Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Mindfulness dan Impulsive Buying Pada Dewasa Awal yang Melakukan Belanja Online Selama Pandemi Covid-19 Farah Salisa; Risana Rachmatan; Intan Dewi Kumala; Novita Sari
JURNAL SOSIAL EKONOMI DAN HUMANIORA Vol. 8 No. 2 (2022): JURNAL SOSIAL EKONOMI DAN HUMANIORA
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.436 KB) | DOI: 10.29303/jseh.v8i2.53

Abstract

Pandemic of COVID-19 has led to an increase in use of e-commerce. Increased online shopping transactions lead to impulsive buying behavior for consumers who like to shop online. The large selection of products that are sold and purchased online in e-commerce makes people interested in online shopping. Impulsive buying is characterized by unplanned buying behavior. Mindfulness can control individual decisions to reduce intensity of impulsive buying behavior. If someone is not aware of buying the goods purchased, then shopping behavior can become something that is automatic and does not fulfill what is actually needed. The purpose of this study was to examine the relationship between mindfulness and impulsive buying in early adults who shopped online during COVID-19 pandemic. The research participants were 352 early adults in Aceh Province who had done online shopping. This study used quantitative correlation method. Data collection used Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS) and Mindfulness Attention and Awareness Scale (MAAS). The results of Pearson's correlation analysis show a significant value (p) = 0.001 (p<0.05), indicates that there is relationship between mindfulness and impulsive buying in early adults who shop online during COVID-19 pandemic.
HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN PERILAKU CYBERSEX PADA REMAJA DI ACEH: The Relationship Between Religiosity and Cybersex Behavior in Adolescents in Aceh Hijratul Zulfa; Maya Khairani; Risana Rachmatan; Zaujatul Amna
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 4 No. 2 (2022): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v4i2.71

Abstract

ABSTRACTThe level of religiosity in adolescents will affect their behavior. Adolescents with high religiosity tend to behave positively, while low religiosity refers to negative behavior such as cybersex, namely the activity of accessing pornography on the internet, whether in the form of sex-related videos, images, text stories, films, and games, engaging in conversations about online sex. The purpose of this study is to determine the relationship between religiosity and cybersex in adolescents in Aceh. Measuring instruments used in this study were the Internet Sex Screening Test scale and the Muslim Daily Religiosity Assessment Scale. This type of research is correlated with the sampling technique used was an accidental technique with 347 adolescents aged range 18-to 24 years old living in Aceh and consisting of 134 boys and 213 girls. The result shows the significant level of this study is (p)=0.000 with the correlation (r)=-0.34, the hypothesis of this study is accepted, which shows there is a negative correlation between religiosity and cybersex behavior in adolescents in Aceh. The meaning is getting a higher level of adolescents’ religiosity, the lower their cybersex, and the lower their level of religiosity, the higher their cybersex. This study also shows that the majority of adolescents in Aceh have a higher level of religiosity so they were able to control the cybersex. Future researchers are expected to look at other factors that may influence cybersex behavior.ABSTRAKTingkat religiusitas pada remaja akan berpengaruh terhadap perilakunya. Remaja yang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi cenderung berperilaku positif dan remaja yang memiliki religiusitas yang rendah akan merujuk kearah perilaku negatif. Salah satunya ialah perilaku cybersex yaitu suatu kegiatan mengakses pornografi di internet, baik dalam bentuk video, gambar, teks cerita, film dan game yang berbau seksual, atau terlibat percakapan tentang seksual online (daring) dengan orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara religiusitas dengan perilaku cybersex pada remaja di Aceh. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Internet Sex Screening Test dan Muslim Daily Religiosity Assessment Scale. Jenis penelitian ini adalah korelasi dengan teknik sampling yang digunakan adalah teknik aksidental dengan jumlah responden sebanyak 347 remaja dengan rentang usia 18-24 tahun yang berdomisili di Aceh yang terdiri dari 134 laki-laki dan 213 perempuan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai signifikansi (p)=0,000 dengan nilai korelasi (r) =-0,43. Hal ini berarti bahwa hipotesis penelitian diterima, yang menunjukkan bahwa adanya hubungan negatif antara religiusitas dengan perilaku cybersex pada remaja di Aceh. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi religiusitas pada remaja, maka semakin rendah tingkat cybersex, begitu juga sebaliknya, semakin rendah religiusitas, maka samakin tinggi cybersex pada remaja. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa mayoritas remaja di Aceh memiliki religiusitas yang tinggi sehingga mampu mengontrol cybersex. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan melihat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku cybersex.
HUBUNGAN ANTARA KEADILAN ORGANISASI DENGAN KETERIKATAN KARYAWAN PADA KARYAWAN TETAP PT. X Sarifa Handayani; Mirza Mirza; Risana Rachmatan; Irin Riamanda
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 5, No 2: Juli 2022
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v5i2.26019

Abstract

Keterikatan karyawan menjadi penting bagi sebuah perusahaan karena dengan adanya rasa keterikatan yang tinggi, karyawan akan meningkatkan kinerjanya menjadi lebih produktif, sehingga mampu menaikkan profitabilitas perusahaan. Hal yang mendorong karyawan memiliki rasa keterikatan yang tinggi terhadap pekerjaannya adalah dengan mempersepsikan adanya keadilan organisasi yang dirasakan karyawan dalam perusahaan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara keadilan organisasi dengan keterikatan karyawan pada karyawan tetap PT. X Lhokseumawe. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 55 karyawan tetap PT. X Lhokseumawe menggunakan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan menggunakan adaptasi Utrecht Work Engagement Scale (UWES) (α=0,937), dan adaptasi Organizational Justice Survey (OJS) (α=0,945). Analisis data menggunakan teknik korelasi Spearman yang memperlihatkan nilai r=0,554. Hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara keadilan organisasi dan keterikatan karyawan pada karyawan tetap PT. X Lhokseumawe.
Perbedaan Komitmen Karier Dosen Ditinjau Dari Jenis Kelamin Nurul Alifah Jovita; Irin Riamanda; Risana Rachmatan; Mirza Mirza
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 6, No 2: Juli 2023
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v6i2.33284

Abstract

Dosen selaku tenaga pendidik profesional dituntut untuk senantiasa melakukan pengembangan karier secara terus-menerus hingga mendapat jabatan tertinggi sesuai dengan komitmennya. Oleh karena itu komitmen karier pada dosen memiliki makna sebagai keteguhan atau ketekunan dosen dalam menjalankan kariernya selama bekerja. Perguruan tinggi akan lebih maju jika seluruh dosennya memiliki komitmen karier yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan komitmen karier dosen ditinjau dari jenis kelamin. Populasi dalam penelitian ini yaitu dosen di Universitas X. Sampel dipilih dengan teknik purposif dan diperoleh sebanyak 222 orang dosen (111 laki-laki dan 111 perempuan) yang terlibat dalam penelitian ini. Data penelitian dikumpulkan menggunakan skala The Commitment Career Measure (CCM) yang disusun oleh Carson dan Bedeian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat komitmen karier pada dosen di Universitas X mayoritas termasuk pada kategori tinggi. Sementara analisis data menggunakan uji-t menunjukkan nilai signifikansi (p)=0,395 (p0.05). Berdasarkan skor tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan komitmen karier dosen Universitas X ditinjau dari jenis kelamin. Penyebab tidak ditemukan adanya perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor motivasi yang berlaku sama baik pada laki-laki maupun perempuan, serta kebijakan netral dalam suatu lembaga pendidikan yang tidak dapat ditentukan berdasarkan jenis kelamin.
Religiusitas dan Pengambilan Keputusan Menikah Pada Mahasiswi Rizka Tyara; Mirza Mirza; Risana Rachmatan; Eka Dian Aprilia
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 6, No 2: Juli 2023
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v6i2.28709

Abstract

Kemampuan memutuskan untuk menikah disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah proses spiritual dan religiusitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara religiusitas dengan pengambilan keputusan menikah pada mahasiswi di Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi. Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswi perguruan tinggi yang ada di Kota Banda Aceh sebanyak 60 orang yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data religiusitas menggunakan Muslim Daily Religiosity Assesment Scale (α = 0.806) dan data pengambilan keputusan menikah menggunakan Skala Pengambilan Keputusan Menikah (α = 0.892) yang disusun oleh peneliti. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment menunjukkan nilai signifikansi (p) = 0,007 (p 0,05, r = 0,346). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara religiusitas dengan pengambilan keputusan menikah. Artinya semakin tinggi nilai religiusitasnya maka mahasiswi semakin mampu mengambil keputusan menikah saat kuliah. Individu yang memiliki nilai religiusitas tinggi akan selektif dalam mengambil sebuah keputusan dan tidak bertentangan dengan ajaran agamanya.
Ketakutan akan Kegagalan dan Prokrastinasi pada Mahasiswa Bidikmisi Maulidya, Maulidya; Dahlia, Dahlia; Mawarpury, Marty; Rachmatan, Risana
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.29697

Abstract

Pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia tetapi beberapa individu terkendala biaya. Pemerintah kemudian menyiapkan beasiswa Bidikmisi yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang mampu secara akademik tetapi memiliki keterbatasan ekonomi. Mahasiswa Bidikmisi wajib memiliki IPK minimal 3,00 tetapi masih banyak mahasiswa Bidikmisi memiliki IPK 3,00 karena melakukan prokrastinasi dalam penyelesaian tugas. Salah satu penyebab individu melakukan prokastinasi adalah adanya ketakutan akan kegagalan yang merupakan perasaan terancam menghadapi keadaan yang memungkinkan terjadinya kegagalan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan ketakutan akan kegagalan dengan prokrastinasi pada mahasiswa Bidikmisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik penarikan sampel purposive sehingga diperoleh sampel sebanyak 233 mahasiswa Bidikmisi yang memiliki IPK 3,00. Pengumpulan data menggunakan adaptasi Tuckman Procrastination Scale dan adaptasi The Performance Failure of Appraisal Inventory. Hasil analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment menunjukkan nilai (r)=0,288 dengan nilai (p)=0,000 (p 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara ketakutan akan kegagalan dengan prokrastinasi pada mahasiswa Bidikmisi. Artinya, semakin tinggi ketakutan akan kegagalan maka semakin tinggi prokrastinasi, begitu juga sebaliknya. Ketakutan akan kegagalan yang muncul diakibatkan mahasiswa Bidikmisi kurang yakin akan kemampuan diri dan menghindari penilaian negatif dari orang lain sehingga melakukan prokrastinasi.Education plays an important role in improving Indonesia's human resources, but some individuals are constrained by costs. The government provides Bidikmisi scholarship for students who are academically capable but have economic limitations. Bidikmisi students are required to have a minimum GPA of 3.00, but there are still many Bidikmisi students who have a GPA 3.00 because they procrastinate in completing their assignments. One of the causes of individuals committing procastination is the fear of failure, which is a feeling of being threatened by facing circumstances that allow failure to occur. The purpose of this study was to determine the relationship between fear of failure and procrastination in Bidikmisi students. This study uses a quantitative approach with pusposive sampling technique therefore 233 Bidikmisi students who have a GPA 3.00 were selected. Data collection uses the adaptation of the Tuckman Procrastination Scale and the adaptation of The Performance Failure of Appraisal Inventory. The results of data analysis using the Pearson Product Moment Correlation shows the value of the correlation coefficient (r)=0.288 with a significance value (p)=0.000 (p 0.05). This shows that there is a relationship between fear of failure and procrastination in Bidikmisi students. That is, the higher the fear of failure, the higher the procrastination, and vice versa. The fear of failure that arises is caused by Bidikmisi students not being confident in their own abilities and avoiding negative judgments from other people, resulting in procrastination.
Job Embeddedness dan Turnover Intention Pada Guru Honorer Salvina, Desi; Rachmatan, Risana; Aprilia, Eka Dian; Riamanda, Irin
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30560

Abstract

The problems of honorary teachers are quite complex, including income problems, low trust in the organization and dissatisfaction at work. These problems can make honorary teachers have the desire to leave their jobs. The desire to leave a person's job is called turnover intention. One of the factors that can inhibit turnover intention is job embeddedness (work engagement). This study aims to examine the relationship between job embeddedness and turnover intention in honorary teachers. The subjects in this study were honorary teachers. The sampling technique in this study was accidental sampling with the number of participants being 270 honorary teachers. Data was collected using the Global Job Embeddedness Scale (GJES) and Turnover Intention Scale (TIS). The results of the analysis showed a significance value (p) = 0.000 (p0.05) with a correlation value (r) = -0.718 and a determination value of 51.5%. This shows that there is a negative relationship between job embeddedness and turnover intention in honorary teachers. Most subjects are in the category of high job embeddedness and low turnover intention. The benefits of this research can provide insights into the various factors that may encourage honorary teachers to remain in their jobs. By understanding the factors that make them feel connected to their work, educational institutions can develop more effective strategies in the future.Permasalahan guru honorer cukup kompleks di antaranya masalah penghasilan, rendahnya kepercayaan terhadap organisasi dan ketidakpuasan dalam bekerja yang dapat menyebabkan guru honorer memiliki keinginan untuk keluar dari pekerjaannya. Keinginan keluar seseorang dari pekerjaannya disebut turnover intention. Salah satu faktor yang dapat menghambat turnover intention adalah job embeddedness (keterikatan kerja). Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara job embeddedness dengan turnover intention pada guru honorer. Subjek pada penelitian ini adalah guru honorer. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah accidental sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 270 guru honorer. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Global Job Embeddedness Scale (GJES) dan Turnover Intention Scale (TIS). Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi (p) = 0,000 (p0,05) dengan nilai korelasi (r) = -0,718 dan nilai determinasi sebesar 51,5%. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara job embeddedness dengan turnover intention pada guru honorer. Mayoritas subjek berada pada kategori job embeddedness tinggi dan turnover intention rendah. Manfaat dari penelitian ini dapat memberikan wawasan mengenai berbagai faktor yang dapat membuat guru honorer bertahan di pekerjaannya, dengan memahami faktor yang dapat membuat mereka merasa terikat dengan pekerjaannya, sehingga nantinya institusi pendidikan dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif.
KEBERSYUKURAN DAN KEPUASAN DALAM PERNIKAHAN: SEBUAH TINJAUAN PSIKOLOGIS PADA WANITA DEWASA MUDA Khairani, Maya; Rachmatan, Risana; Sari, Kartika; Soraiya, Putri
INTERNATIONAL JOURNAL OF CHILD AND GENDER STUDIES Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/equality.v2i1.1455

Abstract

Gratitude is a value that is taught universally, either in religion or culture that surrounds us. Previous studies have demonstrated an association between gratitude with quality of long-term relationships such as romantic relationships, like marriage. This study aim to provide the description of the level of gratitude in marriage and marital satisfaction on early adult woman in Banda Aceh. This study uses a quantitative method by using purposive sampling. Methods of data collection in this study using The Gratitude Questionnaire-6 (GQ-6, which consists of 6 questions) and Enrich Marital Satisfaction (EMS, which consists of 15 questions). There are 93 early adult women participated on this study with characteristics between 20-40 years old, already have children, and have been married for 10 years maximum. Based on the results found that the gratitude’s average score is 35.6 with a standard deviation 3.67 and the marital satisfaction’s average score is 53.53 with standar deviation 9.36 . The result of this study shows that most early adult women in Banda Aceh has moderate level of gratitude and marital satisfaction.
Adversity Quotient dan Social Loafing pada Mahasiswa Berliansyah, Cut Shasa; Rachmatan, Risana; Sulistyani, Arum; Yulandari, Nucke
Jurnal Psikologi TALENTA Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/talenta.v10i2.65162

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkatan adversity quotient dan social loafing pada mahasiswa di Banda Aceh dan menguji hubungan antara adversity quotient dengan social loafing pada mahasiswa. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif jenis korelasi. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik insidental sampling yang melibatkan 361 mahasiswa aktif jenjang Diploma dan Sarjana di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Banda Aceh. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Adversity Response Profile – Chinese University Student (ARP-CUS) untuk mengukur tingkat adversity quotient dan Social Loafing Tendency Questionnaire (SLTQ) untuk mengukur kecenderungan social loafing pada mahasiswa. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan teknik Korelasi Product Moment Pearson dan menghasilkan nilai signifikansi (p)=0,000 dan koefisien korelasi sebesar (r)=-0,290. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara adversity quotient dengan social loafing pada siswa dengan kekuatan hubungan yang lemah. Maknanya semakin tinggi adversity quotient, maka akan semakin rendah kemalasan sosial, begitupun sebaliknya. Penelitian ini secara praktis dapat membantu pemangku kepentingan dalam menyusun strategi pendidikan yang lebih baik untuk mengoptimalkan dan meningkatkan kinerja siswa dalam kelompok.
Hubungan Antara Flexible Working Arrangement Terhadap Beban Kerja Subjektif Pada Dosen Universitas X Afifa, Safratul Ghina Dilla; Riamanda, Irin; Rachmatan, Risana; Julita, Santi
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i1.32136

Abstract

Lecturers are educators who have the main responsibility for disseminating knowledge through educational activities, research and community service. Lecture workload is defined as the average frequency of activities carried out within a certain period, in accordance with academic and professional responsibilities. Flexible Working Arrangement (FWA) was introduced as a flexible work scheme that allows adjustments to work time and location in a structured and sustainable manner. This research aims to determine the relationship between flexible working arrangements and subjective workload on lecturers at X University. This research uses a quantitative approach with a correlation type. The sampling technique uses quota sampling with a total sample size of 286 lecturers. The research data collectors involved lecturers who had a minimum position of Assistant Expert, did not hold a structural position, and were not on study assignments. The results of the research analysis showed that there was a negative relationship between flexible working arrangements and subjective workload for lecturers at X University, with a significant value (p)=0.006 and correlation coefficient value (r)=-0.163. This can be interpreted that the higher the flexible working arrangement, the lower the subjective workload. The results of the study also showed that the implementation of flexible working arrangements provides flexibility for workers to arrange work schedules according to personal preferences, thereby reducing the perception of workload. These results indicate that universities, including X University, can implement flexible working arrangements as a strategic policy to improve lecturer welfare, reduce perceived work pressure, and maintain productivity that the relationship between the flexible working arrangement variable is low on subjective workload in lecturers at X University.Dosen merupakan tenaga pendidik yang memiliki tanggung jawab utama dalam penyebarluasan ilmu pengetahuan melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Beban kerja dosen didefinisikan sebagai frekuensi rata-rata aktivitas yang dijalankan dalam kurun waktu tertentu, sesuai dengan tanggung jawab akademik dan profesional. Flexible working arrangement diperkenalkan sebagai salah satu skema kerja fleksibel yang memungkinkan penyesuaian waktu dan lokasi kerja secara terstruktur dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan flexible working arrangement dengan beban kerja subjektif pada dosen Universitas X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis korelasi. Teknik penentuan sampel menggunakan quota sampling dengan jumlah sampel sebanyak 286 dosen. Pengumpulan data penelitian melibatkan dosen yang memiliki jabatan minimal asisten ahli tidak menduduki jabatan struktural, dan tidak sedang tugas belajar. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negative antara flexible working arrangement dengan beban kerja subjektif pada dosen Universitas X, dengan nilai signifikansi (p)=0,006 dan nilai koefisien korelasi (r)=-0,163. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi flexible working arrangement maka semakin rendah beban kerja subjektif. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan flexible working arrangement memberikan keleluasaan bagi pekerja untuk mengatur jadwal kerja sesuai preferensi pribadi, sehingga mengurangi persepsi beban kerja. Hasil ini mengindikasikan bahwa perguruan tinggi, termasuk Universitas X, dapat menerapkan flexible working arrangement sebagai kebijakan strategis untuk meningkatkan kesejahteraan dosen, mengurangi tekanan kerja yang dirasakan, dan tetap menjaga produktivitas bahwa hubungan variabel flexible working arrangement rendah terhadap beban kerja subjektif pada dosen Universitas X.