Claim Missing Document
Check
Articles

Pola Asuh Pintar, Generasi Unggul: Upaya Optimalisasi dan Pemberdayaan Peran Perempuan di Desa Sukamulya Firdaus, Rose Maryana; Aushaf, Inka Fadilla Nur; Wijayanti, Niken Ayu; Sundari, Nissa Fauziyah; Nentika, Rindayu Bidara Caela; Santoso, Nilam Cahya Ressawati; Salwa, Tetalia; Putri, Nova Belinda; Muta'aliyah, Hikmah; Yudiana, Zahra Haurannisa; Dewi, Rahma; Musyaffa, Najwa Aufa; Reyza, Muhammad Fakhrul; Silmi, Reina Zahira; Virssyani, Khansa Auliya; Kurniawan, Titis
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i4.18833

Abstract

ABSTRAK Pola asuh keluarga merupakan salah satu faktor yang berperan dalam proses tumbuh kembang anak. Pendidikan bagi perempuan, terutama yang berada di usia produktif, sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup dan perkembangan keluarga. Namun, di banyak daerah, perempuan usia produktif hanya memiliki akses pendidikan yang terbatas. Salah satu dampak negatif yang sering muncul adalah rendahnya kesadaran tentang pentingnya pola makan bergizi dan perawatan kesehatan anak sehingga berdampak pada permasalah gizi buruk, seperti stunting. Stunting merupakan masalah jangka panjang pada perkembangan fisik dan kognitif anak. Program "PAGAR UNGGUL: Pola Asuh Pintar, Generasi Unggul”, menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan peran perempuan dalam mengatasi permasalahan kesehatan, pendidikan, dan lingkungan di desa. Program ini menggunakan metode ceramah (lecture), praktik umum (general practicum), dan praktik khusus (specific practicum). Program ini berhasil meningkatkan pengetahuan peserta yang ditunjukkan oleh rata-rata peningkatan skor post-test pada setiap pertemuan. Melalui pendekatan yang komprehensif, program ini tidak hanya memberikan pengetahuan tentang pola asuh yang baik, kesehatan reproduksi, dan gizi seimbang, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan praktis seperti memasak makanan sehat, mengelola sampah, dan merawat diri. Tim Pagar Unggul melakukan pemberdayaan kepada posyandu remaja dan memberikan informasi yang tercantum pada modul pembelajaran kurikulum Generasi Emas yang berisikan informasi terkait edukasi 10 kegiatan yang telah dilaksanakan selama kegiatan "PAGAR UNGGUL: Pola Asuh Pintar, Generasi Unggul” berlangsung. Kata Kunci: Pola Asuh, Pemberdayaan Perempuan, Tumbuh Kembang Anak, Desa Sukamulya, Pendidikan Kesehatan  ABSTRACT Family parenting patterns were one of the factors that play a role in the process of child development. Education for women, especially those in their productive age, significantly impacts the quality of life and family development. However, in many regions, women of productive age had limited access to education. One of the negative impacts that often arise is the lack of awareness regarding the importance of balanced nutrition and child healthcare, which leads to issues like malnutrition, such as stunting. Stunting is a long-term problem affecting both physical and cognitive development in children. The program "PAGAR UNGGUL: Smart Parenting, Superior Generation" became one of the keys in enhancing the role of women in addressing health, education, and environmental issues in villages. This program utilized lecture methods, general practicum, and specific practicum. This program has successfully increased participants' knowledge, as evidenced by the average improvement in post-test scores after each session. Through a comprehensive approach, this program provided knowledge about good parenting patterns, reproductive health, and balanced nutrition but also equipped participants with practical skills such as cooking healthy meals, waste management, and self-care. The Pagar Unggul team carried out empowerment activities for adolescent posyandu and provided information outlined in the curriculum module of the Golden Generation, which contained details about 10 activities carried out during the "PAGAR UNGGUL: Smart Parenting, Superior Generation" program. Keywords: Parenting, Women's Empowerment, Child Growth and Development, Sukamulya Village, Health Education
INTERVENSI KEPERAWATAN PRE DAN POST OPERASI PADA PASIEN DEWASA DENGAN BUERGER DISEASE DAN ANEMIA STUDI KASUS Puspaningrum, Sepdian; Platini, Hesti; Kurniawan, Titis
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 4 (2024): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, April 2024
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v3i4.2514

Abstract

Latar belakang: Buerger disease adalah penyakit inflamasi progresif, nonaterosklerotik, yang sering menyerang arteri kecil dan menengah pada ekstremitas atas dan bawah. Anemia adalah kondisi kurangnya Hb yang berfungsi mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh. Pengobatan penyakit Buerger tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan sirkulasi pada ekstremitas, namun pada kasus yang parah, amputasi menjadi pilihan bagi pasien. Pada dewasa, tindakan operasi sering kali memunculkan berbagai masalah, sehingga diperlukan asuhan keperawatan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut Kasus: seorang wanita berusia 65 tahun dirawat dengan keluhan nyeri dan kehitaman pada kaki kanan dan diagnosa medis gangren pedis ec. Buerger disease dan anemia, klien direncanakan untuk menjalani tindakan amputasi. Masalah keperawatan pada klien seperti kecemasan, kurang pengetahuan, nyeri, gangguan integritas kulit. Metode: Metode penelitian yang dilakukan merupakan case study dimana studi kasus dilakukan dengan melakukan asuhan keperawatan secara komprehensif dari mulai pengkajian hingga evaluasi Rencana perawatan: rencana asuhan keperawatan menggunakan standar SDKI, SIKI dan SLKI dengan intervensi utama berupa reduksi ansietas, manajemen nyeri, edukasi kesehatan dan perawatan luka. Kesimpulan: proses pemberian asuhan keperawatan pada kasus ini berfokus pada fase pre operasi dan post operasi, dengan intervensi pre operasi berfokus pada reduksi ansietas, dan edukasi. Sementara intervensi post operasi berfokus pada perawatan luka, pencegahan infeksi dan manajemen nyeri.
Surgical hand preparation metode handscrub dan handrub berbasis antiseptik: A scoping review Olivia, Claudia; Ibrahim, Kusman; Kurniawan, Titis
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 4 (2025): Volume 19 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i4.925

Abstract

Background: Healthcare-associated infections (HAIs) are complications of healthcare that can increase morbidity, mortality, length of hospitalization, and additional costs, including surgical site infections (SSIs) caused by various factors such as microorganisms from the surgical environment. One important step in preventing SSIs is surgical hand preparation using antimicrobial soap or alcohol-based fluids which aims to reduce microorganisms, prevent infection, and increase the success of surgical procedures according to WHO and CDC guidelines. Purpose: To determine the effectiveness of implementing surgical hand preparation using antiseptic-based hand washing and hand rubbing methods. Method: Scoping review with article sources from PubMed, Scopus, and ScienceDirect published in the last 6 years in the period 2018-2024. The keywords used are "surgical team" or surgical staff or surgical procedures, "surgical hand preparation" or surgical cleaning or surgical rubbing, "bacteria" or microorganisms. Article assessment uses guidelines from The PRISMA Extension for Scooping Review (PRISMA-ScR). Results: The most widely used type of antiseptic fluid in the operating room area is chlorhexidine gluconate with concentrations of 1%, 3%, and 5% for the handrub method, and a concentration of 4% for the handwash-scrub method. The amount of antiseptic needed for handrub is 6-10 ml and for handwash-scrub 20 ml; and the surgical handwash and surgical handrub methods are equally effective in reducing the number of germs on the hands. Conclusion: Surgical handwash-scrub and surgical handrub are equally effective in reducing the number of bacteria on the hands, but surgical handrub with alcohol-based antiseptic and chlorhexidine is the main choice recommended by WHO and CDC because it is more practical, efficient, and effective than surgical handwash.   Keywords: Antiseptic; Handscrub; Handrub; Surgical Hand Preparation.   Pendahuluan: Health care–associated infections (HAIs) adalah komplikasi pelayanan kesehatan yang dapat meningkatkan morbiditas, mortalitas, durasi rawat inap, dan biaya tambahan, termasuk infeksi daerah operasi (IDO) yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti mikroorganisme dari lingkungan operasi. Salah satu langkah penting dalam pencegahan IDO adalah persiapan tangan bedah menggunakan sabun antimikroba atau cairan berbasis alkohol yang bertujuan mengurangi mikroorganisme, mencegah infeksi, dan meningkatkan keberhasilan prosedur bedah sesuai pedoman WHO dan CDC. Tujuan: Untuk meyelidiki tentang efektivitas dari pelaksanaan surgical hand preparation metode handscrub dan handrub berbasis antiseptik. Metode: Scoping review dengan sumber artikel berasal dari pubMed, Scopus, dan ScienceDirect yang diterbitkan 6 tahun terakhir pada rentang 2018-2024. Kata kunci yang digunakan yaitu “surgical team” or surgical staff or surgical procedures, “surgical hand preparation” or surgical scrubbing or surgical rubbing, “bacteria” or microorganism. Penilaian artikel menggunakan panduan dari The PRISMA Extension for Scooping Review (PRISMA-ScR). Hasil: Jenis cairan antiseptik area kamar operasi yang paling banyak digunakan adalah chlorhexidine gluconate konsentrasi 1%, 3%, dan 5% untuk metode handrub, konsentrasi 4% untuk metode handwash-scrub. Jumlah antiseptik yang diperlukan untuk handrub 6-10 ml dan untuk handwash-brush 20 ml; dan metode surgical handwash dan surgical handrub sama-sama efektif dalam menurunkan jumlah kuman ditangan. Simpulan: Surgical handwash-scrub dan surgical handrub sama-sama efektif dalam menurunkan jumlah bakteri di tangan, tetapi surgical handrub dengan antiseptik berbasis alkohol dan chlorhexidine, menjadi pilihan utama yang direkomendasikan WHO dan CDC karena lebih praktis, efisien, dan efektif dibandingkan surgical handwash.   Kata Kunci: Antiseptik; Handscrub; Handrub; Surgical Hand Preparation.
The Relationship between Health Literacy, Illness Perception, and Self-Management Adherence among Hemodialysis Patients in Indonesia Pratiwi, Sri Hartati; Sari, Eka Afrima; Kurniawan, Titis
Journal of Health and Nutrition Research Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jhnresearch.v4i2.401

Abstract

Hemodialysis patients' self-management is critical for maintaining their quality of life and minimizing complications. Patients' health literacy and perception of the disease are essential for their acceptance of the condition and treatment. However, the relationship between these variables and self-management among hemodialysis patients remains unclear. This study aims to identify the relationship between health literacy, perception of disease, and self-management among hemodialysis patients. This correlational study was cross-sectional design, with 129 hemodialysis patients consecutively recruited from a hemodialysis unit of a tertiary hospital in West Java, Indonesia. Data were collected using the Brief-Illness Perception Questionnaire (Brief-IPQ), the European Health Literacy Survey Questionnaire (HLS-EU-Q47), and the End Stage Renal Disease Adherence Questionnaire (ESRD-AQ). The data were analyzed using Pearson correlation analysis. Most of the patients had sufficient or excellent health literacy (74.4%), negative illness perception (50.4%), and low self-management practices (71.3%). Pearson’s correlation analysis revealed a positive correlation was found between health literacy and self-management practices (r = .189; ρ=0.032). Additionally, there was a negative correlation between illness perception and health literacy (r = -.27; ρ= .002) as well as between illness perception and self-management practices (r = -.762; ρ= .000). Positive illness perception and better self-management practices correlate with a higher level of health literacy. These findings highlight the importance for healthcare staff to facilitate positive illness perceptions and self-management practices, and to consider these factors as vital aspects in developing self-management education programs for ESRD patients.
Quality of Discharge Education: Chronic Diseases Patients’ Perspectives Rahmawati, Syifa Eka; Kurniawan, Titis; Sari, Eka Afrima; Trisyani, Mira; Pahria, Tuti
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No 5 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6i5.3257

Abstract

Readmission is a condition where a patient needs to be re-hospitalized shortly after their initial discharge. One crucial component in preventing readmission is the quality of discharge education. Objective: This study aims to describe the quality of discharge education among patients with chronic diseases Method : A quantitative descriptive study design was used. A total of 121 in patients with chronic disease from a regional general hospital in West Java were selected through consecutive sampling. Demographic and characteristic questionnaires and the Quality of Discharge Teaching Scale (QDTS) were used as instruments. It consisting of 6 paired questions with a validity value 0.98 and reliability 0.92. Descriptive statistics were applied for data analysis. Results: Chronic patients' score of content needed and content received were high (46.7 ± 11.9). This means that patients have high information needs and the information they received from nurses answer their needs. However, there are some points where it is considered that the needed information has not been fulfilled by the information received. Conclusions: Even though the quality of the provided discharge education is high, the improvement particularly in terms of information related to who and when should be contacted and information about emotion are needed.
Readiness for Hospital Discharge among Family Caregivers of Patients with Chronic Diseases Fauzia, Salwa Ghaida; Kurniawan, Titis; Pratiwi, Sri Hartati; Trisyani, Mira; Pahria, Tuti
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No 4 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6i4.3306

Abstract

Families often act as informal caregivers for family members who suffer from chronic diseases. Intensive family involvement improved patients’ adherence in performing post-discharge treatment program, hospital readmission, clinical outcomes, and quality of life. To effectively help the patients managing their diseases, the family caregivers required not only understand but also must be ready for helping patients manage their conditions. This study aims to identify the readiness for hospital discharge among family caregivers of patients with chronic diseases. Data were collected from 121 family caregivers recruited consecutively from adult inpatients wards using the respondents’ characteristics questionnaire and Readiness for Hospital Discharge Scale for Family with Adult Patients (RHDS Fam) questionnaire (inter-item correlation = 0.90, and Cronbach alpha 0.89). Descriptive analysis was applied. The results showed that most of family were female (77.7%%), unemployed (69.4%), graduated from senior high school (57.9%), and had no chronic diseases (86.8%). Generally, family caregivers reported high readiness for hospital discharge (7.75 Out of 10). While the coping abilities identified as the readiness domain with highest average score (9.07±1.15), the personal domain identified as the lowest domain (7.07 ±0.68). Higher readiness was showed in the age group of 20-40 years, female, graduated from senior high school, employed, and are the siblings of the patients. It can be concluded that the family caregivers of chronic disease patients are ready to return home and help patients continue their post-discharge treatment program. However, interventions are needed to improve their readiness related to patient’s personal status, particularly those who are male, lower educational background, unemployed, has a relationship as parents of the patients, and has a chronic illness.
Implementation of Mindfulness in 66-years-old Female with Diabetic Post Surgery: A Case Report to Inform Nursing Role to Deliver Holistic Care Widaningsih, Ida; Kurniawan, Titis; Ibrahim, Kusman; Nursiswati, Nursiswati
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No S6 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6iS6.5291

Abstract

Currently, there are no suggested psychological interventions or outcomes in the diabetic management guidelines. This case report presents the management of a 66-year-old female patient, Mrs. R, with diabetes mellitus, hypertension, and gastroesophageal reflux disease (GERD) who underwent exploratory laparotomy for retained stone exploration in the common bile duct (CBD). This Case report aimed to explore the implementation of mindfulness in patients post-operative. The patient experienced significant hyperglycemia, with blood glucose levels peaking at 436 mm Hg. Psychological assessment revealed a severe anxiety score of 31, which likely contributed to her unstable glycemic control. Throughout her unstable glycemic control. Throughout her severe condition, the patient was managed with total parenteral nutrition (TPN) due to fasting and green gastric contents, as part of the nursing intervention. Comprehensive nursing interventions, including regular blood glucose monitoring, insulin administration, and psychological support were employed. Mindfulness techniques such as guided meditation and breathing exercises have been introduced to alleviate hospital-induced distress and manage blood glucose levels. Following these interventions, her blood glucose level decreased to 167 mmHg, and the patient reported feeling calmer and more spiritually connected (Hamilton Rating Scale/ HARS 18). This case describes the management of post-surgical diabetic patients, highlighting the benefits of integrating psychological interventions to improve glycemic control and overall patient outcomes. Therefore, psychological interventions, particularly mindfulness, are needed for integration in diabetes management, especially in hospitals.
PENGELOLAAN PADA PASIEN DM TIPE 2 DENGAN LUKA ABSES DI LABIO SUPERIOR SINISTRA : LAPORAN KASUS Alviani, Eka Turjanah; Pebrianti, Sandra; Kurniawan, Titis
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 2 (2024): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, February 2024
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v3i2.2320

Abstract

Tingginya kadar glukosa darah menyebabkan tubuh mengalami penurunan sistem imunitas sehingga terjadi gangguan pada skin barrier serta vaskularisasi yang buruk. Penyebaran abses pada daerah rongga mulut diakibatkan dari tingginya virulensi bakteri yang bisa berkembang secara luas ke segala arah, ketahanan jaringan yang lemah dan rusak serta kadar glukosa yang tidak terkontrol. Dan sebaliknya respon inflamasi pada pasien dengan abses orofasial dapat menyebabkan hiperglikemia. Tujuan: Menjelaskan kasus mengenai intervensi pengelolaan pasien diabetes mellitus tipe 2 dengan luka abses di labio superior sinistra. Metode: penelitian ini dimuat dalam bentuk Case Report. Dilaksanakan disalah satu Rumah Sakit Kabupaten Sumedang pada tanggal 21 – 25 Juni 2023. Subjek dalam penelitian ini seorang dengan masalah keperawatan ketidakstabilan kadar gula darah pada luka abses bibir kiri atas. Hasil: Hasil penelitian menunjukan setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 5 hari mengenai manajemen hiperglikemia dengan memonitor kadar glukosa darah bahwa gula darah masih mengalami ketidakstabilan. Untuk kondisi luka masih mengalami peradangan dan terdapat push, warna kulit merah muda. Kesimpulan: Peneliti menyimpulkan bahwa ketidakstabilan kadar glukosa bisa menyebabkan terhambatnya penyembuhan luka dan respon inflamasi akan membuat kadar glukosa darah meningkat sehingga penatalaksanaan nya harus dilakukan secara bersamaan serta factor kepatuhan pasien terhadap pengobatan sangat penting untuk diperhatikan.
GAMBARAN KUALITAS HIDUP PASIEN DENGAN LUKA KRONIK DI RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG Karina, Grashiva Putri; Kurniawan, Titis; Fitri, Siti Ulfah Rifa'atul
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 19, No 2 (2023): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v19i2.1099

Abstract

Luka kronik merupakan cedera kulit berkepanjangan yang menimbulkan gangguan fisik, psikologis, aktivitas sehari-hari, dan finansial. Faktor demografi dan karakteristik luka dapat mempengaruhi tingkat kualitas hidup pasien luka kronik. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan kualitas hidup pasien luka kronik di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian merupakan deskriptif kuantitatif menggunakan kuesioner Wound-QoL 17 item dengan nilai validitas 0.44 – 0.72 dan Cronbach’s Alpha 0.91.  Sampel penelitian melibatkan 189 pasien luka kronik dipilih melalui teknik purposive sampling. Analisis data secara deskriptif univariat dengan interpretasi tingginya skor menandakan tingkat kualitas hidup pasien semakin rendah. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien berusia 40-65 tahun (65,6%), perempuan (65,1%), pendidikan terakhir SMP/SMA (59,7%), finansial rendah (58,7%), dan memiliki jenis luka kanker (30,2%). Sebanyak 59,2% pasien memiliki kualitas hidup rendah dengan rerata skor domain psikologis (3,02), kehidupan sehari-hari (2,52), finansial (2,42), dan fisik (2,34). Domain psikologis merupakan domain dengan tingkat kesejahteraan terendah disebabkan peningkatan emosi negatif dan ketidakadaptifan koping pasien. Sedangkan domain fisik merupakan domain dengan tingkat kesejahteraan tertinggi disebabkan perbedaan gejala luka yang dialami pasien. Diharapkan tenaga kesehatan dapat memberikan intervensi pada pasien dengan/berisiko mengalami masalah psikologis bertujuan untuk meningkatkan kemampuan koping. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menganalisis terkait hubungan karakteristik responden dengan kualitas hidup pasien dengan luka kronik.
PENGETAHUAN TENTANG PENGELOLAAN DIRI PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 BESERTA FAKTOR – FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI Fadilah, Tria Nurhayyu; Kurniawan, Titis; Pebrianti, Sandra
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 19, No 2 (2023): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v19i2.1100

Abstract

Diabetes melitus (DM) dikenal sebagai penyakit kronik yang menimbulkan banyak komplikasi. Pengetahuan merupakan kunci sukses manajemen diri dan pencegahan komplikasi terkait DM. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengetahuan pasien DM tipe 2 dalam menjalankan manajemen diri beserta faktor yang berkontribusi. Penelitian deskriptif correlational  ini melibatkan 188 DM tipe 2 yang ditentukan menggunakan teknik consecutive sampling. Kuesioner karakteristik responden, Diabetes Self-Care Knowledge Questionnaire (DSCKQ-30) digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini. Data dianalisis dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini lebih dari setengah responden pengetahuan dengan kategori rendah (55,3%) dan domain terendah berada pada domain kepatuhan manajemen diri. Pengetahuan yang rendah tersebut berhubungan dengan usia (p = 0,033, OR = 2,377, 95%CI = 2,296 – 2,459) pendidikan (p=0,001 OR = 1,856, 95%CI = 1,707 – 2,004), lama terdiagnosa DM (p= -0,034 OR = 95%CI =), riwayat edukasi (p=0,001, t = 3,071 OR = 5,820, 95%CI = 1,897 – 8,716). Pasien DM tipe 2 pada penelitian ini memiliki pengetahuan yang rendah dan cenderung dipengaruhi oleh usia, tingkat pendidikan, lama terdiagnosa DM, dan riwayat edukasi. Penting bagi pihak rumah sakit untuk meningkatkan upaya pengetahuan pasien DM tipe 2 terutama kepatuhan manajemen diri dengan memperhatikan faktor – faktor tersebut.
Co-Authors Aisyah, Iis Alviani, Eka Turjanah Andini, Nathania Putri Arseda, Astuti Aushaf, Inka Fadilla Nur Azzahra, Syafa Bambang Aditya Nugraha Chandra Isabella Hostanida Purba Citra Windani Mambang Sari Dian Adiningsih Diva Jogina Dwi Siwi Handayani Edi Mustamsir Eka Afrima Sari Eka Afrimasari Elsa Pudji Setiawati ENDAH NESTITI URIP RAHAYU Epi Rohaeti Ernawati Ernawati Fadilah, Tria Nurhayyu Fadillah, Jasmine Fasya Fauzia, Salwa Ghaida Firdaus, Rose Maryana Harun, Hasniatisari Harun, Hasniatisari Helwiyah Ropi Hesti Platini Iis Nurhayati Ikawati, Dewi Karina, Grashiva Putri Kristian Labertus Kurniawan Yudianto Kusman Ibrahim Lestari, Ranti Asri Lumbantobing, Valentina Malfa Laila Pratidina Mediawati, Ati Surya Mira Trisyani Musyaffa, Najwa Aufa Muta'aliyah, Hikmah Mutiarasani, Anjani Nentika, Rindayu Bidara Caela Nugraha Firdaus Nurfuadah, Irfani Nurrofiqoh, Malihatunnisa Nursiswati Nurwijayanti Olivia, Claudia Pebriana, Tika Rifa Luthfiyah Pratiwi, Atlastieka Puspaningrum, Sepdian Putri, Nova Belinda Putri, Silvi Riana Rahma Dewi Rahmawati, Dedah Rahmawati, Syifa Eka Rasyiddin, Gyan Reyza, Muhammad Fakhrul Risman Ariana Robiul Fitri Masithoh Rofidin, Opi Rustianti Salwa, Tetalia Sandra Pebrianti Santoso, Nilam Cahya Ressawati Sari, Citra Windani Mambang Sari, Nur Puspita Setiani, Haniifah Silmi, Reina Zahira Sisca Damayanti siti romadoni Siti Rosita Siti Ulfah Rifa’atul Fitri Sri Hartati Sri Hartati Pratiwi Sri Suparti Sundari, Nissa Fauziyah Susilaningsih, Fransisca Sri Taty Hernawaty Titiek Suwarti Tsauroh, Salsabila Fiqrotu Tuti Pahria Virssyani, Khansa Auliya Vitniawati, Vina Wati, Irma Widaningsih, Ida Wijayanti, Niken Ayu Wiwi Mardiah Wongchan Petpichetchian Yanti Hermayanti Yeni Yulianti Yudiana, Zahra Haurannisa Zahirah, Esa