Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PERAN LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DALAM PENGAWASAN INDUSTRI PERBANKAN SESUAI UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 2023 Kurniawan, I Gede Hartadi; Judge, Zulfikar; Muliawan, Anatomi
Lex Jurnalica Vol 22, No 3 (2025): LEX JURNALICA
Publisher : Lex Jurnalica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/lj.v22i3.10323

Abstract

AbstrakLembaga Penjamin Simpanan merupakan suatu lembaga yang menjamin setiap simpanan nasabah yang menyimpan dana nya di institusi perbankan apabila terjadi likuidasi bank bank tersebut baik Bank Umum ataupun Bank Perekonomian Rakyat. Lembaga Penjamin Simpanan terbantuk sebagai jawaban atas pengalaman krisis moneter 1998 yang berakibat kepada terjadinya kerusuhan massa serta terjadinya pengambilan besar besaran dana pihak ketiga secara serentak ke hampir seluruh industri perbankan sehingga banyak berakibat kepada rusaknya system perbankan nasional dan penutupan beberapa perbankan . Dan muara dari penutupan beberapa perbankan berakibat terbitnya mekanisme Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) serta berdirinya Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang tugasnya mengelola asset asset beberapa bank yang ditutup untuk kemudian dijual untuk pengembalian BLBI. Dalam perjalanan waktu BPPN, ternyata hasil dari penjualan asset bank bank yang ditutup tidak mencukupi pengembalian BLBI ke Bank Indonesia, sehingga tidak dapat menyelesaikan masalah juga. Persoalan juga semakin bertambah karena ketika masa BPPN sudah selesai, asset asset Bank yang ditutup juga masih banyak yang belum laku terjual, sehingga negara banyak mengalami kerugian akibat pemberian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, serta ternyata banyak ditemukan kasus kalau banyak kasus korupsi dari kisah BLBI tersebut. Keberadaan Lembaga Penjamin Simpanan menjadi solusi dari pemerintah untuk mengantisipasi apabila kasus kasus perbankan di tahun 1998 terulang kembali di masa depan Kata kunci : Perbankan, Likuidasi, Asset AbstractThe Indonesia Deposit Insurance Corporation (Lembaga Penjamin Simpanan/LPS) is an institution that guarantees every customer’s deposit placed in banking institutions in the event that these banks undergo liquidation, whether they are Commercial Banks or Rural Banks. LPS was established as a response to the 1998 monetary crisis, which triggered mass riots and a simultaneous large-scale withdrawal of third-party funds across nearly the entire banking industry. This situation severely damaged the national banking system and led to the closure of several banks. The closure of these banks subsequently resulted in the implementation of the Bank Indonesia Liquidity Assistance (BLBI) mechanism and the establishment of the Indonesian Bank Restructuring Agency (Badan Penyehatan Perbankan Nasional/BPPN), whose task was to manage the assets of the closed banks and sell them to repay BLBI. Over time, however, it became evident that the proceeds from the sale of these bank assets were insufficient to repay the BLBI funds to Bank Indonesia, thus leaving the problem unresolved. Additional issues also emerged because, even after BPPN had completed its mandate, many assets from the liquidated banks remained unsold. As a result, the state suffered substantial losses from the BLBI program, and numerous corruption cases related to BLBI were later uncovered. The existence of LPS therefore serves as the government’s solution to anticipate and mitigate the recurrence of banking crises similar to those that occurred in 1998. Keywords: Banking, Liquidation, Assets
KETIADAAN HAK ASUH ANAK DAN KEWAJIBAN NAFKAH PERSPEKTIF KOMPILASI HUKUM ISLAM: STUDI PUTUSAN NOMOR 3500/PDT.G/2023/PA.JB Yolanda Christina, Kikey; Hartadi Kurniawan, I Gede
Jurnal Al-Wasith : Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Al-Wasith: Jurnal Studi Hukum Islam
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52802/wst.v10i2.1928

Abstract

Penelitian ini mengkaji mengenai kelalaian mengenai hak asuh dan nafkah anak sebagaimana Putusan Pengadilan Agama Nomor 3500/Pdt.G/2023/PA.JB menruut Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan Undang-Undang Perlindungan Anak. Ketidaktegasan amar putusan tersebut berdampak luas, terutama terhadap perlindungan anak, kewajiban hukum orang tua, dan efektivitas fungsi hakim dalam memberikan keadilan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus yaitu Putusan Nomor 3500/Pdt.G/2023/PA.JB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelalaian dalam Putusan Nomor 3500/Pdt.G/2023/PA.JB yang tidak mencantumkan hak asuh dan nafkah anak melanggar prinsip perlindungan anak serta ketentuan KHI, sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum, memperlemah posisi ibu, dan merugikan anak secara psikologis maupun pendidikan. Upaya hukum yang dapat ditempuh adalah pengajuan gugatan baru atau permohonan penetapan ke Pengadilan Agama untuk memperoleh kepastian hukum atas pengasuhan dan nafkah anak pasca perceraian.
Analisis Komparatif Penerapan Pasal 378 Kuhp Dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik Terhadap Tindak Pidana Romance Scammers Herawati, Uci; Kurniawan, I Gede hartadi
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i2.63831

Abstract

Perkembangan teknologi informasi telah mendorong pergeseran modus tindak pidana penipuan dari pola konvensional menuju kejahatan berbasis relasi digital, salah satunya berupa romance scam. Tindak pidana ini memanfaatkan hubungan emosional palsu melalui media elektronik untuk memperoleh keuntungan secara melawan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepastian hukum serta bentuk perlindungan hukum terhadap korban tindak pidana romance scam melalui perbandingan penerapan Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan kasus dan komparatif, dengan menelaah Putusan Nomor 1103/Pid.B/2021/PN.Jkt.Sel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasal 378 KUHP mampu memberikan kepastian hukum formal melalui konstruksi delik penipuan konvensional, namun belum secara jelas mengakomodasi penggunaan sistem elektronik sebagai sarana utama kejahatan. Sebaliknya, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik memberikan kepastian hukum yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap karakteristik kejahatan digital melalui pengaturan manipulasi Informasi Elektronik. Dari aspek perlindungan hukum, kedua instrumen hukum tersebut masih berorientasi pada perlindungan represif dan belum sepenuhnya menjamin pemulihan korban secara komprehensif. Oleh karena itu, diperlukan konsistensi penerapan hukum serta optimalisasi perlindungan korban melalui sinergi dengan Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban.
Urgensi Pengesahan Undang-undang Perampasan Aset dalam Penegakan Hukum di Indonesia (Studi Putusan Nomor 1277 PK/PID.SUS/2024) Faizah, Ummu; Kurniawan, I Gede Hartadi
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 5 No. 2 (2026): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Februari 2026
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v5i2.5678

Abstract

Economic crimes, particularly corruption and money laundering, are systemic crimes that cause significant state losses and undermine public trust in legal institutions in Indonesia. The increasing complexity of these crimes, marked by sophisticated patterns of asset concealment and cross-jurisdictional transfers, often weakens the effectiveness of conventional criminal justice mechanisms. This condition raises fundamental legal concerns regarding the adequacy of the current criminal justice regime in ensuring optimal asset recovery. Against this backdrop, the ratification of the Asset Forfeiture Bill (RUU Perampasan Aset) emerges as an urgent legal necessity, as it introduces a non-conviction-based asset forfeiture (NCB) mechanism grounded in the in rem principle, allowing asset confiscation without waiting for a final criminal conviction.This study focuses on examining the judicial reasoning (rasio decidendi) in Supreme Court Decision Number 1277 PK/Pid.Sus/2024, which highlights that conventional criminal procedures face prolonged timelines, multi-layered judicial processes, and difficulties in tracing and recovering criminal proceeds, creating substantial obstacles to effective state loss recovery. The Court emphasized that reliance solely on criminal conviction as a precondition for asset forfeiture may undermine both the effectiveness of state loss recovery and the broader public interest in combating economic crimes. This consideration forms the legal basis for recognizing the necessity of a non-conviction-based forfeiture mechanism.Using a normative juridical method with statutory and conceptual approaches, supported by primary, secondary, and tertiary legal materials, this study finds that the decision illustrates the limitations of conventional criminal justice procedures while underscoring the urgency for legislative reform through the ratification of the Asset Forfeiture Law. The law would ensure more effective recovery of state losses, enhance legal certainty, and maintain a proportional balance between law enforcement objectives and human rights protection.