Raden Ario
Department Of Marine Science, Faculty Of Fisheries And Marine Science, Diponegoro University

Published : 61 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Bioecology of coral reef in Panjang Island of Central Java Indonesia Suryono Suryono; Ambariyanto Ambariyanto; Munasik Munasik; Diah Permata Wijayanti; Raden Ario; Ibnu Pratikto; Nur Taufiq-Spj; Syahrial V. Canavaro; Tiara Anggita; Bayu Kreshna Adhitya Sumarto; Justin Cullen
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 26, No 2 (2021): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.26.2.125-134

Abstract

Coral reefs currently are suffered from natural factors along with increasing anthropogenic activity. Panjang Island, a small reef island located in Jepara Regency, may also be experiencing such conditions. Therefore, this work was aimed to observe the condition of the coral cover of Panjang Island. Line intercept transect was applied to survey the coral cover and mortality index from fourteen stations. Insitu data consisted of the bottom substrate composition of the reefs and the physical parameters of the sea. The secondary data, i.e. coral reef area maps from 2001 to 2019 were taken from Landsat Image 7 and 8, data of wind were obtained from www.ogimet.com, while tidal data were collected from BMKG. The bathymetry was determined from the Geospatial Information Agency data, salinity global analysis forecast Phy 001.024 (CMEMS). Sea surface temperature (SST), and chlorophyll-a distribution were analyzed using ENVI software. The result showed that Panjang Island has a poor to the moderate condition of hard coral.  Two out of six categories of abiotic and dead coral were found to be high. The mortality index of coral was in the high category (average 0.52). During research periods the sea waters were characterized by high sea surface temperature (29.34-30.94°C), chlorophyll-a was also tended to be high (0-2.65 mg.m-3), and an average of salinity was high 32 ‰. The weak currents came to all sides of the island, therefore the coral reef was not exposed to extreme currents. The waves came from the east, then the energy decreases after being blocked by coral reefs on the eastern side of the island, so that coral reefs in the northeast and south sides were safer to be exposed. The results suggest that hydrodynamic ecology directly or indirectly affected the percentage of coral cover and mortality index at the reefs of Panjang Island.
Evaluasi Beban Pencemaran Terhadap Kualitas Perairan Pesisir Kota Semarang Bambang Sulardiono; Raden Ario
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 3 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1007.494 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.3.180-186

Abstract

Penelitian inl bertujuan untuk mengetahul beban pencemaran (fisika dan klmia) dan hubungannya dengan kualitas perairan pesisir. Materi yang digunakan adalah ssmpel air dan substrat dasar yang diambil mingguan dari beberapa stasiun yang dipertlmbangan sebagal daereh lingkungan pesislr Kota Semarang yang terkena beban pencemaran. Data kualltas perairan terukur dibandingkan dengan baku mutu lingkungan sebagai Keputusan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Kep. 02/MENKLH/I/1988). Analisis juga dilakukan terhadap hubungan beban pencemaran dengan kualitas perairannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter kualitas perairan yang melampaui ambang batas baku mutu lingkungan untuk kehidupan organisme adalah kecerehan, BOD, COD, Muatan padatan tersuspensi (MPT), dan H2S . Sedangkan beban pencemaran dan kualitas perairan cenderung pada kondisl tlngkat sedang. Produktivitas perairan tinggi kecuali di muara Sungal Babon, yang diduga dlpengaruhi oleh kegiatan manusia di daerah hulu sungal sepertl kegiatan industrl, pemukiman, dan pelabuhan.Kata kunci: pencemaran; perairan pesisir; Kota Semarang  The increasing development activities in Semarang coastal area such as industrial, urbanisation and agricultural has lead to increasing of westeload into the coastal waters and finally has caused the disturbance of the ecosystem. The aims of the research were to investigate the pollution status based on physical and chemical characteristics of the seawater and the relationship between westeload and Water quality at Semarang coastal area. Sample analysis were done at Ecodevelopment Coastal Laboratory, Jepara. The result showed that the water quality which exceeded the quality threshold according to “Kep.02/MENKLH/I/1988" for the sea organism activities were turbidity, Dissolved/ Particuled Organic Matter (DOM/ POM), COD, BOD. and H2S . The pollution status and water quality on Semarang coastal tended to be at medium level condition. The water productivity was high, except at the canal "Babon" rivers which may be caused by human activities impact such as industrial, urbanisation, and harbour.Keyword: Pollution; coastal waters; Semarang city
Daya Serap Rumput Laut (Gracilaria sp) Terhadap Logam Berat Tembaga (Cu) Sebagai Biofilter Bambang Yulianto; Raden Ario; Triono Agung
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 11, No 2 (2006): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.161 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.11.2.72-78

Abstract

Studi absorpsi metal tosik tembaga (copper) oleh Gracilaria sp. telah dilakukan. Tujuan dari studi ini adalah meneliti kemungkinan kemampuan vegetasi akuatik yang akan digunakan sebagai biofilter. Pada kegiatan budidaya air payau di Indonesia, logam tembaga sering digunakan sebagai desinfektan pemusnah predator pada saat tahapan persiapan kolam/tambak. Namun di lain pihak tembaga juga memiliki potensi toksisitas yang tinggi terhadap lingkungan. Studi ini dilakukan secara laboratoris, dengan melakukan pemaparan rumput laut Gracilaria sp. pada tiga perlakuan konsentrasi tembaga yang berbeda (K1: kontrol; K2: 0,5 ppm; dan K3:1 ppm) selama empat perbedaan waktu pemaparan (M1: 1 minggu; M2: 2 minggu; M3: 3 minggu; dan M4: 4 minggu). Analisis kandungan tembaga pada Gracilaria sp. dilakukan pada setiap minggu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Gracilaria sp. mampu menyerap tembaga yang terlarut dalam air laut. Penyerapantembaga meningkat secara sangat nyata sejalan dengan peningkatan perlakuan konsentrasi dan lama waktu dedah. Konsentrasi tembaga yang diserap pada K2 (0,5 ppm Cu) adalah, masing-masing, 12,745 ppm(setelah pemaparan 1 minggu), 27,604 ppm (setelah pemaparan 2 minggu), 29,890 ppm (setelah pemaparan 3 minggu), dan 30,215 ppm (setelah pemaparan 4 minggu). Sementara itu, konsentrasi tembaga setelah pemaparan Gracilaria sp. pada K3 (1 ppm Cu) masing-masing adalah 31,980 ppm (setelah pemaparan 1 minggu), 50,564 ppm (setelah pemaparan 2 minggu), 53,884 ppm (setelah pemaparan 3 minggu), dan54,486 ppm (setelah pemaparan 4 minggu).Kata kunci: Gracilaria sp., tembaga, logam toksik, absorpsi/penyerapan.Absorption of toxic metal (copper ) by Gracilaria sp. had been studied. The aim of the study reported in this paper was to investigate the possibility of Gracilaria sp. as a biofilter. In brackish water pond culture in Indonesia, copper is usually used as the predator eradicator in pond preparation. But in other hand, copper has potentially high toxicity to the aquatic environment. The study was conducted in the laboratory, by exposing seaweed Gracilaria sp. to three different concentrations of copper (K1: control; K2: 0,5 ppm; and K3: 1 ppm), during four different exposure times (M1: 1 week; M2: 2 weeks; M3: 3 weeks; and M4: 4 weeks). Analyses of copper metal accumulated by Gracilaria sp. were done every week. The results of present works revealed that Gracilaria sp. is able to absorb copper metal dissolved in seawater. Absorption of copper increase significantly by increasing of copper concentration and exposure duration. The concentrations of copper absorbed in K2 (0,5 ppm Cu) are, respectively, 12,745 ppm (after 1 week exposure), 27,604 ppm (after 2 weeks exposure), 29,890 ppm (after 3 weeks exposure), and 30,215 ppm (after 4 weeks exposure). Meanwhile, the concentrations of copper after exposure Gracilaria sp. to K3 (1 ppm Cu) are 31,980 ppm (after 1 week exposure), 50,564 ppm (after 2 weeks exposure), 53,884 ppm (after 3 weeks exposure), and 54,486 ppm (after 4 weeks exposure),  respectively.Key words: Gracilaria sp., copper, toxic metal, absorption.
Kajian Struktur Komunitas Makrozoobenthos Sebagal Bioindikator di Perairan Muara Sungai Ketiwon, Tegal Raden Ario; Gentur Handoyo
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 7, No 1 (2002): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.24 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.7.1.17-22

Abstract

Abstrak Suatu kajian terhadap struktur komunitas makrozoobenthos sebagai bioindikator di perairan muara Sungai Ketiwon, Tegal telah dilakukan berdasarkan data bulan Mei sampai Juni 2001. Setiap dua minggu sekali sampel air dan makrozoobenthos diambil dari 10 stasiun pada Iokasi penelitian untuk diketahui parameter fisika-kimia air serta struktur komunitas makrozoobenthos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan muara sungai Ketiwon telah mengalami pencemaren tingkat ringan hingga sedang, ditunjukkan dengan adanya perubahan struktur komunitas makrozoobenthos pada stasiun-stastun di lokasi penelitian dan beberapa parameter fisik-kimia air yang nilainya telah melewati ambang batas yang disyaratkan dalam KEPMEN LH. No. 2/1988. Kata kunci: makrozoobenthos, bioindikator, muara Abstract This study on makrozoobenthos community as bioindicator of the Ketiwon rivers estuary, Tegal (Central Java) is based on data obtained from May to June 2001. On two weekly, water and macrozoobenthos samples were taken from research area (10 stations) for determination of physical-chemistry water parameters and benthic structure community. The results of research showed that the Ketiwon rivers estuary had low to medium pollution level, which shown by some physical-chemistry factors that already over the sea water quality standard for marine organisms based on KEPMEN LH. No. 2/1988. Moreover macrozoobenthos community structure community changed between stations in the research area. Keywords: macrozoobenthos, bioindicator, estuary
Hidrodinamika Gelombang pada Terumbu Karang di Pulau Panjang, Jepara Suryono Suryono; Ambariyanto Ambariyanto; Munasik Munasik; Denny Nugroho Sugianto; Raden Ario; Ibnu Pratikto; Nur Taufiq-Spj; Syahrial Varrel Canavaro; Tiara Anggita
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i3.36368

Abstract

Posisi Pulau Panjang berada di sisi barat garis pantai pesisir kota Jepara, menjadikannya sebagai penghalang (barrier) terhadap gelombang yang akan menghantam pesisir Jepara. Pulau Panjang dikelilingi oleh gugusan terumbu karang.  Keterpaparan (exposure) terumbu karang oleh hidrodinamika gelombang yang melewatinya  perlu dikaji. Oleh sebab itu, dibutuhkan penelitian mengenai hidrodinamika gelombang pada terumbu karang di perairan  Pulau Panjang. Hasil penelitian didapatkan bahwa nilai gelombang yaitu gelombang signifikan (Hs), periode gelombang signifikan (Ts) adalah bervariasi. Nilai gelombang (Hs dan Hs) tinggi, akan  mengakibatkan terumbu karang pada sisi  barat, timur laut dan tenggara  Pulau Panjang lebih menerima keterpaparan  (ekposure)  oleh hidrodinamika  gelombang yang melewatinya. Pada hidrodinamika  gelombang lebih rendah, maka terumbu karang  yang terlindung dari keterpaparan (ekposure) gelombang adalah yang berada pada  sisi timur, barat daya, dan barat laut. Hasil interpolasi (Krigging) didapatkan hasil nilai Hs tertinggi berkisar antara 0,503-1,00. Arah datang gelombang dominan dari timur pulau Panjang, kemudian setelah melewati terumbu karang ada di sisi timur ,timur laut, dan utara  Pulau Panjang maka energinya menjadi berkurang, sehingga terumbu karang yang  ada di sisi barat, barat daya, dan selatan dari Pulau Panjang posisinya lebih aman dari keterpaparan (ekposure) oleh hidrodinamika gelombang yang melewatinya. Gelombang yang datang akan mengalami perubahan karakteristik (panjang, periode, tinggi gelombang) setelah melewati terumbu karang, sehingga  gelombang yang menuju pantai akan semakin berkurang seiring dengan perubahan kedalaman. Tingkat keterpaparan (ekposure) terumbu karang yang ada pada sisi timur,timur laut dan utara  di Pulau Panjang  oleh gelombang cukup tinggi, hal ini diduga yang menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan terumbu karang yang ada diperairan  Pulau Panjang.  The position of Pulau Panjang is on the west side of the coastal coastline of the city of Jepara, making it a barrier against waves that will hit the coast of Jepara. Panjang Island is surrounded by clusters of coral reefs. The exposure (exposure) of coral reefs by the hydrodynamics of the waves that pass through them needs to be studied. The modeling results are then generated into a shapefile map to be overlaid with a shapefile map of changes in coral reefs by interpolation method with Kriging block. The results showed that the wave value, namely the significant wave (Hs), the period of the significant wave (Ts) varied. High wave values (Hs and Hs) will result in coral reefs on the west, northeast, and southeast sides of Panjang Island receiving more exposure (exposure) by the hydrodynamics of the waves that pass through them. At lower wave hydrodynamics, the coral reefs that are protected from wave exposure are those on the east, southwest, and northwest sides. The results of interpolation (Kriging) obtained the highest Hs values ranging from 0.503 to 1.00. The direction of the dominant wave coming from the east of Panjang Island, then after passing through the coral reefs is on the east, northeast, and north of Panjang Island, the energy is reduced, so that the coral reefs on the west, southwest, and south sides of Panjang Island are safer from exposure (exposure) by the hydrodynamics of waves that pass through it. The incoming waves will experience changes in characteristics (length, period, wave height) after passing through the coral reef so that the waves towards the coast will decrease along with changes in depth. The level of exposure to coral reefs on the east, northeast, and north sides of Panjang Island by waves is quite high, this is thought to be one of the factors causing damage to coral reefs in the waters of Panjang Island. 
Pengaruh Volume Air Pada Media Terhadap Pertumbuhan Panjang Dan Berat Ikan Sidat (Anguilla bicolor bicolor) Nur Taufiq-Spj; Virda Maya Definta; Raden Ario
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.958 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i2.16569

Abstract

Budidaya ikan sidat (Anguilla sp.) di Indonesia baru mulai berkembang beberapa tahun belakangan meskipun ikan ini memiliki banyak prospek di berbagai negara Asia maupun Eropa. Kegiatan budidaya yang dilakukan di beberapa daerah baru pada taraf pembesaran pada kolam persawahan (earthen pond) dan hanya sebagian kecil yang menggunakan sistim resirkulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh volume air terhadap pertumbuhan panjang dan berat ikan sidat (Anguilla bicolor bicolor) stadia awal dari elver dengan sistim budidaya resirkulasi. Metode eksperimental digunakan dalam penelitian ini dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 3 perlakuan volume air yang berbeda (E: 942 l, F: 1413 l, dan G: 750 l). Sampling panjang dan berat dilakukan setiap 2 minggu selama 8 minggu budidaya. Hasil penelitian pertumbuhan panjang dan berat tiap Kolam menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata (α > 0.05). Pertumbuhan Mutlak (berat) pada kolam E: 33,33 g, F: 23,33 g, dan kolam G: 40,00 g, sementara pertumbuhan mutlak (panjang) pada kolam E: 8,67 cm, F: 7,67 cm, serta kolam G: 9,50 cm selama 8 minggu budidaya. Hasil dari perhitungan Spesific Growth Rate (SGR) pada kolam E: 0,48; F:0,33 dan G: 0,57 %/hari selama 70 hari budidaya. Pertumbuhan panjang dan berat ikan sidat pada percobaan ini mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan korelasi antara 83,5 – 94,5%. Hasil percobaan ini dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan sidat stadia awal elver akan meningkat dengan menurunnya volume air pada kondisi suhu optimum 28±2 ºC. The eel (Anguilla sp.) cultivation in Indonesia recently has just begun to develop, eventhough this species has so many economic prospect especially in eastern Asia and European countries. Aquaculture activities in some province (of Indoesia) still using earthen pond and only certain places which used Resirculating Aquaculure System (RAS) for racing the local eels. The aims of this study were to determine the effect of water volume on early elver of Anguilla bicolor bicolor length and weight growth and it’s corelations. Experimental method was used, complitely random design with 3 treatments of different water volumes i.e. E: 942 liter, F: 1413 liter, and G: 750 l. Sampling were taken every fortnight during 8 weeks culture. The results shows that length and weght growth have no significantly different (α > 0.05). Absolute growth (of weight) in each tank i.e. E: 33.33 g, F: 23.33 g, and G: 40.00 g, meanwhile the length absolute growth i.e. E: 8.67 cm, F: 7.67 cm, and G: 9.50 cm. Spesific growth rate of early elver were: E = 0.48, F=0.33 and G= 0.57 ini % d-1 during 70 d culture. Length and weght growth have a tight correlation i.e. 83.5 to 94.5%. The results of this study indicate that the growth of early eel (Anguilla bicolor bicolor) increased by decreasing water volume in the optimum water temperature of 28±2 ºC.
Keanekaragaman Perifiton pada Daun Lamun Enhalus acoroides dan Cymodocea serrulata di Pulau Parang, Karimunjawa Raden Ario; Ita Riniatsih; Ibnu Pratikto; Pratiwi Megah Sundari
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.052 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i2.23274

Abstract

Keanekaragaman jenis lamun dan struktur morfologi yang cukup besar pada Enhalus acoroides dan Cymodocea serrulata memungkinkan ditumbuhi perifiton dimana dapat meningkatkan produktivitas primer. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kelimpahan perifiton dan pola distribusinya serta hubungan kerapatan lamun terhadap kelimpahan perifiton di PulauParang, Karimunjawa. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2018 menggunakan metode survei dan penentuan lokasi dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling, sedangkan metode pengambilan data lamun melalui metode line transect quadrant yang mengacu pada metode seagrass watch. Pengambilan daun lamun untuk pengamatan perifiton menggunakan metode sapuan daun yang selanjutnya diamati dengan menggunakan metode sensus yaitu pengamatan total dengan alat sedgwick rafter counting chamber di bawah mikroskop. Nilai kelimpahan perifiton pada daun lamun Enhalus acoroides di Stasiun 1, Stasiun 2, dan Stasiun 3 berturut–turut sebesar 2654 sel/cm2, 2831 sel/cm2, 1435 sel/cm2. Sedangkan kelimpahan perifiton pada daun lamun Cymodocea serrulata di Stasiun 1, Stasiun 2, dan Stasiun 3 berurutan sebesar 0 sel/cm2, 2376 sel/cm2, 2890 sel/cm2. Kelimpahan tertinggi perifiton terdapat pada jenis lamun Enhalus acoroides, hal ini diduga karena Enhalus acoroides mempunyai penampang daun yang lebih lebar dan umur jaringan makrofil yang lebih lama. Perifiton yang mendominasi di Pulau Parang berasal dari Kelas Bacillariophyceae, diduga karena kelas ini memiliki kemampuan melekat pada substrat yang baik. Berdasarkan perhitungan Indeks Morisita maka diketahui bahwa sebaran perifiton di Pulau Parang adalah mengelompok. Kelimpahan perifiton dengan kerapatan lamun di Pulau Parang memiliki hubungan cukup erat.   The variety of seagrass types and the morphological structure of Enhalus acoroides and Cymodocea serrulata allows periphyton to be grown. Periphyton can increase primary productivity and help the decomposition process of seagrass. This research aims to determine the periphyton abundance, periphyton distribution and seagrass density relationship towards periphyton abundance in Parang Island, Karimunjawa. This research was conducted on October 2018. The seagrass data was collected by using the line transect quadrant method refers to the seagrasswatch method. Taking seagrass leaf for periphyton observation using the leaf drainage method was then observed using the census method, which is a total observation with sedgwick rafter counting chamber. Periphyton abundance value on seagrass leaves of Enhalus acoroides at Station 1, Station 2, and Station 3 are 2654 cells/ cm2, 2831 cells/ cm2, 1435 cells/ cm2 respectively. While periphyton abundance on the seagrass leaves of Cymodocea serrulata at Station 1, Station 2, and Station 3 are 0 cell/ cm2, 2376 cells/ cm2, 2890 cells/ cm2 respectively. The highest abundance of periphyton was observed on Enhalus acoroides leaves. This is presumably because Enhalus acoroides has a wider leaf section and longer age of macrophilic system. Periphyton that dominates in Parang Island comes from Class Bacillariophyceae. This is likely because this class has the ability to attach on a good substrate. Based on the calculation of the Morisita Index, it is known that the periphyton distribution in Parang Island is clustered. Periphyton abundance showed a strong relation with the seagrass density.
Struktur Komunitas Rumput Laut di Perairan Pasir Panjang Desa OlibuuKabupaten Boalemo, Gorontalo Edi Wibowo; Raden Ario; Suryono Suryono; Nur Taufiq; Destalino Destalino
Buletin Oseanografi Marina Vol 7, No 1 (2018): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.366 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v7i1.19081

Abstract

Rumput laut atau seaweed termasuk tumbuhan berthallus yang banyak dijumpai hampir di seluruh pantai Indonesia, terutama wilayah pantai yang mempunyai rataan terumbu karang.  Perbedaan mendasar sistem hidupnya dengan tumbuhan darat adalah dalam pengambilan zat-zat makanan. Tumbuhan darat sangat bergantung pada akar sebagai alat pengambil/ penyerap zat hara dari substrat, sedangkan rumput laut menyerap zat hara yang dibutuhkan bagi pertumbuhannya dari medium air dengan cara difusi melalui permukaan substansi fisiknya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas rumput laut di perairan Pasir Panjang Pulau Limbah, Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Metoda penelitian yang digunakan adalah bersifat diskriptif.Adapun pengumpulan data dilakukan dengan metode sample survey methods. Hasil penelitian menunjukan bahwa perairan Pulau Limbah di dominasi oleh Rumput Laut Coklat dengan kelimpahan tertinggi Padina australis. Nilai Indeks Keanekaragaman (H’) Rumput Laut tertinggi terdapat pada stasiun C dengan nilai rerata: 1,854 dan yang terendah pada Stasiun A dengan nilai rerata: 1,469. Nilai Indeks Keseragaman (E)  nilai tertinggi terdapat pada Stasiun C dengan nilai rerata: 0,679 dan terendah pada stasiun A dengan nilai rerata: 0,668. Nilai indeks Dominansi (C) tertinggi terdapat pada Stasiun A dengan nilai rerata : 0,251 dan nilai terendah stasiun B dengan nilai rerata: 0,187. Analisis Ragam (Anova) menunjukan bahwa stasiun penelitian memberikan perbedaan yang nyata (P≤0,05) terhadap nilai Indeks Keanekaragaman (H’), Indeks Keseragaman (E) serta Indeks Dominasi (C).  Seaweed including thallus plants that are found almost all over the coast of Indonesia, especially on beaches that have coral reefs. Seaweed is a photosynthetic organism as well as plants on land. The fundamental difference of his life system is in the taking of food substances. Ground plants realy heavily on roots as a nutrient removal device from the substrate, while seaweed absorbs the nutrients needed for its growth from the water medium by diffusion through the surface of its physical substance. This study aims to determine the structure of seaweed communities in Limbah Island Waters, District Paguyaman Beach. The results showed that the waters of Limbah Island is dominated by brown seaweed with the highest species abundance was Padina australis. The highest index value of Seaweed diversity (H’) was found at station C with average: 1,854 and the lowest at station A with a mean of: 1,469. For uniformity index value (E) the highest value is at station C with average: 0,679 and the lowest at station A with a mean of: 0,668. The highest index value of dominance (C) is at station A with a mean of: 0,251 and the lowest value at station B with a mean of: 0,187. The result of the analysis of variance (Anova) showed that the research station give a significant difference (P≤0,05) to the Diversity Index (H’), Uniformity Index (E) and Domination Index (C).
Pemberian Pakan Pada Tukik Penyu Hijau (Chelonia mydas Linnaeus, 1758) Di Konservasi Pulau Bangka Edi Wibowo Kushartono; Raden Ario; Rini Pramesti; Tiurma S; Alfi Satriadi
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.02 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i2.16557

Abstract

Tingkat keberhasilan hidup tukik menuju dewasa dapat ditentukan dengan pemberian pakan. Rumput laut sebagai pakan tukik telah diujikan pada tukik Penyu Hijau (Chelonia mydas). Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh pemberian rumput laut sebagai pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan tukik Penyu Hijau (C. mydas) selama masa pemeliharaan 4 minggu. Penelitian ini menggunakan Metode eksperimen laboratorium dengan materi tukik usia 4 bulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tukik yang diberi kombinasi pakan Udang ebi dan Rumput laut Sargassum sp. menunjukkan rerata laju pertumbuhan1,56 ± 0,11 gram lebih besar dari tukik yang diberi kombinasi Pelet dan Rumput laut sebesar 1,47 ± 0,14 gram dan kontrol 0,51 ± 0,57 gram. Perlakuan kombinasi tambahan rumput laut terhadap pakan tukik menunjukan hasil yang signifikan (P 0,05) pada laju pertumbuhan. The existence of turtles on the island of Bangka already slowly becomes extinct as the result of increasing mining activity. Feeding can for the survival of adulthood. The purpose of this study is to determine the affect of combinations of different feed on the growth of Green Turtle (Chelonia mydas) period of 4 weeks. This study use laboratory experimental method with the material used was the green turtle hatchlings around the age of 4 months and was conducted in Bangka Beach, Bangka. Result from the study showed that were given a combination of shrimp and Sargassum sp. show that specific growth rate on average 1,56 ± 0,11 gram bigger than that were given a combination of pellets and Sargassum sp. namely 1,47 ± 0,14 gram and 0,51 ± 0,57 gram control. Specific growth rate feeding treated with different combinations shows 17,17 F count > F table 0,05 and 0,01. It is claimed that the two highly significant treatment on a significant 0,05 and 0,01. 
Asupan Aman Konsumsi Logam Cu Pada Kerang Darah dari Tempat Pelelangan Ikan Tambak Lorok, Semarang Nurvita Agristiyani; Jusup Suprijanto; Raden Ario
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.37143

Abstract

Kerang Darah (Anadara granosa) merupakan salah satu komoditas laut yang dihasilkan di Perairan Semarang. Lokasi tersebut diperkirakan telah menerima zat pencemar yang berasal dari limbah kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Tembaga atau Cu (Cuprum) dan batas maksimal aman konsumsi mingguan jaringan lunak A. granosa yang diperoleh di Perairan Laut Semarang yang didaratkan di Tambak Lorok Semarang. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan sampel pada bulan Maret, April, Juni dan Juli 2020. Konsentrasi logam berat Cu dianalisis menggunakan ICP (Inductively Coupled Plasma) dan penetapan batas maksimal aman konsumsi dihitung menggunakan rumus EDI (Estimated Daily Intake) serta penilaian tingkat risiko menggunakan rumus THQ (Target Hazard Quotient). Hasil kandungan logam berat Cu pada jaringan lunak A. granosa di bulan Maret, April, Juni dan Juli 2020 masing-masing sebesar 0,705 mg/kg; 1,628 mg/kg; 2,209 mg/kg dan 1,149 mg/kg yang menunjukan bahwa kandungan logam berat Cu tidak melebihi ambang batas berdasarkan SK Depkes RI No.03725/B/SK/1989. Estimasi asupan harian (EDI) terhadap logam Cu di bulan Maret, April, Juni dan Juli 2020 yaitu sebesar 1,65 µg/kg/hari; 3,80 µg/kg/hari; 5,15 µg/kg/hari dan 2,68 µg/kg/hari yang menunjukkan bahwa dosis paparan Cu tergolong aman bagi konsumen A. granosa. Sedangkan penilaian tingkat risiko (THQ) untuk logam Cu menunjukkan hasil lebih kecil satu dengan nilai rata-rata 0,03 sehingga dapat dikatakan konsentrasi logam Cu tersebut tidak berpotensi menimbulkan efek non-karsinogenik pada manusia.  Blood Cockle (A. granosa) is one of the marine commodities produced in Semarang waters. The location is thought to have received pollutants from municipal waste. This study aims to determine the content of heavy metal Cu in A. granosa cockle obtained in Semarang sea waters which landed at Tambak Lorok Semarang. This research was conducted with sampling in March, April, June and July 2020. The concentration of heavy metal copper (Cu) was analyzed using ICP (Inductively Coupled Plasma) and the determination of the maximum safe consumption limit was calculated using the EDI (Estimated Daily Intake) formula and risk level assessment was calculated using the THQ (Target Hazard Quotient) formula. The results of heavy metal Cu content in A. granosa cockles in March, April, June and July 2020 were 0,705 mg/kg; 1,628 mg/kg; 2,209 mg/kg and 1,149 mg/kg, which indicates that the heavy metal content of Cu does not exceed the threshold based on the Decree of the Ministry of Health RI No.03725/B/SK/1989. Estimated Daily Intake (EDI) of Cu in March, April, June and July 2020 is 1,65 µg/kg/day; 3,80 µg/kg/day; 5,15 µg/kg/day and 2,68 µg/kg/day which indicate that the dose of Cu exposure is safe for A. granosa consumers. Meanwhile, the results of the risk level assessment (THQ) for Cu metal is >1 which indicates that the concentration of Cu metal does not have the potential to cause non-carcinogenic effects in humans.
Co-Authors Abista Ahmad Romadoni Adelia Hilma Sugiarto Adi Santoso Afrina Aysira Agus Indarjo Agus Indarjo Agus Sabdono Agus Trianto Akhmad Tri Prasetyo Aldhian Triatmojo Alfi Satriadi Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Djunaedi Ali Ridlo Alin Fithor Ambariyanto Ambariyanto Amin Nur Kolis Rela Hidayah Amrullah Rosadi Anantya Setya Perdana Andreas Ricky Hermawan Anindya Wirasatriya Arif Maa’ruf Al Ayyub Arum Wahyuning Prita Aurellia Pandini Bagas Santosa Bagaskara, Widigdo Bagus Bambang Jati Laksono Bambang Sulardiono Bambang Yulianto Bayu Kreshna Adhitya Sumarto Br Ginting, Feny Amelia Chrisna Adhi Suryono Chrisna Adhi Suryono Deftika Mulyawati Denny Nugroho Sugianto Destalino Destalino Diah Permata Wijayanti Dinar Ayu Budi Dodik S. Wicaksono Dwi Haryanti Dzakwan, Ardhatama Zafron Eddy Soekendarsi Edi Fahrur Rozy Edi Wibowo Edi Wibowo Edi Wibowo Kushartono Endang Supriyantini Eva Widayanti Widayanti Fauzia Farida Febriana Banun Fitrianti Feny Amelia Br Ginting Gandang Herdananto Nugroho Gentur Handoyo Hadi Endrawati Hasna Moraina Rizkiyani Hidayah, Amin Nur Kolis Rela Hidayat, Noer Chozin Ibnu Pratikto Ibnu Pratikto Ibnu Pratikto Isdradjad Setyobudiandi Ita Riniatsih Janson Hans Pietersz Justin Cullen Jusup Suprijanto Kassagi, Muhamad Fajar Azmi Kiki Ade Kumala Kumala, Kiki Ade M. Fachrul AS Mardliyah, Riani Muhamad Fajar Azmi Kassagi Muhamamd Helmi Muhammad Adi Saputro Muhammad Adi Saputro Muhammad Syaifudien Bahry Mulyawati, Deftika Nining Nursalim Nirwani Soenardjo Nita Puspita Sari nita puspita sari Noer Chozin Hidayat Nur Taufiq Nur Taufiq SPJ Nur Taufiq-Spj Nurvita Agristiyani Perdana, Anantya Setya Petrus Subardjo Pratiwi Megah Sundari Pribadi, Rudi Radila Widya Shafiya Raja Aditia Sahala Siagian Retno Hartati Ria Azizah Ria Azizah Riani Mardliyah Rikha Widiaratih Rini Pramesti Rizkiyani, Hasna Moraina Rosadi, Amrullah Rudhi Pribadi Rudhi Pribadi Rudi Pribadi Safira Aisha Putri Shafiya, Radila Widya Sri Redjeki Sri Redjeki Sri Redjeki Sri Sedjati Subagiyo Subagiyo Sugiarto, Adelia Hilma Sunaryo Sunaryo Surya Fajar Suryono Suryono Syahrial V. Canavaro Syahrial Varrel Canavaro Tasha Iary Tiara Anggita Tiara Anggita Tiurma S Triatmojo, Aldhian Triono Agung Virda Maya Definta Wibowo Edi Widianingsih Widianingsih Widigdo Bagus Bagaskara Yunika Ayu Setya W Ayu Setya W. Yunika Ayu Setya W Ayu Setya W.