Claim Missing Document
Check
Articles

PEMODELAN MODEL 3D MENGGUNAKAN METODE TLS (TERRESTRIAL LASER SCANNER) (STUDI KASUS : CANDI PLAOSAN LOR, KABUPATEN KLATEN) Nabila Rahmawati; Yudo Prasetyo; firman Hadi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Candi Plaosan merupakan cagar budaya yang menjadi salah satu detinasi wisatawan untuk berkunjung saat berada di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Guna mempertahankan dan melestarikan candi, dibutuhkan generasi penerus yang paham akan Candi. Kendati hal itu, untuk tetap menjaga dan melestarikan Candi tersebut diperlukan langkah rekonstruksi dan konservasi. Hal ini dapat dilakukan dengan pendokumntasikan 3D Candi secara digtal. Salah satu jalan keluar yang ditawarkan oleh teknologi kini adalah pemodelan 3D dengan wahana TLS. TLS dipilih karena perkembangannya yang lebih baik jika di bandingkan dengan pemodelan mebggunakan UAV (Bernard Ray, 2017)TLS melakukan 11 kali perekaman data mengelilingi objek Candi Plaosan. Proses perekaman data dilakukan dengan bantuan BLK seris 360. Setelah data didapatkan, kemudian melakukan registrasi dengan bantuan registrasi software Autodesk RecapPro. Tahap selanjutnya adalah pemodelan 3D pada software CloudCompare dengan metode Poisson Surface Reconstruction. Model 3D yang dihasilkan dianalisis dengan mengganakan standar kualitas Level of Detail (LoD) yang dikembangkan oleh City Geography Markup Language (CityGML) menurut Biljecki, et al. (2016).Penelitian ini menghasilkan nilai registrasi point cloud pada overlap dengan nilai rata-rata 20.2 %, balance dengan nilai rata-rata 7.6%, dan points dngean nilai rata-rata 95.3%. Model 3D yang tercipta dari proses Poisson Surface Reconstruction data TLS menghasilakn. 12.959.390 faces. Hasil uji kualitatif model menggunakan 5 sampel bagian yang dimiliki model 3D dan kenampakan pada lapangan tingkat kedetailan model 3D yang dihasilkan oleh TLS memiliki tangka kedetilan pada LoD3.1.
IDENTIFIKASI MANIFESTASI PANAS BUMI DENGAN MEMANFAATKAN KANAL THERMAL PADA CITRA LANDSAT (Studi Kasus : Kawasan Dieng) Bram Ferdinand Saragih; Yudo Prasetyo; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.709 KB)

Abstract

ABSTRAKIndonesia merupakan salah satu negara yang masih menggunakan sumber energi fosil sebagai sumber energi utama. Namun ketersediaan sumber energi fosil tersebut pastinya akan habis bila digunakan terus menerus. Selain sumber energi fosil yang melimpah, Indonesia juga dianugrahi sumber energi baru dan terbarukan. Sumber energi tersebut seperti air, panas bumi, biomassa, surya, angin, hingga uranium. Panas bumi yang ada di Indonesia diperkirakan menjadi yang terbesar ketiga di dunia. Hal tersebut erat kaitannya dengan posisi Indonesia dalam kerangka tektonik dunia. Dataran tinggi Dieng merupakan sebuah komplek gunung berapi, berbentuk dataran luas dengan panjang kurang lebih 14 km, lebar 6 km dan memanjang dari arah Barat Daya – Tenggara. Ketersediaan energi panas bumi tidak lepas dengan penampakan manifestasi yang ada dipermukaan. Manifestasi panas bumi dipermukaan berupa solfatar, fumarol, tanah beruap panas, sinter silika dan alterasi hidrotermal. Semua manifestasi permukaan tersebut memiliki suhu yang relatif lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya. Metode penginderaan jauh sangat efektif dalam menemukan manifestasi panas bumi mengingat daerah penelitian mencakup wilayah yang cukup luas. Hasil pengolahan citra landsat kanal termal akan menghasilkan titik – titik panas yang menunjukkan keberadaan manifestasi panas. Namun titik – titik panas yang didapat tidak semua merupakan manifestasi panas bumi. Oleh karena itu perlu dilakukan pemisahan titik panas yang berupa manifestasi panas bumi dan yang bukan merupakan manifestasi panas bumi.Hasil pengolahan citra landsat pada penelitian ini menunjukkan suhu terendah 11,180 0C pada citra landsat tahun 2006 dan suhu tertinggi 39,671 0C pada citra landsat tahun 2014. Rentang suhu manifestasi panas bumi yang terekam pada penelitian ini berada pada suhu 25,271 0C sampai dengan 39,671 0C. Ditinjau dari tingkat konsistensi penampakan panas manifestasi panas bumi pada penelitian ini maka manifestasi yang secara konstan menunjukkan produksi panas adalah Kawah Sileri dan Kawah Condrodimuko. Luas manifestasi yang terdeteksi oleh citra landsat lebih luas dari 30 m x 30 m sesuai dengan resolusi spasial kanal termal citra landsat. Kata Kunci : Manifestasi, Landsat, Penginderaan Jauh, Panas Bumi, Titik Panas.ABSTRACT          Indonesia is one country that still uses fossil energy sources as a primary energy source. However, the availability of fossil energy sources is surely will be depleted when used continuously.In addition to the abundant fossil energy sources, Indonesia is also gifted new and renewable energy sources. The energy sources such as water, geothermal, biomass, solar, wind, up to uranium. Geothermal energy in Indonesia is estimated to be the third largest in the world. It is closely related to the position of Indonesia in the tectonic framework of the world. Dieng Plateau is a complex of volcanoes, vast plains shaped with a length of approximately 14 km, 6 km wide and extends from the Southwestern - Southeast. The availability of geothermal energy is not separated by a manifestations exist on the surface. Surface geothermal manifestations such as solfatar, fumaroles, hot steamy soil, silica sinter and hydrothermal alteration. All the manifestations of the surface has a relatively higher temperature then the surrounding environment.             Remote sensing method is very effective in finding geothermal manifestations considering the research area covering a large area. Landsat image processing result of thermal band will generate hot spots that indicates the exist of geothermal manifestations. But the hot spots that gained are not all as  geothermal manifestations. Therefore it needs separation of the hot spots in the form of geothermal manifestations and not a manifestation of geothermal.             Landsat image processing results in this research showed the lowest temperature is 11,180 0C on Landsat imagery in 2006 and the highest temperature is 39,671 0C on Landsat imagery in 2014. The  temperature range of geothermal manifestation which is recorded in this research is at 25,271 0C up to 39,671 0C. According to the level of consistency hot sightings from  geothermal manifestations in this research, the manifestations of which are constantly showing the heat production is Sileri Crater and Condrodimuko Crater. Size manifestation that was detected by Landsat imagery wider than 30 m x 30 m in accordance with a spatial resolution of thermal band Landsat image.Keywords : Geothermal, Hot Spot, Manifestation, Landsat, Remote Sensing.*)Penulis, Penanggung Jawab
ANALISIS SEBARAN SUHU PERMUKAAN LAUT, KLOROFIL-A, DAN ANGIN TERHADAP FENOMENA UPWELLING DI PERAIRAN PULAU BURU DAN SERAM Theresia Niken Kurnianingsih; Bandi Sasmito; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1314.44 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Indonesia merupakan negara kepulauan karena wilayah lautnya lebih luas dibanding darat, sehingga berpotensi sebagai daerah penghasil sumber daya ikan laut. Kondisi permukaan laut selalu berubah setiap waktu sehingga membutuhkan data citra Aqua MODIS dan Quickscat untuk memberikan informasi secara temporal. Sensor MODIS dapat mengukur kandungan klorofil-a dan suhu permukaan laut (SPL) sebagai parameter utama upwelling. Sensor QuickScat dapat mengukur arah dan kecepatan angin sebagai parameter pendukung upwelling dan data sebaran ikan untuk membuktikan parameter upwelling mempengaruhi potensi dan tangkapan ikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil analisis sebaran suhu permukaan laut, klorofil-a dan angin terhadap fenomena upwelling di perairan Pulau Buru dan Seram. Metode pengolahan data citra Aqua MODIS dan QuickScat menggunakan bahasa pemograman yang dibangun untuk mendapatkan nilai secara klimatologi dari tahun 2003-2015 dari parameter upwelling yaitu SPL, klorofil-a dan angin. Data hasil klimatologi selanjutnya dianalisis secara spasial dan statistika sehingga dapat mengetahui hubungan antar parameter upwelling untuk mendapatkan peta tematik sebaran SPL dan klorofil-a pada saat terjadi fenomena upwelling.          Hasil hubungan antar parameter SPL dan klorofil-a mempunyai korelasi sempurna mengikuti pola yang tidak searah artinya SPL tinggi maka klorofil-a rendah. Kecepatan angin mengikuti pola klorofil-a yang searah artinya klorofil-a tinggi maka kecepatan angin tinggi. Hubungan yang sempurna setiap parameter di perairan Pulau Buru dan Seram mendapatkan titik puncak upwelling di bulan Agustus. Bulan Agustus terjadi upwelling yang sangat kuat dengan SPL 26,703°C, kandungan klorofil-a 0,474 dan kecepatan angin 6,680 m/s.Kata Kunci : Aqua MODIS, Quickscat, suhu permukaan laut (SPL), klorofil-a, upwelling ABSTRACT Indonesia is known as an archipelago country due to it's ocean is larger than the land. So that Indonesia become a potential producer of marine fish resources. The condition of the sea surface can be changeable anytime and requires imagery data Aqua Modis and Quickscat to provide information temporally. MODIS sensor can measure the consentration of chlorophyll-a and the sea surface temperature as the main upwelling parameter. While Quickscat sensor can measure the wind speed and direction as a support upwelling parameter and fish distribution data. This can be a prove of upwelling parameters affecting the potential and catch of fish.This research is conduct to determine the analysis of the distribution sea surface temperature, chlorophyll-a and the wind towards the upwelling phenomena in the sea of Buru and Seram island. The method imagery data processing of Aqua Modis and Quickscat used programming language which is based on upwelling parameters there are sea surface temperature, chloropyll-a, and the wind, to get the value in climatology from 2003 until 2015. Then the result of climatology is being analyzed in spatial and stastistical, so that can be determine the relations from each upwelling parameters to get the thematic maps of sea surface temperature and chlorophyll-a in the moment of  upwelling phenomenon.The result from each parameters of sea surface temperature and chlorophyll-a have perfect correlations following pattern that is not unidirectional if the sea surface temperature is high then chlorophyll-a will be low. Whereas the wind speed is following unidirectional pattern of chlorophyll-a, which mean if chlorophyll-a is high, the wind speed will be high too. A perfect relations from each parameters in Buru and Seram island's sea get the highpoint of upwelling in August. Due to the strong upwelling occured in August with sea surface temperature is 26,703°C, chlorophyll-a 0,474 , and the wind speed is 6,680 m/s. Keywords:  Aqua MODIS, Chlorophyll-a, QuickScat, Sea Surface Temperature, Upwelling.
ANALISIS KORELASI PERUBAHAN POLA KAWASAN TERBANGUN TERHADAP PENURUNAN MUKA TANAH MENGGUNAKAN METODE INDEX-BASED BUILT-UP INDEX (IBI) DAN DINSAR (STUDI KASUS : KOTA JAKARTA UTARA) Emeralda Amirul Ariefa; Yudo Prasetyo; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.527 KB)

Abstract

ABSTRAK Kota Jakarta Utara merupakan bagian dari propinsi DKI Jakarta memiliki permasalahan berkaitan dengan penurunan muka tanah. Permasalahan tersebut disebabkan oleh banyaknya pembangunan yang berakibat semakin padatnya jumlah bangunan menjadi beban terhadap daya dukung tanah pada lingkungan di Jakarta yang mana sebagian besar jenis tanah wilayahnya adalah alluvial. Dikutip dari BPS Kota Jakarta Utara realisasi perizinan IMB mencatatkan dari tahun 2016 hingga 2018 berjumlah 5.862 bangunan, jumlah tersebut hanya bangunan non tempat tinggal. Penelitian ini menggunakan citra Sentinel 1 pada tahun 2016 hingga 2019 dengan metode Differential Interferometric Synthetic Aperture Radar (DInSAR). Kemudian, untuk mengetahui perubahan kawasan terbangun digunakan citra Sentinel 2 melalui proses klasifikasi bangunan dengan algoritma Index-based Built-up Index (IBI). Algoritma IBI merupakan kombinasi dari 3 algoritma yaitu, Normalized Difference Built-up Index (NDBI), Soil Adjusted Vegetation Index (SAVI) dan Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI).  Hasil dari penelitian ini berupa peta perubahan kawasan terbangun, peta penurunan muka tanah dan korelasi keduanya pada tahun 2016 hingga 2019. Hasil metode DInSAR didapati penurunan muka tanah yang terjadi di Kota Jakarta Utara memiliki rata-rata sebesar -11 cm/tahun, sementara penurunan muka tanah terbesar -15,6 cm/tahun dan terkecil pada nilai -4,6 cm/tahun. Kemudian, hasil dari metode IBI perubahan lahan terbangun dengan total seluas 228 hektar/tahun, sementara perubahan kelurahan terluas di Marunda seluas 57 hektar/tahun dan terkecil di Kelurahan Pekoja seluas 0,01 hektar/tahun, korelasi keduanya menunjukkan berkorelasi kuat 32%, 44% berkorelasi sedang dan 24 % diantara keduanya berkorelasi lemah. Pemanfaatan penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam rencana pembangunan di Kota Jakarta Utara juga sebagai mitigasi penurunan muka tanah. Kata Kunci : DInSAR, IBI, Jakarta Utara, MNDWI, NDBI, dan SAVI. ABSTRACT North Jakarta City is a part of DKI Jakarta province which has problems related to land subsidence. This problem is caused by the large number of buildings developments that results in the increasing density of buildings being a burden on the carrying capacity of land in the environment in Jakarta, where most of the area is alluvial type of soil. Quoted from BPS North Jakarta City, the realization of IMB licensing recorded from 2016 to 2018 amounted to 5.862 buildings, the number was only non-residential buildings.The research of deformation measurements in an area using Sentinel 1 imagery in 2016 to 2019 using Differential Interferometric Synthetic Aperture Radar (DInSAR). Then, to find out the change in the built area,  with Sentinel 2 goes through the building classification process with the Index-based Built-up Index (IBI) algorithm. IBI algorithm is a combination of 3 algorithms such as, Normalized Difference Built-up Index (NDBI), Soil Adjusted Vegetation Index (SAVI) and Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI). The results of this study are in the form of a map of changes in the built area, a map of land subsidence and the correlation of both in 2016 to 2019. The results of the DInSAR method found that land subsidence in North Jakarta has an average of -11 cm/year, while. The largest subsidence -15,6 cm/year, smallest subsidence -4,6 cm/year. Then, the results of the IBI method of changing land were built with a total area of 228 hectares/year, while the most change in smallest district state is Marunda was changed 57 hectares/year and the smallest in Pekoja was 0,01 hectares/year, both of DInSAR and IBI result which showed a strong correlation of 32%, 44% were medium correlated and 24% between the two are weak correlated. Utilization of this research can be used as a consideration in development plans in the City of North Jakarta as well as mitigating subsidence. Keywords : DInSAR, IBI, North Jakarta, MNDWI, NDBI, and SAVI.
PEMETAAN KERENTANAN BENCANA GUNUNG BROMO DENGAN CITRA SENTINEL-1 MENGGUNAKAN METODE INTERFEROMETRIC SYNTHETIC APERTURE RADAR (InSAR) Adito Maulana; Yudo Prasetyo; Arwan Putra Wijaya
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1207.672 KB)

Abstract

ABSTRAK                Erupsi gunung berapi adalah bencana alam yang menghasilkan dampak luas terhadap daerah terkena dampak bencana. Kerugian yang dialami dari erupsi gunung berapi tidak sedikit. Ancaman akibat erupsi gunung berapi tersebut dapat diminimalisir dengan pembuatan peta kerentanan bencana pada daerah yang rawan terjadi  erupsi gunung berapi. Gunung Bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif dan terkenal sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia. Peta kerentanan bencana Gunung Bromo sangat diperlukan untuk meminimalisir kerugian yang dapat terjadi di daerah wisata tersebut.                Pemetaan kerentanan bencana Gunung Bromo ini menggunakan teknologi pengindraan jauh dan SIG (sistem informasi geografis). Peta kerentanan dibuat dengan menggunakan parameter kerentanan sosial dan lingkungan yang mengacu pada PERKA BNPB no.2 tahun 2012. Parameter kerentanan digabung lalu dilakukan proses skor dan pembobotan untuk menghasilkan peta kerentanan bencana. Teknologi pengindraan jauh menggunakan citra Sentinel-1 untuk mendapatkan pola aliran lava dari hasil digital elevation model (DEM) yang diperoleh dari proses InSAR. Citra Landsat-8 digunakan untuk mendapatkan tutupan lahan dengan klasifikasi Supervised Maximum Likelihood. Data aliran lava dan tutupan lahan di-overlay untuk menjadi peta kawasan rawan bencana Gunung Bromo.                Penelitian ini menghasilkan peta dengan informasi tingkat kerentanan bencana Gunung Bromo. Tingkat kerentanan rendah seluas 4346,009 hektar (86,018%), tingkat sedang 694,920 hektar (13,754%) dan tingkat tinggi seluas 11,528 hektar (0,228%). Dampak erupsi Gunung Bromo dengan aliran lava dengan radius 25, 50 dan 75 meter tutupan lahan yang paling luas terkena lava erupsi adalah pasir coklat dengan presentase terkena aliran lava dibandingkan dengan tutupan lahan lain mencapai 30%. Kawasan rawan bencana yang paling luas terkena dampak pada radius 0,3 – 2,5 kilometer adalah pasir putih dan radius 2,5 – 5 kilometer adalah pasir coklat. Keandalan peta kerentanan bencana Gunung Bromo dengan acuan penelitian referensi berada pada tingkat andal karena parameter yang digunakan sudah disesuaikan dengan keadaan pada Gunung Bromo yang jarang terdapat pemukiman hingga radius 5 kilometer.                Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada warga, wisatawan dan pemerintah setempat mengenai tingkat kerentanan Gunung Bromo sehingga dapat menjadi referensi untuk meningkatkan kesiapan dan kewaspadaan dalam menghadapi ancaman erupsi Gunung Bromo.Kata Kunci : Gunung Bromo, InSAR, Kerentanan Bencana, Parameter, Supervised  ABSTRACT                Volcanic eruptions is a natural disaster that produces a wide impact on disaster affected areas.The losses suffered from volcanic eruption are not small. The threat  of volcanic eruption can be minimized by making disaster vulnerability maps in areas prone to volcanic eruption. Mount Bromo is a volcano that still active and famous as one of the best tourist destinations in Indonesia. Vulnerability disaster map of Mount Bromo is needed to minimize the losses that can occur in the tourist area of Mount Bromo.                 The vulnerability disaster mapping of Mount Bromo using GIS (geographic information system). The vulnerability map is created using vulnerability parameters of social and enviromental that refers to PERKA BNPB no.2 year 2012. The vulnerability parameters are combined and weighted to produce disaster vulnerability maps. Remote sensing technology using Sentinel-1 imagery to obtain lava flow pattern form digital elevation model (DEM) that obtained from InSAR process. Landsat-8 imagery used to obtain land cover with Supervised Maximum Likelihood classification. Lava flow and land cover data overlay to become a disaster prone map area of Mount Bromo.                 This research produces maps with information of vulnerability level of Mount Bromo. Low vurnerability area of 4346,009 hectare (86,018%), medium area of 694,920 hectare (13,754%) and high level area of 11,528 hectare (0,228%). The impact of eruption of Mount Bromo with lava flows with radius of 25, 50 and 75 meters of the most exposed land cover with lava eruption is brown sand with percentage of exposed  lava flow compared with other land cover reaches 30%. The most disaster-prone areas affected by a radius of 0,3 – 2,5 kilometers are white sand and for a radius 2,5 -5 kilometers is brown sand. reliability of the vulnerability map of Mount Bromo disaster with reference research at a good reliable level because the parameters used are adjusted to the condition on Mount Bromo which is rarely settled up to a radius of 5 kilometers.                This research is expected to provide information to the citizens, tourists and local goverment regarding the vulnerability of Mount Bromo so that it can be a reference to improve the readiness and alertness in facing threat of eruption at Mount Bromo.Keywords: InSAR, Mount Bromo, Parameters, Supervised, Vulnerability Disaster
IDENTIFIKASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK RELOKASI PERMUKIMAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus: Kabupaten Banjarnegara) Daud Panji Permana; Andri Suprayogi; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.459 KB)

Abstract

ABSTRAK Kabupaten Banjarnegara terletak antara 7o12’–7 o 31’ Lintang Selatan dan 109 o 29’- 109 o 45’50” Bujur Timur. Berada pada jalur pegunungan di bagian tengah Provinsi Jawa Tengah sebelah barat yang membujur dari arah barat ke timur. Banjarnegara adalah kabupaten yang memiliki kawasan pegunungan dengan kerawanan tanah bergerak maupun longsor cukup tinggi. Salah satu bencana yang ada adalah tanah begerak. Tanah bergerak yang terjadi di Kabupaten Banjarnegara menyebabkan lumpuhnya perekonomian, kerusakan bangunan, korban jiwa serta kehilangan harta benda. Oleh karena itu, diperlukan diperlukan upaya-upaya yang  komprehensif untuk mengurangi risiko bencana alam, antara lain yaitu dengan melakukan kegiatan mitigasi berupa relokasi.Permukiman yang akan direlokasi adalah permukiman yang terletak pada daerah sangat rentan tanah bergerak dan memiliki daerah yang luas serta tingkat kepadatan yang tinggi. Sedangkan penentuan posisi relokasi yang tepat melibatkan enam parameter kesesuaian lahan permukiman yaitu kerawanan longsor, kelerengan, jenis tanah, penggunaan lahan, hidrogeologi dan aksesibilitas. Penelitian ini menggunakan metode Analitycal Hierarchy Process dalam penentuan nilai bobot tiap parameter yang kemudian dilakukan klasifikasi nilai kesesuaian lahan dengan interval 0-30 sebagai lahan tidak sesuai, 30-70 sebagai lahan kurang sesuai dan >70 adalah lahan sesuai untuk relokasi. Permukiman terdampak bencana tanah bergerak teridentifikasi sejumlah 88 titik dengan total luas sebesar 196 Ha atau 0,114 % dari total luas permukiman di Kabupaten Banjarnegara yang tersebar di bagian utara wilayah Kabupaten Banjarnegara. Sedangkan hasil pengolahan kesesuaian lahan permukiman didapatkan luas lahan dari tiap klasifikasi yaitu tidak sesuai relokasi 8,72% atau 10.019,274 Ha, kurang sesuai relokasi 59,26% atau 68.123,307 Ha dan lahan sesuai relokasi 32,03 % atau 36.816,024 Ha. Lahan pada kelas sesuai merupakan daerah yang akan dijadikan lahan relokasi.Pemilihan posisi relokasi terhadap permukiman terdampak bencana tanah bergerak yaitu dengan melakukan analisis kedekatan antar keduanya yang menghasilkan jarak rata rata perpindahan adalah 1,5 KM, dengan jarak terpendek yaitu 92 meter yang terdapat pada Kecamatan Kalibening dan jarak perpindahan terpanjang adalah titik di Kecamatan Pandanarum dengan sebesar 6,21 KM.
ANALISIS PERUBAHAN NILAI TOTAL SUSPENDED SOLID TAHUN 2016 DAN 2019 MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL 2A (STUDI KASUS : BANJIR KANAL TIMUR, SEMARANG) Annisa Octaviana; Yudo Prasetyo; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.682 KB)

Abstract

ABSTRAK Banjir Kanal Timur merupakan salah satu saluran perairan di Kota Semarang dan merupakan hilir dari Kali Garang, Kali Kreo dan Sungai Kripik yang sumber airnya berasal dari Gunung Ungaran. Pada tahun 2010, pemerintah setempat telah melakukan normalisasi pada Peraian Banjir Kanal Timur. Selanjutnya, untuk mengetahui tingkat sedimen dan pencemaran perairan sungai, dilakukan uji kualitas air di periaran Banjir Kanal Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pencemaran serta perubahan kualitan periarain yang terjadi di perairan BKT, dengan menggunakan Total Suspended Solid(TSS) sebagai parameter indikator kualitas air dalam metode penginderaan.Teknologi penginderaan jauh dapat memudahkan dalam penelitian terkait perairan serta pengambilan keputusan maupun pemantauan kondisi perairan dari waktu ke waktu secara efektif. Penelitian ini menggunaan citra Sentinel-2A pada tahun 2016 dan 2019, untuk mengetahui perubahan kualitas perairan yang terjadi di Banjir Kanal Timur dengan menggunakan metode algoritma TSS C2RCC. Kemudian, untuk mengetahui tingkat pencemaran dilakukan klasifikasi berdasarkan indeks pencemaran dari Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 115 tahun 2003.Hasil dari algoritma C2RCC didapatkan perubahan kandungan TSS yang mengalami penurunan dari tahun 2016 dan 2019 pada daerah muara sungai. Secara analisis regresi, TSS tahun 2016 dan tahun 2019 mengalami perubahan yang signifikan dengan nilai R square sebesar 0,127. Persentase pencemaran memenuhi baku mutu pada tahun 2016 sebesar 85,41% dan meningkat pada tahun 2019 sebesar 90.02% dan persentase tercemar ringan pada tahun 2016 sebesar 14.59% dan menurun pada tahun 2019 sebesar 9.98%. Kata Kunci : Banjir Kanal Timur, Sentinel-2A, Indeks Pencemaran, Total Suspended Solid  ABSTRACT Banjir Kanal Timur is one of the waterways in the city of Semarang which is downstream from the Garang River, Kreo River and the Kripik river whose source of water comes from Uungaran Mountain. In 2010, local governments normalized the Banjir Kanal Timur. Furthermore, to determine the level of sediment and river water pollution, water quality testing was conducted at Banjir Kanal Timur. This study aims to determine the level of pollution as well as changes in the quality of the fairy which occurs in BKT waters, using Total Suspended Solid (TSS) as an indicator of water quality indicators in the sensing method.Remote sensing technology can facilitate the research related to water and effective decision making and monitoring of water conditions from time to time. This study uses the image of Sentinel-2A in 2016 and 2019, to determine changes in water quality that occurred in the East Flood Canal using the TSS C2RCC algorithm. Then, to determine the level of pollution, classification is based on the pollution index from the State Minister for the Environment No. 115 of 2003.Result from the algorithm used, the results of changes in TSS content have increased from 2016 and 2019. In regression analysis, TSS in 2016 and 2019 experienced significant changes with an R square value of 0.127. The percentage of pollution meets the quality standard in 2016 amounted to 85.41% and increased in 2019 by 90.02% and the percentage of light polluted in 2016 amounted to 14.59% and decreased in 2019 by 9.98%. Keywords:Banjir Kanal Timur, Sentinel-2A, Pollution Index, Total Suspended Solid,
ANALISIS PERUBAHAN LUAS DAN KERAPATAN HUTAN MENGGUNAKAN ALGORITMA NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) DAN EVI (Enhanced Vegetation Index) PADA CITRA LANDSAT 7 ETM+ TAHUN 2006, 2009, DAN 2012 (Studi Kasus: Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah) Bahtiar Ibnu Lonita; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.293 KB)

Abstract

ABSTRAKHutan pada dasarnya mempunyai fungsi sebagai penyangga bagi sistem kehidupan, beberapa diantaranya sebagai penyimpaan cadangan air dan oksigen. Saat ini hutan mengalami perubahan yang sangat memprihatinkan dan semakin parah dalam hal kerusakannya. Kerusakan hutan dalam jangka panjang akan mengakibatkan terganggunya ekosistem hutan dan kehidupan yang ada di sekitarnya. Pemantauan hutan secara berkala dapat digunakan untuk menekan laju kerusakan hutan. Teknologi penginderaan jauh memberikan solusi untuk pemantauan hutan dalam skala luas, salah satunya dengan memanfaatkan sensor multispektral pada citra satelit Landat 7 ETM+ dengan berbagai macam algoritma pemrosesan indeks vegetasi. Penelitian ini menggunakan algoritma NDVI dan EVI untuk melakukan pemantauan perubahan hutan dan Kabupaten Kendal sebagai studi kasusnya. Berdasarkan pengolahan data pada periode tahun 2006 sampai tahun 2009 luas hutan Kabupaten Kendal mengalami penurunan baik dari NDVI maupun EVI yaitu sebesar 8.88% untuk NDVI dan 9.12% untuk EVI. Sedangkan pada periode tahun 2009 sampai tahun 2012 luas hutan mengalami kenaikan antara lain 1.25% pada metode NDVI dan 0.48% pada metode EVI. Berdasarkan uji ketelitian yang dilakukan, pada metode NDVI mempunyai tingkat ketelitian sebesar 81,08% sedangkan pada metode EVI mempunyai tingkat ketelitian sebesar 72,97% dalam pemantauan hutan di Kabupaten Kendal. Berdasarkan uji statistik, kedua metode mempunyai korelasi yang sangat kuat dan searah dengan nilai korelasi sebesar 0,997, dan pengujian hipotesis bahwa luas hutan yang didapatkan oleh metode NDVI dan EVI berbeda secara signifikan.Kata Kunci : EVI, Hutan, Indeks Vegetasi, NDVI, dan Penginderaan jauh. ABSTRACTForest basically has a function as a buffer for the living system, some of them as a backup storage of water and oxygen. The forest has been a very alarming change and getting severely damage. Forest destruction in the long term will disrupt in forest ecosystems and the life that exists around it. Regular forest monitoring can be used to reduce the forest destruction. Remote sensing technology provides solution for monitoring forests in wide scale, one of them by utilizing multispectral sensors on Landsat 7 ETM+ satellite imagery with a variety of vegetation index processing algorithms. This study using NDVI and EVI algorithm for monitoring changes in forest and Kendal Regency as a case study. Based on data processing in the period 2006 to 2009 Kendal forest area has decreased from both the NDVI and EVI among 8.88% for NDVI and 9.12% for EVI. Whereas in period from 2009 to 2012 forest area has increased, an estimate 1.25% in the NDVI method and 0.48% in the EVI method. Based on the accuracy test, the NDVI method has accuracy rate of 81.08% and the EVI method has about 72.97% accuracy rate for forest monitoring in Kendal Regency. Based on statistical tests, both methods have a very strong correlation and the direction with the correlation value is 0.997, and testing the hypothesis that wide of forest obtained by the method of NDVI and EVI has a significant difference.Keywords : EVI, Forest, NDVI, Remote Sensing, and Vegetation Index.    *) Penulis PenanggungJawab
IDENTIFIKASI KAWASAN UPWELLING BERDASARKAN VARIABILITAS KLOROFIL-A, SUHU PERMUKAAN LAUT DARI DATA CITRA AQUA MODIS TAHUN 2003-2015 DAN ARUS (Studi Kasus: Perairan Nusa Tenggara Timur) Hestiningsih Hestiningsih; Yudo Prasetyo; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1554.858 KB)

Abstract

ABSTRAKKeberadaan laut Indonesia yang luas dan posisi Indonesia yang strategis menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia sehingga Indonesia memiliki sumber daya alam laut yang sangat potensial, salah satunya yaitu perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mempunyai potensi ikan yang melimpah. Banyaknya potensi ikan tidak lepas dari keberadaan fitoplankton yang dapat diketahui dari kandungan klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut (SPL) melalui teknologi penginderaan jauh dengan memanfaatkan citra aqua MODIS dan didukung dengan arah dan kecepatan angin citra QuickScat di perairan NTT.Metode pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan bahasa pemrograman untuk mengolah data SPL, klorofil-a dan arus dari tahun 2003-2015 sehingga didapatkan pola spasial sebaran SPL, klorofil-a, arah dan kecepatan angin untuk mengidentifikasi fenomena upwelling di perairan NTT yang terbukti kaya akan nutrisi dan banyak mengandung fitoplankton sebagai pakan alami ikan sehingga memberikan banyak pengaruh dalam peningkatan produktivitas ikan di perairan NTT. Pengujian data dilakukan dengan menganalisis spasial sebaran data klorofil-a, SPL dan angin terhadap daerah potensi ikan di perairan NTT.Hasil penelitian ini diperoleh peta sebaran SPL, klorofil-a dan arus secara klimatologi untuk mengetahui sebab akibat fenomena upwelling di perairan NTT. Fenomena upwelling di perairan NTT terjadi pada bulan Mei sampai bulan September. Pada waktu upwelling, nilai sebaran klorofil-a berkisar 0,223-0,413 mg/m3 dengan rata-rata 0,329 mg/m3, sebaran klorofil-a tertinggi pada bulan September. Nilai sebaran SPL berkisar 26,768-28,689 ⁰C dengan rata-rata 27,548 ⁰C, sebaran SPL terendah pada bulan Agustus dan kecepatan angin pada saat upwelling berkisar 3,654-5,351 m/s dengan rata-rata 4,715 m/s, kecepatan angin tertinggi pada bulan Juli. Oleh karena itu, teradi keterlambatan waktu upwelling di perairan NTT.Kata Kunci : Aqua MODIS, Klorofil-a, Penginderaan Jauh, Suhu Permukaan Laut (SPL), Upwelling. ABSTRACTThe existence of Indonesian sea which is widely and strategic becoming Indonesia as the world  maritime axis that is why Indonesia have potential sea natural resources, one of them is East Nusa Tenggara (NTT) where have great fish potential. A lot of  fish potential is related to fitoplankton existence which can know from chlorophyll-a and sea surface temperature by remote sensing with using Aqua MODIS imagery and also complemented with the wind vector and wind velocity from QuickScat Imagery in NTT sea.The data processing method in this research was used IDL to process sea surface temperature, chlorophyll-a and tide from 2013 until 2015, therefore sea surface temperature distribution spatial pattern, chlorophyll-a, vector and speed of wind to identify upwelling phenomenon in NTT sea which proven a lot of nutrition and  a lot of fitoplankton as natural feed for fish therefore it can get impact for rising fish productivity in NTT sea. The test of data is required by analyzed  distribution of clorophyll-a, Sea Surface Temperature (SST) and wind to fish potential area in NTT sea.This research product are sea surface temperature distribution map and tide map, based on climatology this is to know cause and effect of upwelling in NTT sea. Upwelling phenomenon in NTT sea is happened on May until december. When the upwelling happens, chlorophyll-a value is about 0,223 until 0,413 mg/m3with the average is 0,329 mg/m3, the highest distribution of chlorophyll-a is on September. Sea surface temperature value distribution between 26,768-28,689 ⁰C with the average is 27,548 ⁰C, and The lowest distribution is on August and wid speed when upwelling happens is about 3,654-5,351 m/s with the average is 4,715 m/s, The highest wind speed is on July. Therefore, it makes upwelling time late in NTT sea. Keywords : Aqua MODIS, Chlorophyll-a, Remote sensing, Sea Surface Temperature (SST), Upwelling.
PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SIG UNTUK PEMETAAN KAWASAN POTENSI SUMBER PLTS DI PULAU JAWA Rina Emelyana; Bandi Sasmito; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.753 KB)

Abstract

ABSTRAK Peningkatan kepadatan penduduk yang dialami Pulau Jawa sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, sosial dan politik disebabkan oleh persebaran penduduk yang tidak merata.Hal ini menyebabkan melonjaknya kebtuhan-kebutuhan vital, diantaranya yaitu kebutuhan listrik.Energi listrik dengan sumber energi baru dan terbarukan belum mencapai optimalisasi yang tinggi, salah satunya adalah energi surya.Pemetaan potensi sumber PLTS di Pulau Jawa diperlukan untuk mempercepat identifikasi kawasan-kawasan yang berpotensi.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sebaran letak potensi sumber PLTS dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh dan SIG yaitu metode klasifikasi, tumpang tindih, pemberian skor dan bobot setiap parameter.Parameter yang digunakan yaitu akumulasi curah hujan bulanan, rata-rata persebaran awan bulanan, peta klasifikasi suhu permukaaan bumi, peta klasifikasi tata guna lahan dan peta klasifikasi kelerengan.Pada curah hujan dan persebaran awan dilakukan tumpang tindih data raster untuk mendapatkan satu kabupaten di Pulau Jawa yang paling berpotensi.Penetapan sebaran potensi sumber PLTS pada kabupaten terpilih dilakukan pembobotan pada parameter suhu permukaan bumi, tata guna lahan dan kelerengan.Pengelompokan potensi dibagi menjadi empat kelas yaitu berpotensi sangat rendah, berpotensi rendah, berpotensi sedang dan berpotensi tinggi.Berdasarkan hasil klasifikasi curah hujan bulanan dan klasifikasi persebaran awan bulanan diperoleh 4 kabupaten dengan bulan kering dan daerah bebas awan terbanyak yaitu Kabupaten Gresik, Lamongan, Rembang, Sampang.Dengan melihat jumlah curah hujan sebenarnya dari keempat kabupaten tersebut diperoleh bahwa Kabupaten Rembang memiliki jumlah curah hujan terendah dalam satu tahun periode yang ditentukan.Analisis spasial dan penambahan bobot serta skor pada parameter suhu permukaan bumi, tata guna lahan dan kelerengan dilakukan hanya dalam lingkup Kabupaten Rembang.Hasilnya daerah dengan potensi sangat rendah seluas 2.085,153 Ha(2%).Daerah berpotensi rendah seluas 70.877,295 Ha(69%).Daerah berpotensi sedang seluas 3.509,407 Ha(3%).Daerah berpotensi tinggi seluas 27.162,458Ha(26%). Kata Kunci : Klasifikasi, penginderaan jauh, PLTS, SIG, tumpang tindih. ABSTRACT The increasing population density which happened in Java Island as central of government, education, social and politics is caused by inequality distribution of population. Those are led to bump the vital needs, one of them is eletric current. Electric energy wtih the new and renewable resources has not yet reach the optimization, one of them is solar energy. The mapping of solar power energy generator potential is needed for accelerate identification potential areas.The purpose of reasearch is get distribution solar power energy generator location with remote sensing and GIS. The methods which will be used are classification method, overlay, scoring and weighting each parameters. Parameters which is used are monthly rainfall accumulation, monthly average cloud distribution, land surface temperature class map, land use map, and slope map. Determination of solar power energy generator potential on chosen regency is computed by weighting land surface temperature parameter, land use and landslide in 4 classes potential.These classes  were defined very low potential, low potential, medium potential, and high potential.Based on monthly rainfall accumulation and cloud distribution overlay are resulted 4 regencies with drought month and most cloud free area Gresik, Lamongan, Rembang, and Sampang regency. From the rainfall accumulation, Rembang regency is the lowest rainfall accumulation on one year periode. Spatial analysis, weighting addition, and also scoring on land surface temperature, land use and land slide are done only on Rembang regency.  The results are 2,085.153Ha or 2 % very low potential area, 70,877.295 Ha or 69% low potential area, 3,509.407Ha or 3% medium potential area, 27,162.458 Ha or 26% high potential area. Keywords: Classification, GIS, overlay, remote sensing, solar power energy reactor.
Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Adito Maulana ADYVICTURA TINAMBUNAN Agree Isnasatrianto Ahmad Iqbal Maulana Lubis Aji, Bernardinus Joko Prakosta Santu Alfian Adi Atmaja Alfonsus Bima Samudra Alvatara Partogi Hutagalung Alvian Danu Wicaksono An Nisa Tri Rahmawati Anang Ikhwandito Andri Suprayogi Anggoro Pratomo Adi Annisa Apriliani Annisa Octaviana ARDI SETYO PRATOMO Ari Setiani Arief Laila Nugraha Ariescha Eko Yuniarto Arif Rahman Arwan Putra Wijaya Aryasatya, Muhammad Farhan Atina Qothrunnada Salsabila Azeriansyah, Reyhan Bahtiar Ibnu Lonita Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bashit, Nurhadi Bernard Ray Barus Bilal Fadhlurrohman Billy Silaen Bram Ferdinand Saragih chotimah, Saffira noor Dafid Januar Dani Nur Martiana Daud Panji Permana David Jefferson Baris Dede Handoko Delima Canny Valentine Simarmata Deviana Putri Sunarernanda Dicky Nur Krisnha Dinoto, Tjiong, Susilo Dita Ariani Dita Rizki Amliana Dito Seno Aji DIYANAH DIYANAH Dzulvikar, Azfa Ahmad Emeralda Amirul Ariefa Fadlila Ananingtyas, Fadlila Faisal Aldin Faiz Mahbubi Faizal Ibnu Adrian Fajriah Lita Pamungkasari Farras Nabilah Fatimah Putri Utami Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Firman Hadi Fitrah Trikusuma Franstein Kevin J.B Galuh Puteri Saraswati Gantra S.D Hutahaean Gusmiarti, Neni Indah Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu Hani'ah, Hani'ah Haniah Haniah Hanif Arafah Mustofa Hanum Fadhil Baihaqi Hanum Fadhil Baihaqi Harintaka Harintaka Hestiningsih Hestiningsih Ikhtifari, Muh. Nurshauma Imanuel Sitepu Indah Purwanti Irfan Baharudin Jamilah, Mutiara Kurnia Wisnu Aziz Lanjar Cahyo Pambudi Laode M Sabri Lukman Jundi Fakhri Islam Luluk Dita Shafitri Maliha, Arnetta Tia Nur Marissa Isabella Panggabean Marissa Isabella Panggabean Maylani Daraputri Mazazatu Rosyada Moehammad Awaluddin Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Arizar Hidayat Muhammad Helmi Muhammad Nur Khafidlin Muna, Nailatul Nabila Rahmawati Nanang Noviantoro Prasetyo Narendra Sava Hanung Naryoko Naryoko Naufal Dwiakram NIRTANTO, ILHAAM CAHYA Nizma Humaidah Noviar Afrizal Wahyuananto Nuardi Dwi Pradipta Nurhadi Bashit Panji Pratama Putra Pran Shiska, Pran Qudriyah, Riska Amirotul Rahmawati, Nabila Ramadhani, Sekar Melati Rendi Aulia Retno Kusumaningrum Rifki Purnama Aji Rina Emelyana Riska Pratiwi Riza Ashar Rizqika, Salsabilla Nurul Sabri, LM Sawitri Subiyanto Setyo Ardy Gunawan Sintauli Manullang Sukamta Sukamta Sukamta Sukmawati Nur Endah Supriadi Sanjaya Purba Syachril Warasambi Mispaki Syaharini, Jay She Tegar Dio Arsadya Rahadian Tengku Oki Al Akbar Theresia Niken Kurnianingsih Thoriq Fajar Setiawan, Thoriq Fajar Ulifatus Sa'diyah Ulinnuha, Ilham Virgus - Arisondang Wahyuddin, Yasser Widi Wicaksono WIWIT PURWANTI Yonanda Simarsoit YULIA SAVIRA RACHMA Zainab Ramadhanis Zia Ul Maksum Zuraidha, Riza Nur