Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Identification of Bioactive Compounds from Pedada Fruit Extract (Sonneratia Caseolaris) to Prevent Stunting Damayanti, Azarine Ahnafia; Diarsvitri, Wienta; Nefertiti, Eva Pravitasari; Rahayu, Indri Ngesti
Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18 No 1 (2024): Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta Kerja Sama KNPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33533/jpm.v18i1.7491

Abstract

Stunting is a problem that still cannot be resolved throughout the world, especially in Indonesia. Children who are malnourished show high levels of blood oxidative stress biomarkers as well as inhibition in growth. To understand prevention of stunting, research was conducted using pedada fruit (Sonneratia caseolaris) which is a mangrove plant taken at the Wonorejo Magrove Ecotourism, Rungkut District, Surabaya City, East Java. The results of the research were used to reveal that there are bioactive compounds in pedada fruit extract to prevent stunting. This research used One Shot Experimental Study. The variables studied used primary data from screening of phenolic and flavonoid antioxidant metabolite compounds at the FK UHT Pharmacy Laboratory and screening for Cu, Fe, Zn mineral content at the UPT East Java Nutrition Laboratory. Result: Based on the results of qualitative phytochemical screening, pedada fruit contained phytochemical compounds, namely phenolics and flavonoids. Mineral screening of pedada fruit was carried out using the Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) method. Pedada fruit extract contained zinc (Zn) of 1.057 mg, while copper (Cu) and iron (Fe) of 0 mg.
ANGINA STABIL Diarsvitri, Wienta
Surabaya Biomedical Journal Vol 2 No 1 (2022): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v2i1.39

Abstract

Tujuan Penelitian: Penyakit jantung dan pembuluh darah masih merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia, serta membutuhkan biaya kesehatan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk membahas faktor resiko, patogenesis dan tata laksana angina stabil. Metode : Penelitian literature review ini menggunakan 14 artikel dengan kriteria inklusi artikel yang dipublikasikan di jurnal nasional terakreditasi dan jurnal internasional antara tahun 2017-2021, berbahasa Indonesia atau Inggris, dan dapat diakses full text. Artikel didapatkan dari mesin pencari PubMed, Google Scholar dan Cochrane dengan beberapa kata kunci. Hasil : Angina stabil terjadi saat endotelium dari arteri terpapar dengan berbagai faktor risiko seperti dislipidemi, hormon vasokonstriktor, hasil glikosidasi terkait hiperglikemi, sitokin pro inflamasi dari jaringan adiposa atau produk bakteri tertentu, yang menyebabkan peningkatan ekspresi molekul adesi pada bagian dalam dinding arteri. Pada angina stabil remodeling arteri yang sering dijumpai adalah lesi aterosklerosis dengan negative remodelling (tipe stenosis). Sekitar sepertiga pasien dengan angina stabil yang telah mendapatkan terapi farmakologis dan revaskularisasi melaporkan keluhan angina kronis Kesimpulan : Keberhasilan terapi angina stabil tidak hanya ditentukan oleh terapi farmakologi, namun juga modifikasi gaya hidup dan faktor resiko.
Atrial Septal Defect Hakim, An Nahl Aulia; Adnaya, Anak Agung Ngurah Maheza; Prasetyo, Ananda Bangun; Pikir, Rizqi Rokhmadhoni; Diarsvitri, Wienta; Suhadi, Ananda Rizki; Dita, Anastasia
Surabaya Biomedical Journal Vol 4 No 1 (2024): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v4i1.147

Abstract

Background: Atrial Septal Defect (ASD) is one of the most common congenital heart diseases, occurring in about 25% of children and accounting for 6-10% of all congenital heart conditions. ASD is more frequently observed in females with a ratio of 2:1 and often does not show symptoms in infants, unless there is an increase in right ventricular volume. Case Report: A 7-year-old girl was referred with complaints of shortness of breath and cyanosis at the fingertips, accompanied by palpitations. Initial diagnosis was established through physical examination and echocardiography, which revealed a secundum ASD measuring 1.9 cm. The ASD closure surgery was performed but had to be halted due to intraoperative bradycardia. The patient then underwent subsequent therapy with Lisinopril and Spironolactone and was in good condition at the last follow-up. Discussion: Management of ASD, whether through surgical or catheter-based intervention, is recommended to prevent further complications such as paradoxical embolism and pulmonary hypertension. This case underscores the importance of timely diagnosis and treatment to prevent long-term health impacts in patients with ASD.
Pengaruh Kebiasaan Cuci Tangan Selama Masa Pandemi Covid-19 Terhadap Kejadian Dermatitis Tangan Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Willy, Johannes; Ardiana, Dian; Noer Shoffi, Muhammad; Diarsvitri, Wienta
Jurnal Medika Malahayati Vol 8, No 3 (2024): Volume 8 Nomor 3
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v8i3.14958

Abstract

Pandemi Covid-19 menyebabkan munculnya beberapa kebiasaan baru, diantaranya kebiasaan cuci tangan. Peningkatan frekuensi cuci tangan menyebabkan peningkatan kejadian dermatitis tangan. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh frekuensi cuci tangan dan jenis antiseptik terhadap kejadian dermatitis tangan pada mahasiswa. Jenis penelitian adalah analitik observasional. Data didapatkan melalui kuesioner online. Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester 7 Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah tahun 2022, yang bersedia dan tidak memiliki riwayat penyakit asma, hay fever, serta dermatitis atopik pada masa kanak-kanak. Data diolah dengan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan 51,5% responden memiliki frekuensi cuci tangan lebih dari lima kali sehari dan 86,4% responden melakukan cuci tangan dengan air dan sabun. Uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,964 dan  p = 0,727 yang berarti tidak terdapat pengaruh frekuensi cuci tangan maupun jenis antiseptik terhadap kejadian dermatitis tangan pada mahasiswa.
Pengabdian Masyarakat Lintas Stakeholder Di Kawasan RW 10 Kelurahan Tambakrejo Kecamatan Simokerto Kota Surabaya Djuari, Lilik; Prajitno, Subur; Diarsvitri, Wienta; Nurida, Annisa; Wartiningsih, Minarni; Silitonga, Hanna Tabita Hasianna; Saleh, Maya Syahria; Sincihu, Yudhiakuari; Dewi, Dewa Ayu Liona
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 3 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v3i1.2133

Abstract

Pengabdian masyarakat lintas stakeholder di kawasan RW 10 kelurahan Tambakrejo melibatkan beberapa stakeholder yang mempunyai tujuan yang sama yaitu memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat yang tinggal di sekitar rel kereta api secara gratis. Stakeholder yang terlibat yaitu PDK3MI, Puskesmas Tambakrejo, Gereja Bethel Indonesia, Kelurahan Tambakrejo beserta jajarannya termasuk kader kesehatan. Masing-masing stakeholder mempunyai peran yang berbeda dan saling menguntungkan. Jumlah masyarakat yang dilayani sebanyak 151 orang (75,5% dari target). Masyarakat yang datang sebagian besar wanita dan lansia dengan penyakit terbanyak adalah infeksi saluran pernafasan atas Pengadaan obat sebesar Rp. 2. 489.895,- dan yang digunakan sebesar 67,49%. Perlu pengadaan obat yang lebih maksimal dalam pengabdian masyarakat tersebut.
Delayed Speech Dengan dan Tanpa Gangguan Pendengaran pada Anak Usia 6 Bulan sampai 3 Tahun di Jala Puspa RSPAL Dr. Ramelan Surabaya Periode 2017-2020 Halim, Anthony Stephen; Limantara, Edward; Diarsvitri, Wienta
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v10i2.1710

Abstract

Late or untreated delayed speech can be a risk for social, emotional, behavioral and cognitive problems in adulthood. Delayed speech is associated with hearing loss, mental retardation, autism spectrum disorder (OSD), bilingualism, and lack of psychosocial stimuli. Objectives: To determine the prevalence of delayed speech with and without hearing loss in children aged six months until three years. Methods: This study used 872 medical records of delayed speech children aged six months until three years with and without hearing loss in 2017 until 2020 period at Jala Puspa RSPAL Dr. Ramelan, Surabaya. The presence or absence of hearing loss was examined using Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA), and the degree of hearing loss was examined using Auditory Steady-State Response (ASSR) test. Results: From a total of 872 medical records data studied, 558 (64.0%) were males and 314 (36.0%) were females. The majority (44.8%) of delayed speech children were from the two-year age group. There were 565 (64.8%) delayed speech children with hearing loss and 307 (35.2%) without hearing loss. Of those with hearing loss, 48.0% showed a profound degree. There was an increase in delayed speech children without hearing loss compared to those with hearing loss, from 1:2.04 in 2017 to 1:1.12 in 2020. Conclusion: There was an increase in delayed speech children without hearing loss compared to those with hearing loss.Keywords:  ASSR, BERA, delayed speech, hearing loss
KARAKTERISTIK KLINIS DAN HISTOPATOLOGI KARSINOMA NASOFARING DI RSPAL DR. RAMELAN, SURABAYA: 30-37 Shoffi, Muhammad Noer; Diarsvitri, Wienta
Surabaya Biomedical Journal Vol. 1 No. 1 (2021): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v1i1.5

Abstract

Penelitian ini bertujuan untukmengetahuikrakteristik penderita karsinoma nasofaring (KNF) di Rumah Sakit Pusat Angkatan Laut (RSPAL)dr. Ramelan, Surabaya. Penelitian deskriptif ini menggunakan rekam medis pasien KNF yang baru terdiagnosis di poliklinik THT, RSPAL dr. Ramelan antara Bulan Oktober – Desember 2020. Karakteristik pasien termasuk gejala yang muncul, stadium klinis dan subtipe histopatologi dicatat dan dievaluasi. Dari 22 orang pasien KNF, dua pertiganya laki-laki, lebih dari setengahnya datang dengan keluhan benjolan di leher, dan hampir seluruh pasien sudah dalam stadium lanjut. Temuan histopatologi menunjukkan WHO subtipe 3 adalah tipe KNF yang paling umum. Diagnosis dini merupakan strategi yang penting untuk meningkatkan hasil terapi kanker dengan memberikan perawatan terbaik sedini mungkin
CHOLEDOCHAL CYST: SERIAL KASUS: 51-57 Yudadi, Redemptus; Diarsvitri, Wienta
Surabaya Biomedical Journal Vol. 1 No. 1 (2021): September
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v1i1.8

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melaporkan diagnosis dan manajemen dari beberapa kasus langka choledochal cyst (CC), kelainan kongenital saluran bilier yang ditangani di Sub Departemen Bedah Digestif RSPAL Dr. Ramelan, Surabaya. Artikel ini disusun berdasarkan laporan tiga serial kasus CC yang ditangani di Sub Departmen Bedah Digestif RSPAL dr. Ramelan tahun 2018-2020. Dilaporkan tiga kasus CC pada pasien perempuan: dua kasus pada pasien berusia 20 tahun, dan satu kasus pada pasien berusia 64 tahun. Pada ketiga pasien tersebut ditemukan gejala berupa nyeri abdomen di daerah epigastrium, dua orang dengan ikterus intermiten dan seorang pasien dengan kondisi situs inversus. Hanya seorang pasien teraba massa di daerah epigastrium. Pada pemeriksaan penunjang dengan USG abdomen, MRCP dan cholangiografi intraoperatif ditemukan gambaran dilatasi kistik choledocus (common bile duct) yang mendukung suatu CC, dan tidak tampak batu di saluran bilier. Pada saat operasi, pada ketiga pasien tersebut ditemukan CC tipe I (klasifikasi Todani tipe I) dengan bentuk fusiformis. Diputuskan dilakukan eksisi CC dan rekonstruksi biliodigestif dengan hepatikojejunostomi Roux-en-Y. Hasil pemeriksaan patologi anatomi menunjukkan tanda radang dinding saluran bilier dan tidak ditemukan tanda keganasan. Pasca operasi, kondisi ketiga pasien tersebut baik. CC pada pasien dewasa sering ditemukan dengan gejala yang tidak jelas dan disertai komplikasi. Manajemen CC dengan eksisi dan rekonstruksi biliodigestif hepatikojejunostomi Roux-en-Y berhasil dengan baik.
KELAINAN KONGENITAL MULTIPEL PADA NEONATUS DENGAN SPINA BIFIDA: SERIAL KASUS Mukminin, Amiril; Diarsvitri, Wienta
Surabaya Biomedical Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Januari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v1i2.19

Abstract

Pendahuluan: Spina bifida (SB) merupakan suatu kelainan kongenital sistem saraf pusat dengan prevalensi tertinggi dalam spektrum cacat tabung saraf (neural tube defect) akibat gangguan penutupan tulang belakang janin pada bulan pertama kehamilan. Laporan kasus: Dilaporkan dua kasus SB pada bayi laki-laki berusia dua hari dan tiga hari yang lahir prematur. Pada kedua pasien ditemukan massa di area lumbosakral disertai rembesan cairan serebrospinal (cerebro spinal fluid) serta kelainan kongenital multipel antara lain berupa congenital talipes equinovarus (CTEV) bilateral, hipospadia dan atresia ani. Kedua pasien menjalani pemeriksaan darah, ekokardiografi, CT scan tanpa kontras dan babygram. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan prothrombine time, thromboplastine time dan kalium. Hasil CT scan menunjukkan ventriculomegali dan edema otak. Echocardiography menunjukkan adanya PDA. Pasien menjalani kolostomi, repair spina bifida dan pemasangan ventriculoperitoneal (VP) shunt. Pembahasan: SB sering disertai dengan kelainan kongenital lain yang berasal dari lapisan neuroektoderm saat embriogenesis. Segera setelah bayi lahir perlu dilakukan pemeriksaan dan manajemen secara komprehensif dari tim multidisiplin terkait adanya bagian neural placode yang terbuka untuk mengetahui lokasi, ukuran, apakah ada kebocoran cairan serebrospinal serta kelainan kongenital lain yang menyertai.
KEJADIAN DEPRESI PADA IBU POST PARTUM GEMELI DI RSUD Dr. SOEROTO NGAWI Herdiyantini, Mita; Diarsvitri, Wienta
Surabaya Biomedical Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Januari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v1i2.20

Abstract

Tujuan Penelitian: Perubahan biologis selama kehamilan dapat menjadi penctus terjadinya gangguan psikologis mulai dari yang ringan hingga gangguan jiwa. Penelitian ini memberikan gambaran kejadian depresi pada ibu post partum yang melahirkan bayi kembar (gemeli) di RSUDD Dr. Soeroto Ngawi selama bulan Januari 2016-Maret 2016. Metode : Penelitian deskriptif ini menggunakan kuesioner Edinburgh Postnatal Depresion Scale (EPDS) pada 12 ibu post partum yang melahirkan gemeli di Ruang Nifas Wijaya Kusuma dan kontrol nifas di Poli Hamil/Kandungan Rumah Sakit Umum Dr. Soeroto, Ngawi selama bulan Januari 2016-Maret 2016. Hasil : Sebagian besar responden (75%) berpendidikan SD-SMP, 67% responden berusia 20-24 tahun, 67% responden tidak bekerja, 58% tidak pernah kontrol rutin selama kehamilan. Enam responden (50%) menyatakan jarang mengalami gangguan tidur, 33% menyatakan bahwa hampir setiap waktu mengalami gangguan tidur karena kecemasan yang dialami, 17% tidak pernah mengalami gangguan tidur. Mayoritas responden (58%) tidak pernah mengalami kejadian/peristiwa berat pada satu tahun sebelum hamil. Berdasarkan hasil Kuesioner EPDS didapatkan 58% responden kemungkinan tidak mengalami depresi, 25% responden kemungkinannya sedang untuk mengalami depresi, 17% responden kemungkinannya tinggi untuk mengalami depresi. Kesimpulan : Sebagian besar responden post partum gemeli yang kemungkinan mengalami depresi berasal dari kelompok usia 20-24 tahun, mempunyai anak lebih dari tiga, dan tidak rutin kontrol di poli RSUDD Dr. Soeroto Ngawi. Oleh karena itu diperlukan kerjasama lintas sektor untuk mencegah terjadinya depresi pada ibu post partum gemelli.