Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN SUPLEMENTASI MINYAK ZAITUN TERHADAP PENURUNAN KETEBALAN EPITEL BRONKUS PADA MENCT ASMA YANG DIINDUKSI OVALBUMIN Dian Arsanti Palupi; Fajrunida Nur Hasanah
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 2, No 2 (2018): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.885 KB) | DOI: 10.31596/cjp.v2i2.25

Abstract

Asma merupakan inflamasi kronis dari saluran pernapasan yang kompleks dengan banyaknya sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T dan ditandai oleh gejala yang variabel dan berulang seperti mengi, batuk, sesak napas, dan nyeri dada. Membuktikan dan menganalis pengaruh pemberian suplementasi minyak zaitun (Olea europaea L.) yang dikombinasi dengan Telfas OD terhadap penurunan ketebalan epitel bronkiolus dengan melihat gambaran histopatologi pada mencit asma. 25 ekor mencit jantan BALB/c  umur 2-3 bulan, disensitisasi  OVA secara intra peritoneal pada hari ke-0 dan ke-7 dan dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok I: normal tanpa perlakuan, Kelompok II: kontrol negatif diberi NaCl 0,9% Kelompok III: perlakuan Telfast OD 0,32 mg/hari p.o. Kelompok IV: perlakuan minyak zaitun 0,15ml/hari. Kelompok V:   diberi kombinasi Telfas OD 0,015 ml / hari p.o dan minyak Zaitun  0,15 ml/ hari p.o. Hari ke-14, 15, 16, 17 ditantang oleh OVA 1%  secara inhalasi dengan alat nebulizer selama 20 menit. Dua puluh empat jam setelah pemaparan akhir, mencit dikorbankan dengan dislokasi leher untuk duji histopatologi epitel bronkus. Kombinasi Telfast OD 0,32mg/hari  dan minyak  zaitun 0,15ml/hari  menunjukan hasil penurunan ketebalan epitel bronkus yang paling baik dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya. Pemberian suplementasi minyak zaitun (Olea europaea L.) yang dikombinasi dengan Telfas OD secara signifikan mampu menurunkan  ketebalan epitel bronkus mencit asma. Kata kunci: Telfast OD, Minyak zaitun , Epitel bronkus
Evaluasi Hasil Keseragaman Ukuran, Keregasan dan Waktu Hancur Tablet Salut Film Neuralgad Produksi Lafi Ditkesad Bandung Kristin Catur Sugiyanto; Dian Arsanti Palupi; Yenny Adyastutik
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 1, No 1 (2017): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.975 KB) | DOI: 10.31596/cjp.v1i1.5

Abstract

Suatu obat harus dibuat dalam kondisi yang dikendalikan dan dipantau dengan cermat agar menghasilkan obat yang memenuhi persyaratan. Evaluasi mutu fisik sangat penting untuk memastikan suatu obat telah memenuhi spesifikasi sehingga menghasilkan obat yang bermutu dan berkhasiat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil evaluasi uji keseragaman ukuran, keregasan dan waktu hancur tablet salut film Neuralgad yang diproduksi oleh LAFI DITKESAD Bandung. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data hasil evaluasi uji mutu fisik tablet salut film Neuralgad secara prospektif dan dibandingkan dengan spesifikasi yang tercantum dalam Farmakope Indonesia Edisi III tahun 1979 dan Voight tahun 1994. Data yang diambil adalah hasil evaluasi mutu fisik tablet salut film Neuralgad dengan no. bets W.091, W.099 dan W.100. Hasil evaluasi uji mutu fisik tablet salut film yang didapatkan yaitu ketebalan tablet bets W.091 = 5,48mm, bets W.099 = 5,53mm dan bets W.100 = 5,61mm, diameter tablet bets W.091 = 13,01 mm, bets W.099 = 13,01mm dan bets W.100 = 13,00, persentase keregasan tablet pada bets W.091 = 0,027%, bets W.099 = 0,031 dan bets W.100 = 0,013 sebesar 0,023 % dan waktu hancur tablet pada bets W.091 = 13,83 menit, bets W.099 = 12,16 menit dan bets W.100 = 11,50 menit. Hasil evaluasi uji mutu fisik tablet salut film Neuralgad produksi LAFI DITKESAD Bandung telah memenuhi spesifikasi berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi III tahun 1979 dan Voigt tahun 1994.
Efek Pemberian Minyak Biji Kelor (Moringa Oliefera L.) Sebagai Terapi Asma Terhadap Gambaran Dian Arsanti Palupi; Elma Martati
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 3, No 1 (2019): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.302 KB) | DOI: 10.31596/cjp.v3i1.42

Abstract

LATAR BELAKANGAsma adalah inflamasi kronik pada jalan nafas yang disebabkan oleh hiperresponsivitas jalan nafas, mukosa dan produksi mucus berlebih. Inflamasi ini biasanya kambuh dengan tanda gejala asma seperti batuk, dada sesak, wheezing dan disapnea. Minyak biji kelor (Moringa Oliefera L.) mengandung zat aktif isotiosianat dan glukosinolat yang menunjukkan aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan bronkidilator TUJUAN:Menganalisis pengaruh pemberian suplementasi minyak biji kelor (Moringa Oliefera L.)  terhadap penurunan ketebalan epitel bronkiolus mencit asma yang diinduksi ovalbumin METODE25 ekor mencit jantan BALB/c  umur 2-3 bulan, dan dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok I: normal tanpa perlakuan OVA dan hanya diberi suspensi CMC Na 0,5% p.o, Kelompok II, II, IV dan V disensitisasi  OVA secara intra peritoneal pada hari ke-0 dan ke-7. Kelompok II: kontrol negatif diberi suspensi CMC Na 0,5% p.o, Kelompok III: diberi Telfast OD 0,32 mg/hari p.o. Kelompok IV: diberi minyak biji kelor 0,4mL/hari. Kelompok V:  diberi kombinasi Telfas OD 0,32mg/ hari p.o dan minyak biji kelor 0,4 mL/ hari p.o. Hari ke-14, 15, 16, 17 kelompok II, III, IV dan V ditantang oleh OVA 1%  secara inhalasi dengan alat nebulizer selama 20 menit. Dua puluh empat jam setelah pemaparan akhir, mencit dikorbankan dengan dislokasi leher untuk dilakukan uji histopatologi epitel bronkiolus dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin HASILKombinasi Telfast OD 0,32mg/hari  dan minyak  biji kelor 0,4mL/hari  menunjukan hasil penurunan ketebalan epitel bronkiolus yang paling baik dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya.  KESIMPULAN :Suplementasi minyak biji kelor dapat menurunkan ketebalan epitel bronkiolus 17,26 μm. Minyak biji kelor bersifat sinergis dengan Telfas OD dengan menurunkan ketebalan epitel bronkiolus pada mencit asma yang diinduksi Ovalbumin
TERAPI ADJUVAN MINYAK NIGELLA SATIVA TERHADAP PENURUNAN KETEBALAN EPITEL BRONKUS MENCT ASMA YANG DIINDUKSI OVALBUMIN Dian Arsanti Palupi; Yeni Krisma Dewi
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 2, No 1 ( Mei 2018) : Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.467 KB) | DOI: 10.31596/cjp.v2i1.12

Abstract

Asma merupakan penyakit kronis saluran nafas obstruk kronik ditandai dengan adanya peradangan dan remodeling  yang disertai dengan kelainan kronis pada jalan nafas responsif . Minyak jinten hitam mampu menurunkan infiltrasi sel-sel radang pada saluran pernafasan sebanding dengan antihistamin golongan III. Membuktikan minyak Nigella sativa sebagai terapi adjuvan pada asma dengan menurunkan ketebalan epitel bronkious  pada mencit asma dengan eksperimental in vivo. 20 ekor mencit betina BALB/c  umur 2-3 bulan, disensitisasi  OVA secara intra peritoneal pada hari ke-0 dan 14 dan dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok normal tanpa perlakuan, Kelompok kontrol negatif diberi aqua dest, kelompok 1 diberi Deksametason 0,015 mg/hari i.p, kelompok 2 diberi kombinasi dexamethasone 0,015 ml / hari secara  intra peritoneal dan minyak Nigella sativa  0,15 ml/ hari per oral. Hari ke-21, 23, 25, 27 ditantang oleh OVA 1%  secara inhalasi dengan alat nebulizer selama 20 menit. Dua puluh empat jam setelah pemaparan akhir, tikus dikorbankan dengan dislokasi leher. Kombinasi dexamethasone 0,015mg/hari dan minyak  Nigella sativa 0,15ml/hari  menunjukan hasil penurunan ketebalan epitel bronkus yang paling baik dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya. Terapi adjuvan minyak Nigella sativa dapat menurunkan ketebalan epitel bronkusKata Kunci: Deksametason, Minyak Nigella sativa , Epitel bronkus
Pengaruh Suplementasi Ekstrak Propolis Terhadap Ketebalan Otot Polos Bronkiolus pada Mencit Asma Dian Arsanti Palupi; Nadhifah Luqyana
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 4, No 1 (2020): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/cjp.v4i1.55

Abstract

Asma bronkial ditandai dengan peradangan saluran nafas kronis, dan timbul secara klinis penyempitan jalan nafas (mengi dan dyspnea) dan batuk. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak propolis sebagai terapi asma terhadap ketebalan otot polos bronkiolus pada mencit asma. Mencit betina Balb/C  25 ekor yang memenuhi kriteria inklusi dibagi menjadi 5 kelompok. Kontrol normal (K1), kontrol negatif (K2), teofilin (K3), ekstrak propolis (K4), kombinasi teofilin + ekstrak propolis (K5). Pada hari ke-0 mencit disensitisasi dengan  10µg  OVA+ 1 mg Alhidrogel dalam 0,5 mL NaCl steril  0,9% secara intraperitoneal. Pada hari ke-14  20µg  OVA+ 2 mg Alhidrogel dalam 0,5 mL NaCl steril  0,9% secara intraperitoneal Pada hari ke-21, ke-23, ke-25 mencit diinhalasi OVA1%. Pada hari ke-26 sampai ke-39 kelompok  K3 diberi teofilin 0,338 mg/hari, kelompok K4 diberi ekstrak propolis dosis 4 mg/ hari dan kelompok K5 diberi kombinasi teofilin + ekstrak propolis. Pada hari ke-40 mencit diterminasi untuk dianalisis ketebalan otot polos bronkiolus. Perbandingan antara kelompok negatif rata-rata rata-rata 5,35± 0,06 µm dapat diturunkan dengan ekstrak propolis (K4) rata-rata 3,73± 0,2 µm, nilai p=0,01 artinya antara kelompok kontrol negatif dan kelompok ekstrak propolis ada perbedaan yang bermakna secara statistik. Ekstrak propolis  terbukti dapat menurunkan ketebalan otot polos bronkiolus mencit asma
AKTIFITAS ANTIASMA EKSTRAK JAHE MERAH (Zingiber officinale var rubrum) TERHADAP JUMLAH EOSINOFIL DAN SEL MAST YANG TIDAK TERDEGRANULASI Dian Arsanti Palupi; Eliana Freistanti; Vasti Eka Apriliani
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 5, No 1 (2021): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/cjp.v5i1.134

Abstract

Asma merupakan penyakit inflamasi kronik pada saluran nafas yang ditandai dengan sesak nafas, batuk, nyeri dada, mengi yang terdapat peran sel-sel inflamasi seperti eosinofil, neutrofil, limfosit dan lain-lain. Jahe merah sejak lama terbukti mempunyai aktivitas farmakologis dan sudah digunakan sebagai obat tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah membuktikan pengaruh ekstrak jahe merah terhadap penurunan jumlah eosinofil dan sel mast pada mencit asma. Sebanyak 20 ekor mencit Balb / C yang memenuhi kriteria inklusi dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kontrol normal (K1), kontrol negatif (K2), kontrol positif / deksametason (K3), kelompok ekstrak jahe merah (K4). Pada hari ke 0 dan 7, mencit disensitisasi dengan Ovalbumin secara intraperitoneal Pada hari ke 14, 16, 18 mencit disensitisasi ulang dengan inhalasi menggunakan OVA 1% dalam NaCl 0,9% steril pada hari ke 18 sampai 25, kelompok K1 dan K2 diberi CMC. Na, kelompok K3 diberi deksametason 1,3? / hari, kelompok K4 diberi ekstrak jame merah 3,9 mg / hari, Tiap perlakuan dilakukan pada waktu yang sama. Pada hari terakhir inhalasi dimulai hari ke-18, ke-19, ke-20, ke-21, ke-22, ke-23, ke-24, ke-25. pada hari ke 25 mencit diterminasi untuk dianalisis jumlah eosinofil dan jumlah sel mast yang stabil. Ekstrak jahe merah dapat menurunkan jumlah eosinofil mencit asma dibandingkan dengan kelompok negatif nilai p 0.05 Eksrak jahe merah dapat menurunkan degranulasi sel mast mencit asma dibandingkan dengan kelompok negatif nilai p 0.05 .Kesimpulan, ekstrak jahe merah terbukti secara statistic signifikan menurunkan jumlah eosinofil dan mencegah degranulasi sel mast.
UJI EFEKTIFITAS LARVASIDA INFUS DAUN MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa) TERHADAP LARVA NYAMUK AEDES AEGYPTI INSTAR III Dian Arsanti Palupi; Risna Endah Budiati; Achmad Junaedi
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 5, No 1 (2016): Edisi Maret 2016
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1311.1 KB) | DOI: 10.31596/jcu.v2i4.104

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Pemberantasan Aedes aegypti merupakan cara utama untuk mengendalikan DBD. Kegiatan penanggulangan DBD salah satunya adalah pengendalian vektor penyakit yang bertujuan menurunkan populasi vektor penyakit sampai ke tingkat yang tidak membahayakan manusia. Pemberantasan stadium larva cukup efektif karena sebagai bentuk tindakan preventif sebelum nyamuk tumbuh dewasa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas infus daun mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) terhadap kematian larva Aedes aegypti instar III. Metode penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan penelitian time series control, teknik sampling yang digunakan purposive sampling dengan 4 kali pengulangan. Masing-masing wadah diisi infus daun mahkota dewa  konsentrasi  0,4% ;  0,8%;  1,6% dan 25 larva instar III tanpa diberi makan. Kontrol positif diberi abate dan sebagai kontrol negatif diisi aquadest. Pengamatan dilakukan pada jam pertama, ke tiga dan ke enam kemudian dihitung jumlah larva yang mati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infus daun mahkota dewa efektif membunuh larva instar III nyamuk aedes aegypti pada konsentrasi 1,6%. Kata kunci :   Demam Berdarah Dengue, Larva Nyamuk Aedes Aegypti Instar III , Infus daun mahkota dewa (Phaleria macrocarpa)
TINGKAT PENGGUNAAN OBAT ANTI INFLAMASI NON STEROID (AINS) DI APOTEK GS KABUPATEN KUDUS Dian Arsanti Palupi; Putri Ika Wardani
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 6, No 1 (2017): Edisi Maret 2017
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.959 KB) | DOI: 10.31596/jcu.v2i5.162

Abstract

Nyeri adalah keluhan yang sangat sering membawa pasien berobat ke dokter. Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam mengatasi nyeri ini adalah  dengan pemberian obat anti inflamasi non steroid (AINS). Obat antiinflamasi (anti radang) non steroid, atau yang lebih dikenal dengan sebutan adalah suatu golongan obat yang memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun panas), dan antiinflamasi (anti radang). Istilah "non steroid" digunakan untuk membedakan jenis obat-obatan ini dengan steroid, yang juga memiliki khasiat serupa. AINS bukan tergolong obat-obatan jenis narkotika. Mekanisme kerja AINS didasarkan atas penghambatan isoenzim COX-1 (cyclooxygenase-1) dan COX-2 (cyclooxygenase-2). Enzim cyclooxygenase ini berperan dalam memacu pembentukan prostaglandin dan tromboksan dari arachidonic acid. Prostaglandin merupakan molekul pembawa pesan pada proses inflamasi (radang). Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang dirancang dengan metode deskriptif melalui studi prospektif berdasarkan data obat anti Inflamasi Non steroid (AINS) bulan Maret 2016 di Apotek GS Kabupaten Kudus, untuk mengetahui penggunaan obat AINS tunggal dan kombinasi. Hasil penelitian tingkat penggunaan obat AINS  pada terapi tunggal yang paling banyak digunakan adalah Natrium Diklofenak (51,6%) dan terapi kombinasi yang paling sering digunakan adalah kombinasi antara Natrium Diklofenak dengan Methylprednisolon  (64,8%).Kata Kunci : Anti Inflamasi Non Steroid, Terapi Tunggal Dan Kombinasi
Uji Efek Penghambatan Anafilaksis Kutan Aktif Kombinasi Ekstrak Etanol 95% Biji Jintan Hitam dan Herba Sambiloto pada Tikus yang Diinduksi Ovalbumin Dian Arsanti Palupi
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 4, No 2 (2015): Edisi Oktober 2015
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1164.957 KB) | DOI: 10.31596/jcu.v1i4.82

Abstract

Biji jintan hitam dengan kandungan minyak atsiri dan herba sambiloto dengan kandungan flavonoid dan saponin berpotensi menghambat lepasnya histamin yang dapat menimbulkan reaksi anafilaksis kutan aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas penghambatan anafilaksis kutan aktif dari ekstrak etanol 95% biji jintan hitam dan herba sambiloto pada tikus yang diinduksi ovalbumin. Hewan uji dikelompokkan menjadi 9 kelompok, masing-masing terdiri dari 4 ekor tikus. Disensitisasi 2 kali (1x setiap minggu) dengan ovalbumin secara subkutan pada punggung tikus.Pada minggu kedua semua hewan uji disuntik evans blue 1,5% intravena, kemudian diberi ekstrak etanol 95% biji jintan hitam dan herba sambiloto yang disuspensikan dalam Na.CMC 0,5% peroral. Kontrol positif diberi natrium kromolin 2% secara sub kutan, dan kontrol negatif diberi Na.CMC 0,5% per oral. Hasil uji statistik menunjukkan semua kelompok ekstrak tunggal dan kombinasi memberikan efek penghambatan anafilaksis kutan aktif yang berbeda signifikan dengan kontrol negatif, dan kontrol positif.Kesimpulan, dosis kombinasi ekstrak etanol 95% biji jintan hitam dan herba sambiloto (22,5;90)mg/kg bb tikus merupakan kombinasi dosis yang paling efektif untuk menghambat anafilaksis kutan aktif. Kata kunci : jintan hitam, sambiloto, anafilaksis, ovalbumin
ANALISIS PERESEPAN OBAT ANTIDIABETIK ORAL PADA RESEP BPJS DI APOTEK HUSADA FARMA KABUPATEN KUDUS FEBUARI 2016 Dian Arsanti Palupi; Nufika Musyafaah
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 5, No 2 (2016): Edisi Oktober 2016
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1910.964 KB) | DOI: 10.31596/jcu.v1i5.149

Abstract

Penatalaksanaan diabetes mempunyai tujuan akhir untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas, yang secara spesifik ditujukan untuk mencapai 2 target utama, yaitu menjaga agar kadar glukosa plasma berada dalam kisaran normal dan mencegah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui distribusi penggunaan obat antidiabetik oral tunggal dan kombinasi pada resep BPJS di apotek Husada Farma Kudus pada periode Februari 2016. Penelitian ini merupakan penelitian dengan rancangan deskriptif dan data diambil secara retrospektif dari 185 lembar resep yang memenuhi kriteria inklusi. Data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik yang dianalisa dengan microsoft office. Hasil penelitian diperoleh bahwa lembar resep pasien wanita lebih banyak dibandingkan dengan lembar resep laki-laki. Rata-rata usia pasien penderita DM adalah diatas 40 tahun sejumlah 97%. Metformin adalah obat antidiabetik oral yang paling banyak diresepkan sejumlah 76% atau 141 lembar resep. Peresepan obat antidiabetik oral lebih banyak dalam bentuk kombinasi dibandingkan dengan peresepan tunggal. Terdapat 147 lembar resep atau 70,5% dari total resep adalah bentuk kombinasi . Kombinasi terbanyak adalah kombinasi antara obat Antidiabetik oral dari golongan Biguanid (Metformin) dengan Antidiabetik oral golongan Sulfonilurea (Glicab, Glucodex, Glimepirid, Glicazid, Glugepatic, Diamicron)  yaitu sejumlah 68 lembar resep.Kata Kunci: Resep BPJS, Resep tunggal dan kombinasi, antidiabetik oral