Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Strategi Pembelajaran Budaya dan Sistem Kepercayaan Masyarakat Bugis, Dari Mitos Ke Logos, Dan Fungsional (suatu Tinjauan Filsafat Budaya C.A. van Peursen) Sunarni Yassa; Muhammad Hasby; Edi Wahyono
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 7 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v7i2.1818

Abstract

Perkembangan budaya dan kepercayaan masyarakat Bugis, tidak terlepas dari peran dan fungsi mitologi, meskipun mitos tidak memberikan bahan informasi kepada manusia bahwa kekuatan-kekuatan ajaib itu seperti apa bentuknya, tetapi minimal dapat membantu manusia agar mampu menghayati daya-daya itu sebagai kekuatan yang mempengaruhi dan menguasai alam kehidupan. Menurut C. A. van Peursen strategi dalam memahami perkembangan budaya terbagi dalam tiga tahap, yakni; tahap mitis, tahap ontologis, dan tahap fungsional. Pada masyarakat Bugis dalam tahap mitis telah nampak di periode Galigo yang menggambarkan gejala-gejala metafisik tentang awal-mula terciptanya dunia, dan bagaimana Dewa di langit menempatkan penguasa di muka bumi. La Toge’ Langi’ (Batara Guru) yang diturunkan di Ware’ Luwu dan mempunyai kekuasaan mutlak. Masyarakat Bugis pada tahap ontologis, telah terdapat konsep-konsep Dewa tertinggi yang disebut To-Palanroe, hal ini terdapat pada kaum To-Lotang di Sidrap. Kemudian kepercayaan seperti itu juga terdapat di Kajang yang disebut kepercayaan Patuntung yang dipimpin oleh seorang pemimpin kepercayaan yang disebut Amma-toa (ayah tertua), konsep dewa tertinggi mereka disebut Turie a’ra’na (Orang yang berkehendak). Dalam prosesi penyembahan terhadap Dewata, bissu dapat memiliki posisi di luar sistem kemasyarakatan dengan berperan sebagai pendeta, dukun, serta ahli “ritual trance” (kemasukan oleh roh), dalam bahasa Bugis disebut asoloreng, ia adalah penghubung antara umat manusia dengan dunia Dewa. Kemudian ditahap fungsional, budaya masyarakat Bugis dapat dilihat dalam hal kepemimpinannya, walaupun tidak memiliki satu pemimpin (raja) yang sama, tetapi mereka membuat persahabatan yang mereka sepakati, yang dapat mempersatukannya.
Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman melalui Teknik Scramble Berbantuan Media Wayground Siswa Kelas IV SD Made Pradwita; M Zulham; Muhammad Hasby
Jurnal Dieksis ID Vol. 6 No. 2 (2026): Juli - Desember 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/dieksis.6.2.2026.1637

Abstract

Kemampuan membaca pemahaman merupakan keterampilan dasar dalam pendidikan sekolah dasar karena kesulitan dalam memahami bacaan dapat menghambat proses belajar dan pencapaian akademik siswa pada berbagai mata pelajaran. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang tepat dan media pembelajaran interaktif untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami teks. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN 33 Kalukulajuk, Kota Palopo, melalui teknik Scramble berbantuan media Wayground. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan melibatkan seluruh siswa kelas IV yang berjumlah 22 orang sebagai subjek penelitian. Penelitian dilaksanakan di SDN 33 Kalukulajuk, Kota Palopo. Data dikumpulkan menggunakan tes membaca pemahaman dan lembar observasi. Tes digunakan untuk mengukur kemampuan membaca pemahaman siswa, sedangkan lembar observasi digunakan untuk mengamati aktivitas siswa dan pelaksanaan proses pembelajaran. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan menghitung nilai rata-rata siswa dan persentase ketuntasan belajar secara klasikal. Penelitian dinyatakan berhasil apabila sekurang-kurangnya 80% siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik Scramble berbantuan media Wayground efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan secara bertahap dari kategori rendah pada tahap awal menjadi kategori sangat baik pada Siklus II. Ketuntasan belajar secara klasikal juga meningkat dari 27% pada tahap awal menjadi 100% pada Siklus II, sehingga melampaui kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, teknik Scramble berbantuan media Wayground efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa sekolah dasar dan dapat menjadi salah satu alternatif strategi pembelajaran dalam pembelajaran membaca pemahaman di kelas.
Pelatihan Bahasa Inggris Dengan Tema Fun English Day Melalui Whisper Games Iin Dwi Aristy Putri; Juwita Crestiani; Muhammad Hasby; Ardhy Supraba
Abdimas Langkanae Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v5i1.379

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah untuk menciptakan suasana yang menyenangkan (fun) pada pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah, meningkatkan perbendaharaan kata siswa melalui aktivitas yang menyenangkan sehingga meningkatkan kemampuan berbicara (speaking skills) dan kemampuan mendengar (listening skill). Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan selama 1 (satu) bulan yang terbagi dalam beberapa tahap yaitu: (1) tahap perencanaan, (2) tahap pelaksanaan dan (3) tahap evaluasi. Pada tahap perencanaan telah ditetapkan hal-hal antara lain: tempat/lokasi kegiatan yang dipilih yaitu SMAN 3 Luwu Utara. Jenis kegiatan berupa pelatihan dan pembinaan melalui ceramah, praktek, games, tanya jawab, diskusi dan latihan. Tahap pelaksanaan berupa pelatihan berbicara bahasa Inggris yaitu dengan mengucapkan sebuah kalimat bahasa Inggris. Setelah itu, selesai melakukan pelatihan, maka tahap akhir yang dilakukan adalah pemberian games dengan cara menebak kalimat melalui whispered games. Berdasarkan pengamatan secara langsung dan dengan mewawancarai siswanya, kegiatan ini memberikan kesan positif bagi seluruh siswa. Seluruh siswa merasa sangat senang dan antusias. Ini terlihat dari sikap mereka yang nampak mulai dari awal hingga akhir kegiatan. Hal ini terbukti dengan aktifnya mereka dalam menyimak penjelasan materi serta kegiatan dan melakukan tanya jawab. Terlebih pada saat pelaksanaan wishper games, siswa-siswa sangat tertib dan mengikuti semua instruksi tim dosen. Hasil akhirnya adalah, mereka dapat mengetahui kesalahan mereka dan memiliki sikap positif dalam mempelajari bahasa Inggris. Kegiatan ini juga sangat bermanfaat bagi siswa karena dapat membantu siswa meningkatkan pengetahuan dan kemampuan siswa dalam bahasa Inggris sekaligus semakin menambah pengalaman dan siswa memiliki kesiapan mental dalam menghadapi pendidikan ke perguruan tinggi dan juga di dunia kerja.
Pelatihan Pembuatan Perangkap Serangga Untuk Mengendalikan Hama Pada Pertanaman Rahmawasiah Rahmawasiah; Andi Safitri Sacita; I Nyoman Arnama; Ahmad Syukur Daming; Muhammad Hasby; Nuur Insan Tangkelangi; Rosmiati Rosmiati
Abdimas Langkanae Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v5i1.380

Abstract

Kegiatan pengabdian pelatihan pembuatan perangkap serangga untuk mengendalikan hama pada pertanaman bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada siswa tentang jenis perangkap, manfaat dan cara pembuatan perangkap yang dapat digunakan untuk mengendalikan serangga hama pada pertanaman. Melalui program ini siswa diharapkan dapat mengetahui dan membuat perangkap untuk mengendalikan hama pada tanaman baik dalam skala tanaman pekarangan ataupun perkebunan. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan kegiatan penyuluhan berupa pemberian materi tentang hama pada tanaman. Kemudian dilakukan kegiatan pelatihan membuat beberapa perangkap berupa yellow trap, pitfall dan perangkap lalat buah. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan melihat kemampuan siswa membuat dan menggunakan perangkap hama untuk pengendalian pada tanaman. Hal ini merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang pengendalian hama yang ramah lingkungan sehingga untuk mengurangi penggunaan bahan kimia dalam dmenunjang pertanian yang berkelanjutan.