p-Index From 2021 - 2026
2.459
P-Index
This Author published in this journals
All Journal MANAJEMEN HUTAN TROPIKA Journal of Tropical Forest Management Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis JOURNAL OF COASTAL DEVELOPMENT Jurnal Ilmu Lingkungan Indonesian Journal of Forestry Research JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN Analisis Kebijakan Pertanian Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri JAM : Jurnal Aplikasi Manajemen Wacana, Jurnal Sosial dan Humaniora Jurnal Solum Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Agrivet : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian dan Peternakan (Journal of Agricultural Sciences and Veteriner) Jurnal Wilayah dan Lingkungan Jurnal Tataloka Jurnal Ekonomi Pertanian, Sumberdaya dan Lingkungan Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Journal of Environment and Sustainability JRMSI - Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan JRB-Jurnal Riset Bisnis Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Agro Bali: Agricultural Journal JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Analisis Kebijakan Pertanian Monas: Jurnal Inovasi Aparatur Jurnal Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan Jurnal PADMA: Pengabdian Dharma Masyarakat Edu Society: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sosial dan Pengabdian Kepada Masyarakat Journal Of Sustainability Perspectives Jurnal Riset Rumpun Seni, Desain dan Media (JURRSENDEM) Journal of Sustainability Perspectives Accounting and Sustainability Business and Sustainability IJAE Indonesian Journal of Forestry Research
Claim Missing Document
Check
Articles

Zona Tradisional Wujud Desentralisasi Pengelolaan Taman Nasional Di Indonesia: Pemikiran Konseptual Sulistyo, Edi H.S; Basuni, Sambas; Satria, Arif; Hidayat, Aceng
ISSN 0216-0897
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerintah Indonesia telah menyadari pentingnya sistem desentralisasi pengeloaan sumber daya hutan termasuk pengeloaan hutan konservasi. Sejalan dengan perubahan lingkungan strategis, baik nasional maupun internasional, pemerintah mengeluarkan PP No. 28 tahun 2011 tentang Pengelolaan KSA dan KPA. Dalam PP ini di antaranya diatur tentang pemberian akses kepada masyarakat setempat untuk memanfaatkan sumber daya Taman Nasional (TN). Kajian ini bertujuan untuk : 1) analisis desentralisasi pengelolaan TN dengan mencermati dimensi hak kepemilikan yang diberikan kepada masyarakat setempat yang diatur dalam PP No. 28 tahun 2011; 2) porsi kekuasaan yang diberikan dari pemerintah pusat kepada masyarakat setempat dan 3)mengetahui desentralisasi pemanfaatan sumber daya kawasan konservasi di India dan Nepal yang berguna bagi langkah-langkah Indonesia ke depan. Pemanfaatan tradisional di zona tradisional disebut sebagai bentuk desentralisasi, sedangkan tingkatan hak yang dapat diberikan kepada masyarakat setempat di zona tradisional adalah “proprietors”. Pelajaran yang dapat dipetik dari pelaksanaan desentralisasi di India dan Nepal adalah bahwa pemberian hak yang terbatas yaitu access dan withdrawal saja tidak dapat memperbaiki kondisi sumber daya dan juga tidak dapat memperbaiki hubungan antara pemerintah dengan masyarakat setempat.
Carrying Capacity and Institutional Analysis of Floating Net Cages in Jatiluhur Reservoir Simangunsong, Nurmala Fitri; Hidayat, Aceng
Sustinere: Journal of Environment and Sustainability Vol 1 No 1 (2017): pp. 1 - 62 (June 2017)
Publisher : Centre for Science and Technology, IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.254 KB) | DOI: 10.22515/sustinere.jes.v1i1.6

Abstract

The cultivation of freshwater fish with floating net-cages system in the area of Jatiluhur Reservoir, Purwakarta Regency has increased in quantity. It results in the pollution and sedimentation because of development of floating net-cages business which exceeds the carrying capacity of the reservoir. This research aimed to analyze the carrying capacity of Jatiluhur Reservoir, conduct the institutional analysis, and analyze the perception of stakeholders involved in floating net-cages management in Jatiluhur Reservoir. Interview and literature review were used as the primary and secondary data collection methods. The results showed that the number of floating net-cages units in accordance with the carrying capacity of Jatiluhur Reservoir was amounted to 6,838 floating net-cages. For the management of floating net-cages in Jatiluhur Reservoir, the Department of Animal Husbandry and Fisheries of Purwakarta Regency and Perum Jasa Tirta II have important roles in formulating regulations and providing guidance to the fish farmers. The transaction costs spent on formulating regulations and providing guidance by the Regional Government of Purwakarta Regency was amounted to Rp 689,400,000 per year while Perum Jasa Tirta II spent amounted to Rp 70,107,900 per year. Although stakeholders have common perception on ecological and economic aspects, they have different perception on the management aspects of floating net-cages.
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK REHABILITASI HUTAN MANGROVE KOTA LANGSA ACEH Iswahyudi, Iswahyudi; Kusmana, Cecep; Hidayat, Aceng; Noorachmat, Bambang Pramudya
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol 20 No 1 (2019)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/jmst.v20i1.823.2019

Abstract

Mangrove ecosystem has  the role of interface ecosystem between land and sea. It has social, economic and ecological functions. The decreasing quality and quantity of mangrove mangrove forrest has resulted in environmental damage. Langsa City has mangrove forest in damaged condition because of conversion into fish ponds, illegal logging, pollution and settlements. The purpose of this research was to determine the level of land suitability of rehabilitated mangrove areas. The research was conducted in Langsa City, Aceh. Location and method of this research determined by purposive and descriptive with survey techniques. The Analytical method used is a suitability analysis. According to land suitability matrix and spatial analysis, there were three types of mangroves that can be used for rehabilitation programs in the study area like Rhizophora spp., Avicennia spp., and Sonneratia spp. In land suitability level, Rhizophora spp. had the highest of land suitability around 1.263,92 ha (66,88%). Ekosistem mangrove merupakan wilayah yang berperan sebagai peralihan antara daratan dan lautan yang mempunyai fungsi ekologi, sosial ekonomi, dan fisik. Menurunnya kualitas dan kuantitas hutan mangrove telah mengakibatkan kerusakan lingkungan. Kondisi hutan mangrove Kota Langsa pada saat ini mengalami kerusakan. Faktor utama penyebab kerusakan, antara lain konversi hutan mangrove menjadi tambak, pembalakan liar, pencemaran, dan permukiman baru. Tujuan penelitian untuk menentukan tingkat kesesuaian lahan pada areal rehabilitasi mangrove. Penelitian ini dilakukan di Kota Langsa, Aceh. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive dan menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei. Analisis kesesuaian lahan dan analisis spasial untuk mengetahui tingkat kesesuaian lahan mangrove digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan, ada tiga jenis mangrove yang dapat digunakan untuk program rehabilitasi, yaitu: Rhizophora spp., Avicennia spp., dan Sonneratia spp. Berdasarkan tingkat kesesuaian lahan, jenis Rhizophora spp. mempunyai tingkat kesesuaian lahan tertinggi. Luasan lahan yang dapat ditanami jenis Rhizophora spp. seluas 1.263,92 ha (66,88%).
The Roles and Sustainability of Local Institutions of Mangrove Management in Pahawang Island Indra Gumay Febryano; Didik Suharjito; Dudung Darusman; Cecep Kusmana; Aceng Hidayat
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.699 KB)

Abstract

Local institutions along with community participation are crucial things in a sustainable development.  Collective actions performed by a community in managing natural resources have led to success, but local institutions are also facing challenges to institutional sustainability.  This research aimed to elucidate and explain the roles and sustainability of local institutions of mangrove management. This research is a qualitative research, using a case study method Research results showed that the majority of community support and admit that mangroves in their region as Mangrove Preservation Area under controlled by management of local organization with agreed rules.  Nevertheless, the inability of local organizations to enforce such rules when facing investors and politics in the local level has caused these organizations to elude their support and institutional status.  It is for this reason that local institutions need to be strengthened through collaboration among local institutions, local, national and international NGOs, universities, research institutions, and many others.  Such collaboration can improve bargaining position of local institutions, so that finally can promote regency government policies which favoring more to local institutions. Mangrove management in a sustainable way by local institutions will help regency government in rural development.
Conflicts of Utilization and Sustainable Production Forest Management in Forest Management Unit of Meranti in South Sumatera Ja Posman Napitu; Aceng Hidayat; Sambas Basuni; Sofyan Sjaf
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 23 No. 3 (2017)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1487.085 KB)

Abstract

Utilization conflicts among users threatening the sustainability of forest management. This study is to determine the intensity of conflict and the sustainability of forest management in FMU Meranti by integrating the convergent parallel mixed method and Rapid Land Tenure Assessment. Data was collected through interviews with key informants, literatures, maps, documents, and histories studies; as well as focus groups discussions in eight villages around the FMU Meranti. The results showed that the people's bundle of right, the interaction and social capital, dispute against the coorporation's financial modal. Generally, the interaction and social capital elements are owned by the local community, while the financial modal is owned by the permit holder and the local elite. Based on the power analysis on each object, the power of both community and permit holders are equally strong. The conflict intensity is subdivided into three conflict categories, i.e.: open (31%), appear (44%), and latent conflicts (25%). The special area (wilayah tertentu) and open access area are highly prioritized, that need conflict resolution. The existence of the environmental damages, unclear ownership rights, lack of stakeholder supporting, and non-optimal institutional performance lead the sustainable forest management to bad category (40.6%).
Community Forest Scheme: Measuring Impact in Livelihood Case Study Lombok Tengah Regency, West Nusa Tenggara Province Eny Widiya Astuti; Aceng Hidayat; Dodik Ridho Nurrochmat
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 26 No. 1 (2020)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.805 KB) | DOI: 10.7226/jtfm.26.1.52

Abstract

Community forest (Hutan Kemasyarakatan/HKm) is one of the social forestry scheme policies stipulated by the Indonesian government to give partial rights to the community to be able to manage the state forest area. This scheme has implemented for more than ten years, and that includes areas in Lombok Tengah Regency. This research aims to analyze the impact of social forestry scheme policies on the economy of communities around forests and conducted in May–August 2019. By the HKm scheme, the community can manage up to 0.5 ha forest area per person and expected to increase livelihood benefits as well as improve conservation outcomes such as decreasing illegal logging and planting more trees. Based on the study conducted, the community has experienced an increase in livelihoods as well as improvements in environmental conditions. Indicator used in measuring community welfare is per capita income, which noted in the study area is IDR3,609,603 annually and inequality (Gini coefficient), which noted less than 0.4 or in the 'low' category. This study shows that the Gini coefficient in the research location is high (0.530). When compared, the income gap in the group of respondents who got the HKm program was better than the group of respondents who did not. The Gini coefficient data shows that the HKm program quite succeeds in target to increase livelihood benefits. The HKm program expected to improve the level of income inequality (Gini coefficient) from 0.483 (HKm) compared to 0.566 (non-HKm). These findings are important messages to further the HKm scheme policies.
KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN PELAGIS BESAR DI KOTA AMBON Ahadar Tuhuteru; Tridoyo Kusumastanto; Aceng Hidayat
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 2 No 3 (2015): Desember
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan pelagis besar yang dominan ditangkap oleh nelayan-nelayan di Kota Ambon adalah ikan cakalang dan tuna. Kecenderungan penangkapan yang meningkat terhadap dua komoditas pelagis besar tersebut mengancam keberlanjutan sumberdayanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat alokasi optimal dan kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan pelagis besar di pesisir Kota Ambon. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis bioekonomi serta Analytic Hierarchy Process (AHP). Hasil studi menunjukkan bahwa rente ekonomi tertinggi adalah rezim MEY yaitu Rp.11.723 juta dengan tingkat produksi sebesar 1.926 ton dan effort 2.404 trip. Tingkat produksi aktual sebesar 1.813 ton per tahun dan nilai effort 3.221 trip per tahun lebih rendah dari MSY (2.491 ton per tahun dan 4.589 trip per tahun) dengan nilai rente ekonomi  Rp.2.543 juta per tahun menunjukkan kondisi sumberdaya ikan pelagis besar di Kota Ambon belum terindikasi overfishing. Para pakar (responden) menganggap kriteria ekologi memegang peranan penting dalam keberlanjutan sumberdaya ikan pelagis besar di pesisir Kota Ambon. Agar pengelolaan sumberdaya perikanan pelagis besar berkelanjutan, maka arah kebijakan yang diperlukan meliputi pengaturan quota, pengembangan investasi armada tangkap pancing tonda (trolling) dibandingkan huhate (pole and line), peningkatan kapasitas SDM, manajemen usaha terpadu, dan penguatan peran lembaga sasi.
ESTIMASI NILAI PAJAK EMISI DAN KEBIJAKAN KENDARAAN UMUM BERBAHAN BAKAR BENSIN DI KOTA BOGOR Aceng Hidayat; Nuva Nuva; Sylviana Dewi Syafitri
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 3 No 1 (2016): April
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah sarana transportasi di Kota Bogor menyebabkan padatnya lalu lintas di Kota Bogor. Kendaraan yang dominan dipakai adalah sepeda motor dan mobil penumpang, kendaraan bermotor jenis mobil barang dan bus. Meningkatnya jumlah kendaraan tersebut menyebabkan peningkatan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan berdampak pada lingkungan. Pencemaran udara yang terjadi di kota besar termasuk di Kota Bogor pada umumnya berasal dari sumber bergerak, yaitu sebesar 70 persen. Konsumsi bahan bakar bensin di Kota Bogor sebanyak 90 persen dari total konsumsi semua bahan bakar di Kota Bogor. Kendaraan umum yang berbahan bakar bensin di Kota Bogor mengkonsumsi bahan bakar bensin sebesar tiga persen. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengestimasi nilai kerugian ekonomi akibat emisi kendaraan umum berbahan bakar bensin di Kota Bogor; 2) Mengestimasi nilai pajak emisi per zat pencemar yang dihasilkan oleh kendaraan umum berbahan bakar bensin di Kota Bogor; 3) Menganalisis persepsi masyarakat dan key person terhadap pencemaran udara dan pajak emisi kendaraan umum. Hasil estimasi nilai kerugian ekonomi akibat emisi kendaraan umum berbahan bakar bensin mencapai Rp 608.689.391 per tahun. Hasil estimasi nilai pajak emisi per zat pencemar yang dihasilkan oleh kendaraan umum berbahan bakar bensin adalah HC sebesar Rp 1,339/gram atau Rp 1.339/kg dan CO sebesar Rp 0,209/gram atau Rp 209/kg. Analisis pada persepsi pencemaran udara dan pajak emisi kendaraan umum adalah terdapat perbedaan persepsi di antara pengemudi angkutan kota, pengguna angkutan kota, dan pemerintah.
ANALISIS KELEMBAGAAN PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP DI WADUK CIRATA Aceng Hidayat; Dewi Marisa Marits; Prima Gandhi
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 3 No 2 (2016): Agustus
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu waduk di Jawa Barat yang berfungsi sebagai pembangkit lisrik Jawa-Bali adalah Waduk Cirata. Selain sebagai pembangkit listrik, waduk ini juga memiliki banyak manfaat bagi masyarakat. Salah satu manfaat yang dirasakan masyarakat dari Waduk Cirata adalah manfaat ekonomi sektor perikanan tangkap. Beberapa stakeholder mempunyai kepentingan berbeda dalam pemanfaatan sumberdaya waduk. Sistem pengelolaan yang tepat dan dapat mewadahi seluruh kepentingan stakeholder sangat diperlukan untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan dan lingkungan waduk. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengestimasi potensi ekonomi perikanan tangkap di Waduk Cirata, (2) menganalisis kelembagaan pengelolaan perikanan tangkap di Waduk Cirata, (3) menganalisis persepsi stakeholder terhadap aktivitas perikanan tangkap di Waduk Cirata. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis konten/isi kelembagaan dan analisis persepsi stakeholder menggunakan skala likert. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelembagaan pengelolaan perikanan tangkap Waduk Cirata hanya terdiri atas aturan formal saja. Aturan tersebut telah mengatur seluruh kebutuhan stakeholder pengelola dan pemanfaat sumberdaya ikan. Stakeholder yang terlibat secara langsung dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan terdiri atas pemerintah, swasta, penegak hukum, akademisi, dan masyarakat. Perbedaan persepsi stakeholder terlihat antara pemerintah dan pelaku usaha yaitu mengenai kejelasan aturan main. Kondisi perikanan tangkap Waduk Cirata dari tahun 2010 sampai 2015 cenderung berfluktuasi. Potensi sumberdaya ikan Waduk Cirata pada tahun 2014 dan 2015 secara berturut-turut sebesar 3.511,38 ton dan 3.583,41 ton dengan nilai produksi sebesar 28,39 miliar rupiah dan 29,06 miliar rupiah.Kata kunci:  Waduk Cirata, stakeholder, Kelembagaan, Perikanan Tangkap
KEBIJAKAN UNTUK KEBERLANJUTAN EKOLOGI, SOSIAL, EKONOMI WADUK DAN BUDIDAYA KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA Aceng Hidayat; Zukhruf Annisa; Prima Gandhi
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 3 No 3 (2016): Desember
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cirata merupakan nama waduk terbesar di Jawa Barat yang memiliki fungsi utama sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk pasokan listrik wilayah pulau Jawa dan Bali. Selain menyediakan pasokan listrik, waduk ini dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan tangkap, perikanan budidaya keramba jaring apung (KJA), transportasi dan pariwisata. Aktivitas di perairan waduk yang melebihi daya dukung lingkungan menimbulkan permasalahan tersendiri yang dapat mengancam status keberlanjutan waduk  sebagai PLTA maupun sebagai perairan umum daratan. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan waduk yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan waduk dan keberlanjutan budidaya KJA dalam multidimensi keberlanjutan (ekologi, ekonomi dan sosial) dengan menggunakan analisis multidimentional scaling dengan alat analisis Rapid Appraisal for Fisheries Status (Rapfish), kemudian dilakukan analisis sensitivitas dan ketidakpastian menggunakan analisis Monte Carlo dan Leverage. Berdasarkan hasil penelitian status keberlanjutan waduk dan budidaya KJA termasuk dalam status kurang berkelanjutan. Status keberlanjutan Waduk Cirata lebih baik dari status keberlanjutan budidaya KJA yang terdapat di perairan waduk, hal ini dapat dilihat dari nilai indeks keberlanjutan budidaya KJA yang cenderung lebih besar. Atribut-atribut yang sensitif memerlukan respon kebijakan yang tepat demi terwujudnya pengelolaan waduk yang berkelanjutan. Kondisi keberlanjutan waduk dan budidaya KJA sangat mempengaruhi satu sama lain, yang artinya kondisi buruk salah satu elemen keberlanjutan akan menghambat terwujudnya keberlanjutan yang lainnya.