Articles
PENENTUAN BATAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT KABUPATEN SUMENEP DENGAN MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT
Fauzi Janu Amarrohman;
Moehammad Awaluddin;
Arief Laila Nugraha;
Sawitri Subiyanto
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 2, No 01 (2019): Volume 02 Issue 01 Year 2019
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (321.19 KB)
|
DOI: 10.14710/elipsoida.2019.5018
Ketentuan penetapan dan penegasan batas wilayah baik darat maupun laut telah diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No. 76 Tahun 2012. Peraturan tersebut juga mengatur mengenai jenis peta dasar yang bisa digunakan untuk menentukan batas pengelolaan wilayah laut. Sesuai Permendagri tersebut, peta dasar yang bisa digunakan untuk menentukan batas wilayah pengelolaan laut wilayah kabupaten adalah Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI). Pada faktanya belum semua wilayah di Indonesia mempunyai Peta LPI, sehingga perlu dikaji agar diketahui peta dasar lain yang dapat digunakan untuk penentuan batas pengelolaan wilayah laut sebagai alternatif dari Peta LPI. Peta dasar yang digunakan dan dianalisis dalam penelitian ini adalah citra satelit Landsat 8. Pengolahan dan penetuan garis batas wilayah pengelolaan wilayah laut menggunakan metode kartometrik dengan penarikan batas antara Kabupaten Sumenep dan Pamekasan menggunakan garis ekuidistan. Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan software ENVI, AutoCAD, dan ArcGIS. Penentuan batas pengelolaan wilayah laut menggunakan citra satelit Landsat 8 ini menghasilkan luas pengelolaan wilayah laut. Luas pengelolaan wilayah laut Kabupaten Sumenep pada peta dasar citra satelit Landsat 8 diperoleh luas 666.125,240 Ha. Luas tersebut memiliki perbedaan luas pengelolaan wilayah laut antara peta dasar citra satelit Landsat-8 terhadap peta dasar LPI sebagai acuan sebesar 9,49%.
ANALISIS KUALITAS HASIL PREDIKSI KLASIFIKASI PENGGUNAAN LAHAN MENGGUNAKAN CA MARKOV MODEL BERDASARKAN PETA RENCANA TATA RUANG
Fauzi Janu Amarrohman;
Tristika Putri;
Bambang Sudarsono;
Moehammad Awaluddin;
Sawitri Subiyanto
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 3, No 02 (2020): Volume 03 Issue 02 Year 2020
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/elipsoida.2020.9200
Land use changes due to community activities and mobility occur because of the increasingly complex need for land. Spatial analysis is needed to identify land use changes which are subsequently reviewed by the Regional Spatial Plan in accordance with Government Regulation Number 8 of 2013 concerning the accuracy of the RTRW map. In this study, the study area taken was Pati Regency around the South Ring Road which includes four districts. From the acquisition of high resolution satellite imagery data in 2009, 2015 and 2019, predictions were made for the years 2023 and 2030 to determine the development of the area around the South Ring Road. The results of the prediction of land use using CA Markov in 2023 will be compared with the prediction in 2030 to determine the quality of the prediction results of the classification of land use in the prediction year with the same input data interval and exceeding the input data interval by conducting a suitability analysis with the RTRW. In 2023, the category of conformity is 95.41341%, and in 2030 amounting to 95.41340%. This shows that the prediction results of land use change with CA Markov for the same year with the time interval of the input data have insignificant differences with the predicted results with longer intervals when compared to the current RTRW.
ANALISIS KEBERADAAN KEPULAUAN SERIBU TERHADAP BATAS PENGELOLAAN LAUT PROVINSI DKI JAKARTA
Fauzi Janu Amarrohman;
Moehammad Awaluddin;
Bambang Darmo Yuwono;
Aisyah Arifin
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 3, No 01 (2020): Volume 03 Issue 01 Year 2020
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (297.16 KB)
|
DOI: 10.14710/elipsoida.2020.7754
Province of Special Capital Region (DKI) Jakarta is one of the provinces in Indonesia which has a sea area larger than its land area. Based on this, according to Law of the Republic of Indonesia Number 23 of 2014 concerning Regional Government, the Province of DKI Jakarta can be called a province with an archipelago characteristic. The province of the archipelago has the authority to manage natural resources at sea and is assigned to carry out the authority of the central government in the marine sector based on the principle of co-administration. Determination of the management of the sea area in an island region characterized by the provisions of UNCLOS 1982. In this case the affirmation of an island territory using three reference references, namely with the coastline as a normal base line, with a straight base line, and with reference to the group of islands as baselines of the islands. The data used in this study uses the Peta Rupa Bumi Indonesia and Landsat 8 Image data acquisition in 2019. From the two data, the boundaries of the management area of the sea area are carried out digitally. In order to obtain the area of marine management of the DKI Jakarta region which is characterized by islands with the Thousand Islands and the area of sea management if the Province of DKI Jakarta is a province that is not characterized by islands. The total area of sea management in the Province of DKI Jakarta is not characterized by an archipelago is 587,453,346 Ha, whereas if the determination of the sea area management area of DKI Jakarta Province is characterized by an archipelago, the area is 587,457,404 Ha.
ANALISIS SETTING OUT ARAH KIBLAT DENGAN MENGGUNAKAN METODE GPS REAL TIME KINEMATIC
Moehammad Awaluddin;
Fauzi Janu Amarrohman;
Bambang Darmo Yuwono
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 1, No 01 (2018): Volume 01 Issue 01 Year 2018
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (278.895 KB)
|
DOI: 10.14710/elipsoida.2018.2808
Penentuan arah kiblat terdiri dari dua macam kegiatan, yaitu bagaimana cara menghitung arah kiblat dari suatu titik/lokasi dan bagaimana membawa arah kiblat (setting out) yang sudah didapat tersebut ke lapangan. Penelitan ini menganalisis akurasi setting out arah kiblat dengan menggunakan metode GPS Real Time Kinematic. Akurasi metode ini akan dibandingkan dengan arah kiblat hasil rashdul kiblat serta pengukuran GPS Statik. Arah kiblat yang dihasilkan dari metode GPS RTK memiliki perbedaan dengan arah kiblat hasil hitungan metode vincenty sebesar 17’43.6516” pada titik yang berjarak 25 meter dari titik pengamatan kiblat. Sedangkan pada titik yang berjarak 40 meter memiliki perbedaan sebesar 6’28.2974”. Arah kiblat yang dihasilkan dari metode GPS RTK memiliki perbedaan dengan arah kiblat metode rashdul kiblat sebesar 2’18” pada titik yang berjarak 25 meter dari titik pengamatan kiblat. Sedangkan pada titik yang berjarak 40 meter memiliki perbedaan sebesar 6’34”.
KAJIAN PENENTUAN POSISI MENGGUNAKAN DGPS DAN RTK NTRIP
Bambang Darmo Yuwono;
Arief Laila Nugraha;
Fauzi Janu Amarrohman;
Moehammad Awaluddin
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 2, No 01 (2019): Volume 02 Issue 01 Year 2019
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (264.655 KB)
|
DOI: 10.14710/elipsoida.2019.5014
Seiring perkembangan teknologi pengukuran dalam penentuan posisi, kegiatan pendaftaran tanah dilakukan tidak hanya menggunakan teknologi tersetrial, namun juga sekarang sudah memanfaatkan teknologi ekstraterestrial. Kegiatan pendaftaran tanah ini bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan terhadap pemegang hak atas bidang tanah yang dikuasainya. Oleh karena itu faktor posisi dalam data fisik hak atas tanah haruslah teliti dan akurat. Pada penelitian ini menggunakan data pengukuran bidang tanah dengan memanfaatkan teknologi penentuan posisi secara ekstraterestrial atau memanfaatkan teknologi satelit dengan metode real time kinematic NTRIP dengan menggunakan receiver GPS geodetik dan metode DGPS Post Processing dengan menggunakan receiver GPS Mapping. Data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data pengukuran bidang tanah yang dilakukan dengan alat ukur Total Station GTS 235, receiver GPS tipe geodetic Topcon Hiper II Dual Frekuensi dan receiver GPS tipe mapping Trimble GeoXT 3000 series. Hasil dari pengukuran luas bidang tanah dengan data yang dianggap benar adalah data hasil pengukuran menggunakan total station dibandingkan dengan metode GPS RKT-NTRIP dan dengan metode DGPS. Dari perbandingan yang dilakukan diperoleh selisih rata-rata luas bidang tanah antara pengukuran total station dan receiver GPS geodetic yaitu 0,01909 m2 dengan standar deviasi 0,113659. Sedangkan selisih rata-rata luas bidang tanah hasil pengukuran total station dan receiver GPS mapping yaitu 0,7152 m2 dengan standar deviasi 1,226289.
KAJIAN DAYA TARIK LOKASI WISATA BERDASARKAN NILAI EKONOMI KAWASAN DI KOTA SEMARANG
Fauzi Janu Amarrohman;
Moehammad Awaluddin;
Sawitri Subiyanto
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 2, No 02 (2019): Volume 02 Issue 02 Year 2019
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (266.726 KB)
|
DOI: 10.14710/elipsoida.2019.6439
Pariwisata merupakan kegiatan wisata ke tempat objek yang dijadikan tujuan untuk melakukan rekreasi. Objek wisata haruslah memiliki daya tarik tersendiri yang memikat wisatawan untuk mengunjungi objek wisata tersebut. Daya tarik objek wisata sangatlah berpengaruh terhadap jumlah wisatawan dan juga berpengaruh terhadap kebersediaan masyarakat sekitar objek lokasi untuk mempertahankan objek wisata tersebut. Penialian terhadap kawasan dapat dilakukan dengan melakukan penilaian nilai ekonomi kawasan dengan metode travel cost methode dan contingen valuation methode. Berdasarkan penilaian tersebut akan diperoleh nilai ekonomi kawasan berdasarkan penilaian pengunjung terhadap objek wisata yang dikunjungi serta penilaian masyarakat sekitar yang memanfaatkan objek wisata tersebut mengenai kebersediaan untuk mempertahankan objek wisata. Objek wisata yang dijadikan lokasi penelitian ini adalah Kawasan Kota Lama Semarang dan Goa Kreo Semarang yang letaknya berbeda. Karakteristik wisatawan yang berkunjung di Kota Lama adalah variabel pendidikan, pendapatan, dan frekuensi kunjungan paling mempengaruhi fungsi kawasan sebagai penyedia jasa. Sedangkan karakteristik wisatawan Goa Kreo menunjukkan parameter umur, tingkat pendidikan , pendapatan per tahun, lama kunjungan, dan alternatif lokasi yang mempengaruhi kunjungan wisatawan ke objek wisata ini. Selain itu daya tarik wisatawan juga memperhatikan parameter lain yaitu akses lokasi menuju tempat objek wisata. Kemudahan aksesbilitas dan fasilitas umum yang memadai menjadi daya tarik wisatawan mengunjungi objek wisata.
PERBANDINGAN METODE FUZZY C-MEANS DAN K-MEANS UNTUK PEMETAAN DAERAH RAWAN KRIMINALITAS DI KOTA SEMARANG
Hana Sugiastu Firdaus;
Arief Laila Nugraha;
Bandi Sasmito;
Moehammad Awaluddin
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 4, No 01 (2021): Volume 04 Issue 01 Year 2021
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/elipsoida.2021.9219
Kriminalitas merupakan salah satu masalah penting di wilayah perkotaan termasuk di Kota Semarang. namun di Polrestabes Kota Semarang selama ini hanya mencatat laporan terjadinya kriminalitas tanpa memvisualisasikan ke dalam bentuk informasi spasial. Hal ini perlu dilakukan untuk memudahkan pihak berwenang dalam memetakan dan monitoring sebaran daerah rawan kriminalitas. Pada penelitian ini, dilakukan perbandingan metode clustering untuk menentukan metode yang paling baik untuk memetakan daerah rawan kriminalitas di Kota Semarang. Metode clustering yang digunakan yaitu Fuzzy C-Means dan K-Means. Metode Fuzzy C-Means adalah pengelompokan data ditentukan oleh derajat keanggotaan, sedangkan metode K-Means adalah pengelompokan data ditentukan dari centroid kejadian kriminalitas. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat 1.965 kasus kriminalitas selama kurun waktu tahun 2016-2018. Daerah tingkat kerawanan dari kedua metode tersebut mempunyai hasil yang berbeda-beda. Nilai uji pengolahan metode Fuzzy C-Means sebesar 0,818 dikategorikan baik karena mendekati angka 1. Hasil verifikasi dari kedua metode terhadap data kriminalitas tahun 2019, menunjukan nilai metode Fuzzy C-Means lebih baik dengan persentase sebesar 71,23 %.
ANALISIS DEFORMASI WILAYAH JAWA TENGAH DENGAN DATA GNSS CORS
Fauzi Janu Amarrohman;
Arief Laila Nugraha;
Moehammad Awaluddin
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 1, No 01 (2018): Volume 01 Issue 01 Year 2018
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (461.958 KB)
|
DOI: 10.14710/elipsoida.2018.2814
CORS (Continuously Operating Reference Station) adalah suatu teknologi berbasis GNSS yang dilengkapi dengan receiver yang mampu menangkap sinyal dari satelit-satelit GNSS. CORS beroperasi secara penuh dan kontinu selama 24 jam. Penelitian ini dilakukan dengan data sepuluh CORS BIG di wilayah Jawa Tengah. Data GNSS diolah dengan GAMIT Ver. 10.6 dan menghasilkan kecepatan pergeseran setiap stasiun kemudian dilakukan perhitungan regangan.Vektor kecepatan pergeseran CORS GNSS wilayah Jawa tengah dominan mengarah ke tenggara dengan kecepatan berkisar 0,0233 m/tahun hingga 0,0325 m/tahun. Regangan di wilayah Jawa Tengah didominasi oleh kompresi berkisar -7,77076 x 10-9 strain/tahun hingga -3,14682 x 10-7 strain/tahun.
RANCANG BANGUN DESAIN PETA ONLINE KAWASAN WISATA PANTAI DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Arief Laila Nugraha;
Hana Sugiastu Firdaus;
Moehammad Awaluddin;
Afriyanto Afriyanto
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 3, No 02 (2020): Volume 03 Issue 02 Year 2020
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/elipsoida.2020.9215
Perancangan desain peta online merupakan salah satu bentuk visualisasi peta agar mudah diakses oleh masyarakat umum. Aplikasi peta online wisata pantai berbasis web menyajikan informasi pantai yang lebih kompleks baik secara deskriptif maupun spasial (peta). Peta-peta tersebut disematkan ke dalam situs web sehingga aplikasi web ini bercirikan Sistem Informasi Geospasial Berbasis Web atau WebGIS. Sementara itu, perancangan secara konseptual menggunakan Diagram E-R (Entity-Relationship) dan uji kelayakan (usability) desain aplikasi peta online wisata pantai beserta fasilitas berbasis web di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan hasil 4.09/5.00 dengan kategori Sangat Baik.
ANALISIS LUAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT JAWA TENGAH PADA BEBERAPA SISTEM PROYEKSI DAN SISTEM KOORDINAT
Moehammad Awaluddin;
Fauzi Janu Ammarohman;
Arief Laila Nugraha;
Bandi Sasmito;
Khofifatul Azizah
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 3, No 02 (2020): Volume 03 Issue 02 Year 2020
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14710/elipsoida.2020.9201
Permendagri No. 141 tahun 2017 menyebutkan bahwa Peta Batas Daerah termasuk Peta Batas Pengelolaan Wilayah Laut menggunakan sistem proyeksi Transverse Mercator dan sistem koordinat UTM. Sistem proyeksi ini bersifat konform yang mempertahankan bentuk (sudut) tetapi tidak mempertahankan luas dan jarak. Penelitian ini menghitung perbedaan luas pada beberapa sistem proyeksi dan sistem koordinat di batas pengelolaan wilayah laut Provinsi Jawa Tengah. Sistem proyeksi dan sistem koordinat yang digunakan adalah: Proyeksi Lambert Silinder Equal Area, Proyeksi UTM Zona 49 Selatan, Proyeksi Transverse Mercator dan Proyeksi Mercator dengan dua sistem koordinat yang berbeda. Selisih luas dihitung terhadap luas hasil proyeksi Lambert Silinder Equal Area yang mempertahankan luas pada sistem proyeksinya. Luas daerah pengelolaan wilayah laut Provinsi Jawa Tengah pada proyeksi UTM dan Transverse Mercator mempunyai persentasi selisih luas yang kecil jika dibandingkan dengan luas proyeksi Lambert Silinder Equal Area. Besarnya persentase selisih luas tidak signifikan sehingga penarikan batas pengelolaan wilayah laut Provinsi Jawa Tengah dapat dilakukan pada sistem proyeksi konform UTM. Perbedaan persentasi luas yang besar pada proyeksi Mercator dibandingkan dengan proyeksi UTM dan Transverse Mercator disebabkan letak daerah yang berjarak paling jauh pada garis yang mempunyai distorsi nol.Permendagri No. 141 of 2017 states that the regional boundary map including the maritime area management boundary map uses the Transverse Mercator projection system and the UTM coordinate system. This projection system is conform projection which maintains shape (angle) but does not maintain area and distance. This study calculates the area differences in several projection systems and coordinate in the management boundaries of the sea territory of The Central Java Province. The projection system and coordinate system used are: Equal Area Cylindrical Lambert Projection, UTM Projection zone 49 south, Transverse Mercator Projection and Mercator Projection with two different coordinate systems. The difference in area is calculated against the projected area of the Lambert Cylindrical Equal Area which maintains the area of the projection system. The area of the sea management area of Central Java Province in the UTM and Transverse Mercator projections has a small percentage difference in area when compared to the projected area of the Lambert Cylindrical Equal Area. The magnitude of the percentage difference in area is not significant so that the drawing of boundaries for the management of the sea area of Central Java Province can be carried out on the UTM conforming projection system. The bigger percentage of area difference of the Mercator projection compared to the UTM and Transverse Mercator projections is due to the location of the area that is the farthest away from the line which has zero distortion.