Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Analisis Kelayakan Potensi Ekowisata Bukit Gatan Pada Hutan Desa Sukorejo Kabupaten Musi Rawas: Feasibility Analysis of Gatan Hills Ecotourism Potential In The Forest Of Sukorejo Village, Musi Rawas District Pratama, Eko Nugroho; Ahyauddin, Ahyauddin; Ulfa, Maria
Jurnal Silva Tropika Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v7i1.36747

Abstract

ABSTRACT Ecotourism is a type of responsible natural tourism development in unspoiled areas or naturally managed areas where the goal, apart from enjoying natural beauty, also involves elements of education and support for conservation efforts as well as increasing the income of the local community. Gatan Hill Ecotourism is ecotourism located in Sukorejo Village. , Suku Tengah District Lakitan Ulu Terawas, also one of the Village Forest ecotourism in Musi Rawas Regency. The purpose of this research is to determine the feasibility value of the ecotourism potential of Gatan Hill in Sukorejo Village, Suku Tengah District, Lakitan Ulu Terawas, Musi Rawas Regency. This research was carried out in the Gatan Hill area in the Sukorejo Village Forest, Suku Tengah District Lakitan Ulu Terawas, Musi Rawas Regency, South Sumatra. This type of research is descriptive qualitative research. The data collection technique uses interview methods, literature study and observation. The sampling technique uses 2 methods, namely purposive sampling and accidental sampling. The data analysis method used in this research is using 2 descriptive qualitative analysis methods and quantitative analysis as well as the DIRJEN PHKA 2003 ecotourism feasibility assessment (ADOOTWA) method. The results of the research show that the Gatan Hill ecotourism area has interesting ecotourism potential, including the potential for the peak of Gatan Hill and The potential of the Gatan waterfall which has its own characteristics and charm. For the results of the assessment of the feasibility of ecotourism potential in Gatan Hill ecotourism, Musi Rawas Regency, it can be seen that this area is suitable to be developed into an ecotourism area with a feasibility index value of 80.99%.   Keywords: Ecotourism, Potential of Gatan Hill, Sukorejo Village Forest   ABSTRAK Ekowisata merupakan jenis pengembangan wisata alam yang bertanggung jawab di daerah yang masih alami atau daerah yang dikelola secara alami dimana tujuannnya selain menikmati keindahan alam juga melibatkan unsur pendidikan dan dukungan terhadap usaha konservasi serta peningkatan pendapatan masyarakat setempat Ekowisata Bukit Gatan merupakan ekowisata yang berada di Desa Sukorejo, Kecamatan Suku Tengah Lakitan Ulu Terawas, juga salah satu ekowisata Hutan Desa yang ada di Kabupaten Musi Rawas. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai kelayakan potensi ekowisata Bukit Gatan di Desa Sukorejo Kecamatan Suku Tengah Lakitan Ulu Terawas Kabupaten Musi Rawas. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Bukit Gatan pada Hutan Desa Sukorejo, Kecamatan Suku Tengah Lakitan Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif, Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, studi literatur dan observasi, Teknik pengambilan sampel menggunakan 2 metode yaitu purposive sampling dan accidental sampling. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitan ini yaitu menggunakan 2 metode analisis kualitatif deskriptif dan analisis kuantitatif serta metode penilaian kelayakan ekowisata (ADOOTWA) DIRJEN PHKA 2003. hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan ekowisata Bukit Gatan menyimpan potensi ekowisata yang menarik diantaranya yaitu potensi puncak Bukit Gatan dan potensi air terjun Gatan yang mempunyai ciri khas dan daya tarik tersendiri. Untuk hasil penilaian kelayakan potensi ekowisata pada ekowisata Bukit Gatan Kabupaten Musi Rawas dapat diketahui bahwa kawasan ini layak untuk dikembangkan menjadi kawasan ekowisata dengan nilai indeks kelayakan 80,99 %. Kata Kunci: Ekowisata, Potensi Bukit Gatan, Hutan Desa Sukorejo
Analisis Strategi Pengembangan Hutan Kota Gunung Kembang Sarolangun Di Kabupaten Sarolangun: The Development Strategy Analysis of Gunung Kembang Sarolangun Urban Forest in Sarolangun Regency Ulfa, Maria; Rana, Rana; Nurmansyah, Rahmad
Jurnal Silva Tropika Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v7i2.36796

Abstract

ABSTRACT The Gunung Kembang Sarolangun City Forest is located in the Sarolangun Regency Government Office Complex. The urban forest was originally a biodiversity park and is included in the green open space area which has an area of 9.8 hectares and is based on the Decree of the Regent of Sarolangun No. 238 of 2022. To maintain the preservation of areas in urban forests, it is necessary to have strategies and policies in urban forests that can function and benefit urban human life in a sustainable manner. Currently, there is no previous research related to the development planning of the Sarolangun City Forest. The purpose of this study is to analyze the development strategy of the Sarolangun Mountain Kembang Urban Forest in Sarolangun Regency. The research was carried out in May 2023 in the Gunung Kembang Sarolangun City Forest and data analysis was carried out at the Forestry Department Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Jambi. The data was analyzed descriptively and qualitatively by the SWOT method. The results of the study show that the Gunung Kembang City Forest has been used for various activities such as leisurely walks and selfies. Internal strength factors are the condition of well-maintained urban forests, being a place for the community to gather, good and strategic accessibility, and policy support in urban forest development. Internal weaknesses are minimal budget, lack of research, lack of promotion and low public awareness. External opportunity factors are regional income opportunities, ecosystem-based tourism potential, recreational and camping sites, and support for multi-stakeholder cooperation for urban forest development. External challenge factors are the potential impact of environmental pollution and damage as well as the potential impact of global climate change. The SWOT diagram shows the strategic position that requires internal improvement and the utilization of existing opportunities so that the Gunung Kembang urban forest can be managed properly.   Keywords: development strategy, SWOT, urban forest    ABSTRAK Hutan Kota Gunung Kembang Sarolangun berada di Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Sarolangun. Hutan kota awalnya sebagai taman keanekaragaman hayati dan termasuk dalam kawasan ruang terbuka hijau yang memiliki kawasan seluas 9,8 Ha dan berdasarkan SK Bupati Sarolangun No. 238 Tahun 2022. untuk mempertahankan pelestarian kawasan di hutan kota perlu adanya strategi dan kebijakan pada hutan kota yang dapat berfungsi dan bermanfaat bagi kehidupan manusia perkotaan secara berkelanjutan. Saat ini belum ada penelitian terdahulu terkait perencanaan pengembangan Hutan Kota Sarolangun. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah menganalisis strategi pengembangan Hutan Kota Gunung Kembang Sarolangun di Kabupaten Sarolangun. Penelitian dilaksananakn pada bulai Mei 2023 di Hutan Kota Gunung Kembang Sarolangun dan analisis data dilakukan di Laboratorium Juruan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Data dianalisis secara deskriptif dan kualitatif dengan metode SWOT. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa Hutan Kota Gunung Kembang telah dimanfaatkan untuk berbagai aktifitas seperti jalan-jalan santai dan swafoto. Faktor kekuatan internal yaitu kondisi hutan kota yang terawat, menjadi tempat masyarakat berkumpul, aksesibilitas yang baik dan strategis, dukungan kebijakan dalam pengembangan hutan kota. Faktor kelemahan internal yaitu anggaran yang minim, kurangnya penelitian, kurangnya promosi dan rendahnya kesadaran masyarakat. Faktor peluang eksternal yaitu peluang pemasukan daerah, potensi wisata berbasis ekosistem, tempat rekreasi dan perkemahan serta dukungan Kerjasama multipihak untuk pengembangan hutan kota. Faktor tantangan eksternal yaitu potensi dampak pencemaran lingkungan dan kerusakan serta potensi dampak perubahan iklim global. Diagram SWOT menunjukkan posisi strategi (turn around) hang menghendaki perbaikan internal dan pemanfaatan peluang yang ada agar hutan kota gunung kembang bisa terkelolan dengan baik.   Kata kunci: hutan kota, strategi pengembangan, SWOT
Kondisi Sosial Ekonomi Dan Persepsi Masyarakat Desa Pulau Cawan Terhadap Ekowisata Pantai Solop Kabupaten Indragiri Hilir Ulfa, Maria; Fazriyas; Tri Agustina, Dinda
Jurnal Hutan dan Masyarakat VOLUME 14 NO 1, JULI 2022
Publisher : Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.943 KB) | DOI: 10.24259/jhm.v14i1.13442

Abstract

Ekowisata Pantai Solop berada di Desa Pulau Cawan, Kabupaten Indragiri Hilir merupakan salah satu objek ekowisata unggulan dan memiliki potensi-potensi alam yang masih terjaga dengan baik seperti hutan mangrove, pantai dengan pasir dan keanekaragaman hayati lainnya. Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis tingkat persepsi masyarakat terhadap kondisi Ekowisata Pantai Solop dan kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Pulau Cawan. Data persepsi dan karakteristik sosial ekonomi masyarakat diambil dengan cara melakukan wawancara semi terstruktur dengan bantuan kuesioner serta studi literatur. Responden ditentukan menggunakan purposive sampling dengan teknik sensus. Teknik pengukuran yang digunakan adalah skala likert. Analisis data yang dilakukan yaitu analisis uji instrumen dengan Uji Validitas dan Uji Reliabilitas, analisis persepsi masyarakat, analisis uji hipotesis dengan Chi-square dan Uji Kontingensi, dan Analisis Data Kualitatif Model Interaktif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap kondisi Ekowisata Pantai Solop yaitu baik (88,57%). Pendapatan masih dominan berasal dari hasil berkebun dan nelayan, hanya sebagian kecil yang dipengaruhi oleh Ekowisata Pantai Solop dan pengeluaran hanya sebatas kebutuhan sehari-hari. Karakteristik lainnya seperti pendidikan, kesehatan dan interaksi sosial juga tidak memiliki perubahan dengan adanya Ekowisata Pantai Solop. Kata Kunci: Ekowisata, Mangrove, Pantai Solop, Persepsi, Sosial Ekonomi
Pengorganisasian Kelompok Tani Desa Kembang Ayun Kecamatan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat Sumatera Selatan Kurniasih, Siti; Sardi, Idris; Jamaluddin, Jamaluddin; Fathoni, Zakky; Ulfa, Maria
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 2 No. 12 (2025): Oktober
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/0e5f9x33

Abstract

Desa Kembang Ayun merupakan salah satu desa sentra komoditi kopi dimana 70% warga Desa Kembang Ayun mengusahakan komoditi kopi. Upaya mendorong petani untuk mempertahankan komoditi kopi penting dilakukan, yaitu melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa perbaikan kelembagaan petani untuk mendorong kegiatan dalam rangka meningkatkan produksi dan nilai jual hasil produksi. Persoalan yang dihadapi oleh warga Desa Kembang Ayun berkenaan dengan kelembagaan petani adalah ketidakjelasan keberadaan, tujuan, tugas pokok dan fungsi, struktur, aturan, dan tidak adanya rencana kegiatan dari kelompoktani yang ada. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk mendorong aktifnya kelompoktani dalam menjembatani proses kerjasama petani dan melakukan pembinaan kepada petani dalam mengelola komoditi yang menjadi andalan. Kegiatan yang dilakukan dalam rangka pengabdian masyarakat di Desa Kembang Ayun mencakup dua kategori yaitu penyuluhan dan diskusi. Hasil pelaksanaan kegiatan tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan penyuluhan pada kelompoktani telah memberikan wawasan mengenai kelompok kepada petani yang sebelumnya kelompok baik dilihat dari keberadaanya, tujuan, tugas pokok dan fungsinya, struktur, tata aturan, dan bidang kegiatan belum dipahami secara memadai. Pelaksanaan kegiatan diskusi dalam rangka penguatan kelompok telah mampu merumuskan beberapa aspek yang terkait dengan instrument kelompok.
Transformasi UMKM madu hutan menjadi wisata edukasi berkelanjutan: Pengembangan kampung wisata madu Provinsi Jambi Nahlunnisa, Hafizah; Ulfa, Maria; Rahmilija, Femei; Yandi, Wahyu Nazri; Mandala, Bakti
Jurnal Oase Nusantara Vol 4 No 2 (2025)
Publisher : Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT Cipta Lebah Berkah (CLB) melalui merek Rumah Madu Hutan Jambi mengembangkan produksi madu berbasis koloni Apis dorsata di ekosistem gambut Danau Lamo, Muaro Jambi. Seiring meningkatnya minat terhadap wisata edukatif, CLB berpotensi mengembangkan desa edu-ekowisata berkelanjutan yang berfokus pada madu dan konservasi lebah. Namun, tantangan utama meliputi belum adanya perencanaan spasial terpadu, program wisata edukatif yang belum terstruktur, serta keterbatasan media interpretasi. Program pengabdian ini dilaksanakan selama delapan bulan melalui konsultasi dengan manajemen CLB dan observasi di dua lokasi, yaitu area budidaya madu di Danau Lamo dan outlet pemasaran di Kota Jambi. Kegiatan meliputi: (1) penyusunan rencana spasial Desa Wisata Madu; (2) perancangan program edu-wisata tematik bagi pelajar, masyarakat, dan keluarga; (3) pengembangan media interpretasi berupa booklet, leaflet, dan papan informasi; serta (4) penyusunan konsep kampanye sosial-lingkungan bersama LSM untuk mendorong produksi madu berkelanjutan dan kesadaran ekologi. Hasil menunjukkan bahwa lokasi budidaya potensial untuk pengalaman langsung proses madu, sedangkan outlet cocok untuk edukasi dan promosi. Perencanaan spasial dan media interpretasi memperkuat dasar pengembangan Desa Wisata Madu sebagai model “edu-ekowisata” yang menarik dan berkelanjutan. Kampanye sosial-lingkungan diharapkan meningkatkan identitas lokal, konservasi lebah dan ekosistem gambut, serta kesejahteraan masyarakat melalui usaha madu berkelanjutan.
PENGARUH PENGEMBANGAN EKOWISATA DI DESA WISATA LEMPUR KABUPATEN KERINCI PROVINSI JAMBI Fazriyas, Fazriyas; Ulfa, Maria; Fikri, Arief Zohiril
Jurnal Pariwisata Vol 11, No 1 (2024): Jurnal Pariwisata
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/par.v11i1.12498

Abstract

ABSTRAKMasyarakat Desa Wisata Lempur telah memfungsikan Lembaga Adat Lekuk 50 Tumbi Lempur sebagai penanggung jawab utama kegiatan wisata di Lempur dan wilayah sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, pengembangan ekowisata diharapkan memberikan perubahan bagi masyarakat pada aspek ekologi, ekonomi dan sosial. Setelah ditetapkannya Lekuk 50 Tumbi Lempur sebagai Desa Wisata pada tahun 2016, terjadi beberapa perubahan namun belum diketahui apakah hal tersebut disebabkan oleh kegiatan ekowisata yang dilakukan di desa. Penelitian ini secara khusus mengkaji pengaruh pengembangan ekowisata terhadap perubahan kondisi ekologi, ekonomi dan sosial setelah 5 tahun perjalanan pengelolaan ekowisata di Desa Wisata Lempur, Kabupaten Kerinci. Metode penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Responden diambil sebanyak 30 orang secara purposif  kemudian dilanjukan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji hipotesis dengan Uji T. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap perubahan kondisi ekologi, ekonomi dan sosial sebelum dan setelah adanya pengembangan ekowisata berbasis masyarakat di Desa Wisata Lempur. Hal ini berdasarkan hasil wawancara dan kuisioner yang kemudian diuji lanjut dengan uji t. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan ekowisata yang dilakukan membawa perubahan terhadap aspek ekologi, ekonomi dan sosial di Desa Wisata Lempur. Kata Kunci: Desa Wisata Lempur, Ekowisata, Lekuk 50 Tumbi, Masyarakat, Perubahan ABSTRACT The community of Lempur Tourism Village has enabled the Lekuk 50 Tumbi Lempur Traditional Institute as the main person in charge of tourism activities in Lempur and the surrounding area. Over time, the development of ecotourism is expected to provide changes for the community in ecological, economic and social aspects. After the stipulation of Lekuk 50 Tumbi Lempur as a Tourism Village in 2016, there have been some changes but it is not known whether this is caused by ecotourism activities carried out in the village. This study specifically examines the effect of ecotourism development on changes in ecological, economic and social conditions after 5 years of ecotourism management in Lempur Tourism Village, Kerinci Regency. This research method is a quantitative research method. Respondents were taken as many as 30 people purposively then continued with the Shapiro-Wilk normality test and hypothesis testing with the T test. The results of this study stated that there was a significant effect on changes in ecological, economic and social conditions before and after the development of community-based ecotourism in the Tourism Village. mud. This is based on the results of interviews and questionnaires which are then further tested with the t test. It can be concluded that the ecotourism activities carried out bring changes to the ecological, economic and social aspects of the Lempur Tourism Village. Keywords: Changes, Community, Ecotourism, Lempur Tourism Village, Lekuk 50 Tumbi 
Potential Floristic Analysis of Peat Swamp Village Forest in Jambi Province to Supports Village Ecotourism Programme Nursanti; Ulfa, Maria; Saleh, Zuhratus
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 14 No 4 (2024): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.14.4.663

Abstract

Hutan Desa Pematang Rahim merupakan salah satu skema perhutanan sosial yang ditawarkan oleh pemerintah. Balai Pengelolaan Hutan Desa Pematang Rahim menjadikan ekowisata sebagai dasar pengelolaannya. Ekowisata di ekosistem gambut di hutan desa menjadikan keanekaragaman hayati di dalamnya, terutama tumbuhan, sebagai dasar ekowisata terencana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dan informasi tentang potensi flora dalam mendukung pengelolaan hutan desa berbasis ekowisata. Penelitian ini dilaksanakan selama 8 bulan mulai Maret hingga Oktober 2021 dengan lokasi di Hutan Desa Pematang Rahim Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan analisis lebih lanjut di Herbarium dan Laboratorium Manajemen, Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa hutan gambut yang dikelola sebagai hutan desa di Pematang rahim secara umum dalam kondisi baik. Ada berbagai jenis pohon dan tanaman lain dalam berbagai bentuk kehidupan. Hasil penelitian ditemukan 26 famili, 58 marga dan 104 spesies dengan total 2.831 individu yang terdiri dari 855 anakan, 880 anakan, 546 tiang dan 550 pohon. Indeks keanekaragaman menunjukkan nilai yang tinggi (>3) untuk setiap tahap pertumbuhan dari semai sampai pohon (3,39; 3,56; 3,65; 3,79). Keberadaan berbagai jenis spesifik gambut dengan kondisi ekosistem yang masih terjaga diharapkan dapat menjadi nilai tambah dalam kegiatan ekowisata di kawasan Hutan Desa Pematang Rahim di masa mendatang.
Solusi Pemanfaatan Secara Optimal Limbah Pinang Dalam Upaya Peningkatan Produksi Tanaman Pinang Di Desa Jati Mulyo Secara Berkelanjutan: Solusi Pemanfaatan Secara Optimal Limbah Pinang dalam Upaya Peningkatan Produksi Tanaman Pinang di Desa Jati Mulyo Secara Berkelanjutan Eva Achmad; Bambang Irawan; Fazriyas; Rike Puspitasari Tamin; Maria Ulfa
Altifani Journal: International Journal of Community Engagement Vol. 5 No. 2 (2025): Altifani Journal: International Journal of Community Engagement
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/altifani.v5i2.782

Abstract

Jati Mulyo Village is one of the villages in Dendang District, East Tanjung Jabung Regency, Jambi Province which is one of the areca nut and pineapple producing areas in Jambi Province. The productivity of areca nut produced is very good but until now areca nut waste has not been optimally processed by farmers. The low knowledge of farmers in processing areca nut waste into soil improver (compost) is an obstacle in the desire of farmers in processing areca nut waste. The purpose of this community service activity is to provide education and training to farmers about the utilisation of areca nut waste into compost as well as the utilisation of the compost to increase areca nut and pineapple production in Jati Mulyo Village. This community service activity includes counselling activities, demonstrations and training, mentoring and evaluation to partners to be able to use the science and technology in the management of areca nut waste.  This community service activity resulted in an increase in farmers' knowledge and skills in making compost made from the main raw material of areca nut waste.