Articles
POSTMODERNISME SEBAGAI SOFISME: STUDI KRITIS HUMANIORA, EPISTEMOLOGI DAN SAINS PASCA MODERN
Miswari, Miswari
At-Tafkir Vol 9 No 1 (2016): Vol. 9 No 1 Juni 2016
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sejarah telah membuktikan bahwa sofisme adalah penyakit intelektual dan penyakit sosial yang sangat berbahaya. Sofisme muncul dari pandangan yang menolak objektivitas realitas. Pandangan demikian juga berlaku bagi penyakit skeptisme lainnya seperti sinisme dan romantisme. Gejala yang ditimbulkan oleh postmodernisme adalah sama dengan gejala-gejala yang memunculkan berbagai penyakit skeptisme. Tulisan ini berusaha membuktikan bahwa gagasan dan penemuan saintifik era postmodernisme adalah gejala-gejala yang dapat mengakibatkan munculnya penyakit intelektual dan penyakit sosial sebagaimana pernah ditimbulkan oleh sofisme.
GAGASAN NURUDDIN AR-RANIRI DALAM TIBYAN FI MARIFAH AL-ADYAN
Miswari, Miswari
At-Tafkir Vol 11 No 1 (2018): Vol. 11 No 1 Juni 2018
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32505/at.v11i1.527
Tulisan ini hanya mengulas tentang narasi dalam Tibyan fi Marifah Al-Adyan karya Nuruddin Ar-Raniri. Penulis berpendapat, redaksi klasik yang disampaikan Ar-Raniri dalam kitab tersebut sulit dipahami oleh pembaca kontemporer. Untuk itu, penulis hanya berusaha merarasikan ulang pesan-pesan Ar-raniri dalam Tibyan fi Marifah Al-Adyan. Tulisan ini diharapkan dapat mempermudah pemahaman atas gagasan Ar-Raniri. Tibyan fi Marifah Al-Adyan ditulis untuk meneguhkan identitas Ahlus-Sunnah Waljamaâah d Aceh pada Abad ke-16. Diharapkan para peneliti atas pemikiran Ar-Raniri dapat merujukartikel ini untuk memudahkan pemahaman atas Tibyan fi Marifah Al-Adyan.
KESADARAN EKSISTENSIAL
Miswari, Miswari
At-Tafkir Vol 10 No 1 (2017): Vol. 10 No 1 Juni 2017
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Gagasan Islam Nusantara yang dikampanyekan belakangan ini merupakan hasil dari niat baik untuk meredam arus radikalisme berbungkus agama. Gagasan ini seyogiyanya tidak hanya sebatas gagasan sosiologis atau ritual semu tetapi harus memiliki landasan ontologi dan epistemologi yang mendalam. Ajaran sufi telah terbukti ampuh dalam meredam arus radikalisme. Ajaran ini pula sesuai dengan watak masyarakat Nusantara yang sebenarnya sangat menghargai perbedaaan dan menjunjung tinggi kedamaian. Hamzah Fansûrî sebagai tokoh sufi Nusantara yang telah memberi banyak kontribusi bagi perkembangan intelektual dan kebudayaan Nusantara adalah sosok yang pemikirannya patut dijadikan rujukan kembali dalam upaya membangun fondasi Islam Nusantara. Pemikirannya tentang konsep Wujud yang satu yang darinya segala wujud yang menjelma berasal adalah gagasan yang harus dijadikan prinsip dan pedoman bagi warga Nusantara untuk mewujudkan kesadaran bahwa keberagaman adalah kekayaan yang harus kita rawat bersama. Gagasan Hamzah Fansûrî dapat disebut sebagai Kesadaran Eksistensial sebab bila dipahami dengan baik akan menciptakan kesadaran yang melampaui inteleksi dan emosi. Ajaran Hamzah Fansuri tentang Kesatuan Wujud (Wahdat al-Wujûd) membuktikan bahwa seluruh makhuk berwujud dari Wujud Haqq Taâala. Karena itu, ajaran ini dapat menjadi pegangan yang jelas untuk menumbuhkan kesadaran melindungi dan merawat semua makhluk Allah. Kesadaran eksistensial ini adalah ajaran yang melampaui doktrin ortodoksi dan luapan emosi. Karena ajaran ini memiliki status ontologis yang tepat dan sistem epistemologi yang jelas.
THE KITE RUNNER OF KHALED HOSSEINI
Miswari, Miswari
At-Tafkir Vol 11 No 2 (2018): Vol. 11 No 2 desember 2018
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32505/at.v11i2.738
It is necessary for the writer to extract the description upon the contents of character analysis. The result of study might have produced the writer to expose the descriptive of the characters. The writer got starting to dig some advantages of describing the characters in the novel of âThe Kite Runnerâ through the story that is taking us from Afghanistan in the final days of the monarchy to the present, âThe Kite Runnerâ is the unforgettable, beautifully told story of the friendship between two boys growing up in Kabul. The Kite Runner is a novel about friendship, betrayal, and the price of loyalty. It is about the bonds between fathers and sons, and the power of their lies. Written against a history that has not been told in fiction before, The Kite Runner describes the rich culture and beauty of a land in the process of being destroyed. But with the devastation, Khaled Hosseini also gives us hope: through the novels faith in the power of reading and storytelling, and in the possibilities he shows for redemption.
MENANGKAP PESAN TUHAN: URGENSI KONTEKSTUALISASI ALQURAN MELALUI HERMEUNETIKA
Arrauf, Ismail Fahmi;
Miswari, Miswari
Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3 No 2 (2018): Volume 3 No. 2, Desember 2018
Publisher : Department of Alquran Science and Interpretation of the Faculty of Ushuluddin, Adab, and Dawah of IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32505/tibyan.v3i2.698
This article aims to explore hermeneutical thinking of contemporary Muslim thinkers. They are Fazlur Rahman, Nasir Hamid Abu Zayd, Mohammad Arkoun, Khaled Abou el-Fadl. These thinkers were greatly influenced by Western hermeneutical thinkers such as F. Sheiermacher, Wilhelm Dilthey, Martin Heidegger, Rydolf Bultmann, Hans-George Gadamer, Betti, Jurgen Habermas and Paul Ricoeur. The motivation of Muslim thinkers to use the hermeunetic approach developed by Western thinkers to reconstruct the meaning of the Qurâan was because they saw the initial motivation for the birth of hermeunetics from Western thinkers was because they wanted to reconstruct the Bible. The Quran and allegory are the same as the scriptures. The aspect that most influences Muslim thinkers in Western hermeunetic thinking towards the Quranic hermeneutics that they argue is the importance of reviewing the socio-historical descent of the Qurâan in order to contextualize the Qurâan. Between humans and the Qurâan that has been made throughout history by various schools and religious authorities. With hermeneutics, the Quran wants to be returned to humanity as a powerful text for every situation, condition and age.
MENANGKAP PESAN TUHAN: URGENSI KONTEKSTUALISASI ALQURAN MELALUI HERMEUNETIKA
Arrauf, Ismail Fahmi;
Miswari, Miswari
At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur'an dan Tafsir Vol 3 No 2 (2018): Volume 3 No. 2, Desember 2018
Publisher : Department of Alquran Science and Interpretation of the Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah of IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32505/tibyan.v3i2.698
This article aims to explore hermeneutical thinking of contemporary Muslim thinkers. They are Fazlur Rahman, Nasir Hamid Abu Zayd, Mohammad Arkoun, Khaled Abou el-Fadl. These thinkers were greatly influenced by Western hermeneutical thinkers such as F. Sheiermacher, Wilhelm Dilthey, Martin Heidegger, Rydolf Bultmann, Hans-George Gadamer, Betti, Jurgen Habermas and Paul Ricoeur. The motivation of Muslim thinkers to use the hermeunetic approach developed by Western thinkers to reconstruct the meaning of the Qur?an was because they saw the initial motivation for the birth of hermeunetics from Western thinkers was because they wanted to reconstruct the Bible. The Qur'an and allegory are the same as the scriptures. The aspect that most influences Muslim thinkers in Western hermeunetic thinking towards the Qur'anic hermeneutics that they argue is the importance of reviewing the socio-historical descent of the Qur?an in order to contextualize the Qur?an. Between humans and the Qur?an that has been made throughout history by various schools and religious authorities. With hermeneutics, the Qur'an wants to be returned to humanity as a powerful text for every situation, condition and age.
POSTMODERNISME SEBAGAI SOFISME: STUDI KRITIS HUMANIORA, EPISTEMOLOGI DAN SAINS PASCA MODERN
Miswari, Miswari
At-Tafkir Vol 9 No 1 (2016): Vol. 9 No 1 Juni 2016
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sejarah telah membuktikan bahwa sofisme adalah penyakit intelektual dan penyakit sosial yang sangat berbahaya. Sofisme muncul dari pandangan yang menolak objektivitas realitas. Pandangan demikian juga berlaku bagi penyakit skeptisme lainnya seperti sinisme dan romantisme. Gejala yang ditimbulkan oleh postmodernisme adalah sama dengan gejala-gejala yang memunculkan berbagai penyakit skeptisme. Tulisan ini berusaha membuktikan bahwa gagasan dan penemuan saintifik era postmodernisme adalah gejala-gejala yang dapat mengakibatkan munculnya penyakit intelektual dan penyakit sosial sebagaimana pernah ditimbulkan oleh sofisme.
KESADARAN EKSISTENSIAL
Miswari, Miswari
At-Tafkir Vol 10 No 1 (2017): Vol. 10 No 1 Juni 2017
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Gagasan Islam Nusantara yang dikampanyekan belakangan ini merupakan hasil dari niat baik untuk meredam arus radikalisme berbungkus agama. Gagasan ini seyogiyanya tidak hanya sebatas gagasan sosiologis atau ritual semu tetapi harus memiliki landasan ontologi dan epistemologi yang mendalam. Ajaran sufi telah terbukti ampuh dalam meredam arus radikalisme. Ajaran ini pula sesuai dengan watak masyarakat Nusantara yang sebenarnya sangat menghargai perbedaaan dan menjunjung tinggi kedamaian. Hamzah Fansûrî sebagai tokoh sufi Nusantara yang telah memberi banyak kontribusi bagi perkembangan intelektual dan kebudayaan Nusantara adalah sosok yang pemikirannya patut dijadikan rujukan kembali dalam upaya membangun fondasi Islam Nusantara. Pemikirannya tentang konsep Wujud yang satu yang darinya segala wujud yang menjelma berasal adalah gagasan yang harus dijadikan prinsip dan pedoman bagi warga Nusantara untuk mewujudkan kesadaran bahwa keberagaman adalah kekayaan yang harus kita rawat bersama. Gagasan Hamzah Fansûrî dapat disebut sebagai Kesadaran Eksistensial sebab bila dipahami dengan baik akan menciptakan kesadaran yang melampaui inteleksi dan emosi. Ajaran Hamzah Fansuri tentang Kesatuan Wujud (Wahdat al-Wujûd) membuktikan bahwa seluruh makhuk berwujud dari Wujud Haqq Ta?ala. Karena itu, ajaran ini dapat menjadi pegangan yang jelas untuk menumbuhkan kesadaran melindungi dan merawat semua makhluk Allah. Kesadaran eksistensial ini adalah ajaran yang melampaui doktrin ortodoksi dan luapan emosi. Karena ajaran ini memiliki status ontologis yang tepat dan sistem epistemologi yang jelas.
GAGASAN NURUDDIN AR-RANIRI DALAM 'TIBYAN FI MA'RIFAH AL-ADYAN'
Miswari, Miswari
At-Tafkir Vol 11 No 1 (2018): Vol. 11 No 1 Juni 2018
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32505/at.v11i1.527
Tulisan ini hanya mengulas tentang narasi dalam 'Tibyan fi Ma'rifah Al-Adyan' karya Nuruddin Ar-Raniri. Penulis berpendapat, redaksi klasik yang disampaikan Ar-Raniri dalam kitab tersebut sulit dipahami oleh pembaca kontemporer. Untuk itu, penulis hanya berusaha merarasikan ulang pesan-pesan Ar-raniri dalam 'Tibyan fi Ma'rifah Al-Adyan'. Tulisan ini diharapkan dapat mempermudah pemahaman atas gagasan Ar-Raniri. 'Tibyan fi Ma'rifah Al-Adyan' ditulis untuk meneguhkan identitas Ahlus-Sunnah Waljama?ah d Aceh pada Abad ke-16. Diharapkan para peneliti atas pemikiran Ar-Raniri dapat merujukartikel ini untuk memudahkan pemahaman atas 'Tibyan fi Ma'rifah Al-Adyan'.
THE KITE RUNNER OF KHALED HOSSEINI
Miswari, Miswari
At-Tafkir Vol 11 No 2 (2018): AT-TAFKIR: Jurnal Pendidikan, Hukum dan Sosial Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32505/at.v11i2.738
It is necessary for the writer to extract the description upon the contents of character analysis. The result of study might have produced the writer to expose the descriptive of the characters. The writer got starting to dig some advantages of describing the characters in the novel of ‘The Kite Runner' through the story that is taking us from Afghanistan in the final days of the monarchy to the present, ‘The Kite Runner' is the unforgettable, beautifully told story of the friendship between two boys growing up in Kabul. The Kite Runner is a novel about friendship, betrayal, and the price of loyalty. It is about the bonds between fathers and sons, and the power of their lies. Written against a history that has not been told in fiction before, The Kite Runner describes the rich culture and beauty of a land in the process of being destroyed. But with the devastation, Khaled Hosseini also gives us hope: through the novel's faith in the power of reading and storytelling, and in the possibilities he shows for redemption.