Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Penambahan ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val) cair terhadap karakteristik organoleptik dan kandungan antioksidan krispi bayam (crispy spinach) Hari Hariadi; Asysyifa Riana; Tisya Aisyah Chaerunnisa; Suseno Amien; Yusep Ikrawan; Triana Ulfah; Judiono Judiono; Cahya Edi Wahyu Anggara; Ilman Wibawa; Widiawati Widiawati; Duhita Diantiparamudita Utama
Composite : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 5 No 2 (2023): Agustus
Publisher : University of Insan Cendekia Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37577/composite.v5i2.582

Abstract

The human immune system can protect the body from bacteria, viruses, and parasites that cause disease. The immune system becomes more active when enough amounts of macro and micro nutrients are consumed. Antioxidants can also guard against the attack of free radicals and radical chemicals found in the body, limiting the damage caused by the oxidation process. One of them is using turmeric and spinach extract as a supplement. Turmeric extract can be used in the production of crispy spinach cookies. The research was purposed to find out the effect of turmeric extract addition on organoleptic characteristics and antioxidant content crispy spinach. This research used a Experimental research design (Pre-Experimental Design) with three treatments consisting of the addition of 50 ml, 60 ml, and 70 ml of turmeric extract. All three formulations were conducted hedonic tests for know the best formulation, followed by antioxidant content (DPPH method), carbohydrate content (method by different), protein content (Kjedahl), and fat content (Soxhlet). Furthermore, economic analysis and product ranking are carried out. Formulation 3 was chosen because of the highest nutritional content. Keywords: crispy spinach, immunity, turmeric extract
Induction of Ploidy Level on Three Patchouli (Pogostemon cablin Benth) Cultivars by Colchicine In Vitro Amien, Suseno; Darmawan, Nikkita Putri; Fathya, Daniya
Kultivasi Vol 22, No 2 (2023): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v22i2.48436

Abstract

Patchouli plants produce essential oils and are used as a raw material and fixative agent for perfumes. The most widely cultivated patchouli plant in Indonesia is Aceh patchouli. Sexual propagation in Aceh patchouli plants is impossible as it does not flower. Genetic diversity can be elevated through another method, such as polyploidy induction using colchicine. This research aimed to evaluate the state-of-the-art application of polyploidization techniques as a breeding tool for callus-based explants. A completely randomized design with a factorial pattern was used in this experiment consisting of two factors, patchouli cultivars (Sidikalang, Tapak Tuan, and Lhokseumawe) and colchicine concentration (0.0%, 0.2%, 0.5%, 0.7%, and 1%).  The result showed an interaction between three patchouli cultivars with colchicine concentration on callus size and color characters. In Sidikalang cultivar, 0.2% colchicine concentration affects the character of callus emergence time and has more buds. In cultivar Tapak Tuan, the application of colchicine 0.2% affects the callus size character and has the highest number of buds. In the Lhokseumawe cultivar, giving 0.5% colchicine affects the character of callus appearance time, callus size, and callus color. Concentrations of 0.2% and 1.0% colchicine in Sidikalang and Tapak Tuan calluses increased the number of chromosomes, ranging from 2n (32), 3n (48), and 4n (64). The implication of the research could be disclosure of an opportunity to create a new superior variety.
Embriogenesis Somatik Beberapa Kultivar Seledri (Apium graveolens L.) pada Beberapa Konsentrasi Sukrosa dengan Media Dasar Gamborg B5 Utamy, Aisya Fitrianty Dwi; Amien, Suseno; Karuniawan, Agung
Zuriat Vol 33, No 1 (2022): Mei, 2022
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v33i1.52966

Abstract

Embriogenesis somatik dapat menjadi metode pilihan untuk memperbanyak tanaman hasil program pemuliaan tanaman seledri. Penelitian ini bertujuan memperoleh genotip dan penambahan konsentrasi sukrosa yang terbaik untuk memperoleh embriogenesis somatik seledri. Percobaan dilakukan di Laboratorium Teknologi Kultur Jaringan Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Dilaksanakan mulai bulan Desember 2016 sampai Desember 2017. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah tiga kultivar seledri yaitu Amigo, Moyang dan Tall Utah. Faktor kedua adalah penambahan konsentrasi sukrosa yang terdiri dari 1% sebagai cek, 1.5%, 3% dan 4.5%. Media dasar yang digunakan yaitu media Gamborg B5 dengan penambahan zat pengatur tumbuh 2.4 D 1 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi dan pengaruh mandiri dari kultivar dan penambahan konsentrasi sukrosa berpengaruh pada embriogenesis somatik. Kultivar Moyang dengan penambahan konsentrasi sukrosa 1% adalah yang terbaik karena unggul dalam pertumbuhan ukuran kalus, jumlah tunas,  jumlah akar dan jumlah daun.
Pendugaan Parameter Genetik Karakter Komponen Hasil dan Hasil Hanjeli (Coix lacryma-jobi L.) di Jatinangor Qosim, Warid Ali; Ningtias, Utarie Ayu; Zubair, Anas; Damayanti, Farida; Wicaksono, Fiky Yulianto; Rachmadi, Meddy; Amien, Suseno
Zuriat Vol 34, No 2 (2023): September, 2023
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v34i2.49820

Abstract

Hanjeli merupakan tanaman serealia yang potensial dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif. Keberhasilan proses seleksi diperlukan untuk memperoleh varietas hanjeli berdaya hasil tinggi. Evaluasi karakter komponen hasil dan hasil pada tanaman hanjeli dapat diketahui melalui pendugaan parameter genetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai variabilitas genetik, heritabilitas, serta korelasi antar karakter komponen hasil dan hasil. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, pada bulan Maret sampai bulan Agustus tahun 2022. Perlakuan terdiri dari 21 genotipe hanjeli dan tiga genotipe cek yang disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai variabilitas genetik sempit pada karakter yang diamati kecuali jumlah biji pertanaman dan umur panen. Nilai heritabilitas menunjukkan kategori sedang dan rendah. Nilai heritabilitas sedang terdapat pada karakter tinggi tanaman, berat 100 biji, jumlah biji pertanaman, umur berbunga dan umur panen. Karakter bobot biji pertanaman berkorelasi positif nyata dengan jumlah biji pertanaman dan hasil panen perhektar. Karakter tinggi tanaman berkorelasi positif nyata dengan jumlah srisip, jumlah ruas, diameter batang dan umur berbunga. Karakter diameter batang berkorelasi positif nyata dengan jumlah daun. Korelasi negatif terdapat pada karakter jumlah biji per tanaman dengan bobot 100 biji. Karakter jumlah biji pertanaman dapat digunakan sebagai kriteria seleksi karena memiliki variabilitas genetik yang luas serta berkorelasi nyata positif dengan hasil panen.
The effect of various doses of gamma ray irradiation on growth and chlorophyll changes of three adlay genotypes Qosim, Warid Ali; Anas, Anas; Amien, Suseno; Rachmadi, Meddy; Ramdani, Sidik; Islami, Romi Zamhir
Kultivasi Vol 23, No 2 (2024): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v23i2.55619

Abstract

Adlay has great potential to be developed into an alternative food source in Indonesia because it contains carbohydrates and high fat. The aim was to effect of various doses of gamma-ray irradiation on growth,chlorophyll changes, and determination of lethal dose (LD50) three adlay genotypes in M1 generation. This study was conducted by using the experimental quantitative method without design. The material used consists of three adlay genotypes, including genotypes #28, #37, and #38. The seeds were treated with 0 Gy (control), 100 Gy, 200 Gy, 300 Gy, 400 Gy, and 500 Gy doses of gamma-ray irradiation by the Research Center for Radiation Process Technology, the National Research and Innovation Agency using Gamma Cell 220. The research was conducted at the Faculty of Agriculture Experimental Station, Universitas Padjadjaran, from December 2017 to July 2018. The  LD50 was calculated by the curve-fitting analysis program based on characters of survival percentage, height seedling, root length, and appearance of leaf chlorophyll change in the three adlay genotypes. The results showed that the treatment of gamma-ray irradiation gave a diverse response to characters of survival percentage, height seedling and rooting length of the three adlay genotypes. There were LD50 for each genotype, 346 Gy for genotype #28, 381 Gy for genotype #37, and 371 Gy for genotype #38. The optimum dose of gamma-ray irradiation for the three adlay genotypes was 300 Gy. The appearance of chlorophyll change leaf the three adlay genotypes caused by gamma ray irradiation treatments with doses of 100 - 500 Gy were able to produce variation in the spectrum and frequency of different chlorophyll change in the M1 generation, the irradiation treatment of 400 Gy dose was able to make the highest frequency of chlorophyll mutations with a total frequency of 46.28%. Meanwhile, the gamma-ray irradiation treatment of 300 Gy produced the broadest chlorophyll mutant spectrum with 6 types of chlorophyll change consisting of tigrina, striata, viridis, variegata, maculata and albina green.
PEMANFAATAN KEANEKARAGAMAN HAYATI LOKAL SEBAGAI SUMBER PENDAPATAN MASYARAKAT PESISIR PANGANDARAN Sobarna, Cece; Amien, Suseno; Afsari, Asri Soraya
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 3 (2024): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v7i3.45868

Abstract

The Dahon plant (Nypa Rruticans) is a multipurpose plant whose existence has begun to be threatened today along with the rapid development of tourist destinations in Pangandaran. The lack of development of dahon sugar craftsmen in Pangandaran considering that the process of making dahon sugar requires special skills and perseverance whereas community resources in Parapat Hamlet are quite potent. This community service program aims to provide skills to process dahon plants into sugar for prospective groups of dahon craftsmen regularly. Service activities are carried out through counseling techniques and direct practice. The counseling carried out was in the form of providing motivational materials and counseling on post-harvest cultivation and nipah processing, as well as the practice of making dahon sugar. After counseling and practice of making dahon sugar to the target partners of the Berkah Nipah Self-Help Group, it appears that there are positive and encouraging developments for the target partners, as follows: (1) the target partners get additional insight and knowledge about the functions and benefits of the nipah plant scientifically, ( 2) target partners get new experience in the practice of making dahon sugar, (3) target partners are optimistic and enthusiastic to continue making dahon sugar in Parapat Hamlet, Pangandaran, and (4) knowledge and abilities of Mr. Sarli as an instructor can finally be lowered to young people. Through the results of this service activity, it is hoped that new dahon craftsmen will emerge and the ongoing development of the younger generation an ongoing basis.ABSTRAK Tanaman Dahon (Nypa Rruticans) merupakan tanaman serba guna yang keberadaannya mulai terancam saat ini seiring dengan pesatnya perkembangan destinasi wisata di Pangandaran. Kurangnya pengembangan pengrajin gula dahon di Pangandaran mengingat proses pembuatan gula dahon memerlukan keterampilan dan ketekunan khusus padahal sumber daya masyarakat di Dusun Parapat cukup potensial. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan keterampilan mengolah tanaman dahon menjadi gula bagi calon kelompok pengrajin dahon secara rutin. Kegiatan pengabdian dilakukan melalui teknik penyuluhan dan praktek langsung. Penyuluhan yang dilakukan berupa pemberian materi motivasi dan penyuluhan budidaya pasca panen dan pengolahan nipah, serta praktik pembuatan gula dahon. Setelah dilakukan penyuluhan dan praktek pembuatan gula dahon kepada mitra binaan Kelompok Swadaya Berkah Nipah, terlihat adanya perkembangan yang positif dan menggembirakan bagi mitra binaan, sebagai berikut: (1) mitra binaan mendapatkan tambahan wawasan dan pengetahuan tentang fungsi dan manfaat tanaman nipah secara ilmiah, (2) mitra binaan mendapatkan pengalaman baru dalam praktek pembuatan gula dahon, (3) mitra binaan optimis dan antusias untuk terus membuat gula dahon di Dusun Parapat, Pangandaran, dan (4) ilmu dan kemampuan Pak Sarli sebagai instruktur akhirnya bisa diturunkan ke generasi muda. Melalui hasil kegiatan pengabdian ini diharapkan akan muncul pengrajin-pengrajin dahon baru dan pembinaan generasi muda secara berkesinambungan.
Induksi Perakaran dan Aklimatisasi pada Mutan Manggis (Garcinia mangostana L.) Qosim, Warid Ali; Zubair, Anas; Rachmadi, Meddy; Amien, Suseno
Zuriat Vol 35, No 2 (2024): September, 2024
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v35i2.58452

Abstract

Tujuan penelitian induksi perakaran dan aklimatisasi planlet manggis yang dapat digunakan dalam pengembangkan (pemuliaan tanaman) tanaman manggis in vitro dan perbanyakan tanaman. Penelitian dirancang dalam dua eksperimen, yaitu: (1) induksi perakaran dengan berbagai konsentrasi IBA, (2) komposisi media tanam untuk aklimatisasi mutan manggis. Percobaan 1. Planlet mutan manggis berasal dari perlakuan etil metan sulfonat (EMS) tersebut ditransfer ke medium perakaran, yaitu medium WPM yang berisi 3 % sukrosa dan 8 % agar.  Perlakuan perakaran adalah konsentrasi IBA yaitu: 0 mg/l (MS0/kontrol); 1.0 mg/l; 2.5 mg/l; 5.0 mg/l; 7.5 mg/l; 10 mg/l IBA. Percobaan ditata dalam RAL (rancangan acak lengkap)  terdiri dari  enam perlakuan IBA,  masing-masing perlakuan diulang 15 kali (botol), setiap botol kultur terdiri dari satu planlet mutan.  Kultur dipelihara pada ruang kultur dengan penyinaran 16 jam terang pada suhu 22 oC. Subkultur dilakukan setiap empat minggu. Pengamatan dilakukan terhadap kultur yang memunculkan akar, jumlah akar, dan panjang akar. Percobaan 2; media aklimatisasi planlet mutan manggis dilakukan dengan menggunakan media arang sekam, pakis dan kascing.  Media tanam aklimatisasi ditempatkan pada gelas plastik. Setiap perlakuan media aklimatisasi terdiri dari sepuluh tanaman. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi IBA dapat berpengaruh terhadap induksi perakaran pada mutan manggis. Konsentrasi IBA optimum untuk induksi perakaran pada planlet mutan manggis adalah 7.5 mg/l berdasarkan karakter persentase planlet membentuk akar, jumlah akar dan panjang akar. Media tanam untuk aklimatisasi planlet mutan manggis dapat berpengaruh terhadap pertambahan tinggi tanaman dan panjang akar. Media yang cocok untuk aklimatisasi planlet mutan manggis adalah medium kascing.
Heterologous expression of maize-derived antimicrobial peptide ZmES4 in Escherichia coli for potential plant pathogen control Amien, Suseno; Nurdiana, Dadi; Istifadah, Noor; Wicaksana, Noladhi; Salsabila, Haifanisa
Kultivasi Vol 24, No 1 (2025): Jurnal Kultivasi
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kultivasi.v24i1.62598

Abstract

ZmES4 is a plant-derived antimicrobial peptide (AMP) from maize that shows promise as a biocontrol agent against plant pathogenic organisms. In the context of growing challenges in sustainable agriculture, AMPs like ZmES4 represent innovative alternatives to chemical pesticides. This study focuses on the structural characterization and heterologous expression of the ZmES4 peptide in Escherichia coli (E. coli). The gene encoding ZmES4 was obtained from the maize female gametophyte (NCBI Reference Sequence: NM_001112150.3) and cloned into the pET24d(+) expression vector using NcoI and XhoI restriction sites. Transformation into E. coli BL21 (DE3) cells enabled recombinant expression upon induction with isopropyl β-D-1-thiogalactopyranoside (IPTG). Sodium dodecyl sulfate-polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) and Bradford assays confirmed the expression of ORF-ZmES4, with protein concentrations ranging from 14.647 to 63.606 mg/mL. The successful expression of ZmES4 in E. coli highlights its potential application as a recombinant AMP for future plant disease management strategies.
INDUKSI KALUS LIMA KULTIVAR SELEDRI (Apium graveolens L.) DENGAN SUKROSA DAN BERBAGAI KONSENTRASI MALTOSA Humaira, Adinda; Amien, Suseno
Agrin Vol 23, No 1 (2019): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.727 KB) | DOI: 10.20884/1.agrin.2019.23.1.413

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon berbagai kultivar seledri terhadap induk sikalus dengan menggunakan sukrosa dan maltosa. Percobaan dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri atas dua faktor dan diulang tiga kali. Faktor pertama adalah kultivar seledri terdiri atas lima taraf yaitu Aroma, Bamby, Samantha, Sunda,Tall Utah. Faktor kedua adalah konsentrasi karbohidrat yang terdiri atas lima taraf yaitu sukrosa 20 g/L, maltosa 20 g/L), maltosa 30 g/L, maltosa 40 g/L, maltosa 60 g/L. Variabel yang diamati meliputi waktu awal kalus terbentuk, diameter kalus, warna kalus, tekstur kalus, kalus embriogenik, dan jumlah tunas pada tahap regenerasi. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi sukrosa 20 g/L merupakan konsentrasi terbaik terhadap kecepatan muncul kalus pada kultivar Bamby. Sukrosa 20 g/L memberikan pengaruh paling baik terhadap ukuran kalus pada kultivar Aroma. Maltosa 30 g/L mampu menginduksi kalus dari semua kultivar seledri yang digunakan. Kulvivar Samantha  responsif terhadap pembentukan kalus di semua konsentrasi Maltosa yang digunakan. Kata kunci: seledri, sukrosa, maltosa, kalus Keywords: Celery, Plant Breeding, Carbohydrate, Maltose, and Callus
PENINGKATAN PEMAHAMAN DAN PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK DI DESA JAGABAYA, KECAMATAN CIMAUNG, KABUPATEN BANDUNG: PENINGKATAN PEMAHAMAN DAN PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK DI DESA JAGABAYA, KECAMATAN CIMAUNG, KABUPATEN BANDUNG Amien, Suseno; Widayat, Dedi; Wicaksana, Noladhi
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 4 No 2 (2022): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v4i2.23

Abstract

Komoditas Padi merupakan salah satu komoditas andalan di Desa Jagayabaya, Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung. Kesadaran masyarakat akan pentingnya bahan pangan organik terus meningkat. Keterbatasan pengetahuan pertanian organik dan penerapannya di Desa Jagabaya telah mendorong dilaksanakannya pengabdian masyarakat untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan pertanian organik termasuk pembuatan pupuk cair organik untuk meningkatkan produksi pangan organik khususnya padi. Metode partisipatif digunakan untuk melibatkan mitra secara aktif dalam pelaksanaan pemahaman dan penerapan pertanian organik. Tahap-tahap pelaksanaan terdiri dari sosialiasi kegiatan, wawancara, penyuluhan, diskusi, dan praktek. Hasil kegiatan terjadi peningkatan ilmu, pengetahuan dan teknologi pertanian organik, cara pembuatan pupuk cair organik serta penerapannya.