Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Mindfulness dan Impulsive Buying Pada Dewasa Awal yang Melakukan Belanja Online Selama Pandemi Covid-19 Farah Salisa; Risana Rachmatan; Intan Dewi Kumala; Novita Sari
JURNAL SOSIAL EKONOMI DAN HUMANIORA Vol. 8 No. 2 (2022): JURNAL SOSIAL EKONOMI DAN HUMANIORA
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.436 KB) | DOI: 10.29303/jseh.v8i2.53

Abstract

Pandemic of COVID-19 has led to an increase in use of e-commerce. Increased online shopping transactions lead to impulsive buying behavior for consumers who like to shop online. The large selection of products that are sold and purchased online in e-commerce makes people interested in online shopping. Impulsive buying is characterized by unplanned buying behavior. Mindfulness can control individual decisions to reduce intensity of impulsive buying behavior. If someone is not aware of buying the goods purchased, then shopping behavior can become something that is automatic and does not fulfill what is actually needed. The purpose of this study was to examine the relationship between mindfulness and impulsive buying in early adults who shopped online during COVID-19 pandemic. The research participants were 352 early adults in Aceh Province who had done online shopping. This study used quantitative correlation method. Data collection used Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS) and Mindfulness Attention and Awareness Scale (MAAS). The results of Pearson's correlation analysis show a significant value (p) = 0.001 (p<0.05), indicates that there is relationship between mindfulness and impulsive buying in early adults who shop online during COVID-19 pandemic.
HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN PERILAKU CYBERSEX PADA REMAJA DI ACEH: The Relationship Between Religiosity and Cybersex Behavior in Adolescents in Aceh Hijratul Zulfa; Maya Khairani; Risana Rachmatan; Zaujatul Amna
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 4 No. 2 (2022): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v4i2.71

Abstract

ABSTRACTThe level of religiosity in adolescents will affect their behavior. Adolescents with high religiosity tend to behave positively, while low religiosity refers to negative behavior such as cybersex, namely the activity of accessing pornography on the internet, whether in the form of sex-related videos, images, text stories, films, and games, engaging in conversations about online sex. The purpose of this study is to determine the relationship between religiosity and cybersex in adolescents in Aceh. Measuring instruments used in this study were the Internet Sex Screening Test scale and the Muslim Daily Religiosity Assessment Scale. This type of research is correlated with the sampling technique used was an accidental technique with 347 adolescents aged range 18-to 24 years old living in Aceh and consisting of 134 boys and 213 girls. The result shows the significant level of this study is (p)=0.000 with the correlation (r)=-0.34, the hypothesis of this study is accepted, which shows there is a negative correlation between religiosity and cybersex behavior in adolescents in Aceh. The meaning is getting a higher level of adolescents’ religiosity, the lower their cybersex, and the lower their level of religiosity, the higher their cybersex. This study also shows that the majority of adolescents in Aceh have a higher level of religiosity so they were able to control the cybersex. Future researchers are expected to look at other factors that may influence cybersex behavior.ABSTRAKTingkat religiusitas pada remaja akan berpengaruh terhadap perilakunya. Remaja yang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi cenderung berperilaku positif dan remaja yang memiliki religiusitas yang rendah akan merujuk kearah perilaku negatif. Salah satunya ialah perilaku cybersex yaitu suatu kegiatan mengakses pornografi di internet, baik dalam bentuk video, gambar, teks cerita, film dan game yang berbau seksual, atau terlibat percakapan tentang seksual online (daring) dengan orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara religiusitas dengan perilaku cybersex pada remaja di Aceh. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Internet Sex Screening Test dan Muslim Daily Religiosity Assessment Scale. Jenis penelitian ini adalah korelasi dengan teknik sampling yang digunakan adalah teknik aksidental dengan jumlah responden sebanyak 347 remaja dengan rentang usia 18-24 tahun yang berdomisili di Aceh yang terdiri dari 134 laki-laki dan 213 perempuan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai signifikansi (p)=0,000 dengan nilai korelasi (r) =-0,43. Hal ini berarti bahwa hipotesis penelitian diterima, yang menunjukkan bahwa adanya hubungan negatif antara religiusitas dengan perilaku cybersex pada remaja di Aceh. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi religiusitas pada remaja, maka semakin rendah tingkat cybersex, begitu juga sebaliknya, semakin rendah religiusitas, maka samakin tinggi cybersex pada remaja. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa mayoritas remaja di Aceh memiliki religiusitas yang tinggi sehingga mampu mengontrol cybersex. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan melihat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku cybersex.
HUBUNGAN ANTARA KEADILAN ORGANISASI DENGAN KETERIKATAN KARYAWAN PADA KARYAWAN TETAP PT. X Sarifa Handayani; Mirza Mirza; Risana Rachmatan; Irin Riamanda
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 5, No 2: Juli 2022
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v5i2.26019

Abstract

Keterikatan karyawan menjadi penting bagi sebuah perusahaan karena dengan adanya rasa keterikatan yang tinggi, karyawan akan meningkatkan kinerjanya menjadi lebih produktif, sehingga mampu menaikkan profitabilitas perusahaan. Hal yang mendorong karyawan memiliki rasa keterikatan yang tinggi terhadap pekerjaannya adalah dengan mempersepsikan adanya keadilan organisasi yang dirasakan karyawan dalam perusahaan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara keadilan organisasi dengan keterikatan karyawan pada karyawan tetap PT. X Lhokseumawe. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 55 karyawan tetap PT. X Lhokseumawe menggunakan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan menggunakan adaptasi Utrecht Work Engagement Scale (UWES) (α=0,937), dan adaptasi Organizational Justice Survey (OJS) (α=0,945). Analisis data menggunakan teknik korelasi Spearman yang memperlihatkan nilai r=0,554. Hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara keadilan organisasi dan keterikatan karyawan pada karyawan tetap PT. X Lhokseumawe.
Perbedaan Komitmen Karier Dosen Ditinjau Dari Jenis Kelamin Nurul Alifah Jovita; Irin Riamanda; Risana Rachmatan; Mirza Mirza
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 6, No 2: Juli 2023
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v6i2.33284

Abstract

Dosen selaku tenaga pendidik profesional dituntut untuk senantiasa melakukan pengembangan karier secara terus-menerus hingga mendapat jabatan tertinggi sesuai dengan komitmennya. Oleh karena itu komitmen karier pada dosen memiliki makna sebagai keteguhan atau ketekunan dosen dalam menjalankan kariernya selama bekerja. Perguruan tinggi akan lebih maju jika seluruh dosennya memiliki komitmen karier yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan komitmen karier dosen ditinjau dari jenis kelamin. Populasi dalam penelitian ini yaitu dosen di Universitas X. Sampel dipilih dengan teknik purposif dan diperoleh sebanyak 222 orang dosen (111 laki-laki dan 111 perempuan) yang terlibat dalam penelitian ini. Data penelitian dikumpulkan menggunakan skala The Commitment Career Measure (CCM) yang disusun oleh Carson dan Bedeian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat komitmen karier pada dosen di Universitas X mayoritas termasuk pada kategori tinggi. Sementara analisis data menggunakan uji-t menunjukkan nilai signifikansi (p)=0,395 (p0.05). Berdasarkan skor tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan komitmen karier dosen Universitas X ditinjau dari jenis kelamin. Penyebab tidak ditemukan adanya perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor motivasi yang berlaku sama baik pada laki-laki maupun perempuan, serta kebijakan netral dalam suatu lembaga pendidikan yang tidak dapat ditentukan berdasarkan jenis kelamin.
Religiusitas dan Pengambilan Keputusan Menikah Pada Mahasiswi Rizka Tyara; Mirza Mirza; Risana Rachmatan; Eka Dian Aprilia
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 6, No 2: Juli 2023
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v6i2.28709

Abstract

Kemampuan memutuskan untuk menikah disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah proses spiritual dan religiusitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara religiusitas dengan pengambilan keputusan menikah pada mahasiswi di Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi. Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswi perguruan tinggi yang ada di Kota Banda Aceh sebanyak 60 orang yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data religiusitas menggunakan Muslim Daily Religiosity Assesment Scale (α = 0.806) dan data pengambilan keputusan menikah menggunakan Skala Pengambilan Keputusan Menikah (α = 0.892) yang disusun oleh peneliti. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment menunjukkan nilai signifikansi (p) = 0,007 (p 0,05, r = 0,346). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara religiusitas dengan pengambilan keputusan menikah. Artinya semakin tinggi nilai religiusitasnya maka mahasiswi semakin mampu mengambil keputusan menikah saat kuliah. Individu yang memiliki nilai religiusitas tinggi akan selektif dalam mengambil sebuah keputusan dan tidak bertentangan dengan ajaran agamanya.
KEBERSYUKURAN DAN KEPUASAN DALAM PERNIKAHAN: SEBUAH TINJAUAN PSIKOLOGIS PADA WANITA DEWASA MUDA Khairani, Maya; Rachmatan, Risana; Sari, Kartika; Soraiya, Putri
INTERNATIONAL JOURNAL OF CHILD AND GENDER STUDIES Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/equality.v2i1.1455

Abstract

Gratitude is a value that is taught universally, either in religion or culture that surrounds us. Previous studies have demonstrated an association between gratitude with quality of long-term relationships such as romantic relationships, like marriage. This study aim to provide the description of the level of gratitude in marriage and marital satisfaction on early adult woman in Banda Aceh. This study uses a quantitative method by using purposive sampling. Methods of data collection in this study using The Gratitude Questionnaire-6 (GQ-6, which consists of 6 questions) and Enrich Marital Satisfaction (EMS, which consists of 15 questions). There are 93 early adult women participated on this study with characteristics between 20-40 years old, already have children, and have been married for 10 years maximum. Based on the results found that the gratitude’s average score is 35.6 with a standard deviation 3.67 and the marital satisfaction’s average score is 53.53 with standar deviation 9.36 . The result of this study shows that most early adult women in Banda Aceh has moderate level of gratitude and marital satisfaction.
Adversity Quotient dan Social Loafing pada Mahasiswa Berliansyah, Cut Shasa; Rachmatan, Risana; Sulistyani, Arum; Yulandari, Nucke
Jurnal Psikologi TALENTA Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/talenta.v10i2.65162

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkatan adversity quotient dan social loafing pada mahasiswa di Banda Aceh dan menguji hubungan antara adversity quotient dengan social loafing pada mahasiswa. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif jenis korelasi. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik insidental sampling yang melibatkan 361 mahasiswa aktif jenjang Diploma dan Sarjana di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Banda Aceh. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Adversity Response Profile – Chinese University Student (ARP-CUS) untuk mengukur tingkat adversity quotient dan Social Loafing Tendency Questionnaire (SLTQ) untuk mengukur kecenderungan social loafing pada mahasiswa. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan teknik Korelasi Product Moment Pearson dan menghasilkan nilai signifikansi (p)=0,000 dan koefisien korelasi sebesar (r)=-0,290. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara adversity quotient dengan social loafing pada siswa dengan kekuatan hubungan yang lemah. Maknanya semakin tinggi adversity quotient, maka akan semakin rendah kemalasan sosial, begitupun sebaliknya. Penelitian ini secara praktis dapat membantu pemangku kepentingan dalam menyusun strategi pendidikan yang lebih baik untuk mengoptimalkan dan meningkatkan kinerja siswa dalam kelompok.
The Relationship between Job Characteristics and the Quality of Work Life of the Gampong Government Faisal; Irin Riamanda; Risana Rachmatan; Eka Dian Aprilia
IJIP : Indonesian Journal of Islamic Psychology Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Da'wa Faculty of Islamic State University Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijip.v4i2.35

Abstract

A gampong, generally known as a village, is a legal community unit with territorial boundaries and is led by a keuchik or other name who has the right to carry out their household affairs. In its implementation, there are obstacles felt by the village government while working, such as the condition of the work environment that results in low quality of work life. In contrast, the quality of work life must be conditioned by the organization so that the welfare and productivity of employees go well, one way to improve the quality of work life is to apply job characteristics model. Job characteristics are job attributes that have a motivational function for employees. Therefore, research is needed to determine the relationship between job characteristics and the quality of work life of the village government. This study used a quantitative approach with purposive sampling data collection techniques. The research sample comprised 297 village governments in Banda Aceh and Aceh Besar. Data was collected using the Job Diagnostic Survey scale and the quality of work-life scale. The results of this study explained that the hypothesis is accepted where the significance value is p = 0.000, which meant that there was a relationship between job characteristics and the quality of working life of the village government. That is, the higher the job characteristics, the higher the quality of work life of the village governments. This study found that the job characteristics and quality of work life were in the medium category. The results also found that the quality of work life in the Banda Aceh village government was higher than that of the Aceh Besar village government. This is due to clear working hours and higher salaries, in addition to weekly supervision from the sub-district on the performance of the Banda Aceh village government.
KONFLIK PERAN GANDA PADA TENAGA KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA LANGSA Khansa Zayyana; Risana Rachmatan; Eka Dian Aprilia; Zaujatul Amna
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 5 No. 1 (2025): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v5i1.1360

Abstract

Individu yang bekerja sebagai tenaga kesehatan menghadapi banyak tuntutan pekerjaan yang tinggi sehingga memberikan dampak pada kehidupan pribadi, seperti keluarga. Salah satu dampak yang dihasilkan yaitu adanya konflik peran ganda karena ketidakseimbangan dalam memenuhi tuntutan tugas pekerjaan (profesional) dan juga dalam kehidupan berumah tangga. Adapun tujuan penelitian adalah untuk melihat gambaran konflik peran ganda pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Langsa yang dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan teknik deskriptif. Sebanyak 160 tenaga kesehatan RSUD Langsa terlibat sebagai sampel penelitian yang dipilih dengan menggunakan metode nonprobability sampling dengan teknik insidental sampling dengan kriteria menikah, memiliki anak, dan bekerja dengan sistem shift. Pengumpulan data penelitian menggunakan alat ukur yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia melalui proses expert review sehingga instrumen penelitian tervalidasi dan reliabel. Hasil analisis data menunjukkan berdasarkan profesinya, diketahui bahwa perawat lebih dominan memiliki konflik dibandingkan profesi tenaga kesehatan lainnya, yaitu dominan mengalami konflik FWC yang berbasis waktu dilihat dari rentang usia, maka tenaga kesehatan dengan rentang usia 26-35 tahun dominan mengalami konflik WFC, usia 36-45 tahun dominan mengalami konflik FWC. Selanjutnya berdasarkan jumlah anak yang dimiliki di dapatkan hasil bahwa tenaga kesehatan dengan jumlah anak 3 dominan mengalami WFC, sedangkan tenaga kesehatan dengan jumlah anak 4 dominan mengalami FWC Individuals who work as health workers deal with many high work demands that impact their personal lives, such as family. One of the resulting impacts is a work-family conflict due to an imbalance in fulfilling the work (professional) duties and also in home life.The research aims to describe work-family conflict to the health workers at the Langsa General Hospital, which was carried out using a quantitative approach with descriptive techniques. All 160 Langsa General Hospital health workers involved as research samples were selected using a non-probability sampling method with an incidental sampling technique with the criteria married, having a child, and working on a shift system. The research data collection used the work-family conflict scale translated into Indonesian through an expert review process so that the research instrument was validated and reliable. The research result according to profession, it is known that nurses were more dominant in conflict than other health worker professions, namely in experiencing time-based FWC conflict from the age range, health workers with an age range of 26-35 years predominantly experience WFC conflict, age 36-45 years predominantly experience FWC conflict. Furthermore, based on the number of children owned, the results show that health workers with three children predominantly experience WFC, while health workers with four children predominantly experience FWC
Hubungan Antara Social Comparison Orientation Dengan Social Media Addiction Pada Mahasiswa Pengguna Tiktok Afsyukma, Marhaban; Sulistyani, Arum; Rachmatan, Risana; Riamanda, Irin
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i2.34446

Abstract

The use of TikTok has become a routine for college students in this digital era. Prolonged and irregular use of social media platforms has the potential to pose various challenges and result in social media addiction problems. Not only that, social media provides many opportunities and easy access to engage in social comparison and lead to the consequences of social media addiction. This study aims to determine the relationship between social comparison orientation and social media addiction in student TikTok users. The sampling technique used incidental sampling technique. The sample of this study amounted to 352 (75 men and 277 women) students of Syiah Kuala University. SCO in this study was measured using the Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) consisting of 11 items. Meanwhile, the measuring instrument for social media addiction using the Social Media Addiction-Student Form consists of 29 items. The results of statistical analysis of this study indicate a significant positive relationship between social comparison orientation and social media addiction (r = 0.484; p 0.001). These results indicate that the higher the social comparison made, the higher the social media addiction in TikTok users and vice versa. This study emphasizes the role of social comparison in social media addiction where individuals who engage in social comparison tend to develop addictive behavior towards social media and shows that the content consumed can significantly influence it. Penggunaan TikTok telah menjadi sebuah rutinitas mahasiswa di era digital ini. Penggunaan platform media sosial yang berkepanjangan dan tidak teratur berpotensi menimbulkan berbagai tantangan dan mengakibatkan masalah kecanduan media sosial. Tidak hanya itu media sosial memberikan banyak peluang dan akses mudah untuk terlibat dalam perbandingan sosial dan menimbulkan konsekuensi kecanduan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara social comparison orientation dengan social media addiction pada mahasiswa pengguna TikTok. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik incidental sampling. Sampel penelitian ini berjumlah 352 (75 laki-laki dan 277 perempuan) mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Mahasiswa pengguna TikTok di Universitas Syiah Kuala menggunakan TikTok sebagai sarana untuk menghilangkan stres akibat tugas yang banyak dan jadwal padat. Aktivitas seperti scrolling TikTok menjadi salah satu cara untuk mencari hiburan dan mengurangi kejenuhan. Social comparison orientation (SCO) pada penelitian ini diukur dengan menggunakan Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) terdiri dari 11 aitem. Sementara itu alat ukur social media addiction menggunakan Social Media Addiction-Student Form terdiri dari 29 aitem. Hasil analisis statistik penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antarasocial comparison orientationdansocial media addiction(r = 0,484; p 0,001). Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi perbandingan sosial yang dilakukan, maka semakin tinggi pula kecanduan media sosial pada mahasiswa pengguna TikTok begitu pula sebaliknya. Penelitian ini menekankan peran perbandingan sosial dalam kecanduan media sosial dimana individu yang terlibat dalam perbandingan sosial cenderung mengembangkan perilaku adiktif terhadap media sosial serta menunjukkan bahwa konten yang dikonsumsi dapat mempengaruhi secara signifikan.