Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PHENOTYPE PURITY OF BALI CATTLE IN THE COASTAL AREA Maele, Mohammad J; Yahya, Ronal; Fathan, Suparmin; Ilham, Fahrul; Laya, Nibras K; Dako, Safriyanto
Jambura Journal of Animal Science Vol 7, No 1 (2024): Jambura Journal of Animal Science
Publisher : Animal Husbandry Department, Faculty of Agriculture Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35900/jjas.v7i1.24759

Abstract

The role of farmer groups are very strategic in increasing the number of Bali cattle. The existence of the group has been able to increase the number of livestock. The aim of this research is to determine the phenotypic purity of Bali Cattle raised in Kabila Bone District based on Indonesia National Standards (SNI). This research was carried out in several livestock groups in Kabilabone District, Bonebolango, ± 5 months, namely in July-November 2023. Method used were visual observations and body measurements. Descriptive analysis for external phenotypic appearance and quantitative. The skin color of female Bali cattle in Molotabu and Biluango Villages experienced a shift or bias from the SNI standard of 1.67-2.85 respectively, where the body skin color was dark brown to black, while other cattle have normal colors such as brick red, brown, light brown and fawn according to SNI standards. The white color pattern on the buttocks/rump mirror (CB) is a characteristic of male and female Bali cattle. The white color is circular in shape following the shape of the rear buttocks of the Bali cattle. CB circle boundaries in Bali cattle are clearly visible. The frequency of CB color boundary phenotypes in female Bali cattle is the frequency of CB with clear boundaries was 33.33-76.67%, while those with unclear boundaries was 23.33-66.67%. The highest body weight of female Bali cattle was 262.87 while the lowest was 162.0, and the standard deviation value for body weight was ±26.10. Female Bali cattle raised traditionally do not comply with SNI standards
Quantity and Quality of Oestrus of Kacang Goats Injected with Prostaglandin F2alpha in the Vulva Submucosa on the Coast of Tomini Bay Ilham, Fahrul; Panggulu, Zulkifli; Dako, Safriyanto; Fathan, Suparmin; Rachman, Agus Bahar
Jambura Journal of Animal Science Vol 7, No 2 (2025): Jambura Journal of Animal Science
Publisher : Animal Husbandry Department, Faculty of Agriculture Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35900/jjas.v7i2.28008

Abstract

Tomini Bay is the longest bay in Indonesia which is located in the provinces of North Sulawesi, Gorontalo and Central Sulawesi. The dominant goat species raised by farmers in Tomini Bay is the Kacang goat. This research aims to determine the quantity and quality of estrus of peanut goats based on different parities that are reared traditionally in Tomini Bay. The hormone used is the PGF2α lutalyse brand, which is injected into the vulvar submucosa in 1 ml. The research location is Bonepantai District, Bone Bolango Regency, Gorontalo Province. The number of selected female goats used was 9 goat, and they were grouped into 3: the heifer treatment group, the group that gave birth once, and the group that gave birth more than once. The oestrus quantity variables observed were percentage of oestrus, onset of oestrus, and duration of oestrus. The results of the study showed that administration of the PGF2α hormone in the vulva submucosa of kacang goats during the second injection was able to cause up to 100% lust symptoms. The onset and duration of oestrus in heifers injected with PGF2α was 57.67 hours for 39.33 hours, one birth was 61.33 hours for 34 hours, and one birth was 57.67 hours for 42.33 hours. The behavior shown by Kacang goats after PGF2α injection is that they like to mount their friends and are quiet when mounted by males. The conclusion of this study is that PGF2∝ injection into the vulva submucosa causes Kacang goats to be in heat with quite obvious symptoms. PGF2∝ injection into the submucosa vulva can be applied during estrus synchronization at a lower cost but is able to provide a normal heat effect.
Analysis of Beef Cattle Fattening Business Pateda, Sri Yenny; Ilham, Fahrul; Zakaria, Fauzan; Singgili, Haris
Jambura Journal of Animal Science Vol 7, No 2 (2025): Jambura Journal of Animal Science
Publisher : Animal Husbandry Department, Faculty of Agriculture Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35900/jjas.v7i2.31201

Abstract

The cattle fattening business in Limboto District is predominantly managed by farmers through farmer groups. These fattening groups are spread across several villages, including Hutabohu Village, where the Ilohelumo group operates. Beef cattle fattening is a viable strategy to enhance community income, as it involves specific inputs and produces outputs in the form of revenue and business profits (Abidin, 2012). This study employed a case study method, with the research location selected through purposive sampling based on the presence of a successful cattle fattening group. The selected location was Hutabohu Village in Limboto District, Gorontalo Regency. The respondents were selected using total sampling from the Ilohelumo group, consisting of 20 members. The analytical methods used included descriptive analysis, income analysis, Return on Revenue (ROR), Break Even Point (BEP), Return Cost Ratio (R/C), and Benefit Cost Ratio (B/C). The Ilohelumo cattle fattening group managed 20 heads of cattle with a total production cost of IDR 215,300,000, comprising both fixed and variable costs. The group generated a profit of IDR 118,223,112 per fattening period, or approximately IDR 5,911,155 per head per month. The business achieved an R/C ratio of 2.864 and a B/C ratio of 1.482, indicating that the beef cattle fattening enterprise is profitable and financially feasible.
Pemberdayaan Peternak Sapi Potong Melalui Teknologi Fermentasi Jerami Padi-Jagung Untuk Pakan Sapi Potong Ilham, Fahrul; Djunu, Sri Suryaningsih; Syahruddin, Syahruddin; Pateda, Sri Yenny; Hariyanto, Hariyanto
Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Pertanian Vol 4, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagian besar peternak sapi bali di Desa Hutabohu berprofesi sebagai petani dan peternak dengan komoditi utama yang dibudidayakan adalah tanaman padi dan jagung. Jerami padi/jagung yang dihasilkan selama ini dipandang sebagai limbah pertanian sehingga hanya dibakar saat selesai panen. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga desa dalam memanfaatkan jerami padi dan jagung sebagai pakan ternak dengan cara teknologi fermentasi. Metode yang digunakan adalah penyuluhan dan pelatihan tentang teknik pembuatan jerami padi-jagung fermentasi dengan menggunakan mikroorganisme pengurai. Hasil kegiatan ini menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan warga Desa Hutabohu dalam mengolah jerami padi-jagung menjadi pakan ternak berkualitas dengan cara yang mudah dan terjangkau. Dampak positif dari kegiatan ini adalah diharapkan terjadi peningkatan produktivitas ternak dan pemanfaatan sumber daya lokal secara efektif dan efisien.
Produktivitas Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) Pada Periode Starter Laudengi, Sasmita; Hasan, Nurain; U, Sasmita; Ilham, Fahrul; Dako, Safriyanto; Zainudin, Srisukmawati
Prosiding Seminar Nasional Mini Riset Mahasiswa Vol 4, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produktivitas ayam kampung dapat bervariasi dan dipengaruhi oleh lingkungan tempat dipelihara dan genetiknya. Pertahanan tubuh Ayam KUB cukup baik dalam menghadapi iklim sulit seperti kemarau panjang, mudah beradaptasi di daerah lahan kering. Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) saat ini semakin banyak dibudidayakan di Gorontalo sehingga penting diketahui produktivitasnya. Tujuan penelitian ini mengetahui produktivitas (bobot badan dan pertambahan bobot badan) ayam KUB yang dipelihara secara intensif. Waktu penelitian adalah Oktober 2024 di Desa Tambo’o Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bonebolango. Parameter yang diamati adalah bobot badan, pertambahan bobot badan, dan konsumsi pakan ayam KUB selama fase starter. Penelitian ini menggunakan metode survei, diawali dengan pengambilan data sekunder. Jumlah sampel ayam KUB sebanyak 50 ekor dengan jenis kelamin jantan dan betina (unsex). Data primer diperoleh dengan melakukan observasi langsung serta melakukan penimbangan untuk mengetahui bobot badan dan pertambahan bobot badan setiap minggu. Berdasarkan hasil pengamatan bobot ayam KUB umur 7 hari adalah 41,8 gram dan saat umur 21 hari adalah 94,14 gram, dengan pertambahan bobot badan sebesar 2,48 gram/hari. Pertambahan bobot badan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pakan dan manajemen pemeliharaan. Ayam akan mengalami pertumbuhan bobot badan yang cukup signifikan dengan pemberian pakan yang baik, kandang yang nyaman, perawatan kesehatan yang optimal. Kesimpulannya adalah bobot badan ayam KUB meningkat seiring dengan meningkatnya umur ternak.
Variasi Warna Bulu, Shank, dan Paruh Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) pada Umur Starter H, Candra; T, Rivaldi; M., Fizal A.; Zainuddin, Srisukmawati; Dako, Safriyanto; Ilham, Fahrul
Prosiding Seminar Nasional Mini Riset Mahasiswa Vol 4, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ayam kampung memiliki potensi untuk dikembangkan sebab populasi yang hampir merata di wilayah pedesaan Indonesia, mudah dibudidayakan meskipun di iklim ekstrim. Penelitian ini menggunakan metode survai dengan cara wawancara dan observasi langsung di Desa Tamboo Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango. Jumlah sampel yang diamati adalah 49 ekor ayam KUB umur starter. Bagian tubuh untuk pengamatan sifat kualitatif adalah bulu tubuh, paruh, dan shank. Hasil pengamatan pada bulu tubuh menunjukkan warna bulu yang dominan adalah hitam (77,55%) dan kombinasi warna terbanyak adalah hitam-putih (46,94). Warna shank yang dominan adalah hitam (81,63%) dan warna paruh adalah hitam-putih (75. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) di Desa Tamboo memiliki warna bulu tubuh, paruh, dan shank yang bervariasi dan didominasi warna hitam.
Hubungan Antra Bobot Badan Dan Ukuran Tubuh, Bobot Karkas Dan Non Karkas Pada Burung Puyuh Yang Di Beri Pakan Tambahan Tepung Daun Ubi Kayu Miyodu, Roman; Ilham, Fahrul; Fathan, Suparmin; Sayuti M, Muhammad; Bahri, Syamsul
Jurnal Sains Ternak Tropis Vol 3, No 2 (2025): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31314/jstt.3.2.115-121.2025

Abstract

The research objective was to analyze the correlation between live weight and body size and internal organs of quails (Coturnix coturnix japonica) fed with supplementary feed in the form of cassava leaf meal.. The use of cassava leaf meal as an alternative feed ingredient is expected to increase the efficiency of livestock production through the utilization of agricultural waste with high nutritional value. This research was conducted in Helumo Village, Suwawa Subdistrict, Bone Bolango District from April to June 2024 using 140 quails. Measures of live weight, length of tibia, tibia, neck, wing, tarsometarsus, and weights of liver, heart, and gizzard. Data were analyzed using Pearson correlation. Results showed that live weight was strongly correlated with tarsometarsus length (r = 0.72) and wing length (r = 0.61), and moderately correlated with the weights of internal organs such as liver (r = 0.41), heart (r = 0.50), and gizzard (r = 0.55). Conversely, the correlation between live weight and tibia, tibia, and neck length was weak to very weak. It can be concluded that tarsometarsus length and wing length are potential morphometric indicators to predict quail live weight. This research is expected to serve as a basis for the development of more efficient selection and breeding strategies in quail rearing.Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara bobot hidup dengan ukuran tubuh dan organ dalam burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) yang diberi pakan tambahan berupa tepung daun ubi kayu. Penggunaan tepung daun ubi kayu sebagai bahan pakan alternatif diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi ternak melalui pemanfaatan limbah pertanian yang bernilai nutrisi tinggi. Penelitian dilakukan di Desa Helumo, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango selama bulan April hingga Juni 2024 dengan menggunakan 140 ekor burung puyuh. Pengukuran terhadap bobot hidup, panjang tibia, pemur, leher, sayap, tarsometarsus, serta bobot hati, jantung, dan ampela. Analisis data menggunakan korelasi Pearson. Hasil menunjukkan bahwa bobot hidup berkorelasi kuat dengan panjang tarsometarsus (r = 0,72) dan panjang sayap (r = 0,61), serta berkorelasi sedang dengan bobot organ dalam seperti hati (r = 0,41), jantung (r = 0,50), dan ampela (r = 0,55). Sebaliknya, korelasi antara bobot hidup dengan panjang tibia, pemur, dan leher berada dalam kategori lemah hingga sangat lemah. Disimpulkan bahwa panjang tarsometarsus dan panjang sayap merupakan indikator morfometrik yang potensial untuk memprediksi bobot hidup burung puyuh. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan strategi seleksi dan pemuliaan yang lebih efisien dalam pemeliharaan puyuh
Performans Reproduksi Ternak Sapi Lokal dan Sapi Silangan Yang di Inseminasi Buatan Amu, Muhammad Widjidan; Fathan, Suparmin; Ilham, Fahrul
Jambura Journal of Tropical Livestock Science Vol 3, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTReproductive productivity is a crucial aspect in the development of beef cattle farming in Indonesia. One of the main strategies to increase cattle population is artificial insemination (AI), whose success largely depends on reproductive performance indicators such as conception rate (CR), service per conception (S/C), and calving rate (CaR). This study aims to compare the reproductive performance of purebred Bali cattle and crossbred cattle (Bali × Limousin) based on secondary data from various national journals. A systematic literature review was conducted using studies published between 2015–2024. The results indicate that Bali cattle have a higher CR (75.67%) compared to crossbred cattle (69.51%), although their S/C value is slightly higher (1.66 vs 1.48). Bali cattle also show a superior CaR (68.44%) compared to crossbreds (59.84%). These differences highlight the superior physiological adaptation of Bali cattle to tropical environments and their stable local genetics. The study underscores the importance of optimizing locally based reproductive management strategies to sustainably support national beef cattle population growth.Keywords: Bali cattle, crossbred cattle, artificial insemination, conception rate, service per conception, calving rate.ABSTRAKProduktivitas reproduksi merupakan aspek krusial dalam pengembangan ternak potong di Indonesia. Salah satu strategi peningkatan populasi sapi adalah melalui inseminasi buatan (IB), namun keberhasilannya sangat bergantung pada performa reproduksi seperti conception rate (CR), service per conception (S/C), dan calving rate (CaR). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performa reproduksi antara sapi Bali murni dan sapi silangan (Bali × Limousin) berdasarkan data sekunder dari berbagai jurnal nasional. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka sistematis terhadap artikel yang terbit antara tahun 2015–2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa sapi Bali memiliki CR lebih tinggi (75,67%) dibanding sapi silangan (69,51%), namun nilai S/C sapi Bali sedikit lebih tinggi (1,66 vs 1,48). CaR sapi Bali juga lebih unggul (68,44%) dibandingkan sapi silangan (59,84%). Perbedaan ini mencerminkan keunggulan adaptasi fisiologis sapi Bali terhadap lingkungan tropis serta kestabilan genetik lokal. Studi ini menegaskan pentingnya optimalisasi manajemen reproduksi berbasis lokal untuk mendukung peningkatan populasi sapi potong nasional secara berkelanjutan.Kata Kunci: sapi Bali, sapi silangan, inseminasi buatan, conception rate, service per conception, calving rate.
STRUKTUR POPULASI DAN NATURAL INCREASE KAMBING LOKAL GORONTALO DI KECAMATAN BOTUPINGGE PROVINSI GORONTALO Ilham, Fahrul; Sayuti, Muhammad; Isa, Arman; Zainudin, Srisukmawati
Jambura Journal of Tropical Livestock Science Vol 1, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to identify the population structure and natural increase of local Gorontalo goats in Botupingge District, Bone Bolango Regency, Gorontalo. The total number of local Gorontalo goats observed at the research location was 163. The research method is by survey and data collection by observation and interviews using a list of questions. The research results showed that the number of local goats at the time of the research was 126 females and 37 males. The population structure consists of 7 adult males (18.91%) and 77 adult females (61.11%), seven young males (18.91%) and 26 young females (20.63%), male offspring 23 (62.16%) and 23 (18.69%) female offspring. The population structure of unsex goats is 28.22%, young goats are 20.24%, and adult goats are 51.53%. The highest import of goat livestock into the Botupingge District area was caused by births (81.81%), and expenditure was caused by deaths and sales (43.66%). The percentage of births to adult parents is 70.12%, and to the total population is 33.12%, purchases 16.66%, and immigration 1.51%. The percentage of goat deaths in the population was 19.01%, sales were 19.01%, slaughter was 4.29%, and natural increase was 14.11%. This research concludes that adult goats with female gender dominate the population structure of local Gorontalo goats in Botupingge District. However, when they are still young, they are dominated by male goats. The natural increase in local Gorontalo goats is 14.11% and is in the small/low category, so strategic breeding efforts are needed to reduce deaths and increase births
Reklamasi Lahan Dan Penyediaan Pakan Sapi Potong Melalui Penanaman Tanaman Gamal (Gliricidia maculata) di Desa Dambalo Kecamatan Tomilito Kabupaten Gorontalo Utara Bahri, Syamsul; Zainudin, Srisukmawati; Ilham, Fahrul; Tahir, Muh.
Jurnal Pengabdian Masyarakat Teknologi Pertanian Vol 2, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gamal (Gliricidia maculata) adalah tanaman leguminosa jenis perdu dan masih kerabat  polong-polongan yang sering digunakan untuk pakan ternak. Gamal memiliki manfaat sebagai pagar hidup, peneduh tanaman perkebunan (kakao, kopi, teh), sebagai rambatan tanaman, penambat nitrogen yang baik bagi tanaman yang tumbuh di bawahnya, pengendali erosi tanah dan longsor, dapat mematikan gulma yang tumbuh di bawahnya, daun dan rantingnya sebagai mulsa atau pupuk hijau, mengandung banyak protein  dan mudah dicerna ternak ruminansia. Hasil pengamatan dan wawancara dengan beberapa warga Desa Dambalo telah melakukan penanaman gamal di sekitar pekarangan rumah maupun di kebun sebagai pagar hidup namun tidak dilakukan dengan baik, tanpa diikuti pemeliharaan dan pemupukan. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga desa di Desa Dambalo Kecamatan Tomilito dalam melakukan budidaya tanaman gamal untuk perbaikan lahan pertanian dan sumber pakan sapi potong dengan lama kegiatan 45 hari. Metode yang digunakan dalam pemberdayaan kelompok mitra sasaran adalah pembelajaran melalui pemberian teori dan simulasi kepada warga desa selanjutnya praktek langsung bersama mahasiswa dan warga desa. Program kegiatan yang telah dilaksanakan adalah program Pelatihan Pengenalan dan Budidaya Tanaman Gamal, Persiapan dan Pengolahan Lahan, Penanaman Gamal, Pemupukan dan Pemeliharaan. Peserta yang terdiri dari beberapa warga desa pilihan yang memiliki mata pencaharian petani peternak. Selama kegiatan penyuluhan, peserta cukup antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan ditandai dengan banyaknya pertanyaan dan diskusi cara budidaya gamal dan pemberiannya pada ternak sapi. Stek tanaman gamal yang ditanam telah berhasil tumbuh dan bertunas meskipun belum semuanya dikarenakan cuaca panas dan kekurangan air akibat kemarau yang panjang. Penanganan stek tanaman di awal awal penanaman seperti pembersihan dan penyiraman sekitar tanaman sangat penting sebab perakaran batang dalam tanah belum maksimal dan rawan terganggu oleh gulma dan semak belukar