Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Hubungan perasaan takut anak terhadap perawatan gigi dengan kebersihan gigi dan mulut di RSGM Unsrat Manado ’Allo, Chinda B. Bunga; Lampus, Benecditus S.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.13768

Abstract

Abstract: Child fear often becomes a barrier for dentists to provide optimal care. Therefore, it is important for the dentists to establish good relationship with patients, especially children. Children who have positive interaction with the dentists can handle their fears and will not be afraid to the dentists, so they are expected to have good oral hygiene. This study was aimed to analyze the relationship beetween children’s feeling of fear against dental treatment and their oral hygiene at Dental Hospital University of Sam Ratulangi. Samples were children aged 6-12 who had received dental treatment before. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Data were obtained by using questionnaires and examination of OHIS. The results showed that of the 35 respondents, 23 children (65.7%) were not afraid of dental treatment (65,7%), meanwhile 12 children (34.3%) were afraid of dental treatment. There were 28 children (80%) that preferred female dentists to male dentists menawhile 7 children (20%) were the opposites. There were 23 children (65.7%) that liked dentists who used self protective equipment and 12 children (34.3%) did not. There were 21 children (60%) that had good OHI-S and 14 children (40%) that had moderate OHI-S. The Fisher alternative test showed a sinificancy of 1.000 for 2-sided (two tail) and 0.583 for 1-sided (one tail) (p˃0.05) Conclusion: There was no relationship between children’s feelings of fear against dental treatment and oral hygiene.Keywords: feelings of fear, dental treatment, oral hygieneAbstrak: Perasaan takut dan cemas pada anak sering menjadi penghalang bagi dokter gigi untuk memberikan perawatan yang optimal. Oleh karena itu, dokter gigi perlu menjalin hubungan baik dengan pasien khususnya pasien anak. Anak yang memiliki interaksi positif terhdap dokter gigi dapat mengatasi rasa takutnya sehingga mereka tidak akan takut ke dokter gigi dan memiliki kesehatan gigi dan mulut yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara rasa takut pada anak terhadap perawatan gigi dengan kebersihan gigi dan mulut di RSGM Unsrat. Sampel penelitian ialah anak berusia 6-12 tahun yang sudah pernah menerima perawatan gigi sebelumnya. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Pengumpulan data menggunakan pengisian kuesioner dan pemeriksaan OHIS. Hasil penelitian menunjukkan dari 35 responden, yang tidak takut terhadap perawatan gigi 23 anak (65,7%) dan yang takut terhadap perawatan gigi 12 anak (34,3%). Yang memilih dirawat oleh dokter gigi perempuan 28 anak (80%) sedangkan yang memilih dirawat dokter gigi laki-laki 7 anak (20%). Yang menyukai dokter gigi menggunakan pelindung diri sebanyak 23 anak (65,7%) dan yang tidak menggunakan pelindung diri 12 anak (34,3%). Yang memiliki OHI-S baik 21 anak (60%) dan yang memiliki OHI-S sedang 14 anak (40%). Hasil uji alternatif Fisher mendapatkan nilai signifikansi 1,000 untuk 2-sided (two tail) dan 0,583 untuk 1-sided (one tail) (p ˃0,05) Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara rasa takut anak terhadap perawatan gigi dengan kebersihan gigi dan mulut.Kata kunci: perasaan takut, perawatan gigi, kebersihan gigi dan mulut
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN STATUS KARIES GIGI PADA SISWA SMP KRISTEN 67 MANADO Sambuaga, Donny A. A.; Gunawan, Paulina N.; Mantik, Max F. J.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10346

Abstract

Abstract: Children is the main target in health care especially dental and oral care. The case of dental and oral health disorders in children that often happen is dental caries. Dental caries is an infectious disease caused by demineralization of enamel and dentine that is associated with the consumption of cariogenic foods that most kids love. Children’s knowledge about dental and oral health should be introduced early on to minimize damage to the teeth and mouth. This study aims to describe the level of knowledge and status of dental caries of students in SMP Kristen 67 Bahu Manado. This research is descriptive research. The population in this study is all students aged 13-15 years old with samples of 59 students. This research was conducted by giving questionnaire and DMF-T examination. The results showed that the students' knowledge about dental and oral hygiene is 94.45% with the high category. And the results of the DMF-T Index is 2.13 with the low category. The role of parents is needed to provide an understanding of the importance of maintaining dental and oral health in children as well as taking the children on a regular basis to check the teeth and mouth.Keywords: children, knowledge, dental caries Abstrak: Anak adalah sasaran utama dalam pemeliharaan kesehatan terutama kesehatan gigi dan mulut. Gangguan kesehatan gigi dan mulut pada anak yang sering terjadi yaitu karies gigi. Karies gigi merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh demineralisasi email dan dentin yang berhubungan dengan konsumsi makanan kariogenik yang paling disukai anak-anak. Pengetahuan anak tentang kesehatan gigi dan mulut harus diperkenalkan sejak dini untuk meminimalisir kerusakan pada gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan status karies gigi pada siswa SMP Kristen 67 Bahu Manado. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deksriptif. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh siswa yang berusia 13-15 tahun dengan jumlah sampel 59 siswa. Penelitian ini dilakukan dengan memberikan kuesioner serta pemeriksaan DMF-T. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan siswa tentang kebersihan gigi dan mulut yaitu 94,45% dengan kategori tinggi. Dan hasil Indeks DMF-T sebesar 2,13 dengan kategori rendah.Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam memberikan pengertian tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak serta mengantar anak secara berkala untuk melakukan pemeriksaan gigi dan mulut.Kata kunci: anak, pengetahuan, karies gigi.
Alasan pemakaian gigi tiruan lepasan pada pasien poliklinik gigi di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Jatuadomi, .; Gunawan, Paulina N.; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.12135

Abstract

Abstract: Teeth are very important to human being. Tooth loss may caused by caries, periodontal diseases, and trauma. Tooth loss may influence the social activities. Treatment with dentures as a replacement for missing teeth is very important because it can improve the aesthetics, restore chewing mechanism, restore speech function, maintain or retain the tissue around oral cavity, maintain jaw relation, and improve the quality of human life. There are some factors that influence people to use denture, inter alia: aesthetics, social relation, function, education, and culture. This study aimed to determine the reason to use removable denture among patients of Dental Clinic Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was is a descriptive study with cross sectional design. There were 32 samples with removable dentures made in the Dental Clinic aged 17-70 years who filled the questionnaires. Data were processed and analyzed desriptively, and presented based on frequency distribution in tables. The results showed that the reasons of removable denture usage of patients were perception to substitute the missing teeth, appearance of not toothless, confidence restoration, and interaction with other people. Albeit, based on the social economics,the construction of denture need a lot of cost. Keywords: tooth loss, removable denture Abstrak: Gigi merupakan salah satu organ tubuh yang berperan penting bagi manusia. Terjadinya kehilangan gigi dapat disebabkan oleh karies, penyakit periodontal dan trauma. Kehilangan gigi dapat berpengaruh terhadap aktivitas sosial. Perawatan dengan pemakaian gigi tiruan sebagai pengganti gigi yang hilang sangat penting karna dapat memperbaiki estetik, mengembalikan mekanisme penguyahan, memulihkan fungsi bicara, memelihara atau mempertahankan jaringan sekitar mulut, relasi rahang dan meningkatkan kualitas hidup seseorang. Beberapa faktor yang memengaruhi masyarakat terhadap pemakaian gigi tiruan diantaranya estetik, sosial, fungsional, pendidikan dan faktor kebudayaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan pemakaian gigi tiruan lepasan pada pasien Poliklinik Gigi di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian diperoleh dengan metode total sampling. Terdapat 32 pasien yang membuat gigi tiruan lepasan di Poliklinik Gigi, berusia 17-70 tahun, dan bersedia mengisi kuisioner. Data diolah dan dianalisis secara deskriptif kemudian disajikan berdasarkan distribusi frekuensi dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan pemakaian gigi tiruan lepasan pada pasien di Poliklinik Gigi berdasarkan persepsi yang paling sering muncul yaitu memakai gigi tiruan bisa menggantikan gigi yang hilang; berdasarkan penampilan yaitu tidak ingin terlihat ompong, mengembalikan rasa percaya diri serta agar tidak merasa malu berinteraksi dengan orang lain. Berdasarkan sosial ekonomi pembuatan gigi tiruan membutuhkan biaya yang besar.Kata kunci: kehilangan gigi, gigi tiruan lepasan
Hubungan konsumsi jajanan dan status karies gigi siswa di SMP NEGERI 1 Tareran Wawointana, Iwan P.; Umboh, Adrian; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.10761

Abstract

Abstract: Dental caries is caused by email and dentin demineralization. In general, school age children have a high caries risk because they like to consume cariogenic foods. This was a descriptive analytical study with a cross sectional approach. This study aimed to obtain the relationship between cariogenic food consumption and dental caries status among students of SMP Negeri 1 Tareran.The whole study population as many as 258 students were used as samples. Primary data consisted of the dental caries examination to obtain the number of dental caries status (DMF-T) and of the questionnaire by using Food Frequency Questionnaire (FFQ) to obtain the consumption of cariogenic foods. The results showed that cariogenic food consumption of the majority of students in SMP Negeri 1 Tareran was categorized as occasionally which meant several times weekly. Dental caries status of the students belonged to the low category with an average DMF-T 1,82 which meant each student had two caries teeth. The statistical test showed that there was a relationship between consumption of cariogenic food and dental caries status.Keywords: consumption of cariogenic foods, dental caries statusAbstrak: Karies gigi merupakan penyakit yang disebabkan oleh demineralisasi email dan dentin. Anak-anak usia sekolah umumnya berisiko tinggi terhadap karies karena mereka memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan kariogenik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi jajanan dan status karies gigi di SMP Negeri 1 Tareran. Populasi penelitian yaitu seluruh murid di SMP Negeri 1 Tareran yang berjumlah 258. Sampel diambil dengan menggunakan metode total sampling. Pengambilan data primer yaitu pemeriksaan karies gigi untuk melihat status karies gigi (DMF-T) dan pengisian kuesioner dengan menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk melihat konsumsi jajanan pada siswa di SMP Negeri 1 Tareran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi jajanan sebagian besar siswa SMP Negeri 1 Tareran termasuk dalam kategori kadang-kadang yakni beberapa kali dalam seminggu. Status karies gigi siswa SMP Negeri 1 Tareran termasuk dalam kategori rendah dengan rata-rata DMF-T 1,82 yang artinya siswa mengalami karies rata-rata 2 gigi. Hasil uji statistik yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat hubungan konsumsi jajanan dan status karies gigi.Kata kunci: konsumsi jajanan, status karies gigi
STATUS KEBERSIHAN MULUT ANAK USIA 9-11 TAHUN DAN KEBIASAAN MENYIKAT GIGI MALAM SEBELUM TIDUR DI SDN MELONGUANE Sampakang, Trisye; Gunawan, Paulina N.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.6406

Abstract

Abstrack: Children at primary school age need more attention because the risk of oral health problems. One way to maintain oral health is brushing your teeth before going to bed which plays an important role in preventing the development of bacteria that can cause tooth decay. Oral hygiene is measured by an examination of OHI-S by Green and Vermillion.This study was conducted to determine how the oral hygiene status of children aged 9-11 years by brushing at night before bed. This study is a descriptive study using purposive sampling method. The number of samples was 135 children aged 9-11 years consist of 53 children brushing their teeth at night before bed and 82 children who do not brush at night before bed. Results from this study showed 53 respondent brushing their teeth at night before bed and 82 respondent do not brush at night before bed. From children who brush their teeth at night before bed, 36 respondent had good OHI-S category and 1 has poor category. It showed that more than half of the children aged 9-11 years old who brush their teeth night before bed had a good OHI-S category which is 36 of 53 respondent.Keywords: OHI-S, brushing teeth at night before bedtime, oral hygieneAbstrak: Anak usia sekolah dasar perlu mendapat perhatian lebih karena rentan terhadap gangguan kesehatan gigi dan mulut. Salah satu cara menjaga kesehatan gigi dan mulut yaitu menyikat gigi sebelum tidur yang berperan penting dalam pencegahan perkembangan bakteri yang dapat menyebabkan kerusakan gigi. Kebersihan gigi dan mulut diukur dengan pemeriksaan OHI-S menurut Green dan Vermillion. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui status kebersihan mulut anak usia 9-11 tahun menurut kebiasaan menyikat gigi malam sebelum tidur. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode pengambilan sampel purposif. Jumlah sampel 135 anak berusia 9-11 tahun yang terdiri dari 53 anak yang menyikat gigi malam sebelum tidur dan 82 anak yang tidak menyikat gigi malam sebelum tidur. Dari penelitian ini diperoleh 53 (39,26%) responden yang menyikat gigi malam sebelum tidur dan 82 (60,74%) responden yang tidak menyikat gigi malam sebelum tidur. Didapat 36 responden dengan kategori OHI-S baik dan 1 responden yang memiliki kategori OHI-S buruk pada responden yang menyikat gigi malam sebelum tidur. Dapat dilihat status kebersihan mulut anak usia 9-11 tahun menunjukkan lebih dari setengah responden yang menyikat gigi malam sebelum tidur memiliki kategori OHI-S baik yaitu 36 dari 53 responden.Kata kunci: OHI-S, menyikat gigi malam sebelum tidur, kebersihan mulut
PENGARUH KONSUMSI APEL (Pyrus malus) TERHADAP INDEKS DEBRIS PADA ANAK USIA 9 TAHUN DI SD KATOLIK ST. THERESIA MALALAYANG Seajima, Oktaviana I.; Gunawan, Paulina N.; ., Juliatri
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9635

Abstract

Absract: Oral hygiene andpoor food consumption patterns can lead to dental caries. One of the contributing factors that cause dental caries is debris or remnants of food stuck in the teeth. Consumption of fresh fruit and rich in vitamins, minerals, fiber and water can launch itself to the teeth cleaning. Apples are one of the fruits that can clean teeth from leftovers. Apple has a tannin which serves to clean and freshen the mouth, thus preventing caries and gingival disease. The purpose of this study was to determine the effect of consumption of apple (Pyrus malus) against the index debris in children aged 9 years in Catholic Elementary School St. Theresia Malalayang. This study was an experimental study with quasi-experimental design to approach pre and post-test treatment. The population was all students aged 9 years old in Catholic Elementary School St. Theresia Malalayang. Sampling was done by total sampling method amounted to 46 samples. Based on the results obtained in the experimental group the average value of the difference debris index of 1.07 and in the control group the average value of the difference debris index of 0.26. Hypothesis testing using the Mann-Whitney test p = 0.000 (p <0.05). Results of this study indicate that there are significant differences between early and late debris difference index in the experimental group and control group. Thus it can be concluded apple consumption influence the index debris in children aged 9 years in Catholic Elementary School St. Theresia Malalayang.Keywords: apple, debris index.Abstrak: Kebersihan gigi dan mulut serta pola konsumsi makanan yang kurang baik dapat mengakibatkan karies gigi.Salah satu faktor pendukung yang menyebabkan terjadinya karies gigi yaitu debris atau sisa-sisa makanan yang menempel pada gigi. Konsumsi buah segar dan kaya akan vitamin, mineral, serat dan air dapat melancarkan pembersihan sendiri pada gigi.Apel merupakan salah satu buah yang dapat membersihkan gigi dari sisa makanan.Buah apel memiliki kandungan tannin yang berfungsi membersihkan dan menyegarkan mulut, sehingga dapat mencegah karies gigi dan penyakit gingiva.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsumsi apel (Pyrus malus) terhadap indeks debris pada anak usia 9 tahun di SD Katolik St. Theresia Malalayang.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan eksperimental semu dengan pendekatan pre dan post-test perlakuan.Populasi pada penelitian adalah seluruh siswa SD Katolik St. Theresia Malalayang yang berusia 9 tahun.Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling berjumlah 46 sampel.Berdasarkan hasil penelitian pada kelompok eksperimen didapatkan nilai selisih rata-rata indeks debris sebesar 1,07 dan pada kelompok kontrol nilai selisih rata-rata indeks debris sebesar 0,26. Uji hipotesis menggunakan uji mann-whitney nilai p = 0,000 ( p< 0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara selisih indeks debris awal dan akhir pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Dengan demikian dapat disimpukan terdapat pengaruh konsumsi apel (Pyrus malus) terhadap indeks debris pada anak usia 9 tahun di SD Katolik St. Theresia MalalayangKata kunci: apel, indeks debris.
Hubungan Status Gizi dengan Karies pada Gigi Molar Pertama Bawah Permanen pada Anak Usia 6-8 Tahun di SDN 36 Manado Aulia, Avita; Gunawan, Paulina N.; Kawengian, Shirley E. S.
e-GiGi Vol 7, No 1 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.1.2019.23307

Abstract

Abstract: Caries is the presence of a cavity on the tooth caused by the activity of microorganism on fermented carbohydrate. Nutritional status is resulting from food consumption, which is one of the factors that influence the occurence of dental caries. This study was aimed to obtain the relationship between nutritional status and caries in permanent lower first molar among students of SDN 36 (elementary school) Manado. This was an analytical study using a cross sectional design. There were 48 students at SDN 36 Manado aged 6-8 years in this study obtained by using total sampling technique. We used the nutritional status based on length-for-age and BMI-for-age using the z-scores WHO anthropometrical standards for children aged 5-18 years and examined the oral cavity whether there was caries in permanent lower first molars. The results showed that caries in permanent lower first molars was found in 77.1% of subjects. Nutritional status based on length-for-age showed normal category (83.3%) and short stature/stunted (16.7%). The nutritional status based on BMI-for-age showed obese category (22.9%), overweight (8.3%), normal (60.5%), wasted (8.3%), and severely wasted (0.0%). The Fisher’s Exact test and the Chi-Square test showed that the relationship between length-for-age and the occurence of caries had a p-value of 1,000 meanwhile the relationship between nutritional status based on BMI-for-age and the occurence of caries had a p-value of 0.024. Conclusion: There was a significant relationship between nutritional status based on BMI-for-age and caries in the permanent lower first molars in children aged 6-8 years at SDN 36 Manado.Keywords: dental caries, permanent lower first molar, nutritional status Abstrak: Karies adalah adanya rongga pada yang disebabkan oleh aktivitas jasad renik terhadap karbohidrat yang dapat diragikan. Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan, yang menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi proses terjadinya karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan karies gigi molar pertama bawah permanen pada anak usia 6-8 tahun di SDN 36 Manado. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling terhadap seluruh siswa di SDN 36 Manado berusia 6-8 tahun pada tahun 2019 yang berjumlah 48 orang. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran status gizi TB/U dan IMT/U berdasarkan SD dengan standar baku antropometri WHO untuk anak usia 5-18 tahun serta pemeriksaan rongga mulut untuk melihat ada tidaknya karies pada gigi molar pertama bawah permanen. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapatnya karies pada gigi molar pertama bawah permanen sebesar 77,1% subyek. Status gizi berdasarkan TB/U didapatkan subyek kategori normal (83,3%) dan pendek/stunted (16,7%). Status gizi berdasarkan IMT/U didapatkan kategori obesitas (22,9%), gemuk (8,3%), normal (60,5%), kurus (8,3%), serta sangat kurus (0,0%). Hasil uji Fisher’s Exact dan uji Chi-Square menunjukkan untuk TB/U nilai p=1,000 sedangkan untuk IMT/U nilai p=0,024. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara status gizi berdasarkan IMT/U dengan karies gigi molar pertama bawah permanen pada anak usia 6-8 tahun di SDN 36 Manado.Kata kunci: karies gigi, molar pertama bawah permanen, status gizi
PREVALENSI KARIES GIGI MOLAR SATU PERMANEN PADA ANAK UMUR 6-9 TAHUN DI SEKOLAH DASAR KECAMATAN TOMOHON SELATAN Liwe, Marsela; Mintjelungan, Christy N.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9833

Abstract

Abstract: In children, caries occurs mostly at the age of 6 to 9 years. At the age of 6 years permanent molar teeth begin to erupt, therefore, they are more susceptible to caries. Moreover, at the age of 9 years, a period of mingled teeth where the number of permanent teeth and of the milk teeth are nearly the same. This study aimed to obtain the prevalence of dental caries of the first permanent molar among students of elementary schools in South Tomohon. This was a descriptive study with a cross-sectional design. The population of this study was 72 students aged 6-9 years old. Samples were obtained by using total sampling method. Primary data were obtained by examination of the teeth and mouth. The results showed that the prevalence of caries among students of elementary schools in South Tomohon was 68.1% (49 students). Based on gender, caries were most frequent among males (68.4%). Based on age, caries were most frequent among students of 8 years old (79.2%). Based on tooth element, tooth 36 had the highest incidence of caries (37.2%). Based on the severity of caries, dentine caries was the most frequent (46.51%).Keywords: dental caries, the first permanent molarAbstrak: Karies merupakan penyakit yang banyak menyerang anak-anak terutama umur 6 sampai 9 tahun. Pada umur 6 tahun gigi molar permanen sudah mulai tumbuh sehingga lebih rentan terkena karies dan umur 9 tahun merupakan periode gigi bercampur dimana jumlah gigi permanen dan gigi sulung dalam rongga mulut hampir sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi karies gigi molar satu permanen pada anak di SD kecamatan Tomohon Selatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan potong lintang. Populasi penelitian yaitu anak umur 6 - 9 tahun di SD kecamatan Tomohon Selatan dengan jumlah 72 orang. Sampel penelitian digunakan total sampling. Metode pengambilan data secara primer yaitu dengan pemeriksaan gigi dan mulut. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi karies pada anak-anak di SD kecamatan Tomohon Selatan mencapai 68,1% dengan jumlah 49 anak. Berdasarkan jenis kelamin angka kejadian karies tertinggi didapatkan pada anak laki-laki mencapai 26 anak (68,4%). Berdasarkan usia angka kejadian karies tertinggi didapatkan pada usia 8 tahun mencapai 19 anak (79,2%). Berdasarkan elemen gigi, gigi 36 merupakan yang paling tinggi angka kejadian kariesnya yaitu 32 gigi (37,2%) dan berdasarkan tingkat keparahan karies kejadian karies dentin yang paling tinggi yaitu mencapai 40 gigi (46,51%).Kata kunci: karies gigi, molar satu permanen
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG TAMPILAN MALOKLUSI PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KRISTEN 67 IMANUEL BAHU Djunaid, Ahmad; Gunawan, Paulina N.; Khoman, Johanna A.
e-GiGi Vol 1, No 1 (2013): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.1.2013.1926

Abstract

Abstract: Malocclusion is a condition that deviates from normal occlusion include irregularity of the teeth in the dental arch such as crowding, protrusif, malposition and harmonious relationship with the opposing teeth. Occurrence of malocclusion in children will lead to many problems such as including impaired of mastication, speech processing as well as aesthetic problems socially impaired. The purpose of this study to describe the knowledge of malocclusion in junior high school 67 Christian Immanuel Bahu. The research is descriptive and sampling method with a total sampling methods. Retrieval of data to find a picture of malocclusions knowledge gained by means of questionnaires by a sample of 88 students. Knowledge of the research lookscale photographs by AC of IOTN in accordance with the composition of his teeth with persentse 44.31%, knowledge of tooth arrangement in accordance with the profile picture based on the percentage of 54.55% and a knowledge of  treatment  needs  in  accordance  with  the  percentage  of  23.87% appropriate Treatment needs. Keywords: knowledge, malocclusion.     Abstrak: Maloklusi merupakan keadaan yang menyimpang dari oklusi normal meliputi ketidakteraturan gigi-geligi dalam lengkung rahang seperti gigi berjejal, protrusif, malposisi maupun hubungan yang tidak harmonis dengan gigi antagonisnya. Terjadinya maloklusi pada anak akan mengakibatkan banyak masalah diantaranya gangguan pengunyahan, proses bicara serta masalah pergaulan karena estetik yang terganggu. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang maloklusi pada siswa SMP Kristen 67 Imanuel Bahu. Penelitian bersifat deskriptif dan cara pengambilan sampel dengan metode total sampling. Pengambilan data untuk mengetahui gambaran pengetahuan tentang maloklusi diperoleh dengan cara pengisian kuesioner oleh sampel yang berjumlah 88 siswa. Hasil penelitian didapatkan data pengetahuan tampilan berdasarkan skala fotograf AC dari IOTN sesuai dengan susunan giginya dengan persentse 44,31%, pengetahuan tentang susunan gigi sesuai berdasarkan foto profil dengan persentase 54,55% dan pengetahuan tentang kebutuhan perawatan dengan persentase 23,87% sesuai dengan kebutuhan perawatan. Kata kunci: pengetahuan, maloklusi.
Pengaruh konsumsi semangka (Citrullus lanatus) dalam menurunkan indeks debris pada anak usia 8-10 tahun Lusnarnera, Rafi; Tendean, Lydia E. N.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 4, No 1 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.1.2016.11484

Abstract

Abstract: Fresh fruit consumption which is rich in vitamins, minerals, fibers, and water can expedite tooth self cleansing, therefore, debris width surface can be decrease. Watermelon is one of favorable fruits with sweet taste. Watermelon contains 91.45 g water and 0.4 g fiber every 100 g of watermelon flesh. Debris affects the occurrence of caries. According to Basic Health Research (RISKESDAS) in 2013, dental and oral health problems, specifically in North Sulawesi, were 31.6%; caries in North Sulawesi was 5.4%. Preventive efforts towards caries among children must be done systematically and as early as possible. Age category 8th – 10th is the most critical on the occurrence of caries. This study aimed to find out whether watermelon consumption can decrease debris index among children aged 8-10 years old. This was an experimental study with a pre-experimental design one-shot case study and a pre-test and post-test approach. This study was conducted at SDN 118 Manado, with a total population of 38 students. Samples were obtained by using the total sampling method. Based on the Wilcoxon test, the significance probability value was p = 0.000 which meant that there was a significant difference between debris index before and after watermelon consumption. Conclusion: Watermelon consumption can decrease debris index among children aged 8-10 years.Keywords: watermelon, debris index, childrenAbstrak: Konsumsi buah yang segar dan kaya akan vitamin, mineral, serat dan air dapat melancarkan pembersihan sendiri pada gigi, sehingga luas permukaan debris dapat dikurangi. Semangka merupakan buah yang banyak disukai karena rasanya yang manis. Dalam semangka terkandung kadar air yang cukup tinggi yaitu 91,45 g dan kadar serat sebesar 0,4 gr tiap 100 g daging buah semangka. Debris berpengaruh cukup besar terhadap proses terjadinya karies. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2013, masalah gigi dan mulut khususnya di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 31,6%, dan yang mengalami karies gigi sebesar 5,4%. Upaya preventif pada anak diperlukan untuk mengatasi karies gigi serta dilakukan secara sistematis dan sedini mungkin. Usia 8-10 tahun merupakan kelompok usia yang kritis terhadap terjadinya karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mengonsumsi semangka dalam menurunkan indeks debris pada anak usia 8-10 tahun. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan pra-eksperimental jenis one-shot case study dan pendekatan pre dan post-test perlakuan. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 118 Manado dengan populasi sebanyak 38 siswa. Sampel penelitian ini didapatkan dengan teknik total sampling. Berdasarkan uji Wilcoxon nilai probabilitas signifikansi p = 0,000 yang artinya terdapat perbedaan bermakna antara selisih indeks debris sebelum konsumsi semangka dan setelah konsumsi semangka. Simpulan: Konsumsi semangka dapat menurunkan indeks debris pada anak usia 8-10 tahun.Kata kunci: buah semangka, indeks debris