Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Aktivitas Antibakteri Fraksi Serbuk Kayu Eboni (Diospyros celebica Bakh.) terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Arsa Wahyu Nugrahani; Mohammad Farid Maulida; Akhmad Khumaidi
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 7, No 3 (2020): J Sains Farm Klin 7(3), Desember 2020
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (754.91 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.7.3.194-201.2020

Abstract

Eboni (Diospyros celebica Bakh.) merupakan salah satu pohon khas daerah Sulawesi. Serbuk kayu sebagai hasil sampingan dari pengolahan kayu ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Hasil penelitian pendahuluan menyatakan bahwa ekstrak etanol serbuk kayu eboni memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemisahan senyawa antibakteri yang terdapat di dalamnya dengan metode fraksinasi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, n-butanol, dan air, serta pengujian aktivitas antibakteri dari fraksi-fraksi tersebut dengan metode disk diffusion dan KLT bioautografi. Identifikasi golongan senyawa dari fraksi aktif menggunakan pereaksi kromogenik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksan memiliki diameter hambat tertinggi terhadap Escherichia coli yakni sebesar 12,53 mm dengan golongan senyawa yang memiliki aktivitas penghambatan adalah steroid dan fraksi etil asetat memiliki diameter hambatan tertinggi terhadap Staphylococcus aureus yakni sebesar 14,77 mm dengan golongan senyawa yang memberikan zona hambat yaitu terpenoid, fenolik, steroid. 
Aktivitas Antibakteri Fraksi Biji (KEBEN) Barringtonia asiatica L. Kurz pada Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Akhmad Khumaidi; Yustika Yustika; Arsa Wahyu Nugrahani
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 9, No 2 (2022): J Sains Farm Klin 9(2), Agustus 2022
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (780.089 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.9.2.80-87.2022

Abstract

Biji keben (Barringtonia asiatica L. Kurz) merupakan salah satu bagian tumbuhan obat yang secara empiris dimanfaatkan oleh masyarakat Tomini sebagai obat infeksi mata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri fraksi biji keben dengan menggunakan metode difusi agar teknik sumuran serta melakukan identifikasi senyawa antibakteri dari fraksi yang memiliki aktivitas antibakteri tertinggi dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT)-bioautografi dan pereaksi warna. Hasil dari pengujian aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa fraksi n-heksana, etil asetat dan air dari biji keben memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter hambat tertinggi pada fraksi etil asetat yaitu 21,08±0,72 (mm±SD) pada bakteri Staphylococcus aureus dan 21,53±1,00 (mm±SD) pada bakteri Escherichia coli. Hasil dari KLT-bioautografi fraksi etil asetat terhadap Staphylococcus aureus memberikan dugaan bahwa senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri adalah steroid (Rf 0,75 dan 0,78) dan senyawa terpenoid (Rf 0,3) pada bakteri Escherichia coli. Berdasarkan hasil tersebut fraksi etil asetat biji keben dapat dipertimbangkan sebagai sumber antibakteri bahan alam
AKTIVITAS EKSTRAK DAUN EBONI (Diospyros celebica Bakh.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA DIABETIK TIKUS PUTIH YANG DIINDUKSI ALOKSAN: ACTIVITY OF EBONY LEAF EXTRACT (Diospyros celebica Bakh.) ON DIABETIC Wound Healing ALLOXAN-INDUCED WHITE RATS Ihwan; Siti Anisa; Akhmad Khumaidi; Khildah Khaerati
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i2.607

Abstract

Luka diabetik merupakan luka yang disebabkan oleh infeksi akibat dari tingginya glukosa darah ? 200 mg/dL. Daun Diospyros celebica Bakh., memiliki potensi antibakteri, antidiabetes, antivirus, dan antijamur. Tujuan penelitian ini adalah menentukan aktivitas penyembuhan luka diabetik pada tikus putih yang di induksi aloksan dengan diberikan terapi ekstrak daun eboni. Induksi diabetes dilakukan menggunakan aloksan dosis 140 mg/kgBB intraperitonial. Tikus dilukai pada bagian punggung dengan diameter luka ± 1 cm dan kedalaman 2 mm. Jumlah sampel dalam penelitin ini adalah 25 ekor tikus dibagi menjadi 5 kelompok uji yaitu kelompok 1 diberikan suspensi glibenklamid secara oral dan gel plasebo pada luka, kelompok 2,3 dan 4, kelompok yang diberikan  suspensi glibenklamid secara oral dan gel ekstrak daun eboni konsentrasi 5 %, 10 % dan 15 % pada luka), kelompok 5 (pemberian suspensi Na-CMC 0,5 % secara oral dan gel plasebo pada luka). Pengujian dilakukan selama sepuluh hari dengan dosis dua kali pemberian setiap hari. Pengamatan makroskopik, panjang luka diukur dan dilaporkan sebagai persentase penyembuhan luka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gel ekstrak daun eboni memiliki kemampuan untuk memperbaiki lesi pada luka diabetes pada tikus putih, konsentrasi gel ekstrak daun eboni yang paling efektif untuk memerbaiki lesi luka diabetik adalah konsentrasi 10%, dengan persentase penyembuhan 94,34%. Kata Kunci : Diospyros celebica Bakh., Luka diabetik, Tikus putih
AKTIVITAS EKSTRAK DAUN EBONI (Diospyros celebica Bakh.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA DIABETIK TIKUS PUTIH YANG DIINDUKSI ALOKSAN: ACTIVITY OF EBONY LEAF EXTRACT (Diospyros celebica Bakh.) ON DIABETIC Wound Healing ALLOXAN-INDUCED WHITE RATS Ihwan; Siti Anisa; Akhmad Khumaidi; Khildah Khaerati
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v8i2.607

Abstract

Luka diabetik merupakan luka yang disebabkan oleh infeksi akibat dari tingginya glukosa darah ? 200 mg/dL. Daun Diospyros celebica Bakh., memiliki potensi antibakteri, antidiabetes, antivirus, dan antijamur. Tujuan penelitian ini adalah menentukan aktivitas penyembuhan luka diabetik pada tikus putih yang di induksi aloksan dengan diberikan terapi ekstrak daun eboni. Induksi diabetes dilakukan menggunakan aloksan dosis 140 mg/kgBB intraperitonial. Tikus dilukai pada bagian punggung dengan diameter luka ± 1 cm dan kedalaman 2 mm. Jumlah sampel dalam penelitin ini adalah 25 ekor tikus dibagi menjadi 5 kelompok uji yaitu kelompok 1 diberikan suspensi glibenklamid secara oral dan gel plasebo pada luka, kelompok 2,3 dan 4, kelompok yang diberikan  suspensi glibenklamid secara oral dan gel ekstrak daun eboni konsentrasi 5 %, 10 % dan 15 % pada luka), kelompok 5 (pemberian suspensi Na-CMC 0,5 % secara oral dan gel plasebo pada luka). Pengujian dilakukan selama sepuluh hari dengan dosis dua kali pemberian setiap hari. Pengamatan makroskopik, panjang luka diukur dan dilaporkan sebagai persentase penyembuhan luka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gel ekstrak daun eboni memiliki kemampuan untuk memperbaiki lesi pada luka diabetes pada tikus putih, konsentrasi gel ekstrak daun eboni yang paling efektif untuk memerbaiki lesi luka diabetik adalah konsentrasi 10%, dengan persentase penyembuhan 94,34%. Kata Kunci : Diospyros celebica Bakh., Luka diabetik, Tikus putih
Standardization of Ethanol Extract of Dioscorea alata L. Variety of Paoateno from Banggai Islands District, Central Sulawesi: Standarisasi Ekstrak Etanol Dioscorea alata L. Varietas Paoateno Asal Kabupaten Banggai Kepulauan Sulawesi Tengah Ismail, Ihwan; Khumaidi, Akhmad; Putri, Ayu Dinawati; Primadia, Rizki; Syamsidi, Armini; Khaerati, Khildah
Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) (e-Journal) Vol. 9 No. 2 (2023): (October 2023)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/j24428744.2023.v9.i2.16065

Abstract

Background: Standardizing herbal medicines is crucial for assessing their quality and effectiveness. Objectives: This study aims to determine non-specific and specific standardization parameters for medicinal plants. Non-specific parameters include drying shrinkage, water content, total ash content, acid insoluble ash content, total bacteria, total mold, and metal limits (Pb, Hg, and Cd). Specific parameters involve organoleptic examination, identification of chemical content in extracts, dissolved compounds in specific solvents, total flavonoid content, and qualitative testing of anthocyanin content in the extract. Materials and Methods: An experimental laboratory approach was employed to extract Dioscorea alata L using 96% ethanol, which was later concentrated through a rotary evaporator to obtain a viscous extract. Specific and non-specific parameters were determined using standardized techniques. Results: The extract yielded 3.32% of the initial substance. Drying shrinkage was 19.7769±1.2682%, and specific gravity was 0.6192±0.1476 gram/ml for 5% m/v and 0.5101±3.9591 gram/ml for 10% m/v. Ash content was 0.6793%, with acid insoluble ash content at 0.1895%. Heavy metal contamination for Hg was 0.47 ppm, but undetected for Pb & Cd). The total plate number was 27 x 103 colonies/g, and negative Escherichia coli contamination. The mold count was 39 x 101 colonies/g. Additional specific parameters included the organoleptic properties of the viscous extract (purple color, characteristic odor, and sweet taste), water-soluble compound content (15.63%), ethanol-soluble compound content (14.73%), and a flavonoid content of 76.669 mg EQ/100 mg. Conclusions: The ethanol extract of Dioscorea alata complies with the standard requirements established by the Food and Drug Supervisory Agency. It presents as a viscous extract with a distinct odor, purple-black color, and sweet taste. The extract contains alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, steroids, and phenolic compounds, with a total flavonoid content of 76.669 mg. Furthermore, it tested positive for anthocyanins.
Aktivitas Antibakteri Fraksi Serbuk Kayu Eboni (Diospyros celebica Bakh.) terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Nugrahani, Arsa Wahyu; Maulida, Mohammad Farid; Khumaidi, Akhmad
JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis) Vol 7 No 3 (2020): J Sains Farm Klin 7(3), Desember 2020
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsfk.7.3.194-201.2020

Abstract

Eboni (Diospyros celebica Bakh.) merupakan salah satu pohon khas daerah Sulawesi. Serbuk kayu sebagai hasil sampingan dari pengolahan kayu ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Hasil penelitian pendahuluan menyatakan bahwa ekstrak etanol serbuk kayu eboni memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemisahan senyawa antibakteri yang terdapat di dalamnya dengan metode fraksinasi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat, n-butanol, dan air, serta pengujian aktivitas antibakteri dari fraksi-fraksi tersebut dengan metode disk diffusion dan KLT bioautografi. Identifikasi golongan senyawa dari fraksi aktif menggunakan pereaksi kromogenik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksan memiliki diameter hambat tertinggi terhadap Escherichia coli yakni sebesar 12,53 mm dengan golongan senyawa yang memiliki aktivitas penghambatan adalah steroid dan fraksi etil asetat memiliki diameter hambatan tertinggi terhadap Staphylococcus aureus yakni sebesar 14,77 mm dengan golongan senyawa yang memberikan zona hambat yaitu terpenoid, fenolik, steroid. 
Aktivitas Antibakteri Fraksi Biji (KEBEN) Barringtonia asiatica L. Kurz pada Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Khumaidi, Akhmad; Yustika, Yustika; Nugrahani, Arsa Wahyu
JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis) Vol 9 No 2 (2022): J Sains Farm Klin 9(2), Agustus 2022
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsfk.9.2.80-87.2022

Abstract

Biji keben (Barringtonia asiatica L. Kurz) merupakan salah satu bagian tumbuhan obat yang secara empiris dimanfaatkan oleh masyarakat Tomini sebagai obat infeksi mata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri fraksi biji keben dengan menggunakan metode difusi agar teknik sumuran serta melakukan identifikasi senyawa antibakteri dari fraksi yang memiliki aktivitas antibakteri tertinggi dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT)-bioautografi dan pereaksi warna. Hasil dari pengujian aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa fraksi n-heksana, etil asetat dan air dari biji keben memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter hambat tertinggi pada fraksi etil asetat yaitu 21,08±0,72 (mm±SD) pada bakteri Staphylococcus aureus dan 21,53±1,00 (mm±SD) pada bakteri Escherichia coli. Hasil dari KLT-bioautografi fraksi etil asetat terhadap Staphylococcus aureus memberikan dugaan bahwa senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri adalah steroid (Rf 0,75 dan 0,78) dan senyawa terpenoid (Rf 0,3) pada bakteri Escherichia coli. Berdasarkan hasil tersebut fraksi etil asetat biji keben dapat dipertimbangkan sebagai sumber antibakteri bahan alam
Aktivitas Ekstrak Etanol Kulit Batang Kayu Jawa (Lannea coromandelica) terhadap Penyembuhan Luka Sayat pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus L.): Activity of Ethanolic Extract of Jawa Bark (Lannea coromandelica) on Healing Wound at White Rat (Rattus Norvegicus L.) Calsum, Umi; Khumaidi, Akhmad; Khaerati, Khildah
Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) (e-Journal) Vol. 4 No. 2 (2018): (October 2018)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.494 KB) | DOI: 10.22487/j24428744.2018.v4.i2.11078

Abstract

Jawa bark (Lannea coromandelica) is a part of the plant that can be used empirically for handling wounds. This study aims to determine the activity of ethanol extract of Jawa bark on healing wound and determine the effective dose compared with povidone iodine. The test animals used were white rats (Rattus norvegicus L.) consisting of 5 groups, namely negative control (vaseline without extract), positive control (povidone iodine), dose of 250 mg/kg BW, dose of 500 mg/kg BW, dose of 750 mg/kg BW. Each rat made an incision in the area parallel to the spine with 2 cm long and 2 mm deep. Measuring the length of the wound was done every day for 14 days. The data obtained were analyzed statistically using One Way Anova and followed by Post Hoc Duncan test. Statistical results showed that the ethanol extract of Jawa bark has an activity in curing slice where the effective dose is a dose of 500 mg/kg BW with a wound healing time of 12 days.
Toksisitas Ekstrak Etanol dan Ekstrak Air dari Daun Jotang Kuda (Synedrella nodiflora (L.) Gaertn.), Daun Gandarusa (Justicia Gendarussa Burm.F.), dan Daun Pulutan (Urena lobata L.) dengan Brine Shrimp Lethality Test: Toxicity of Ethanol Extract and Water Extract of Synedrella nodiflora(L.) Gaertn. Leaves, Justicia gendarussa Burm.f. Leaves, and Urena lobata L. Leaves with Brine Shrimp Lethality Test Widodo, Agustinus; Khumaidi, Akhmad; A. Lasongke, Putri Faradila
Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) (e-Journal) Vol. 5 No. 2 (2019): (October 2019)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.502 KB) | DOI: 10.22487/j24428744.2019.v5.i2.13935

Abstract

Jotang kuda (Synedrella nodiflora (L.) Gaertn.), gandarusa (Justicia gendarussa Burm.f.) and pulutan (Urena lobata L.) leaves are used by several tribes in Central Sulawesi for the treatment of cancer. This study aims to determine the value of LC50 (Lethal Concentration 50) of ethanol and water extracts from the S. nodiflora, J. gendarussa and U. lobata leaves and identify the class of chemical compounds contained in extracts with the highest toxicity. The ethanol extract was obtained by the maceration method using ethanol 96% and the water extract was obtained by the infusionmethod. The extract toxicity test was carried out byBrine Shrimp Lethality Test (BSLT) and dentification test was carried out by Thin Layer Chromatography (TLC). The toxicity test results (LC50) of 96% ethanol extract and water extract of S. nodiflora leaves were 395.60 μg/ml and 109.25 μg/ml; J. gendarussa leaves 713.34 μg/ml and 18.02 μg/ml; and U.lobata leaves 188.38 μg/ml and 85.37 μg/ml, respectively. The results of identification showed that the water extract of the J. gendarussa leaves containing alkaloids, flavonoids, phenolics, saponins, and steroids-terpenoids. The results of this study indicated that the extracts of S. nodiflora leaves, J. gendarussa leaves, and U. lobata leaves are potential to be developed as anticancer.
Low Glycemic Index Taro Tuber (Colocasia esculenta L.) Flakes as Alternative Food Product for Diabetes Management Sultan, Asriana; Rinaldi, Rinaldi; Sulaiman, Sri Sulistiana; Aanisah, Nuur; Khumaidi, Akhmad; Bahar, Zulhaerana; Syamsidi, Armini
Sciences of Pharmacy Volume 4 Issue 4
Publisher : ETFLIN Publishing House

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Flakes are a type of instant food product commonly consumed as a breakfast alternative, especially those labelled “low-glycaemic index” can be suitable for individuals with diabetes. Taro tubers (Colocasia esculenta L.) containing high fibre and low fat are among the raw materials that can be processed into instant food. Therefore, this study aimed to develop and determine the glycaemic index (GI) of Taro tuber flakes as an alternative processed food product for individuals with diabetes. Three distinct formulas, namely F1, F2, and F3, were developed with varying drying temperatures of 40 °C, 60 °C, and 80 °C. These were comprehensively evaluated through sensory testing (hedonic and scoring), followed by the analysis of moisture content, ash content, microbial examination, and glycaemic index. The results showed that all three developed formulas F1, F2, and F3 xhibited low glycaemic index values (below 55), along with acceptable moisture and ash content, and were free from Escherichia coli and Salmonella typhi contamination. Among them, F2, which was dried at 60 °C, showed the lowest glycaemic index value of 15.1, indicating its potential to produce a minimal postprandial blood glucose response. Furthermore, F2 received an average hedonic score of 6, which indicates favorable sensory acceptance in terms of taste, color, texture, and aroma. Therefore, F2 was selected as the most suitable formula that can be consumed as an alternative food product to help manage diabetes through low-GI dietary strategies.