Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PERBANDINGAN MODEL GENANGAN TSUNAMI MENGGUNAKAN DATA DEM ASTER, SRTM DAN TERRASAR (Studi Kasus: Kabupaten Pangandaran) Anang Ikhwandito; Yudo Prasetyo; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.179 KB)

Abstract

ABSTRAKPesisir Kabupaten Pangandaran merupakan wilayah di Indonesia yang pernah mengalami bencana tsunami. Tsunami tersebut terjadi pada tanggal 17 juli 2006 dengan jumlah korban sekitar 700 orang. Secara umum pesisir Kabupaten Pangandaran memiliki karakteristik yang rentan terhadap limpasan gelombang tsunami. Kerentanan yang tinggi tersebut dikarenakan sebagian besar wilayah pesisir Pangandaran merupakan wilayah pariwisata, oleh karena itu diperlukan upaya mitigasi bencana untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan. Salah satu upaya mitigasi bencana tsunami dapat dilakukan dengan pembuatan model genangan tsunami. Pemodelan genangan tsunami menggunakan formulasi yang dikembangkan Berryman (2006) dengan mempertimbangkan tiga parameter utama yaitu topografi, koefisien kekasaran permukaan dan ketinggian tsunami di garis pantai. Parameter topografi menggunakan DEM ASTER 30 meter, SRTM 30 meter dan TerraSAR 9 meter, sedangkan koefisien kekasaran diperoleh dari tutupan lahan yang dihasilkan dengan klasifikasi terbimbing dengan menggunakan Citra Landsat-8 tahun 2016. Penelitian ini menggunakan dua ketinggian tsunami yaitu 8 dan 15 meter sesuai dengan data historis tsunami Kabupaten Pangandaran. Berdasarkan pemodelan yang dibentuk, diperoleh luas terdampak yang dihasilkan model genangan dari DEM ASTER untuk tinggi tsunami 8 dan 15 meter yaitu 1600,98 dan 4279,23 hektar, model genangan dari DEM SRTM untuk tinggi tsunami 8 dan 15 meter yaitu 1703,02 dan 4027,33 hektar dan model genangan dari DEM TerraSAR yaitu 1348,59 dan 2025,35 hektar. Model genangan tsunami terbaik yaitu model yang dihasilkan berdasarkan DEM TerraSAR, dimana model tersebut baik secara visual maupun kemiripan dengan kejadian tsunami di Kabupaten Pangandaran. Tingkat visual pada pemodelan genangan tsunami dipengaruhi oleh resolusi spasial data yang digunakan. Sedangkan pada kemiripan tsunami terdapat pada model genangan tsunami dari DEM TerraSAR dengan tinggi tsunami 15 meter. Model tersebut memiliki selisih kedalaman tsunami terkecil pada titik validasi yakni 0,5 meter.Kata Kunci: DEM, Pangandaran, Tsunami ABSTRACTCoastal Pangandaran Regency is an area in Indonesia that had experienced a tsunami disaster. The tsunami occurred on 17 July 2006 with a casualty of about 700 people. In general, coastal Pangandaran Regency has characteristics that are vulnerable to runoff of  tsunami wave. The high vulnerability due to most of the coastal area of Pangandaran is a tourism area, therefore it takes disaster mitigation efforts to reduce the losses incurred. One of the tsunami disaster mitigation efforts can be done by making tsunami inundation model. Tsunami modeling using developed formulation by Berryman (2006) with considering three main parameters: topography, coefficient of surface roughness and tsunami height at coastline. Topographic parameters using ASTER DEM 30 meters, SRTM 30 meters and TerraSAR 9 meters, while coefficient of surface roughness obtained from land cover produced by supervised classification process using Landsat-8 Image 2016. This study used two tsunami heights of 8 and 15 meters according with historical data of tsunami of Pangandaran Regency. Based on the formed model, the result of impacted area produced by the inundation model from DEM ASTER for tsunami height 8 and 15 meter is 1600,98 and 4279,23 hectare, the inundation model from DEM SRTM for tsunami height 8 and 15 meter is 1703.02 and 4027.33 hectares and the inundation models of DEM TerraSAR are 1348.59 and 2025.35 hectares. The best tsunami inundation model is a model based on TerraSAR DEM, in which the model is both visually and resemblance to the tsunami event in Pangandaran Regency. The visual level on tsunami inundation modeling is influenced by the spatial resolution of the data used. Meanwhile, the tsunami similarity is in the tsunami inundation model from DEM TerraSAR with a tsunami height of 15 meters. Where the model has the smallest tsunami depth difference at the validation point of 0.5 meters.Keywords: DEM, Pangandaran, Tsunami
STUDI KORELASI KAPASITAS AKUIFER TERHADAP PENURUNAN MUKA TANAH DENGAN METODE PS-InSAR (STUDI KASUS : KOTA SEMARANG) DIYANAH DIYANAH; Yudo Prasetyo; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.077 KB)

Abstract

Air merupakan sumber daya alam yang menjadi hal pokok yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Pemakaian air dalam kehidupan sehari-hari masyarakat maupun kegiatan industri masih mengandalkan dari alam, yaitu berupa air tanah. Pengambilan air terus menerus terutama di kota-kota besar yang ada di Indonesia akan berdampak buruk bagi lingkungan yang mengakibatkan perubahan dari lingkungan itu sendiri. Perubahan lingkungan akibat dari dampak pengambilan air yang mungkin terjadi adalah penurunan muka tanah (PMT). Untuk itu pada penelitian ini akan mengkaji hubungan korelasi antara dua hal tersebut.Pengamatan perubahan akuifer pada penelitian ini diamati pada dua jenis akuifer, yaitu akuifer dalam dan akuifer dangkal menggunakan data muka air tanah (MAT) dari sumur pantau pada akuifer dalam dan data MAT sumur dangkal pada akuifer dangkal. Sedangkan untuk pengamatan penurunan muka tanah menggunakan metode PS InSAR. Metode tumpang susun digunakan untuk mengorelasikan pengaruh perubahan akuifer dangkal terhadap PMT di Kota Semarang. Pengamatan pada akuifer dalam, digunakan hubungan korelasi yang dilihat dari kenaikan dan penurunan grafik dari MAT akuifer dalam dan kenaikan dan penurunan muka tanah rata-rata dari PS InSAR.Hasil pengolahan PS InSAR didapatkan nilai rata-rata penurunan muka tanah rata-rata pertahun dengan rentang 0±3,4 cm hingga 4,5±3,4 cm dan dari hasil pengolahan didapatkan infomasi penurunan muka tanah terbesar terdapat pada daerah Kecamatan Semarang Utara, Semarang Barat, Pedurungan dan Genuk. Hasil korelasi menunjukan bahwa perubahan akuifer dangkal memiliki pengaruh dengan penurunan muka tanah dengan tingkat korelasi yang sangat tinggi, sebesar 47,58%, korelasi tinggi sebesar 16,09%, korelasi sedang sebesar 16,29% dan rendah sebesar 20,02 %. Sedangkan pada perubahan kapasitas akuifer dalam tidak berpengaruh pada penurunan muka tanah.
ANALISIS AKURASI PENAPISAN DSM KE DTM MENGGUNAKAN METODE SIMPLE MORPHOLOGICAL FILTER DAN SLOPE BASED FILTERING Lanjar Cahyo Pambudi; Yudo Prasetyo; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Foto udara yang didapat dari pemotretan dengan pesawat akan diolah melalui serangkaian proses komputasi sehingga nantinya dihasilkan model permukaan digital (DEM). Proses pembuatan DEM dapat dilakukan secara otomatis dengan metode image matching. Namun DEM yang dihasilkan menggunakan metode ini masih merepresentasikan permukaan bumi beserta objek diatasnya atau dalam bentuk Digital Surface Model (DSM). Penggunaan DSM belum bisa efektif digunakan dalam bidang praktis. Oleh karena itu perlu dilakukan penapisan supaya menjadi Digital Terrain Model (DTM) yang menggambarkan bidang tanah tanpa ada objek lainnya yang bukan tanah.Pada penelitian ini penapisan DSM menjadi DTM menggunakan dua metode yaitu Slope Based Filtering (SBF) dan Simple Morphological Filtering (SMRF). Kemampuan proses penapisan dalam menghilangkan fitur bukan tanah dinilai dengan bantuan kontur. Akurasi proses penapisan dinilai dengan membandingkan kedua DTM hasil penapisan dengan  DTM yang dibuat dengan metode spotheighting sebagai referensi. Akurasi ini akan dijadikan acuan untuk menentukan peta skala berapa akurasi DTM penapisan memenuhi toleransi.Hasil proses penapisan terhadap DSM adalah turunnya rata-rata kelerengan dari 47,3% menjadi 4,77% dan 8,15%. Rata-rata ketinggian juga turun dari 15,814 m menjadi 12,121 m dan 12,889 m pada DTM SBF dan DTM SMRF secara berurutan. Akurasi DTM SBF dan DTM SMRF yang ditunjukan dengan nilai RMSEz adalah 1,601 m dan 2,055 m. Nilai ketelitian skala peta direpresentasikan dengan LE90%, untuk DTM SBF adalah 2,641 m dan masuk skala 1:10000 kelas 2 serta untuk DTM SMRF adalah 3,390 m dan masuk skala 1:10000 kelas 3. Kata kunci : DEM , penapisan, slope based, morphological, spotheighting ABSTRACT Aerial photographs that is obtained by the plane will be processed through a series of computing processes in order to generate digital surface model (DEM). DEM creation process can be done automatically with the method of image matching. However a DEM generated using this method still represent objects above the earth's surface or Digital Surface Model (DSM). The use of DSM is ineffective when  used in the practical field. Therefore, filtering procees have to be done in order to generate a Digital Terrain Model (DTM) which represent bare earth.In this study, filtering of a DSM into a DTM using two methods: Slope Based Filtering (SBF) and Simple Morphological Filtering (SMRF). The ability of the filtering process in removing features that non-bare earth was assessed with the visualitation of the contour. The accuracy of the DTMs was assessed by comparing the both of DTMs with another DTM that was made with spotheighting method as a reference. This accuracy will be used as a reference to determine on what scale the map that the filtering process meets tolerances.The results of the filtering process on DSM is the decline of the average slope from 47.3% become 4.77% and 8.15% so are the average elevation  also dropped from 15.814 m become 12.121 m and 12.889 m in the DTM SBF and the DTM SMRF  respectively. The Accuracy of DTM SBF and the DTM SMRF  that indicated by RMSEz value is 1,601 m and 2,055 m. The map scale accuracy represented by the LE90% value, for DTM SBF is 2,641 m and meet requirement on scale of 1: 10000 grade 2 as well as for DTM SMRF is 3.390 m and meet requirement on scale of 1: 10000 grade 3. Keywords : DEM , filtering, slope based, morphological, spotheighting *) Penulis, PenanggungJawab
PEMODELAN PERTUMBUHAN TATA RUANG KOTA SEMARANG BERDASARKAN ASPEK EKONOMI MENGGUNAKAN KONSEP ANALISIS SPASIAL CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI Muhammad Arizar Hidayat; Bambang Sudarsono; yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1305.974 KB)

Abstract

ABSTRAK Kota Semarang mempunyai luas wilayah 373,70 Km2. Secara administratif Kota Semarang terbagi Kota Semarang mempunyai luas wilayah 373,70 Km2. Secara administratif Kota Semarang terbagi menjadi 16 Kecamatan dan 177 Kelurahan, Kota Semarang memiliki posisi astronomi di antara garis 6o50’ – 7o10’ Lintang Selatan dan garis 109o35’ – 110o50’ Bujur Timur. Sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang adalah sebuah kota yang berkembang secara ekonomi. Secara tidak langsung, perkembangan perekonomian di Kota Semarang memberi pengaruh terhadap pertumbuhan tata ruang kota.Adapun tujuan penelitian ini adalah membuat peta model pertumbuhan tata ruang Kota Semarang dengan menggunakan metode konsep analisis spasial. Data yang digunakan adalah data raster. Yaitu, citra Landsat tahun 2002, 2007, 2013, dan 2015 beserta data atribut Kota Semarang berformat shapefile. Pengolahan data dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan metode klasifikasi supervised yang dikombinasikan dengan metode evaluasi multi kriteria.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tejadi pertumbuhan tata ruang ke arah selatan pada periode tahun 2002-2007, kemudian terjadi pertumbuhan tata ruang pada arah timur pada periode tahun 2007-2013, dan pertumbuhan ke segala arah pada periode 2013-2015. Kemudian dilihat dari pola persebaran pusat-pusat ekonomi, pada periode tahun 2002, 2013, dan 2015 pola persebaran pusat-pusat perekonomian di Kecamatan Semarang Tengah dan Semarang Selatan memperlihatkan pola persebaran mengelompok, pada periode tahun 2007 pola persebaran pusat-pusat perekonomian di Kecamatan Semarang Tengah memperlihatkan pola persebaran mengelompok dan Semarang Selatan memperlihatkan pola acak pada pusat ekonomi kelas atas, sedangkan kelas lainnya mempunyai pola mengelompok. Kata Kunci : Klasifikasi Supervised, Metode Evaluasi Multi Kriteria, Model Pertumbuhan Tata Ruang                       ABSTRACT Semarang city has a total area of 373,70 km2. Semarang is administratively divided into 16 districts and 177 village, Semarang have astronomical positions between lines 6o50 '- 7o10' south latitude and line 109o35 '- 110o50' east longitude. As the capital of Central Java province, Semarang is a city that is growing economically. Indirectly, the economic development in the city of Semarang influences the spatial growth of the city.The purpose of this research is to create a growth model spatial map of Semarang by using the concept of spatial analysis. Data used in the form of raster data.  Namely, Landsat 2002, 2007, 2013, and 2015 along with attribute data of Semarang City with shapefile format. The data in this study were processed using supervised classification method combined with multi-criteria evaluation methods.The results of this study showed that the spatial growth occurs towards the south in the period 2002-2007, and spatial growth occurred in the east in the period 2007-2013, and growth in all directions in the period 2013-2015. Then, seen from the pattern of distribution of economic centers, in the period 2002, 2013, and 2015, the distribution pattern economic centers in the District of Central Semarang and South Semarang shows the distribution pattern clustered, while in the period 2007 distribution pattern economic centers in the District Central Semarang showed clumped distribution pattern while South Semarang exhibit a random pattern on the economic center of the upper classes, while other classes have clumped pattern.s Keyword : Map Spatial Growth Model, Multi-Criteria Evaluation Methods, Supervised Classification  *)  Penulis, Penanggung Jawab
ANALISIS ASPEK MORFOLOGI JALAN (LAYOUT OF STREETS) KOTA SEMARANG TERHADAP PERTUMBUHAN TATA RUANG DAN WILAYAH MENGGUNAKAN METODE DIGITASI CITRA RESOLUSI TINGGI DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Imanuel Sitepu; Yudo Prasetyo; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1001.722 KB)

Abstract

ABSTRAK Suatu wilayah tentu akan mengalami dinamika dan pertumbuhan dari waktu ke waktu yang menyebabkan terjadinya perkembangan fisik. Perkembangan fisik inilah yang mempengaruhi morfologi dari sebuah kota dimana indikator terbesar yang mempengaruhi morfologi dari sebuah kota yaitu morfologi jalan. Jadi dengan memantau morfologi jalan akan ditemukan pengaruhnya terhadap perkembangan fisik dari suatu kota. Area penelitian dilakukan di Kecamatan Mijen yang merupakan bagian dari Kota Semarang.Analisis morfologi jalan ini dilakukan dengan metode digitasi citra satelit resolusi tinggi dan melakukan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Digitasi dilakukan di atas citra satelit Quickbird dengan resolusi 0,6 meter dengan multitemporal tahun 2005 dan tahun 2015. Jalan yang didigitasi adalah kelas jalan arteri sekunder, kolektor primer, kolektor sekunder dan jalan lokal. Hasil digitasi ini selanjutnya akan dilakukan perhitungan jumlah keseluruhan panjang jalan di tahun 2005 dan tahun 2015 sehingga diketahui besar pertumbuhan panjang jalan dari tahun 2005 hingga 2015. Selanjutnya akan dilakukan analisis spasial untuk mengidentifikasi morfologi jalan, korelasi pertumbuhan jalan dengan pertumbuhan tata ruang serta melalui analisis statistik spasial dengan cara Standard Deviational Ellipse diperoleh arah pertumbuhan jalan dari Kecamatan Mijen.Dari hasil digitasi jalan yang dilakukan diperoleh nilai pertumbuhan jalan Kecamatan Mijen dari tahun 2005 hingga 2015 sebesar 33.709,507 meter atau sebesar 33,709 kilometer dimana nilai ini merupakan total dari panjang jalan untuk semua kelas yang didigitasi. Morfologi jalan yang terdapat di Kecamatan Mijen adalah morfologi jalan tidak beraturan dan morfologi jalan grid. Pertumbuhan jalan di Kecamatan Mijen mengarah ke arah utara dimana dibagian utara terdapat kawasan perumahan Bukit Semarang Baru yang banyak melakukan pembangunan jalan.Kata Kunci: Analisis Spasial, Digitasi, Morfologi Jalan, Standard Deviational Ellipse. ABSTRACT A region will certainly has the dynamics and growth over time which affect the growth physically. This physical growth affected the city morphology where the biggest indicator which affect the morphology of a city is the layout of streets. So, by monitoring the layout of streets will be founded effects in physical development of a city. Research area conducted in the District Mijen which is part of Semarang city.The layout of the streets monitored by digitize high-resolution satellite imagery and perform spatial analysis based on Geographic Information System (GIS). Digitization had done over the Quickbird satellite imagery with a resolution of 0.6 meters with multitemporal 2005 and 2015. The road which in digitized is a class of secondary arterial roads, primary collector, secondary collectors and local roads. The result of this digitization will be calculating the amount of the entire length of the road in 2005 and 2015 so that the growth of the road from 2005 to 2015 will be found. Furthermore, spatial analysis will be conducted to identify the layout of the streets. The growth of the road correlation with the growth of spatial and through the statistical analysis, by using Standard Deviational Ellipse we will find the direction of the growth of the District Mijen.From the digitation, we find the growth rate from 2005 to 2015 amounted to 33.709.507 meter or a total of 33,709 kilometers where this value is the total ength for all classes in digitization. The layout of streets that founded in District Mijen are irregular morphology and grid morphology. The growth of the roads in District Mijen leading towards the north where in northern area there is a residential area of Bukit Baru Semarang which doing a lot of road construction.Keywords: Digitizing, Layout of Streets, Spatial Analysis, Standard Deviational Ellipse.
ANALISIS DEFORMASI SESAR KALIGARANG MENGGUNAKAN METODE DINSAR DAN GEOMORFOLOGI TAHUN 2007-2008 Syachril Warasambi Mispaki; Yudo Prasetyo; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.172 KB)

Abstract

ABSTRAKSemarang adalah salah satu kota yang padat di Jawa Tengah, dengan jumlah penduduk  mencapai 1.739.989 jiwa dan luas wilayahnya 373,70 km2. Kota Semarang sendiri terbagi dua daerah yaitu daerah bawah dengan karakteristik berupa dataran rendah sampai pantai dan daerah atas berupa dataran tinggi perbukitan. Menjadi menarik selain memiliki dua tipe daerah yang berbeda Semarang juga memiliki sesar, salah satunya sesar Kaligarang. Posisi sungai Kaligarang sendiri membelah pada arah hampir utara-selatan kota Semarang. Dampak adanya sesar Kaligarang dapat dilihat dibeberapa tempat seperti jalan yang ambles didaerah UNIKA Semarang dan rumah penduduk yang bergeser didaerah desa Tinjomoyo.Pada penelitian ini digunakan beberapa metode yaitu InSAR, DinSAR dan pengamatan geomorfologi  ketiga teknik tersebut digunakan untuk melakukan identifikasi dan estimasi area sesar yang mengalami deformasi. Pemilihan penggunakan teknik  penginderaan jauh (inderaja) dikarenakan  memiliki kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap kawasan yang luas dengan waktu yang cepat. Data yang digunakan pada penelitian ini berupa  tiga citra ALOS PALSAR level 1.0 yang diakuisisi pada tanggal 8 juni 2007, 26 Juli 2008, dan 10 Sepetember 2009. Selain ketiga citra ALOS PALSAR tadi, juga digunakan data DEM SRTM versi 4, digunakan untuk koreksi topografi.  Penggunaan ketiga metode yang sudah disebutkan sebelumnya memiliki fungsi yang berbeda. Untuk metode InSAR digunakan untuk pembentukan model dijital dari kota Semarang. Setelah mendapatkan model tinggi dijitan kota Semarang, bisa dilakukan proses identifikasi letak, panjang, lebar dan luasan sesar Kaligarang menggunakan metode geomorfologi. Hasil dari identifikasi tersebut dapat dihitung laju deformasinya menggunakan metode DinSAR, dengan menggunakan metode DinSAR bisa dilakukan estimasi pergerakan sesar Kaligarang. Dari hasil metode DinSAR dihasilkan laju penurunan tanah antara 3 cm sampai 11 cm. Untuk mengetahui kebenaran pengukuran menggunakan metode DinSAR, dilakukan dengan validasi penurunan yang diukur menggunakan GPS. Setelah melakukan validasi didapat simpangan baku sebesar 3,073 cm. Untuk mengetahui jenis sesar dan arah sesar dilakukan dengan metode geomorfologi dan dari hasil kajian geomorfologi didapat sesar kaligarang merupakan sesar aktif yang termasuk jenis sesar geser menganan.Pada penelitian ini dapat disimpulkan tentang laju penurunan deformasi sesar Kaligarang berkisar dari 3 cm sampai 11 cm dan didapat jenis sesar Kaligarang adalah sesar geser menganan. Hal tersebut menjadikan penelitian ini  penting, penelitian ini bisa digunakan sebagai tindakan awal mitigasi bencana didaerah sekitar sesar Kaligarang.Kata kunci: Semarang, Deformasi, Sesar, InSAR, DinSAR, Geomorfologi. ABSTRACTSemarang is one of the densely populated city in Central Java which is has a dense population arounds 1,739,989 inhabitants in a total area of 373,70 km2. In geographic composition, Semarang city has two major area characteristic where is a lowlands area dominated with a coastal area and the plateu area lies on highland hills. Also Semarang city has also has a Kaligarang fault where is lie in Kaligarang River. The position of Kaligarang river itself divides  in the direction nearly north-south city of Semarang. The impact of the fault Kaligarang can be seen in several places such as a land subsidence phenomenon in Tinjomoyo village area such as several house destruction.In this research, we have used several methods and observations such as InSAR, DinSAR and geomorphology where is this techniques used to identify the fault area and estimate Kaligarang’s fault movement velocity. Selection of the use of remote sensing techniques due to the ability to conduct an assessment of a large region with a fast time. The data used in this study of three ALOS PALSAR level 1.0 which was acquired on June 8, 2007, July 26, 2008, and 10 of September 2009. Besides that third ALOS PALSAR earlier, also used data of SRTM DEM  4th version, is used for the correction of the topography. The use of the three methods already mentioned earlier have different functions. For the InSAR method used for the establishment of a digital model in Semarang. After getting high models digital city of Semarang, the identification process can be done layout, length, width and area of the fault Kaligarang using geomorphology. Results of such identification can be calculated using the rate of deformation DinSAR method, by using the method of estimation can be done DinSAR Kaligarang fault movement. From the result generated DinSAR method of land subsidence rate between 3 cm to 11 cm.  To know the truth measurement that used DinSAR method, is performed with the decline of validation that measured using GPS. After validating obtained standard deviation of 3,073 cm. To determine the type of fault and the fault direction is donethe method of geomorphology nd the results obtined fault geomorphology study kaligarang an active fault that include type of fault strike slip fault.In this study, the rate of decline can be conclude that Kaligarang fault deformation range from 3 cm to 11 cm obtined the type of fault is a strike slip fault. It makes this study is  important, this study could be used as an initial action on disaster mitigation in the area surrounding the fault Kaligarang.Keywords: DEM, DInSAR, InSAR, Kaligarang Fault, Land Subsidence*) Penulis, Pananggung jawab
Analysis of Built-up Land Spatial Patterns Using Multitemporal Satellite Imagery in Pekalongan City Nurhadi Bashit; Yudo Prasetyo; Abdi Sukmono
Journal of Applied Geospatial Information Vol 4 No 2 (2020): Journal of Applied Geospatial Information (JAGI)
Publisher : Politeknik Negeri Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5.281 KB) | DOI: 10.30871/jagi.v4i2.2014

Abstract

Regional growth is characterized by an increase in built-up land. An increase in built-up land can cause changes in land use such as vacant land turned into built-up land. One of the cities in Central Java that experienced an increase in built-up land was in the City of Pekalongan. Based on Pekalongan City Regulation Number 30 Year 2011, the National Spatial Planning stipulates that Pekalongan City is the Regional Activity Center. This causes the Pekalongan City to have the potential to increase the amount of built-up land. An increase in uncontrolled built-up land can cause negative impacts such as reduced water catchment areas so that the disruption of water resources conditions. Therefore, it is necessary to monitor the increase of built-up land in Pekalongan City and see its development spatial patterns. One of method for monitoring a city's built-up land uses the remote sensing method. This study uses an Index-based Built-up Index (IBI) algorithm. Based on the results of this study, it can be concluded that the city of Pekalongan experienced an increase in built-up land between 2013 and 2019. The largest increase in built-up land is in the range of 2017 to 2019 with an area of increase of 359.088 ha so that it can be obtained the speed of increase of built-up land by 170.544 ha/year. The spatial pattern of built-up land increased in 2017 to 2019 heading south because South Pekalongan Regency has a toll road that connects the main road with the toll road.
STATE-OF-ART KONSERVASI BANGUNAN DAN CAGAR BUDAYA MELALUI PEMBENTUKAN MODEL 3 DIMENSI BERBASIS TEKNIK FOTOGRAMMETRI RENTANG DEKAT Yudo Prasetyo
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 1, No 02 (2018): Volume 01 Issue 02 Year 2018
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.163 KB) | DOI: 10.14710/elipsoida.2018.3698

Abstract

Pada umumnya bangunan bersejarah dan cagar budaya yang berada di permukaan bumi sebagian besar merupakan objek tiga dimensi yang belum terdokumentasi dengan baik. Oleh karena itu pembentukan data dasar 3D yang digunakan untuk melakukan pemodelan objek tiga dimensi harus memiliki tingkat ketelitian yang baik dan geometri yang baik juga. Pada penelitian ini, dipaparkan pendekatan state-of-art dari metode-metode yang digunakan didalam pembentukan dokumentasi 3D untuk konservasi dan dokumentasi bangunan yaitu melalui penerapan metode fotogrammetri jarak dekat yang menggunakan kamera digital non metrik, Terrestrial Laser Scanner (TLS) dan Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Untuk tahapan pelaksanaan penelitian terbagi atas tahapan kalibrasi kamera, pemotretan objek dan pengolahan model 3 dimensi. Untuk konsep akuisi data dibutuhkan proses kalibrasi yang direkomendasikan memenuhi angka 80% sebagai syarat kalibrasi peralatan survey. Untuk pengambilan data foto dilapangan dilakukan sebanyak mungkin akuisisi dengan pertampalan antar obyek berkisar minimal 60%-80% dan pengolahan data pada penelitian ini menggunakan perangkat lunak 3D seperti PhotoModeler Scanner dan Summit Evolution. Untuk validasi hasil pembentukan model 3D dapat menggunkan nilai perbandingan uji statistik titik geometrik dengan peralatan survey Electronic Total Station (ETS). Tahap pemodelan bangunan terdiri dari Automated Project, proses hitungan dan pembuatan model 3D, transformasi koordinat 3D, visualisasi model 3D dan analisis statistik sebaran titik-titik geometrik. Hasil akhir dalam penelitian ini adalah model tiga dimensi bangunan yang telah melalui proses pengujian perbandingan jarak yang diikatkan dari  pengukuran ETS dan dianalisis lebih lanjut untuk nilai standar deviasi dari perbandingan jaraknya.
KAJIAN PERUBAHAN POLA KAWASAN TERBANGUN BERDASARKAN METODE INDEX-BASED BUILT-UP INDEX (IBI) DI JAKARTA UTARA Yudo Prasetyo; Nurhadi Bashit; Bandi Sasmito
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 3, No 02 (2020): Volume 03 Issue 02 Year 2020
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/elipsoida.2020.9198

Abstract

Kota Jakarta Utara merupakan bagian dari propinsi DKI Jakarta memiliki permasalahan berkaitan dengan penurunan muka tanah. Permasalahan tersebut disebabkan oleh banyaknya pembangunan yang berakibat semakin padatnya jumlah bangunan menjadi beban terhadap daya dukung tanah pada lingkungan di Jakarta yang mana sebagian besar wilayahnya adalah alluvial. Dikutip dari BPS Kota Jakarta Utara realisasi perizinan IMB mencatatkan dari tahun 2016 hingga 2018 berjumlah 5.862 bangunan, jumlah tersebut hanya bangunan non tempat tinggal. Kemudian, untuk mengetahui perubahan kawasan terbangun digunakan citra Sentinel 2 dari tahun 2016 hingga 2019 melalui proses klasifikasi bangunan dengan algoritma Index-based Built-up Index (IBI). Algoritma IBI merupakan kombinasi dari 3 algoritma yaitu, Normalized Difference Built-up Index (NDBI), Soil Adjusted Vegetation Index (SAVI) dan Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI). Kemudian, hasil dari metode IBI perubahan lahan terbangun dengan total seluas 228 hektar/tahun, sementara perubahan kelurahan terluas di Marunda seluas 57 hektar/tahun dan terkecil di Kelurahan Pekoja seluas 0,01 hektar/tahun, korelasi keduanya menunjukkan berkorelasi kuat 32%, 44% berkorelasi lemah dan 24 % diantara keduanya tidak berkorelasi. Pemanfaatan penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam rencana pembangunan di Kota Jakarta Utara juga sebagai mitigasi penurunan muka tanah.
KAJIAN PERKEMBANGAN LAHAN TERBANGUN KOTA PEKALONGAN MENGGUNAKAN METODE URBAN INDEX (UI) Nurhadi Bashit; Yudo Prasetyo; Abdi Sukmono
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 2, No 02 (2019): Volume 02 Issue 02 Year 2019
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.164 KB) | DOI: 10.14710/elipsoida.2019.6440

Abstract

Indonesia merupakan negara berkembang yang mengalami peningkatan pembangunan di wilayah perkotaan sehingga dapat dilihat berdasarkan perubahan fisik perkotaan. Perkembangan pembangunan dapat menyebabkan perubahan penggunaan lahan dari lahan kosong menjadi lahan terbangun. Perubahan lahan terbangun merupakan hal yang umum terjadi di perkotaan karena pertumbuhan jumlah penduduk. Peningkatan lahan terbangun dan menurunnya lahan terbuka hijau dapat menyebabkan dampak perubahan fungsi lahan. Perubahan fungsi lahan memberikan dampak pada perubahan tatanan lingkungan berupa menurunnya kualitas lingkungan, degradasi lingkungan/kerusakan lingkungan serta berkurangnya sumber daya alam maupun perubahan tata guna lahan jika pembangunan dilakukan secara tidak teratur. Berdasarkan permasalahan tersebut, artikel ini melakukan kajian mengenai perkembangan lahan terbangun Kota Pekalongan. Perkembangan lahan dilakukan pemantauan untuk mendeteksi perkembangan lahan terbangun pada setiap kecamatan dan penyebabnya. Pemantauan lahan terbangun pada artikel ini menggunakan metode pengindraan jauh dari data citra satelit. Metode pengindraan jauh memiliki kelebihan dibandingkan pemetaan secara konvensional (survei lapangan) karena data citra satelit memperlihatkan kondisi permukaan bumi tanpa mendatangi keseluruhan lokasi sehingga mempercepat pemetaan suatu wilayah. Klasifikasi lahan terbangun Kota Pekalongan dilakukan secara otomatis menggunakan metode Urban Index (UI). Transformasi UI menggunakan saluran Near Infrared (NIR) dan Short Wave Infrared II (SWIR-II). Klasifikasi dilakukan secara multitemporal sehingga dapat dilakukan kajian mengenai lahan terbangun di Kota Pekalongan setiap 2 tahun dari tahun 2013 hingga 2019. Penelitian ini menghasilkan klasifikasi lahan terbangun dengan luas pada tahun 2013 sebesar 2.030,708 ha, tahun 2015 sebesar 2.054,752 ha, tahun 2017 sebesar 2.227,835 ha, tahun 2019 sebesar 2.503,603 ha. Perkembangan lahan terbangun Kota Pekalongan tersebesar terdapat di Kecamatan Pekalongan Utara sebesar 175,525 ha yang disebabkan karena pembangunan pusat perbelanjaan, perkantoran, pemukiman dan jaring jalan.
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Adito Maulana Adrian, Faizal Ibnu ADYVICTURA TINAMBUNAN Agree Isnasatrianto Ahmad Iqbal Maulana Lubis Aji, Bernardinus Joko Prakosta Santu Alfian Adi Atmaja Alfonsus Bima Samudra Alvatara Partogi Hutagalung Alvian Danu Wicaksono An Nisa Tri Rahmawati Anang Ikhwandito Andri Suprayogi Anggoro Pratomo Adi Annisa Apriliani Annisa Octaviana ARDI SETYO PRATOMO Ari Setiani Arief Laila Nugraha Ariescha Eko Yuniarto Arif Rahman Arwan Putra Wijaya Aryasatya, Muhammad Farhan Atina Qothrunnada Salsabila Azeriansyah, Reyhan Baharudin, Irfan Bahtiar Ibnu Lonita Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bernard Ray Barus Bilal Fadhlurrohman Billy Silaen Bram Ferdinand Saragih chotimah, Saffira noor Dafid Januar Dani Nur Martiana Daud Panji Permana David Jefferson Baris Dede Handoko Delima Canny Valentine Simarmata Deviana Putri Sunarernanda Dicky Nur Krisnha Dinoto, Tjiong, Susilo Dita Ariani Dita Rizki Amliana Dito Seno Aji DIYANAH DIYANAH Dzulvikar, Azfa Ahmad Emeralda Amirul Ariefa Fadlila Ananingtyas, Fadlila Faisal Aldin Faiz Mahbubi Fajriah Lita Pamungkasari Farras Nabilah Fatimah Putri Utami Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Febriyanto, Atri Firman Hadi Fitrah Trikusuma Franstein Kevin J.B Galuh Puteri Saraswati Gantra S.D Hutahaean Gusmiarti, Neni Indah Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hanif Arafah Mustofa Hanum Fadhil Baihaqi Hanum Fadhil Baihaqi Harintaka Harintaka Hestiningsih Hestiningsih Ikhtifari, Muh. Nurshauma Imanuel Sitepu Indah Purwanti Jamilah, Mutiara Kurnia Wisnu Aziz Lanjar Cahyo Pambudi Laode M Sabri Lukman Jundi Fakhri Islam Luluk Dita Shafitri Maliha, Arnetta Tia Nur Marissa Isabella Panggabean Marissa Isabella Panggabean Maylani Daraputri Mazazatu Rosyada Moehammad Awaluddin Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Arizar Hidayat Muhammad Helmi Muhammad Nur Khafidlin Muna, Nailatul Munajat, Thoriq Zein Nabila Rahmawati Nanang Noviantoro Prasetyo Narendra Sava Hanung Naryoko Naryoko Naufal Dwiakram NIRTANTO, ILHAAM CAHYA Nizma Humaidah Noviar Afrizal Wahyuananto Nuardi Dwi Pradipta Nurhadi Bashit Panji Pratama Putra Pran Shiska, Pran Qudriyah, Riska Amirotul Rahmawati, Nabila Ramadhani, Sekar Melati Rendi Aulia Retno Kusumaningrum Rifki Purnama Aji Rina Emelyana Riska Pratiwi Riza Ashar Rizqika, Salsabilla Nurul Sabri, LM Sawitri Subiyanto Setyo Ardy Gunawan Sintauli Manullang Sukamta Sukamta Sukamta Sukmawati Nur Endah Supriadi Sanjaya Purba Syachril Warasambi Mispaki Syaharini, Jay She Tegar Dio Arsadya Rahadian Tengku Oki Al Akbar Theresia Niken Kurnianingsih Thoriq Fajar Setiawan, Thoriq Fajar Ulifatus Sa'diyah Ulinnuha, Ilham Virgus - Arisondang Wahyuddin, Yasser Widi Wicaksono WIWIT PURWANTI Yonanda Simarsoit YULIA SAVIRA RACHMA Zainab Ramadhanis Zia Ul Maksum Zuraidha, Riza Nur