Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

STATUS KARIES ANAK USIA PRASEKOLAH SEKOLAH CITRA KASIH YANG MENGONSUMSI SUSU FORMULA Lombo, Aprilia; Mayulu, Nelly; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6407

Abstract

Abstract: Caries is disease on dental hard tissue that causes cavity in the tooth and on children is called rampant caries. Rampant caries occur because of the children who consume cariogenic foods and beverages as well as lack maintenance of oral hygiene. Formula milk is one of the food product that contain high nutritional value but can cause caries in children due to lack of proper feeding patterns like the duration of intake, frequency, duration, manner of presentation and means of prevention. The purpose of this study was to describe the caries status of preschool children in the Citra Kasih School who drink formula milk.This was a descriptive research with cross sectional study methods. The sample in this study amounted to 53 respondents with a total sampling technique based on the inclusion criteria.The results of caries status in children at school Citra Kasih Manado age 2-5 years old showed results d (decay) 36 respondents, e (Indicated for extraction) 29 respondents, and f (filled) 19 respondents, while based on formula milk feeding patterns obtained results the majority of preschooler students at Citra Kasih School Manado consume formula >2 years, the frequency of drinking milk >3 times daily, duration of drinking milk ≤ 15 minutes, without the addition of sugar, and not given water after consuming milk formula, and with an average def-t value of 1,6 according to the assessment def-t indicators from the WHO.Caries status of preschool children in the School Citra Kasih Manado who drink formula milk was classified in the low category.Keywords: caries status, preschoolers, formula milkAbstrak: Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yang menyebabkan kavitas pada gigi dan pada anak-anak disebut rampan karies. Rampan karies terjadi karena pola konsumsi makanan dan minuman yang bersifat kariogenik serta kurangnya pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut anak. Susu formula merupakan salah satu produk makanan yang mengandung nilai gizi yang cukup tinggi namun dapat menyebabkan karies pada anak akibat pola pemberian yang kurang tepatseperti lama pemberian, frekuensi, durasi, cara penyajian dan cara pencegahan. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran status karies anak usia prasekolah di Sekolah Citra Kasih yang mengonsumsi susu formula.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode pengambilan data yaitu cross sectional study. Sampel pada penelitian ini berjumlah 53 anak yang diperoleh menggunakan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi.Hasil penelitian menunjukakan indeks def-t rata-rata anak yaitu 1,6 dengan nilai d (decay) 36, e (indicated for extraction) 29, dan f (filled) 19. Berdasarkan pola pemberian susu formula diperoleh hasil, mayoritas murid sekolah Citra Kasih Manado mengonsumsi susu formula > 2 tahun, frekuensi minum susu > 3 kali sehari, durasi minum susu ≤ 15 menit, tanpa adanya penambahan gula dan pemberian air putih setelah mengonsumsi susu formula.Status karies anak usia prasekolah di Sekolah Citra Kasih Manado yang mengonsumsi susu formula tergolong dalam kategori rendah.Kata kunci: Status karies, anak usia prasekolah, susu formula
UJI KEKERASAN RESIN KOMPOSIT AKTIVASI SINAR DENGAN BERBAGAI JARAK PENYINARAN Allorerung, Jimmy; Anindita, P. S.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10010

Abstract

Abstract: Composite resin is a dental material which is used to fix the caries teeth because it have good esthetic and hardness. Visible light cured (VLC) composite resin hac better polymerization than chemical reaction composite resin. However, it does not have any abutment, therefore, the distance between light source and the composite surface is mostly ignored by the operator. Lightning process is very important to obtained good polymerization, so that the composite has enough hardness to hold back human masticate pressure. Composite which does not have enough hardness will be easily cracked. This study aimed to find out the correct distance of polymerization so that the composite resin has enough hardness to hold back human masticate pressure. This study used a post-test only design group and was conducted at the Laboratory of Metalurgy University of Sam Ratulangi. There were 27 samples of nanohybrid composite resin obtained by using a purposive sampling method. The measurement used was the Vickers method and micro Vickers hardness tester. The results showed that the group that had the highest hardness value was the first group with a lightning distance of 0 mm or light source touching composite resin surface, the value of hardness was 841.49 N/mm2. This value step by step decreased because the lightning distance increased, so that the lowest hardness value is 290,95 N/mm2 which on ninth group. Conclusion: The lightning distance of nanohybrid composite resin which could hold back the maximum human masticate pressure was on distance 0-6 mm.Keyword : distance of lightning, nanohybrid composite resin, hardness value.Abstrak: Resin komposit merupakan bahan tumpatan yang sering digunakan dalam kedokteran gigi karena memiliki nilai estetis serta kekerasan yang baik. Resin komposit aktivasi sinar berpolimerisasi lebih baik daripada resin komposit aktivasi kimia, tetapi alat visible light cured (VLC) yang digunakan tidak memiliki dudukan sehingga jarak antara sumber sinar dengan permukaan komposit saat penyinaran sering diabaikan. Proses penyinaran sangat penting agar terjadi polimerisasi yang baik sehingga komposit memiliki kekerasan yang cukup untuk menahan tekanan kunyah manusia. Kekerasan yang tidak cukup dapat menyebabkan komposit mengalami cracking atau pecahnya tumpatan didalam mulut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jarak penyinaran yang tepat agar resin komposit memiliki kekerasan yang cukup untuk menahan tekanan kunyah manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode post-test only design group yang diukur pada resin komposit jenis nanohibrid dan dilakukan di Laboratorium Metalurgi Jurusan Teknik Mesin Universitas Sam Ratulangi, dengan sampel sebanyak 27 sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan pengukuran kekerasan komposit menggunakan metode Vickers dan alat micro vickers hardness tester. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelompok yang memiliki nilai kekerasan tertinggi terdapat pada kelompok pertama dengan jarak penyinaran 0 mm atau sumber sinar menyentuh permukaan komposit dengan nilai kekerasan 841,49 N/mm2. Nilai kekerasan ini secara bertahap menurun seiring dengan bertambah jauh jarak penyinaran, sehingga nilai kekerasan paling rendah terdapat pada kelompok penyinaran 8 mm yaitu 230,95 N/mm2. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu jarak penyinaran terhadap resin komposit jenis nanohibrid sehingga resin komposit memiliki kekerasan yang cukup untuk menahan tekanan kunyah maksimal manusia berkisar pada jarak 0-6 mm.Kata kunci : jarak penyinaran, resin komposit nanohibrid, nilai kekerasan
GAMBARAN PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG PENCEGAHAN KARIES DAN STATUS KARIES MURID SD KELURAHAN MENDONO KECAMATAN KINTOM KABUPATEN BANGGAI Hamadi, Dewi A.; Gunawan, Paulina N.; Mariati, Ni Wayan
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6398

Abstract

Abstract: Knowledge of parents is very important in the formation of the under lying attitude and behaviors that support children soral health. Oral disease that affects many people of Indonesia are caries and periodontal disease. Hard dental caries is a disease that is email, dentin and cementum. Early caries in primary school children. Caries prevention can be done by brushing teeth reguler, paying attention to diet and make a visit to the dentist. The purpose of this studyis to describethe knowledge of parents about the prevention of caries and caries sstatus of primary school student village mendono districts Kintom Banggai. This study used a descriptive design with cross sectional approach. The sample of this study using total sampling method according to the inclusion and exclusion criteria totaling 82 pupil and their parents. Caries status examination performed on 5-6 class students aged 11-13 years and questionnaires to parents sampled. The results of examination of the status of caries in children aged 11-13 years have low category as big as 2,08 and knowledge of parents in whole have good knowledge 93.9%. Conclusion: parental knowledge about the prevention of caries by age, gender and occupation shows parents have good knowledge. Caries status by age and gender have DMF-T low.Keywords: parents knowledge, prevention of caries and caries statusAbstrak: Pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya sikap dan perilaku yang mendukung kesehatan gigi dan mulut anak. Penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia adalah karies dan penyakit periodontal. Karies merupakan penyakit keras gigi yaitu email, dentin dan sementum. Awal terjadinya karies pada anak sekolah dasar. Pencegahan karies dapat dilakukan dengan cara menyikat gigi yang teratur, memperhatikan pola makan dan melakukan kunjungan kedokter gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan orang tua tentang pencegahan karies dan status karies murid SD kelurahan mendono kecamatan kintom kabupaten banggai. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling menurut kriteria inklusi dan eksklusi berjumlah 82 murid beserta orang tua murid. Pemeriksaan status karies dilakukan pada murid kelas 5-6 yang berumur 11-13 tahun pengisian kuesioner pada orang tua murid yang dijadikan sampel. Hasil pemeriksaan status karies pada anak umur 11-13 tahun mempunyai kategori rendah sebesar 2,08 dan pengetahuan orang tua secara keseluruhan mempunyai pengetahuan baik 93,9%. Simpulan: Pengetahuan orang tua tentang pencegahan keries berdasarkan umur, jenis kelamin dan pekerjaan menunjukkan orang tua memiliki pengetahuan baik. Status karies anak berdasarkan umur dan jenis kelamin memiliki DMF-T rendah.Kata kunci pengetahuan orang tua, pencegahan karies dan status karies
STATUS PERIODONTAL DAN KEBUTUHAN PERAWATAN PADA USIA LANJUT Lumentut, Reyna Agnes Nastassia; Gunawan, Paulina N.; Mintjelungan, Christy N.
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.2619

Abstract

Abstract: Elderly is a phase of declinemind and physical abilities caused by various degenerative diseases, environmental conditions and lifestyles. Changes that occur can lead the elderly to become susceptible to various diseases and one of it in oral is periodontal disease. The purpose of this research is to find out description of periodontal status and treatment need on elderly.This research is a descriptive research of Cross Sectional Study. The research did in the village of Ratatotok Muara with the community sample aged ≥ 55 years as many as 41 responden.Periodontal status examination performed by using an index of the WHO Community periodontal index of treatment needs (CPITN).Results showed that there was no healty periodontal, 1 person (2,44%) had bleeding on probing, 17 person (41,46%) have calculus, 19 orang (46,34%) had periodontal pocket 4-5 mm and patient with periodontal pocket ≥ 6 mm were 4 person (9,76%). Key words: Elderly, periodontal disease, CPITN.     Abstrak: Usia lanjut adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik akibat berbagai penyakit degeneratif, kondisi lingkungan serta gaya hidup. Perubahan yang terjadi mengakibatkan usia lanjut rentan terhadap berbagai penyakit termasuk penyakit periodontal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran status periodontal dan kebutuhan perawatan periodontal pada usia lanjut. Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif dengan pendekatan Study Cross Sectional.Penelitian dilakukan di desa Ratatotok Muara dengan sampel masyarakat yang berusia ≥ 55 tahun sebanyak 41 orang.Pemeriksaan status periodontal dilakukan dengan menggunakan indeks dari WHO yaitu Community index of periodontal treatment needs (CPITN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan periodontal sehat, 1 orang (2,44%) yang mengalami perdarahan pada saat probing, 17 orang (41,46%) yang memiliki karang gigi, 19 orang (46,34%) yang mengalami poket periodontal 4-5 mm dan sebanyak 4 orang (9,76%) yang mengalami poket periodontal ≥ 6 mm. Kata kunci : Usia lanjut, penyakit periodontal, CPITN.
PERBANDINGAN STATUS KEBERSIHAN GIGI DAN MULUTPADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS SLB-B DAN SLB-C KOTA TOMOHON Indahwati, Vivie; Mantik, Max F. J.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9605

Abstract

Abstract: Special need children is children with disability mental, physical, and emotion which different with the normal children, thus their more needed parents help in keeping hygene especially oral hygene. Every disability they have influenced the behaviour of special need children in keeping their oral hygiene. This study aimed to obtain the difference of oral hygiene between special needs children in SLB-B and SLB-C in Tomohon.This was a descriptive analytical study. Samples were obtained by total sampling method. This study was conducted at SLB-B GMIM Damai Tomohon and SLB-C Katolik Santa Anna Tomohon. There were 101 children in this study. The results of independent t test showed that there were significant differences between the mean value of OHI-S status at SLB-B (1.86) and the mean value OHI-S status at SLB-B ( 2.50) with a P value of <0,05. Conclusion: Oral hygiene of SLB-B children was significantly better than of SLB-C children.Keywords: oral hygiene, special need childrenAbstrak: Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang memiliki keterbatasan mental, fisik dan emosi yang berbeda dengan anak normal, sehingga mereka memerlukan bantuan dalam menjaga kebersihan diri khusunya kebersihan gigi dan mulut. Perbedaan keterbatasan yang mereka miliki, memengaruhi perilaku anak berkebutuhan khusus dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana perbedaan status kebersihan gigi dan mulut pada anak berkebutuhan khusus di SLB-B dan SLB-C kota Tomohon, Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik. Pengambilan sampel penelitian ini secara total sampling. Pengambilan data dilaksanakan di SLB-B GMIM Damai Tomohon dan SLB-C Katolik Santa Anna Tomohon. Jumlah anak dalam penelitian sebanyak 101 anak. Hasil penelitian diolah dengan uji statistik t tidak berpasangan (independent t test).Dari uji statistik diperoleh bahwa terdapat perbedaan rerata yang bermakna, antara status OHI-S SLB-B dengan nilai rata-rata 1,86 dibandingkan status OHI-S SLB-C dengan nilai rata-rata 2,50 dan nilai p<0,05. Simpulan: Rerata status kebersihan gigi dan mulut SLB-B lebih baik secara bermakna dibandingkan dengan SLB-C.Kata kunci: kebersihan gigi dan mulut, anak berkebutuhan khusus
Gambaran tindakan perawatan gigi anak di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sam Ratulangi pada tahun 2011 Cambu, Dominikus W.; Gunawan, Paulina N.; Wicaksono, Dinar A.
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.11063

Abstract

Abstract: Dental caries are often found in children around the world, especially in developing countries, including Indonesia. According to Riskesdas of North Sulawesi province in 2013, the prevalence of active dental caries in children aged 12 years in Manado was 46.3% with DMF-T index 2.9%. Some efforts should be made to prevent and reduce the high prevalence of dental and oral diseases through promotion, prevention, treatment, and rehabilitation.This study aimed to obtain a profile of the child dental care actions at the Hospital of Sam Ratulangi University in 2011. This was a retrospective descriptive study. The results showed that most dental care actions were among children aged 8 years (58 cases; 20%) compared to the other children’ ages; and tooth extraction in 125 cases (43.2%), dental care actions among boys as many as 163 cases (56.3%) meanwhile among girls 127 cases (43.6%); and extractions in 125 cases (43.2%). Most dental care actions were performed in the lower jaw region (187 cases; 65.5%), tooth extraction in 125 cases (43.2%); dental care actions in the posterior region in 196 cases (67.5%) which was more frequent than in the anterior region 94 cases(32.5%) and tooth extraction was as many as 125 cases (42.3%).Keywords: dental care, childrenAbstrak: Karies gigi banyak dijumpai pada anak-anak di seluruh dunia terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) provinsi Sulawesi Utara tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi aktif pada anak usia 12 tahun di kota manado sebesar 46,3% dengan indeks DMF-T 2,9%. Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah dan menurunkan tingginya prevalensi penyakit gigi dan mulut ini, yaitu melalui usaha promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tindakan perawatan gigi anak di RSGM Universitas Sam Ratulangi tahun 2011. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif retrospektif. Hasil penelitian menunjukkan tindakan perawatan gigi paling banyak pada anak usia 8 tahun bila dibandingkan usia anak yang lain yaitu sebanyak 58 kasus (20%) dan tindakan pencabutan gigi sejumlah 125 kasus (43,2%); tindakan perawatan gigi pada anak laki-laki sebanyak 163 kasus (56,3%) lebih banyak dari perempuan 127 kasus (43,6%); tindakan pencabutan gigi sebanyak 125 kasus (43,2%); tindakan perawatan gigi paling banyak pada regio rahang bawah sebanyak 187 kasus (65,5%) dan juga tindakan pencabutan gigi sebesar 125 kasus (43,2%); tindakan perawatan gigi pada regio posterior sebanyak 196 kasus (67,5%), lebih banyak dari regio anterior 94 kasus (32,5%) dan tindakan pencabutan gigi sebanyak 125 kasus (42,3%).Kata kunci: perawatan gigi, anak
Prevalensi stomatitis nikotina pada buruh tambang yang memiliki kebiasaan merokok Siwi, Filliany A. P.; Pangemanan, Damajanty H. C.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.15415

Abstract

Abstract: Smoking is one of the causes of death that is already known by most people. Besides that, smoking can cause several diseases in the oral cavity, inter alia nicotinic stomatitis. Although there are many bad effects of smoking, the prevalence of smokers in Indonesia is still increasing. Miners belong to the largest proportion of active smokers. This study was aimed to obtain the prevalence of nicotinic stomatitis among the miners who had smoking habit. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. This study was conducted at Ratatotok mining with a population of 1.463 miners. Subjects were 94 miners obtained by using simple random sampling. The results showed that 78.7% of subjects had nicotinic stomatitis. Based on the types of cigarette, the majority (53.3%) smoked white cigarette. Based on the duration of smoking, most subjects had smoking habbit for >20 years (38.3%). Moreover, based on the number of cigarettes smoked each day, most subjects (44.7%) smoked more than 20 cigarettes per day. Conclusion: The majority of miners that suffered from nicotinic stomatitis smoked white cigarettes, had smoking habit for more than 20 years, and smoked more than 20 cigarettes per day.Keywords: smoking habit, nicotinic stomatitisAbstrak: Rokok termasuk salah satu penyebab kematian yang umumnya telah diketahui oleh sebagian besar masyarakat. Selain penyebab kematian, rokok juga dapat menyebabkan penyakit dalam rongga mulut, salah satunya yaitu stomatitis nikotina. Meskipun banyak dampak buruk dari rokok namun prevalensi perokok di Indonesia semakin meningkat. Buruh tambang merupakan salah satu jenis pekerjaan yang mempunyai proporsi terbesar perokok aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi stomatitis nikotina pada buruh tambang yang memiliki kebiasaan merokok. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan di wilayah pertambangan Kecamatan Ratatotok dengan jumlah populasi buruh tambang yang terdaftar sebanyak 1463 orang. Subyrk pernelitian sebanyak 94 orang diperoleh dengan metode simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian dengan stomatitis nikotina sebanyak 78,7%. Subjek penelitian yang terlihat adanya stomatitis nikotina berdasarkan jenis rokok paling banyak pada subjek yang merokok dengan jenis rokok putih (55,3%). Berdasarkan lama merokok paling banyak pada subjek yang sudah merokok >20 tahun (38,3%), dan berdasarkan jumlah rokok yang dihisap setiap hari paling banyak pada subjek yang merokok >20 batang per hari (44,7%). Simpulan: Sebagian besar buruh tambang yang menderita stomatitis nikotina menghisap rokok dengan jenis rokok putih, sudah merokok selama >20 tahun, dan merokok >20 batang per hari.Kata kunci: kebiasaan merokok, stomatitis nikotina
PENGARUH PEMBERIAN JUS BUAH TOMAT (LYCOPERSICON ESCULENTUM MILL.) TERHADAP PEMBERSIHAN STAIN EKSTRINSIK PADA RESIN KOMPOSIT Ibrahim, Kartika; Kawengian, Shirley E. S.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10160

Abstract

Abstract: Discoloration of the composite resin is an aesthetic problem that often occurs primarily in anterior teeth caused by extrinsic and intrinsic factors. Bleaching is a kind of treatment that can improve the problem of composite discoloration. One of the bleaching materials oftenly used in dentistry is H2O2. H2O2 compound contained in tomatoes can be used as an alternative treatment to cope with the composite discoloration. This study aimed to determine the effect of tomato juice as extrinsic stain cleaner of the composite resin. This was a laboratory experimental study with a pre and post control group design. Samples were 20 resin composites molded in 5mm diameter and 2mm thickness. Samples were soaked in coffee solution for 10 days to get the extrinsic stain and then discoloration was measured with a spectrophotometer discoloration Libra S12 UV / Visible Biochrom. After that, samples were divided into 2 groups: the control group, immersed in mineral water; and the treatment group, immersed in tomato juice for 3 days. After immersion, measurements were done again with a spectrophotometer. The results were tested statistically using the Wilcoxon test with a P value < 0.05. Conclusion: Tomato juice was a significant extrinsic stain cleaner of the composite resin.Keywords: tomato juice, extrinsic stain, resin compositesAbstrak: Perubahan warna tumpatan komposit merupakan masalah estetik yang sering terjadi terutama pada gigi anterior yang disebabkan oleh faktor ekstrinsik dan intrinsik. Salah satu perawatan untuk menangani masalah ini ialah bleaching dengan H2O2. Senyawa H2O2 terkandung dalam buah tomat yang dapat digunakan sebagai perawatan alternatif untuk mengatasi perubahan warna komposit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus buah tomat terhadap pembersihan stain ekstrinsik pada resin komposit. Jenis penelitian ini ialah eksperimental laboratorium dengan desain pre and post control group. Jumlah sampel penelitian 20 resin komposit yang dibentuk dengan diameter 5mm dan tebal 2mm. Sampel direndam dalam larutan kopi selama 10 hari untuk melihat adanya stain ekstrinsik kemudian dilakukan pengukuran perubahan warna dengan spektrofotometer Libra S12 UV/Visible BIOCHROM. Setelah itu sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol direndam dalam air mineral dan kelompok perlakuan di dalam jus buah tomat selama 3 hari. Setelah perendaman dilakukan pengukuran kembali dengan spektrofotometer. Hasil penelitian diuji secara statistik dengan uji Wilcoxon mendapatkan nilai P < 0,05. Simpulan: Jus buah tomat berpengaruh secara bermakna terhadap pembersihan stain ekstrinsik pada resin komposit.Kata kunci: jus buah tomat, stain ekstrinsik, resin komposit
Hubungan Status Gizi dengan Erupsi Gigi Molar Pertama Permanen Rahang Bawah pada Anak Usia 6-7 Tahun di SD Negeri 12 Manado Sitinjak, Agnes C. H.; Gunawan, Paulina N.; Anindita, Pritartha S.
e-GiGi Vol 7, No 1 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.1.2019.23308

Abstract

Abstract: Nutritional status is resulted from consumption of food and use of nutrients. If nutrient intake is not fulfilled, the growth pattern of children, generally and specifically in permanent tooth eruption, would be disturbed or associated with delayed eruption. This study was aimed to determine the relationship between nutritional status and first permanent mandibular molar eruption in children aged 6-7 years at SD Negeri 12 (elementary school) Manado. This was an analytical study using a cross-sectional design. Samples were obtained by using total sampling method. This study was conducted by measuring nutritional status using BMI-for-age and by examining the 36 and 46 tooth eruption. Data were analyzed univariately and bivariately, and then were further analyzed by using the Kolmogorov-Smirnov test. Of 60 subjects, 61.7% were classified as normal nutritional status and 95% belonged to the category of erupted first permanent mandibular molar. The Kolmogorov-Smirnov test and the Fisher’s exact test showed the p-values of 0.989 and 0.275 (>0.05). Conclusion: There is no relationship between nutritional status and first permanent mandibular molars eruption in children aged 6-7 years at SD Negeri 12 Manado.Keywords: nutritional status, first permanent mandibular molars eruption Abstrak: Status gizi merupakan keadaan tubuh akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat gizi. Jika asupan zat gizi tidak terpenuhi maka pola pertumbuhan anak, baik secara umum maupun khusus pada erupsi gigi permanen akan terganggu atau terlambat erupsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan erupsi gigi molar pertama permanen rahang bawah pada anak usia 6-7 tahun di SD Negeri 12 Manado. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran status gizi melalui indeks massa tubuh (IMT/U) dan memeriksa erupsi gigi 36 dan 46. Analisa hasil penelitian menggunakan analisis univariat dan bivariat kemudian diolah menggunakan uji Chi-square. Dari 60 subyek penelitian, 61,7% tergolong status gizi normal dan 95% tergolong dalam kategori gigi molar pertama permanen rahang bawah telah erupsi. Hasil analisis bivariat terhadap hubungan antara status gizi dan erupsi gigi molar pertama permanen rahang bawah menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan uji Fisher’s exact menunjukkan nilai p=0,989 dan p=0,275 (>0,05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan erupsi gigi molar pertama permanen rahang bawah pada anak usia 6-7 tahun di SD Negeri 12 Manado.Kata kunci: status gizi, erupsi molar pertama permanen rahang bawah.
GAMBARAN KECEMASAN PENCABUTAN GIGI ANAK DI PUSKESMAS BAHU MANADO Rehatta, Vivian C.; Kandou, Joyce; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.5830

Abstract

Abstrak: Masalah dalam pencabutan gigi yang sering timbul terutama pada pasien anak merupakan suatu tantangan yang tidak akan berakhir. Banyak anak merasa cemas jika harus berkunjung ke dokter gigi karena anak merasa bahwa alat-alat yang berada di dalam tempat praktek menakutkan dan mengakibatkan rasa nyeri. Kecemasan adalah suatu keadaan atau perasaan afektif yang tidak menyenangkan yang disertai dengan sensasi fisik yang memperingatkan orang terhadap bahaya yang akan datang. Hal ini menyebabkan pasien anak menjadi cemas sehingga memengaruhi kunjungan rutin pasien anak untuk ke dokter gigi. Kecemasan dalam praktek dokter gigi merupakan halangan yang sering memengaruhi perilaku pasien dalam perawatan gigi,  terutama prosedur pencabutan gigi merupakan penyebab kecemasan dental paling tinggi yang ditakutkan pada anak-anak. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang gambaran kecemasan prosedur pencabutan gigi pada anak di Puskesmas Bahu. Metode penelitian yang dipakai bersifat deskriptif dengan menggunakan cross sectional study dan dilakukan wawancara pada orangtua beserta anak dengan menggunakan kuisoner. Rasa cemas pada penelitian ini diukur menggunakan Corah’s Dental Anxiety Scale (DAS). Hasil penelitian dari 55 sampel yang didapat, sebanyak 28 sampel ( 50,91 %) mengalami cemas berat. Sampel berjenis kelamin perempuan lebih banyak mengalami kecemasan daripada laki-laki. Penyebab kecemasan adalah cemas terhadap alat-alat yang berada di dalam tempat pratek menakutkan dan mengakibatkan rasa nyeri. Kata kunci: Kecemasan Anak, Pencabutan Gigi.     Abstract: Problems in tooth extraction which commonly occurs especially in children are one never ending challange. Most Children feel anxious to visit a dentist because they feel the equipment in the dentist office was very fraightened and causing pain.  Anxiety is an affective state or feeling of uncomfort accompanied by physical sensation that warn people of the danger ahead. This causing the children patients tend to anxious about his/her routin visit to the dentist. Anxiety in dental practice is the most common obstacle to the children patients behaviour in dental healthcare. Particularly tooth extraction is the most common dental anxiety to the children. based on the background above, the writer have enormous interest to study about the representation of anxiety in tooth extraction procedure in children at Bahu Community Healthcare Center. Rresearch method that was used is descriptive cross sectional study and inteview to the parents and children with questionaire. Anxiety feeling numbered using corah's Dental Anxiety Scale (DAS). The result 28 (50,91%) of 55 samples having hard anxiety. Sample with woman sex tend to felt more anxious compare to the man. The cause of anxiety is the fear of dental equipment in dental office and causing of feelinf pain. Keywords: Children Anxiety, Tooth Extraction.