Claim Missing Document
Check
Articles

SURVEI DEFORMASI DAERAH JEMBATAN PENGGARON DENGAN METODE GPS TAHUN 2018 Siti Fathimah; Bambang Sudarsono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.912 KB)

Abstract

Jembatan Penggaron merupakan salah satu jembatan terpanjang di ruas Jalan Tol Semarang-Solo Seksi I Km.20. Jembatan ini berada pada daerah dengan kondisi tanah yang kurang stabil. Berkaitan dengan kondisi geologi daerah ini maka daerah di sekitar jembatan rawan adanya deformasi. Pengamatan deformasi daerah Jembatan Penggaron perlu dilakukan sebagai bentuk peringatan dini bagi pengelola jembatan. Hasil pengamatan dapat dijadikan bahan evaluasi dalam pemeliharaan dan perawatan jembatan sehingga potensi kerusakan jembatan dapat dikurangi. Pengamatan deformasi pada penelitian tugas akhir ini menggunakan metode pengamatan GPS statik selama tiga periode pengukuran yaitu Maret, Mei dan Juni 2018. Penelitian ini juga menggunakan data hasil pengamatan pada tahun 2015 dan 2016. Semua data kemudian diolah dengan menggunakan software scientific GAMIT 10.7 dengan menggunakan titik ikat global (IGS). Hasil pengolahan data ini akan diketahui besarnya nilai pergerakan titik-titik pengamatan yang berada di sekitar Jembatan Penggaron. Nilai perubahan koordinat kartesian tiga dimensi terbesar pada bulan Juli 2015 sampai dengan Juni 2018 adalah sebagai berikut n: -0,02471 m, e: 0,10821 m dan u: 0,05623 m. Nilai perubahan koordinat terkecil pada bulan Juli 2015 sampai dengan Juni 2018 adalah sebagai berikut n: 0,00123 m, e: -0,00119 m dan u: -0,00088 m. Hasil uji statistik yang dilakukan setelah menghilangkan pengaruh Blok Sunda menyatakan bahwa titik-titik pengamatan di sekitar Jembatan Penggaron tidak mengalami deformasi.
ANALISIS PERSEBARAN MINIMAREKET MODERN BERBASIS SIG ( SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS ) DI KABUPATEN KUDUS Tiara Toyyibatul Arofah; Moehammad Awaluddin; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.407 KB)

Abstract

ABSTRAK       Pertumbuhan minimarket kini semkain tak terkendali, begitu banyak gerai toko minimarket baru yang dibuka pada tiap tahunnya. Walaupun Kabupaten Kudus sudah memiliki peraturan daerah yang mengatur tentang perpasaran swasta, namun pelaksanaannya masih membutuhkan pengawasasn baik dari masyarakat sendiri. Pengawasan dilakukan untuk mendukung peraturan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Kudus. Pada penelitian ini memanfaatkan data koordinat yang didapat dari survey lapangan dengan menggunakan Mobile Topografer. Langkah selanjutnya adalah membuat peta persebaran minimarket dengan menggunakan software SIG. Sedangkan metode yang digunakan pada penelitian ini adalah buffer. Penelitian tugas akhir ini menghasilkan sebuah peta persebaran minimarket yang mengacu pada peraturan pemerintah daerah Kabupaten Kudus No 6 tahun 2013, yang memperoleh hasil minimarkat dengan metode buffer jaraknya kurang dari 500m terhadap pasar tradisional sebagai berikut : Indomaret pasar jember, Alfamart KH.Asnawi, Indomaret KHR.Asnawi, Indomaret Bakti 83, Alfamart Bakti, Indomaret Bakti, Alfamart Jekulo dan Indomaret Jekulo.
ANALISIS DEFORMASI GUNUNG MERAPI TAHUN 2012 DARI DATA PENGAMATAN GPS Andika Rizal Bahlefi; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono; Nurnaning Aisyah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gunung Merapi adalah salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia yang terletak pada koordinat 7°32,5' LS dan 110°26,5' BT. Secara administratif gunung Merapi terletak di Kabupaten Sleman, Provinsi D.I. Yogyakarta dengan ketinggian 2875 meter diatas permukaan air laut. Mengingat gunung Merapi merupakan gunungapi yang memiliki periode erupsi yang sangat cepat yaitu sekitar 4 tahun sekali, maka akan terjadi aktivitas magma yang akan mengakibatkan perubahan deformasi pada tahun 2012 setelah terjadinya letusan tahun 2010.Metode yang digunakan pada penelitian tugas akhir ini adalah metode deformasi dengan menggunakan alat ukur GPS. Karakteristik deformasi yang dikaji meliputi posisi, arah, dan besar pergeseran. Software yang digunakan adalah software scientific GPS GAMIT. Metode pengikatan baseline dengan menggunakan dua titik ikat yang berbeda, yaitu dengan menggunakan titik ikat IGS BAKO dan titik ikat BPTK. Kemudian pendekatan perkiraan pusat tekanan dilakukan dengan  menggunakan model Mogi, karena aplikasinya yang sangat umum, sederhana, dan cukup intrepretatif.Dari kedua pengolahan dengan titik ikat yang berbeda, sama-sama menghasilkan arah pergeseran yang menjauh dari titik pusat tekanan magma sehingga pada gunung Merapi terjadi inflasi pada tahun 2012. Pada pengolahan dengan titik ikat BAKO, arah pergeseran yang dihasilkan cenderung kurang radial dibandingkan dengan menggunakan titik ikat BPTK. Hal ini disebabkan oleh baseline antara titik ikat dengan titik pengamatan yang terlalu jauh. Berdasarkan pengolahan titik ikat BPTK, gunung Merapi Pada bulan Mei sampai Oktober Tahun 2012 terjadi inflasi dengan pergeseran titik pengamatan GPS DELS sebesar 0,01379 m, GPS GRWH sebesar 0,06835 m, dan GPS KLAT sebesar 0,02877 m. Pengolahan dengan titik ikat BPTK dijadikan acuan untuk melakukan perhitungan prediksi kedalaman sumber tekanan magma yang hasilnya berada pada kedalaman ±3.155 m. Kondisi pusat tekanan magma ini masih berada dibawah kantong magma yang mempunyai kedalaman ±2.000 m sampai ±2.500 m.Kata Kunci : Gunung Merapi, Deformasi, Inflasi
ANALISIS BATAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT ANTARA KABUPATEN LOMBOK UTARA, LOMBOK BARAT, LOMBOK TENGAH, DAN LOMBOK TIMUR Juwita Widya Qur’ani; Moehammad Awaluddin; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (823.052 KB)

Abstract

ABSTRAKSesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.76 Tahun 2012, penegasan batas daerah bertujuan untuk menciptakan tertib administrasi pemerintah, memberikan kejelasan dan kepastian hukum terhadap batas wilayah suatu daerah tersebut. Disamping itu, daerah kabupaten/ kota mempunyai wewenang yang lebih luas dalam hal pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan, hal ini sesuai dengan UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, kabupaten/ kota memiliki kewenangan yang penuh untuk mengelola wilayahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan batas pengelolaan wilayah laut Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kabupaten Lombok Timur menggunakan metode kartometrik. Peta dasar yang digunakan berupa peta RBI skala 1:25.000, Citra Satelit Landsat 8 tahun 2018, dan Peta LPI skala 1:50.000. Sebelum dilakukan penarikan batas kabupaten di Pulau Lombok terlebih dahulu dilakukan penentuan batas Provinsi antara Pulau Bali dan Pulau Lombok dan penentuan batas Kabupaten antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Kemudian dilakukan penentuan batas pengelolaan wilayah laut Kabupaten di barat Pulau Lombok, selanjutnya  penentuan batas pengelolaan wilayah laut Kabupaten Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur menggunakan prinsip ekuidistan. Adapun garis dasar yang digunakan adalah garis dasar normal, garis dasar lurus, garis dasar penutup teluk, dan garis dasar kepulauan. Pengolahan data di atas menggunakan software ArcGIS, ENVI, dan AutoCAD. Penentuan batas pengelolaan wilayah laut menggunakan ketiga peta dasar ini menghasilkan titik batas dan luas pengelolaan wilayah laut. Titik-titik batas tersebut digabungkan membentuk garis batas, dan garis batas antar kabupaten yang bersebelahan ini akan membentuk area yang akan dihitung luasnya. Rata-rata luas pengelolaan wilayah laut setiap kabupaten pada peta dasar RBI terhadap peta dasar LPI sebagai acuan sebesar 98%. Sedangkan, rata-rata luas pengelolaan wilayah laut setiap kabupaten pada peta dasar citra satelit Landsat-8 terhadap peta dasar LPI sebagai acuan sebesar 93%.
ANALISIS PERSEBARAN BIDANG TANAH BERDASARKAN PEMANFAATAN TANAH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS : KECAMATAN KEDUNGKANDANG, KOTA MALANG, PROVINSI JAWA TIMUR) Rico Waskito Putro; Sawitri Subiyanto; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1676.57 KB)

Abstract

Soil is the main source of well-being and lives of the people, therefore the use of land and optimum utilization of land. Embodiments of use and optimum utilization of land can be done through the preparation of spatial plans that integrate the principles of sustainable development. Harmonizing with the land use plan should be organized in spatial planning so that every area of soil can provide optimal and sustainable benefits and cultivated in an efficient and balanced while respecting the rights of the people, it will be quickly prepared and organized when available land use maps and large-scale land use. In Article 40 of the National Land Agency Regulation No.. 4 of 2006 regulating the duties and Potential of Sub Soil Thematic Section in the Land Office is preparing a survey, mapping, maintenance and development of thematic mapping, soil potential surveys, maintenance of technical equipment and coaching officials computerized land appraiser. Thematic Mapping Section provides Thematic Maps, on the other hand measurements and surveys section provides the Land Registry Map. The second map illustrates the results so far have not shared in the ranks of the Land Office for each component in the making and has a map coordinate system and different scales, so that the information given as a result the data is still partially owned by the Land Office can not provide the information and results maximum, and mapping costs become very large.This study was conducted to obtain accurate results and a thorough map of the distribution of land parcels complete with the land use and land use especially in sub Kedungkandang complete, Malang. Land use in the District Kedungkandang mostly used for agricultural production, better utilization of land for fields registered or not registered or less have the total percentage of 55.87%. As for the land that has not been used has the smallest percentage than others, namely the extent of utilization of 0.10%Keywords: Land Use, Land Affairs, Thematic Maps, GIS.
ANALISIS PENGUKURAN BIDANG TANAH DENGAN MENGGUNAKAN GPS PEMETAAN Armenda Bagas Ramadhony; Moehammad Awaluddin; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.203 KB)

Abstract

ABSTRAK Pengukuran dan pemetaan bidang tanah merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam pendaftaran tanah. Kegiatan ini dilakukan dengan cara melakukan pengukuran dan pemetaan pada batas-batas bidang tanah dengan menggunakan metode terestrial, fotogrametris, penginderaan jauh, dan dengan metode-metode lainnya. Namun dengan semakin maju dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi pada saat ini, kegiatan pengukuran dan pemetaan bidang tanah dapat dilakukan dengan menggunakan metode eksterestrial menggunakan receiver GPS yang mempunyai ketelitian tinggi dengan waktu yang relatif singkat.Kegiatan yang dilakukan dalam penenelitian ini adalah pengukuran bidang tanah dengan kriteria kondisi daerah terbuka dan perumahan menggunakan GNSS metode absolut dan rapid static yang diikatkan pada base station CORS Kota Semarang (CSEM), yang selanjutnya hasil koordinat (X,Y) dan luas dari pengukuran bidang tanah tersebut dibandingkan dengan hasil pengukuran bidang tanah dengan metode terestrial yaitu Total Station.Hasil pengukuran dan pengolahan bidang tanah menggunakan Total Station dipakai sebagai acuan. Pada pengukuran GNSS metode absolut di daerah terbuka mempunyai ketelitian RMS koordinat sebesar ± 3,033 m dan ketelitian RMS luas sebesar ± 9,239 m², kemudian pengukuran di daerah perumahan  mempunyai ketelitian RMS koordinat sebesar ± 2,915 m dan ketelitian RMS luas sebesar ± 7,948 m². Berikutnya, pada pengukuran GNSS metode rapid static di daerah terbuka mempunyai ketelitian RMS koordinat sebesar ± 0,864 m dan ketelitian RMS luas sebesar ± 2,494 m², kemudian pengukuran di daerah perumahan  mempunyai ketelitian RMS koordinat sebesar ± 0,649 m dan ketelitian RMS luas sebesar ± 3,771 m².
APLIKASI PERSEBARAN OBJEK WISATA DI KOTA SEMARANG BERBASIS MOBILE GIS MEMANFAATKAN SMARTPHONE ANDROID Muhammad Rifqi Andikasani; Moehammad Awaluddin; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.667 KB)

Abstract

Abstrak Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah. Dengan luas sekitar 373,70 Km2, Kota Semarang dapat digolongkan sebagai kota metropolitan di Provinsi Jawa Tengah. Sebagai ibukota provinsi tentu Kota Semarang menjadi parameter kemajuan bagi kota-kota lain di Provinsi Jawa Tengah.Dengan status sebagai kota metropolitan yang di penuhi oleh berbagai fasilitas dan objek wisata menarik, Kota Semarang menjadi salah satu tujuan wisata bagi para wisatawan. Dalam hal pariwisata, Kota Semarang sedang melakukan pengembangan dan promosi wisata dengan dicanangkannya program “Ayo Wisata ke Semarang” yang dimulai sejak akhir tahun 2011 lalu. Tentunya Pemerintah Kota Semarang telah menyiapkan beberapa objek wisata unggulan yang tersebar di sekitar Kota Semarang.Informasi mengenai objek wisata menuntut akan adanya ketersediaan sistem informasi yang tepat, salah satunya melalui  sistem informasi geografis berbasis mobile GIS dengan memanfaatkan smartphone Android. Dengan semakin meningkatnya penggunaan smartphone Android oleh masyarakat, maka dibuat sebuah aplikasi yang mengkombinasikan teknologi GPS (Global Positioning System) dan LBS (Location Based Service). Pembuatan aplikasi ini menggunakan App Inventor dengan bahasa pemrograman visual block, serta memanfaatkan Google Maps.Aplikasi mobile GIS persebaran objek wisata di Kota Semarang ini dapat dijadikan panduan wisata karena dilengkapi dengan fitur-fitur seperti posisi objek wisata, arah kemudi, dan informasi seputar objek wisata di Kota Semarang. Selain itu aplikasi ini dilengkapi dengan berbagai informasi pendukung pariwisata seperti sarana transportasi, rumah sakit, hotel, dan beberapa informasi lainnya. Kata Kunci : Kota Semarang, wisata, Aplikasi, GIS, Mobile GIS, GPS, LBS, Android Abstract Semarang City is the capital of Central Java Province. With an area of 373.70 Km2 Semarang City can be classified as a metropolitan city in Central Java. As the provincial capital Semarang City would be progress parameters for other cities in Central Java .Information about attractions will claim the availability of more precise information, one of them through based mobile - geographic information system GIS use Android smartphone . With the increasing use of Android smartphones by society , then made an application that combines GPS (Global Positioning System) technology and LBS (Location Based Service). Manufacturing applications using App Inventor to the programming language visual block , and using Google Maps.With status as a metropolitan city that is filled by a variety of amenities and exciting attractions, Semarang City be one destination for tourists . In the case of tourism , Semarang are doing development and tourism promotion the called program "Ayo Wisata ke Semarang" which started since the end of 2011. Of course, Semarang Municipality has completed some excellent attractions spread around the city of Semarang .Mobile GIS applications of attractions in Semarang City can use as tour guide equipped with features such as the position of Attraction , directions, and information about attractions around Semarang City. The application comes with a wide range of tourism supporting information such as a means of transport , hospitals, hotels , and other information .Keywords: Semarang City , attraction, application , GIS , Mobile GIS , GPS , LBS, Android*)Penulis Penanggung Jawab
PERHITUNGAN DEFORMASI GEMPA MALANG 16 NOVEMBER 2016 MENGGUNAKAN DATA CORS GNSS WILAYAH JAWA TIMUR MOHAMMAD YUSUP LUTFI; Moehammad Awaluddin; Bambang Sudarsono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1568.374 KB)

Abstract

Pada tanggal 16 November 2016 telah terjadi Gempa Tektonik dengan magnitute  5,7  di Malang, Jawa Tmur. Menurut data USGS Gempa terjadi pukul 22:10:11 WIB. Lokasi episentrum gempa berada pada koordinat 9˚0’10.8” LS, 113˚14’42” BT, atau 127 kilometer arah tenggara Kabupaten Malang Jawa Timur dengan kedalaman gempa adalah 85 kilometer. Guncangan terasa hampir di seluruh wilayah Jawa Timur. Atas dasar tersebut dilakukan penelitian perhitungan deformasi gempa Malang 16 November 2016 dengan data CORS wilayah Jawa Timur bagian selatan untuk mengetahui arah vektor pergeseran akibat gempa.Penelitian ini menggunakan data pengamatan enam stasium CORS diantaranya CJEM, CLUM, CMLG, CNYU, CPES, dan CTUL dengan data pengamatan dari mulai Juli 2016 sampai dengan Maret 2017. Titik ikat yang digunakan adalah Titik IGS berjumlah enam diantaranya ALIC, BAKO, COCO, KARR, PIMO, dan PBRI. Pengolahan ini menggunakan scientific software GAMIT 10.6. Penelitian ini mengahasilkan nilai velocity rate  sebelum gempa, setelah gempa dan nilai akibat gempa beserta arah vektornya. Nilai velocity rate sebelum gempa rata – rata Vhor = 0,0344 ± 0,0090 m mengarah ke tenggara. Vektor kecepatan pergeseran horizontal setelah gempa rata – rata Vhor = 0,0474 ± 0,0088 m mengarah ke tenggara. Vektor pergeseran akibat gempa mengarah ke tenggara dengan nilai rata – rata dhor= 0,0039 ± 0,0053 m.
PERHITUNGAN VELOCITY RATE CORS GNSS DI PULAU SULAWESI Haris Yusron; Bambang Darmo Yuwono; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.579 KB)

Abstract

ABSTRAK Pulau Sulawesi terletak pada zona pertemuan diantara tiga pergerakan lempeng besar yaitu pergerakan lempeng Hindia-Australia dari selatan, lempeng Pasifik dari arah timur dan lempeng Asia bergerak relative pasif ke tenggara. Data pengamatan stasiun CORS bisa digunakan untuk mempelajari aktivitas tektonik dan karakteristik fenomena alam dan deformasi yang terjadi di suatu daerah. Oleh karena itu dilakukanlah penelitian mengenai velocity rate stasiun CORS di Pulau Sulawesi untuk mengetahui nilai dan vektor arah pergeseran posisi titik CORS.Penelitian ini menggunakan data pengamatan lima stasiun CORS yang berada di Sulawesi yaitu CBIT, CKEN, CMAK, CTOL dan PALP pada tahun 2013 sampai dengan 2016. Titik IGS yang digunakan yaitu AIRA, ALIC, ANKR, CUSV, DARW, GUAM, IISC, KARR, KIT3, PIMO, POL2, XMIS, dan YARR. Pengolahan data menggunakan software ilmiah GAMIT.Penelitian ini menghasilkan arah pergeseran dari masing-masing stasiun CORS dan kecepatan pergeseran. CBIT arah pergeserannya ke tenggara dengan kecepatan -0,00508 ± 0,00064 m/tahun untuk komponen utara, 0,02307 ± 0,00081 m/tahun untuk komponen timur, dan -0,00703 ± 0,00307 m/tahun untuk komponen vertikal. CKEN arah pergeserannya ke timur laut memiliki kecepatan 0,00739 ± 0,00045 m/tahun untuk komponen utara, 0,02569 ± 0,00054 m/tahun untuk komponen timur, dan 0,07917 ± 0,00177 m/tahun untuk komponen vertikal. CMAK arah pergeserannya ke tenggara dengan kecepatan -0,00632 ± 0,00042 m/tahun untuk komponen utara, 0,02569 ± 0,00053 m/tahun untuk komponen timur, dan 0,00238 ± 0,00166 m/tahun untuk komponen vertikal. CTOL arah pergeserannya ke timur laut memiliki kecepatan 0,02839 ± 0,00079 m/tahun untuk komponen utara, 0,02425 ± 0,00092 m/tahun untuk komponen timur, dan 0,00858 ± 0,00410 m/tahun untuk komponen vertikal. PALP arah pergeserannya ke timur laut memiliki kecepatan 0,00974 ± 0,00040 m/tahun untuk komponen utara, 0,02071 ± 0,00051 m/tahun untuk komponen timur, dan -0,01167 ± 0,00163 m/tahun untuk komponen vertikal.Kata Kunci : CORS, Kecepatan Pergeseran, GAMIT  ABSTRACT Sulawesi Island is located in the zone of meeting between three large plate movement is the movement of the Indian-Australian plate from the south, the Pacific plate from the east and Asian plate moves relatively passive to the southeast. CORS station observation data can be used to study the tectonic activity and characteristics of natural phenomena and deformations that occur in an area. Therefore conducted this research on the velocity rate CORS station on the island of Sulawesi to know the value and the vector direction of the shift position CORS point.This study used five observational data CORS stations located in Sulawesi, namely CBIT, CKEN, CMAK, CTOL and PALP in 2013 until 2016. The point IGS used are AIRA, ALIC, ANKR, CUSV, DARW, GUAM, IISC, KARR, KIT3, PIMO, POL2, XMIS, and YARR. Data processing using scientific software GAMIT.This research resulted in a shift direction of each station CORS and speed the shift. CBIT direction of the shift to the southeast with speeds -0.00508 ± 0.00064 m / year for the northern parts, 0.02307 ± 0.00081 m / year for the eastern component, and -0.00703 ± 0.00307 m / year for components vertical. CKEN direction of the shift to the northeast has a speed of 0.00739 ± 0.00045 m / year for the northern parts, 0.02569 ± 0.00054 m / year for the eastern component, and 0.07917 ± 0.00177 m / year for the vertical component , CMAK direction of the shift to the southeast with speeds -0.00632 ± 0.00042 m / year for the northern parts, 0.02569 ± 0.00053 m / year for the eastern component, and 0.00238 ± 0.00166 m / year for the vertical component , CTOL direction of the shift to the northeast has a speed of 0.02839 ± 0.00079 m / year for the northern parts, 0.02425 ± 0.00092 m / year for the eastern component, and 0.00858 ± 0.00410 m / year for the vertical component , Palp direction of the shift to the northeast has a speed of 0.00974 ± 0.00040 m / year for the northern parts, 0.02071 ± 0.00051 m / year for the eastern component, and -0.01167 ± 0.00163 m / year for components vertical. Keywords : CORS, Velocity Rate, GAMIT
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP BATAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT DAERAH PROVINSI DKI JAKARTA Aisyah Arifin; Moehammad Awaluddin; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.534 KB)

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan UU No.23 Tahun 2014, penentuan dan penegasan batas pengelolaan wilayah laut merupakan hal yang penting untuk dilakukan suatu daerah, karena berkaitan dengan kewenangan dalam mengelola sumber daya dan ruang laut yang berada di wilayahnya. Ketentuan tentang penegasan batas pengelolaan wilayah laut daerah telah diatur dalam Permendagri No.141 Tahun 2017. Berdasarkan peraturan ini, garis pantai memegang peranan penting dalam melakukan penetapan dan penegasan batas di laut, tetapi garis pantai suatu wilayah dapat mengalami perubahan karena berbagai faktor, misalnya abrasi, sedimentasi, penambangan pasir, dan reklamasi. Oleh karena itu, penelitian tentang pengaruh perubahan garis pantai terhadap batas pengelolaan wilayah laut suatu daerah perlu dilakukan. Penelitian tugas akhir ini mengkaji tentang pengaruh perubahan garis pantai terhadap batas pengelolaan wilayah laut Provinsi DKI Jakarta. Data yang digunakan pada penelitian ini, yaitu data pengamatan pasang surut air laut untuk menentukan citra satelit yang akan digunakan, data citra satelit Landsat untuk mengamati perubahan garis pantai, dan peta RBI sebagai peta dasar. Penentuan batas pengelolaan wilayah laut dilakukan secara kartometrik. Penarikan garis batas dilakukan dengan menerapkan prinsip samajarak untuk wilayah laut Jakarta utara yang berdampingan dengan Provinsi Banten dan Jawa Barat dan prinsip garis tengah untuk wilayah laut Kepulauan Seribu yang berhadapan dengan Provinsi Banten dan Jawa Barat. Hasil pengamatan citra satelit Landsat antara tahun 2009 dan 2019 menunjukkan bahwa terjadi perubahan garis pantai di wilayah pantai Provinsi DKI Jakarta yang diakibatkan oleh proses akresi dan abrasi. Perubahan garis pantai ini menyebabkan pergeseran pada garis batas pengelolaan wilayah laut, sehingga luas pengelolaan wilayah lautnya pun mengalami perubahan. Dalam kurun waktu 10 tahun, luas batas pengelolaan wilayah laut Provinsi DKI Jakarta megalami penambahan sebesar 3.119,017 hektar atau 0,531%. Kata Kunci : batas laut, citra satelit, garis pantai, Landsat, kartometrik, metode garis tengah, metode samajarak ABSTRACTBased on Law of the Republic Indonesia number 23 of 2014, delimitation and demarcation of the marine managed area boundary is an important thing to be done by every region in Indonesia, because it is related to the authority in managing the resources and the space in its marine territory. The guidelines about demarcation of the marine managed area boundary have been regulated in Regulation of Ministry of Home Affairs number 141 of 2017. Based on this regulation, the coastline has an important role in realizing delimitation and demarcation of the marine managed area boundary, but it may change due to various factors, such as abrasion, sedimentation, sand mining, and reclamation. Therefore, the study about the impact of coastline changes on the marine managed area boundary is needed. This study examines the impact of coastline changes on the marine managed area boundary of DKI Jakarta Province. This study used tidal observation data to determine the satellite images that will be used in the study, Landsat images data to observe the coastline changes, and RBI map as base map. The delimitation of the marine managed area boundary was carried out by using cartometrics technique. Equidistance principle was applied for the sea area of North Jakarta which adjacent to Banten and West Java Provinces and median line principle was applied for the sea area of the southern part of Seribu Island which have overlapping marine managed area boundary with Banten and West Java Provinces. The result of Landsat images observation in 2009 and 2019 show that the coastline changes occur in the coastal area of DKI Jakarta Province due to accretion and abration. It causes a shift on the boundary line of the sea, so that the total area of the marine managed area boundary has changed. Within 10 years, the total area of the marine managed area boundary of DKI Jakarta Province has increased by 3.119,017 hectares or 0,531%. Keywords: coastline, cartometrics, equidistance method, Landsat, marine boundary, median line method, satellite imagery
Co-Authors Abdi Sukmono Abdi Sukmono, Abdi Adnan Khairi Afriyanto Afriyanto Aisyah Arifin Aisyah Arifin Ajeng Kartika Nugraheni Syafitri Alfian Budi Prasetya Alfien Rahmenda Ali Amirrudin Ahmad Amal Fathullah, Amal Amri Perdana Ginting Ana Rosida Andika Malik Andika Rizal Bahlefi Andre Hermawan Andri Suprayogi Anggi Tiarasani Anisa Rachmawati, Anisa ARGNES DIONANDA RESZA PRADIPTA Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Arief Laila Nugraha Arintia Eka Ningsih Ario Damar Wicaksono Armenda Bagas Ramadhony Aruma Hartri Aufan Niam Aulia Fikki Wicaksono Aysha Puspa Pertiwi Ayu Nur Safi'i Bambang Darmo Y Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Darmo Yuwono Bambang Sudarsono Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bhekti Hapsari Bilqis, Ramadhani Sarah Alicya Bobby Daneswara Indra Kusuma Brinton Patuan Sitorus Budi Prayitno Cindy Puspita Sari Damar Ismoyo Danang Budi Susetyo Desita Khrisna Putri, Dewa, Kusuma Hangga Dewi Shinta Septifany Dian Rizqi Ari Wibowo Dimas Bagus Dina Wahyuningsih Dwi Arini Dzaki Adzhan Ega Gumilar Hafiz Enersia Ihda K. U Extiana, Kiky Fadhilla Shara Denafiar Fajar Dwi Hernawan Fanni Kurniawan Fanny Rachmawati Fathan Aulia Fauzi Iskandar Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fauzi Janu Ammarohman Febrian Pramana Putra Fetra Kristina Harianja Gina Andriyani Habib Azka Ramadhani Hadi, Firman Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Hana Sugiastu Firdaus Handayani Nur Arifiyanti Haniah Haniah Haris Yusron Heri Gusfarienza Heri Setiawan Ika Nurdianasari Ikhlasul Amal Ahyani Indra Laksana Irfan Tri Anggoro irwan meilano Johan Wisma Anggoro Joko Wibowo Juwita Widya Qur’ani Khairuddin Khairuddin Khofifatul Azizah Khofifatul Azizah Kiky Extiana Kindy Ibrahim Hari Kurniawan Adi Widiyanto L. M. Sabri Labib, Muhammad Faishal Laode M Sabri LAURENTIUS IMMANUEL YUDIT PRABOWO LM. Sabri Lolita, Diaz Amel Lorenzia Anggi Ramayanti Lufti Rangga Saputra LUKMAN MAULANA ABDILLAH Lutfi Eka Rahmawan Lutgar Sudiyanto Sitohang LUTHFI RAHMANDHANI Mahmudi, Fakhry Nur Maulana Eras Rahadi Meita Arddinatarta Moh Kun Fariqul Haqqi Mohammad Afif MOHAMMAD YUSUP LUTFI Much. Jibriel Sajagat, Much. Jibriel Muhamad Arif Debalano Muhamad Nurman Cholid Muhammad Bagus Salim Muhammad Danny Rahman Muhammad Hudayawan Nur L Muhammad Iqbal Akhsin Muhammad Maulana mahardika Amfa Muhammad Rifqi Andikasani Nanda Dewi Arumsari Nasytha Nur Farah Nella Wakhidatus Nina Ratnaningrum NOVAYA NURUL BASYIROH Nugrahanto, Prasetyo Odi Nur Lail, Muhammad Hudayawan Nuranda, Kris Junida Herindra Nurhadi Bashit Nurhadi Bashit Nurmalasari, Cici Nurnaning Aisyah Pardjono, P. Prya Adhi Surya Nugraha Putri, Alifa Salsabilla Rachmawati, Ekha Ramdhan Thoriq Setyabudi Renaud Saputra Purba Resi Diansismita Reza Nur Hidayat Rico Waskito Putro Rifki Purnama Aji Rifqi, Muhammad Alifian Risa Ayu Miftahul Rizky Riyadi, Elnatan Vieno Rizky Saputra Rofi'i, Nur Izha Jannah Roy Kasfari Sabri, Laode M. Safii, Ayu Nur Safira Devi Kirana Sandy Yudistira Mahardika, Sandy Yudistira Sarmedis Anrico Situmorang Satrio Wicaksono Sawitri Subiyanto Septian Dewi Cahyani Septiawan Setio Hutomo Setiaji Nanang Handriyanto Sigit Irfantoro Siregar, Afifah Zafirah Siti Fathimah Soraya Rizky Puspitasari Sri Widiyantoro Sry Suando Sinaga Susilo Susilo Sutomo Kahar Syachril Warasambi Mispaki Tiara Toyyibatul Arofah Tristika Putri Wahyu Entriana Kumala Dewi Wahyu Nur Rohim Wahyuddin, Yasser Wakhidatus, Nella Wibowo, Sidik Tri Wildan Ryan Irfana Yolanda Adya Puspita Yudo Prasetyo