Claim Missing Document
Check
Articles

PENULARAN PENYAKIT KERDIL PADA TANAMAN LADA OLEH TIGA JENIS SERANGGA VEKTOR RODIAH BALFAS; SAMSUDIN SAMSUDIN; SUKAMTO SUKAMTO; IRWAN LAKANI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n4.2007.136-141

Abstract

ABSTRAKPenyakit kerdil merupakan salah satu penyakit penting padatanaman lada (Piper nigrum L.), yang disebabkan oleh dua jenis virus,yaitu Piper Yellow Mottle Virus (PYMV) yang ditularkan oleh kutu putih(Planococcus minor dan Ferrisia virgata); dan Cucumo Mosaic Virus(CMV) yang pernah dilaporkan ditularkan oleh Aphis gossypii. Penelitiantentang penyakit ini telah dilakukan di laboratorium dan rumah kaca untukmengetahui kemampuan serangga vektor P. minor, F. virgata dan A.gossypii dalam menularkan penyakit. Serangga tersebut diberi makanselama 24 jam pada tanaman lada yang terserang penyakit kerdil,kemudian serangga dipindahkan ke bibit lada sehat selama 24 (A. gossypii)dan 48 jam (P. minor dan F. virgata). Pada setiap jenis serangga diuji 1, 3,7 dan 10 ekor per tanaman. Dengan cara yang sama dilakukan pulapengujian lanjutan penularan dengan A. gossypii (sebanyak 10 ekorserangga per tanaman) dengan menggunakan tiga sumber tanaman sakityang berbeda (tanaman sakit asal Bangka, asal Sukabumi dan Bogor).Selain itu dilakukan penularan secara mekanik dengan menggunakanketiga sumber inokulum. Tanaman yang telah diperlakukan diinkubasikandi rumah kaca. Deteksi virus dilakukan dengan ELISA denganmenggunakan antiserum dari Agdia. Hasil penelitian menunjukkan bahwaP. minor dan F. virgata dapat menularkan penyakit kerdil ke tanaman ladahingga 100%, sedangkan penularan dengan A. gossypii tidak menunjukkangejala, tetapi pada pengujian lanjutan dengan A. gossypii memperlihatkanbeberapa tanaman bergejala. Dari penelitian ini terungkap kutu putihmerupakan serangga vektor PYMV yang sangat efisien, sedangkan A.gossypii dapat berperan sebagai vektor CMV dengan kemampuanpenularan masih terbatas.Kata kunci : Piper nigrum L., penyakit kerdil, Ferrisia virgata,Planococcus minor, Aphis gossypii, CMV dan PYMV,penularanABSTRACTTransmission of stunted growth disease on black pepperby three insect vectorsStunted growth disease is one of the most important diseases onblack pepper caused by Piper Yellow Mottle Virus (PYMV) transmitted byMealybugs (Planococcus minor and Ferrisia virgata) and Cucumo MosaicVirus (CMV) transmitted by Aphis gossypii. These experiments wereconducted at laboratory and green house to examine the capability of theinsects in transmitting the disease. The insects were fed on black pepperplant for 24 hours, then transferred to healthy black pepper seedlings for24 hours (A. gossypii) and 48 hours (P. minor and F. virgata). Each plantwas treated with 1, 3, 7 and 10 insects. Other disease transmission test withA. gossypii was carried out using the similar method, but each plant wastreated with 10 insects and used three source plants (disease plant fromBangka,  Sukamulya/Sukabumi  and  Bogor).  Disease  mechanicaltransmission was also carried out to black pepper plant using the threesources of disease plant treated plants were incubated in the glass house.ELISA was used for disease confirmation with antiserum from Agdia.The results showed that high transmission rate (up to 100%) were obtainedin transmission with P. minor and F. virgata . No disease symptoms wereshown in black pepper seedlings treated with A. gossypii. In the othertransmission test, however, some plants showed symptoms. The similarsymptoms were also seen on black pepper plants which were mechanicallyinoculated. The ELISA showed that the plants were positive for CMV.These experiments suggested that P. minor and F. virgata are veryefficient vectors for PYMV, Whereas A. gossypii was confirmed as vectorof CMV of black pepper with limited ability in transmitting the disease.Key words : Black pepper, stunted growth disease, Ferrisia virgata,Planococcus minor, Aphis gossypii, CMV, PYMV,transmissio
Pengaruh Metabolit Sekunder Trichoderma spp. dan Fungisida Nabati untuk Mengendalikan Penyakit VSD pada Tanaman Kakao Rita Harni; Widi Amaria; Anis Herliyati Mahsunah; Irwan Lakani
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 6, No 3 (2019): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v6n3.2019.p109-118

Abstract

Vascular streak dieback (VSD) caused by Ceratobasidium theobromae is a major disease in cacao which results in yield losses up to 45%. Controlling VSD using secondary metabolites and botanical fungicide is expected to reduce disease attacks because secondary metabolites contain antibiotics, enzymes, and toxins that can control the disease and botanical fungicide that are antifungal. The research aimed to determine the effect of Trichoderma spp. secondary metabolites and botanical fungicide to control VSD in cacao. The research was conducted in the Integrated Laboratory, IIBCRI, Sukabumi, Biotechnology Laboratory, BPPT, Serpong and farmer gardens in Rahmat Village, Palolo District, Sigi Regency, Central Sulawesi, from March to December 2017. The research used a randomized block design of 7 treatments with 3 replications; each replication consists of 10 plants. The treatments were: (1) Trichoderma virens LP1, (2) T. amazonicum LP3, (3) botanical fungicide, (4) T. virens LP1 + botanical fungicide, (5) T. amazonicum LP3 + botanical fungicide, (6) chemical fungicide (for comparison), (7) control (without application). Variables observed were the symptoms of the attack, severity and disease progression, and production. The results showed that Trichoderma spp. secondary metabolites suppress VSD disease severity and increase cacao production up to 33.97%–61.34%, either in a single form or in combination with botanical fungicide. T. virens LP1 secondary metabolite showed the highest suppression of VSD disease (54.18%), followed by the combination of T. virens LP1 + botanical fungicide (47.64%), better than chemical fungicide (30.89%). Thus, Trichoderma spp. secondary metabolites can be used as a VSD control technology.
Respons Ketahanan Beberapa Spesies Anggrek Terhadap Infeksi Odontoglossum Ringspot Virus Irwan Lakani; Gede Suastika; Tri Asmira Damayanti; N Mattjik
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p71-77

Abstract

Odontoglossum ringspot virus (ORSV) terdeteksi secara serologi dari tanaman bergejala maupun tidak bergejala pada banyak spesies anggrek yang diambil dari beberapa lokasi pertanaman anggrek di Pulau Jawa. Odontoglossum ringspot virus dilaporkan telah ditemukan pertama kali di Pulau Jawa, Indonesia. Penelitian bertujuan menguji respons ketahanan beberapa spesies anggrek komersial terhadap ORSV. Penelitian dilakukan di Rumah Kasa dan Laboratorium Virologi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dari bulan Juni sampai November 2011. Tiga belas spesies anggrek diinokulasi secara mekanis dengan ORSV dalam percobaan di rumah kaca. Peubah pengamatan yang diamati adalah waktu inkubasi, kejadian penyakit, tipe gejala, dan titer ORSV yang dideteksi secara serologi dengan ELISA. Gejala khas infeksi ORSV muncul dengan kisaran tercepat pada  4–7 hari sampai 90 hari setelah inokulasi. Gejala pada daun bervariasi seperti lesio lokal, nekrosis, klorosis, dan bercak bercincin bergantung pada spesies anggrek dengan kejadian penyakit berkisar 40–100%. Titer ORSV berdasarkan ELISA menunjukkan nilai absorbansi antara 1,5–13 kali lebih tinggi dibandingkan tanaman kontrol sehat. Data ini menunjukkan bahwa dari 13 spesies anggrek yang diuji sebanyak 61,54% dikategorikan rentan dan 38,46% dikategorikan tahan terhadap infeksi ORSV.  Hasil penelitian ini akan digunakan sebagai informasi untuk mendapatkan tanaman anggrek rentan yang dapat ditingkatkan ketahanannya dengan perlakuan asam salisilat.
PENULARAN PENYAKIT KERDIL PADA TANAMAN LADA OLEH TIGA JENIS SERANGGA VEKTOR RODIAH BALFAS; SAMSUDIN SAMSUDIN; SUKAMTO SUKAMTO; IRWAN LAKANI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n4.2007.136-141

Abstract

ABSTRAKPenyakit kerdil merupakan salah satu penyakit penting padatanaman lada (Piper nigrum L.), yang disebabkan oleh dua jenis virus,yaitu Piper Yellow Mottle Virus (PYMV) yang ditularkan oleh kutu putih(Planococcus minor dan Ferrisia virgata); dan Cucumo Mosaic Virus(CMV) yang pernah dilaporkan ditularkan oleh Aphis gossypii. Penelitiantentang penyakit ini telah dilakukan di laboratorium dan rumah kaca untukmengetahui kemampuan serangga vektor P. minor, F. virgata dan A.gossypii dalam menularkan penyakit. Serangga tersebut diberi makanselama 24 jam pada tanaman lada yang terserang penyakit kerdil,kemudian serangga dipindahkan ke bibit lada sehat selama 24 (A. gossypii)dan 48 jam (P. minor dan F. virgata). Pada setiap jenis serangga diuji 1, 3,7 dan 10 ekor per tanaman. Dengan cara yang sama dilakukan pulapengujian lanjutan penularan dengan A. gossypii (sebanyak 10 ekorserangga per tanaman) dengan menggunakan tiga sumber tanaman sakityang berbeda (tanaman sakit asal Bangka, asal Sukabumi dan Bogor).Selain itu dilakukan penularan secara mekanik dengan menggunakanketiga sumber inokulum. Tanaman yang telah diperlakukan diinkubasikandi rumah kaca. Deteksi virus dilakukan dengan ELISA denganmenggunakan antiserum dari Agdia. Hasil penelitian menunjukkan bahwaP. minor dan F. virgata dapat menularkan penyakit kerdil ke tanaman ladahingga 100%, sedangkan penularan dengan A. gossypii tidak menunjukkangejala, tetapi pada pengujian lanjutan dengan A. gossypii memperlihatkanbeberapa tanaman bergejala. Dari penelitian ini terungkap kutu putihmerupakan serangga vektor PYMV yang sangat efisien, sedangkan A.gossypii dapat berperan sebagai vektor CMV dengan kemampuanpenularan masih terbatas.Kata kunci : Piper nigrum L., penyakit kerdil, Ferrisia virgata,Planococcus minor, Aphis gossypii, CMV dan PYMV,penularanABSTRACTTransmission of stunted growth disease on black pepperby three insect vectorsStunted growth disease is one of the most important diseases onblack pepper caused by Piper Yellow Mottle Virus (PYMV) transmitted byMealybugs (Planococcus minor and Ferrisia virgata) and Cucumo MosaicVirus (CMV) transmitted by Aphis gossypii. These experiments wereconducted at laboratory and green house to examine the capability of theinsects in transmitting the disease. The insects were fed on black pepperplant for 24 hours, then transferred to healthy black pepper seedlings for24 hours (A. gossypii) and 48 hours (P. minor and F. virgata). Each plantwas treated with 1, 3, 7 and 10 insects. Other disease transmission test withA. gossypii was carried out using the similar method, but each plant wastreated with 10 insects and used three source plants (disease plant fromBangka,  Sukamulya/Sukabumi  and  Bogor).  Disease  mechanicaltransmission was also carried out to black pepper plant using the threesources of disease plant treated plants were incubated in the glass house.ELISA was used for disease confirmation with antiserum from Agdia.The results showed that high transmission rate (up to 100%) were obtainedin transmission with P. minor and F. virgata . No disease symptoms wereshown in black pepper seedlings treated with A. gossypii. In the othertransmission test, however, some plants showed symptoms. The similarsymptoms were also seen on black pepper plants which were mechanicallyinoculated. The ELISA showed that the plants were positive for CMV.These experiments suggested that P. minor and F. virgata are veryefficient vectors for PYMV, Whereas A. gossypii was confirmed as vectorof CMV of black pepper with limited ability in transmitting the disease.Key words : Black pepper, stunted growth disease, Ferrisia virgata,Planococcus minor, Aphis gossypii, CMV, PYMV,transmissio
KKN-PPM PENERAPAN TEKNOLOGI USAHATANI KONSERVASI TERPADU PADA DAERAH RAWAN LONGSOR UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN BERKELANJUTAN DAN PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT DI KECAMATAN GUMBASA KABUPATEN SIGI Burhanuddin Haji Nasir; Irwan Lakani; Anthon Monde
Jurnal Abditani Vol. 2 No. 1 (2019): April
Publisher : FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.254 KB) | DOI: 10.31970/abditani.v1i0.9

Abstract

Usahatani konservasi merupakan suatu paket teknologi usahatani yang bertujuan meningkatkan produksi dan pendapatan petani, serta melestarikan sumberdaya tanah dan air pada lahan kritis, akan tetapi penyerapan teknologi tersebut masih relatif lambat disebabkan antaralain besarnya modal yang diperlukan untuk penerapannya, kurangnya tenaga penyuluh untuk mengkomunikasikan teknologi tersebut kepada masyarakat, lemahnya kemampuan pemahaman petani untuk menerapkan teknologi usahatani konservasi sesuai yang diintroduksikan, keragaman komoditas yang diusahakan di lahan kritis, dan terbatasnya sarana/prasarana pendukung dalam penerapan teknologi usaha tani konservasi. Hal tersebut diatas menunjukkan bahwa teknologi usahatani konservasi yang ada sekarang ini masih belum memadai sehingga perlu dicari teknologi yang lebih sesuai kondisi agrofisik dan sosial ekonomi wilayah setempat.Program KKN-PPM ini bertujuan untuk membantu masyarakat sasaran dalam mengembangkan usahatani konservasi terpadu untuk pengembangan pertanian berkelanjutan khususnya pada daerah rawan longsordi sekitar kawasan Taman Nasional Lore Lindu berbasis pendayagunaan potensi lokal untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. target khusus program KKN-PPM ini adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilannyamasyarakat dalam memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal dengan mengelola hutan rakyat dan kebun rakyat secara intensif berbasis agroforestri.Metode yang diterapkan adalah pemberdayaan masyarakatbagi kelompok sasaran dengan kegiatan meliputi: (a) sosialisasi program KKN-PPM, (b) penyuluhan tentang manfaat teknik konservasi pada lahan kritis dan rawan longsor, (c) pelatihan partisipatif untuk peningkatan keterampilan kelompok sasaran, (d) pelatihan teknik konservasi dan agroforestri (e) pendampingan dalam pengelolaan hutan rakyat dan kebun rakyat secara intensif dan dilaksanakan secara partisipatif untuk peningkatan pendapatan dan mencegah terjadinya bencana banjir dan longsor.Hasil pelaksanaan program KKN-PPM di Kecamatan Gumbasa tahun 2018 adalah pelaksanaan pemberdayaan masyarakat berupa pengembangan pupuk organik dan penanaman MPTS. Pengembangan pupuk organik diawali dengan pembuatan bak pengomposan permanen di masing-masing desa, dan penanaman MPTS di Desa Simoro dengan menanam sebanyak 150 pohon, di Desa Omu sebanyak 200 pohon dan di Desa Tuva dengan 200 pohon MPTS
PENGEMBANGAN POTENSI MASYARAKAT MELALUI PENERAPAN SISTEM PERTANIAN BERKELANJUTAN DI KECAMATAN BUKAL KABUPATEN BUOL PROPINSI SULAWESI TENGAH Rosmini Rosmini; Irwan Lakani; Najamudin Najamudin
Jurnal Abditani Vol. 2 No. 1 (2019): April
Publisher : FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.427 KB) | DOI: 10.31970/abditani.v1i0.16

Abstract

Program Kemitraan Wilayah (PKW) yang sebelumnya bernama Ipteks bagi wilayah (IbW) di Kecamatan Bukal Kabupaten Buol dilakukan berdasarkan kenyataan yang ada dalam masyarakat yakni: masih sebagian besar hidup dalam ketidakberdayaan ekonomi, potensi masyarakat dan sumberdaya alam lingkungannya cukup tersedia belum termanfaatkan dengan baik dan arif, penatakelolaan sumber-sumber potensi ekonomi proposional dan profesional. Berdasarkan aspek-aspek tersebut diatas PKW Kecamatan Bukal Kabupaten Buol dilaksanakan agar dapat mendorong masyarakat dalam memanfaatkan potensi SDA yang dimiliki secara baik dan arif untuk meningkatkan kesejahteraannya. PKW Kecamatan Bukal Kabupaten Buol dimaksudkan untuk mendorong masyarakat dalam memanfaatkan potensi SDA yang dimiliki secara baik dan arif untuk meningkatkan kesejahteraannya. PKW Kecamatan Bukal berlangsung selama 3 tahun yakni tahun I (tahun 2016) dengan kegiatan berupa sosialisasi kepada aparat pemerintah Kabupaten Buol dan kepada masyarakat di 2 desa di wilayah Kecamatan Bukal yakni Desa Mooyong dan Desa Modo serta program pemberdayaan masyarakat berupa penyuluhan dan pelatihan, demonstrasi dan demplot teknologi pertanian. Pada tahun kedua (tahun 2017) telah dilaksanakan kegiatan penyebarluasan teknologi pertanian dan teknologi tepat guna serta home industry kepada anggota masyarakat serta rintisan kewirausahaan bagi masyarakat. Pada tahun ketiga (tahun 2018) dilaksanakan pengembangan produk kelompok masyarakat berupa pelabelan, promosi dan pemasaran hasil produk PKW. Selain itu juga dilakukan pengembangan rumput hijuan ternak dan renovasi kandang ternak masyarakat. Metode yang diterapkan pada PKW tahun ketiga (tahun 2018) adalah pendampingan dan pembinaan masyarakat yang difokuskan kepada kelompok tani, peternak dan kelompok TTG serta home industry yang telah memiliki kegiatan usaha dari hasil pelaksanaan PKW tahun pertama dan kedua (2016-2017). Hasil pelaksanaan PKW tahun ketiga (tahun 2018) di Kecamatan Bukal telah dilakukan pendampingan masyarakat dalam pengembangan kegiatan produktif masyarakat. Kegiatan produktif masyarakat tersebut adalah pengembangan dan penyebarluasan budidaya jagung, pengembangan bioinsektisida dan biofungisida, pengembangan pupuk organik cair dan pupuk organik granul, dan pengembangan hijauan untuk pakan ternak, dan pelabelan, promosi serta pemasaran hasil produk masyarakat berupa jagung pipilan, biokultur, dan berbagai pupuk kandang granul
Development of Integrated Farming Businesses Based on Zero Waste Agriculture in Parigi Moutong Regency Burhanuddin Nasir; Irwan Lakani; Najamudin Najamudin; Sitti Sabariyah; Sri Anjar Lasmini; Moh. Syahrul Asdar; I Putu Suci Astawa; Ilham Akbar; I Kadek Duis Tiana
Journal of Community Practice and Social Welfare Vol. 1 No. 2 (2021): Journal of Community Practice and Social Welfare
Publisher : LPPM Universitas Ma Chung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33479/jacips.2021.1.2.28-39

Abstract

Zero waste agriculture is an agricultural concept oriented around the decomposition cycle of organic materials which integrates agricultural and livestock systems to reprocess waste material. Agricultural waste is used as animal feed while livestock waste/excrement is reprocessed into organic fertilizers. The Regional Partnership Service Program (PKW) aims to assist farmers in developing integrated farming businesses based around zero waste agriculture. PKW was held between May and July 2021 in Tindaki Village, South Parigi District, Parigi Moutong Regency. The implementation of this regional partnership program was carried out through a Participatory Action Programs approach, where partners are directly involved in the adoption and application of the various skills that had been developed. The procedure for activity implementation was carried out through several stages, namely: (a) counseling on zero waste agriculture, (b) training in and application of zero waste agriculture technology in the form of demonstration plots for the application of technological products, (c) coaching and mentoring, and (d) the utilization stage of technology product. The findings from the implementation concluded that the agricultural development training based on zero waste agriculture was a success, and the technology had been adopted by the community, marked by the ability to make and develop compost and liquid organic bio-urine fertilizers. Both types of organic fertilizers had been applied in the demonstration plots to assess their effectiveness in reducing the use of inorganic fertilizers. Rice production is equivalent to 5.6 tons/ha and 6 tons/ha in conventional land. These results show potential benefits for farmers, particularly regarding lower production costs compared to the usage of conventional land. Zero waste agriculture is a method of farming and livestock raising that utilizes their waste products for energy production.
SELEKSI JAMUR ANTAGONIS Aspergillus niger DARI BEBERAPA LAHAN PERKEBUNAN KAKAO UNTUK MENGENDALIKAN Phytophthora palmivora Dwi Eli Wulandari; Asrul Asrul; Irwan Lakani
Agroland: Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Vol 23, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.907 KB)

Abstract

Aspergillus niger produces α-amylase and glucoamylase enzymes whichenable starch to be broken down into simple glucose then fermented into ethanol.  The growth of A. niger is directly related to food substances within the medium.  A. nigeralso generatessuch enzymes as amylase, amyloglucosidase, pectinase, cellulose, glycoside that can break down urea into amino acid and CO2.  The research objective was to find A. Niger fungi isolate which potentially has antagonist characters against the growth of P. Palmivora  fungi in cacao fruits. The research was conducted in the Pest and Disease Laboratory, Faculty of Agriculture of Tadulako University from September to December 2015.  The research results showed that 20 isolates of A. niger found are potentially utilized as biological control agents of fungal antagonist against P. Palmivora in four villages where cacao are produced i.e. Sidondo, Lalundu, Towiora and Martajaya.  The results of  in-vitro inhibition test suggested that two isolates best in suppressing the growth of P. Palmivora causing cacao fruit rot are Lalundu isolates (rate of inhibition of 63.65%) and Martajaya isolates (rate of inhibition of 63.63%)Key Words: Aspergillus niger, fungi, antagonis, Phytophthora palmivora.
CURRENT STATUS ON CACAO DISEASE INCIDENCE IN CENTRAL SULAWESI Nur Edy; Margaret Angelia; Irwan Lakani; Johanis Panggeso
AGROLAND: The Agricultural Sciences Journal Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.338 KB)

Abstract

Central Sulawesi is largest of cocoa bean producer in Indonesia. However, cacao production constrained by important diseases. Currently, data about cacao been damage due to pathogen infection have not been updated. This study observed the incidence of major diseases in cacao plantations, included pod rot, canker, and vascular-streak dieback (VSD). The study was situated at the largest cacao plantation in Central Sulawesi, in Ampera, Berdikari, Bahagia, Ue Rani, and Sejahtera villages in Palolo District, Sigi Regency. The observation pronounced that the cacao trees in the study sites were infected by the pathogens of pod rot, canker, and VSD with different incidence levels. VSD was a disease with the highest incidence and distribution in the cacao plantations. Besides, this study also described the symptom of the disease.
KETAHANAN BEBERAPA GENOTIPE PADI LOKAL KAMBA TERHADAP PENYAKIT TUNGRO Ahmad Hamdani Hamzah; Irwan Lakani; Mohammad Yunus
Agroland: Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Vol 22, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.408 KB)

Abstract

The aim of this rescend is to determined level of resistance of some local paddy kamba genotypes against tungro disease. The results of reased are used to complete the description of the local paddy genotypes Kamba according to Standard Evaluation System for Rice from IRRI. The study wes conducted in Screen House of Plant Pests and Diseases Laboratory Faculty of Agriculture, Tadulako University, Palu. The research method refers to the method developed by Plant Research Tungro Station Lanrang sand selebes. Four local paddy genotypes used were Kamba tomado, Kamba kolori, Kamba bulili, Kamba Wuasa, as a compared with rice suscepbtible varieties TN1, and resistant Utri Merah to tungro. Each type of paddy genotipes used are 20 plants, so that ther are 120 population plants. The results showed in the four genotypes tested, the highest incidence rate of disease is Kamba Wuasa (4.8%) the lowest Whereas the Kamba bulili (1.1%). According to criteria of evaluasi system for rice standar , four local paddy genotipes kamba are tester showwed resistence and moderat resistence to agains tungro disiase. With value of disiase index from 1,2 to 4,8. Key words : Paddy local, kamba resilience genotype, standard evaluation system for rice, tungro disease. 
Co-Authors Abdul Hadid Abdul Rahim Abdul Rahman Adelia Rahmawati Ahmad Hamdani Hamzah Alam Anshary Amalia Noviyanty Amelia, Nida Izza Anis Herliyati Mahsunah Ansar Ansar Anthon Monde Anthon Monde Asriani, Andi Halida Asrul Asrul Asrul Asrul Asrul Asrul Asrul Asrul As’ar, Marwia B, Fatmia Badrin Badrin Burhanuddin Haji Nasir Burhanuddin Nasir Dance Tangkesalu Danil Supriyadi Desi Wahyuni Arsih Dwi Eli Wulandari Fera, Fera Fitria Balosi Flora Pasaru GEDE SUASTIKA Gede Suastika Hasriyanty Hasriyanty Herman H. I Kadek Duis Tiana I Kadek Duis Tiana I Putu Suci Astawa Idham Idham Idham Idham Ikhlasul Hamdi Ilham Akbar Imam Wahyudi Indra Sri Wahyuni Ismail Suaib. S Isrun Isrun J, Jusriadi Johanes Panggeso Johanis Panggeso Johanis Panggeso Johanis Panggeso Jusriadi Kurnia Burhan Made Krisna Laksmayani Maemunah Maemunah Margaret Angelia Margaret Angelia Maulidin Kurniawan Megawati - Megawati Megawati Melani, Ni Wayan Moh. Intim Purwanto Moh. Syahrul Asdar Moh. Yunus Mohammad Yunus Mufi’i Coma Muh. Nur Sangadji Muhammad Iqbal Muhd. Nur Sangadji MUTMAINAH Mutmainah Mutmainah Mutmainah Mutmainah Mutmainah Mutmainah N Mattjik Nahru, Nurfadilah Najamudin Najamudin Najamudin Najamudin Najamudin Najamudin Naslia, Naslia Ni Ketut Indiani Nur Edy Nur Hayati Nur, Sahara Fajria Nurfathia Djau NURHAJATI MATTJIK Ody Dipayana Putra Purwanto, Moh. Intim Reinal Putalan Resky magfirah Reynaldi Rezkianti, Vivin Risda Adinda Wongkar Rita Harni RODIAH BALFAS Rohfita, Rohfita Rosmini Rosmini Rosmini Ismail Rosmini Rosmini Rosmini Rosmini Rosmini Rosmini Rosmini S. Rostiati Dg. Rahmatu Rostiaty Rahmatu S, Ismail Suaib. Sakka Samudin SAMSUDIN SAMSUDIN Santi I. Batalipu Sarah Sarah Sarah Sarah, Sarah Selvy Mozin Septian Palma Ariany Septian Palma Ariany Shahabuddin Saleh Shahabudin Shahabudin Silviani Silviani Sitti Fatimah Sitti Marwiah Sitti Sabariyah Sri Anjar Lasmini Suaib S, Ismail SUKAMTO SUKAMTO Supriyadi, Danil TRI ASMIRA DAMAYANTI Umrah Umrah Usman Made Valentino Valentino Vivin Rezkianti Wahyuniarsih, Desi Widi Amaria Zakaria, Jawuh ⁠Muhammad Fawzul Alif Nugroho ⁠Syahraeni Kadir