Claim Missing Document
Check
Articles

Vanilla Callogenesis with the Addition of Picloram and BAP under Dark and Light Conditions Bahrunnisa, Atiqah; Noor Aini Habibah
Life Science Vol. 14 No. 1 (2025): May 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/unnesjlifesci.v14.i1.22275

Abstract

Vanillin is a secondary metabolite in vanilla, with a 1%–3% content. Tissue culture is an effective alternative for producing plant secondary metabolites. This study aimed to analyze the effect of picloram and BAP under light and dark conditions on the callogenesis of vanilla leaf explants. A randomized block design was used with two factors: picloram concentration (0 ppm, 2.5 ppm, 5 ppm, 7.5 ppm) and BAP (0 ppm, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm), as well as lighting conditions (light and dark). Vanilla leaf explants were cultured on MS medium and incubated for three months. The observed parameters included the time for explants to curve, the percentage of curved explants, the time of callus formation, the percentage of callus-forming explants, and callus morphology. The results showed that PGRs type/concentration significantly affected the percentage of curved explants but had no significant effect on other parameters. Lighting and its interaction with PGRs had no significant effect. The best combination of picloram and BAP resulted in 100% curved explants but was less optimal for inducing callus formation in vanilla leaf explants. This study can open scientific insights into the combination of picloram and BAP and the effects of different lighting in vanilla leaf callogenesis.
REKAYASA SUBSTRAT POC PLUS BIOFERTILIZER DARI LIMBAH CAIR OLAHAN KEDELAI BERBASIS KOMUNITAS BSM Bintari, Siti Harnina; Habibah, Noor Aini; Isnaeni, Wiwi; Sutikno, Sutikno
Prosiding Seminar Nasional Biologi Vol. 12 (2024)
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BSM merupakan unit usaha di kelurahan Patemon Gunung Pati, dijalankan lima belas orang ibu dengan berbagai kegiatan meliputi mendaur ulang minyak jelantah menjadi sabun, limbah kain perca, kertas menjadi bunga dan pernik bunga. Telah dilakukan pengolahan limbah organik menjadi ecoenzym, dan dilanjutkan pembuatan pupuk organik cair dari limbah olahan kedelai yang kaya protein. Tujuannya untuk menguatkan komunitas bank sampah melalui kegiatan pengolahn limbah cair dan meningkatkan ketrampilan melalui pembuatan biofertilizer berupa pupuk cair untuk dipergunakan sendiri guna merawat tanaman di sekitar rumah, lingkungan dan taman toga. Metode yang digunakan meliputi diskusi informasi, pelatihan, penerapan dan implementasi produk. Teknologi yang digunakan adalah fermentasi spontan melalui rekayasa substrat tinggi protein dengan komposisi terdiri atas telur ayam sebagai sumber protein hewani, whey tahu dan atau limbah rendaman kedelai sebagai sumber protein nabati, vitamin dan mineral dari bawang merah, molase dan starter EM4. Hasil kegiatan berupa pupuk organik cair dengan formula “plus” dari bahan utama dan pengaya menghasilkan kompleks suspensi cairan berwarna coklat tua, beraroma alkoholik dengan Rasio C/N, P dan K sebesar berturut-turut 1.86%, 0.076% dan 0,198%. Implementasi POC plus pada tanaman rumah tangga cabe, terong dan tomat memberikan trend pada kemunculan bunga lebih awal. Produk POCplus merupakan produk baru sebagai biofertilizer yang spesifik.
Pengembangan Griya Anggrek Mekar Sari Kelurahan Kalisegoro Semarang Noor Aini Habibah; Anindya Ardiansari; Y. Ulung Anggraito; Fitri Arum Sari
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 4 No. 1 (2020): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v4i1.542

Abstract

Griya anggrek Mekar Sari merupakan rumah anggrek di wilayah Kalisegoro yang mempunyai potensi besar untuk berkembang. Tujuan pendirian Griya Anggrek Mekar Sari adalah meningkatkan keterampilan dan juga pendapatan Ibu-Ibu di wilayah RW 4 Kalisegoro Gunungpati Semarang. Tetapi sampai saat ini, 1 tahun setelah berdiri, tujuan tersebut belum tercapai. Berbagai penyebab telah diidentifikasi yaitu : penjualan yang rendah dan manajemen keuangan yang belum dilakukan. Tingkat penjualan yang rendah antara lain dipengaruhi terbatasnya koleksi anggrek, pemasaran yang hanya terbatas pada wilayah sekitar Kalisegoro, dan juga belum memadainya jumlah tenaga yang terampil memelihara anggrek serta sarana dan prasarana yang masih terbatas.  Koleksi anggrek masih didominasi oleh jenis Dendrobium dengan keanekaragaman yang masih rendah. Terbatasnya jumlah tenaga terampil dalam budidaya anggrek menyebabkan kualitas anggrek yang ada juga tidak maksimal. Kurangnya sarana dan prasarana untuk budidaya anggrek juga menyebabkan kualitas anggrek sulit ditingkatkan. Belum dilaksanakannnya manajemen keungan juga menyebabkan rendahnya pendapatan. Dukungan untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pengelolaan Griya Anggrek Mekar Sari yaitu peningkatan pengetahuan dan keterampilan manajemen keuangan, budidaya anggrek, pemasaran anggrek serta  penyediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk budidaya anggrek. Terlaksananya manajemen keuangan yang baik, kualitas anggrek yang tinggi, koleksi anggrek yang beragam dan pemasaran anggrek yang luas telah meningkatkan penjualan. Koleksi anggrek meningkat hingga 98 %. Penjualan meningkat hingga 81%. Program pengembangan rumah anggrek  Griya Anggrek Mekar Sari memberikan hasil yang positif. 
Induksi Kalus Batang Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus Benth.) dengan Penambahan Pikloram dan BAP Mazida, Zidna Sahla; Habibah, Noor Aini
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 15 No. 2 (2025): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v15i2.62287

Abstract

Tanaman kumis kucing (Orthosiphon stamineus) mempunyai beragam kandungan metabolit sekunder. Metabolit sekunder dapat diproduksi melalui teknik kultur kalus dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kombinasi pikloram dan BAP terhadap induksi kalus pada eksplan batang tanaman kumis kucing. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor yaitu berupa jenis/konsentrasi ZPT. Data kuantitatif meliputi waktu muncul kalus, persentase eksplan berkalus, dan pertumbuhan kalus (berat basah dan berat kering) dianalisis menggunakan uji Kruskall-Wallis dan dilanjut uji Dunn. Data kualitatif meliputi morfologi kalus (tekstur dan warna) dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pikloram dan BAP berpengaruh terhadap waktu muncul kalus, persentase berkalus, dan pertumbuhan kalus. Rerata waktu muncul kalus tercepat yaitu 6.25 HST pada 1 ppm pikloram + 0 ppm BAP. Perlakuan dengan kombinasi pikloram + 2 ppm BAP merupakan yang paling optimal dalam menginduksi kalus batang kumis kucing dengan persentase 100 %. Rerata berat basah kalus tertinggi yaitu 0.195 g (3 ppm pikloram + 2 ppm BAP), sedangkan rerata berat kering kalus tertinggi yaitu 0.051 g (3 ppm pikloram + 3 ppm BAP). Sebagian besar kalus yang dihasilkan berwarna hijau kekuningan dengan tekstur remah.
Effects of Salicylic Acid Concentration and Elicitation Duration on Total Flavonoid Content in Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) Callus Cultures Afifatul Hidayah; Noor Aini Habibah
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol. 14 No. 3 (2026): September
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v14i3.21469

Abstract

This study aimed to determine the optimal elicitor concentration and elicitation duration for increasing the total flavonoid content of binahong (Anredera cordifolia) callus cultures. A two-factor completely randomized design (CRD) was employed, with salicylic acid concentration and elicitation duration as the experimental factors. Nine treatment combinations were tested with six replicates each, consisting of salicylic acid concentrations of 0, 20, and 40 ppm applied for 7, 14, and 21 days. The observed parameters included callus morphology (color and texture), callus biomass, and total flavonoid content determined using UV–Vis spectrophotometry. The results showed that the callus was predominantly compact in texture and green in color. Callus fresh weight differed significantly among treatments (p = 0.008), with the highest value recorded in treatment E2W3 (14 days, 40 ppm), at 0.9367 g. In contrast, callus dry weight did not differ significantly among treatments (p = 0.170). Two-way ANOVA further showed that elicitation duration (p = 0.374), salicylic acid concentration (p = 0.691), and their interaction (p = 0.330) had no significant effect (p > 0.05) on the total flavonoid content of binahong (Anredera cordifolia) callus cultures. Overall, the combination of salicylic acid concentration and elicitation duration significantly affected callus fresh weight but did not significantly influence callus dry weight or total flavonoid content.
The Effect of the Combination of 2,4-D and BAP and Lighting Conditions on Callus Induction of Sugarcane (Saccharum officinarum L.) Variety CMG Agribun Lailatun Ni'mah; Noor Aini Habibah
Justek : Jurnal Sains dan Teknologi Vol 9, No 3 (2026): September
Publisher : Unversitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/justek.v9i3.40673

Abstract

This study aimed to evaluate the effect of different combinations of 2,4-D and BAP, as well as light conditions, on callus induction of sugarcane variety ‘CMG Agribun’. A factorial Randomized Complete Block Design (RCBD) was applied with two factors: plant growth regulators (PGRs) combinations (2,4-D and BAP) and lighting conditions (light and dark). Observed parameters included callus initiation time, percentage of callus formation, fresh and dry weight, and callus morphology. The results showed that the treatments significantly affected callus initiation time but not the percentage of callus formation. The fastest callus induction (2.83 DAP) occurred under dark conditions with 1 ppm 2,4-D + 0 ppm BAP and 4 ppm 2,4-D + 1 ppm BAP. The fresh weight of the callus did not show any significant differences among the treatments, but the treatment under dark conditions tended to produce a higher fresh weight of the callus. The highest dry weight (0.092 g) was also obtained from the treatment 1 ppm 2,4-D + 0.5 ppm BAP under dark conditions. Callus morphology was generally compact with varying colors. Further research is recommended using a wider range of 2,4-D and BAP concentrations, as well as different light regimes, to optimize callus induction and development. This study supports further research on callus-based propagation and the production of secondary metabolites in sugarcane.
Co-Authors Afifatul Hidayah Aini Sa’adah Alin Liana Amalia, Adninta Husnu Amin Rertoningsih Amin Rertoningsih, Amin Ananda Lutfiah Anindya Ardiansari Anisa Dewi Sri Puspitasari Ari Indrianto Ari Indrianto Ari Yuniastuti Arif Widiyatmoko, Arif Aulia, Siska Na'ilil Bahrunnisa, Atiqah Damar Galih Dewi Mustikaningtyas Endah Suwarni Endah Suwarni Endah Suwarni Enni Suwarsi Rahayu Fajar Musafa Farikha, Sabrina Nur Fitri Arum Sari Fitri Arum Sasi, Fitri Arum Fitrianti, Destri Firlidya Furzani Pa’ee Griyani -, Griyani Hapsari Ika Mundiyakin, Ika Intan Kristanti Intan Kristanti, Intan Krispinus Kedati Pukan Kukuh Santoso Kumala Dewi Kumala Dewi Lailatun Ni'mah Lina Herlina Lina Herlina Lina Herlina Linda Noviyanti Lisdiana Lisdiana Mazida, Zidna Sahla Meti Indrowati Mia Chalimatur Rosyidah Mualimin Mualimin Muhyidin, Faricha Aulia Mukhtar, Khoirul Mun Isyatul Millah Mun Isyatul Millah, Mun Isyatul Munisyatul Millah Munisyatul Millah Musafa, Fajar Nafia, Rosyida Nugrahaningsih Nugrahaningsih Nugrahaningsih Nugrahaningsih Nur Wijawati R Susanti Raula Samsul Amarila, Raula Samsul Rizqi Utami, Rizqi Safitri Safitri Samkhatin Khaniyah Samkhatin Khaniyah Sasabila Mumtaz Shofwan Ridho, Shofwan Siti Alimah Siti Harnina Bintari Sri Ambar Sri Ambar Sri Haryani Sri Nanan Widiyanto Sri Pudyastuti Sri Pudyastuti Sri Puspitasari, Anisa Dewi Sukarti Moeljopawiro Sukarti Moeljopawiro Sumadi - Sumadi - Sumadi - SUTIKNO Sutikno Sutikno Talitha Widiatningrum Taqiyyah Rabbani Ramadhan Titis Purwanti, Titis Tyas Agung Pribadi Vira Ayuningrum Wijawati, Nur Wiwi Isnaeni Wiyanto - Wiyanto Wiyanto Woro Anindito Sri Tunjung Woro Sumarni Wulan Christijanti Y. Ulung Anggraito Y. Ulung Anggraito, Y. Ulung Yustinus Ulung Anggraito