Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Faktor Prediktif Kegagalan Hasil High Flow Nasal Cannula pada Anak dengan Gagal Napas Akut Prasetyo, Medita; Martuti, Sri; Salimo, Harsono
Sari Pediatri Vol 26, No 4 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.4.2024.202-11

Abstract

Latar belakang. High Flow Nasal Cannula dapat membawa risiko keterlambatan saat intubasi diperlukan. Pentingnya memprediksi luaran HFNC agar eskalasi terapi dapat segera dilakukan.Tujuan. Menganalisis nilai HR, RR, SpO2, pH, pCO2, HCO3, laktat, FiO2, rasio SF dan indeks ROX sebagai faktor prediktif kegagalan terapi HFNC pada anak dengan gagal napas akut.Metode. Kohort retrospektif dilakukan di Unit Perawatan Intensif Anak/PICU Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi pada bulan Desember 2023 sampai Februari 2024. Analisis data rekam medis menggunakan SPSS 23, nilai p<0,05 dianggap signifikan secara statistik.Hasil. Peningkatan HR (nilai p=0,001; RR=39; IK95%:3,48-437,49), peningkatan RR (nilai p=0,09; RR=16,33; IK95%:2,19-121,42), penurunan SpO2 (nilai p=0,04; RR=7; IK95%:1,20-40,83) dan peningkatan laktat (nilai p=0,04; RR=6,50; IK95%:1,09-36,63) signifikan pada 1 jam setelah HFNC. Peningkatan HR signifikan pada 2 jam dan 4 jam setelah terapi HFNC (p=0,004; RR=17,33; IK95%:2,36-127,34 dan nilai p=0,04; RR=6,50; IK95%:1,09-38,63). Peningkatan HR merupakan faktor prediktif yang signifikan pada 1 jam dan 2 jam setelah terapi HFNC serta peningkatan RR pada 1 jam setelah HFNC berdasarkan uji multivariat (masing-masing p=0,04; RR=42,67; IK95%:1,18-1.518,62, nilai p=0,02; RR=15,29; IK95%:1,42-164,19, dan nilai p=0,04; RR=44,41; IK95%:1,24- 1.595,89).Kesimpulan. Peningkatan HR dan peningkatan RR adalah faktor prediktif kegagalan terapi HFNC yang paling berpengaruh. Perlunya pemantauan ketat utamanya pada 1 jam setelah terapi HFNC sebagai pertimbangan eskalasi.
Dampak Fluid Overload Terhadap Morbiditas dan Pemanjangan Penggunaan Ventilator Mekanik pada Anak Sakit Kritis Amalia, Tiwi Qira; Martuti, Sri; Hafidh, Yulidar
Sari Pediatri Vol 27, No 1 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.1.2025.44-50

Abstract

Latar belakang. Fluid overload sering terjadi pada anak sakit kritis karena cenderung mendapat jumlah cairan belebih akibat resusitasi cairan untuk memperbaiki hemodinamik. Organ paru adalah organ utama yang terkena dampak, karena edema paru dianggap sebagai mekanisme utama dari hasil yang merugikan akibat FO dan berpengaruh terhadap pemanjangan penggunaan ventilator mekanik (VM).Tujuan. Menganalisis hubungan fluid overload dengan pemanjangan penggunaan ventilator mekanik pada anak sakit kritis.Metode. Penelitian kohort prospektif dilakukan di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta sejak bulan Januari – Mei 2024 dengan cara consecutive sampling. Perhitungan FO melalui keseimbangan/balans cairan kumulatif selama 3 hari awal VM disertai pembuktian status overload dari pemeriksaan penunjang berupa rontgen dada, USG toraks, USG inferior vena cava, USCOM, dan dilakukan pencatatan lama penggunaan ventilator pada hari ke-7. Hasil. Fluid overload diamati pada 53 subjek (47,2%). Didapatkan 41,5% subjek mengalami pemanjangan penggunaan VM >7 hari. Pada analisis multivariat, didapatkan bahwa FO secara statistik signifikan berhubungan terhadap pemanjangan penggunaan VM (OR 4.5, IK95%:1,39-14,51, p=0,012). Kesimpulan. Pada anak sakit kritis, FO berhubungan signifikan terhadap pemanjangan penggunaan VM. Dengan menjaga keseimbangan cairan secara ketat dengan intervensi yang tepat, pemanjangan penggunaan ventilator mekanik dapat dikurangi.
Korelasi antara Penyakit Alergi dengan Kesehatan Mental pada Remaja: Sebuah Studi Observasional di Surakarta Lestari, Dewi Kurnia; Harsono, Ganung; Martuti, Sri
Sari Pediatri Vol 26, No 6 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.6.2025.358-63

Abstract

Latar belakang. Penyakit alergi (atopi) merupakan kondisi hipersensitivitas IgE-mediated yang berkorelasi dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan mental pada anak. Studi ini bertujuan menganalisis hubungan antara penyakit alergi dengan gangguan kesehatan mental pada remaja.Tujuan. Menilai korelasi penyakit alergi terhadap gangguan kesehatan mental pada remaja usia 13-18 tahun.Metode. Studi observasional potong lintang dengan consecutive sampling pada 52 siswa SMP Muhammadiyah 4 Surakarta. Diagnosis alergi dinilai menggunakan kuesioner ISAAC Score, sedangkan gangguan kesehatan mental dievaluasi dengan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Analisis statistik menggunakan regresi logistik multivariat.Hasil. Penyakit alergi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental secara signifikan (OR=26,25; IK95%=4,88-141,20; p<0,001). Durasi tidur <8 jam merupakan faktor dominan (OR=54; IK95%=2,80-1041; p=0,008). Variabel lain seperti pendapatan orang tua <UMR (p=0,028) dan status pernikahan orang tua bercerai (p=0,002) juga menunjukkan asosiasi bermakna.Kesimpulan. Penyakit alergi merupakan prediktor kuat gangguan kesehatan mental pada remaja. Intervensi holistik yang mencakup manajemen alergi, optimasi durasi tidur, dan dukungan psikososial diperlukan untuk memitigasi risiko tersebut.
Hubungan Tebal Lipatan Kulit dan Aktivitas Penyakit pada Anak dengan Lupus Eritematosus Sistemik Arum, Wuryan Dewi Miftahtyas; Kawuryan, Diah Lintang; Martuti, Sri
Sari Pediatri Vol 27, No 4 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.4.2025.259-65

Abstract

Latar belakang. Aktivitas penyakit lupus eritematosus sistemik dapat dipengaruhi oleh kegemukan atau obesitas. Adipositas yang tinggi meningkatkan respon inflamasi. Tebal lipatan kulit merupakan indikator antropometri sederhana yang dapat menilai adipositas.Tujuan. Menganalisis hubungan tebal lipatan kulit dan aktivitas penyakit lupus eritematosus sistemik.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada 30 anak berusia 6-18 tahun dengan diagnosis lupus eritematosus sistemik di poliklinik anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi pada bulan April - September 2024. Analisis menggunakan SPSS 25. Nilai p<0,05 dianggap signifikan secara statistik.Hasil. Kejadian obesitas pada anak dengan LES sebesar 26,7%. Analisis multivariat menunjukkan anak dengan TLK menurut usia >p85 berisiko 11,3 kali lebih besar memiliki penyakit LES yang aktif (IK=1,37-93,06; p=0,024). Tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin, lama terapi, dosis steroid, kepatuhan minum obat, dan paparan sinar matahari dengan aktivitas penyakit pada LES.Kesimpulan. Tebal lipatan kulit berhubungan dengan aktivitas penyakit pada anak dengan LES.