Claim Missing Document
Check
Articles

KONTRIBUSI TEOSOFI TRANSENDENTAL MULLA SADRA BAGI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Miswari M.Ud
Al-Ikhtibar: Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 5 No 1 (2018): Januari-Juni 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/ikhtibar.v5i2.553

Abstract

Tulisan ini bertujuan mengeksplorasi gagasan metafisika Mulla Sadra dan menarik nilai ajaran tersebut sebagai nilai bagi pelajaran aqidah dalam pendidikan agama Islam. Penulis melakukan eksplorasi gagasan metafisika Mulla Sadra dari berbagai referensi, menghadirkannya dalam bentuk narasi baru yang lebih riskan dan selanjutnya menarik intisari gagasan tersebut. Tulisan ini menunjukkan bahwa gagasan metafisika Mulla Sadra yang lebih familiar disebut dengan Teosofi transcendental yang berbasis kepada kemendasaran wujud atas mahiyah, gradasi wujud dan identitas sederhana adalah segala sesuatu, dengan menyederhanakannya dalam konsep yang mudah dipahami, dapat ditawarkan sebagai pendekatan baru bagi pendidikan agama Islam, khususnya dalam pelajaran aqidah.
Traditionalism of Tolerance in Dayah System: A Reflective Note on the Biography of Abon Aziz Samalanga of Aceh Ismail Fahmi Arrauf Nasution; Miswari Miswari; Ilham Dwitama Haeba
Religia Vol 23 No 1 (2020): Author geographical coverage: Brunai Darussalam, Philippines, India, Turkey, Sau
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v23i1.1957

Abstract

This article aims to analyze the value of telerance and deradicalization through local wisdom by contemplating the biography and contribution of Abon Aziz Samalanga. Using a biographical approach, the autor raises the values of tolerance of Abon Aziz through traditional education methods which become his commitments, political attitudes and multicultural values. The findings of this article are systematic and deeply explorative in traditional education in dayah, the role model of daily life taught by involving santri is the capital of tolerance and de-radicalization which is very important to be re-lived by students and the community so as not to be involved in intolerant and radical actions. By contemplating the life of Abon Aziz Samalanga, santri and society do not only have the potential to become tolerant beings but can also be agents of deradicalization.
KESADARAN EKSISTENSIAL Miswari Miswari
At-Tafkir Vol 10 No 1 (2017): AT-TAFKIR: Jurnal Pendidikan, Hukum dan Sosial Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gagasan Islam Nusantara yang dikampanyekan belakangan ini merupakan hasil dari niat baik untuk meredam arus radikalisme berbungkus agama. Gagasan ini seyogiyanya tidak hanya sebatas gagasan sosiologis atau ritual semu tetapi harus memiliki landasan ontologi dan epistemologi yang mendalam. Ajaran sufi telah terbukti ampuh dalam meredam arus radikalisme. Ajaran ini pula sesuai dengan watak masyarakat Nusantara yang sebenarnya sangat menghargai perbedaaan dan menjunjung tinggi kedamaian. Hamzah Fansûrî sebagai tokoh sufi Nusantara yang telah memberi banyak kontribusi bagi perkembangan intelektual dan kebudayaan Nusantara adalah sosok yang pemikirannya patut dijadikan rujukan kembali dalam upaya membangun fondasi Islam Nusantara. Pemikirannya tentang konsep Wujud yang satu yang darinya segala wujud yang menjelma berasal adalah gagasan yang harus dijadikan prinsip dan pedoman bagi warga Nusantara untuk mewujudkan kesadaran bahwa keberagaman adalah kekayaan yang harus kita rawat bersama. Gagasan Hamzah Fansûrî dapat disebut sebagai Kesadaran Eksistensial sebab bila dipahami dengan baik akan menciptakan kesadaran yang melampaui inteleksi dan emosi. Ajaran Hamzah Fansuri tentang Kesatuan Wujud (Wahdat al-Wujûd) membuktikan bahwa seluruh makhuk berwujud dari Wujud Haqq Ta’ala. Karena itu, ajaran ini dapat menjadi pegangan yang jelas untuk menumbuhkan kesadaran melindungi dan merawat semua makhluk Allah. Kesadaran eksistensial ini adalah ajaran yang melampaui doktrin ortodoksi dan luapan emosi. Karena ajaran ini memiliki status ontologis yang tepat dan sistem epistemologi yang jelas.
GAGASAN NURUDDIN AR-RANIRI DALAM 'TIBYAN FI MA'RIFAH AL-ADYAN' Miswari Miswari
At-Tafkir Vol 11 No 1 (2018): AT-TAFKIR: Jurnal Pendidikan, Hukum dan Sosial Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at.v11i1.527

Abstract

Tulisan ini hanya mengulas tentang narasi dalam 'Tibyan fi Ma'rifah Al-Adyan' karya Nuruddin Ar-Raniri. Penulis berpendapat, redaksi klasik yang disampaikan Ar-Raniri dalam kitab tersebut sulit dipahami oleh pembaca kontemporer. Untuk itu, penulis hanya berusaha merarasikan ulang pesan-pesan Ar-raniri dalam 'Tibyan fi Ma'rifah Al-Adyan'. Tulisan ini diharapkan dapat mempermudah pemahaman atas gagasan Ar-Raniri. 'Tibyan fi Ma'rifah Al-Adyan' ditulis untuk meneguhkan identitas Ahlus-Sunnah Waljama’ah d Aceh pada Abad ke-16. Diharapkan para peneliti atas pemikiran Ar-Raniri dapat merujukartikel ini untuk memudahkan pemahaman atas 'Tibyan fi Ma'rifah Al-Adyan'.
MENUNDUKKAN HANTU SCOPUS Miswari Miswari
At-Tafkir Vol 12 No 1 (2019): AT-TAFKIR: Jurnal Pendidikan, Hukum dan Sosial Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at.v12i1.1049

Abstract

Artikel ini bertujuan mengulas strategi menulis artikel untuk jurnal internasional bereputasi. Dewasa ini, menulis artikel untuk jurnal internasional bereputasi menjadi momok bagi sebagian dosen. Tetapi hal itu merupakan bagian yang dikekankan bagi para dosen sebagai bagian dari Tridarma Perguruan Tinggi untuk bidang peneitian. Artikel tersebut juga menjadi prasyarat kenaikan pangkat untuk jenjang tertentu, khususnya menjagi Guru Besar (Profesor). Artikel ini ditulis dengan gaya deskriptif berdasarkan pengalaman yang penilis terima dari pelatihan penulisan artikel internasional bereputasi yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga penelitian di Jakarta. Adapun temuan kajian ini adalah penekanan pada wawasan literature, akurasi dan keunikan temuan data, penguasaan teori, pemahaman gaya selingkung jurnal, dan beberapa etika penulisan artikel ilmiah untuk jurnal internasional bereputasi (terindeks Scopus).
HISTORITAS DAN RASIONALITAS ISRA’ MI’RAJ Miswari Miswari; Dzul Fahmi
At-Tafkir Vol 12 No 2 (2019): AT-TAFKIR: Jurnal Pendidikan, Hukum dan Sosial Keagamaan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan mengulas sejarah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad dalam sudut pandang historis dan rasional. Dari sudut pandang historitas, artikel ini mengulas tentang latar belakang terjadinya Isra’ Mi’raj, alasan-alasan terjadinya Isra’ Mi’raj, dan persiapan-persiapan yang dilakukan Nabi Muhammad sebelum Isra’Mi’raj. Diuraikan juga kejadian-kejadian yang disaksikan Nabi dalam Isra’ dan Mi’raj. Dalam sudut pandang rasionalitas, artikel ini bertujuan untuk menyajikan posibilitas kajian rasional peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Artikel ini menemukan bahwa dari sudut pandang historis, Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa yang sangat penting bagi sosok Nabi Muhammad sendiri maupun ummat Islam. Dalam perspektif rasionalitas, peristiwa Isra’ Mi’raj tidak perlu dicocok-cocokkan dengan temuan santifik karena kurang relevan, dan menunjukkan pemaksaan pencocokan. Setidaknya aspek spiritualitas Islam atau tasawuf falsafi paling layak meninjau rasionalitas Isra’ dan Mi’raj karena, dalam sudut pandang ini, mimpi para nabi dinilai sebagai kejadian nyata.
MENANGKAP PESAN TUHAN: URGENSI KONTEKSTUALISASI ALQURAN MELALUI HERMEUNETIKA Ismail Fahmi Arrauf; Miswari Miswari
Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur'an dan Tafsir Vol 3 No 2 (2018): Volume 3 No. 2, Desember 2018
Publisher : The Department of the Qur'anic Studies, Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, State Institute of Islamic Studies (IAIN) Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at-tibyan.v3i2.698

Abstract

This article aims to explore hermeneutical thinking of contemporary Muslim thinkers. They are Fazlur Rahman, Nasir Hamid Abu Zayd, Mohammad Arkoun, Khaled Abou el-Fadl. These thinkers were greatly influenced by Western hermeneutical thinkers such as F. Sheiermacher, Wilhelm Dilthey, Martin Heidegger, Rydolf Bultmann, Hans-George Gadamer, Betti, Jurgen Habermas and Paul Ricoeur. The motivation of Muslim thinkers to use the hermeunetic approach developed by Western thinkers to reconstruct the meaning of the Qur’an was because they saw the initial motivation for the birth of hermeunetics from Western thinkers was because they wanted to reconstruct the Bible. The Qur'an and allegory are the same as the scriptures. The aspect that most influences Muslim thinkers in Western hermeunetic thinking towards the Qur'anic hermeneutics that they argue is the importance of reviewing the socio-historical descent of the Qur’an in order to contextualize the Qur’an. Between humans and the Qur’an that has been made throughout history by various schools and religious authorities. With hermeneutics, the Qur'an wants to be returned to humanity as a powerful text for every situation, condition and age.
TUHAN MENURUT TUHAN: Narasi Ilahiyah dalam Hadis Qudsī Miswari .
Al-Bukhari : Jurnal Ilmu Hadis Vol 1 No 1 (2018): Januari - Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/al-bukhari.v1i1.445

Abstract

Artikel ini bertujuan menyusun narasi yang tentang Tuhan dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya dengan menggunakan sumber hadis qudsī. Seperti diketahui bahwa satu hadis saja, termasuk hadis qudsī, ketika disampaikan membutuhkan keterangan perawian yang panjang lebar. Sementara ini pesan dalam sebuah hadis sangat singkat saja. Hal ini kurang berguna bagi pembaca umum yang bukan bertugas menganalisa hadis. Untuk itu tulisan ini dibuat dengan mengambil inti pesan dalam hadis qudsī tentang ketuhanan dan hal-hal yang berkaitan. Hadis qudsī menjadi pilihan penulis karena umumnya referensi tentang agama dan ketuhanan jarang merujuk hadis qudsī. Pulis menunjukkan bahwa gambaran Tuhan tentang diri-Nya dalam hadis qudsī berbeda dengan gambaran yang umumnya ditemukan di dalam Alquran dan Hadis. Tuhan dalam hadis qudsī tampak sangat dekat, sangat pemurah dan jauh dari citra negatif seperti pemarah dan pengazab. Hubungan Tuhan dengan manusia dalam hadis qudsī lebih identik dengan hubungan cinta kekasih.
Ḥamzah Fanṣūrī’s Contextual Analogies: Wujūdiyya Teaching in Malay 16th Century Miswari Miswari; Abdul Aziz Dahlan; Abdul Hadi W.M.
Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora - UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/tos.v11i1.11243

Abstract

Abstract: This article aims to analyse the context of the analogies used by Ḥamzah Fanșūrī in teaching wujūdiyya doctrine in his work, Asrār al-‘Ārifīn. The importance of this study is to reveal how he easily taught complex metaphysical concepts in Sufism. He used objects easily recognised by the Malay community as analogies. This article is a literature study using an analytical-descriptive approach. This study found that the metaphors used by Ḥamzah Fanșūrī in teaching the relationship between singularity and plurality in ujūdiyya doctrine were clay and earthen vessels, sun and its light, wood and chess pieces, and sea and wave. In comparison, secondary analogies such as fruit, seeds, mirrors, people, rivers, stones, and iron were used to explain the various dimensions of wujūdiyya teachings. His approach is therefore easy to understand.Contribution: This article opens a new perspective in understanding Sufism, especially the wujūdiyya doctrine in Ḥamzah Fanșūrī’s teaching. The analogies used are easy to understand. The analogy proposed by Ḥamzah Fanșūrī can be used as a reference to reveal the metaphors used by other Sufis in teaching wujūdiyya.
Traditionalism of Tolerance in Dayah System: A Reflective Note on the Biography of Abon Aziz Samalanga of Aceh Ismail Fahmi Arrauf Nasution; Miswari Miswari; Ilham Dwitama Haeba
Religia Vol 23 No 1 (2020): Author geographical coverage: Brunai Darussalam, Philippines, India, Turkey, Sau
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/religia.v23i1.1957

Abstract

This article aims to analyze the value of telerance and deradicalization through local wisdom by contemplating the biography and contribution of Abon Aziz Samalanga. Using a biographical approach, the autor raises the values of tolerance of Abon Aziz through traditional education methods which become his commitments, political attitudes and multicultural values. The findings of this article are systematic and deeply explorative in traditional education in dayah, the role model of daily life taught by involving santri is the capital of tolerance and de-radicalization which is very important to be re-lived by students and the community so as not to be involved in intolerant and radical actions. By contemplating the life of Abon Aziz Samalanga, santri and society do not only have the potential to become tolerant beings but can also be agents of deradicalization.