Claim Missing Document
Check
Articles

Gambaran Stres Kerja, Depresi, dan Kecemasan pada Perawat RS XYZ Tahun 2025 Dedi Gunawan; Eka Cempaka Putri; Fierdania Yusvita; Izzatu Millah; Erna Veronika
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v5i1.8086

Abstract

Stres kerja, depresi, dan kecemasan merupakan masalah kesehatan mental yang berpotensi dialami perawat akibat tuntutan pekerjaan, tanggung jawab profesional, dan tekanan lingkungan kerja rumah sakit. Kondisi ini dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis serta kualitas pelayanan keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran stres kerja, depresi, dan kecemasan pada perawat di RS XYZ Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 85 perawat yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat stres kerja, depresi, dan kecemasan dengan kategori normal, ringan, sedang, parah, dan sangat parah. Data dianalisis secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat berada pada kategori normal untuk stres kerja (77,6%), depresi (77,6%), dan kecemasan (78,8%). Meskipun demikian, masih terdapat perawat yang mengalami stres kerja, depresi, dan kecemasan pada tingkat ringan hingga parah dalam proporsi yang lebih kecil. Kesimpulan yang didapatkan adalah kondisi kesehatan mental perawat di RS XYZ Tahun 2025 berada pada kategori normal, namun tetap ditemukan gejala pada sebagian responden sehingga diperlukan upaya pemantauan dan dukungan psikologis secara berkelanjutan.
Penerapan Teknologi Tepat Guna Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) Erna Veronika; Veza Azteri; Widia Sari
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i1.23978

Abstract

ABSTRAK Permasalahan mengenai sampah merupakan masalah dan tantangan yang terjadi secara global demikian juga di Indonesia terutama di daerah perkotaan. Setiap tahunnya jumlah penduduk akan bertambah sehingga volume sampah yang dihasilkan otomatis akan terus meningkat sedangkan jumlah lahan dan daya tampung sampah di TPA semakin terbatas. Perlu dilakukan pengelolaan sampah untuk mengurangi jumlah sampah yang akan dibuang ke TPA salah satunya dengan melakukan pengelolaan 3R (Reduce, Reuse dan Recycle). Tujuan pelaksanaan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan ibu serta keterampilan ibu terkait pengelolaan sampah dengan 3R. Tahapan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan adalah pemberian sosialisasi kepada kader, peningkatan keterampilan dan kemampuan ibu dalam mengolah sampah rumah tangga secara mandiri dengan memberikan coaching dan pelatihan teknologi tepat guna pembuatan eco enzyme dan pembuatan sabun dari minyak jelantah, serta pembentukan TPS 3R sebagai wadah pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Sasaran kegiatan ini adalah kader dan ibu peserta Posyandu.Hasil kegiatan menunjukkan terjadinya peningkatan keterampilan dan kemampuan ibu dalam mengolah sampah menjadi eco enzyme dan sabun serta terbentuknya TPS 3R. Pemberian pelatihan memberikan keterampilan kepada masyarakat untuk dapat secara mandiri mengelola sampah rumah tangga menjadi eco enzyme dan sabun. Kata Kunci: Pengelolaan Sampah, Teknologi Tepat Guna, Eco Enzyme, Sabun, Pemberdayaan Masyarakat.  ABSTRACT Waste management constitutes a critical global challenge, including in Indonesia, particularly within urban areas. Annual population growth contributes to an increase in waste generation, while the availability and capacity of landfill sites continue to diminish. Consequently, comprehensive waste management efforts are required to reduce the volume of waste transported to landfills, one of which is through the implementation of the 3R principles (Reduce, Reuse, and Recycle). This community service program aimed to enhance mothers’ knowledge and skills regarding waste management based on the 3R approach. The program activities included delivering educational sessions to community health volunteers, improving participants’ competencies in independently managing household waste through coaching and training on appropriate technologies for producing eco-enzyme and soap from used cooking oil, and establishing a 3R Waste Processing Facility (TPS 3R) as a community-based waste management initiative. The participants of this program were community health volunteers and mothers attending the Posyandu. The implementation of the program demonstrated improvements in participants’ skills and abilities to process household waste into eco-enzyme and soap, as well as the successful establishment of a Waste Processing Facility (TPS 3R) The training provided effectively equipped the community with the necessary skills to independently convert household waste into eco enzyme and soap, thereby supporting sustainable waste management practices.Keywords: Waste Management, Appropriate Technology, Eco Enzyme, Soap, Community Empowerment.
Peer Mentoring Berbasis Komunitas: Inovasi Edukatif Non-Digital untuk Mengurangi Screen Time pada Anak Usia Prasekolah Widia Sari; Erna Veronika; Abdurrasyid Abdurrasyid; Budi Mulyana; Rian Adi Pamungkas
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i1.24031

Abstract

ABSTRAK Durasi screen time yang berlebihan pada anak usia prasekolah menjadi permasalahan yang sering ditemukan di wilayah perkotaan. Di RW 001 RT 02 Kelurahan Kramat, Jakarta Pusat menunjukkan bahwa 75% anak usia 3-6 tahun memiliki durasi screentime lebih dari 1 jam/24 jam. Kondisi tersebut berpotensi menghambat perkembangan kognitif, sosial-emosional, dan perilaku anak, terutama ketika aktivitas non-digital tidak tersedia secara memadai di lingkungan rumah maupun komunitas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menurunkan druasi screen time anak prasekolah melalui penyediaan aktivitas edukatif non-digital berbasis komunitas dengan memberdayakan remaja masjid sebagai peer mentor. Program dilaksanakan melalui lima tahapan: (1) koordinasi dan sosialisasi, (2) pelatihan peer mentor remaja, (3) pengembangan media edukatif non-digital, (4) pelaksanaan sesi bermain edukatif, (5) monitoring serta evaluasi. Sebanyak 12 remaja mengikuti pelatihan dan menghasilkan tiga jenis media edukatif non-digital (busy book, sensory play, dan story telling cards). Sebanyak 12 remaja masjid dilatih menjadi peer mentor kegiatan serta tiga sesi bermain melibatkan 8 anak usia prasekolah yang mengikuti 3 sesi kegiatan bermain, dimana 30% diantaranya mengalami penurunan screen time menjadi kurang dari 2 jam per hari. Kegiatan juga meningkatkan keterampilan remaja dalam pendampingan anak, memperkuat aktivitas bermain non-digital, dan menghasilkan forum remaja sebagai wadah keberlanjutan program. Model peer mentoring berbasis komunitas terbukti efektif dan inovatif dalam memfasilitasi aktivitas edukatif non-digital serta menurunkan durasi screen time anak usia prasekolah. Kata Kunci: Peer Mentoring, Screen Time, Anak Prasekolah, Edukasi Non-Digital.  ABSTRACT Excessive screen time among preschool children is a common problem in urban areas. In RW 001 RT 02, Kramat Subdistrict, Central Jakarta, 75% of children aged 3-6 years were reported to have screen time exceeding on hour per day. This condition may hinder children’s cognitive, social-emotional, and behavioral development, particularly when adequate non-digital activities are not available at home or within the community. This community service program aimed to reduce screen time among preschool children by providing community based non-digital educational activities through the empowerment of mosque-based adolescents as peer mentors. The program was implemented through five stages: (1) coordination and socialization, (2) training of adolescent peer mentors, (3) development of non-digital educational media, (4) implementation of educational play sessions, and (5) monitoring and evaluation. A total of 12 adolescents participated in the training and developed three types of non-digital educational media, including busy books, sensory play materials, and storytelling cards. Twelve mosque-based adolescents were trained as peer mentors, and three educational play sessions involved eight preschool children. Following the intervention, 30% of the participating children experienced a reduction in screen time to less than two hours per day. The program also enhanced adolescents skills in child facilitation, strengthened non-digital play activities, and established a youth forum to support program sustainability. The community-based peer mentoring model represents an effective and innovative approach to facilitating non-digital educational activities and reducing screen time among preschool children. Keywords: Peer Mentoring, Screen Time, Preschool Children, Non-Digital Education.
Upaya Meningkatkan Pengetahuan Ibu dalam Pemberian Makanan Pendamping Asi (MPASI) di Desa Rabutdaiyo Tahun 2021 Namira Wadjir Sangadji; Erna Veronika
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 13 No 4 (2021): JIKM Vol. 13, Edisi 4, November 2021
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v13i4.254

Abstract

Abstrak Latar belakang: Pemberian MPASI yang benar dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak, akan tetapi masih banyak orang tua yang belum memahami praktek pemberian MPASI yang benar. Hasil observasi menunjukan sebagian besar orang tua di Desa Rabutdaiyo belum mengetahui kapan waktu yang ideal untuk memberikan MPASI. Hampir sebagian besar orang tua di Desa Rabutdaiyo memberikan MPASI sebelum 6 bulan, bahkan ada yang kurang dari 3 bulan. Berdasarkan fakta di atas maka peneliti tertarik untuk memberikan penyuluhan sebagai upaya meningkatkan pemahaman ibu dalam pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Metode: Eksperimen semu (quasi experiment) berdasarkan rancangan one group pre-posttest design digunakan dalam studi ini. Penelitian ini dilakukan secara langsung melalui intervensi penyuluhan tentang MPASI. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari pengetahuan ibu tentang MPASI, usia ibu, pendidikan ibu, paritas dan status pemberian MPASI. Besar sampel dalam studi ini menggunakan total sampling 20 ibu yang memiliki baduta Hasil: Analisis t-test menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara skor pengetahuan tentang MPASI sebelum dan sesudah intervensi Kesimpulan: Kegiatan penyuluhan tentang MPASI di Desa Rabutdaiyo terbukti secara statistik dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang MPASI. Kata kunci: Penyuluhan MPASI, tumbuh kembang, pengetahuan ibu Abstract Background: Giving the correct complimentary food to children can help them grow and develop more quickly, but many parents are unaware of this practice. According to the findings, the majority of parents in Rabutdaiyo Village do not know when it is appropriate to administer MPASI. The majority of parents in Rabutdaiyo Village provided supplemental feeding prior to the age of six months, and some even before the age of three months. The researchers are interested in undertaking counseling to boost mothers' knowledge of complementary feeding (MPASI). based on the findings above Methods: A quasi-experiment with a one-group pre-posttest design was employed as the research approach. This research was conducted directly through counseling intervention about MPASI. Mother's awareness of complementary meals, mother's age, mother's education, parity, and status of complementary feeding were the variables in this study. A total of 20 mothers with children under the age of two were included in this study's sample size. Result: There was a significant difference in complementary food knowledge scores before and after the intervention, according to the t-test analysis. Conclusion: Counseling activities on MPASI in Rabutdaiyo Village were statistically proven to increase mothers' knowledge about MPASI. Key Words: MPASI counseling , growth and development, mother's knowledge
Memahami Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tingkat Vaksinasi Covid-19: Menggali Peranan Determinan Sosial di Ternate Namira Wadjir Sangadji; Fajaria Nurcandra; Annisa Ika Putri; Erna Veronika
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 16 No 1 (2024): JIKM Vol. 16, Edisi 1, Februari 2024
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v16i1.551

Abstract

Latar Belakang: Survei penerimaan vaksin COVID-19 di Indonesia belum menyebutkan secara spesifik prevalensinya di Maluku Utara, khususnya di Kota Ternate. Salah satu media lokal menulis bahwa pejabat daerah dan petugas kesehatan masih ragu dengan keamanan vaksin tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan sosial yang berhubungan dengan penerimaan vaksin COVID-19 pada masyarakat Kota Ternate pada tahun 2021Metode: Penelitian Cross-sectional dilakukan di Kota Ternate pada bulan April sampai Mei 2021 dengan jumlah sampel sebanyak 178 orang yang dipilih menggunakan multistage cluster sampling. Sampelnya adalah warga yang tinggal di Kota Ternate dan berusia lebih dari 18 tahun, sedangkan kriteria eksklusi adalah menolak peserta wawancara langsung. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner semi-terstruktur untuk mengumpulkan data demografi, pengetahuan, dan penerimaan vaksin. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik untuk menilai faktor yang paling berpengaruh terhadap penerimaan vaksin.Hasil: Lebih dari separuh responden menolak vaksin COVID-19 (59,40%), dengan alasan paling umum adalah tidak yakin akan efektivitasnya (42,60%) dan tidak yakin akan keamanannya (36,60%). Status perkawinan (PR=0,23; 95% CI 0,08-0,62), pendapatan (PR=4,45; 95% CI 1,86-10,58), riwayat infeksi COVID-19 (PR=0,20; 95% CI 0,08-0,45), dan pengetahuan (PR=8,97; 95% CI 3,77-21,27) berpengaruh terhadap penerimaan vaksin COVID-19 dengan p<0,05.Kesimpulan: Status perkawinan, pendapatan, riwayat terinfeksi COVID-19, dan pengetahuan ditemukan sebagai faktor yang berhubungan dengan penerimaan vaksin COVID-19. Disarankan adanya pendekatan untuk mengatasi penolakan vaksinasi, seperti memperkuat media layanan kesehatan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan dan mengkampanyekan vaksin COVID-19 melalui media sosial, serta tatap muka.Kata Kunci: COVID-19, Determinan sosial, Penerimaan vaksin Background: The survey of COVID-19 vaccine acceptance in Indonesia has not specifically stated the prevalence in North Maluku, especially in Ternate City. One local media wrote that regional officials and health workers were still unsure of the vaccine's safety. This study aimed to determine related determinant factors of COVID-19 vaccine acceptance among people in Ternate in 2021.Methods: A Cross-sectional study was conducted in Ternate from April to May 2021, with 178 samples selected using multistage cluster sampling. The sample were residents who lived in Ternate and were more than 18 years old, while the exclusion criteria were refused to direct interview participants. Primary data were collected using questionnaires. A semi-structured questionnaire collected demographics, knowledge, and vaccine acceptance. Data were analyzed using logistic regression to assess the most influential factors on vaccine acceptance.Result: More than half of the respondents refused the COVID-19 vaccine (59.40%), with the most common reasons being unsure of its effectiveness (42.60%) and unsure of its safety (36.60%). Marital status ((PR=0,23; 95% CI 0,08-0,62), income (PR=4.45; 95% CI 1.86-10.58), history of COVID-19 infection (PR=0.20; 95% CI 0.08-0.45), and knowledge (PR=8.97; 95% CI 3.77-21.27) affected the acceptance of COVID-19 vaccine with p<0.05.Conclusion: Marital status, income, history of being infected with COVID-19, and knowledge were found as factors related to COVID-19 vaccine acceptance. It is recommended that there be an approach to overcome vaccination refusal, such as strengthening health service media to provide the information needed and campaigning the COVID-19 vaccine through social media. as well as face-to-face.Keywords: COVID-19, Social determinant, Vaccine acceptance