Articles
PENGARUH JUMLAH LAPISAN TERHADAP SIFAT BAMBU LAMINA
l M Sulastiningsih;
Nurwati Nurwati;
Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 9 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1996.14.9.366-373
Bambu merupakan hasil hutan non kayu, banyak dijumpai dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Dalam rangka peningkatan mutu dan pemanfaatan bambu untuk bahan bangunan, telah dilakukan penelitian sifat fisis dan mekanis bambu lamina yang dibuat dari bambu betung (Dendrocalamus asper) dengan variasi jumlah lapisan (2, 3, 4 dan 5 lapis) yang direkat dengan perekat urea formaldehida cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisis dan mekanis bambu lamina dari bambu betung tidak dipengaruhi oleh jumlah lapisan kecuali keteguhan rekat berdasarkan uji geser tarik dalam keadaan kering (makin banyak jumlah lapisan makin tinggi keteguhan tarik). Sifat perekatan bambu lamina dari bambu betung cukup baik dan memenuhi standar Jepang untuk uji delaminasi. Berdasarkan nilai kerapatan, keteguhan lentur statis dan keteguhan tekan, bambu lamina betung setara dengan kayu kelas kuat II.
SIFAT PAPAN WOL KAYU DARI 8 JENIS KAYU MALUKU UTARA
I M Sulastiningsih;
Paribotro Sutigno;
M l Iskandar
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 2 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1995.13.2.77-86
The result of laboratory test of wood-wool board properties manufactured from 8 individual wood species obtained from North Maluku are reported in this paper. The tests comprising board density, moisture content, thickness reduction due to compression, and bending strength.The study reveals that the average yield of wood-wool is 492. 75 kg/m3 of log input. The wood-wool of Parinari corymbosa, Shorea koordersii, Hopea sp. and Horsfieldia sylvestris must be soaked in cold water for 24 hours prior to wood-wool board manufacture, while the otherfour species do not require the soaking. The physical and mechanical properties of wood- wool board from seven wood species mineralized with Ca CJ 2 are in comformity with the DIN 1 101 standard. Only six wood species, however, mineralized with Ca(OH)2 suspension meet the standard requirement. The identical commercial name of wood not necessarily produce a comparable quality board. Apart from the species, growth and environmental factors are believed to contributing to board properties.
HUBUNGAN ANTARA KETEGUHAN GESER DENGAN KETEGUHAN REKAT INTERNAL PAPAN PARTIKEL
Paribotro Sutigno;
I M Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 1 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1992.10.1.16-19
One of the partideboard properties that must be tested is internal bond strength or tensile strength perpendicular to surface. the testing procedure is relatively difficult because before applying a tension load vertically to the board face, the specimen must be adhere to steel or wood blocks for seuerol hours to obtain good adhesion. To simplify the pro- cedure, the use of another testing procedure called shear strength test was tried. It is found that there is a relationship between shear strength (X) and internal bond strength (Y) which can be expressed by linear regression equations i.e,: Y = - 0.105 + 0.180 X for interior particleboard and Y = - 0.925 + 0.398 X for exterior particleboard. The interior particleboard specimens were tested under dry condition whereas exteriorparticleboard specimem were boiled for two hours before testing. Both regression equations can not be pooled, Based on the result it can be cohcluded that internal bond strength of particleboard can be estimated by using its shear strength value.
PENGARUH CAMPURAN JENIS KAYU TERHADAP BEBERAPA SIFAT KAYU LAPIS*)
I M Sulastiningsih;
Paribotro Sutjigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 3 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1992.10.3.90 -96
Experimental plywood (5 - piy) were made from 12 wood species veneers glued with urea formaldehyde. Thichness of veneer was 1.5 mm and the range of veneer density was 0.38 - 0.83 g/cm3. Veneers were divided into 3 groups based on their density, i.e. low, medium and high. The plywood properties were tested according to the American Standard (ASTM) and the Japannese Standard (JAS) included density. tensile strength. bending strength, compression strength, and moisture resistant bonding strength.The results revealed that plywood density was higher than veneer density (same wood species) or average veneer density (mixed wood species). Tested mechanical properties of plywood increased if the plywood density increased and the relationship could be expressed by linier regression equations. The tensile strength, bending strength and compression strength of plywood were tested both on parallel and perpendicular to face grain. Correlation coefficient of the relation-ship between plywood density and those plywood mechanical properties on parallel to face grain (r = 0.66 - 0.84) were higher than that on perpendiculor to face grain (r = 0.51 - 0. 74). Similar results were obtained with F calculated but all of them were highly significant. Based on those results it could be concluded that some mechanical properties of plywood could be estimated from its density, regardless of its wood species.
KARAKTERISTIK PAPAN SANDWICH DENGAN INTI PAPAN PARTIKEL
Ignasia Maria Sulastiningsih;
Dian Anggraini Indrawan;
Jamal Balfas
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 38, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2020.38.3.161-172
Bambu sudah dikenal sebagai bahan substitusi kayu dengan mengolahnya menjadi produk rekayasa bambu. Untuk meningkatkan efisiensi pengolahan bambu maka limbah hasil pengolahan bambu diolah kembali menjadi produk berupa papan partikel. Di samping itu, untuk mendapatkan bahan yang relatif tebal dan ringan tetapi memiliki kekuatan yang tinggi dapat dibuat produk bambu komposit berupa papan sandwich bambu. Tulisan ini mempelajari karakteristik papan sandwich dengan inti yang terbuat dari papan partikel. Papan partikel yang digunakan sebagai inti papan sandwich ada empat macam, yaitu papan partikel bambu berkerapatan 0,45 g/cm3 (A1) dan 0,55 g/cm3 (A2), dan papan partikel campuran bambu dan jabon berkerapatan 0,45 g/cm3 (A3) dan 0,55 g/cm3 (A4). Terdapat tiga lapisan luar papan sandwich yang diuji yaitu bilah bambu (B1), kayu lapis jabon (B2), dan kayu lapis mahoni (B3). Papan sandwich dibuat dengan menggunakan perekat urea formaldehida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan papan partikel campuran bambu dan jabon sebagai inti menghasilkan papan sandwich dengan kekuatan yang lebih tinggi dibanding penggunaan papan partikel bambu. Penggunaan bilah bambu sebagai lapisan luar papan sandwich menghasilkan papan sandwich dengan kekuatan yang lebih tinggi dibanding penggunaan kayu lapis mahoni dan kayu lapis jabon. Semua papan sandwich tersebut memenuhi persyaratan produk papan partikel berlapis venir menurut Standar Nasional Indonesia dan Standar Jepang.
PENGARUH PENYADAPAN DAN KADAR PEREKAT TERHADAP SIFAT PAPAN PARTIKEL TUSAM
Rozak Memed;
I M Sulastiningsih;
Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 3 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1988.5.3.151-156
The result of a study on the properties of particle board made from pine wood is reported in this paper. The pine as raw material was classified into three groups i.e. tapped, untapped, and combination of them. The particle board was manufactured by using urea formaldehyde resin with four levels i.e. 6%, 8%, 10%, and 12% by weight of wood dry basis.The result reveals that the average density of particle board made of tapped, untapped, and combination of them is 0.61 g/cm3, so that it can be classified as medium density particle board. The properties of particle board were affected by both tapping and glue proportion. However, density and internal bond were affected by glue proportion but not by the raw material.Except for water absorption, overall properties of particle board made from tapped pine appeared to have superior properties than that from untapped one.
PENCEGAHAN SERANGAN RAYAP PADA PAPAN PARTIKEL
I M Sulastiningsih;
Jasni Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 4 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2000.17.4.179-188
Dewasa ini papan partikel banyak digunakan sebagai bahan mebel dan dalam jumlah terbatas digunakan sebagai bahan bangunan yang tidak menyangga beban. Kelemahan papan partikel sebagai bahan mebel dan bahan bangunan tersebut adalah mudah diserang organisme perusak kayu misalnya rayap karena bahan bakunya berasal dari kayu dengan kelas awet rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan serangan rayap pada papan partikel dengan meningkatkan keawetannya. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan kadar bahan pengawet alfametrin minimum yang ditambahkan dalam ramuan perekat urea formaldehida yang cukup efektif untuk mencegah serangan rayap pada papan partikel yang dibuat dari kayu karet. Kandungan bahan aktif alfametrin dalam laHutan bahan pengawet yang digunakan adalah 15 g/l dan kadar bahan pengawet yang ditambahkan dalam perekat urea formaldehida adalah 0%; 0,25%; 0,50%; 0,75% dan 1% dari berat perekat cair.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar alfametrin 0,75% atau lebih dari berat perekat cair dalam perekat urea formadehida pada pembuatan papan partikel sudah cukup efektif un menahan serangan rayap kayu kering maupun rayap tanah. Kelas awet papan partikelpun meningkat dari kelas IV menjadi kelas I.
PENGARUH BAHAN PENGAWET TERHADAP KETEGUHAN REKAT DAN KEAWETAN KAYU LAPIS TUSAM (Pinus merkusii)
l M Sulastiningsih;
Jasni Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 4 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1997.15.4.235-246
Jenis kayu yang digunakan di lndustri kayu lapis di Indonesia pada umumnya mempunyai kelas awet rendah. Oleh karena itu untuk meningkatkan keawetan kayu lapis tersebut perlu dilakukan usaha pengawetan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan pengawet permetrin terhadap keteguhan rekat dan keawetan kayu lapis tusam yang direkat dengan fenol formaldehida. Kandungan bahan aktif permetrin dalam larutun bahan pengawet yang digunakan adalah 36,8 % dan konsentrasi bahan pengawet yang ditambahkannke dalam perekat fenol formardehida adalah 0.0. 0.25, 0.50, 0. 75, 1.0, 1.25, 1.50, 1. 75 dan 2.0% dari berat perekat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bahan pengawet permetrin dalam perekat fenol formaldehida pada pembuatan kayu lapis tusam tidak berpengaruh terhadap keteguhan rekat kayu lapis tusam baik yang diuji menurut standar Indonesia maupun standar Jepang. Sebaliknya penambahan bahan pengawet permetrin tersebut berpengaruh pada keawetan kayu 235 lapis tusam terhadap serangan rayap tanah dan rayap kayu kering. Kematian rayap.tanah dan rayap kayu kering meningkat dengan meningkatnya konsentrasi permetrin. Kehilangan berat dan derajat serangan menurun dengan meningkatnya konsentrasi permetrin. Penambahan bahan pengawet permetrin sebanyak 2 % dari berat perekat fenol formadehida dapat menahan serangan rayap tanah maupun rayap kayu kering. Keteguhan rekat kayu lapis tusam yang dibuat dengan berbagai konsentrasi permetrin semuanya memenuhi standar Indonesia dan standar Jepang.
SIFAT PAPAN BLOK SENGON DENGAN VENIR SILANG KAYU TUSAM
M I Iskandar;
I M Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.2006.24.2.145-155
Papan blok (5 lapis) sekala laboratorium dibuat dari kayu sengon (Paraserianthes falcataria) dan kayu tusan (Pinus merkusii) yang direkat dengan perekat urea formaldehida. Venir luar dan bilah inti papan blok terbuat dari kayu sengon sedangkan venir silang terbuat dari kayu tusam. Tebal venir luar 2 mm sedangkan tebal venir silang 3 mm. Ukuran bilah inti terdiri dari dua dan 3 macam lebar ( 0,7, 2,5 dan 7,6 cm). Sifat papan blok diuji menurut Standar Indonesia (SNI) meliputi kadar air, kerapatan, keteguhan rekat dan delaminasi. Pengujian keteguhan lentur papan blok dilakukan menurut Standar Jerman (DIN) sedangkan pengujian pengembangan dimensi papan blok dilakukan menurut Standar Amerika (ASTM). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran bilah inti terhadap sifat papan blok sengon dengan venir silang kayu tusam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air rata-rata papan blok adalah 12% sedangkan kerapatan rata-rata papan blok adalah 0,42 g/cm3. Lebar bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan lebar papan blok. Tebal bilah inti berpengaruh terhadap pengembangan lebar papan blok tetapi tidak berpengaruh terhadap pengembangan tebal dan pengembangan panjang papan blok. Keteguhan rekat papan blok yang diuji berdasarkan uji geser tarik dan uji delaminasi memenuhi persyaratan Standar Indonesia (SNI). Penggunaan venir silang kayu tusam dalam pembuatan papan blok sengon meningkatkan keteguhan lentur sebesar 6,2% pada arah sejajar serat dan 18,6% pada arah tegak lurus serat. Keteguhan lentur sejajar serat papan blok sengon yang dibuat dengan menggunakan venir silang kayu tusam semuanya memenuhi persyaratan Standar Jerman (DIN).
SIFAT PAPAN WOL KAYU DARI 12 JENIS KAYU HUTAN TANAMAN INDUSTRI
I M Sulastiningsih;
Rozak Memed;
Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 4 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20886/jphh.1988.5.4.239-245
The results of laboratory test of wood-wood board properties made from 12 individual wood species obtained from West Java, Lampung and East Nusa Tenggara province are reported in this paper. The properties tested were board density, moisture content, thickness reduction due to compression and bending strength.The study has revealed that Eucalyptus urophylla and Eucalyptus platiphylla F.V.M. obtained from natural forests are impossible to plane because they are very hard. The average yield of wood-wool from the rest is 454.43 kg percubic meter of log input. These wood-wool can be processed to become wood-wool boards without first immersing them in cold water. The physical and mechanical properties of wood-wool boards made from seven wood species (meranti merah I, pinus I, mahoni uganda, meranti tembaga, leda, akasia and meranti merah II) catalyzed with CaCl2 solution are in conformity with the DIN 1101Standard. However, only four wood species (meranti merah I, meranti tembaga, leda and meranti merah II) catalyzed with Ca(OH)2 suspention meet the standard requirement.