Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

GAYA BAHASA DALAM BERITA ACARA PEMERIKSAAN (BAP) OLEH PENYIDIK DI POLRES CIAMIS Permata, Tresna Ayu; Hendaryan, R; Hidayatullah, Asep
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9, No 2 (2025): JURNAL DIKSATRASIA JULI 2025
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v9i2.19204

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan karakteristik gaya bahasa yang digunakan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Polres Ciamis. Fokus utama penelitian terletak pada klasifikasi gaya bahasa berdasarkan teori Keraf, yaitu berdasarkan pilihan kata, nada, struktur kalimat, dan langsung tidaknya makna. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik dokumentasi terhadap sepuluh dokumen BAP dari tiga unit kepolisian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya bahasa dalam BAP cenderung formal, teknis, dan menggunakan ragam bahasa hukum yang khas. Analisis mendalam terhadap gaya bahasa ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas komunikasi hukum serta sebagai referensi dalam studi linguistik forensik.
Sundanese Cultural Values in Paribasa as a Guide to Language Politeness: An Ethnopragmapedagogy Approach Hidayatullah, Asep; Anshori, Dadang S.; Sastromiharjo, Andoyo
Studies in English Language and Education Vol 12, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to identify and analyze the values contained in Sundanese paribasa and explore their application in learning language politeness in pragmatics courses using an ethnopragmappedagogy approach. Through a content analysis method with a qualitative approach, this research succeeded in finding nine indicators of language politeness contained in paribasa, namely: friendly, clear, correct, honest, wise, respectful, sensitive, true to promises, and quality. Friendly indicators emphasize the importance of being open and polite in communication, while clear indicators show the importance of conveying messages that are easy to understand. The correct and honest indicator underlines the importance of honesty and accuracy in every utterance, while the wise indicator emphasizes the ability to consider the impact of each word before conveying it. Respect and sensitivity indicators emphasize that language politeness must pay attention to the feelings and dignity of the interlocutor. Accurate promises underline the importance of consistency in fulfilling commitments that have been made, while quality indicators refer to the importance of speaking with quality that provides benefits and value to the listener. These nine indicators show that Sundanese paribasa can be used as a practical guide in learning language politeness in pragmatics courses through ethnopragmapedagogy. This research concludes that Sundanese paribasa is relevant as teaching material in learning language politeness in pragmatics courses to strengthen ethical awareness in communication
PELATIHAN LITERASI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PROJECT BASED LEARNING) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU DI KABUPATEN GARUT Mulyati, Yeti; S. Damayanti, Vismaia; Sastromiharjo, Andoyo; Hidayatullah, Asep; Permana, Indra; Sulaiman, Zoni; Sari, Faradilla Intan
Abdimas Galuh Vol 5, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v5i2.10684

Abstract

Pemahaman mengenai model pembelajaran berbasis proyek sangat penting dalam mendukung keterampilan siswa pada kurikulum merdeka belajar. Permasalahan prioritas guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang terhimpun dalam organisasi MGMP bahasa Indonesia di Kabupaten Garut adalah kurangnya pemahaman terhadap model pembelajaran. Hal tersebut terbukti dari hasil kuesioner, rata-rata peserta tidak mengetahui secara komprehensif mengenai model pembelajaran berbasis proyek. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasai permasalahan pada mitra adalah dengan pemberian materi awal yang meliputi materi tentang konsep dasar, karakteristik, tujuan, keunggulan, kelemahan, dan tahapan atau alur model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning). Langkah selanjutnya, peserta melakukan simulasi pelaksanaan model pembelajaran berbasi proyek yang meliputi: (1) orientasi peserta didik pada masalah; (2) mengorganisasikan peserta didik untuk belajar; (3) membimbing penyelidikan individu maupun kelompok; (4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya; dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, dan diakhiri dengan mendiskusikan kompetensi dasar kelas X, XI, dan XII yang relevan disampaikan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek (project Based Learning). Melalui metode tersebut, pemahaman model pembelajaran berbasis proyek peserta meningkat yang dibuktikan melalui tugas yang telah dikerjakan.
PELATIHAN TATA BAHASA BAKU BERMUATAN KARAKTER PANCASILA PADA KELOMPOK PUSAT INFORMASI KONSELING REMAJA (PIK-R) DI KABUPATEN CIAMIS Hidayatullah, Asep; Mulyani, Sri; Andini, Siti; Munir, Sirojul
Abdimas Galuh Vol 5, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v5i2.10279

Abstract

Penguasaan tata bahasa sangat penting dalam mendukung keterampilan berbicara dan menulis. Permasalahan prioritas kelompok PIKR adalah penguasaan tata bahasa yang rendah. Rendahnya penguasaan tata bahasa anggota kelompok PIKR terlihat dari seringkali menggunakan bahasa Indonesia yang dipadukan dengan bahasa gaul. Bukan itu saja, pada saat mengikuti acara formal, kebanyakan dari mereka juga masih menggunakan percampuran bahasa gaul. Karena penguasaan tata bahasa masih rendah, kemampuan menulis generasi muda anggota PIKR juga masih rendah. Nilai rata-rata prapelatihan mendapatkan nilai 60. Solusi yang ditawarkan untuk mengatasai permasalahan pada mitra adalah (1) pelatihan tata bahasa baku bermuatan karakter Pancasila I, (2) sesi tugas, kuis, dan umpan balik I, (3) pelatihan tata bahasa baku bermuatan karakter Pancasila II, dan (4) sesi tugas, penghargaan, dan umpan balik II. Tahapan dalam melaksanakan solusi yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan mitra meliputi empat tahapan. Tahap pertama, pelatihan tata bahasa baku bermuatan karakter Pancasila I. Pada tahap ini diberikan pemahaman tentang konsep tata bahasa baku dengan materi tata bunyi dan bentuk. Tahap kedua, sesi tugas, kuis, dan umpan balik I. Tahap ketiga, dilakukan pelatihan lanjutan berkaitan dengan tata bahsa baku: tata makna. Tahap keempat, sesi tugas, penghargaan, dan umpan balik II. Tahap ini melanjutkan pengerjaan tugas berdasarkan hasil pelatihan kedua. Melalui metode tersebut, kemampuan tata bahasa peserta meningkat. Nilai pascapelatihan I mendapatkan nilai rata-rata 75 dan nilai pascapelatihan II mendapatkan nilai rata-rata 80.
PERTIKAIAN VERBAL DI DUNIA MAYA (FLAME WAR) DALAM FILM BUDI PEKERTI KARYA WREGAS BHANUTEJA Maolan, Sri Noor; Hendaryan, Hendaryan; Hidayatullah, Asep
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 1 (2026): JURNAL DIKSATRASIA JANUARI 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v10i1.20187

Abstract

Fenomena pertikaian verbal di dunia maya atau flame war merupakan bentuk kekerasan digital yang semakin marak seiring meningkatnya penggunaan media sosial. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji representasi flame war dalam film Budi Pekerti karya Wregas Bhanuteja serta merefleksikan relevansinya dalam pendidikan bahasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis wacana kritis Fairclough, berdasarkan data dari adegan film yang merepresentasikan praktik flame war dan diperkuat oleh temuan-temuan dari studi sebelumnya. Dalam film, flame war dimanifestasikan melalui komentar kasar, klarifikasi yang dipelintir, keterlibatan publik yang masif, polarisasi opini, serta framing media yang menciptakan kekerasan simbolik. Konflik verbal tersebut menggambarkan lemahnya kontrol sosial di ruang digital dan bagaimana ruang daring menjadi arena penghakiman kolektif. Representasi tersebut mencerminkan realitas sosial yang kompleks dan dekat dengan kehidupan masyarakat digital masa kini. Film Budi Pekerti memperlihatkan potensi sinema sebagai media pembelajaran kontekstual dalam pendidikan bahasa Indonesia. Representasi flame war di dalamnya dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan kesadaran etis, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan debat siswa dalam menghadapi tantangan komunikasi digital.
KEBANGGAAN SANTRI PUTRA TERHADAP BAHASA INDONESIA DI PONDOK PESANTREN MANAHIJUL HUDA: STUDI SIKAP BAHASA Amatillah, Hilmi Azizah; Hidayatullah, Asep; Andini, Siti
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 1 (2026): JURNAL DIKSATRASIA JANUARI 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v10i1.20230

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana kebanggaan santri putra terhadap bahasa Indonesia di Pondok Pesantren Manahijul Huda. Penelitian ini menjadi penting karena lingkungan pesantren dikenal sebagai ruang multibahasa yang memunculkan dinamika kebahasaan antara bahasa daerah, bahasa Arab, dan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional, memerlukan afirmasi positif dalam bentuk sikap kebanggaan agar tidak tergeser dalam konteks komunikasi keagamaan dan keseharian santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka dan kuesioner. Subjek penelitian adalah 41 santri putra kelas X SMA Terpadu Manahijul Huda. Data dikumpulkan melalui angket sikap bahasa berbasis indikator kebanggaan menurut teori Garvin dan Mathiot (1968). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas santri menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi saat menggunakan bahasa Indonesia, terutama dalam konteks formal seperti kegiatan organisasi, pelajaran, dan pidato. Selain itu, para santri memandang bahasa Indonesia sebagai simbol identitas nasional dan mendukung pelestariannya di lingkungan pesantren. Temuan ini mengindikasikan bahwa kebanggaan berbahasa merupakan elemen penting dalam mempertahankan dan memperkuat fungsi bahasa Indonesia di tengah arus globalisasi dan dominasi bahasa asing serta lokal.Kata Kunci: sikap bahasa; kebanggaan; bahasa Indonesia; pesantren; santri  AbstractAbstractThis study aims to uncover the pride expressed by male students toward the Indonesian language at the Manahijul Huda Islamic Boarding School. This research is important because the Islamic boarding school environment is known as a multilingual space that fosters linguistic dynamics between regional languages, Arabic, and Indonesian. Indonesian, as the national language, requires positive affirmation in the form of pride to prevent it from being displaced in the context of religious communication and the students' daily lives. This study used a qualitative descriptive approach, with data collection techniques consisting of literature review and questionnaires. The subjects were 41 10th-grade male students at Manahijul Huda Integrated High School. Data were collected through a language attitude questionnaire based on pride indicators according to the theory of Garvin and Mathiot (1968). The results show that the majority of students demonstrate high self-confidence when using Indonesian, especially in formal contexts such as organizational activities, lessons, and speeches. Furthermore, the students view Indonesian as a symbol of national identity and support its preservation within the Islamic boarding school environment. These findings indicate that language pride is a crucial element in maintaining and strengthening the function of Indonesian amidst globalization and the dominance of foreign and local languages. Keywords: language attitude; pride; Indonesian; Islamic boarding school; students
Language attitudes of BIPA students (Indonesian for foreign speakers) towards Indonesian Hidayatullah, Asep; Mulyati, Yeti; Saputra, Dedi; Lixian, Xiao; Waeno, Mahamadaree
BAHASTRA Vol. 43 No. 1 (2023): BAHASTRA
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/bs.v43i1.320

Abstract

Having a positive attitude towards Indonesian is a necessity. To have good Indonesian language skills, BIPA students must have a positive attitude towards Indonesian. This study aims to describe the language attitudes of BIPA students towards Indonesian. The method used in this research is descriptive method. The data used in this study were collected through a questionnaire technique. The statements given consist of three aspects, namely language loyalty, language pride, and awareness of language rules. Data obtained through a questionnaire, processed quantitatively. As a result, most BIPA students (71.81%) have a positive attitude towards Indonesian.