Claim Missing Document
Check
Articles

Peningkatan Kapasitas Kader Terkait Peningkatan Imunitas Tubuh melalui Konsumsi Jus Sayur pada Era Post-Covid-19 di Desa Tanjungsari - Karangpawitan, Garut Nursiswati Nursiswati; Malfa Laila Pratidina; Diva Jogina; Titis Kurniawan; Sandra Pebrianti
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 6 (2023): Volume 6 No 6 Juni 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i6.9687

Abstract

ABSTRAK COVID-19 telah menjadi endemik dan status pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) telah dicabut oleh pemerintah Indonesia. Perubahan status endemik ini membutuhkan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit menular dan tidak menular. Imunitas tubuh merupakan salah satu hal penting di era post COVID-19 ini. Desa Tanjungsari merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut. Mayoritas penduduk Desa Tanjungsari berstatus ekonomi menengah ke bawah sehingga masih banyak masyarakat yang terjangkit penyakit, baik penyakit kronis maupun non kronis yang dimana penyakit-penyakit ini dapat terjadi akibat pola hidup yang kurang sehat. Oleh Karena itu kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader dalam upaya meningkatkan imunitas melalui jumlah konsumsi sayuran pada masyarakat. Kegiatan PKM dilaksanakan dengan mengadakan sosialisasi di aula desa yang dibagi menjadi dua kegiatan, yaitu ceramah interaktif dan demonstrasi. Kegiatan ceramah interaktif yang dilakukan bertemakan “Peningkatan imunitas dan Pola Hidup Sehat Dengan Konsumsi Jus sayuran” ceramah interaktif ini meliputi definisi imunitas dan pola hidup sehat, manfaat dari mengkonsumsi sayuran dan memperkenalkan metode baru dalam mengkonsumsi sayuran yaitu dengan cara di jus. Pada kegiatan ceramah interaktif juga diselingi dengan kegiatan demonstrasi pembuatan jus oleh tim demonstrasi. Demonstrasi ini dilakukan dengan harapan peserta sosialisasi mendapat gambaran bagaimana membuat jus sayur yang enak dan tetap sehat untuk dikonsumsi. Dari hasil kegiatan tanya jawab selama kegiatan dan wawancara pasca kegiatan sosialisasi didapatkan 90% peserta mengetahui tentang pentingnya imunitas dan pola hidup sehat, serta masyarakat merasa antusias untuk mencoba metode baru mengkonsumsi sayuran yaitu dengan cara di jus. Temuan pengabdian ini melaporkan bahwa peningkatan kapasitas kader dalam melakukan kegiatan sosialisasi dan demonstrasi di nilai efektif dan dapat dijadikan sarana alternatif edukasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai program hidup sehat. Kata Kunci: Imunitas, Jus Sayuran, Penyakit Kronis, Post Covid-19, Kader  ABSTRACT COVID-19 has become endemic and imposition of restrictions on community activities (PPKM) status has been revoked by the Indonesian government. This change in endemic status requires public awareness of communicable and non-communicable diseases that may attack. Body immunity is one of the important things in this post-covid-19 era. Tanjungsari Village is one of the villages located in Karangpawitan sub-district, Garut Regency. The majority of Tanjungsari Village residents have middle to lower economic status so that there are still many people who are infected with diseases, both chronic and non-chronic diseases where these diseases can occur due to an unhealthy lifestyle. Therefore this community service (PKM) activity aims to increase immunity through the amount of consumption of vegetables in the community.  PKM activities are carried out by holding socialization in the village hall which is divided into two activities, namely interactive lectures and demonstrations. The interactive lecture activity carried out with the theme "Increasing Immunity and a Healthy Lifestyle by Consuming Vegetable Juices" This interactive lecture covered the definition of immunity and a healthy lifestyle, the benefits of consuming vegetables and introduced a new method of consuming vegetables, namely by juicing. The interactive lecture activities were also interspersed with demonstration activities for making juice by the demonstration team. This demonstration was carried out in the hope that the socialization participants would get an idea of how to make delicious and healthy vegetable juices for consumption. From the results of the question and answer activities during the activity and post-dissemination interviews, it was found that 90% of the participants knew about the importance of immunity and a healthy lifestyle, and the community was enthusiastic about trying a new method of consuming vegetables, namely by juicing. The findings of this service report that increasing the capacity of cadres in conducting socialization and demonstration activities is effective and can be used as an alternative educational tool to increase community knowledge about healthy living programs. Keywords: Immunity, Vegetable Juice, Chronic Disease, Post Covid-19, Cadre
Peningkatan Kapasitas Kader Kesehatan dalam Upaya Skrining dan Pencegahan Penyakit Kronis di Wilayah Kabupaten Bandung Titis Kurniawan; Hasniatisari Harun; Nursiswati Nursiswati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i7.10108

Abstract

ABSTRAK  Penyakit kronik adalah masalah kesehatan global yang serius, termasuk di Indonesia. Upaya pencegahan dengan optimalisasi peran kader di Posbindu dalam skrining merupakan strategi penting dalam pencegahan penyakit kronik. Meski demikian, dalam tataran praktik peran kader kesehatan lebih berorientasi pengelolaan dan belum mencakup program pencegahan. Program Pengabdian pada Masyarakat ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas kader Posbindu dalam peranannya menjalankan program skrining penyakit kronik di masyarakat. Kegiatan dijalankan di Desa Banjaran, Kec. Banjaran, Kab. Bandung. Program PPM dimulai penyampaian materi terkait penyakit kronis, materi skrining tingkat risiko penyakit kronis dan pencegahannya serta materi terkait peran kader. Pengetahuan kader dicek menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Sebanyak 88 kader Kesehatan terlibat dalam kegiatan. Pengetahuan kader terkait penyakit kronik, faktor risiko dan pencegahanya menunjukkan adanya peningkatan sebesar 15% (rerata jawaban benar pre-test 6,03 vs. post-test 7,5). Kegiatan PPM ini efektif meningkatkan pengetahuan dan kapasitas kader kesehatan di Wilayah Banjaran dalam pengenalan dan skrining tingkat risiko penyakit kronik. Selain itu, penting bagi kader menerapkan program skrining di Posbindu sebagai upaya pengenalan dan monitoring faktor risiko penyakit kronik baik yang ada pada dirinya, peserta Posbindu, maupun masyarakat luas. Kata Kunci: Penyakit Kronik, Kader, Posbindu, Skrining, Upgrading  ABSTRACT Chronic disease is a serious global health problem, including in Indonesia. Prevention efforts by optimizing the role of Posbindu cadres for screening and early detection are important strategies in preventing chronic diseases. However, at the practical level, the role of health cadres is more management oriented and does not include prevention programs. This community service program aimed to improve health cadres’ capacity for screening and early detection of chronic diseases in programs the community. It was conducted in Banjaran Village, Banjaran Sub-District, Bandung regency. Apart from participating in Posbindu activities, the team also conducted upgrading program covering health education on chronic disease, its’ prevention and the role of cadres. Knowledge of cadres was checked using pre and post-test questionnaires. A total of 88 health cadres in the area were involved in an upgrading activity. The knowledge of cadres regarding chronic diseases, risk factors and their prevention showed an increase of 15% (mean pre-test correct answers 6, 03 vs. post-test 7.5). This program effectively improves the health cadres’ knowledge and capacity in recognizing and detecting the risk level of chronic disease, particularly DMT2. Additionally, it is important for the cadres to implement screening and early detection programs at Posbindu as an effort to identify and monitor risk factors for chronic disease both in themselves, Posbindu participants, and the wider community. Keywords: Chronic Disease, Cadres, Posbindu, Screening, Upgradin
Perilaku Self-Management Pasien Diabetes Melitus (DM) Dwi Siwi Handayani; Kurniawan Yudianto; Titis Kurniawan
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 1 No. 1 (2013): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkp.v1i1.49

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronik, oleh karena itu peran self-managementsangat penting dalam perawatan maupun pencegahan komplikasi akibat DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku self- management.pasien DM dari aspek diet, medikasi, olahraga, pemantauan kadar gula darah dan perawatan kaki. Sebanyak 94 responsden diambil secara acak. Perilaku self-managementdiukur menggunakan kuesioner yang dikembangkan oleh penulis, dengan skor Alpha Chronbach 0,930 dan korelasi inter-item 0,385-0,797 dimana nilai tersebut valid dan reliabel untuk uji instrumen. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengah responsden (64,9%) melakukan lima aspek self-managementdengan baik. Hampir semua responsden (94,7%) melakukan medikasi dengan baik, lebih dari setengah responsden melakukan diet (69,1%), olahraga (61,7%) dan perawatan kaki (77,7%) dengan baik. Namun hanya 25,5% responsden yang melakukan pemantauan gula darah dengan baik. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi perawat untuk memberikan penyuluhan mengenai pentingnya pemantauan pada gula darah.Kata kunci: Diabetes Melitus, perilaku, self-management AbstractDiabetes Mellitus (DM) is one of the serious health problems in Indonesia. Since DM is a chronic disease, patients’ role (self-management) is very important either for treatment or DM-related complications prevention. This study was purposed to determine the level of patients’ diabetes self-management behavior, including diet, medication, exercise, blood glucose monitoring and foot care. Ninety-four responsdents were recruited randomly by gave the informed consent to diabetes patients. The questionnaire was developed by the researcher, with Chronbach Alpha 0,930 and inter-item correlation 0,385 to 0,797, which mean the instrument was valid and reliable. The results showed that in five aspects, more than half of responsdents (64,9%) reported that they performed good self-management. Almost all responsdents (94,7%) reported good medication, more than half of responsdents did well in diet, exercise (61.7%) and foot care (77.7%). However, only 25.5% responsdents who performed monitoring blood glucose levels properly. It called be good level when it fill the score criteria of the answer.Therefore, it was recommended for nurses and the hospital to develop any program to improve patients’ diabetes self-management behaviors, especially in the monitoring blood glucose.Key words: Behavior, diabetes mellitus, self-management
LITERASI KESEHATAN PASIEN HEMODIALISIS DI RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG Sri Hartati Pratiwi; Eka Afrima Sari; Titis Kurniawan
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 16, No 2 (2020): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v16i2.364

Abstract

Pasien hemodialisis harus menjalankan berbagai pengobatan untuk mengurangi gejala yang dirasakannya. Dalam menjalankan pengobatan tersebut, pasien hemodialisis perlu menjalankan self-management. Berbagai penelitian menunjukan bahwa banyak pasien hemodialisis yang tidak patuh dalam menjalankan self-management. Literasi kesehatan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kepatuhan pasien dalam pengobatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk mengidentifikasi literasi kesehatan pasien hemodialisis. Tekhnik sampel yang digunakan adalah Concecutive sampling dengan jumlah 129 orang. Kriteria inklusi Pasien hemodialisis yang memiliki kesadaran penuh disertai tanda-tanda vital stabil. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini dikembangkan dari HLS-EU-Q47 pada pasien dialisis yang dikembangkan oleh Martin et.al. (2012). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar sebagian besar responden memiliki literasi kesehatan yang cukup yaitu 96 orang (74,4%) dan 33 orang memiliki literasi yang baik (25,6%).  Item yang dirasakan cukup mudah oleh responden adalah mencari informasi kesehatan di semua ruang lingkup, memahami informasi dalam pencegahan penyakit, menilai informasi kesehatan di semua lingkup, serta menggunakan informasi dalam promosi kesehatan. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah sebagian besar pasien hemdoialisis memiliki literasi kesehatan yang cukup, tetapi masih ada beberapa item yang dirasakan masih sulit untuk dilakukan pasien. Perawat diharapkan dapat membantu untuk meningkatkan literasi pasien dengan memberikan edukasi, motivasi dan evaluasi secara menyeluruh dan berkesinambungan.
Kombinasi Sinar Inframerah, Cadexomer Iodine Powder, dan Zinc Cream Pada Diabetic Foot Ulcer (DFU): Sebuah Case Report Rustianti; Nursiswati, Nursiswati; Kurniawan, Titis; Setiawan, Cencen Hendra
Lentera : Jurnal Ilmiah Kesehatan dan Keperawatan Vol. 7 No. 1 (2024): LENTERA: Jurnal Ilmiah Kesehatan dan Keperawatan
Publisher : Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sukabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37150/jl.v7i1.2776

Abstract

The management of Diabetic Foot Ulcer (DFU) infections has undergone many developments. Some of therapies used, namely infrared, cadexomer iodine, and zinc cream as single therapies that have been proven effective. However, the combinations of these therapy is not yet known whether it’s more effective or not than single or double therapy. It’s important to know the outcome of combination of these therapys on the wound healing process. This case report was applied to DM Type 2 patient with DFU score 47 from Bates-Jansen Wound Assessment Tool (BJWAT) and hyperglycemic condition (355 mg/dL). Wound treatment was carried out using the TIME Concept and applying 3M principles which were repeated in 4 home visits for 11 days. The result showed wound improvement as indicated by decrease in BJWAT score from 47 to 38. The improvement in this case was supported by the strength of each therapy which is combined in the wound healing process compared to single or double therapy. The client's wound care has the potential to address bacterial colonization and prevent biofilm formation, maintain wound moisture, and autolysis of necrotic tissue in a faster time. However, there are several complicating factors of client’s wound healing process, namely hyperglycemia, non-adherence of insulin injection, infection, hypertension, and hyperurisemia. The combination of these three therapies was shown to wound healing in terms of wound depth, type and amount of necrotic tissue, peripheral edema, granulation, and epithelialization and accelerate wound repair compared to single or double combinations.
Persepsi Terhadap Penyakit pada Pasien Hemodialisis di Bandung Hartati Pratiwi, Sri; Afrima Sari, Eka; Kurniawan, Titis
Sehat MasadaJurnal Vol 14 No 2 (2020): Sehat Masada Journal
Publisher : stikes dharma husada bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v14i2.136

Abstract

Gagal ginjal terminal yang dialami pasien hemodialisis dapat menimbulkan berbagai perubahan dalam kehidupannya. Persepsi yang positif terhadap penyakit dapat membantu pasien hemodialisis dalam menerima keadaannya dan meningkatkan motivasi untuk menjalankan berbagai tindakan pengobatan. Apabila pasien hemodialisis memiliki persepsi yang negatif terhadap penyakit, maka akan cenderung mudah mengalami berbagai masalah psikologis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi terhadap penyakit pada pasien hemodialisis di Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan kepada pasien hemodialisis di salah satu Rumah Sakit di Bandung. Teknik sample yang digunakan adalah consecutive sampling sebanyak 126 orang. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis dan memiliki tanda-tanda vital yang stabil. Instrumen yang digunakan untuk mengukur persepsi terhadap penyakit adalah kuesioner persepsi penyakit singkat (Brief-IPQ) yang dikembangkan oleh Broadbant, et.al. tahun 2005, dan sudah dilakukan back translate ke dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien hemodialisis memiliki persepsi terhadap penyakit yang negatif (50,4%). Sebagian besar pasien merasakan berbagai dampak penyakit terhadap kehidupannya dan mengalami perubahan secara emosional semenjak mengalami gagal ginjal terminal. Persepsi terhadap penyakit yang negatif pada pasien hemodialisis dapat mempengaruhi kualitas hidup, angka kesakitan dan capaian pengobatan yang dijalaninya. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan keluarga dan sosial. Petugas kesehatan khususnya perawat diharapkan dapat memberikan edukasi dan konseling pada pasien hemodialisis untuk meningkatkan persepsi pasien terhadap penyakit.
Program Edukasi Kesehatan Berbasis Keluarga pada Self-Management Pasien Hipertensi Zahirah, Esa; Pahria, Tuti; Kurniawan, Titis
Journal of Telenursing (JOTING) Vol 5 No 2 (2023): Journal of Telenursing (JOTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/joting.v5i2.6098

Abstract

This research aims to examine further how families are involved in family-based self-management education for hypertension sufferers. The method used is a scoping review with PCC (Population, Context & Concept) components. Population is "hypertension", Context is "self-management" Concept is "family-based oriented". This scoping review is aimed at answering the question "what and what forms of family-based self-management education for hypertension sufferers, compliance with treatment plans and providing care support for patients." The results of this research obtained 369 articles through searches using several databases consisting of PubMed, Science Direct and CINAHL, resulting in 5 articles analyzed in the research. The conclusion of this research is that mapping self-management interventions for hypertensive patients involving families plays an important role in improving self-management in hypertensive sufferers. Keywords: Family, Hypertension, Self-Management Behavior
Efektifitas Mobile Applications terhadap Self-Management pada Pasien dengan Kaki Diabetik Ikawati, Dewi; Pahria, Tuti; Kurniawan, Titis
Journal of Telenursing (JOTING) Vol 6 No 1 (2024): Journal of Telenursing (JOTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/joting.v6i1.8468

Abstract

This study aims to map the influence of mobile applications as self-management support in management of diabetic feet. This research uses a scoping review method by entering keywords into the CINAHL, Pubmed, and Scopus databases. The research results show that mobile applications are effectived in increasing knowledge, self-care behavior, self-efficacy, compliance with self-care foot care, eating behavior, reducing wound/ulcer recurrence rates, and cost-effectiveness. The effectiveness of mobile applications can be used as a strategy in providing interventions to support self-management in the management of diabetic feet. The use of mobile applications has an impact on improving independent foot care management as well as increasing knowledge of diabetic foot care so that it has benefits in controlling glycemia, increasing adherence to diet, and increasing physical exercise. In conclusion, Mobile application-based based programs had the potential to improve self-management in diabetic foot patients. Keywords: Diabetic Foot, Mobile Applications, Self-Management
Pengaruh Pelatihan Terhadap Pengambilan Keputusan Skrining Kanker Serviks Berdasarkan The Precaution Adoption Process Model Vitniawati, Vina; Hermayanti, Yanti; Kurniawan, Titis
Jurnal Ilmiah Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya Vol 15 No 2 (2020): October Edition
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30643/jiksht.v15i2.103

Abstract

Decision making for taking screening is an important component in preventing cervical cancer, but still many women who have not yet done it due to a lack of knowledge and decision-making ability.  Development of intervention tailored to the stages of decision-making based on the Precaution  Adoption  Process  Model,  such as training,  is able to improve decision-making ability to do the screening. This study aimed to determine the differences in the effect of training on decision-making for cervical cancer screening based on PAPM in the UPT Griya Antapani Health Center Bandung. This quasi-experimental study with two group pre-test post-test design involved  84  women aged  30-49  years who were chosen by purposive and proportional cluster sampling from two villages divided into  42  respondents each. Group  A received training with PowerPoint media,  leaflets,  videos, and WhatsApp while group  B received training with PowerPoint media, leaflets, and videos. The data of decision-making was collected using the  Precaution Adoption Process Model checklist:  before,  after training, and  15  days after training then analyzed using  Friedman test and  Mann  Whitney test.  The results showed that there were differences in decision-making in each group before and after training with p <0.001 but Mann Whitney test showed that there was no difference in decision-making between groups after training (p = 1,000 and p = 0.316). This depicted that any method and media can be used to change decision-making. Providing training and counseling is needed according to the stages of decision-making taking into account the factors that influence it.  Keywords: Cervical Cancer, Decision-making, Screening, the Precaution Adoption Process Model
OPTIMALISASI KADER KESEHATAN DALAM PENCEGAHAN DIABETES DI WILAYAH KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT Kurniawan, Titis; Nursiswati, Nursiswati; Harun, Hasniatisari; Hernawaty, Taty
DHARMAKARYA: Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat Vol 13, No 2 (2024): Juni : 2024
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v13i2.49826

Abstract

Diabetes mellitus merupakan masalah kesehatan serius, tidak dapat diobati, banyak menimbulkan komplikasi, dan memiliki banyak faktor penyebab. Karenanya, pencegahan merupakan strategi terbaik untuk mengatasi permasalahan terkait diabetes. Kader kesehatan merupakan garda terdepan dalam upaya pencegahan penyakit diabetes. Sayangnya kebanyakan kader belum cakap dalam mengenali faktor risiko maupun mengidentifikasi tingkat risiko diabetes. Sehingga upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan kader dalam kedua hal tersebut menjadi sangat penting. Kegiatan pengabdian ini ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader kesehatan dalam mengenali dan mengidentifikasi tingkat risiko diabetes. Untuk itu, kami mengadakan pendidikan dan pelatihan kader kesehatan terkait diabetes, faktor risiko dan upaya pencegahannya, serta simulasi skrining tingkat risiko diabetes menggunakan FINDRISC diabetes assessment tool. Tim juga melakukan mediasi baik dengan pihak Puskesmas maupun kleurahan di wilayah setempat. Kegiatan dijalankan di salah satu keluraran di Wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat dengan melibatkan 88 kader kesehatan. Kader berpartisipasi aktif selama kegiatan, mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman, dan berdiskusi terkait materi yang disampaikan. Berdasarkan hasil evaluasi, ditemukan adanya peningkatan skor pengetahuan sebesar 15% setelah pemberian materi (75% vs. 60%). Dari simulasi skrining tingkat risiko diabetes, peserta menyatakan bahwa pengisian formulir tidak terlalu sulit kecuali pada bagian pengisian indeks masa tubuh. Dari simulasi ini ditemukan juga bahwa setengah (50,72%) kader mengalami peningkatan risiko (peluang terkena diabetes sebesar 4%). Kegiatan pengabdian ini efektif meningkatkan pemahaman dan kemampuan kader dalam mengenal dan menilai tingkat risiko diabetes. Kegiatan serupa perlu secara berkala dijalankan untuk upgrading maupun tindak lanjut temuan terkait tingkat risiko diabetes pada kader.
Co-Authors Aisyah, Iis Alviani, Eka Turjanah Andini, Nathania Putri Arseda, Astuti Aushaf, Inka Fadilla Nur Azzahra, Syafa Bambang Aditya Nugraha Chandra Isabella Hostanida Purba Citra Windani Mambang Sari Dian Adiningsih Diva Jogina Dwi Siwi Handayani Edi Mustamsir Eka Afrima Sari Eka Afrimasari Elsa Pudji Setiawati ENDAH NESTITI URIP RAHAYU Epi Rohaeti Ernawati Ernawati Fa'izah, Bella Nadia Fadilah, Tria Nurhayyu Fadillah, Jasmine Fasya Fauzia, Salwa Ghaida Firdaus, Rose Maryana Harun, Hasniatisari Harun, Hasniatisari Helwiyah Ropi Hesti Platini Iis Nurhayati Ikawati, Dewi Karina, Grashiva Putri Kristian Labertus Kurniawan Yudianto Kusman Ibrahim Lestari, Ranti Asri Lumbantobing, Valentina Malfa Laila Pratidina Mediawati, Ati Surya Mira Trisyani Musyaffa, Najwa Aufa Muta'aliyah, Hikmah Mutiarasani, Anjani Nentika, Rindayu Bidara Caela Nugraha Firdaus Nurfuadah, Irfani Nurrofiqoh, Malihatunnisa Nursiswati Nurwijayanti Olivia, Claudia Pebriana, Tika Rifa Luthfiyah Pratiwi, Atlastieka Puspaningrum, Sepdian Putri, Nova Belinda Putri, Silvi Riana Rahma Dewi Rahmawati, Dedah Rahmawati, Syifa Eka Rasyiddin, Gyan Reyza, Muhammad Fakhrul Risman Ariana Robiul Fitri Masithoh Rustianti Salwa, Tetalia Sandra Pebrianti Santoso, Nilam Cahya Ressawati Sari, Citra Windani Mambang Sari, Eka Afirma Sari, Nur Puspita Setiani, Haniifah Silmi, Reina Zahira Sisca Damayanti siti romadoni Siti Rosita Siti Ulfah Rifa’atul Fitri Sri Hartati Sri Hartati Pratiwi Sri Suparti Sundari, Nissa Fauziyah Susilaningsih, Fransisca Sri Taty Hernawaty Titiek Suwarti Tsauroh, Salsabila Fiqrotu Tuti Pahria Virssyani, Khansa Auliya Vitniawati, Vina Wati, Irma Widaningsih, Ida Wijayanti, Niken Ayu Wiwi Mardiah Wongchan Petpichetchian Yanti Hermayanti Yeni Yulianti Yudiana, Zahra Haurannisa Yutantri, Savitri Kartika Zahirah, Esa