Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Kapasitas Tukar Kation (KTK) dan Rasio C/N pada Aplikasi Pupuk Cair Bonggol Pisang (Musa sp.) dan Mikoriza di Pembibitan Awal Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Sylvia Madusari
JURNAL CITRA WIDYA EDUKASI Vol 7 No 2 (2015): JCWE Edisi Nopember 2015
Publisher : Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.071 KB)

Abstract

Nutrient availability in the soil is influenced by soil physical and chemical properties. Cation exchange capacity (CEC), base saturation (BS), content of organic C, degree of soil acidity (pH) and C/N ratio are some chemical properties of growing media which can be an indicator of the availability of nutrients to the growing media and fertility growing media. Use of subsoil has not been done because the nutrient content is low. The addition of mycorrhizae and liquid fertilizer derived from banana tree corm could affect the decomposition of organic matter and nutrient supply to the growing media so that nutrients are absorbed by plants is high. The results showed that the observation of 3 MAP, the highest CEC value, amounting to 15 cmolc/kg achieved in P4 treatment. The growing media with liquid fertilizer and mycorrhizal banana tree stump showed that the highest CEC value is 12.72 cmolc/Kg achieved by treatment P6. Application of liquid fertilizer and mycorrhizal banana corm to the growing media subsoil and manure mixture has a C/N ratio 14, higher than the C/N ratio in the same planting medium without giving liquid fertilizer and mycorrhizal banana tree corm, ie 12. The dry weight oil palm seedlings highest in treatment P4.
Respons Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Terhadap Pemberian Abu Boiler Pada Media Tanam Pre-Nursery Sylvia Madusari
JURNAL CITRA WIDYA EDUKASI Vol 7 No 1 (2015): JCWE Edisi Mei 2015
Publisher : Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.482 KB)

Abstract

Penelitian tentang aplikasi abu boiler pada media tanam pre nursery pada bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dilakukan pada tanggal 3 November 2013 – 26 Januari 2014 di kampus Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi, Desa Cibuntu, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dampak pemanfaatan abu boiler sebagai media tanam terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan awal (pre-nursery). Penelitian dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 5 ulangan. Parameter yang diamati yaitu tinggi bibit, diameter batang dan jumlah daun bibit kelapa sawit. Interval pengamatan dilakukan pada 4 MST, 8 MST dan 12 MST. Perlakuan yang diberikan adalah adalah dengan komposisi media tanam: (A) abu boiler 0% + Top soil 100%; (B) abu boiler 50% + top soil 50%; dan (C) abu boiler 100% + top soil 0%. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pertumbuhan dari setiap perlakuan. Pada 12 MST didapatkan tinggi tanaman pada perlakuan A, B dan C berturut-turut adalah 21,6 cm; 19;50 cm dan 17,40 cm dan diameter batang 1,11 cm; 0.94 cm; dan 0.78 cm, serta jumlah daun 4,8; 4,0 dan 3,2. Hasil akhir menunjukkan bahwa nilai pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang maupun jumlah daun bibit kelapa sawit pada perlakuan A, yaitu pada media tanam dengan top soil 100% masih lebih baik jika dibandingkan dengan perlakuan B (abu boiler 50% + top soil 50%) dan C (abu boiler 100%).
Pemanfaatan Batang Pisang (Musa Sp.) Sebagai Alternatif Media Tumbuh Pre-Nursery Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Sylvia Madusari
JURNAL CITRA WIDYA EDUKASI Vol 6 No 2 (2014): JCWE Edisi Nopember 2014
Publisher : Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.44 KB)

Abstract

Limbah organik dapat dimanfaatkan sebagai media bagi pertumbuhan tanaman. Batang pisang merupakan salah satu jenis limbah yang banyak dihasilkan di perkebunan pisang. Dalam penelitian ini dipelajari pemanfaatan batang pisang yang direbus dengan buah kelapa sawit sebagai media tumbuh alternatif bibit kelapa sawit di pre nursery. Tujuan penelitian ini adalah: (1). Untuk menguji kualitas batang pisang yang direbus dengan buah kelapa sawit sebagai alternatif media tumbuh bibit kelapa sawit di tahapan awal (pre-nursery) dan (2). Mengetahui kandungan unsur hara yang terkandung dalam media rebusan batang pisang. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 2 November 2013 sampai tanggal 5 Februari 2014, di Kebun Percobaan Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor yang terdiri dari 7 perlakuan dan 3 ulangan. Tiap-tiap unit pengulangan terdiri dari 3 bibit lokal tanaman kelapa sawit. Interval pengamatan dilakukan pada 1 BST, 2 BST dan 3 BST. Perlakuan yang diberikan berupa perbandingan berat cacahan batang pisang dengan buah kelapa sawit, sebagai berikut: (A). batang pisang 2 kg (kontrol); (B). 2 kg:2 kg; (C). 2 kg:4 kg; (D). 2 kg:0.5 kg; (E). 2 kg:2 kg; (F). 2 kg:8 kg; (G). 2 kg:0,5 kg. Peubah yang diamati adalah tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, Bobot bawah tajuk, bobot basah akar, bobot kering tajuk, bobot kering akar, dan Jumlah stomata. Hasil penelitian menunjukkan rebusan daun batang pisang dapat dijadikan sebagai media tumbuh bibit kelapa sawit di pre nursery. Hasil analisis kandungan hara pada media tanam awal menunjukkan kandungan hara N adalah 0,4%; P adalah 0,05%; dan K 0,79%. Berdasarkan hasil pengamatan, perlakuan C memberikan hasil yang terbaik. Hal ini terlihat dari pengamatan terhadap parameter-parameter fisiologis dan morfologis tanaman pada akhir penelitian (3 BST), yang meliputi: rata-rata tinggi tanaman sebesar 14,42 cm, rata-rata jumlah daun 3,11; luas daun 53 cm2; Total Berat Kering Jaringan 0,9 gram, dan Jumlah Stomata 38.822/cm2.
Perbandingan Metode Sensus Pokok Tanaman Kelapa Sawit Menggunakan Staplecard dan GPS pada Tanaman Menghasilkan Pertama (Studi kasus di PT Citra Sawit Lestari, Kalimantan Utara ) Sylvia Madusari; H Walman Sibatuara; Heri Purwandi
JURNAL CITRA WIDYA EDUKASI Vol 6 No 2 (2014): JCWE Edisi Nopember 2014
Publisher : Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.26 KB)

Abstract

Untuk mendapatkan data tanaman yang akurat sesuai dengan kondisi real di lapangan perlu dilakukan kegiatan sensus pokok secara teliti (SOP Asian Agri, 2004). Pada umumnya hasil kegiatan sensus pokok dituang ke dalam form blangko sensus (staplecard). Namun data yang dihasilkan sering kali tidak akurat.Sebagai upaya untuk menghasilkan datasensus pokok yang lebih akurat, digunakanlah GPS (Global Positioning System) sebagai alat sensus.Kajian ini dilakukan untuk menentukan metode sensus pokok yang efektif dan efisien antara menggunakan staplecard dan menggunakan GPS. Kajian ini dilakukan pada tanggal 3 – 17 Mei 2014 di Tanjung Palas Utara Estate, PT Citra Sawit Lestari yang berada di Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kajian ini, yaitu dengan melakukan pengamatan dan observasi langsung di lapangan mengenai kedua metode sensus pokok yang dikaji.Parameter yang diamati yaitu biaya, waktu dan tenaga yang dibutuhkan, serta akurasi data yang dihasilkan masing-masing metode. Hasil kajian menunjukan bahwa sensus pokok menggunakan GPS akan lebih efisien dan efektif, serta dapat menghasilkan profit yang lebih besar bagi perusahaan yaitu Rp.204.674/ha/tahun.
Analisis Sistem Penggunaan Tray Pada Pembibitan Awal Kelapa Sawit (Pre Nursery) Sylvia Madusari; Prasetyo Yuan Wiarno
JURNAL CITRA WIDYA EDUKASI Vol 6 No 1 (2014): JCWE Edisi Mei 2014
Publisher : Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.105 KB)

Abstract

Kajian tentang analisis sistem penggunaan tray pada pembibitan awal (pre-nursery) Kelapa Sawit dilakukan di Sarawak Plantation Agriculture Development Sdn. Bhd. Sarawak, Malaysia, terhitung sejak tanggal 23 April – 5 Mei 2013. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui penggunaan tray pada proses pembibitan dan menganalisa kelebihan dan kekurangan dari penggunaan tray di pre-nursery. Metode kajian yang digunakan meliputi orientasi dan pengumpulan data primer dan sekunder dari kantor estate maupun secara langsung dilapangan dengan metode observasi dan literatur. Dari hasil pengamatan dan pengambilan data yang dilakukan, luas yang dibutuhkan untuk menampung 150.000 benih adalah 385,92m2. Tray pada pembibitan kelapa sawit menggunakan tray dengan 50 lubang (cells) dan Media tanam yang digunakan yaitu tanah gambut. Beberapa kelebihan penggunaan tray di pre nursery adalah tidak perlu dilakukan penyiraman, hemat penggunaan tanah dan dapat digunakan berulang kali sehingga tray dapat digunakan sebagai metode alternatif pada pre nursery.
Perbandingan Media Tanam Top Soil dan Pupuk Kandang pada Wadah Bambu terhadap Pertumbuhan Bibit Mucuna Bracteata Sylvia Madusari; Toto Suryanto; April Kurniawan
JURNAL CITRA WIDYA EDUKASI Vol 5 No 2 (2013): JCWE Edisi Nopember 2013
Publisher : Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.646 KB)

Abstract

Penggunaan bambu sebagai wadah media tanam merupakan alternative wadah media tanam pada pembibitan yang ramah lingkungan (biobag). Kajian tentang pemanfaatan bambu sebagai wadah media tumbuh bibit Mucuna Bracteata, dilakukan dengan menggunakan dua macam media tanam, yaitu top soil dan pupuk kandang. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada tanggal 1 Maret – 11 Juni 2012. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menganalisis efektifitas penggunaan wadah bambu pada proses pembibitan Mucuna Bracteata dan membandingkan pertumbuhannya pada media tanam yang berbeda, yaitu top soil dan pupuk kandang. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan melakukan pembibitan Mucuna bracteata. Benih Mucuna bracteata ditanam pada dua media yang berbeda, yaitu top soil dan pupuk kandang. Masing-masing media ditanam 25 benih Mucuna bracteata. Pada kedua media tanam tersebut digunakan wadah media dari batang bambu dengan ukuran tinggi 5 cm Parameter yang diukur dalam kajian pembibitan ini adalah pertumbuhan tinggi batang (cm), diameter batang (mm) dan jumlah daun (helai). Pengukuran parameter pengamatan dilakukan setiap 5 hari pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan vegetatif bibit Mucuna bracteata lebih baik pada media pupuk kandang dibandingkan media top soil. Tingkat pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun bibit Mucuna bracteata pada media pupuk kandang lebih tinggi dibandingkan bibit Mucuna bracteata pada media top soil terjadi pada umur 14 HST sedangkan pertumbuhan diameter batang terjadi sejak pengamatan pertama (5 HST). Namun demikian, daya kecambah Mucuna bracteata pada top soil lebih tinggi (88%) dibandingkan pada media pupuk kandang (56%). Hal ini memperlihatkan bahwa bambu dapat digunakan sebagai wadah alternatif pengganti polybag dalam pembibitan Mucuna bracteata.
Evaluasi Pengendalian Gulma Pisang dengan Metoda Implant Menggunakan Bahan Aktif Triclopyr pada Perkebunan Kelapa Sawit Sylvia Madusari; Toto Suryanto; Angga Irwan Nasihin
JURNAL CITRA WIDYA EDUKASI Vol 5 No 1 (2013): JCWE Edisi Mei 2013
Publisher : Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.309 KB)

Abstract

Gulma pisang merupakan salah satu jenis gulma yang banyak ditemukan di perkebunan kelapa sawit. Triclopyr adalah salah satu jenis herbisida yang banyak digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar. Dibandingkan dengan teknik manual, teknik pengendalian gulma dengan menggunakan bahan kimia dapat dilakukan dengan lebih efektif. Salah satunya adalah dengan cara implan. Berdasarkan hal tersebut diatas maka pada penelitian ini dilakukan evaluasi pengendalian gulma pisang dengan metoda implan menggunakan herbisida berbahan aktif triclopyr. Metoda implan dilakukan pada bagian batang menggunakan tusukan bambu kering yang memiliki panjang 20 cm dan diaplikasikan 2 tusukan per batang. Sebelum diaplikasikan, tusukan bambu kering direndam dalam larutan yang mengandung triclopyr selama 12 jam. Perlakuan dengan metoda implan dilakukan dengan cara membandingkan 3 konsentrasi, yaitu: 20 cc/liter solar, 50 cc/liter solar, dan 70 cc/liter solar. Masing-masing perlakuan dilakukan ulangan sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 20 cc/liter solar merupakan konsentrasi yang paling baik untuk mengendalikan gulma pisang. Pada hari ke-21 setelah aplikasi 20 cc/liter solar, gulma pisang telah tumbang dan 35 hari setelah aplikasi dinyatakan mati.
Pengendalian Hama Tikus di Perkebunan Kelapa Sawit dengan Menggunakan Burung Hantu (Tyto Alba) Sylvia Madusari
JURNAL CITRA WIDYA EDUKASI Vol 4 No 1 (2012): JCWE Edisi Mei 2012
Publisher : Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.956 KB)

Abstract

Hama tikus merupakan hama utama pada perkebunan kelapa sawit. Pada tanaman kelapa sawit yang baru ditanam, hama tikus dapat menyebabkan kematian hingga 20 – 30 %, dan kerusakan yang ditimbulkan adalah pelepah sampai titik tumbuh pada tanaman muda, bunga dan buah pada tanaman yang menghasilkan. Pengendalian hama tikus secara biologis telah berhasil dikembangkan sebagai bagian dari pengendalian hama terpadu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemanfaatan burung hantu sebagai pengendali hama tikus di perkebunan kelapa sawit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi di lapangan secara langsung yang diperkuat dengan data sekunder, diantaranya dokumen perusahaan dan pustaka, serta diskusi yang mendalam dengan petani terkait di lapangan. Hasilnya kemudian dianalisis dan dievaluasi secara deskriptif. Hasil dari kajian ini adalah (1). Pengendalian hama tikus dengan menggunakan burung hantu dapat secara efektif menurunkan serangan tikus dari serangan tikus berat (>20%) menjadi serangan ringan (10-20%), (2). secara ekonomi penggunaan predator burung hantu dapat menghemat biaya pengendalian hama tikus sebesar Rp. 38.900/ha/tahun, jika dibandingkan dengan penggunaan umpan (campaign) baik pada tanah mineral maupun tanah gambut, (3). Secara manajemen, mudah dilakukan dan untuk mempermudah pengawasan dapat dibuat tabel monitoring dalam botol air mineral bekas yang ditempelkan di tiang gupon.
Perbandingan Perkecambahan Bibit Asal Kecambah Poliembrioni Dan Kecambah Monoembrioni Kelapa Sawit Sylvia Madusari
JURNAL CITRA WIDYA EDUKASI Vol 3 No 2 (2011): JCWE Edisi Nopember 2011
Publisher : Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.746 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2011, bertempat di PT Cisadane Sawit Raya yang berada di Negeri Lama, Labuhan Batu, Sumatera Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Untuk mengetahui pertumbuhan kecambah poliembrioni kelapa sawit di pembibitan, dan untuk mengetahui kelayakan kecambah poliembrioni sebagai bahan tanam. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Field Application secara langsung. Percobaan dilakukan dengan membagi bibit dalam tiga kelompok yaitu bibit single tone (A), bibit hasil pemisahan dengan kotiledon (B) dan bibit hasil pemisahan tanpa kotiledon (C). Masing-masing kelompok terdiri dari 50 sampel bibit yang setiap minggu diukur tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah daun. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terlihat bahwa dari hasil pemisahan, pertumbuhan yang paling lambat terjadi pada Perlakuan C. Grafik pertumbuhan kecambah terjadi pada seluruh kecambah dengan pertumbuhan terbaik pada Perlakuan A. Penggunaan kecambah poliembrioni yang dirawat dan dibiarkan tumbuh akan menambah biaya perawatan di pembibitan.
Deskripsi Morfologi dan Biomassa Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dengan Penambahan Amelioran Kompos Eceng Gondok pada Media Tumbuh Subsoil Sylvia Madusari; Toto Suryanto; . Sa'dun; Saiful Hidayat
JURNAL CITRA WIDYA EDUKASI Vol 11 No 3 (2019): JCWE Edisi Desember 2019
Publisher : Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Water hyacinth is an invasive plant that often causes a decrease in environmental quality. Water hyacinth composts were done by chopping water hyacinth and mixing the chopped with cow dung with a ratio of 3: 1, and commercial bioactivators. The study was conducted in two groups of oil palm seedlings and each group consisted of 5 treatments The first group consisted of P10 = 100% subsoil, P11 = 100% water hyacinth compost, P12 = subsoil and sand + water hyacinth compost (3:1), P13 = subsoil and sand + water hyacinth compost (1:1), P14 = subsoil and sand + water hyacinth compost (1:3). The second group consists of P20 = 100% subsoil, P21 = 100 water hyacinth compost, P22 = subsoil + water hyacinth compost (3:1), P23 = subsoil + water hyacinth (1:1), P24 = subsoil + water hyacinth compost (1:3). The results of the study on group one of palm oil seedlings showed that 25% subsoil and sand planting media + 75% water hyacinth compost gave the highest plant growth at 3 BST. Group two plants showed that the application of water hyacinth compost on the planting medium had a significant effect on plant height successively in the treatment P23 = 50% subsoil + 50% water hyacinth (22.5 cm). Invasive water hyacinth potentialy to be used as an alternative mixture of growing media for crop cultivation.