Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Double Skin Façade: A Green Building Strategy Approach Towards Low Carbon Architecture Dewi, Cynthia Permata; Ikaputra, Ikaputra
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 22, No 2: July 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.v22i2.5827

Abstract

The emergence of global warming due to the increase in the amount of carbon emissions and greenhouse gas emissions is caused by one of the activities of the construction industry sector. Green building is one of the solutions that can help reduce energy consumption in buildings and carbon emissions in the building life cycle. Double Skin Façade (DSF) is one of the green building strategies that can be applied to new and existing buildings. This study aims to determine the type of DSF used in the field and how DSF can affect the energy consumption of buildings. This research uses a narrative review method that focuses on the application of the DSF strategy, how the mechanism works on the type of DSF used. The results show that the use of DSF is able to reduce HVAC energy loads in buildings in various types of climates. Stack effect as a key capability of DSF is able to create airflow in the air gap so as to stimulate air movement which in turn can reduce the use of HVAC in buildings. This shows that the DSF strategy is one of the green building strategies that has great potential to be developed in the future.
TANTANGAN IMPLEMENTASI GREEN BUILDING DI INDONESIA DAN MALAYSIA: COMPARATIVE REVIEW Syukur, Abdul; Ikaputra, Ikaputra; Rahmawati, Yani
Agora : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol. 23 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/agora.v23i1.21757

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan dalam implementasi green building di Indonesia dan Malaysia. Konsep Green Building menjadi perhatian dunia karena dampak perubahan iklim, di mana sektor konstruksi memberikan kontribusi signifikan terhadap kerusakan lingkungan. Meskipun Indonesia dan Malaysia menerapkan sistem penilaian yang berbeda, keduanya memiliki visi yang sama sebagaimana diatur dalam forum Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu mewujudkan pembangunan berkelanjutan pada tahun 2030. Penelitian ini menggunakan metode Comparative Review dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Proses ini dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai studi sebelumnya. Temuan menunjukkan bahwa baik Indonesia maupun Malaysia menghadapi tantangan unik dalam menjamin keberlanjutan penerapan Green Building. Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata dari berbagai pihak, termasuk kebijakan strategis pemerintah, peningkatan kesadaran masyarakat, serta kontribusi aktif dari sektor swasta.
Living Heritage sebagai Pendekatan Konservasi: Sebuah Studi Literatur Safitri, Ristya Arinta; Ikaputra, Ikaputra
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 21, No 1: January 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.v21i1.2450

Abstract

Aset heritage yang ditinggalkan dari masa lalu memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. Akan tetapi pelestarian heritage banyak mengalami masalah, terutama pada situs heritage yang masih dihuni. Salah satu pendekatan konservasi yang berkaitan dengan hal tersebut adalah pendekatan Living heritage. Living heritage merupakan sebuah situs heritage yang masih asli, dijaga dan dikembangkan oleh komunitas inti yang berada pada situs tersebut, memiliki nilai-nilai yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendekatan living heritage. Peneliitian dilakukan dengan studi literatur untuk mengetahui pengertian dan prinsip-prinsip living heritage yang dapat dikembangkan sebagai sebuah pendekatan konservasi, serta menelusuri penerapan living heritage pada negara-negara lain. Pada kesimpulanya, pendekatan living heritage merupakan jawaban untuk konservasi situs heritage dan manusia. Living heritage dapat menjadi sebuah pendekatan konservasi yang menjembatani antara orisinalitas masa lalu dan keberlanjutan di masa depan.
Analisis Kesediaan Pengguna Kereta Api terhadap Penerapan Protokol Covid-19 Taufiq Mulyono, Agus; Wismadi, Arif; ikaputra, Ikaputra; Kurniawan, Dwi Ardianta; Harmanto, Jan Prabowo; Puspitasari, Reni; listifadah, listifadah
Warta Penelitian Perhubungan Vol. 33 No. 2 (2021): Warta Penelitian Perhubungan
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/warlit.v33i2.1954

Abstract

Pandemi COVID–19 menyebabkan perlunya penerapan protokol kesehatan pada pengoperasian kereta api. Protokol kesehatan tersebut berbasis pada minimalisasi kondisi 3C (Closed Space, Crowded Place, Closed Contact Setting). Penerapan protokol kesehatan dalam operasional KA memerlukan penerimaan pengguna agar dapat berjalan secara efisien. Untuk mengetahui kemauan pengguna kereta api terhadap penerapan protokol kesehatan, dilakukan survei online dengan metode stated preference. Parameter yang diuji meliputi tarif, kelengkapan dokumen kesehatan, protokol di stasiun, protokol di kereta, serta protokol pribadi. Hasil analisis memperlihatkan tingginya penerimaan penumpang terhadap penerapan protokol Covid pada perkeretaapian, yang diperlihatkan dengan kemauan menggunakan kereta yang lebih tinggi pada penerapan protokol kesehatan secara ketat dibandingkan penerapan secara longgar. Kondisi ini terjadi pada kereta api antar kota maupun kereta Jabodetabek.  Kata kunci: pandemi, covid 19, stated preference, persepsi, kereta api
Analisis Kesediaan Pengguna Kereta Api terhadap Penerapan Protokol Covid-19 Taufiq Mulyono, Agus; Wismadi, Arif; ikaputra, Ikaputra; Kurniawan, Dwi Ardianta; Harmanto, Jan Prabowo; Puspitasari, Reni; listifadah, listifadah
Warta Penelitian Perhubungan Vol. 33 No. 2 (2021): Warta Penelitian Perhubungan
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/warlit.v33i2.1954

Abstract

Pandemi COVID–19 menyebabkan perlunya penerapan protokol kesehatan pada pengoperasian kereta api. Protokol kesehatan tersebut berbasis pada minimalisasi kondisi 3C (Closed Space, Crowded Place, Closed Contact Setting). Penerapan protokol kesehatan dalam operasional KA memerlukan penerimaan pengguna agar dapat berjalan secara efisien. Untuk mengetahui kemauan pengguna kereta api terhadap penerapan protokol kesehatan, dilakukan survei online dengan metode stated preference. Parameter yang diuji meliputi tarif, kelengkapan dokumen kesehatan, protokol di stasiun, protokol di kereta, serta protokol pribadi. Hasil analisis memperlihatkan tingginya penerimaan penumpang terhadap penerapan protokol Covid pada perkeretaapian, yang diperlihatkan dengan kemauan menggunakan kereta yang lebih tinggi pada penerapan protokol kesehatan secara ketat dibandingkan penerapan secara longgar. Kondisi ini terjadi pada kereta api antar kota maupun kereta Jabodetabek.  Kata kunci: pandemi, covid 19, stated preference, persepsi, kereta api
Tipologi dan Morfologi Kota Bersejarah Lasem Mandaka, Mutiawati; Ikaputra, Ikaputra; Widyastuti, Dyah Titisari
JURNAL ARSITEKTUR PENDAPA Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Widya Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37631/pendapa.v5i1.594

Abstract

Paper ini bertujuan untuk mengetahui mengapa tipologi dan morfologi pada kota bersejarah (historic city) penting untuk dipelajari. Pembahasan yang ada pada paper ini masih bersifat general terutama terkait dengan tipologi dan morfologi pada historic city namun masih dapat dikembangkan lagi. Fokus amatan historic city mengambil studi kasus di kota Lasem. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review dengan menekankan pada scoping review. Scoping review dipilih sebagai metode untuk mengidentifikasi dan memetakan beberapa studi kasus dari contoh-contoh tipologi dan morfologi historic city dunia seperti di Tokyo, Venesia dan Paris digunakan sebagai gambaran umum dan fokus amatan penelitian adalah di Lasem, Temuan penelitian yaitu tipologi dan morfologi historic city ini menghasilkan bahwa historic city terbentuk dari urban  artefak yang diperoleh dari sejarah pembentukan city skeleton yang terdiri dari streets, plots dan buldings yang terbentuk melalui proses waktu yang lama dengan sejarah yang berbeda-beda yang penting untuk dipelajari agar mampu memprediksi rencana kota di masa depan.
Tinjauan Literatur: Informalitas Permukiman Informal Perkotaan Amalia, Andi Annisa; Ikaputra, Ikaputra
Jurnal Linears Vol. 7 No. 1 (2024): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v7i1.14344

Abstract

Permukiman informal seringkali berkembang menjadi struktur yang lebih formal namun sulit untuk diidentifikasi secara jelas. Hal ini disebabkan oleh prinsip informalitas belum sepenuhnya dipahami secara teoritis, terutama pada spasial. Dari sudut pandang teritorial, permukiman informal sering tidak terlihat dalam struktur kota formal, bahkan jalanannya tidak tercatat dalam peta formal. Untuk  memahami prinsip informalitas dalam proses perkembangan permukiman informal, langkah awal yang diperlukan adalah melakukan tinjauan literatur. Tujuan studi literatur dalam penelitian ini adalah untuk menemukan prinsip dasar informalitas dalam permukiman informal perkotaan. Metode penelusuran literatur informalitas permukiman informal menggunakan analisis bibliometrik, State of The Art, etimologi, teoretis dan studi kasus di beberapa negara wilayah global selatan sebagai referensi. Adapun hasil tinjauan literatur: 1) Analisis Bibliometrik Vosviewer menghasilkan lima klasterisasi yaitu informal settlement, informal settlements, housing, urban development dan urban morphology; 2) subyek permukiman informal erat dengan urbanisasi, informalitas, perubahan iklim, daerah terbangun dan hunian terjangkau; 3) lokus permukiman informal umumnya terkonsentrasi di pusat kota, bangunan hunian, slum, squater, dan negara berkembang; 4) Informalitas permukiman informal perkotaan muncul dan tumbuh secara generatif melalui pengorganisasian mandiri dan kumpulan adaptif sebagai strategi bermukim, berkembang dengan spontan, tidak terdaftar dan ilegal; 5) Mode produksi permukiman informal adalah irregular (sporadis), inferior, insecure (tidak terjamin), illegal (ilegal), insurgent (perlawanan), incremental (inkremental) dan improvisation (improvisasi). Informalitas dalam permukiman informal diawali dengan urbanisasi informal, mencakup praktik-praktik spasial permukiman yang berasal dari ide dan inisiatif para pemukim. Secara teknis terbentuk di luar jangkauan peraturan, tidak terkendali dan tidak terencana.
MODEL OF EXPERIMENTAL PRAGMATISM IN ARCHITECTURE Widiastuti, Kurnia; Ikaputra, Ikaputra
Border: Jurnal Arsitektur Vol. 2 No. 1 (2020): JUNE 2020
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Architecture and Design, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/border.v2i1.28

Abstract

The discourse on experimental pragmatism, as a paradigm in architecture is very limited. Different than experimental architecture, pragmatism in experimental pragmatism architecture adds a dimension of rational actualization in a design speculation, so that it has the potential to answer the challenges of changing world. This study aims to obtain experimental pragmatism paradigm model in architecture using content analysis method. It was learned that experimental pragmatism (PE)in architecture can be modelled as design paradigm that prioritizes the strength of discovery goals (T) and their actualization in the experiment process (P) and design output (L) according to their attributes. Attributes of ‘process’ are method and parameter (MP) while atributs of ‘outputs’ are characteristic and parameters (SP). Experimental architecture and experimental pragmatism are equally related to aspects of goals, processes and outcomes, but differ in emphasis. Experimental architecture emphasizes aspects of the process, while architectural pragmatism emphasizes aspects of goals that are more related to the non-physical stages of architectural programming.
Pengalaman Indra dan Persepsi Manusia: Sebuah Kajian mengenai Sense of Place Pramudito, Sidhi; Ikaputra, Ikaputra
RUAS Vol. 21 No. 1 (2023)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2023.021.01.13

Abstract

Through interaction, humans build relationships and become part of the environment. The process of interaction will shape the experience of individual senses, memory, and perception on which to create a sense of place. This study aims to determine the process of creating the meaning of places based on perceptions received by the human senses. The method used is qualitative descriptive, with a case (Malioboro) within the scope of sensory experience and perception. Case study analysis uses adaptations of content analysis methods. The results showed that the sense of sight has an important role in responding to a stimulus, producing memory, and perception in a setting. The involvement of other senses besides the sense of sight in the creation of environmental settings is important because through the entire senses will be produced an increasingly specific, distinctive, and personal meaning of place. The resulting meaning will then become a long-term memory that can be expressed to the audience to further reinforce the collective meaning of the place.
Climate Change and Flood Exposure in Settlements: Spatial Analysis of Geographical and Topographical Factors for Urban Resilience Hidayati, Zakiah; Ikaputra, Ikaputra
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1, 2025
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jadu.v8i1.28672

Abstract

Climate change has increased the frequency and intensity of flood events, posing substantial threats to urban settlements, especially those situated in topographically vulnerable areas. This study investigates the role of geographical and topographical attributes—such as elevation, slope, proximity to water bodies, and landform configuration—in shaping flood exposure. Through a systematic literature review of 31 peer-reviewed articles, the research highlights the physical determinants of flood risk under changing climate conditions. It identifies critical spatial factors contributing to exposure, including natural features (e.g., low-lying coastlines and floodplains) and anthropogenic interventions (e.g., artificial fill, unregulated urban expansion, and inadequate drainage). Case studies from diverse contexts—such as O‘ahu (Hawai‘i), Bekasi (Indonesia), and the Tanaro River Valley (Italy)—demonstrate how these spatial characteristics interact with climate-driven hazards to amplify urban flood risks. Unlike many previous studies that emphasize hazard intensity or socio-economic vulnerability, this research narrows its scope to physical exposure as a foundational dimension of risk. The findings stress the need for spatially grounded planning approaches that integrate topographic analysis and nature-based solutions into disaster risk reduction and urban resilience strategies. By focusing on exposure, this study provides a conceptual contribution to the field of urban climate adaptation, reframing physical geography not as a passive backdrop but as an active and dynamic determinant of vulnerability. This study highlights physical exposure as an active spatial condition, offering a reframed perspective for integrating topographic insight into urban flood resilience planning.