Claim Missing Document
Check
Articles

PENAMBAHAN KALSIUM PADA AIR RAWA SEBAGAI PENGENCER SALINITAS MEDIA PEMELIHARAAN PASCALARVA UDANG GALAH TERHADAP SINTASAN, TINGKAT KERJA OSMOTIK, DAN KONSUMSI OKSIGEN Ferdinand Hukama Taqwa; Ade Dwi Sasanti; Khadiful Haramain; Eni Kusrini; Abdul Karim Gaffar
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.97 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.2.2014.229-236

Abstract

Budidaya udang galah di lahan suboptimal rawa masih mengalami kendala karena tingkat mortalitas yang tinggi pada stadia pascalarva terutama saat penebaran awal di media air rawa. Kondisi perairan rawa yang kurang sesuai untuk budidaya udang galah perlu ditingkatkan daya dukungnya terutama yang berhubungan dengan kemampuan osmoregulasi dan metabolisme pascalarva udang galah, salah satunya berupa penambahan mineral kalsium. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan penambahan kadar kalsium terbaik yang dapat menghasilkan sintasan, tingkat kerja osmotik, dan tingkat konsumsi oksigen terbaik pada pascalarva udang galah selama masa adaptasi pergantian media hidup dari media bersalinitas 12 ppt ke media air rawa 0 ppt, selama 10 hari mulai dari udang galah stadia PL1 hingga PL11 dengan penurunan salinitassecara gradual dan persentase volume. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan penambahan kalsium pada air rawa pengencer salinitas media, yaitu 0 mg.L-1 (A), 25 mg.L-1 (B), 50 mg.L-1 (C), 75 mg.L-1 (D), dan 100 mg.L-1 (E). Parameter yang diamati yaitu tingkat sintasan, tingkat kerja osmotik, tingkat konsumsi oksigen, kadar kalsium tubuh, dan kualitas fisika kimia media adaptasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 50 mg.L-1 kalsium (C) dapat meminimalisir tingkat kerja osmotik terendah yaitu 192,90 mOsm.l-1 H2O dan tingkat konsumsi oksigen 2,678 mgO2.g-1.jam-1.. Selain itu, juga dapat menyebabkan kadar kalsium tubuh hingga mencapai 8,029 mg/L dan sintasan yang diperoleh mencapai 94%. Selama penelitian berlangsung parameter fisika kimia media adaptasi (suhu, pH, oksigen terlarut, amonia, dan alkalinitas) masih dalam kondisi yang dapat ditolerir bagi sintasan udang galah.
The Effectiveness of Utilization of Local Raw Materials as Feed to Increase Productivity of Catfish (Clarias sp.) in Sakatiga Village, Indralaya District, Ogan Ilir Regency, South Sumatra Mohamad Amin; Ferdinand Hukama Taqwa; Yulisman Yulisman; Retno Cahya Mukti; Madyasta Anggana Rarassari; Rizky Marli Antika
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 9 No. 3 (2020): JAFH Vol. 9 No. 3 September 2020
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jafh.v9i3.17969

Abstract

Sakatiga Village, located in Indralaya District, Ogan Ilir Regency, South Sumatra, has the potential to develop aquaculture. Problems often experienced by fish farmers in the village of Sakatiga include the high price of feed and the lack of public knowledge about local materials that can be used as raw material for fish feed. These problems can be overcome by making feed independently. The purpose of this activity is to evaluate the effectiveness of the utilization of local materials as a raw material for feed to an increase in the productivity of catfish (Clarias sp.) in Sakatiga village, Indralaya District, Ogan Ilir Regency, South Sumatra. The method used is counseling and discussion, training in making food and a demonstration plot using local materials as raw material for fish food and technical assistance by the team and assisted by students who carry out field practices at partner locations. Based on the results obtained indicate an increase in community knowledge about local materials that can be used as fish food and community motivation to make feed using local raw materials. Utilization of local raw materials as catfish feed yields an absolute weight and length growth of 9.94 g and 3.83 cm respectively, a daily growth rate of 2.21%/day, feed efficiency of 103.24% and survival of 97%.
PERFORMA IKAN Belontia hasselti DENGAN BERBAGAI DENSITAS DAN PEMBERIAN JENIS PAKAN BERBEDA PASCA TRANSPORTASI Ferdinand Hukama Taqwa; Dade Jubaedah; Mochamad Syaifudin; Tanbiyaskur Tanbiyaskur; Gion Tanbao Suselin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.38 KB) | DOI: 10.15578/jra.17.1.2022.23-33

Abstract

Salah satu ikan konsumsi dari perairan rawa dengan nilai ekonomis cukup tinggi dan berpotensi sebagai komoditas ikan hias ialah dari jenis Belontia hasselti. Kegiatan budidaya ikan ini belum banyak dilakukan karena masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam, sehingga upaya domestikasi mulai dari tahapan penanganan pascatangkap, distribusi, dan pemulihan pascatransportasi perlu dilakukan. Tujuan penelitian ialah menentukan batas densitas tertinggi ikan B. hasselti selama transportasi sistem tertutup dan jenis pakan yang sesuai selama masa pemulihan pascatransportasi. Penelitian terdiri atas dua tahap dengan metode rancangan acak lengkap (RAL). Tahap pertama yaitu perbedaan densitas ikan B. hasselti selama 24 jam transportasi sistem tertutup, yaitu masing-masing sebanyak 38, 42, 46, dan 50 ekor L-1. Tahap kedua berupa pemulihan ikan selama 10 hari setelah proses transportasi dengan pemberian jenis pakan berbeda, yaitu Tubifex sp., Chironomus sp., dan pakan apung komersial dengan kadar protein 30%. Performa ikan B. hasselti yang diamati sesaat pascatransportasi dan selama masa pemulihan meliputi kelangsungan hidup (sintasan), kadar glukosa darah, tingkat konsumsi oksigen, pertumbuhan bobot mutlak, dan efisiensi pakan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa densitas ikan B. hasselti hingga 50 ekor L-1 selama transportasi 24 jam menghasilkan sintasan 100%, namun menyebabkan peningkatan kadar glukosa yang signifikan hingga mencapai 177,67 mg dL-1. Di akhir masa pemulihan, tingkat sintasan, pertumbuhan bobot mutlak, dan efisiensi pakan ikan B. hasselti tertinggi terdapat di perlakuan dengan pemberian pakan berupa Tubifex sp. dan signifikan berbeda dengan metode pemberian pakan lainnya, yaitu berturut-turut sebesar 100%; 1,07 g; dan 23,73%. Kadar glukosa darah dan tingkat konsumsi oksigen ikan di akhir masa pemulihan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Kisaran kualitas air yang terukur selama transportasi dan pemulihan masih layak untuk kehidupan ikan B. hasselti. Secara umum kepadatan ikan B. hasselti sebesar 50 ekor L-1 selama transportasi 24 jam dan proses pemulihan dengan pemberian pakan Tubifex sp. selama 10 hari menunjukkan performa budidaya yang lebih baik. Kajian mengenai sistem transportasi B. hasselti dengan kepadatan yang lebih tinggi dan durasi transportasi yang lebih lama, serta waktu pemulihan yang lebih singkat dengan pakan buatan yang sesuai masih dibutuhkan untuk pengembangan budidaya secara intensif di masa mendatang.Belotia hasselti is a high economic value fish and has the potential as an ornamental fish commodity. The cultivation of this fish has lagged due to the supply reliance on wild stock. Therefore, domestication efforts of this fish have to be developed, starting with post-catch handling, distribution, and post-transportation recovery. The purposes of this research were to determine the best stocking density for B. hasselti during closed system transportation and the appropriate feed type during the recovery period. The research was designed in two stages using a completely randomized design. The first experiment was different B. hasselti densities used for 24 hours transportation period, i.e., 38, 42, 46, and 50 fish L-1, respectively. The second experiment was different feeding types during the recovery period of 10 days post-transportation, i.e., Tubifex sp., Chironomus sp., and commercial floating feed (protein content of 30%), respectively. The performance observations on B. hasselti were done immediately after transportation consisting of survival, blood glucose levels, oxygen consumption levels, absolute weight growth, and feed efficiency. The result showed that the density of up to 50 fish L-1 during 24 hours of road transportation resulted in 100% survival despite a significant increase in glucose levels up to 177.67 mg dL-1 was recorded. At the end of the recovery period, the highest survival rate, absolute weight growth, and feed efficiency of B. hasselti were found in the treatment with Tubifex sp. and significantly different from the other treatment using Chironomus sp. and commercial floating feed, which were 100%, 1.07 g, and 23.73%, respectively. There were no significant differences in blood glucose and oxygen consumption in the fish after the recovery period. The water quality range measured during transportation and recovery in this study was still suitable for fish survival. In general, the density of B. hasselti during 24 hours transportation is 50 L-1, and the recovery process by feeding Tubifex sp. in 10 days resulted in better cultivation performance. For the future development of intensive aquaculture, more research on B. hasselti transportation systems with higher densities, longer transport durations, and shorter recovery times using suitable artificial feeds is required.
PENGARUH KRIOPROTEKTAN DIMETIL SULFOKSIDA DOSIS BERBEDA DALAM EKSTENDER MADU TERHADAP KUALITAS SPERMA IKAN BELIDA SELAMA MASA PENYIMPANAN Danang Yonarta; Mochamad Syaifudin; Ferdinand Hukama Taqwa; Tanbiyaskur Tanbiyaskur; muhammad Fery Artha
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 18, No 2 (2022): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.18.2.113-118

Abstract

Krioprotektan merupakan salah satu bahan yang berperan dalam penyelamatan bahan biologis pada kriopreservasi. Dimetil sulfoksida (DMSO) sebagai krioprotektan memiliki kemampuan cepat untuk penetrasi ke dalam sel pada saat equilibrasi (penurunan suhu) dan meninggalkan sel pada saat thawing (pencairan kembali). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan dosis terbaik dari larutan krioprotektan yang menggunakan DSMO dalam ekstender madu terhadap karakteristik dari sel spermatozoa ikan belida pada proses kriopreservasi.  Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Balai Pembibitan dan Hijauan Pakan Ternak (BPHPT) Sembawa pada bulan Maret sampai dengan November 2020. Ikan uji didapat dari hasil tangkapan dari alam, selanjutnya dilakukan pemeliharan selama 4 bulan untuk mendapatkan tingkat kematangan gonad yang maksimal. Pengambilan sel sperma dilakukan secara stripping, proses stripping dilakukan dengan mengurut bagian perut ikan secara memutar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu penyimpanan selama 28 hari pada P3 memberikan hasil terbaik terhadap motilitas (skor 3), nilai viabilitas sebesar 48,93%, lebih tingi dari Kontrol, P1 dan P2. Selain itu, pada perlakuan tersebut tidak ditemukan adanya abnormalitas yang terjadi pada sperma ikan belida. Cryoprotectant plays a role in saving biological material during cryopreservation. Dimethyl sulfoxide (DMSO) as a cryoprotectant has the ability to quickly penetrate into the cell at equilibration and leave the cell at thawing procedure. This study aims to determine the best dose of DSMO in honey extender to the characteristics of the featherback Fish spermatozoa cells in the cryopreservation process. This research was conducted at the Laboratory of Balai Pembibitan dan Hijauan Pakan Ternak (BPHPT) Sembawa from March to November 2020. The test fish were obtained from catches from nature, then reared for 4 months to get the maximum level of gonad maturity. Sperm cell retrieval is carried out by stripping, the stripping process is carried out by massaging the belly of the fish in a circular manner. The results showed that at storage time of 28 days, P3 gave the best results on motility (score 3), and the viability value was 48,93%, higher than Control, P1 and P2. In addition, the treatment did not show any abnormalities that occurred in the featherback fish sperm.
Potential for Aquaculture of Lais Fish (Kryptoterus palembangensis) in Swamplands Danang Yonarta; Ferdinand Hukama Taqwa; Marini Wijayanti; Dade Jubaedah; Muslim Muslim; Mochamad Syaifudin
Mangifera Edu Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Mangifera Edu
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/mangiferaedu.v7i2.160

Abstract

Ikan lais (Kryptopterus palembangensis) merupakan salah satu ikan endemik yang ada di Sumatera Selatan. Ketersediaan ikan lais di alam mulai menurun karena penangkapan yang dilakukan oleh masyarakat secara terus menerus akan mengganggu kelestarian ikan lais. Diketahui nilai ekonomis yang tinggi menjadi penyebabnya. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk pengembangan budidaya ikan lais agar dapat diproduksi secara terkontrol. Metode penulisan yang digunakan yaitu studi pustaka. Adapun teknologi dan manajemen dari ikan lais diantaranya perbedaan padat tebar pada keramba jaring apung, pemberian jenis pakan berbeda, perendaman larva pada larutan probiotik, pengaruh perbedaan suhu dan pematangan gonad dengan mineral Fe. Kemudian untuk rata-rata kualitas air dalam pertumbuhan ikan lais adalah suhu 25,20-32,00 ºC, kisaran pH sebesar 4,70-7,90, DO 2,60-8,00 mg L-1 dan kandungan amonia berkisar 0,010-2,000 mg L-1. Ikan lais termasuk dalam kelompok ikan karnivora karena jenis makanan utamanya adalah ikan kecil, insekta dan udang. Pada ikan yang diteliti secara terkontrol, pakan menggunakan Tubifex sp. memberikan pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang tertinggi. Pemijahan ikan lais baji satu kali dalam setahun dengan pola pemijahan total spawner di musim penghujan yang dimana pada saat permukan air mulai naik dan pemijahan dilakukan di dalam celah-celah bebatuan. Gambaran sel darah merupakan aspek pendukung dalam menentukan status kesehatan ikan. Kondisi fisiologis ikan yang sehat ditandai dengan adanya pertumbuhan yang meningkat. Fisiologis pertumbuhan ikan lais dalam keadaan sehat yaitu, total eritrosit 264,00 ± 3,00 x104 sel mm-3, hemoglobin 8,3±0,11 g/dL, hematokrit 26,66±0,57 %, total leukosit 2,53±0,01 x 104 sel mm-3 dan Glukosa darah 89,00 ± 1,00 mg/dL
PELATIHAN PEMBENIHAN IKAN SELINCAH DI DESA BURAI, KECAMATAN TANJUNG BATU, KABUPATEN OGAN ILIR Danang Yonarta; Mochamad Syaifudin; Mirna Fitrani; Retno Cahya Mukri; Marsi Marsi; Madyasta Anggana Rarassari; Ferdinand Hukama Taqwa; Tanbiyakur Tanbiyaskur
RESWARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v4i2.2751

Abstract

Desa Burai adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Desa Burai dikelilingi oleh sungai kelekar dan rawa yang kaya akan flora dan fauna. Desa Burai Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan merupakan salah satu dari 50 desa ekowisata terbaik di Indonesia. Permasalahan yang dialami oleh pembudidaya ikan termasuk yang dihadapi oleh kelompok pembudidaya ikan di Desa Burai saat ini belum mampu memproduksi benih ikan Selincah secara mandiri dan kontinue sehingga ketersediaan benih untuk usaha pembesaran budidaya ikan selincah masih mengandalkan dari hasil tangkapan alam. Untuk mengatasi masalah yang timbul dan untuk meningkatkan produksi khususnya pembudidaya ikan selincah maka perlu ditingkatkan usaha budidaya yang lebih intensif. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan atau menyuntikkan hormon ovaprim ke dalam tubuh ikan yang sudah matang gonad untuk meempercepat proses pemijahan sehingga dapat dihasilkan benih ikan selincah yang baik dimana jumlah, mutu dan waktu penyediaannya dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan kemampuan teknis pembudidaya ikan dengan transfer teknologi pembenihan ikan selincah secara terkontrol dan meningkatkan produksi benih ikan selincah secara berkelanjutan. Hasil produksi mitra sebelum adanya kegiatan PKM ini hanya mampu menangkap dari alam, sekarang sudah bisa melakukan pemijahan secara mandiri
The Production Evaluation of Lais Fish (Kryptopterus sp.) Culture in Wetlands Danang Yonarta; Ferdinand Hukama Taqwa; Mohamad Amin; Mirna Fitrani; Muslim; Mochamad Syaifudin
Quagga: Jurnal Pendidikan dan Biologi Vol 15 No 2 (2023): QUAGGA : Jurnal Pendidikan dan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/quagga.v15i2.39

Abstract

This study aimed to examine the technical and economic feasibility of lais aquaculture production. A cultivation activity was done in order to increase profits. Primary data was collected by interviewing fish cultivators and secondary data was obtained from related references. The bioecological characteristics of lais fish made this fish a candidate for aquaculture commodities paying attention to the management and technology used. Various technical aspects of production need evaluated continuously, including site selection, seed stocking, feeding, water quality management, fish health, harvesting, and marketing. Referring to the components of the evaluation results which were very lacking. Farmers need partners as mentors and access to several facilities to support production components that have not been maximized, one of which is the provision of best practices of fish handling certified superior lais fish fry.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Bimbingan Teknis Pengembangan Budidaya Ikan Lokal Sumatera Selatan di Indralaya Raya, Kabupaten Ogan Ilir Yonarta, Danang; Muslim, Muslim; Desiani, Anita; Syaifudin, Mochamad; Taqwa, Ferdinand Hukama
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol 7, No 1 (2024): Januari 2024
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurdimas.v7i1.2735

Abstract

Indralaya Raya memiliki jumlah penduduk laki-laki sebanyak 7.079 jiwa dan perempuan 3.617 jiwa. Masyarakat Indralaya Raya sebagian besar berprofesi sebagai pedagang. Hal ini berdasarkan lokasi Indralaya Raya yang dekat dengan Pasar Indralaya yang hanya berjarak 3 km dengan waktu tempuh ± 5 menit. Indralaya Raya dialiri oleh Sungai Kelekar. Sungai Kelekar banyak dihuni oleh ikan-ikan lokal salah satunya ikan tambakan. Produksi ikan tambakan dari kegiatan budidaya masih sangat terbatas sehingga perlu dorongan agar masyarakat dapat membudidayakan ikan ini. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pendampingan terhadap masyarakat mengenai teknis budidaya ikan tambakan mulai dari pemeliharaan induk hingga pemeliharaan larva hingga ukuran benih. Kegiatan pengabdian terhadap masyarakat dapat menjadi jembatan yang menghubungkan dengan masyarakat. Melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan mengenai produksi ikan tambakan masyarakat dapat mandiri secara ekonomi.
Substitution time of natural food by artificial diet on survival rate and growth of pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) postlarvae during rearing in low salinity media Taqwa, Ferdinand Hukama; Djokosetiyanto, Daniel; Affandi, Ridwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.776 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.38-43

Abstract

This research was conducted to determine natural food substitution time by artificial diet   after salinity acclimatization from 20 ppt until 2 ppt, which can increase survival and growth of (Litopenaeus vannamei) postlarvae during rearing period. Design experiment was completely randomized design with five treatments and three replications of natural food Chironomus sp.  (60% of crude protein) substitution time by artificial diet (40% of crude protein) at day: 1 (A), 7 (B), 14 (C), 21 (D) and full natural food without artificial diet (E) during 28 days rearing period. White shrimp postlarvae and rearing media in this experiment based from best result of earlier research that is PL25 from acclimatization in media 2 ppt with addition of potassium 25 ppm to freshwater media.  The densities of PL25 white shrimp were 20 PLs/50 liters of 2 ppt media. The result of this experiment showed that the use of artificial diet as soon as after salinity acclimatization (PL25) gave best performance production compared to which only that was given natural food Chironomus sp. during experiment or with treatment by artificial diet substitution at day-7, day-14 or day-21, shown with the highest value of food consumption level, protein retention, energy retention, daily growth rate and food efficiency. Survival rate of PL54 was above 80% and not significant different between treatment. That is supported by chemical-physical value of water quality still in range appropriate to survival rate of white shrimp post larvae during a rearing period. The result of this experiment indicated that requirement nutrient of PL25 in low salinity did not fulfilled if only rely on natural food, so that require artificial diet with nutrition content to support growth and survival rate of white shrimp post larvae more maximal. Key words: salinity, natural food, artificial diet, Pacific white shrimp   ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan yang tepat selama masa pemeliharaan postlarva udang vaname di media bersalinitas rendah setelah melalui masa aklimatisasi penurunan salinitas dari 20 ppt hingga 2 ppt, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Rancangan percobaan berupa rancangan acak lengkap dengan perlakuan yang diterapkan berupa waktu penggantian pakan alami Chironomus sp. (kadar protein 62%) oleh pakan buatan (kadar protein 40%) pada hari ke-1 (A), ke-7 (B), ke-14 (C), ke-21 (D) dan pakan alami (E) selama masa pemeliharaan. Postlarva udang vaname dan media pemeliharaan yang dipergunakan selama percobaan mengacu pada hasil terbaik yang didapatkan dari penelitian pendahuluan yaitu berupa PL25 hasil aklimatisasi di media bersalinitas 2 ppt  dengan penambahan kalium 25 ppm ke media air tawar pengencer. Padat tebar sebanyak 20 ekor/50 liter/wadah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian pakan buatan yang diberikan segera setelah masa aklimatisasi salinitas (pada awal pemeliharaan PL25) memberikan performa produksi budidaya terbaik bila dibandingkan dengan yang hanya diberi pakan alami selama masa pemeliharaan maupun waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan pada hari ke-7, ke-14 dan hari ke-21 yang ditunjukkan dengan tingkat konsumsi pakan, retensi protein, retensi energi, laju pertumbuhan harian dan efisiensi pakan yang tertinggi.  Kelangsungan hidup di akhir pemeliharaan (PL54)  di atas 80% dan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Hal ini ditunjang oleh nilai fisika kimia air yang berada dalam kisaran yang layak selama masa pemeliharaan. Hasil percobaan ini menunjukkan bahwa kebutuhan nutrisi pada stadia PL25 di media bersalinitas rendah tidak terpenuhi jika hanya mengandalkan pakan alami sehingga perlu ditunjang dari pakan buatan dengankandungan nutrisi yang dapat mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang lebih maksimal. Kata kunci: salinitas, pakan alami, pakan buatan, udang vaname.
The survival rate and growth of green catfish (Hemibagrus nemurus) fry at various water level Juniarti, Hanifa; Taqwa, Ferdinand Hukama
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica, Vol. 12: No. 1 (April, 2025)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v1i1.18965

Abstract

Green catfish (H. nemurus) is a type of freshwater fish that has the potential to be cultivated. Green catfish cultivation needs to be supported by ideal environmental conditions so as to produce maximum survival rate and growth. One environmental technique that can be used is water level, because the higher the water column the more energy it will uses to move and can affect the growth of green catfish fry. This research aimed to determine the best water level for survival rate and growth of green catfish fry. This research was carried out in January-February 2024 at the Fisheries Basic Laboratory, Aquaculture Study Program, Fisheries Departement, Agriculture Faculty, Universitas Sriwijaya. This research used a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and 3 replication, namely P1 with a water level of 6 cm, P2 with a water level of 12 cm, P3 with a water level of 18 cm and P4 with a water level of 24 cm. This research was carried out for 30 days. The research results showed that differences in water level a significant effect on survival rate, growth, feed efficiency and oxygen consumption level but have no significant effect on blood glucose level. The results showed that the best treatment namely P3 resulted in absolute weight growth of 3.62 g, absolute length growth of 3.60 cm, feed efficiency of 80.00%, survival of 96.30%, blood glucose level of 15,00 mg dL-1 and oxygen consumption level of 1.12 mg O2 g-1 hours-1. The  water quality values for all treatments still support the survival rate of green catfish fry.Keywords: Green Catfish; Fish Growth; Survival Rate; Water Level