Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

POPULASI DAN RASIO POTENSI PEMIJAHAN IKAN CAKALANG (Katsuwonus Pelamis (Linnaeus, 1758)) DI PERAIRAN SELATAN BALI Pramurdya, Yesika Nanda; Watiniasih, Ni Luh; Ginantra, I Ketut
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 18, No 4 (2022): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.18.4.195-204

Abstract

Penurunan hasil tangkapan ikan cakalang di wilayah Selatan Bali diduga merupakan mekanisme terjadinya tangkap lebih. Tujuan dari penelitian ini adalah mengestimasi populasi dan stok ikan cakalang menggunakan metode rasio potensi pemijahan, dalam menunjang keberlanjutan sumberdaya ikan cakalang di wilayah Selatan Bali. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2021. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan di UPTD TPI Kedonganan. Teknik sampling yang digunakan adalah stratified random sampling. Struktur panjang cagak ikan cakalang berkisar antara 24.1 – 27.1 cm FL sampai 55.1 – 58.1 cm FL dengan pola pertumbuhan bersifat allometrik positif. Persamaan laju pertumbuhan adalah Lt = 59.7 (1 - ). Nilai F sebesar 1.14; nilai M sebesar 0.488; nilai Z sebesar 1.628 dan nilai E sebesar 0.7 (E >0.5) per tahun yang mengindikasikan bahwa telah terjadi tangkap lebih. Tingkat Kematangan Gonad (TKG) dan klasifikasi perkembangan gonad didominasi oleh ikan yang sudah matang gonad dengan nilai Lm ikan cakalang betina adalah 41.28 cm FL dan Lm ikan cakalang jantan adalah 41.29 cm FL. Stok ikan cakalang berada dalam kondisi overexploited yang ditunjukkan dari nilai SPR sebesar 19% (SPR <20%). Decreasing catches of skipjack in Southern Bali waters is thought to be a mechanism for overfishing. The aim of this study is to  estimate population and stock of skipjack tuna using spawning potential ratio method, in order to maintain the sustainability of this species in the southern region of Bali. This research was carried out from June to December 2021. Data collection was carried out through field observations at UPTD TPI Kedonganan. A stratified random sampling method was used as the chosen sampling technique in this study. The fork length (FL) structure of skipjack tuna ranges from 24.1-27.1 cm FL to 55.1-58.1 cm FL with a positive allometric growth pattern. The growth rate equation is Lt = 59.7 (1 - ). The F value is 1.14; M value = 0.488; Z value = 1.628; and E value = 0.7 (E > 0.5) per year, respectively. This indicates that overfishing has occurred in the area. Gonad Maturity Level (TKG) and gonad development classification were dominated by mature fish with the Lm value of female and male skipjack tuna being 41.28 cmFL and 41.29 cmFL. The results of another analysis showed that skipjack tuna stock was in an overexploited condition as indicated by the SPR value of 19% (SPR <20%).
PENGELOLAAN PERIKANAN LEMURU (Sardinella lemuru Bleeker, 1853) DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM DI SELAT BALI Purnami, Ni Luh Putu Eka Yuni; Sudaryanto, Fransiscus Xaverius; Ginantra, I Ketut
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 18, No 4 (2022): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.18.4.239-248

Abstract

Perairan Selat Bali memiliki potensi sumberdaya yang besar terutamanya ikan pelagis kecil. Besarnya potensi tersebut telah dimanfaatkan begitu lama dan pemanfaatan sumberdaya perikanannya belum dikelola dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji penerapan dari masing-masing domain EAFM (Ecosystem Approach to Fisheries Management) perikanan lemuru di Selat Bali yang kemudian dapat digunakan untuk merumuskan rekomendasi perikanan menunjang kegiatan penangkapan lemuru yang berkelanjutan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2021 sampai dengan Januari 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah survey, wawancara, dan studi literatur. Data dianalisis menggunakan teknik model bendera. Performa perikanan lemuru di Selat Bali menunjukkan terdapat empat pengelompokan berdasarkan nilai komposit, yaitu domain dengan kualifikasi kurang adalah Domain Sumberdaya Ikan, domain dengan kualifikasi sedang adalah Domain Habitat dan Ekosistem, domain dengan kualifikasi baik adalah Domain Teknik Penangkapan Ikan, Domain Sosial, dan domain dengan kualifikasi baik sekali adalah Domain Ekonomi, dan Domain Kelembagaan. Secara keseluruhan, total nilai komposit yang diperoleh sebesar 66,33 yang berarti aspek-aspek perikanan lemuru di Selat Bali tergolong dalam kategori baik dalam penerapan prinsip-prinsip EAFM di wilayahnya.  
Potensi Pengembangan Ekowisata di Telaga Wahyu Kabupaten Magetan Larasati, Annisa Ika; Dalem, Anak Agung Gde Raka; Ginantra, I Ketut
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekowisata menjadi salah satu jenis pariwisata yang memiliki potensi untuk dikembangkan di Indonesia. Pemanfaatan Telaga Wahyu di Kabupaten Magetan memiliki potensi yang baik, letaknya berada di kawasan strategis dan pemandangan pegunungan yang indah menjadikan alasan untuk dibangunnya ekowisata di Telaga Wahyu. Kurangnya promosi menjadi salah satu penyebab utama Telaga Wahyu belum banyak diminati oleh masyarakat untuk berkunjung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi, faktor kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman dan strategi tepat yang diterapkan untuk pengembangan ekowisata. Metode yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan penyebaran kuesioner terbuka dan tertutup. Metode pengolahan data yang digunakan yaitu metode analisis SWOT menggunakan IFAS dan EFAS, kemudian diinterpretasikan dengan diagram dan untuk mendapatkan hasil strategi prioritas menggunakan QSPM. Hasil dari penelitian ini yaitu diperoleh potensi ekowisata yang dapat dikembangkan di Telaga Wahyu dari daya tarik alam salah satunya terdapat pemandangan alam, dari daya tarik buatan terdapat area pemancingan, dan daya tarik budaya pada kesenian tari barongan. Kekuatan utama dari Telaga Wahyu yaitu pemandangan alam lereng Gunung Lawu yang indah (0,92). Kelemahan utama yaitu belum adanya atraksi wisata dan kegiatan rutin yang beragam (0,51) yang menyebabkan Telaga Wahyu kurang diminati. Peluang utama yaitu menggiatkan kembali kegiatan memancing sebagai event rutin (2,26). Ancaman utama yaitu kurangnya promosi dari pemerintah (2,02) dan adanya daya tarik wisata air sejenis yang terletak di satu kawasan (2,08). Strategi prioritas yang terpilih yaitu melakukan pemeliharaan dan peningkatan pada berbagai jenis fasilitas, termasuk fasilitas utama maupun pendukung.
Vegetation Structure and Potential Key Species for Bali Myna (Leucopsar rothschildi) Introduction in Tengkudak Village, Bali, Indonesia Wijaya, I Made Saka; Yuni, Luh Putu Eswaryanti Kusuma; Ginantra, I Ketut
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 32 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7226/jtfm.32.1.106

Abstract

Species introduction is a key conservation strategy for the Bali myna (Leucopsar rothschildi), a high-priority species in Indonesia. Successful introduction requires thorough habitat assessment. This study analyzed vegetation structure and identified potential key species in Tengkudak Village, Tabanan Regency, Bali–one of the designated introduction sites. A plot-based sampling method was used in 10 sampling areas, with 20 plots (20 m × 20 m) for tree and sapling analysis and 100 plots (2 m × 2 m) for ground vegetation assessment. Vegetation parameters such as density, frequency, dominance, and importance value index were analyzed, along with community indices, including Shannon-Wiener diversity, Simpson’s dominance, and Pielou’s evenness. The upperstorey was dominated by plantation species and riparian vegetation, while the understorey consisted mainly of agricultural weeds, grasses, and ferns. The community index analysis indicated high species diversity and a stable community structure. Most plant species provide essential resources for the Bali myna, including food, shelter, perching, and nesting sites. Fifteen species were identified as potential plant keys, including Baccaurea racemosa, Bischofia javanica, Carica papaya, Cocos nucifera, Dysoxyllum densiflorum, Elaeocarpus sphaericus, Ficus spp., Lansium domesticum, Magnolia champaca, Persea americana, Sandoricum koetjape, and Theobroma cacao.
Struktur dan komposisi vegetasi lantai pada kawasan agroforestri kopi di Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Badung, Bali Ni Made Riris Widiari; I Made Saka Wijaya; I Ketut Ginantra; Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni; Ida Ayu Eka Pertiwi Sari
Jurnal Biologi Udayana Vol. 29 No. 2 (2025): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2025.v29.i02.p02

Abstract

Agroforestri berbasis kopi telah diterapkan di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya diterapkan di Dusun Jempanang, Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Kombinasi pohon penaung dalam agroforestri memberikan pengaruh terhadap iklim mikro yang beragam bagi vegetasi di bawahnya, yaitu pada struktur dan komposisi vegetasi lantai. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan struktur dan komposisi vegetasi lantai pada agroforestri kopi di Dusun Jempanang, Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Pengambilan data pada penelitian ini menggunakan metode plot berukuran 1 × 1 m yang ditempatkan secara systematic sampling. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan sebanyak 88 spesies sebagai penyusun vegetasi lantai agroforestri kopi Dusun Jempanang. Spesies dengan Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi yaitu Oplismenus burmannii sebesar 41,26% (KR 18,09%; FR 7,10%; DR 16,07%), Ageratum conyzoides dengan INP 29,39% (KR 10,66%, FR 7,59%, DR 11,13%), Drymaria villosa dengan INP 27,85% (KR 13,64%, FR 6,25%, DR 7,97%), dan Synedrella nodiflora dengan INP 21,50% (KR 7,52%, FR 6,17%, DR 7,81%). Berdasarkan indeks komunitas, diperoleh bahwa vegetasi lantai di Dusun Jempanang memiliki keanekaragaman dengan kategori tinggi (H'=3,33), tanpa adanya dominansi spesies tertentu (C=0,06), serta persebaran spesies yang relatif merata (E=0,74).