Claim Missing Document
Check
Articles

Legal Consequences of Offenders Possessing and Controlling Bomb Explosives Without Rights and Without Permits (Verdict 1107/Pid.Sus/2020/Pn.Tjk) Hartono, Bambang; Hasan, Zainudin; Shyashya, Nurul
IJCLS (Indonesian Journal of Criminal Law Studies) Vol 7, No 2 (2022): Indonesia J. Crim. L. Studies (November, 2022)
Publisher : Universitas Negeri Semarang (UNNES)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijcls.v7i2.34959

Abstract

The manufacture of low explosives without a permit is very dangerous. Not only with a permit that has been set more than the level of security of the explosives. This attack on the manufacture of low explosives without a permit has been formulated in the Emergency Law no. 12 of 1951 concerning Firearms and Explosives. This type of research used normative juridical and empirical juridical methods. Results Based on the research and discussion, it is known that the Investigation Process in the case of the Crime of Possessing Unauthorized and Unlicensed Bomb Explosives is in accordance with the Investigation Procedure according to the elements contained in the criminal act, namely Whoever, Investigation, Investigation, and Arrest. The process of proof in terms of proof is one of the important elements in criminal procedural law which determines whether or not a trial is guilty. Legal Consequences of the Crime of Possessing Unauthorized and Unlicensed Bomb Explosives based on evidence in court.
Implementasi Sanksi Pidana Terhadap Anak Pelaku Tindak Pidana Persetubuhan Yang Dilakukan Dengan Anak Sebagai Korban Hartono, Bambang; Hasan, Zainudin; Virnanda, Muhammad Dioluvans
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 2 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i2.9429

Abstract

Anak yang merupakan subjek hukum juga mempunyai hak-hak dan kewajiban dihadapan hukum yang berlaku di Indonesia. Seiring dengan perkembangan waktu tidak jarang anak yang berhadapan dengan hukum, baik menjadi korban maupun menjadi pelaku dari perbuatan hukum tersebut, sehingga anak tersebut menanggung suatu akibat hukum. Berdasarkan latar belakang, penelitian ini berfokus pada implementasi sanksi pidana terhadap anak pelaku tindak pidana persetubuhan yang dilakukan dengan anak sebagai korban. Permasalah penelitian yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah faktor penyebab anak melakukan persetubuhan dengan anak dan bagaimana implementasi sanksi pidana terhadap anak pelaku persetubuhan dengan anak sebagai korban. Metode penelitian dilaksanakan secara yuridis normatif dan empiris. Jenis data yang dipergunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder dan primer, yang diperoleh dari studi kepustakaan dan studi lapangan. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis yuridis kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diketahui faktor penyebab anak pelaku tindak pidana persetubuhan yang dilakukan dengan anak sebagai korban yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu dari kurangnya pemahaman agama dan ketidakmampuan si anak untuk menahan hawa nafsunya, sedangkan faktor eksternal yang pertama adalah kurangnya pengaruh orang tua dalam mendidik anak dan pengaruh dari media sosial & teknologi. Implementasi sanksi pidana terhadap anak pelaku tindak pidana persetubuhan yang dilakukan dengan anak sebagai korban dengan Pidana Penjara di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Lampung Di Masgar selama 1 (satu) tahun dan pelatihan kerja selama 1 (satu) bulan di LPKS Insan Berguna Lampung.
Internalisasi Literasi Wacana Kebhinekaan Berdasar Asta Cita bagi anak Pekerja Migran di Comunity Learning Center Malaysia Prasandha, Diyamon; Moh. Farizqo Irvan; Hartono, Bambang; Maulana Phaundra Tegar Irawan
Abdi Ilmiah untuk Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2025): ABHIMA
Publisher : Lia Center of Research and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64850/abhima.v1i2.141

Abstract

Pendidikan anak-anak pekerja migran di Malaysia dibina melalui program Community Learning Center (CLC). CLC merupakan pusat kegiatan pembelajaran masyarakat Indonesia, yang didirikan atas upaya, oleh, dan untuk masyarakat lokal, khususnya perusahaan perkebunan kelapa sawit dan masyarakat lokal di Sabah dan Sarawak, didukung dan dipromosikan oleh pemerintah. Kebanyakan dari anak buruh migran belum dapat menempuh pendidikan secara layak karena terkendala berkas administratif. Pada kebutuhan pendampingan program, dan perlunya pendampingan pada bidang literasi lebih khusus pada aspek muatan Pancasila supaya anak buruh migran juga mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Adapun kegiatan yang akan dilakukan dalam program literasi profil pelajar Pancasila dalam internalisasi literasi di Community Learning Center Malaysia. di antaranya: 1) penguatan literasi wacana kebhinekaan 2) pendampingan kegiatan projek profil pelajar Pancasila, dan 3) aksentuasi nilai asta cita dan pengimbasannya. Program literasi profil pelajar Pancasila selaras dengan Program Sekolah Penggerak Balai Besar Guru Penggerak Kemeterian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan mendukung program Asa Cita Presiden dan Wakil Presiden Indonesia.
The Accountability for Self-Defense (Noodweer) in a Ruling on Assault Resulting in Severe Injury (Case Study of Decision Number 76/Pid.B/2025/PN TJK) Sidabutar, Bayu; Seftiniara, Intan Nurina; Hartono, Bambang
The Future of Education Journal Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v5i1.1591

Abstract

This study examines criminal liability for self-defense (noodweer) in cases of assault resulting in serious injury, focusing on Decision Number 76/Pid.B/2025/PN TJK. The research analyzes the factors causing the assault within the context of self-defense and the criminal responsibility of defendants who exceed the limits of lawful self-defense. The study employs both normative juridical and empirical approaches, using secondary data such as legislation, criminal law literature, and court decisions, as well as primary data obtained through interviews with investigators, prosecutors, judges, and the defendant. The findings indicate that the assault resulted from a complex interaction of internal and external factors, including emotional instability, economic pressure, an unfavorable environment, a culture of violence, and direct provocation and sudden attacks by the victim. Although the defendant acted under threat, the response was disproportionate and constituted excessive self-defense (noodweer exces). Consequently, the court held the defendant criminally liable under Article 351 paragraph (2) of the Indonesian Criminal Code and imposed a one-year prison sentence. The study emphasizes that lawful self-defense must be proportional and not excessive.
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG TERHADAP PACAR DI BAWAH UMUR MELALUI MEDIA SOSIAL (STUDI PUTUSAN NOMOR 22/PID.SUS-ANAK/2023/PN TJK) Yuliar, Boby; Hartono, Bambang
YUSTISI Vol 13 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v13i1.22868

Abstract

Perdagangan orang merupakan kejahatan serius yang melanggar hak asasi manusia dan seringkali menyasar kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak. Perkembangan teknologi informasi, terutama media sosial, turut mempermudah modus operandi tindak pidana perdagangan orang, termasuk dalam relasi personal seperti hubungan pacaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab terjadinya tindak pidana perdagangan orang terhadap pacar yang masih di bawah umur melalui media sosial serta bentuk pertanggungjawaban pidana pelaku berdasarkan Putusan Nomor 22/Pid.Sus-Anak/2023/PN Tjk. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dan empiris dengan menggunakan data sekunder dan data primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi, penyalahgunaan relasi personal, dan kemudahan akses media sosial menjadi faktor dominan terjadinya tindak pidana tersebut. Selain itu, pertanggungjawaban pidana pelaku telah diterapkan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan memperhatikan prinsip peradilan anak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam penguatan perlindungan hukum terhadap anak dan pencegahan perdagangan orang berbasis digital. Kata kunci: Pertanggungjawaban Pidana, Perdagangan Orang, Anak, Media Sosial.
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG TERHADAP PACAR DI BAWAH UMUR MELALUI MEDIA SOSIAL (STUDI PUTUSAN NOMOR 22/PID.SUS-ANAK/2023/PN TJK) Yuliar, Boby; Hartono, Bambang
YUSTISI Vol 13 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v13i1.22868

Abstract

Perdagangan orang merupakan kejahatan serius yang melanggar hak asasi manusia dan seringkali menyasar kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak. Perkembangan teknologi informasi, terutama media sosial, turut mempermudah modus operandi tindak pidana perdagangan orang, termasuk dalam relasi personal seperti hubungan pacaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab terjadinya tindak pidana perdagangan orang terhadap pacar yang masih di bawah umur melalui media sosial serta bentuk pertanggungjawaban pidana pelaku berdasarkan Putusan Nomor 22/Pid.Sus-Anak/2023/PN Tjk. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dan empiris dengan menggunakan data sekunder dan data primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi, penyalahgunaan relasi personal, dan kemudahan akses media sosial menjadi faktor dominan terjadinya tindak pidana tersebut. Selain itu, pertanggungjawaban pidana pelaku telah diterapkan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan memperhatikan prinsip peradilan anak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam penguatan perlindungan hukum terhadap anak dan pencegahan perdagangan orang berbasis digital. Kata kunci: Pertanggungjawaban Pidana, Perdagangan Orang, Anak, Media Sosial.
Proporsionalitas Sanksi Pidana Dalam Perkara Pencurian Dengan Keadaan yang Memberatkan (Studi Putusan Nomor: 758/Pid.B/2025/PN Tjk) Hartono, Bambang; Seftiniara, Intan Nurina; Akbar, Daffa Alrizqi
AURELIA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 5, No 1 (2026): January 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/aurelia.v5i1.7938

Abstract

Pencurian dikualifikasi dengan ancaman hukuman yang lebih berat jika dibandingkan dengan pencurian biasa, sesuai dengan Pasal 363 KUHP maka bunyinya sebagai berikut: (1) Dipidana dengan pidana penjara selamalamanya tujuh tahun, seperti pencurian ternak. Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimana Proporsionalitas Sanksi Pidana Dalam Perkara Pencurian Dengan Keadaan yang Memberatkan berdasarkan Putusan Nomor: 758/Pid.B/ 2025/PN Tjk ? dan Apakah faktor penyebab pelaku melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan  berdasarkan Putusan Nomor: 758/Pid.B/2025/PN Tjk?, Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian skripsi ini ialah Pedekatan yuridis normatif dan pendekatan empiris. Berdasarkan hasil penelitian yang didapat bahwa, Proporsionalitas Sanksi Pidana Dalam Perkara Pencurian Dengan Keadaan Yang Memberatkan Berdasarkan Putusan Nomor: 758/Pid.B/ 2025/PN Tjk  telah sesuai dimana  Majelis Hakim menjatuhkan sanksi pidana penjara selama 2 (dua) tahun. Jika dikorelasikan dengan ancaman maksimal Pasal 363 KUHP (7 tahun), maka putusan ini mencerminkan penerapan asas proporsionalitas. Hakim mempertimbangkan keadaan yang memberatkan dan meringankan secara berimbang dan Faktor Penyebab Pelaku Melakukan Tindak Pidana Pencurian Dengan Pemberatan  Berdasarkan Putusan Nomor: 758/Pid.B/2025/PN Tjk  didasarkan pada 2 (dua) faktor pendorong yakni faktor internal yang mana pelaku memiliki pengendalian diri yang kurang serta keimanan yang lemaha  karena faktor ekonomi dan jauh dari Maha kuasa sehingga pelaku terjerumus dan melakukan tindak Pidana pencurian.  Selain Faktor internal tersebut faktor ekseternal juga sangat berpengaruh besar terhadap terjadi tindak pidana pencurian yakni kecerobohan dari korban yang di dapat memnacing sedorang untuk melakukan tindak pidana pencurian sebagaimana yang di lakukan oleh Terdakwa.
The Criminal Law Enforcement Against Perpetrators of Motor Vehicle Theft with Violence in the Perspective of Certainty and Justice (A Study of Decision Number 651/Pid.B/2025/PN Tjk) Hartono, Bambang; Seftiniara, Intan Nurina; Febriansyah, M. Abi
The Future of Education Journal Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v5i1.1618

Abstract

The crime of motor vehicle theft with violence is a criminal phenomenon that is very disturbing to the community because it not only threatens property, but also the safety of life. This study aims to analyze the factors causing the crime of motor vehicle theft with violence, and law enforcement efforts based on (Study of Decision Number 651 / Pid.B / 2025 / PN Tjk) the mechanism of criminal law enforcement against perpetrators of theft with violence and evaluate the implementation of law enforcement in achieving the value of legal certainty and justice. The problems in this study are: the factors causing the crime of motor vehicle theft with violence based on decision number 651 / Pid.B / 2025 / PN Tjk. and criminal law enforcement against perpetrators of motor vehicle theft with violence based on decision number 651 / Pid.B / 2025 / PN Tjk. The research method uses a normative juridical and empirical juridical approach. The normative juridical approach is taken through a literature study by examining relevant laws and regulations, doctrines, and legal literature. Meanwhile, an empirical approach is carried out by interviewing parties involved or directly understanding the case in order to obtain a factual picture regarding the application of the law in the field. The results of the study indicate that the factors causing this crime come from internal aspects in the form of economic factors, education, religion, personality as well as external aspects which include the influence of family, environment, culture or habits. Regarding law enforcement, it has been carried out appropriately, and in accordance with the mechanisms of criminal procedure law. This can be seen from several aspects: the fulfillment of all elements of Article 363 paragraph (1) 4.5 of the Criminal Code, the Public Prosecutor assesses that the elements of the crime have been completely proven, and states that the perpetrator consciously committed his actions as a perpetrator of motor vehicle theft, the Panel of Judges issued a verdict based on the belief obtained from evidence, evidence and statements from witnesses and the perpetrator. The suggestion from this study is that law enforcement officers increase their accuracy in conducting examinations and eradicating criminal acts such as theft.
ANALISIS KELAYAKAN MEDIA PEMBELAJARAN DIGITAL PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS X Agista Nurul Inayyah; Bambang Hartono
EDUTECH : Jurnal Inovasi Pendidikan Berbantuan Teknologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/edutech.v6i3.11208

Abstract

Indonesian language learning in secondary schools still faces challenges, including low student interest and the limited use of varied learning media. Although technological advancements have encouraged the integration of various digital learning media, the feasibility of these media based on students’ experiences and evaluations has not been widely examined. Therefore, analyzing the feasibility of digital learning media is important to provide teachers with evidence-based considerations in selecting media that align with students’ learning needs. This study aims to determine the feasibility of digital-based learning media based on students’ evaluations in tenth-grade Indonesian language instruction. The study employed a quantitative approach supported by qualitative data, with data collected through non-participant observation, questionnaires, and interviews. The participants consisted of tenth-grade students and five Indonesian language teachers from five different schools utilizing different types of digital learning media, namely animated videos, PowerPoint, Smart TV-based mind mapping, Genially, and digital flipbooks. The results showed that Smart TV-based mind mapping obtained the highest score of 82.5%, categorized as highly feasible. Meanwhile, animated videos achieved 80.3%, Genially 78.7%, digital flipbooks 75.4%, and PowerPoint 72.7%, all categorized as feasible. Interview findings revealed that students were more interested and actively engaged when learning activities incorporated visual, audio, and interactive elements. The challenges encountered in implementing digital learning media included limited internet connectivity, malfunctioning supporting devices, and the time required to develop more interactive digital learning materials. ABSTRAK Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah masih menghadapi tantangan berupa rendahnya minat belajar siswa dan penggunaan media pembelajaran yang kurang bervariasi. Perkembangan teknologi mendorong pemanfaatan berbagai media pembelajaran digital, namun belum semua media yang digunakan telah diketahui tingkat kelayakannya berdasarkan pengalaman dan penilaian siswa. Oleh karena itu, analisis kelayakan media pembelajaran digital penting dilakukan sebagai dasar bagi guru dalam memilih media yang sesuai dengan kebutuhan belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran berbasis digital berdasarkan penilaian siswa pada pembelajaran bahasa Indonesia kelas X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi nonpartisipasi, angket, dan wawancara. Subjek penelitian terdiri atas siswa kelas X dan lima guru bahasa Indonesia dari lima sekolah yang menggunakan media pembelajaran digital yang berbeda, yaitu video animasi, PowerPoint, mind mapping berbasis Smart TV, Genially, dan flipbook digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media mind mapping berbasis Smart TV memperoleh persentase tertinggi sebesar 82,5% dengan kategori sangat layak. Sementara itu, video animasi memperoleh persentase sebesar 80,3%, Genially 78,7%, flipbook digital 75,4%, dan PowerPoint 72,7% dengan kategori layak. Hasil wawancara guru menunjukkan bahwa siswa lebih tertarik dan aktif ketika pembelajaran menggunakan media yang memadukan unsur visual, audio, dan interaktif. Kendala yang dihadapi dalam penggunaan media digital meliputi keterbatasan jaringan internet, kerusakan perangkat pendukung, serta waktu yang diperlukan untuk mengembangkan media yang lebih interaktif.
Desain Media Grafis Berbasis Stimulasi Gambar Bermuatan Budaya Daerah untuk Pembelajaran Menulis Teks di SMP Berdasarkan Kurikulum Merdeka Bambang Hartono; Meina Febriani; Diyamon Prasandha; Deby Luriawati Naryatmojo; Haryadi Haryadi; Yustinah Yustinah
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 2 (2026): JULI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i2.10835

Abstract

Penelitian ini bertujuan menghasilkan dan menguji kelayakan model media grafis berstimulasi gambar bermuatan kebudayaan daerah untuk pembelajaran menulis teks pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP berdasarkan Kurikulum Merdeka. Penelitian menggunakan metode research and development (R&D) dengan mengadaptasi lima dari sepuluh langkah Borg dan Gall, meliputi studi pendahuluan, perencanaan, pengembangan prototipe, validasi, dan revisi produk.  Penelitian dilaksanakan di dua SMP di Kota Semarang dengan subjek penelitian terdiri atas guru Bahasa Indonesia, murid SMP, dan ahli media pembelajaran. Data dikumpulkan melalui angket, observasi, wawancara, dokumentasi, dan penilaian ahli, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa media pembelajaran menulis yang digunakan guru masih didominasi penyajian teks dan belum mampu memvisualisasikan tahapan menulis secara sistematis. Berdasarkan analisis kebutuhan, dikembangkan media grafis berbentuk bagan alir berbasis stimulasi gambar yang mengintegrasikan kebudayaan daerah. Model dikembangkan berdasarkan prinsip kesederhanaan, kelengkapan, efektivitas, daya tarik, motivasi, variasi, pembimbingan, dan integrasi. Hasil validasi ahli serta tanggapan guru dan murid menunjukkan bahwa media yang dikembangkan memiliki tingkat kelayakan, penerimaan, dan kebermanfaatan yang tinggi dalam mendukung pembelajaran menulis teks. Media ini berpotensi menjadi alternatif inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menulis sekaligus melestarikan budaya daerah.