Claim Missing Document
Check
Articles

Different effects of swamp probiotics application frequency as a biofloc-forming agent on the production of catfish (Clarias gariepinus) Amin, Mohamad; Mukti, Retno Cahya; Taqwa, Ferdinand Hukama; Andini, Andini; Marsi, Marsi; Priyanto, Langgeng; Wijayanti, Marini
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 13, No 2 (2024): AUGUST 2024
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.13.2.34280

Abstract

Catfish (Clarias gariepinus) that are reared with probiotics as biofloc-forming agent is thought to increase the fish production. Applying swamp probiotics to the water media has never been studied to ensure the flocks' availability in the rearing media. This study aimed to determine the appropriate frequency of probiotics application collected from swamps for biofloc formation to improve the catfish production. This study used a completely randomized design with two treatments and three replications. The treatments were composed of different application frequency of swamp probiotics: (P1) once in 42 days of rearing and (P2) twice in 42 days of rearing. Data on flock volume, total bacterial colonies, absolute growth rate, feed efficiency, survival rate, and water quality were analyzed by T-test with a 95% confidence level. Meanwhile, the flock composition data were analyzed descriptively. The results showed that P2 obtained the best treatment with a floc volume of 68.33 10.41 mL/L, absolute length growth of 8.18 1.03 cm, absolute weight growth of 19.30 3.12 g, feed efficiency of 135.24 7.98%, survival rate of 89.33 6.21%, biomass production of 24639.50 1344.51 g, temperature of 28.85-29.59C, pH of 7.27-7.42, dissolved oxygen (DO) of 3.91-5.72 mg/L, ammonia of 0.45-1.15 mg/L, and total dissolved solids (TDS) of 717.33-885.50 mg/L. Therefore, swamp probiotics should be applied to catfish culture media twice for 42 days of rearing or once every 21 days.Keywords:BioflocCatfishProbiotics from swamp
PELATIHAN PEMBENIHAN IKAN SELINCAH DI DESA BURAI, KECAMATAN TANJUNG BATU, KABUPATEN OGAN ILIR Yonarta, Danang; Syaifudin, Mochamad; Fitrani, Mirna; Mukri, Retno Cahya; Marsi, Marsi; Rarassari, Madyasta Anggana; Taqwa, Ferdinand Hukama; Tanbiyaskur, Tanbiyakur
Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v4i2.2751

Abstract

Desa Burai adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Desa Burai dikelilingi oleh sungai kelekar dan rawa yang kaya akan flora dan fauna. Desa Burai Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan merupakan salah satu dari 50 desa ekowisata terbaik di Indonesia. Permasalahan yang dialami oleh pembudidaya ikan termasuk yang dihadapi oleh kelompok pembudidaya ikan di Desa Burai saat ini belum mampu memproduksi benih ikan Selincah secara mandiri dan kontinue sehingga ketersediaan benih untuk usaha pembesaran budidaya ikan selincah masih mengandalkan dari hasil tangkapan alam. Untuk mengatasi masalah yang timbul dan untuk meningkatkan produksi khususnya pembudidaya ikan selincah maka perlu ditingkatkan usaha budidaya yang lebih intensif. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan atau menyuntikkan hormon ovaprim ke dalam tubuh ikan yang sudah matang gonad untuk meempercepat proses pemijahan sehingga dapat dihasilkan benih ikan selincah yang baik dimana jumlah, mutu dan waktu penyediaannya dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan kemampuan teknis pembudidaya ikan dengan transfer teknologi pembenihan ikan selincah secara terkontrol dan meningkatkan produksi benih ikan selincah secara berkelanjutan. Hasil produksi mitra sebelum adanya kegiatan PKM ini hanya mampu menangkap dari alam, sekarang sudah bisa melakukan pemijahan secara mandiri
Different effects of swamp probiotics application frequency as a biofloc-forming agent on the production of catfish (Clarias gariepinus) Amin, Mohamad; Mukti, Retno Cahya; Taqwa, Ferdinand Hukama; Andini, Andini; Marsi, Marsi; Priyanto, Langgeng; Wijayanti, Marini
Depik Jurnal Ilmu Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan Vol 13, No 2 (2024): AUGUST 2024
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.13.2.34280

Abstract

Catfish (Clarias gariepinus) that are reared with probiotics as biofloc-forming agent is thought to increase the fish production. Applying swamp probiotics to the water media has never been studied to ensure the flocks' availability in the rearing media. This study aimed to determine the appropriate frequency of probiotics application collected from swamps for biofloc formation to improve the catfish production. This study used a completely randomized design with two treatments and three replications. The treatments were composed of different application frequency of swamp probiotics: (P1) once in 42 days of rearing and (P2) twice in 42 days of rearing. Data on flock volume, total bacterial colonies, absolute growth rate, feed efficiency, survival rate, and water quality were analyzed by T-test with a 95% confidence level. Meanwhile, the flock composition data were analyzed descriptively. The results showed that P2 obtained the best treatment with a floc volume of 68.33 10.41 mL/L, absolute length growth of 8.18 1.03 cm, absolute weight growth of 19.30 3.12 g, feed efficiency of 135.24 7.98%, survival rate of 89.33 6.21%, biomass production of 24639.50 1344.51 g, temperature of 28.85-29.59C, pH of 7.27-7.42, dissolved oxygen (DO) of 3.91-5.72 mg/L, ammonia of 0.45-1.15 mg/L, and total dissolved solids (TDS) of 717.33-885.50 mg/L. Therefore, swamp probiotics should be applied to catfish culture media twice for 42 days of rearing or once every 21 days.Keywords:BioflocCatfishProbiotics from swamp
PENDAMPINGAN TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN LELE MELALUI SISTEM TERKONTROL DALAM PENINGKATAN PRODUKSI BERKELANJUTAN DI DESA TALANG BALAI BARU I Taqwa, Ferdinand Hukama; Syaifudin, M; Fitrani, Mirna; Jubaedah, Dade; Wijayanti, Marini; Amin, Mohamad; Muslim, Muslim; Yulisman, Yulisman; Tanbiyaskur, Tanbiyaskur; Yonarta, Danang; Riswandi, Agung; Afriansyah, Azmi
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 2 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i2.2298

Abstract

Desa Talang Balai Baru I adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Desa Talang Balai Baru I dikelilingi oleh sungai kelekar dan rawa yang kaya akan flora dan fauna. Desa Talang Balai Baru I Kecamatan Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan merupakan salah satu dari 50 desa ekowisata terbaik di Indonesia. Permasalahan yang dialami oleh pembudidaya  ikan termasuk yang dihadapi oleh kelompok pembudidaya ikan di Desa Talang Balai Baru I saat  ini belum mampu memproduksi benih ikan Lele secara mandiri dan kontinue sehingga ketersediaan benih untuk usaha pembesaran budidaya ikan lele masih mengandalkan dari hasil tangkapan alam. Untuk mengatasi masalah yang timbul dan untuk meningkatkan produksi khususnya pembudidaya ikan lele maka perlu ditingkatkan usaha budidaya yang lebih intensif. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan atau menyuntikkan hormon ovaprim ke dalam tubuh ikan yang sudah matang gonad untuk meempercepat proses pemijahan sehingga dapat dihasilkan benih ikan lele yang baik dimana jumlah, mutu dan waktu penyediaannya dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan kemampuan teknis pembudidaya ikan dengan transfer teknologi pembenihan secara terkontrol ikan lele dan meningkatkan produksi benih ikan lele secara berkelanjutan. Hasil produksi mitra sebelum adanya kegiatan PKM ini hanya mampu menangkap dari alam, sekarang sudah bisa melakukan pemijahan secara mandiri.
OPTIMALISASI PADAT TEBAR IKAN BETOK (Anabas testudineus) DALAM AIR LIMBAH BUDIDAYA LELE (Clarias sp.): STUDI TENTANG EFISIENSI PERTUMBUHAN DAN PENGELOLAAN LIMBAH Sari, Ariani Indah; Fitrani, Mirna; Taqwa, Ferdinand Hukama
JARI : Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Vol. 12 No. 2 (2024): JARI : JURNAL AKUAKULTUR RAWA INDONESIA
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jari.v12i2.28

Abstract

Aquaculture activities generate significant amounts of wastewater, primarily fish waste, metabolic by-products, and uneaten feed. One potential solution to mitigate this issue is the reuse of aquaculture wastewater to cultivate other fish species, such as climbing perch (Anabas testudineus). This study aimed to determine the optimal stocking density for climbing perch cultivation in catfish (Clarias sp.) aquaculture wastewater. The experiment was conducted by using a Completely Randomized Design (CRD) with three treatments and three replications: 2 fish per 2.5 L of wastewater (P1), 3 fish per 2.5 L of wastewater (P2), and 4 fish per 2.5 L of wastewater (P3). The results indicated that a stocking density of 2 fish per 2.5 L of wastewater (P1) was the most favorable treatment. Throughout the maintenance period, water quality parameters were as follows: average temperature 27.89 ± 0.060C, pH 6.90 ± 0.19, dissolved oxygen 5.15 ± 0.25 mg/L, ammonia 0.034 ± 0.020 mg/L, nitrate 22.33 ± 12.33 mg/L, total phytoplankton abundance 99.55 ind/L, and total zooplankton abundance 30.66 ind/L. Climbing perch demonstrated a 100% survival rate, with absolute length growth of 1.00 ± 0.07 cm and absolute weight growth of 0.93 ± 0.06 g. Feed conversion efficiency was high, at 72.48 ± 7.03%. Thus, using catfish aquaculture wastewater and appropriate stocking density offers a viable alternative for sustainable aquaculture waste management and fish production.
Respons fisiologis benur udang vaname (Litopenaeus vannamei) terhadap penambahan kalsium selama adaptasi di salinitas rendah Taqwa, Ferdinand Hukama; Fitrani, Mirna; Purwanto, Rudi
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica: Jurnal Ilmu Perairan, Vol. 8: No. 2 (August, 2021)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v8i2.4784

Abstract

The purpose of this study was to determine the optimum addition of calcium during the adaptation period of white shrimp seed in low salinity media, so the physiological conditions of shrimp still support maximally survival and growth. The research was carried out by using the Completely Randomized Design, i.e., the addition of calcium in freshwater for decreasing water salinity from 20 g L-1 to 0.5 g L-1 as much as 150, 200, 250, 300, and 350 mg L-1, respectively. The freshwater used in the salinity reduction process was based on previous research that included sodium and potassium additions of 75 mg L-1 and 50 mg L-1, respectively. The test animal was a white shrimp stadium PL15 that had been acclimated for 5 days to a medium salinity of 20 g L-1.  The results of this study showed that the addition of 300 mg L-1- calcium in freshwater during the adaptation for 96 hours significantly accelerate the achievement of molting time (1360 minutes), suppress the stress levels and metabolism rate (body fluid glucose of 169.80 mg L-1 and oxygen consumption level of 0.95 mg O2 g-1 h-1), and produce the highest survival rate of white shrimp seed (99%).Keywords: adaptation, calcium, low salinity, physiology, white shrimp 
PEMANFAATAN MINYAK CENGKEH SEBAGAI BAHAN ANESTESI UNTUK TRANSPORTASI IKAN TAMBAKAN (Helostoma temminckii) Tanbiyaskur, Tanbiyaskur; Lopez, Jennifer Patrick; Taqwa, Ferdinand Hukama; Afriansyah, Azmi; Dwinanti, Sefti Heza
Jurnal Riset Akuakultur Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.19.2.2024.97-107

Abstract

Minyak cengkeh telah banyak digunakan oleh pembudidaya sebagai anestesi pada transportasi ikan. Akan tetapi penggunaannya pada beberapa jenis ikan dengan kepadatan yang berbeda menunjukkan kebutuhan dosis penggunaan yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan dosis minyak cengkeh sebagai bahan pembius ikan tambakan (Helostoma temminckii) dan untuk mengetahui pengaruh pemberian minyak cengkeh pada transportasi ikan tambakan. Penelitian ini membandingkan kondisi transportasi yang menggunakan minyak cengkeh dan tanpa minyak cengkeh (kontrol) dengan kepadatan berbeda. Kepadatan yang digunakan adalah 10, 12, dan 14 ekor L-1. Ikan tambakan yang digunakan berukuran 15 ± 0,5 cm. Penelitian ini dibagi menjadi dua tahap yang terdiri dari penentuan konsentrasi efektif-100 10 menit (EC100 10 min) dan pengaruh minyak cengkeh terhadap kepadatan selama 12 jam transportasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai EC100 10 min adalah 0,026 mL L-1. Sesaat setelah transportasi, tingkat kelangsungan hidup dan tingkat konsumsi oksigen tidak berbeda nyata antara perlakuan dan kontrol pada kepadatan yang berbeda. Akan tetapi kadar glukosa darah pada kepadatan 10 ekor L-1 dan 12 ekor L-1 lebih rendah daripada kontrol. Pemantauan kesehatan ikan setelah 7 hari pascatransportasi menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata antara kontrol dan perlakuan baik kelangsungan hidup maupun kadar glukosa darah. Oleh karena itu, pemanfaatan minyak cengkeh pada dosis 0,026 mL L-1 untuk transportasi ikan tambakan dapat diaplikasikan dengan kondisi kepadatan 14 ekor L-1 selama 12 jam. Pemanfaatan minyak cengkeh pada ikan tambakan perlu dilakukan kajian lebih lanjut terkait penambahan kepadatan dan waktu transportasi atau aplikasinya untuk transportasi benih ikan tambakan.Clove oil has been widely used by farmers as an anesthetic agent in fish transportation. However, its use on several fish with different densities indicates the need for different doses. The aim of this study was to determine the dose of clove oil as an anesthetic agent for kissing gourami (Helostoma temminckii) and to determine the effect of administering clove oil on the transportation of kissing gourami. This study compared transportation conditions using clove oil and without clove oil (control) with different densities. The densities used were 10, 12, and 14 L-1. The kissing gourami used measured 15 ± 0.5 cm. This study was divided into two stages consisting of determining the effective concentration-100 10 minutes (EC100 10 min) and the effect of clove oil on density during 12 hours of transportation. The results showed that EC100 10 min value was 0.026 mL L-1. Immediately after transportation, survival rates and oxygen consumption levels were not significantly different between treatments and control at different densities. However, blood glucose levels of 10 fish L-1 and 12 fish L-1 were lower than the control. Fish health status monitoring after 7 days post-transportation showed that there was no significant difference between control and treatment in terms of survival rate or blood glucose levels. Therefore, the use of clove oil at a dose of 0.026 mL L-1 for the transportation of kissing gourami can be applied at a density of 14 fish L-1 for 12 hours. Further studies are required to determine the effects of clove oil as an anesthetic agent applied at denser stocking densities and longer transportation period of kissing gourami seeds.
APLIKASI ARANG AKTIF BATOK KELAPA DAN ZEOLIT DENGAN FILTER FISIK BUSA BERBEDA UNTUK MANAJEMEN KUALITAS AIR MEDIA BUDIDAYA IKAN KOI (Cyprinus carpio) Arnando, Edo; Taqwa, Ferdinand Hukama; Yonarta, Danang
Jurnal Riset Akuakultur Vol 19, No 3 (2024): September (2024)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.19.3.2024.229-242

Abstract

Ikan koi (Cyprinus carpio) merupakan salah satu jenis ikan yang sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air. Di sisi lain, kualitas air yang sesuai selain dapat menunjang tingkat kelangsungan hidup juga memengaruhi kecerahan warna ikan koi. Salah satu upaya untuk menjaga kualitas air tetap optimal adalah penerapan sistem resirkulasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunan bahan filter arang aktif batok kelapa dan zeolit yang dikombinasikan dengan filter fisik busa berbeda terhadap kualitas air media pemeliharaan ikan koi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan yaitu: P1 (Japmat, arang aktif batok kelapa, dan zeolit), P2 (spons, arang aktif batok kelapa, dan zeolit), P3 (biofoam, arang aktif batok kelapa, dan zeolit), dan P4 (greenwool, arang aktif batok kelapa, dan zeolit). Ikan koi yang digunakan merupakan strain platinum dengan ukuran awal berkisar 6 ± 1 cm. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan P3 merupakan perlakuan terbaik yang secara signifikan menghasilkan nilai yang rendah (p<0,05) untuk kadar amonia yang berkisar 0,005-0,029 mg L-1 dan nilai kekeruhan antara 0,61-1,25 NTU. Nilai fisika-kimia air untuk suhu, oksigen terlarut, dan pH tidak terdapat perbedaan yang nyata (p>0,05) antarperlakuan dengan perbedaan filter fisik busa yang digunakan. Penggunaan filter fisik busa berupa biofoam (P3) secara signifikan menghasilkan performa budidaya terbaik ditinjau dari pertumbuhan bobot dan panjang mutlak masing-masing sebesar 0,48g dan 1,40 cm, kelangsungan hidup 100% serta peningkatan kecerahan warna ikan mencapai 12,23.Koi fish (Cyprinus carpio) is very sensitive to changes in water quality which directly influences its colour and brightness. The use of a water recirculation system could improve the control of these water quality parameters by employing specific filter materials. This research aimed to determine the effect of activated coconut shell charcoal and zeolite filter materials combined with different physical polyester filters on the water quality of the koi fish rearing media. This research used a completely randomized design consisting of four treatments and three replications, namely: P1 (Japmat, activated coconut shell charcoal, and zeolite), P2 (sponge, activated coconut shell charcoal, and zeolite), P3 (biofoam, activated coconut shell charcoal, and zeolite), and P4 (greenwool, activated coconut shell charcoal, and zeolite). The koi fish used are platinum strains with an initial size of 6±1 cm. The results showed that the P3 treatment was the best treatment, which produced significantly low values (p<0.05) for ammonia levels ranging from 0.005-0.029 mg L-1 and turbidity values between 0.61-1.25 NTU. The treatments showed no significant differences in water physicochemical values for temperature, dissolved oxygen and pH (p>0.05). The use of biofoam (P3) significantly resulted in the best cultivation performance in terms of absolute weight and length growth at 0.48 g and 1.40 cm, respectively, with a survival rate of 100% and increased fish color brightness at 12.23. This study concludes that the combined filters effectively filtered a wide range of organic and inorganic particulates in the rearing media of koi fish, reducing turbidity and improving the color and brightness of the fish.   
Potential for Aquaculture of Lais Fish (Kryptoterus palembangensis) in Swamplands Yonarta, Danang; Taqwa, Ferdinand Hukama; Wijayanti, Marini; Jubaedah, Dade; Muslim, Muslim; Syaifudin, Mochamad
Jurnal Mangifera Edu Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Mangifera Edu
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/mangiferaedu.v7i2.160

Abstract

Ikan lais (Kryptopterus palembangensis) merupakan salah satu ikan endemik yang ada di Sumatera Selatan. Ketersediaan ikan lais di alam mulai menurun karena penangkapan yang dilakukan oleh masyarakat secara terus menerus akan mengganggu kelestarian ikan lais. Diketahui nilai ekonomis yang tinggi menjadi penyebabnya. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk pengembangan budidaya ikan lais agar dapat diproduksi secara terkontrol. Metode penulisan yang digunakan yaitu studi pustaka. Adapun teknologi dan manajemen dari ikan lais diantaranya perbedaan padat tebar pada keramba jaring apung, pemberian jenis pakan berbeda, perendaman larva pada larutan probiotik, pengaruh perbedaan suhu dan pematangan gonad dengan mineral Fe. Kemudian untuk rata-rata kualitas air dalam pertumbuhan ikan lais adalah suhu 25,20-32,00 ºC, kisaran pH sebesar 4,70-7,90, DO 2,60-8,00 mg L-1 dan kandungan amonia berkisar 0,010-2,000 mg L-1. Ikan lais termasuk dalam kelompok ikan karnivora karena jenis makanan utamanya adalah ikan kecil, insekta dan udang. Pada ikan yang diteliti secara terkontrol, pakan menggunakan Tubifex sp. memberikan pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang tertinggi. Pemijahan ikan lais baji satu kali dalam setahun dengan pola pemijahan total spawner di musim penghujan yang dimana pada saat permukan air mulai naik dan pemijahan dilakukan di dalam celah-celah bebatuan. Gambaran sel darah merupakan aspek pendukung dalam menentukan status kesehatan ikan. Kondisi fisiologis ikan yang sehat ditandai dengan adanya pertumbuhan yang meningkat. Fisiologis pertumbuhan ikan lais dalam keadaan sehat yaitu, total eritrosit 264,00 ± 3,00 x104 sel mm-3, hemoglobin 8,3±0,11 g/dL, hematokrit 26,66±0,57 %, total leukosit 2,53±0,01 x 104 sel mm-3 dan Glukosa darah 89,00 ± 1,00 mg/dL
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Bimbingan Teknis Pengembangan Budidaya Ikan Lokal Sumatera Selatan di Indralaya Raya, Kabupaten Ogan Ilir Yonarta, Danang; Muslim, Muslim; Desiani, Anita; Syaifudin, Mochamad; Taqwa, Ferdinand Hukama
Jurdimas (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Royal Vol. 7 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : STMIK Royal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33330/jurdimas.v7i1.2735

Abstract

Indralaya Raya memiliki jumlah penduduk laki-laki sebanyak 7.079 jiwa dan perempuan 3.617 jiwa. Masyarakat Indralaya Raya sebagian besar berprofesi sebagai pedagang. Hal ini berdasarkan lokasi Indralaya Raya yang dekat dengan Pasar Indralaya yang hanya berjarak 3 km dengan waktu tempuh ± 5 menit. Indralaya Raya dialiri oleh Sungai Kelekar. Sungai Kelekar banyak dihuni oleh ikan-ikan lokal salah satunya ikan tambakan. Produksi ikan tambakan dari kegiatan budidaya masih sangat terbatas sehingga perlu dorongan agar masyarakat dapat membudidayakan ikan ini. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pendampingan terhadap masyarakat mengenai teknis budidaya ikan tambakan mulai dari pemeliharaan induk hingga pemeliharaan larva hingga ukuran benih. Kegiatan pengabdian terhadap masyarakat dapat menjadi jembatan yang menghubungkan dengan masyarakat. Melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan mengenai produksi ikan tambakan masyarakat dapat mandiri secara ekonomi.