanical properties   of   wood-wool   board  from  five  wood  species. mineralized   with  CaCl2  solution   were  in conformity with  the DIN  11.01  standard.  However,  only  four  wood  species  mineralized  with  Ca(OH)2 suspension  met  the standard  requirements. 
PENGARUH SENYAWA BORON TERHADAP BEBERAPA SIFAT PAPAN PARTIKEL KARET (Hevea brasiliensis) Rodjak Memed; I M Sulastiningsih; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 5 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1992.10.5.160 - 166

Abstract

The objective of the study was to determine the effect  of boron concentration and resin proportion on some properties of rubberwood (Hevea brasiliensis) particleboard. Boron concentrations used were 0, 0.25,  0.50,  0. 75 and  1.0%, and resin proportions in urea formaldehyde were 10, 12 and 14% dry weight basis.The results indicated that the addition of boron compound to porticleboard reduced the values of bending strength, internal bond strength and shear strength but increased the thickness swelling and water absorption of particleboard. Mechanical properties of particleboard  increased with the increase of resin proportion. Thickness swelling and water absorption decreased as the resin proportion  increases.  Physical and mechanical properties  of particleboard  treated with boron compound up to 1% cocentration level and bonded with urea formaldehyde  at 12% or 14% resin propotions were all  met  the  SII  standard requirements,  except  for  internal  bond  strength.  Compared  with  FAO  standard, particleboards that met all the standard requirements  were those with 14% resin proportion.
KAJIAN BIAYA PRODUKSI, HARGA POKOK DAN BATAS KEUNTUNGAN PADA PENGOLAHAN PRODUK BERSAMA PENGERJAAN KAYU Setiasih lrawati; l M Sulastiningsih; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 8 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1995.13.8.314-325

Abstract

The study on production  cost,  base price  and profit  margin was conducted in wood  working  industry  using  sawn  timber  of perupuk  (Lophopetalum spp.), meranti (Shorea spp.),   damar (Agathis  spp.)  and jangkang  (Xylopia spp.) for various joint  products. The products  were moulding, S4S. Solid  jointed  board, finger jointed board,  finger jointed stick and door jamb. There were five products of perupuk,  two of meranti, two of'jangkang and one of damar.The results of tire  study showed that  the method of joint  cost calculation used  by  the  mill was  average  cost per  unit method. Production  costs  of  jangkang  and damar  wood  working products  were higher  than  those  of  meranti  and perupuk.  The average  proponion  of  raw materials, wages and others on the total production cost was respectively 62%, 4/% and 34%. Proportion  of wage cost was small,  on the contrary, proportion of other production cost was relatively high. Among ten kinds of wood working joint products,  only three yielded  a positive profit margin,  namely,  moulding,  S4S and finger jointed board of perupuk.Based on the average cost per unit method the raw material cost, production cost and base price of S4S were lower than those of finger jointed stick. This results was irrational since the raw  material  cost  of  S4S  should   be  more  expensive  than  that  of finger jointed  stick. Consequently,  the average cost per unit method was not suitable for joint  cost  distributing method of  wood working joint  products.   Therefore.  it is suggested for replacing this method with one that considers quality and price of raw material and the product selling price.
SIFAT FISIS DAN MEKANIS PAPAN UNTAI BERARAH DARI BAMBU TALI (Gigantochloa apus (J.A. & J.H. Schultes) Kurz) Ignasia Maria Sulastiningsih; Dian Anggraini Indrawan; Jamal Balfas; Adi Santoso; Mohammad Isa Iskandar
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2017.35.3.197-209

Abstract

Bambu merupakan sumber daya potensial sebagai bahan alternatif untuk substitusi kayu. Tulisan ini mempelajari pengaruh kadar perekat dan ukuran untai bambu terhadap sifat papan untai bambu berarah (OSB atau oriented strand Board). Bambu yang digunakan adalah bambu tali (Gigantochloa apus (J.A. & J.H. Schultes) Kurz), sedangkan perekatnya adalah fenol formaldehida cair. Papan OSB skala laboratorium dibuat dari masing-masing ukuran panjang untai (7,5, 10, dan 15 cm) dengan kadar perekat bervariasi yaitu 6, 7, dan 8% dari berat kering partikel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OSB bambu tali yang dibuat memiliki kerapatan rata-rata 0,75 g/cm3. Sifat fisis dan mekanis OSB bambu sangat dipengaruhi oleh kadar perekat yang digunakan, kecuali modulus elastisitas. Semakin tinggi kadar perekat semakin baik sifat OSB bambu yang dihasilkan. Modulus elastisitas OSB bambu sangat dipengaruhi oleh ukuran untai. Semakin panjang ukuran untai semakin tinggi nilai MOE OSB bambu yang dihasilkan. OSB bambu tali yang dibuat dengan berbagai perlakuan semuanya memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia, Standar Jepang untuk papan partikel tipe 24 dan memenuhi persyaratan Standar Inggris untuk OSB penggunaan struktural yang digunakan pada kondisi kering (Tipe OSB/2) maupun kondisi lembap (Tipe OSB/3).
SIFAT PAPAN WOL KAYU DARI 19 JENIS KAYU SULAWESI TENGAH l M Sulastiningsih; Paribotro Sutigno; Rozak Memed
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 3 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1987.4.3.21-25

Abstract

The results of laboratory test on the properties  of wood-wood  boards manufactured  from  19 individual  wood species obtained from  Central Sulawesi province  are reported in this paper.  The tests comprised board density,  moisture  content, thickness  reduction  due to compression  and bending strength.The results show an average yield  of  wood-wool  is 238 kg per cubic  meter  of  log  input.   Four wood  species  required presoaking  for wood-wool  making.  The physical  and mechanical properties  of  the wood-woo/  board  made from  seven wood species mineralized  with CaCl2 solution or Ca(OH2) suspension  meet DIN 1101 standard.