Claim Missing Document
Check
Articles

Fenomena Communita Pagurau dan Komunitas Lapau Dalam Konteks Bagurau Saluang Dendang Di Kota Payakumbuh Auliyaa ul Laytsy; Rustim Rustim; Nursyirwan Nursyirwan
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 5, No 1 (2021): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.646 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v5i1.2471

Abstract

Bagurau Saluang Dendang performances discussed in this study are the Bagurau Saluang Dendang in the Communita Pagurau and the Lapau Community. This study aims to discuss the shift in the pattern of the Bagurau Saluang Dendang performances carried out by the Communita Pagurau and the Lapau Community. The approach taken in this study uses the theory of creativity related to the commodification of performances. This study uses an ethnographic method, where this method is carried out by participant observation. In addition, ethnography is also a method of writing. The findings in this study are that the Bagurau Saluang Dendang in the Communita Pagurau and the Lapau Community experienced a shift which was divided into several things, namely material, musicians, performance venue, management, audience, rules, time and interaction.Keywords: Bagurau; Saluang Dendang; Communita Pagurau, Lapau Community; Performance Pattern ShiftAbstrakPertunjukan Bagurau Saluang Dendang yang dibahas dalam penelitian ini adalah Bagurau Saluang Dendang dalam communita pagurau dan Komunitas Lapau. Penelitian ini bertujuan untuk membahas pergeseran pola pertunjukan Bagurau Saluang Dendang yang dilakukan oleh Communita Pagurau dan Komunitas Lapau. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan teori kreativitas yang terkait dengan komodifikasi pertunjukan. Penelitian ini menggunakan metode etnografi, dimana metode ini dilakukan dengan observasi partisipan. Selain itu etnografi juga sekaligus sebagai metode penulisan. Hasil temuan dalam penelitian ini bahwa Bagurau Saluang Dendang dalam Communita Pagurau dan Komunitas Lapau mengalami pergeseran yang terbagi atas beberapa item, yaitu materi, musisi, tempat pertunjukan, pengelolaan, penonton, aturan, waktu dan interaksi.Kata Kunci: Bagurau; Saluang Dendang; Communita Pagurau; Komunitas Lapau; Pergeseran Pola Pertunjukan
EKSPRESI MUSIKAL RATOK SIKAMBANG DALAM BABIOLA Darmansyah Darmansyah Darmansyah; Mahdi Bahar Mahdi; Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 1, No 1 (2013): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.039 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v1i1.20

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang pertunjukan biola yang oleh masyarakat Batang kapas dikenal dengan istilah  babiola. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis salah satu repertoar lagu dalam pertunjukan biola tersebut yang sangat dikenal oleh masyarakat setempat, yaitu Ratok Sikambang. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan semiotik sebagai simbol budaya. Hasil penelitian memperlihatkan, bahwa tradisi  babiola (pertunjukan biola) dengan Ratok Sikambang-nya merupakan simbol sosial masyarakat. Biola itu sendiri adalah sejenis alat musik tradisional yaitu sejenis instrumen gesek mirip biola (viol),  dengan materi utamanya adalah penyampaian teks kaba (cerita). Salah satu repertoar lagunya yang terkenal adalah Ratok Sikambang. Ratok Sikambang diyakini sebagai lagu tradisional tertua dan memiliki karakteristik melodi dan teks. Isi teks lagu berupa imitasi bentuk isak tangis ratapan yang dipandang masyarakat pendukungnya sebagai representasi suasana sedih. Hal ini  dialami tokoh legendaris Sikambang yang selalu dirundung penderitaan hidup. Penyajian tradisi Babiola dalam membawakan karakter lagu Ratok Sikambang disajikan secara ekspresif oleh tukang biola (pemain biola) sebagai puncak ekspresi musikal. Kata Kunci: Ekspresi Mussikal, Ratok Sikambang, Babiola, Masyarakat Batang Kapas.  
Kreativitas Sebagai Strategi Pengembangan Musik Kompang Grup Delima di Bantan Tua Bengkalis Rosta Minawati; Nursyirwan Nursyirwan
PANGGUNG Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.975 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v28i3.507

Abstract

ABSTRACTThis article aims to discover the strategy of creativity used by performers of Kompang music in Bantan Tua, Bengkalis. The data was collected through observation, interviews, and documentation. The Kompang Delima Group is one of the kompang groups that has developed kompang as performing art. In 2012 the Delima Group started to include creative movements in their performances. The movement creativities were inspired by the social and cultural life of the people. “Nunduk” is one of the characteristic movements of the Delima Group in Bantan inspired by menoreh (harvesting a rubber). The creativities are developed through the elements of local culture, including movements, formations, and floor patterns, and the emphasis on the clarity of articulation in each line of the recitation of the barzanzi text in order to gain more aesthetic impression of performance.Keywords: creativity, Kompang music, Delima group, BengkalisABSTRAKTulisan ini bertujuan mengungkap strategi kreativitas pemain musik Kompang di Bantan Tua Bengkalis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Grup Kompang Delima adalah salah satu grup Kompang yang mengembangkan musik Kompang sebagai seni pertunjukan. Pada tahun 2012, Grup Delima mulai memasukkan gerak yang kreatif di dalam pertunjukannya. Hasil kreativitas yang dilakukan dengan menggarap gerak yang terinspirasi dari kehidupan sosial dan kultur masyarakatnya. Nunduk adalah gerakan yang khas yang dimiliki grup Delima di Bantan Tua yang terinspirasi dari menoreh (mengambil karet). Kreativitas dilakukan dengan mengembangkan gerak, formasi dan pola lantai, serta penekanan pada kejelasan artikulasi setiap syair barzanji yang dilafalkan agar tercapai kesan estetik dalam penampilannya.Kata kunci: kreativitas, musik Kompang, grup Delima, Bengkalis
SOLIS CELLO DALAM REPERTOAR CONCERTO A MINOR OP.33, HUNGARIAN RHAPSODY OP. 68, LAKSAMANA RAJA DI LAUT, DAN NOW WE ARE FREE Yoga Surya Dirgantara; Ibnu Sina; Nursyirwan Nursyirwan
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 2 (2018): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v4i2.488

Abstract

Pertunjukan solis cello adalah sebuah pertunjukan musik yang menonjolkan instrumen cello sebagai solis dalan pertunjukannya. Dalam menyajikan sebuah pertunjukan solis cello, kematangan seorang solis sangat dibutuhkan dalam membawakan repertoar yang disajikannya. Kematangan itu berupa kemampuan dalam bermain cello itu sendiri, juga pemahaman mengenai repertoar yang ia mainkan. Untuk itu, pertunjukan Solis cello YogaSurya Dirgantara menampilkan beberapa repertoar solis cello pilihan dari berbagai zaman yang berbeda dengan menerapkan teknik, ekspresi, dan interpretasi yang berbeda pula untuk memberi pemahaman kepada audiens mengenai perbedaan-perbedaan tersebut.
MUSIK TRADISI YOGYAKARTA MENGINSPIRASI KARYA SENI BENTUK ORKESTRA DASYI PURNAWIRAWAN; IMAL YAKIN; NURSYIRWAN NURSYIRWAN
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 6, No 2 (2020): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v6i2.655

Abstract

Sinom merupakan sebuah judul komposisi instrumental yang berbentuk dua bagian. Komposisi ini terinspirasi dari sebuah langgam yaitu, langgam sinom yang tidak lain adalah sebuah tembang tradisi dari Jawa Tengah, Yogyakarta. Pada karya komposisi ini, motif pada melodi langgam Sinom, pengkarya olah menjadi sebuah ide garapan. Pengkarya mengolahnya menjadi sebuah komposisi musik instrumental. Tahapan dari metode penciptaan yang digunakan yaitu; pengumpulan data, proses penciptaan dan perwujudan “konsepsi penciptaan” karya seni dalam bentuk musik. Dalam peggarapan komposisi Sinom, pengkarya menggunakan beberapa teknik penggarapan komposisi; repetisi, sequen, diminusi, augmentasi, dan imitasi tanpa menghilangkan nuansa dari langgam sinom. 
PEMBELAJARAN TEKNIK VOKAL PADUAN SUARA SIK-SIBATUMANIKAM DAN WHEN YOU BELIEVE DI YAYASAN PRAYOGA BUKITTINGGI SMPS XAVARIUS Arnia Hartipa Iskandar; Nursyirwan Nursyirwan
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 5, No 2 (2019): Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v5i2.891

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kemampuan siswa dalam bernyanyi yang tidak menggunakan teknik vokal yang baik dan benar. siswa bernyanyi tanpa memperhatikan cara pengucapan syair lagu atau yang disebut juga dengan artikulasi dan pernapasan yang tidak benar, siswa bernyanyi tidak memperhatikan nada atau yang disebut juga dengan intonasi. Mereka hanya sekedar bernyanyi tanpa memperhatikan bagaimana sikap bernyanyi yang baik dan teknik vokal yang benar. Dari pokok permasalahan ini peneliti akan membahas tentang metode Pembelajaran Teknik Vokal Paduan suara Sik-Sibatumanikam dan When You Believe di Yayasan Prayoga Bukittinggi SMPS Xavarius. Dalam penelitian ini peneliti memberi tindakan dengan penilaian tiga kategori yaitu teknik vokal, keseimbangan dalam paduan suara, dan kemampuan bernyanyi. Penelitian yang dilaksanakan di Yayasan Prayoga Bukittinggi SMPS Xavarius menggunakan jenis penelitian tindakan (Action Research). Adapun penelitian ini didukung oleh beberapa metode pembelajaran yaitu, metode demonstrasi, metode imitasi dan metode latihan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes, observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah data tekumpul maka peneliti mulai mengolah data tersebut dengan menggunakan teknik klasifikasi data dan analisis data, yang dihitung dengan tabel distribusi frekuensi.
FENOMENA SOSIAL ANAK TUNGGAL DALAM PENCIPTAAN KOMPOSISI MUSIK NUSANTARA “NYAK TUNGGA” Ahmad Wanda; Asep Saepul Haris; Nursyirwan Nursyirwan
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 2 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i2.1349

Abstract

This work aims to discuss the phenomenon that occurs in the social life of a single child. The only child is a child with no siblings. Based on the results of observations and research on several children who are reviewed from internal (family) and external (environmental) factors, the fact that they have problems in living life at the age of 6 to 21 years, is called Epifani. Epiphany is a moment or experience whose effect can be positive and negative. The works are attracted to the experiences experienced by the single child, and the works relate to the empirical experience of their own works. The focus of this work is on intimidation, psychological impact and maturity created into three pieces of work. This phenomenon concerns the concept of "extravagrisical" which has an analogy structure, interpretation and clear Re-interpretation using several media (instruments) according to the function and needs of the garage. The purpose of this work is to convey the social reality faced by a single child.Keywords:Singlechildren; extramusical; NyakTunggaAbstrakKarya ini bertujuan untuk membahas fenomena yang terjadi pada kehidupan sosial anak tunggal. Anak tunggal adalah anak yang tidak mempunyai saudara kandung. Berdasarkan dari hasil observasi dan riset terhadap beberapa anak tunggal yang ditinjau dari faktor internal (keluarga) dan eksternal (lingkungan), faktanya mereka mempunyai permasalahan dalam menjalani kehidupannya pada usia 6 sampai 21 tahun, itupun disebut dengan Epifani. Epifani merupakan momen atau pengalaman yang efeknya bisa positif dan negatif. Pengkarya tertarik kepada pengalaman-pengalaman yang dialami oleh anak tunggal, dan pengkarya kaitkan dengan pengalaman empiris pengkarya sendiri. Fokus dari karya ini yaitu tentang intimidasi, dampak psikologis dan kedewasaan yang diciptakan menjadi tiga bagian karya. Hal yang menyangkut pada fenomena ini adalah konsep “ekstramusikal” yang mempunyai struktur analogi, interpretasi dan Re-interpretasi yang jelas dengan menggunakan beberapa media (instrumen) sesuai dengan fungsi dan kebutuhan garapnya. Tujuan dari karya ini yaitu ingin menyampaikan realitas sosial yang dihadapi oleh seorang anak tunggal.Kata Kunci: Anak Tunggal, Ekstramusikal, Nyak Tungga
KREASI SULAMAN SUJI CAIA MENGGUNAKAN TEKNIK KERANCANG TIMBUL UNTUK PAKAIAN PEREMPUAN MINANGKABAU Silva Yusalim; Susas Rita Loravianti; Nursyirwan Nursyirwan
Melayu Arts and Performance Journal Vol 4, No 1 (2021): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v4i1.1063

Abstract

The creation of “Suji Caia's embroidery creations using engineering techniques. Embossed for Minangkabau Women's Clothing” is a collaboration of Suji Caia with a manual draft embossed using gold / silver thread metallic. This Suji Caia embroidery creation is applied to Minangkabau women's clothing in the form of a veil, baju kurung and a bag. The form of this is the creation with the concept of expressing personal art as a symbol of the author's personal expression of Suji Caia. This creation is a work of textile art which is applied to Minangkabau women's clothing using rose and saik galamai motifs. In this work, the use of sequins, swarosvky and crystal crest are additional techniques used to add beauty value to the work. There are several stages in creating this artwork method, including exploration, design and embodiment stages. As a result, five works were created, the Minangkabau women's clothing set paired with Pandai Sikek songket.Keywords: Suji Caia Embroidery; Embroidery; Design, Minangkabau; Women's ClothingAbstrakPenciptaan karya seni “Kreasi Sulaman Suji Caia menggunakan Teknik Kerancang Timbul untuk Pakaian Perempuan Minangkabau” merupakan kolaborasi Suji Caia dengan kerancang manual berbentuk timbul menggunakan benang emas/ perak metalik. Kreasi Sulaman Suji Caia ini di terapkan pada pakaian perempuan Miunangkabau berupa kerudung, baju kurung dan tas. Bentuk karya ini merupakan hasil kreasi pengkarya dengan konsep ekspresi personal seni sebagai lambang ekspresi pribadi pengkarya terhadap Suji Caia. Kreasi ini merupakan karya seni tekstil yang diaplikasikan pada pakaian perempuan Minangkabau menggunakan motif mawar dan motif Saik Galamai. Dalam karya ini pemasangan payet, swarosvky dan jambul Kristal merupakan teknik tambahan yang dipakai untuk menambah nilai keindahan karya. Metode dalam penciptaan karya kriya seni ini melalui beberapa tahap, antaranya tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Karya yang diciptakan berjumlah lima set pakaian perempuan minang yang dipasangkan dengan songket Pandai Sikek.Kata Kunci: Sulaman Suji Caia; Bordir, Kerancang; Pakaian Perempuan; Minangkabau.
SENI KALIGRAFI ARAB DALAM EKSPRESI PINTO ACEH Karya Mansyah; Sulaiman Sulaiman; Nursyirwan Nursyirwan
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 1 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i1.1341

Abstract

ABSTRACTPinto Aceh is one of the art objects or motifs that are famous among the people of Aceh and inspired by Pinto Khop. Pinto Aceh was created in 1935 by Mahmud Ibrahim with gold in the form of brooch jewelry. The creation of Pinto Aceh nowaday seen as the aspect of form which is still applied as the initial form from it was created. Based on this phenomenon, the author wishes to create a new form of Pinto Aceh arts and combines it with Arabic calligraphy but still retains its distinctive form. Arabic calligraphy is one of the arts which is known as its religious values created from Arabic letters by embellished writing. In hope this will be an inspiration for art connoisseurs and the people of Aceh. The instructor conduct the research through observation and interview, while the exploration, design and formation stages use the selection of materials, techniques and tools in accordance with the visual that will be created. The method was chosen with the aim that innovation and creation of Pinto Aceh continue to develops. The creation of this work of art is realized by applying Arabic calligraphy following the expression form of Pinto Aceh that have been developed. The artman presents a new form that has never existed before. The media and the tools used are a unity that support the creation of this work. ABSTRAKPinto Aceh adalah salah satu benda kriya seni ataupun motif yang terkenal dikalangan masyarakat Aceh dan terinspirasi dari Pinto Khop. Pinto Aceh diciptakan pada tahun 1935 oleh Mahmud Ibrahim dengan bahan emas berupa perhiasan bros. Penciptaan Pinto Aceh sekarang ini ditinjau dari segi bentuk masih diterapkan sama seperti bentuk awal diciptakan. Berdasarkan fenomena tersebut pengkarya berkeinginan menciptakan bentuk karya baru Pinto Aceh mengkombinasikannya dengan kaligrafi Arab tetapi tetap mempertahankan bentuk khasnya. Kaligrafi Arab merupakan salah satu seni yang identik dengan nilai religi yang dibuat dari huruf Arab dengan cara penulisan yang diperindah. Diharapkan hal ini dapat menjadi inspirasi bagi para penikmat seni dan masyarakat Aceh. Pengkarya melakukan riset melalui observasi dan wawancara, sedangkan tahap eksplorasi, perancangan dan pembentukkan menggunakan pemilihan bahan, teknik dan alat sesuai dengan visual yang akan diciptakan. Metode tersebut dipilih dengan tujuan agar inovasi dan kreasi Pinto Aceh terus berkembang. Penciptaan karya seni ini diwujudkan dengan mengaplikasikan kaligrafi Arab mengikuti ekspresi bentik Pinto Aceh yang telah dikembangkan. Pengkarya menghadirkan bentuk baru yang belum pernah ada sebelumnya. Medium dan alat yang digunakan merupakan satu kesatuan yang mendukung untuk terciptakanya karya ini.
PERANCANGAN PERTUNJUKAN TEATER LAKON "SENJA DENGAN DUA KELELAWAR" KARYA KIRDJOMULYO Megi - Hardani; Yusril Yusril; Nursyirwan Nursyirwan
Melayu Arts and Performance Journal Vol 2, No 2 (2019): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v2i2.912

Abstract

ABSTRAK Perancangan teater lakon “Senja Dengan Dua Kelelawar” karya Kirdjomulyo merupakan proses penciptaan teks lakon menuju pemanggungan atau pertunjukan teater. Proses penciptaan ini diawali dengan perancangan pertunjukan yang berisi tentang konsep, metode, dan perwujudannya diatas panggung.Perwujudan perancangan lakon Senja Dengan Dua Kelelawar karya Kirdjomulyo dalam sebuah pementasan teater diawali dengan melakukan analisis terhadap teks baik analisis struktur maupun tekstur lakon. Langkah tersebut ditindak lanjuti dengan perancangan bentuk pementasan dengan mengacu pada gaya lakon yakni gaya realisme. Gaya realisme adalah gaya dalam pertunjukan teater yang dihadirkan melalui dengan menjadikan realitas sehari-hari sebagai pijakan. Kata kunci: lakon, struktur dan tekstur, realisme  ABRSTRACT Kirdomulyo’s theatrical play called “Senja Dengan Dua Kelelawar” (translated loosely as “An Evening With A Pair Of Bats”) demostrates a creation process of play script which is translated into a theatrical performance.  The creation process started with a concept, methodology and the overall packge of theatrical performance.  The overal process of Kirdomulyo’s “Senja Dengan Dua Kelelawar” play started wtih a deep analysis on the scrript (both structural or texture of the play).  This is followed by the design formation of the overal theatrical performance with a style that put emphasize on the reality of day to day lives as a foothold  Key words: play, structure and texture, realistic
Co-Authors Abdul Majid Abdul Majid Abdul Majid, Abdul Majid Ahmad Wanda Alfalah Alfalah Aluna, Aluna Andar Indra Sastra Andiko, Benny Arnia Hartipa Iskandar Asep Saepul Haris, Asep Saepul Asral, Kairul Auliyaa ul Laytsy Benny Andiko Darmansyah Darmansyah Darmansyah Darmansyah, Darmansyah Darmansyah DASYI PURNAWIRAWAN Delfi Enida Delfi Enida Deria sepdwiko Ediwar Ediwar Emridawati Emridawati Erlinda Erlinda Ernida, Ernida Fadilla, Siti Fattahul Anughara Fauzan Alhaq Bukharla Febri Yulika Febriani, Hanirma Guslian, Indra Hanefi Hanefi Hanefi, Hanefi Haqqi, Iqbal Rahmatull Hasna, Hasna Herawati Herawati Herawati Herawati Hidayat, Hengki Armez Hidayat, Hengki Armez HR, Hafif Ibnu Sina IMAL YAKIN In, Wilman Intan Rizki Intan Intan, Intan Rizki Irwan Irwan Kairul Asral Karnisah, Karnisah Karya Mansyah Kumala, Ofa Yutri Kumala, Ofa Yutri Kumala Yutri Kurniawan, Al Wahyu KUSTILO, ANTON Laila Okta Triani Lidiantari, Aulini Mahdi Bahar Mahdi Bahar Mahdi Bahar Mahdi Mahdi, Mahdi Bahar Martarosa Martarosa Martion Martion Megi - Hardani Nainggolan, Daniel Steven Nilawati Nilawati Nilawati Nilawati, Nilawati Nilawati NOFRIDAYATI, NOFRIDAYATI Nora Anggraini Novatianus, Wilman Ismira Nurkholis Nurkholis Nurwijayanti Ofa Yutri Kumala Rahmanda, Fajri Rizdki Rizdki Rizdki, Rizdki Rosmegawaty Tindaon Rosta Minawati Roza Muliati Rustim Rustim Safina, Vanesha Sastra Munafri, Sastra sepdwiko, Deria Silva Yusalim Sulaeman Sulaeman Sulaiman Juned Sulaiman Sulaiman Supriando, Supriando Suranti Utami Susas Rita Loravianti SYAHPUTRA, DWIVA NANDA Utami, Suranti Vani Sasri Wahyuni Wahyuni, Vani Sasri Yoga Surya Dirgantara Yogian Hutagama Yogian Hutagama Yosi Ramadona Yosi Ramadona Yosi Ramadona Yusril, Yusril Zebua, Ester Oniati