Claim Missing Document
Check
Articles

KESENIAN GAMBANG SEBAGAI IDENTITAS ETNIS TIONGHOA DI KAMPUNG PONDOK KOTA PADANG Rizdki Rizdki; Nursyirwan Nursyirwan; Ediwar Ediwar
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 2, No 1 (2014): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.344 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v2i1.37

Abstract

ABSTRAKKesenian Gambang merupakan salah satu bentuk kesenian yang bukan lahir dari tradisi masyarakat Minangkabau. Kesenian Gambang hadir karena terjadinya perpaduan dengan berbagai kebudayaan dari luar tradisi Minangkabau yaitu pengaruh kebudayaan Tiongkok. Kesenian Gambang pada awalnya adalah kesenian penghibur oleh sebagian masyarakat keturunan Cina atau disebut etnis Tionghoa yang ada di Kota Padang. Dalam tulisan ini dibahas tentang budaya apa saja yang mempengaruhi kesenian Gambang tersebut serta simbol dan bentuk komunikasi seperti apa yang teramati dalam kesenian tersebut. Pertunjukan kesenian Gambang juga dijadikan sebagai media interaksi sosial bagi masyarakat Kampung Pondok. Interaksi sosial dalam bentuk kerjasama, persaingan, pertikaian, dan akomodasi. Kajian kesenian Gambang Sebagai media interaksi simbolis dan non simbolis juga terdapat didalam pertunjukannya. Kesenian Gambang juga dijadikan sebagai media komunikasi intrapersonal bagi masyarakat Kampung Pondok untuk proses berfikir melahirkan ide-ide dalam berkreativitas, lain halnya dengan komunikasi interpersonal yang merupakan komunikasi antara individu dengan individu, dan komunikasi antar kelompok, serta sebagai media komunikasi antarbudaya. Selanjutnya untuk menyatakan bagaimana bentuk dan analisis musik dari kesenian Gambang di Kampung Pondok penulis menggunakan berbagai metode dalam mengungkap, menganalisa data sesuai dengan prosedur dan dengan teknik pengolahan. Metode kualitatif dan kuantitatif yang dipakai dalam penelitian ini serta transriptif analisis musik yang dibantu dengan wawancara dari berbagai pihak yang berkompeten dalam kelompok kesenian Gambang diharapkan mampu menjelaskan bagaimana bentuk dan fungsi pertunjukan Gambang sebagai media interaksi secara detail. dengan memakai disiplin kajian etnomusikologi sebagai teori utama, juga memakai pendekatan antropologi dan sosiologi sebagai teori pendukung. Adapun teori yang dipakai adalah teori fungsi, difusi, akulturasi dan analisis musik. Setelah melakukan penelitian maka dapat dijelaskan hasil temuan dari tesis ini. Pertama terjadinya interaksi dalam pertunjukan kesenian Gambang itu sendiri, mulai dari bentuk dan fungsi sebagai komunikasi dalam pertunjukan kesenian Gambang, sampai kepada analisis style dari musiknya. Kata kunci : Pertunjukan, Kesenian Gambang, Interaksi, Komunikasi.ABSTRACT Gambang art is one art form that is not born of a tradition of Minangkabau society. Gambang arts present for the blend with a variety of cultures outside the Minangkabau tradition, namely China. Art is art Gambang at first entertainer by most people of Chinese descent or called ethnic Chinese in the city of Padang. In accordance with the thesis title Gambang Performance Art As A Media Interaction In Chinese Ethnic Village Cottage In Tokyo City Chinatown, in this thesis discussed about the culture that influence the arts and the Gambang symbols and forms of communication such as what was observed in the arts. Performing Arts Gambang also be used as a medium of social interaction for the community of Kampung Pondok. Social interaction in the form of cooperation, competition, conflict, and accommodation. As a media arts studies Gambang symbolic and non-symbolic interaction is also contained in the show. Art Gambang also be used as a medium of interpersonal communication for the public to lodge village thought processes spawned ideas in creativity, another case with interpersonal communication is communication between the individual and the individual, and group communication, as well as intercultural communication medium. Furthermore, to state how the shape and analysis of art Gambang music in Kampung Pondok author uses a variety of methods in uncovering, analyzing the data in accordance with the procedures and processing techniques. Qualitative and quantitative methods of analysis used and transriptif music assisted with interviews from various parties who are competent in the Gambang Art is expected to explain how the form and function as a medium of interaction Gambang performances in detail. using the discipline of ethnomusicology as the study of the major theories, the approach also uses anthropology and sociology as the supporting theory. The theory used is the theory of functions, diffusion, acculturation and musical analysis. After doing research, it can be explained the findings of this thesis. The first occurrence of interactions in art performances Gambang itself, ranging from shape and function as communication in art performances Gambang to the analysis of the style of music. Key words: Performance, Art Gambang, Interaction, Communication.
ANALISIS MUSIKAL REPERTOAR RARAK GODANG MELALUI TEORI SEMIOLOGI MUSIK: REPERTOAR KEDIDI DAN TIGO-TIGO SEBAGAI MATERIAL Supriando Supriando; Nursyirwan Nursyirwan; Herawati Herawati
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 2, No 2 (2014): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.253 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v2i2.53

Abstract

 Rarak Godang merupakan ensamble musik dengan formasi instrumen celempong, gondang, dan oguang. Konsep musik Rarak Godang adalah produk pikiran hasil dari sebuah proses kreatif seniman Rarak Godang. Analisis musikal Rarak Godang artinya melihat representasi intelektual yang abstrak dari situasi, akal pikiran, atau suatu ide dari masyarkat Taluk Kuantan tentang kesenian Rarak Godang secara musikal. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan, memahami, dan menganalisis wilayah musikal Rarak Godang pada masyarakat Taluk Kuantan melalui teori semiologi musik. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan medote kualitatif untuk mengindentifikasi kesenian Rarak Godang. Secara musikal, kesenian Rarak Godang dibangun atas asosiasi masyarakat Taluk Kuantan dari lingkungan sebagai pedoman proses kreatif dalam karya. Repertoar yang dihasilkan merupakan manifestasi atas pengalaman dan pengamatan terhadap alam sekitar serta unsur teknis dalam repertoar tersebut. Kata kunci: analisis musikal, rarak godang, Taluk Kuantan, semiologi musik. ABSTRACT Rarak Godang a musical ensemble with instruments formation celempong, gondang, and oguang. The concept of music is a product of mind Rarak Godang result of a creative process of artists Rarak Godang. Analysis of musical Rarak Godang meaning see abstract intellectual representation of the situation, the mind, or an idea of community art Taluk Kuantan on Rarak Godang musically. This study aims to find, understand, and analyze musical territory Rarak Godang in Taluk Kuantan community through music semiology theory. This research was conducted using qualitative methods now to identify Rarak Godang art. Musically, art Rarak Godang built on community associations Taluk Kuantan from the environment to guide the creative process of the work. The resulting repertoire is a manifestation on experience and observation of the natural surroundings as well as the technical element in the repertoire. Key words: musical analysis, rarak godang, Taluk Kuantan, semiology of music.
FREKUENSI FUNDAMENTAL TIMBRE KOMPANG GRUP DELIMA DI DELIK BANTAN KABUPATEN BENGKALIS: KAJIAN MUSIK MULTIMEDIA Benny Andiko; Nursyirwan Nursyirwan; Rosta Minawati
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 4, No 2 (2017): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.506 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v4i2.568

Abstract

ABSTRACT The title of this research is “The Timbre Fundamental Frequency of Delima Group’s Kompang in Delik Bantan, Bengkalis District: The Study of Multimedia Music.” Kompang is the toneless percussion instrument. Kompang utilizes space from wood and leather materials as the sound source. The method of sound production namely by hitting the instrument in its membrane part produces the kind of “pang” and “pung” sounds.            This research aims at revealing timbre fundamental frequency by using the music software of PreSonus Studio One 3. The research method used is the approach of Fourier’s analytical theory. Research results are in the form of music study and technology, involving how to produce sound. “Pang” and “pung” sounds were applied in 13 hit motifs played with the interlocking technique by 13 Kompang players. The Kompang organology and 13 players’ expressions became the factor of timbre fundamental frequency range. The frequency range of Kompang’s “pang” and “pung” sounds was obtained from the analysis conducted by using the recording media, the music software of Steinberg Cubase 5 and the music software of PreSonus Studio One 3. Based on analysis conducted by using NUGEN Audio Visualizer, it’s found a frequency that is the buzzing sound of Kompang. The buzzing sound is the character of Kompang with the parameters of organology, expression, and cultural background. Keywords:   Fundamental Frequency, Timbre, Kompang, The Study of Multimedia Music, Delik Bantan Bengkalis. 
KOMPANG ATRAKSI PADA MASYARAKAT BENGKALIS RIAU Yosi Ramadona; Rosta Minawati; Nursyirwan Nursyirwan
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 2, No 2 (2014): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.541 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v2i2.54

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini adalah hasil penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan bentuk pertunjukan Kompang yang berbeda dari Kompang yang umum dikenal di tengah masyarakat Bengkalis, pertunjukan Kompang tersebut dikenal dengan sebutan Kompang Atraksi. Di daerah Meskom Kecamatan Bengkalis Kompang telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam setiap perhelatan perkawinan, perayaan keagamaan, sunatan, serta perhelatan lainnya. Kompang tradisi lazim dikenal sebagai permainan alat musik Kompang yang dipukul dengan ritme tertentu, diiringi dengan nyanyian dari kitab berzanji yaitu  puji-pujian terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dengan menggunakan metode kualitatif yang dipadukan dengan teori bentuk seni pertunjukan serta teori fungsi, dapat disimpulkan bahwa pertunjukan Kompang Atraksi memadukan atraksi gerak dengan pertunjukan Kompang tradisional. Bentuk baru ini dapat diterima oleh masyarakat karena tetap mempertahankan hakikat dari pertunjukan Kompang tradisi baik dari aspek bentuk maupun esensi dari pertunjukan, yaitu sebagai bagian dari syiar agama Islam dalam sajian estetis.  Kata kunci : Pertunjukan, Kompang, Atraksi, Bengkalis  ABSTRACT This paper is the result of research that aims to explain the different forms of performances Kompang Kompang commonly known in the community Bengkalis, the show is known as Kompang Kompang Attractions. In areas Meskom District of Bengkalis Kompang has become an integral part in every event of marriage, religious celebrations, circumcision, and other events. Kompang tradition commonly known as a game of musical instrument Kompang struck with a certain rhythm, accompanied by the singing of the Mawlid al-Barzanjī book which praises to Allah and the Prophet Muhammad. Using qualitative methods, combined with a form of performance art theory and the theory of functions, it can be concluded that the performance of motion Kompang Things attractions combine with traditional Kompang performances. The new form can be accepted by society because retaining the essence of the show Kompang good tradition of aspects and forms the essence of the show, which is a part of Islamic religious symbols in aesthetic offerings. Key words: Performance, Kompang, Attractions, Bengkalis
KONTEKS PERTUNJUKAN LAGU-LAGU GAMELAN PAGUYUBAN BINA LARAS (TINJAUAN POLA PENYAJIAN) Suranti Utami; Mahdi Bahar; Nursyirwan Nursyirwan
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 3, No 2 (2016): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.346 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v3i2.544

Abstract

ABSTRACT The form of the pattern presentation of gamelan songs in Bina Laras association is different in any of their performance. This can be seen in a wayang kulit performance and Sawahlunto people’s party events. While in festival, this association combines some Minangkabau traditional musical instruments into gamelan ensemble. This research used qualitative method supported by data from field and library research starting from doing survey and then collecting data by using the techniques of observation, interview and documentation. Presentation pattern of gamelan songs in Bina Laras association is different in each of their performance because Sawahlunto people are multiethnic people consisting of Javanese, Minangkabaunese, Bataknese, Sundanese and Tionghoa. In addition, half of these association members are teenagers who do not only come from the Javanese ethnic group but also come from other ethnic groups. So does the election of instruments and language used in every performance namely using the language of tansi. Keywords: pattern of presentation, youth, creativity, gamelan.
INTERAKSI SOSIAL DALAM KESENIAN KOMPANG PADA MASYARAKAT DUSUN DELIK, BENGKALIS Hengki Armez Hidayat; Nursyirwan Nursyirwan; Rosta Minawati
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 4, No 2 (2017): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.551 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v4i2.547

Abstract

Kompang lives together with Malay Bengkalis people that majority of them are Muslims. Kompang as an art is present in the celebration of cultural events and it becomes the part of Malay Bengkalis people’s cultural processions. In this writing, it is discussed the social interaction and Kompang existence in the people of Dusun Delik as the area of Kompang art development. This research step used the qualitative method, with the approaches of anthropology, sociology, and ethnomusicology. The technique of data collection was conducted by doing observation, interview, and documentation. Those data were triangulated and coupled into sentences together with researcher’s observation and interpretation. Research result is the existence of a reciprocal relationship and social interaction in its society. In one side, Kompang has a role in its people condition; on the other side, Kompang lives and develops together with its people’s participation. Kompang in its social form is about humans’ relations in their societal group, while its spiritual form is praises and shalawat and salam sung together with the rhythm of jawab (tamsilam) and hadi (berzanji) lyrics.Keywords: Kompang Art, Social Interaction, Dusun Delik People
PERANAN GORDANG SAMBILAN DALAM KEGIATAN UPACARA HORJA GODANG DI KOTANOPAN MANDAILING NATAL Abdul Majid Abdul Majid; Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan; Febri Yulika Febri
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 1, No 1 (2013): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.651 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v1i1.19

Abstract

ABSTRAKUpacara Horja godang  merupakan upacara adat perkawinan pada etnik Mandailing, dilaksanakan setelah seminggu acara akad nikah. Upacara Horja Godang dilaksanakan oleh masyarakat keturunan raja-raja di Kecamatan Kotanopan yang mayoritas penduduknya adalah etnik Mandailing. Metode yang dipakai untuk menyelesaikan penelitian adalah menggunakan teknik kualitatif untuk menghasilkan data secara deksriptif, dengan menggabungkan pendekatan musikologi, etnomusikologi, antropologi, sosiologi, dan sejarah. Tujuan penelitian adalah mengungkap keterkaitan musik Gordang Sambilan dengan upacara  Horja Godang, mengkaji fungsi musik Gordang sambilan dalam upacara Horja godang pada masyarakat Mandailing Natal Kotanopan. Hasil penelitian, tradisi upacara Horja Godang berlangsung selama tiga hari, lima hari, atau satu minggu, dan disesuaikan dengan ketentuan adat. Pada upacara Horja Godang ditampilkan Gordang Sambilan sebagai musik pendukung upacara. Secara turun-temurun masyarakat Kotanopan berpendapat bahwa musik Gordang Sambilan merupakan musik adat dan Gordang Sambilan diyakini sebagai alat musik milik raja-raja mereka secaran turun temurun. Fungsi musik Gordang Sambilan sangatlah menentukan pada rangkaian upacara Horja Godang. Fungsi musik tersebut meliputi: fungsi ekspresi emosi; fungsi hiburan; fungsi representasi simbolis; fungsi komunikasi,; dan fungsi identitas etnik. Kata Kunci: Upacara, Horja Gordang, Gordang Sembilan, Mandaliling Natal 
ESTETIKA MUSIK KOMPANG DI BENGKALIS, RIAU Kairul Asral; Nursyirwan Nursyirwan; Rosta Minawati
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 2, No 2 (2014): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.199 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v2i2.55

Abstract

ABSTRAKKompang Melayu dipahami sebagai istilah penyebutan terhadap kelompok-kelompok Kompang di masyarakat Melayu. Keberadaan musik Kompang  dapat ditemui pada kegiatan upacara Tepuk Tepung Tawar, upacara Berinai Curi, upacara Rarak Pengantin, upacara Turun Mandi, mengiringi Pencak Silat, mengantar kepergiaan dan menyambut kedatangan jama’ah haji, dan menyambutan  tamu di pemerintahan. Kompang gendang bermuka dua menyerupai Rebana berdiameter 35-40 cm terbuat dari kayu Leban dengan membran dari kulit kambing betina dilengkapi sedak (peregang kulit) dimainkan dalam bentuk pola-pola pukulan rampak  (lokal: maen tangan) dan   pola- pola jalinan (lokal: naek-turun). Vokal berupa nyanyian dalam bahasa Arab yang bersumber dari teks-teks kitab Barzanji yang lazim disebut Adi.  Adi adalah teks lagu berupa frasa kalimat tanya-jawab yang ditulis  dengan huruf Hijaiyah.  Permainan pola pukulan dan vokabuler vokal dipengaruhi oleh makhrijal huruf Makhraj yang berarti ketepatan ucapan.  Kata Kunci: Estetika, Musik Kompang, Masyarakat Melayu, Bengkalis  ABSTRACTMalay Kompang understood as the mention of the term Kompang groups in the Malay community. The existence Kompang music can be found on the ceremonial activities Flour Fresh Tap, Steal Berinai ceremony, ceremony rarak Bride, Down Bathing ceremony, accompanied Pencak Silat, kepergiaan usher and greet pilgrims and guests menyambutan in government. Kompang drum resembling a tambourine duplicity 35-40 cm in diameter made of wood with a membrane of skin Leban goat comes Sedak (leather stretcher) is played in the form of patterns blow rampak (local: maen hand) and braided patterns (local: naek -turun). Vocal form of singing in Arabic that originates from the texts of Barzanji commonly called Adi. Adi is the text of a song in the form of question and answer phrases sentences are written with letters Hijaiyah. Games and vokabuler vocal punch patterns are influenced by letters makhrijal makhraj which means the accuracy of the speech. Key words: Aesthetics, Music Kompang, Malay Society, BengkalisABSTRAKKompang Melayu dipahami sebagai istilah penyebutan terhadap kelompok-kelompok Kompang di masyarakat Melayu. Keberadaan musik Kompang  dapat ditemui pada kegiatan upacara Tepuk Tepung Tawar, upacara Berinai Curi, upacara Rarak Pengantin, upacara Turun Mandi, mengiringi Pencak Silat, mengantar kepergiaan dan menyambut kedatangan jama’ah haji, dan menyambutan  tamu di pemerintahan. Kompang gendang bermuka dua menyerupai Rebana berdiameter 35-40 cm terbuat dari kayu Leban dengan membran dari kulit kambing betina dilengkapi sedak (peregang kulit) dimainkan dalam bentuk pola-pola pukulan rampak  (lokal: maen tangan) dan   pola- pola jalinan (lokal: naek-turun). Vokal berupa nyanyian dalam bahasa Arab yang bersumber dari teks-teks kitab Barzanji yang lazim disebut Adi.  Adi adalah teks lagu berupa frasa kalimat tanya-jawab yang ditulis  dengan huruf Hijaiyah.  Permainan pola pukulan dan vokabuler vokal dipengaruhi oleh makhrijal huruf Makhraj yang berarti ketepatan ucapan.  Kata Kunci: Estetika, Musik Kompang, Masyarakat Melayu, Bengkalis  ABSTRACTMalay Kompang understood as the mention of the term Kompang groups in the Malay community. The existence Kompang music can be found on the ceremonial activities Flour Fresh Tap, Steal Berinai ceremony, ceremony rarak Bride, Down Bathing ceremony, accompanied Pencak Silat, kepergiaan usher and greet pilgrims and guests menyambutan in government. Kompang drum resembling a tambourine duplicity 35-40 cm in diameter made of wood with a membrane of skin Leban goat comes Sedak (leather stretcher) is played in the form of patterns blow rampak (local: maen hand) and braided patterns (local: naek -turun). Vocal form of singing in Arabic that originates from the texts of Barzanji commonly called Adi. Adi is the text of a song in the form of question and answer phrases sentences are written with letters Hijaiyah. Games and vokabuler vocal punch patterns are influenced by letters makhrijal makhraj which means the accuracy of the speech. Key words: Aesthetics, Music Kompang, Malay Society, Bengkalis
MAKNA TARI SIKAMBANG PADA MASYARAKAT KAMBANG KECAMATAN LENGAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN Vani Sasri Wahyuni; Nursyirwan Nursyirwan; Rosta Minawati
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 4, No 1 (2017): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.956 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v4i1.563

Abstract

ABSTRACT This writing discusses the meaning of Sikambang dance in Lengayang sub-district, Pesisir Selatan district, and West Sumatera province. Sikambang dance is inspired by the story of king’s family in Kambang region. Sikambang dance functions as entertainment.            Sikambang dance consists of three interconnected acts that narrate about the story of king’s family. Those acts consist of Sikambang act, Maratok act, and Katera act. Sikambang dance also has meaning explained or conveyed through movement, dancer, music, costume plus make-up, floor pattern, property, and performance stage. Keywords: Sikambang dance, Maratok, Katera, Meaning 
STRUKTUR DRAMATIK SERIAL TV SENGSARA MEMBAWA NIKMAT KARYA AGUS WIDJOYONO Yogian Hutagama; Rosta Minawati; Nursyirwan Nursyirwan
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 1, No 1 (2013): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.876 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v1i1.33

Abstract

ABSTRAKTulisan ini bertujuan untuk menguraikan struktur dramatik yang terdapat dalam Serial TV Sengsara Membawa Nikmat, karya Agus Widjoyono. Menggunakan pendekatan struktural dengan metode analisis deskriptif tulisan ini akan membuktikan bahwa serial TV mengandung unsur naratif dalam bentuk rangkaian peristiwa yang saling berhubungan satu sama lain dan terkait oleh logika sebab akibat (kausalitas) yang terjadi dalam ruang dan waktu. Rangkaian peristiwa ini memiliki struktur dramatik dan saling memelihara kesinambungan cerita dari awal hingga akhir. Serial TV Sengsara Membawa Nikmat memiliki struktur dramatik yang menyangkut perkembangan dan kaitan antar konflik dari awal hingga akhir cerita.Pendekatan strukturalisme yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mengetahui perkembangan cerita, tokoh/penokohan, klimaks dari permasalahan dan tahap akhir yang merupakan kesimpulan dari isi cerita yang menuturkan plot/alur dramatik.Kata Kunci: Serial TV, Struktur Dramatik, Sengsara Membawa Nikmat. 
Co-Authors Abdul Majid Abdul Majid Abdul Majid, Abdul Majid Ahmad Wanda Alfalah Alfalah Aluna, Aluna Andar Indra Sastra Andiko, Benny Arnia Hartipa Iskandar Asep Saepul Haris, Asep Saepul Asral, Kairul Auliyaa ul Laytsy Benny Andiko Darmansyah Darmansyah Darmansyah Darmansyah, Darmansyah Darmansyah DASYI PURNAWIRAWAN Delfi Enida Delfi Enida Deria sepdwiko Ediwar Ediwar Emridawati Emridawati Erlinda Erlinda Ernida, Ernida Fadilla, Siti Fattahul Anughara Fauzan Alhaq Bukharla Febri Yulika Febriani, Hanirma Guslian, Indra Hanefi Hanefi Hanefi, Hanefi Haqqi, Iqbal Rahmatull Hasna, Hasna Herawati Herawati Herawati Herawati Hidayat, Hengki Armez Hidayat, Hengki Armez Ibnu Sina IMAL YAKIN In, Wilman Intan Rizki Intan Intan, Intan Rizki Irwan Irwan Kairul Asral Karnisah, Karnisah Karya Mansyah Kumala, Ofa Yutri Kumala, Ofa Yutri Kumala Yutri Kurniawan, Al Wahyu KUSTILO, ANTON Laila Okta Triani Lidiantari, Aulini Mahdi Bahar Mahdi Bahar Mahdi Bahar Mahdi Mahdi, Mahdi Bahar Martarosa Martarosa Martion Martion Megi - Hardani Nainggolan, Daniel Steven Nilawati Nilawati Nilawati Nilawati, Nilawati Nilawati Nora Anggraini Novatianus, Wilman Ismira Nurkholis Nurkholis Nurwijayanti Ofa Yutri Kumala Rizdki Rizdki Rizdki, Rizdki Rosmegawaty Tindaon Rosta Minawati Roza Muliati Rustim Rustim Safina, Vanesha sepdwiko, Deria Silva Yusalim Sulaeman Sulaeman Sulaiman Juned Sulaiman Sulaiman Supriando, Supriando Suranti Utami Susas Rita Loravianti SYAHPUTRA, DWIVA NANDA Utami, Suranti Vani Sasri Wahyuni Wahyuni, Vani Sasri Yoga Surya Dirgantara Yogian Hutagama Yogian Hutagama Yosi Ramadona Yosi Ramadona Yosi Ramadona Yusril, Yusril Zebua, Ester Oniati