Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : BERKALA SAINSTEK

STRUKTUR ANATOMI DAUN LENGKENG (DIMOCARPUS LONGAN LOUR.) KULTIVAR LOKAL, ITOH, PINGPONG DAN DIAMOND RIVER Aini, Nurul; Setyati, Dwi; Umiyah, Umiyah
BERKALA SAINSTEK Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : My Home

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lengkeng (Dimocarpus longan Lour.) merupakan salah satu tanaman asli dari Asia Tenggara yang termasuk dalam famili Sapindaceae. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui struktur anatomi daun lengkeng dan perbedaan antar ke empat kultivar tersebut. Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu metode parafin (Suntoro, 1983) untuk preparat anatomi di Fakultas Biologi, UGM dan metode Johansen (1940) dilakukan untuk pembuatan preparat paradermal stomata di jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Jember. Hasil menunjukkan bahwa struktur anatomi daun lengkeng terdapat perbedaan dalam hal ketebalannya. Nilai ketebalan daun tertinggi pada kultivar Pingpong dengan mesofil paling tebal diantara ketiga kultivar tersebut yaitu 174,04 μm, dan jaringan palisade yaitu 71,69 μm, epidermis atas yaitu 12,52 μm, kutikula yaitu 5,53 μm, serta mempunyai lengan trikoma paling panjang dengan nilai rata-rata 17,82 μm, Kultivar pingpong juga mempunyai nilai densitas stomata tertinggi di antara ketiga kultivar lainnya yaitu 20,38 mm2, tetapi mempunyai panjang stomata terendah yaitu 21,42 μm. Kata Kunci: Anatomi lengkeng, Dimocarpus longan,, densitas stomata.
JENIS-JENIS TUMBUHAN BERKAYU DAN PEMANFAATANNYA OLEH SUKU MADURA DI PULAU GILI KETAPANG PROBOLINGGO Adawiyah, Robiyatul; Umiyah, Umiyah; Setyati, Dwi
BERKALA SAINSTEK Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Gili Ketapang memiliki Indigenous Knowledge unik, yang mereka dapatkan melalui proses adaptasi tanpameninggalkan budaya dan tradisi asli mereka yaitu Madura. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhanberkayu yang dimanfaatkan, bagian-bagian dari tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan, dan mengetahui cara pemanfaatantumbuhan berkayu oleh masyarakat Gili Ketapang dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah MetodeKepustakaan (Desk Study) dan Metode Participatory Ethnobotanical Appraisal (PEA). Teknik Purporsive Samplingdigunakan untuk menentukan informan kunci, teknik Snowball Sampling digunakan untuk menentukan informan selanjutnyaatas rekomendasi informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 22 jenis tumbuhan berkayu dari 16 suku yangdimanfaatkan oleh masyarakat gili ketapang. Bagian tumbuhan yang banyak dimanfaatkan adalah buah, diikuti batang, daun,ranting dan terakhir bunga. Pemanfaatan tumbuhan berkayu ada 6 cara yaitu sebagai bahan pangan, perahu dan kapal,perangkap ikan, obat, kayu bakar, bahan bangunan, pakan ternak dan kerajinan ukir.
Antibacterial Activity of Liverworts of Dumortiera hirsute (Sw.) Nees Ethyl Acetate Extract Against Pathogenic Bacteria Luthfiah, Luthfiah; Setyati, Dwi; Arimurti, Sattya
BERKALA SAINSTEK Vol 9 No 2 (2021)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v9i2.22645

Abstract

Dumortiera hirsuta is one of the liverworts that can be used as a medicinal to prevent infection by pathogenic bacteria. The content of secondary metabolites of D. hirsuta has potential as antibacterial properties includes flavonoids, alkaloids and steroids. This research is to analyze the antibacterial activity of moss D. hirsuta against pathogenic bacteria that will be beneficial to humans. Liverworts of D. hirsuta were extracted using ethyl acetate solvent and tested against three types of pathogenic bacteria using the agar well-diffusion method. The results of this study indicated that the ethyl acetate extract of D. hirsuta at 100% concentration could inhibit the growth of Escherichia coli, Staphylococcus aureus, and Salmonella typhi bacteria. The range of antibacterial activity categories of the ethyl acetate extract of D. hirsuta to E. coli, S. aureus, and S. typhi between weak to moderate.
STRUKTUR ANATOMI DAUN LENGKENG (DIMOCARPUS LONGAN LOUR.) KULTIVAR LOKAL, ITOH, PINGPONG DAN DIAMOND RIVER Aini, Nurul; Setyati, Dwi; Umiyah, Umiyah
BERKALA SAINSTEK Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lengkeng (Dimocarpus longan Lour.) merupakan salah satu tanaman asli dari Asia Tenggara yang termasuk dalam famili Sapindaceae. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui struktur anatomi daun lengkeng dan perbedaan antar ke empat kultivar tersebut. Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu metode parafin (Suntoro, 1983) untuk preparat anatomi di Fakultas Biologi, UGM dan metode Johansen (1940) dilakukan untuk pembuatan preparat paradermal stomata di jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Jember. Hasil menunjukkan bahwa struktur anatomi daun lengkeng terdapat perbedaan dalam hal ketebalannya. Nilai ketebalan daun tertinggi pada kultivar Pingpong dengan mesofil paling tebal diantara ketiga kultivar tersebut yaitu 174,04 μm, dan jaringan palisade yaitu 71,69 μm, epidermis atas yaitu 12,52 μm, kutikula yaitu 5,53 μm, serta mempunyai lengan trikoma paling panjang dengan nilai rata-rata 17,82 μm, Kultivar pingpong juga mempunyai nilai densitas stomata tertinggi di antara ketiga kultivar lainnya yaitu 20,38 mm2, tetapi mempunyai panjang stomata terendah yaitu 21,42 μm. Kata Kunci: Anatomi lengkeng, Dimocarpus longan,, densitas stomata.
Komposisi Jenis Alga Makrobentik Divisi Phaeophyta di Zona Intertidal Pantai Pancur Taman Nasional Alas Purwo Kumalasari, Deris Erlita; Sulistiyowati, Hari; Setyati, Dwi
BERKALA SAINSTEK Vol 6 No 1 (2018)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v6i1.7558

Abstract

Phaeophyta merupakan salah satu kelompok makroalga yang tersebar melimpah di zona intertidal. Alga makrobentik ini memiliki struktur talus yang terdiri atas bagian holdfast, stipe, dan blade. Kelompok tersebut memiliki kandungan warna yang disebut pigmen fukosantin. Metode yang digunakan adalah road sampling dengan melakukan penyusuran seluruh area sampling menggunakan GPS (Global Positioning System). Jenis-jenis alga yang ditemukan diidentifikasi dan dideskripsikan secara morfologi. Analisis komposisi jenis dilakukan secara deskripsi kualitatif . Hasil yang diperoleh yaitu terdapat empat jenis Phaeophyta yang terdiri atas Sargassum sp., Padina australis, Spatoglossum sp., dan Turbinaria ornata. Jenis-jenis yang ditemukan umumnya memiliki karakteristik morfologi holdfastnya bentuk cakram dan lempeng, stipe pendek, serta blade berupa lembaran dan silindris.Kata Kunci: Pantai Pancur, Phaeophyta, Struktur Morfologi, Zona intertidal
Tree Ferns of C. contaminans and C. orientalis from Biosite Erek-erek Geoforest of Ijen Geopark, Banyuwangi Ulum, Fuad Bahrul; Setyati, Dwi
BERKALA SAINSTEK Vol 10 No 3 (2022)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v10i3.31738

Abstract

The tree ferns abundant in the ecotourism area of the geoforest erek-erek biosite is represented as ancient plants. However, species list and their composition as diversity richness data is still lacking the in the conservation area. The aims of of this study was to determine the tree ferns and provide the description of the species. Observations on the morphological characters of plants were carried out directly in the field of tree ferns habitat at the Ijen geopark, Banyuwangi, while other morphological and anatomical determinations were conducted in laboratory. The tree ferns identified in the erek-erek forest were two species i.e., Cyathea contaminans and Cyathea orientalis. The main distinguishing characteristics of these species are: stem height, stem surface, attachment of the remaining petiole, scale color, crozier size, indusium and spore shape. This article also provides descriptions of the species and the information regarding conspicuous characters that can be used for species determination in the field. We also propose further conservation efforts to preserve the tree ferns in their habitat.