Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

EXPERIENTIAL MARKETING DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA BERKELANJUTAN PASCA BENCANA DI PROVINSI BANTEN Intan Putri Cahyani; Maria Febiana Christanti
Jurnal Komunikasi dan Kajian Media Vol 5, No 2 (2021): JURNAL KOMUNIKASI DAN KAJIAN MEDIA
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/jkkm.v5i2.3796

Abstract

Pariwisata  rentan terhadap bencana seperti yang dialami oleh Provinsi Banten. Baru saja berusaha pulih dari bencana tsunami dan gempa bumi, kini mereka dihadapkan dengan pandemic covid-19. Pariwisata pasca bencana membuat orang mengalami perubahan perilaku konsumsi mereka. Riset ini bertujuan untuk menguraikan experiential marketing dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan pascabencana di Provinsi Banten. Berangkat dari metode studi kasus, data dalam Studi deskriptif kualitatif ini diperoleh melalui monitoring platform digital, FGD virtual dan data sekunder berupa webinar dan berita tentang kepariwisataan. Saat ini konsumen potensial pariwisata didominasi oleh genereasi milenial yang cenderung untuk membagikan pengalamannya melalui media sosial. Virtual Tourism melalui unggahan di media sosial menjadi pilihan terbaik saat ini sebagai bentuk dream building dan membantu menjaga minat berwisata. Exciting Banten sebagai branding pariwisata sangat berkaitan erat dengan Feel experience. Saat ini Banten telah memiliki aplikasi excitingbanten.id yang mengintegrasikan Geographic Information System dengan Bussiness Intelligent untuk membangun system pantauan potensi pariwisata yang bersifat open access dan multi resources. Bentuk digitalisasi selanjutnya adalah dengan mengintensifkan komunitas virtual seperti GenPi. Protokol kesehatan CHSE menjadi pengalaman baru dalam berwisata pasca pandemic COVID-19 dan sangat berkaitan dengan prinsip environmentally feasible dan socially acceptable. Bentuk pengalaman utama dalam pariwasat pasca bencana saat ini menekankan pada unsur kesehatan, kenyamanan dan keselamatan.
Pendekatan Circular Economy Dalam Pengelolaan Sampah Plastik di Karang Taruna Desa Baros, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang Shanti Darmastuti; Intan Putri Cahyani; Afrimadona Afrimadona; Syarif Ali
Indonesian Journal of Society Engagement Vol. 1 No. 2: Desember 2020
Publisher : Lembaga Kajian Demokrasi dan Pemberdayaan Masyarakat (LKD-PM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33753/ijse.v1i2.13

Abstract

Various environmental problems that have occurred lately are more or less caused by the problem of garbage and waste from various activities of living things, especially humans. Therefore, good waste management is one of the solutions to current environmental problems. One of the main problems faced by partners is plastic waste management. Based on a preliminary field study conducted by the team, it was found that until now there had been no waste management activities carried out by the residents of Baros Village, both plastic waste management related to waste banks and plastic waste sorting. In this regard, one of the innovative solutions for plastic waste management is to apply the circular economy principle by sorting plastic waste and then managing and developing it to create a circular economy, which is recycling plastic waste into a product of economic value, so that can help people's economic life. In this case, through a circular economy approach, karang taruna gets socialization of a circular economy as a foundation in managing plastic waste. The activity began with coordination with officials in Baros Village and the board of the Setia Youth Organization, pretest, counseling, and continued with a posttest. The implementation of outreach activities is carried out online and only involves the karang taruna administrators due to the COVID-19 pandemic condition. From the results of the activities carried out, members of the karang taruna understand the importance of managing plastic waste to make it a commodity with economic value. Abstrak Berbagai permasalahan lingkungan yang terjadi belakangan ini sedikit banyak disebabkan oleh masalah sampah dan limbah dari berbagai aktivitas makhluk hidup, khususnya manusia. Oleh karena itu, pengelolaan sampah yang baik merupakan salah satu solusi dari permasalahan lingkungan saat ini. Salah satu kendala utama yang dihadapi mitra adalah pengelolaan sampah plastik. Berdasarkan studi lapangan pendahuluan yang dilakukan oleh tim, diketahui hingga saat ini belum ada kegiatan pengelolaan sampah yang dilakukan oleh warga Desa Baros, baik pengelolaan sampah plastik terkait bank sampah maupun pemilahan sampah plastik. Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu solusi inovatif dalam pengelolaan sampah plastik adalah dengan menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan memilah sampah plastik kemudian mengelola dan mengembangkannya untuk menciptakan ekonomi sirkular, yaitu mendaur ulang sampah plastik menjadi produk yang bernilai ekonomis, sehingga dapat membantu kehidupan ekonomi masyarakat. Dalam hal ini melalui pendekatan ekonomi sirkuler, karang taruna mendapatkan sosialisasi ekonomi sirkuler sebagai landasan dalam pengelolaan sampah plastik. Kegiatan diawali dengan koordinasi dengan aparat di Desa Baros dan pengurus Karang Taruna Setia, pre test, penyuluhan, dan dilanjutkan dengan post test. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dilakukan secara online dan hanya melibatkan pengurus karang taruna karena kondisi pandemi COVID-19. Dari hasil kegiatan yang dilakukan, anggota karang taruna memahami pentingnya pengelolaan sampah plastik untuk dijadikan komoditas yang bernilai ekonomis. Kata Kunci: ekonomi sirkular; sampah plastik; komoditas; karang taruna
Edukasi Penggunaan Media Sosial TikTok sebagai Media Pembelajaran di SDIT Attasyakur Fitria Ayuningtyas; Intan Putri Cahyani; Rudhy Ho Purabaya
Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 4 No 1 (2022): Juni
Publisher : LPPM UNIVERSITAS ISLAM KADIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2839.891 KB) | DOI: 10.32503/cendekia.v4i1.2326

Abstract

TikTok merupakan salah satu media sosial yang sedang booming dan disukai oleh berbagai kalangan karena memungkinkan penggunanya untuk dapat membuat video pendek dengan suara dan menyisipkan lagu yang dapat dipilih secara bebas. Menariknya, TikTok juga memiliki beragam fitur yang membuat pengguna tidak bosan dengan aktivitas media sosial. Misalnya saja fitur challenge dan berbagai jenis musik terbaru yang sedang hits. Namun di Indonesia, kesan pertama terhadap TikTok tidak terlalu bagus. Pasalnya, banyak konten yang dianggap konyol dan tidak menganut budaya ketimuran. Padahal jika digunakan secara bijak maka pemanfaat media sosial TikTok ini dapat dijadikan media pembelajaran yang menyenangkan bagi anak-anak terutama murid di SDIT Attasyakur, Depok. Permasalahan mitra yang didapatkan di lapangan yaitu belum dimanfaatkan penggunaan media sosial secara efektif dan efisien dalam pembelajaran terutama pembelajaran jarak jauh (PJJ). Diharapkan kegiatan serupa dapat dilakukan secara perkesinambungan dalam rangka menemukan media pembelajaran yang tepat dan menyenangkan bagi anak-anak sehingga anak-anak merasa nyaman dan tidak terbebani dalam menjalani proses pembelajaran maupun saat mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.
Membangun Engagement Melalui Platform Digital (Studi Kasus Flip sebagai Start-Up Fintech) Intan Putri Cahyani
EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol 3, No 2 (2020): Juli
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33822/jep.v3i2.1668

Abstract

Hadir sebagai startup lokal, Flip memberikan warna baru di dunia Fintech (Financial Technology) dengan menyediakan layanan transfer antar bank bebas biaya admin. Flip tidak hanya berfokus pada pengembangan core business, namun juga menyadari bahwa berkomunikasi dengan target audiens adalah penting. Saat ini Flip telah memiliki website dan media sosial yang dikelola dalam membangun digital engagement. Engagement ini sangat penting bagi seorang PR sebagai dasar strategi komunikasi jangka. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan studi tentang bagaimana Flip sebagai start-up local di bidang Fintech membangun digital engagement melalui berbagai aktivitas Public Relations di berbagai platform. Tipe penelitian ini merupakan studi deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui metode (1) observasi melalui website dan social media monitoring dan (2) wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Flip sangat menyadari komunikasi berperan penting dalam sustainability bussiness. Saat ini Flip telah menggunakan platform digital untuk menyampaikan segala sesuatu yang baru tentang produk mereka, sekaligu membentuk mutual understanding melalui percakapan yang dibangun. Dengan segala keterbatasan sumber daya yang dimiliki, peringkat website flip.id telah meningkat 32% selama periode Januari – Maret 2020) dengan mencapai sekitar 63.330 pengunjung dan 139.350 hits setiap bulan. Secara garis besar konten-konten yang mendapatkan engagement tertinggi antara lain giveaway, tips dan challenge dan di antara semua media sosial yang digunakan Flip, Instagram memiliki rata-rata engagement tertinggi yaitu mencapai 60%. Dalam berbagai aktivitas online yang dilakukan Flip untuk membangun engagement ke target audiens dimetaforakan selayaknya pertemanan dimana mereka berusaha hadir untuk memberikan manfaat. Flip sendiri juga bekerja sama dengan Social Media Influencer (SMI) berupa Micro Influencer yaitu mereka yang punya expertise atau keahlian di bidang keuangan dengan follower yang segmented dan terbukti cukup efektif dalam membangun engagement.
Beware of digital footprints: Wise social media usage for parents of early childhood students Intan Putri Cahyani; Vinta Sevilla; Ruth Mariana Bunga Wadu
Abdimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Merdeka Malang Vol 7, No 3 (2022): August 2022
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/abdimas.v7i3.7467

Abstract

The COVID-19 pandemic has had a real impact on people's consumption patterns of social media which has increased by up to 40%. On the other hand, the use of social media leaves a digital footprint that cannot be erased. The students' parents of PAUD Soka Indah are the millennial generation who are very connected to their gadgets. Another problem is the lack of knowledge about the dangers of digital footprints as part of uncontrolled online activities and ignorance about the importance of managing digital privacy. Through the Information Communication and Education (IEC) Program, with the central theme of Wise social media, the team focused on the importance of being aware of digital footprints and how to ideally manage communication privacy in cyberspace. This Program uses the Participatory Rural Appraisal Model and aims to build awareness and understanding of being aware of digital footprints and the importance of managing privacy on social media. Previously, most participants were unfamiliar with digital footprints and rarely even paid attention to the terms and conditions of applications or social media. In addition, participants uploaded personal data several times on social media. After the team carried out the IEC program, the post-test results showed that all participants could explain the elements of digital footprints and distinguish between active and passive digital footprint categories. The following significant result is the follow-up on managing communication privacy on social media.
Pengaruh Tingkat Literasi Digital Terhadap Pengelolaan Privasi Komunikasi Remaja Dalam Peer Group (Survei Pada Siswa Ma Usb Filial Man Batam) Nuria Milga Yusuf; Intan Putri Cahyani; Garcia Krisnando Nathanael
Jurnal Ilmiah Komunikasi Makna Vol 10, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FBIK Unissula

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jikm.v10i2.21999

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat literasi digital terhadap pengelolaan privasi komunikasi remaja dalam peer group pada siswa MA Usb Filial MAN Batam serta mengkaji keterkaitan antara tingkat literasi digital dan pengelolaan privasi komunikasi remaja dalam peer group dengan menggunakan teori manajemen privasi komunikasi (CPM). Metode yang digunakan yaitu kuantitatif, dengan jenis penelitian eksplanasi. Teknik pengambilan sampel probability sampling dengan menggunakan proportionate stratified random sampling. Peneliti menggunakan teknik survei dengan menyebarkan kuesioner kepada 86 responden. Hasil akhir penelitian ini yaitu hubungan antara tingkat literasi digital dan pengelolaan privasi komunikasi terletak pada kategori cukup lemah. Peneliti mendapatkan hasil bahawa tingkat Literasi Digital berpengaruh positif dan berkontribusi sebesar 36,30% terhadap Pengelolaan Privasi Komunikasi. Penelitian ini sejalan dengan teori manajemen privasi komunikasi (CPM) dimana literasi digital sebagai sarana pengelolaan privasi komunikasi remaja dalam peer group.
PERAN CITIZEN MARKETERS DALAM MEMBANGUN BRAND LOKAL INDONESIA DI ERA DIGITAL Intan Putri Cahyani; Windhiadi Yoga Sembada; Ruth Mariana Bunga Wadu
EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol 6 No 1 (2023): Januari
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33822/jep.v6i1.4586

Abstract

Perkembangan dunia digital membawa perubahan besar dalam aktivitas branding dan signifikan dalam kontribusinya dalam kebangkitan brand lokal. Hadirnya platform digital, khususnya media sosial, mendorong terjadinya pergeseran kekuasaan value production dari perusahaan ke konsumen. Dunia digital dikombinasikan dengan konsumen sebagai value co-creator memunculkan istilah citizen marketers dalam aktivitas viral marketing.  Riset tentang viral marketing umumnya berfokus pada strategi yang digunakan, efektivitas ataupun tools yang digunakan, namun riset ini akan mengkaji citizen marketers sebagai komunikator utama sekaligus pesan dalam viral marketing. Oleh karena itu riset ini bertujuan memetakan dan menganalisis peran citizen marketers dalam membangun brand lokal di era digital sebagai implementasi dari Marketing Public Relations. Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi. Pengumpulan data dilakukan dengan menganalisis konten platform digital yang berisi aktivitas citizen marketers brand lokal. Temuan riset menunjukkan peran citizen marketers yang paling menonjol pada brand lokal kategori fashion (Heymale.id), adalah filters dan fanatics. Sebagai Filter, konten creator akan berperan penting dalam proses pembentukan brand awareness dan brand knowledge. Sedangkan para fanatics, mengambil peran dalam pembentukan brand reputation. Untuk brand lokal kategori skincare (Avoskin) dan make-up (Wardah), peran citizen marketers yang paling menonjol adalah filter, fanatics, dan facilitator, yaitu para beauty enthusiast yang tersebar di dunia maya dan terkadang saling terkoneksi satu sama lain melalui komunitas online. Mereka memiliki peran krusial dalam pembentukan brand awareness, brand knowledge hingga brand reputation. Berbeda dengan core bussines lainnya, brand lokal kategori food and beverages sangat terbantu dengan adanya peran citizen marketers yaitu filter dan firecrackers. Sebagai objek penelitian, Kopi Janji Jiwa memanfaatkan peran filter untuk mengamplifikasi brand personality sedangkan implementasi dari firecrackers adalah meme yang beredar di media online dimana membuat audiens merasa terhibur ketika melihat atau membacanya.
Digital Storytelling in Cultural Tourism: A Sustainable Communication Approach at the Lasem Heritage Foundation Intan Putri Cahyani; Puri Bestari Mardani; Yuliani Widianingsih
International Journal of Management, Entrepreneurship, Social Science and Humanities Vol. 6 No. 1 (2023): Specific Issue
Publisher : Research Synergy Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31098/ijmesh.v6i1.1348

Abstract

Responsible cultural tourism requires a sustainable approach that includes preserving cultural values while promoting economic and environmental sustainability. This study examines why the Lasem Heritage Foundation chose digital storytelling as a form of sustainable communication for managing cultural tourism and how it aligns with sustainable communication principles. Using a case study approach and qualitative methods, data were collected through interviews, observation, and literature review. Findings indicate that digital storytelling is an effective approach to managing cultural tourism for the Lasem Heritage Foundation, as it provides lasting impact and message amplification. Their Instagram and Website with "Kesengsem Lasem" as tourism branding have helped the foundation communicate and amplify their cultural values to the public and promote sustainable tourism practices to wider audiences. Furthermore, The foundation's use of digital storytelling as a sustainable communication approach in managing cultural tourism effectively conveys lasting messages and helps reinforce the cultural values and environmental sustainability of the destination. These include (1) Ecological Trust in their website articles, (2) ecological access in their Social Business Programs, (3) ecological disclosures in the use of Instagram and Website as the leading platform of digital storytelling & communication tools with all stakeholders, and (4) ecological dialogues in their preservation class, series of learning clinic, and a particular program called to travel for all. Future research should expand the number of informants and consider additional data collection methods such as focus group discussions and content analysis of digital platforms.
Studi Fenomenologi: Proses Self disclosure Akun Pseudonim di Twitter Intan Putri Cahyani; Hanifah Syaikhah
Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2023): AGUSTUS 2023
Publisher : COMMUNICATION MAJOR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/ja.v6i2.8285

Abstract

Era cyberculture memungkinkan berbagai jenis akun bermunculan di media sosial, termasuk akun pseudonim di Twitter. Memiliki konsep yang berbeda dengan media sosial lain, Twitter menjadi tempat para pengguna akun pseudonim untuk leluasa bercerita dan mengekpresikan diri melalui pengungkapan diri tanpa takut mendapatkan social judgement karena yang digunakan bukanlah identitas asli. Riset ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis pengalaman pengguna akun pseudonim di Twitter dalam melakukan pengungkapan diri.. Riset ini merupakan studi deksriptif kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi. Sebanyak tujuh orang informan dilibatkan dalam wawancara mendalam yang digunakan sebagai sumber data primer penelitian. Penelitian ini menunjukkan bahwa Proses Self disclosure yang terjadi melalui akun pseudonim Twitter berawal dari adanya hambatan komunikasi yang terjadi di kehidupan nyata yang menyebabkan para pengguna memutuskan untuk menggunakan akun pseudonim sebagai tempat pengguna mengungkapkan dirinya. Adanya ketertarikan yang sama antar pengguna akun pseudonim yang kemudian dijadikan sebagai bahan untuk berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Proses self-disclosure dimulai dengan keputusan pengguna untuk membuka diri dan berbagi cerita pribadi serta mengungkapkan emosi kepada sesama pengguna akun pseudonim. Tingkat keterbukaan diri ini menjadi penentu keberlanjutan hubungan antara mereka. Dalam aktivitas pengguna akun pseudonim, terdapat tiga pola self-disclosure. Pola pertama adalah pengungkapan diri melalui cuitan tweet tanpa ditujukan kepada siapapun. Pola kedua adalah self-disclosure dengan adanya feedback melalui reply section atau melalui pesan langsung. Pola ketiga adalah pola komunikasi banyak arah melalui interaksi dengan beberapa orang melalui tweet atau grup pesan langsung.Kata Kunci: Akun pseudonim; Fenomenologi;  Pengalaman pengguna; Pengungkapan diri; Twitter
INSTAGRAM: KONSTRUKSI IDENTITAS BUDAYA VIRTUAL MELALUI UNGGAHAN FOTO PARA INFLUENCER INDONESIA Maria Febiana Christanti; Intan Putri Cahyani
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i1.9620.2022

Abstract

ABSTRAKInstagram bukan sekedar media pertukaran pesan melalui foto atau gambar. Instagram memiliki peran penting sebagai media pengungkap identitas budaya individu dalan ruang virtual. Influencer sebagai pengguna aktif Instagram dengan banyak pengikut mengalami proses ini, karena realitas diri yang nyata terpisah dalam ruang virtual yang kemudian membentuk idenitas budaya baru. Konsep komunikasi antar budaya dan media baru digunakan sebagai perspektif dalam proses menganalisa temuan data. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan kualitatif. Peneliti menggunakan metode netnografi dengan mengobservasi unggahan foto lima influencer instagram populer  Indonesia. Hasil penelitian ini terungkap realitas bahwa terdapat tiga identitas budaya virtual yang dikonstruksi oleh para influencer antara lain a) kelas sosial ekonomi, (b) agama dan (c) keluarga. Rekomendasi bagi peneliti yang tertarik tentang studi identitas budaya virtual yaitu dapat memperkaya kedalaman data dengan melakukan penelitian para influencer  di medium YouTube.   ABSTRACTInstagram not only as a medium for deliver messages through photos or pictures but also as a medium that construct cultural identity in a virtual space. Influencers as an active Instagram user with a large number of followers do this process, because of the real reality of themselves is separated in a virtual space that construct a new cultural identity. The concept of intercultural communication and new media is used as a perspective in the analysis process. This study used a constructivist paradigm with a qualitative approach. Researchers used the netnographic method by observing photo uploads of five popular Indonesian Instagram influencers. The results of this study reveal the reality that there are three virtual cultural identities of the influencers:  a) socio-economic class, (b) religion and (c) family. Other researchers can enrich this study by doing research to YouTube influencers.