Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Konsep Embung Untuk Pemenuhan Air di Gamat Bay, Desa Sakti, Nusa Penida, Bali Cokorda Agung Yujana; Anak Agung Sagung Dewi Rahadiani; Cokorda Istri Arina Cipta Utari
Jurnal Sutramas Vol. 4 No. 01 (2024)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Nusa Penida yang saat ini merupakan destinasi paling favorit di Kabupaten Klungkung. Desa Sakti merupakan salah satu desa yang terletak di Nusa Penida dengan keindahan pantai nya yang disebut Gamat Bay. Permasalahan yang ada di Desa Sakti berupa kesulitan akan pemenuhan air baku untuk kebutuha air sehari-hari serta daerah wisata Gamat Bay. Maka dari itu pengabdian masyarakat ini akan menganalisa konsep embung yang akan diterapkan pada Desa Sakti untuk. Data analisa menggunakan data hasil wawancara mengenai permasalahan yang terjadi di Desa Sakti serta melakukan pengambila data kontur pada rencana lokasi embung. Analisa perencanaan konsep embung menggunakan analisa hidrologi serta analisa kurva tampungan embung. Hasil analisa didapatkan lebar mercu embung sebesar 17,5 m dan debit banjir 71,35 m3/dt sehingga tinggi muka air (hd) sebesar 1,00 m dan tinggi embung sebesar 5 m. Kapasitas tampungan yang didapatkan untuk dua alternatif lokasi yaitu alternatif satu dengan lebar cross section sebesar 180 m didapatkan tampungan sebesar 0,14x106 m3. Sedangkan alternatif dua dengan lebar cross section sebesar 37.05 m tampungan yang didapatkan sebesar 0,05x106 m3.
THERAPEUTIC ARCHITECTURE IN CAFÉ BUILDINGS AS GEN Z’S PREFERRED HEALING PLACE IN DENPASAR Cokorda Istri Arina Cipta Utari; Km. Deddy Endra Prasandya; Putu Gede Wahyu Satya Nugraha
Architectural Research Journal Vol. 4 No. 2 (2024): Architectural Research Journal
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik dan Perencanaan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/arj.4.2.2024.57-64

Abstract

The number of people with mental disorders in Indonesian teenagers is very high. Bali itself is ranked fourth in the number of people with severe mental disorders in Indonesia, with Denpasar City being the city with the highest prevalence of depression in Bali, which targets Gen Z. Gen Z tends to feel that they need a place where they can go to relieve stress and relax, spend time alone or socialize with friends. Public spaces such as cafes can be used to mingle, spend free time and have fun are now increasingly popular with Gen Z. This study aims to determine the condition of the elements that form cafes in Denpasar regarding therapeutic architecture indicators. The concept of therapeutic architecture is considered to be able to reduce the prevalence of depression because it can provide a pleasant psychological effect for building users. The research method used is quantitative, where quantitative data comes from the results of cafe building users' assessments of the cafe's therapeutic architecture indicators. Quantitative data will then be analyzed with the help of JMP software. The results of the study concluded that several elements form cafes need to be adjusted and accommodated to accommodate the concept of therapeutic architecture to reduce the prevalence of depression in Gen Z.
PENATAAN KORIDOR DAN PENDAMPINGAN PEMBUATAN PROPOSAL PEMBANGUNAN BALE BANJAR BUALU KELURAHAN BENOA KABUPATEN BADUNG, BALI Putu Gede Wahyu Satya Nugraha; Cokorda Istri Arina Cipta Utari; I Gusti Agung Gede Nodya Dharmastika
Jurnal Abdi Daya Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Abdi Daya Vol.3 No.1 Tahun 2023
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jad.3.1.2023.34-40

Abstract

Banjar Bualu yang terketak di Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan ini didirikan sekitar tahun 1905 dan merupakan banjar pertama yang dibentuk di kawasan Desa Adat Bualu. Kegiatan pengabdian ini merupakan lanjutan atau tahapan kedua dari pengabdian yang sebelumnya sudah dilakukan di Banjar Bualu. Sebelumnya, kegiatan pengabdian berfokus kepada usulan perencanaan desain arsitektural bangunan Banjar Bualu. Selanjutnya atas permintaan mitra agar pihak Universitas Warmadewa melanjutkan dalam membantu proses pembuatan proposal permohonan dana untuk merealisasikan pembangunan Banjar Bualu. Selain itu dilakukan juga penataan pada koridor jalan Banjar Bualu sehingga nantinya akan menyesuaikan dengan desain bangunan Banjar Bualu yang baru. Penataan koridor ini juga diharapkan memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki dan pengguna kendaraan di kawasan tersebut. Berdasarkan hasil penelusuran Tim PKM terdapat beberapa permasalahan yang ada di Banjar Bualu antara lain: 1) Kurangnya SDM atau tenaga ahli yang mempunyai kemampuan atau kompetensi dalam pembuatan proposal permohonan dana pembagunan Banjar Bualu; 2) Diperlukannya penataan koridor jalan Banjar Bualu agar menyesuaikan dengan desain bangunan yang baru, selain itu untuk memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki dan parkir kendaraan; 3) Kurangnya keahlian mitra dalam membuat perencanaan RAB pembangunan Bale Banjar Bualu. Berdasarkan permasalahan ini, solusi yang ditawarkan Tim PKM antara lain: Solusi yang ditawarkan dari kedua permasalahan tersebut yaitu memberikan pengarahan dan pendampingan dalam pembuatan proposal pembangunan Bale Banjar Bualu, memberikan desain penataan koridor serta membuat RAB dan penyesuaian harga material. Proposal ini rencananya akan diajukan kepada pemerintah atau stakeholder terkait dalam meminta bantuan dana untuk melaksanakan proses pembangunan. Hal ini merupakan tahun kedua melanjutkan dari kegiatan Pengabdian sebelumnya. Selain itu dilakukan juga konsep desain penataan dari koridor jalan Banjar Bualu menyesuaikan dengan desain banjar yang baru sehingga terhubung satu sama lain. Diharapkan penataan ini memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna yaitu pejalan kaki dan pengguna kendaraan. Sedangkan luaran lain dari PKM ini adalah publikasi artikel pada Jurnal Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat BerISSN, publikasi HKI, publikasi video pelaksanaan PKM tahun pendanaan 2023 pada salah satu akun media youtube Tim PKM dan berita kegiatan PKM yang dimuat pada media cetak. Kata Kunci: penataan koridor, banjar, pendampingan proposal.
Integration Of The Therapeutic Architecture Approach In Public Buildings: Evaluation Of Priority Improvement Indicators Cokorda Istri Arina Cipta Utari; Km. Deddy Endra Prasandya; Putu Gede Wahyu Satya Nugraha
Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and Event Management Vol. 8 No. 2 (2025): Journey : Journal of Tourismpreneurship, Culinary, Hospitality, Convention and
Publisher : Politeknik Internasional Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46837/journey.v8i2.298

Abstract

Mental health issues have become a pressing concern in the modern working environment, particularly among public service workers who are exposed to persistent occupational stress. Built environments play a critical role in mitigating psychological strain, and therapeutic architecture offers a promising spatial intervention to address mental well-being. This study investigates the application of therapeutic architectural principles in a public service building, Sewaka Dharma, located in Denpasar, Indonesia. Using the Joint Multivariate Preference (JMP) method, the research evaluates user perceptions across six core dimensions of healing design, sense of personal control, social support, positive distractions, connection to natural views, elimination of environmental stressors, and the ability to engender positive feelings. Data were collected through structured questionnaires distributed to building users, focusing on 26 sub-indicators associated with the aforementioned variables. The results show that five indicators presence of indoor water elements, availability of entertainment facilities, access to natural outdoor views, integration of interactive art, and access to food services scored significantly below the overall mean. These findings highlight specific spatial deficiencies that limit the building’s restorative function and user comfort. The study contributes practical recommendations for public facility improvements by emphasizing evidence-based spatial design strategies that enhance psychological resilience and support mental health in the workplace.
EFEKTIVITAS PENATAAN DAN SIRKULASI RUANG KOMUNAL DI DESA ADAT BAYUNG GEDE MENGGUNAKAN METODE SPACE SYNTAX Putu Gede Wahyu Satya Nugraha; Tjokorda Gede Dalem Suparsa; Cokorda Istri Arina Cipta Bagus Utari; I Putu Susila Dharma
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i3.004

Abstract

Desa Adat Bayung Gede di Kecamatan Kintamani, Bangli, merupakan Desa Bali Aga dengan nilai sejarah dan budaya yang unik, sehingga memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata. Meskipun berpotensi, desa ini belum memiliki perencanaan pengembangan wisata yang terstruktur dan berkelanjutan, yang sejalan dengan upaya Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penataan ruang komunal publik, terutama dari segi penempatan, sirkulasi, dan visibilitas sebagai dasar perencanaan ruang publik yang mendukung kegiatan social dan pariwisata. Metode yang digunakan adalah teknik Space Syntax yang mampu mengevaluasi struktur spasial berdasarkan metrik konektivitas, integrasi, dan visibilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hierarki spasial yang jelas; pusat-pusat utama seperti Pura Bale Agung, Pura Puseh Jro Kajangan, dan LPD Desa Bayung Gede memiliki nilai konektivitas dan integrasi tertinggi, menjadikannya titik simpul pergerakan dan interaksi sosial. Sebaliknya, fasilitas yang membutuhkan ketenangan (seperti sekolah dan pura tertentu) berada di lokasi dengan konektivitas terendah. Pola visibilitas juga menunjukkan area pusat dan ruang terbuka memiliki visibilitas tinggi, mendukung fungsi kegiatan publik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penataan ruang komunal publik di Desa Adat Bayung Gede dinilai efektif karena telah menciptakan hierarki spasial yang terorganisir dan fungsional. Pola ini berhasil mendukung aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan dengan menempatkan fasilitas penting sesuai dengan kebutuhan aksesibilitas dan privasi.
Pengaruh penataan street furniture terhadap kenyamanan pejalan kaki di Koridor Ngurah Rai, Gianyar Cokorda Istri Arina Cipta Utari; I Putu Hartawan
JURNAL ARSITEKTUR PENDAPA Vol. 6 No. 2 (2023): Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Widya Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37631/pendapa.v6i2.752

Abstract

Kota Gianyar Elemen street furniture merupakan satu kesatuan dengan elemen tata kota lainnya yang memberikan citra dan karakter khusus pada suatu kota yang dapat meningkatkan identitas kota itu sendiri. Kota Gianyar merupakan kawasan komersial, yaitu tepatnya di sepanjang Jalan Ngurah Rai yang merupakan pusat perdagangan, pemerintahan maupun rekreasi. Sebagai kawasan komersial, Sehingga kualitas fisik sangatlah penting pada kawasan ini. Sebagai salah satu kota komersial, kawasan ini belum sepenuhnya berbenah dan memperbaiki sarana dan prasarana yang ada seperti halnya penataan elemen street furniture yang merupakan salah satu elemen pendukung sebuah ruang publik. Hal ini dapat dicapai dengan perancangan street furniture /perabotan jalan yang memiliki fungsi dan kualitas yang baik dan saling terintergrasi dengan elemen wajah jalan lainnya untuk menghindari ketidakterpaduan lingkungan. Kebutuhan akan street furniture sebagai fasilitas ruang terbuka publik semakin dirasakan dan dibutuhkan oleh masyarakat terutama bagi pejalan kaki sebagai elemen pendukung ruang publik yang ramah di Kota Gianyar untuk memberikan kenyamanan bagi para penggunanya. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekaatan kualitatif. Pendekatan Kualitatif dilakukan pada proses observasi dan analisis elemen street furniture dan kenyamanan pejalan kaki di koridor Ngurah Rai, Gianyar. Penelitian ini bertujuan menciptakan, meningkatkan infrastruktur kota yang nyaman dan ramah bagi pejalan kaki dari berbagai golongan, baik dari segi akses, estetika, keamanan, dan keselamatan serta kenyamanan.
PERENCANAAN DAN PERANCANGAN FASILITAS PENUNJANG WISATA DI KAMPUNG ADAT RATENGGARO : bahasa indonesia Kefas Anglidens Natanael; I Nyoman Nuri Arthana; Cokorda Istri Arina Cipta Utari; Made Suryanatha Prabawa
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 14 No. 1 (2026): UNDAGI : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa (Juni 2026)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.14.1.15025.119-127

Abstract

Ratenggaro Traditional Village, located in Umbu Ngedo Village, Kodi Bangedo District, Southwest Sumba Regency, East Nusa Tenggara, is a cultural tourism destination with great potential through the presence of Uma Kalada traditional houses, megalithic stone tombs, Marapu traditions, ikat weaving, and coastal panoramas. The increase in the number of tourists each year has not been supported by adequate tourism support facilities, such as information centers, parking areas, accommodation, culinary areas, and cultural performance spaces. This condition causes tourism activities to not run optimally and has the potential to reduce tourist comfort. The planning and design of these tourism support facilities aims to provide tourism facilities that are able to accommodate reception, education, exhibition, accommodation, commercial, and recreational activities in an integrated manner while maintaining the cultural values ??and character of Ratenggaro Traditional Village. The design approach uses a contextual architectural theme with the concept of Harmony with Nature and Culture, namely creating harmony between buildings, the natural environment, and the culture of the indigenous community. The methods used include field observation, interviews, documentation, literature studies, precedent studies, and site analysis. The design results are in the form of visitor center facilities, homestays, weaving exhibitions, weaving craft centers, souvenir centers, food courts and amphitheaters designed to follow the spatial patterns of traditional villages and the character of traditional Sumba architecture. The shape of the building adapts the Uma Kalada traditional house with the use of natural materials such as wood, bamboo, natural stone, and reeds to harmonize with the surrounding environment. This design is expected to improve the quality of tourism services, support the preservation of local culture, and improve the economy of the Ratenggaro Traditional Village community in a sustainable manner.