This community service program was implemented to empower Risoles Maycake MSMEs, managed by housewives in Berua Village, Biringkanaya District, Makassar City. The partners faced various challenges, including inconsistent and unhygienic production, simple packaging without brand identity, and conventional marketing strategies. The program activities consisted of training on risoles production based on food hygiene SOPs, product diversification, professional packaging design workshops, and training on digital marketing strategies using social media and marketplaces. The implementation method was participatory, involving socialization, training, application of appropriate technology, mentoring, and evaluation. The results indicated an increase in production capacity from 20–50 risoles per day to 100–150 risoles per day, the creation of three new attractive and informative packaging designs, and the adoption of digital marketing strategies that expanded the market reach to three city regions. Positive impacts were also evident, with an average sales growth of 40% within three months after the program's implementation. Therefore, this community service program proved effective in enhancing the competitiveness of risoles MSMEs and strengthening the economic independence of housewives.ABSTRAKProgram pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan untuk memberdayakan UMKM Risoles Maycake yang dikelola oleh ibu rumah tangga di Kelurahan Berua, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. Mitra menghadapi berbagai kendala, mulai dari produksi yang belum higienis dan konsisten, kemasan sederhana tanpa identitas merek, hingga pemasaran yang masih konvensional. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan produksi risoles berbasis SOP higienitas pangan, diversifikasi varian rasa, workshop desain kemasan profesional, serta pelatihan strategi pemasaran digital menggunakan media sosial dan marketplace. Metode pelaksanaan dilakukan secara partisipatif melalui sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi tepat guna, pendampingan, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kapasitas produksi dari 20–50 risoles per hari menjadi 100–150 risoles per hari, munculnya tiga desain kemasan baru yang lebih menarik dan informatif, serta penerapan strategi digital marketing yang mampu memperluas pasar hingga tiga wilayah kota. Dampak positif juga terlihat dari peningkatan omzet rata-rata sebesar 40% dalam tiga bulan setelah program berjalan. Dengan demikian, kegiatan PKM ini terbukti efektif dalam meningkatkan daya saing UMKM risoles sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi ibu rumah tangga.