Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA TINGGI BADAN ORANG TUA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUSOMAEN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Mokodompit, Erza P.; Kapantow, Nova H.; Mayulu, Nelly
KESMAS Vol 7, No 5 (2018): Volume 7, Nomor 5, September 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting di Indonesia merupakan satu dari banyaknya masalah gizi yang perlu ditangani secara serius, dapat dilihat dari kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak tumbuh terlalu pendek, dan perlu dilakukan penurunan prevalensi balita pendek (stunting). Angka prevalensi untuk stunting di Indonesia pada tahun 2013 persentasenya mencapai 37,2%. Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan salah satu faktor terjadi stunting pada balita adalah tinggi badan orang tua. Penelitian ini memiliki tujuan untuk dapat mengetahui gambaran tinggi badan ayah dan ibu serta mengetahui hubungan antara tinggi badan orang tua dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional dengan rancangan cross sectional, tempat penelitian  dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Pusomaen pada bulan Juli-September tahun 2018. Populasi dalam penelitian  berjumlah 424 balita dan didapatkan 100 responden berdasarkan rumus slovin  dan jenis teknik pengambilan sampel dalam penelitian adalah simple random sampling. Pengukuran tinggi badan balita dan orang tua menggunakan alat ukur yaitu microtoise dengan ketelitian 0,1 cm dan data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji fisher exact test.  Hasil analisis univariat persentase tinggi badan ayah yang  memiliki tinggi <155cm  sebesar 4%  (p value = 0,625) dan tinggi badan ibu  <150cm memiliki persentase 37% (p value = 0,406) adapun persentase balita pendek (stunting) sebesar 45% serta persentase untuk tinggi badan orang tua dengan kejadian stunting didapatkan (p value = 0,678). Hasil analisis bivariat dalam penelitian ini mendapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan antara tinggi badan orang tua dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan.   Kata Kunci : balita usia 24-59 bulan, tinggi badan orang tua, stunting ABSTRACTStunting in Indonesia is one of many problems nutrition that need to be addressed seriously, can be seen from condition failing growing on of baby a result of chronic malnutrition and the growing too short , and necessary reducing the prevalence of toddler short (stunting). The prevalence rate for stunting in Indonesia in 2013 reached 37.2%. Stunting is caused by multi-dimensional factors and one of the factors in stunting in infants is the height of parents. The research has purpose to know how the image of the height restrictions father and mother and to knows the correlation between the height restrictions parents with an occurrence stunting in toddlers age 24-59 months . Observational research using in the study design to a draft cross sectional , research locations carried out in this area of Puskesmas Pusomaen on the month July-September 2018. Population in research were 424 toddlers and obtained 100 respondents formula Slovin and types of  technique in the study was simple random sampling. Measuring toddlers' height and parents using a measuring instrument namely microtoise with 0.1 cm accuracy and the data obtained were analyzed using the fisher exact test. The results of univariate analysis of the percentage of father's height that has a height of <155cm of 4% (p value = 0.625) and maternal height <150cm has a percentage of 37% (p value = 0.406) while the percentage of short toddlers (stunting) is 45% and percentage for the height of parents with the incidence of stunting was obtained (p value = 0.678). The results of the analysis bivariat, there was no correlation between parents with the genesis stunting in toddlers age 24-59 months. Keywords: toddlers age 24-59 months, height parents, stunting
HUBUNGAN INISIASI MENYUSUI DINI (IMD) DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI KOTA MANADO Ekaristi, Pongtuluran; Kandou, Grace D.; Mayulu, Nelly
KESMAS Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian ASI secara optimal sangat penting. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan salah satu penentu kesuksesan pemberian ASI eksklusif 6 bulan. Manfaat IMD diantaranya adalah mengurangi resiko terjadinya kematian ibu, meningkatkan kemungkinan keberhasilan ASI eksklusif 6 bulan, mencegah kematian neonatal, dan meningkatkan kedekatan dan rasa kasih sayang antara ibu dan bayi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dengan pemberian ASI eksklusif di Kota Manado. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional dengan teknik penentuan total sampling. Penelitian ini dilaksanakan di lima wilayah kerja Puskesmas yang ada di Kota Manado, yaitu wilayah kerja Puskesmas Tuminting, wilayah kerja Puskemas Paniki Bawah, wilayah kerja Puskesmas Ranotana Weru, wilayah kerja Puskesmas Kombos, dan wilayah kerja Puskesamas Bahu pada 193 ibu yang memiliki bayi usia 0-12 bulan. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan nilai α = 0,05. Diperoleh nilai p = 0,014, berarti nilai p lebih kecil dibandingkan nilai α. Sehingga dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dengan pemberian ASI eksklusif di Kota Manado. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) harus dilaksanakan untuk keberhasilan pemberian ASI eksklusif demi kesehatan ibu dan bayi.Kata kunci: Inisiasi Menyusu Dini (IMD), Pemberian ASI Eksklusif.ABSTRACTThe optimal breastfeeding is very important. Early initiation of breastfeeding is one of the determinant of successful exclusive breastfeeding for 6 months. The benefits of early initiation of breastfeeding are included by reducing the risk of maternal mortality, increasing the chance of 6 months success exclusive breastfeeding, prevent neonatal death, and increase the sense of closeness and affection between mother and the baby. The purpose of this study is to analyze the relationship of early initiation of breastfeeding with exclusive breastfeeding in Manado. This research is an analytic survey with the approach of cross-sectional study design and using total sampling technique. This research was conducted in 5 work areas of public health care center in Manado; they are Tuminting health care center, Paniki Bawah health care center, Ranotana Weru health care center, Kombos health care center, and Bahu health care center on mothers who have baby 0-12 months. Data analysis using Chi-Square test with α = 0,05. The result of statistical test p-value is 0,014, which means p-value is lower than α. So, it can be concluded that there is a relationship of early initiation of breastfeeding with exclusive breastfeeding in Manado. Early initiation of breastfeeding should be implemented for the successful of exclusive breastfeeding as well as for the sake of health to the mother and the baby.Keywords: Early Initiation of Breastfeeding, Exclusive Breastfeeding.
HUBUNGAN ANTARA STATUS IMUNISASI DAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 24-59 BULAN DI DESA TATELI WERU KECAMATAN MANDOLANG KABUPATEN MINAHASA Aguw, Marchia; Malonda, Nancy S. H.; Mayulu, Nelly
KESMAS Vol 8, No 7 (2019): Volume 8, Nomor 7, NOVEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari indikator program Sustainable Development Goals (SDGs) salah satunya yaitu untuk mengurangi angka kematian balita. Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi, UNICEF dan WHO merekomendasikan sebaiknya bayi disusui air susu ibu (ASI) selama 6 bulan (ASI eksklusif), dan pemberian ASI dilanjutkan sampai bayi berumur 2 tahun. Selain ASI, imunisasi wajib diberikan pada bayi dan anak untuk mencegah sakit, kecacatan dan kematian akibat PD3I. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara status imunisasi dan pemberian ASI eksklusif dengan status gizi pada anak usia 24-59 bulan di Desa Tateli Weru Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional study (studi potong lintang) yang dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2019. Populasi dan sampel penelitian merupakan seluruh balita yang bertempat tinggal di Desa Tateli Weru berjumlah 72 balita. Hasil penelitian untuk status gizi berdasarkan indeks BB/U yaitu gizi baik 75% dan gizi kurang 25%, berdasarkan indeks TB/U untuk kategori normal 62,5% dan pendek 37,5%, berdasarkan indeks BB/TB untuk kategori normal 54,2%, kurus 45,8%. Status imunisasi, lengkap 80,6% dan tidak lengkap 19,4% dan untuk pemberian ASI eksklusif, yang diberikan ASI eksklusif 26,4% dan yang tidak 73,6%. Berdasarkan hasil penelitian, tidak terdapat hubungan antara status imunisasi dengan status gizi (BB/U, TB/U, BB/TB) dan terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi (BB/U, TB/U, BB/TB). Dianjurkan kepada orang tua untuk lebih aktif dalam memantau status gizi anak serta mengikuti kegiatan penyuluhan atau sosialisasi kesehatan anak. Kata Kunci: Status Imunisasi, Asi Eksklusif, Status Gizi ABSTRACTOne of the objectives of the Sustainable Development Goals (SDGs) program indicators is to reduce children under five mortality rate. To reduce morbidity and mortality, UNICEF and WHO give recommend that babies should be giving only breast milk for 6 months (exclusive breastfeeding), and continued breastfeeding for up to 2 years. In addition to breastfeeding, immunization must be given to infants and children to prevent illness, disability and death due to disease that can be prevented by immunization. The purpose of this study was to study the relationship between immunization status and exclusive breastfeeding with nutritional status in children aged 24-59 months in Tateli Weru Village, Mandolang District, Minahasa Regency. This study used a cross sectional study design which was conducted in August to September 2019. The population and sample of the study were all children that stay in the Tateli Weru village which is 72 children. The results of the study for nutritional status based on BB / U index are 75% good nutrition and 25% malnutrition, based on the TB / U index for the normal category is 62,5%, and short 37.5% %, based on the BB / TB index for the normal category is 54,2%, thin 45,8%. Immunization status, complete 80.6% and incomplete 19.4% and for exclusive breastfeeding, those who were given exclusive breastfeeding were 26.4% and non-73.6%. Based on the results of the study, there is no relationship between immunization status and nutritional status (BB / U, TB / U, BB / TB) and there is a relationship between exclusive breastfeeding and nutritional status (BB / U, TB / U, BB / TB). It is recommended for parents to be more active in the nutritional status of children participating in counseling activities or special children's health socialization. Keywords: Immunization Status, Exclusive Breastfeeding, Nutritional Status
HUBUNGAN STATUS GIZI IBU DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI KOTA MANADO Rembet, Sindi R.; Mayulu, Nelly; Ratag, Budi T.
KESMAS Vol 6, No 4 (2017): Volume 6, Nomor 4, Juli 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah gizi masih menjadi masalah terbesar di Indonesia sehingga Pemerintah Indonesia menetapkan peraturan pemerintah tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang pembahasannya berfokus pada 1000 hari pertama kehidupan. Kebanyakan di negara berkembang ibu memasuki masa laktasi tanpa cadangan lemak yang cukup sehingga ibu berisiko tidak bisa memproduksi cukup ASI kecuali mereka memenuhi kebutuhan energinya melalui peningkatan asupan makan. Tercatat jumlah ibu hamil yang mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) sekitar 24,2%. Persentase data pemberian ASI Eksklusif di Kota Manado yaitu 36,9% dengan jumlah bayi sebanyak 1735 bayi dan yang diberi ASI Eksklusif hanya 641 bayi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan Status Gizi Ibu dengan Pemberian ASI Ekslusif di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan Juli-September tahun 2017 di 5 Puskesmas di Kota Manado yaitu Puskesmas Tuminting, Puskesmas Paniki Bawah, Puskesmas Ranotana Weru, Puskesmas Kombos dan Puskesmas Bahu. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan tidak terdapat hubungan antara status gizi ibu dengan pemberian asi eksklusif (p>0,05) dengan nilai p=0,811. Kesimpulannya ibu hamil di Kota Manado banyak yang mengalami penambahan berat badan yang tidak sesuai rekomendasi (74,7%). Persentase pemberian ASI Eksklusif pada bayi usia 0-12 bulan hanya 19,4%. Saran perlunya perhatian terhadap ASI Eksklusif dengan penyuluhan atau turun langsung ke lapangan untuk memantau ibu dalam pelaksanaan pemberian ASI kepada bayi. Pentingnya perhatian terhadap status gizi ibu khususnya ibu hamil dengan menganjurkan para ibu untuk mempertahankan status gizi yang baik.Kata Kunci : ASI Eksklusif, Status Gizi IbuABSTRACTNutrition problem is the biggest problem in Indonesia so that the government of Indonesia set agovernment regulation in 2013 about national movement for the acceleration of nutritionimprovement focuses on the first 1000 days of life. In the developing countries mostly mothers inlactation periods without sufficient fat reserves, mothers at risk of not producing enough milkunless they meet their energy needs through increased intake of food. The number of pregnantwomen who experience Chronic Energy Deficiency (CED) are about 24.2%. The percentage ofexclusive breastfeeding data in Manado is 36.9% with the number of infants as many as 1735babies and exclusively breast-fed infants only 641 babies. The purpose of this study is to determinethe relationship of maternal nutrition status with exclusive breastfeeding in Manado. This studyusing an analytic observational research with cross sectional approach conducted in July-September 2017 at five Health Care Center in Manado; Tuminting Health Care Center, PanikiBawah Health Care Center, Ranotana Weru Health Care Center, Kombos Health Care Center andBahu Health Care Center. The result of the research shows that there is no correlation betweenmaternal nutritional status with exclusive breastfeeding (p > 0,05) with p value = 0,811. Toincrease the attention of exclusive breastfeeding is with counseling or monitor the mother in theimplementation of breastfeeding to their baby. It is important to pay attention to the maternalnutritional status, especially pregnant women by encouraging mothers to maintain goodnutritional status.Keywords: Exclusive Breastfeeding, Maternal Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA STATUS SOSIAL EKONOMI DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI DESA TIWOHO KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA Taraming, Yasinta N.; Amisi, Marsella D.; Mayulu, Nelly
KESMAS Vol 8, No 7 (2019): Volume 8, Nomor 7, NOVEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Status gizi menggambarkan keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diketahui melalui konsumsi dan penggunaan zat gizi dalam makanan di dalam tubuh, Salah satu faktor yang memengaruhi status gizi yaitu status sosial ekonomi dimulai dari tingkat pendidikan yang akan berpengaruh pada jenis pekerjaan. Kemudian jenis pekerjaan akan berpengaruh pada pendapatan. Pendapatan rendah merupakan kendala bagi keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara status sosial ekonomi dengan status gizi pada anak usia 24-59 bulan di Desa Tiwoho Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Desain penelitian yang digunakan yaitu observasional analitik dengan rancangan peneltian studi potong lintang, dilakukan pada bulan Juli-September tahun 2019 di Desa Tiwoho Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Populasi penelitian ini adalah anak yang berusia 24-59 bulan pada bulan juli 2019 dan sampel berjumlah 59 anak. Analisis data dengan uji Fisher Exact dan Korelasi Spearman. Hasil penelitian didapatkan yaitu ibu dengan pendidikan rendah berjumlah 64.4% dan ibu dengan pendidikan tinggi berjumlah 35,6%. Ayah dengan pendidikan rendah berjumlah 61.0% dan ayah dengan pendidikan tinggi berjumlah 39.0%. Ibu yang bekerja di dalam rumah berjumlah 96.6% dan yang bekerja luar rumah berjumlah 3.4%. Rata-rata pendapatan keluarga adalah Rp. 790.000,-bulan. Berdasarkan hasil uji fisher exact didapatkan pendidikan ibu IMT/U p=0.017, pendidikan ayah IMT/U p=0.055 dan pekerjaan ibu IMT/U p=1.000, berdasarkan hasil uji korelasi spearman pendapatan keluarga p=0.036 dengan nilai r=0,274. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara pendidikan ibu dan pendapatan keluarga dengan status gizi (IMT/U) dan tidak terdapat hubungan antara pendidkan ayah dan pekerjaan ibu dengan status gizi (IMT/U). Kata Kunci : Status Sosial Ekonomi, Status Gizi ABSTRACTNutritional status can describe a person's or group of people health and known through consumption, absorption and foods nutrients. Imbalance in food supply will be impacting  nutritional problem, commonly be known as under nutrition and over nutrition. One of the factor that influence nutritional status is socioeconomic status starting from the educational background which is affecting the working field. Then the type of work will affect income. Low income is an obstacle for families to be sufficient in nutritional needs, these about the quality and quantity for all family members. The purpose of this study is to determine the relationship between socioeconomic status and nutritional status of children 24-59 months in Tiwoho Village, Wori District, North Minahasa Regency. The research design that used in this study was an analytic observational research design with a cross sectional study design conducted in July-September 2019 in Tiwoho Village, Wori District, North Minahasa Regency. The study population was children 24-59 months in July 2019 and the sample in this study was the entire population of 59 children. Data analysis using Fisher Exacts test and Spearman correlation. The results showed that mothers who had low educational background  were 64.4% and those who had higher educational background were 35.6%. Fathers with low educational background were 61.0% and those who have  higher educational background were 39.0%. Mothers who worked in the house were 96.6% and those who worked outside the home were 3.4%. The average family income is Rp. 790.000 a month. Based on the fisher exacts test results obtained maternal education of BMI-for-age value of p = 0.017, education of father of BMI-for-age value of p = 0.055 and  work of mothers of BMI-for-age value of p = 1,000. Based on the Spearman correlation test family income value of p = 0.013 with the value of r=0,274. The conclusion of this study is: “There is a relationship between mother's educational background and family income with nutritional status (BMI-for-age) and There is no relationship between father's education and mother's occupation with nutritional status (BMI-for-age)”. Keywords : Socio-Economic Status, Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA PERTAMBAHAN BERAT BADAN IBU SELAMA HAMIL DENGAN BERAT BADAN LAHIR BAYI DI KOTA MANADO Manuputty, Michael; Malonda, Nancy S. H.; Mayulu, Nelly
KESMAS Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berat lahir menggambarkan pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan. WHO menetapkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) jika bayi memiliki berat badan lahir kurang dari 2500 gram. Ukuran tubuh bayi saat lahir dapat dipengaruhi oleh ukuran tubuh ibu dibanding ayah. Faktor yang langsung mempengaruhi hasil dari kehamilan yaitu kenaikan berat badan selama hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pertambahan berat badan ibu selama hamil dengan berat badan lahir bayi di Kota Manado. Desain Penelitian menggunakan rancangan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross secsional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang tinggal di 5 wilayah kerja Puskesmas yang telah ditentukan yaitu, Puskesmas Bahu, Puskesmas Ranotana Weru, Puskesmas Kombos, Puskesmas Tuminting, dan Puskesmas Paniki bawah. Sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan total sampling yang didapat saat penelitian berjumlah 207 dan diseleksi menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga sampel yang digunakan sebanyak 150 sampel. Hasil Penelitian berdasarkan uji spearman diperoleh hasil tidak terdapat hubungan antara pertambahan berat badan ibu selama hamil dengan berat badan lahir bayi, nilai p value yang di peroleh sebesar 0,155 dengan nilai α = 0,05. Hasil uji dengan nilai p value (0,155) lebih besar dari α (0,05). Kesimpulan tidak ada hubungan antara pertambahan berat badan ibu selama hamil dengan berat badan lahir bayi di Kota Manado.Kata Kunci: Pertambahan Berat Badan, Berat Badan Lahir Bayi.ABSTRACTBirth weight described the growth of the fetus during the pregnancy. WHO establishes low birth weight if the baby was born with birth weight less than 2500 grams. The baby's body size at birth can be affected by the size of the mother's body compared to the father. Factors that directly affect the outcome of pregnancy are weight gain during maternal pregnancy. This study aims to determine the relationship between maternal weight gains during pregnancy with birth weight babies in Manado. This study designed with an analytic observational research and cross sectional approach. The population in this study was mothers who has babies 0-12 months and conducted in 5 work areas of public health care center in Manado; they are Tuminting health care center, Paniki Bawah health care center, Ranotana Weru health care center, Kombos health care center, and Bahu health care center. The sample in this study was determined based on the total sampling. During the study there were 207 samples collected and already selected using inclusion and exclusion criteria so that the sample used for this study is 150 samples. Result of the research based on spearman-test obtained results there is no relationship between maternal weight gain during pregnancy with infant birth weight, p-value is 0,155 with value α = 0,05. The test result with p value (0,155) is bigger than α (0,05). The conclusion is there no relationship between maternal weight gain during pregnancy and birth weight of infant in Manado.Keywords: Weight Gain, Baby's Birth Weight.
HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI KECAMATAN TOULUAAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Agow, Mersi S; Malonda, Nancy S.H; Mayulu, Nelly
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Status gizi masyarakat termasuk balita ditentukan oleh asupan gizi yang baik. Kebutuhan tubuh akan makanan dan pengaruh interaksi dari penyakit. Ketidaseimbangan asupan gizi bisa mengakibatkan gizi kurang maupun gizi lebih. Ada faktor utama penyebab kekurangan gizi yaitu kemiskinan. Konsumsi makanan yang beragam, bergizi dan seimbang dan aman dapat memenuhi kecukupan gizi anak untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pola asuh dengan status gizi pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Touluaan Kabupaten Minahasa Tenggara. Desain penelitian yang digunakan yaitu observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia 24-59 bulan Kecamatan Touluaan dengan jumlah 100 balita yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel penelitian ini diambil secara purposive sampling. Berdasarkan uji statistik Fisher?s Exact Test diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara praktik merawat dengan status gizi berdasarkan indeks BB/U, dengan nilai p= 1,000, TB/U dengan nilai p=1,000 dan BB/TB dengan nilai p=1,000. Tidak terdapat hubungan antara praktik pemberian makan dengan status gizi berdasarkan indeks BB/U dengan nilai p= 1,000 dan BB/TB dengan nilai p= 0,140. Terdapat hubungan antara praktik pemberian makan anak dengan status gizi berdasarkan indeks TB/U dengan nilai p= 0,045. Terdapat hubungan antara pola asuh dalam hal ini praktik pemberian makan anak dengan status gizi (TB/U) pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Touluaan Kabupaten Minahasa Tenggara.Kata Kunci: Pola Asuh, Status GiziABSTRACTThe community nutritional status include the toddler determined of a good nutrition. The body debriefing and the influence of disease interactions. Disproportion of nutritional can be intaken malnutrition and over nutrition. The main factor causing malnutrition is poverty. The balanced of Diverse nutritious and good consumption can meet children's nutritional adequacy for growth evolution. The purpose of this study is to determine whether there is a relationship between parenting with nutritional status in children aged 24-59 months in Touluaan District, Southeast of Minahasa. The research design used was analytic observational with cross sectional research design. The population in this study were children aged 24-59 months in Touluaan Subdistrict with a total of 100 toddlers who met the inclusion and exclusion criteria. The research sample was taken by purposive sampling. Based on the ?Fisher's Exact test? statistical results obtained that there was no relationship between the practice of caring for nutritional status based on BB / U index, with a value of p = 1,000, TB / U with a value of p = 1,000 and BB / TB with a value of p = 1,000 . There was no correlation between feeding practices and nutritional status based on BB / U index with p = 1,000 and BB / TB values with p = 0.140. There is a relationship between the practice of feeding children with nutritional status based on TB / U index with a value of p = 0.045. There is some relationship amongst parenting, in this case the practice of feeding children with nutritional status of children (TB / U) in Touluaan District, Southeast of Minahasa.Keywords: breastfeeding patients, nutritional status
HUBUNGAN ASUPAN ENERGI MAKANAN DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI KOTA MANADO Maki, Olvinda; Mayulu, Nelly; Djarkasi, Gregoria Sri Suhartati
Jurnal Teknologi Pertanian (Agricultural Technology Journal Vol 10, No 1 (2019): Jurnal Teknologi Pertanian (Agricultural Technology Journal)
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jteta.10.1.2019.28219

Abstract

Abstract Obesity is a serious illness that can cause emotional and social problems. A person is said to be overweight if the body is 10% to 20% normal body weight, while someone is called obese when overweight reaches more than 20% of normal body weight. Obesity is currently a world problem even WHO declares it a global epidemic (WHO, 2016) Meanwhile, children up to adolescents aged 5-18 years are classified as obese if the Z-Score BMI / U shows a number greater than 2 (WHO, 2016). This study was used with observational analytical research method with a research design used case control. The results showed that the picture of food energy intake and physical activity with the incidence of obesity in elementary school children was 39.3%, while for non-obese children it was 60.6%. Food energy intake in obese elementary school children is based on the level of adequacy of energy needs divided into 2 normal variables and more by 50%. And normal is 50%. There is a relationship between physical activity and the level of adequacy of energy and value (p = 0.000).Keywords: Obese, Energy Intake, Physical Activity
Hubungan Antara Faktor Sosial Ekonomi Keluarga dengan Status Gizi pada Anak Usia 0-23 Bulan di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Daramu, Gorby Santinus Janis; Kawengian, Shirley Everdina Susanna; Mayulu, Nelly
JKK (Jurnal Kedokteran Klinik) Vol 4, No 1 (2020): JURNAL KEDOKTERAN KLINIK
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKUnited Nations (badan dunia PBB) setiap tahun menyatakan bahwa sekitar 10 juta anak menderita malnutrisi akut (wasting), yang membutuhkan pemulihan termasuk penanganan gizi, penyakit infeksi, pelayanan sanitasi, dan akses terhadap air bersih, makanan yang penting bagi pertumbuhan anak yang sehat serta pemberian suplemen makanan bagi dua juta ibu hamil untuk meningkatkan nutrisinya. Namun pada satu dekade kemudian sejumlah penduduk dengan kelaparan di seluruh dunia masih tetap meningkat hingga saat ini. Sehingga 149 juta anak menderita stunting oleh akibat dari pertumbuhan dan perkembangan tinggi badan akibat malnutrisi yang lebih dikenal sebagai bentuk stunting, wasting dan overweight. Penelitian ini bertujuan untuk antara Faktor Sosial Ekonomi Keluarga dengan Status Gizi pada Anaka Usia 0-23 Bulan di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional di 13 wilayah puskesmas di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Hasil penelitian terhadap 192 sampel didapatkan berdasarkan Indeks BB/U ada hubungan antara Pendapatan Keluarga dengan Status Gizi dan ada hubungan antara Pekerjaaan Ibu dengan Status Gizi. Berdasarkan Indeks ada hubungan antara Pendidikan Ibu dengan Status Gizi. Penelitian ini menyimpulkan ada hubungan antara Faktor Sosial Ekonomi Keluarga dengan Status Gizi pada Anak usia 0-23 Bulan di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Kata Kunci : Faktor Sosial Ekonomi, Status GiziABSTRACThe United Nations states every year that around 10 million children suffer from acute malnutrition (wasting), which requires recovery including handling nutrition, infectious diseases, sanitation services, and access to clean water, food that is important for children's growth healthy and providing food supplements for two million pregnant women to improve nutrition. But a decade later, the number of people with hunger throughout the world is still increasing today. So that 149 million children suffer from stunting due to the growth and development of height due to malnutrition which is better known as a form of stunting, wasting and overweight. This study aims to determine the socioeconomic factors of families with nutritional status in children aged 0-23 months in Siau Tagulandang Biaro Regency. This study is an analytic study with a cross-sectional approach in 13 puskesmas areas in the Siau Tagulandang Biaro Regency. The results of a study of 192 samples obtained based on BB / U Index there is a relationship between Family Income and Nutrition Status and there is a relationship between Maternal Employment and Nutrition Status. Based on the Index there is a relationship between Mother's Education and Nutrition Status. Conclusion: This study concludes that there is a relationship between Family Socio-Economic Factors and Nutritional Status in Children aged 0-23 Months in Siau Islands Regency, Tagulandang Biaro Keyword : Socio-Economic Factors, Nutritional Status
GAMBARAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI ANAK USIA 6-24 BULAN DI DESA MOPUSI KECAMATAN LOLAYAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW INDUK Mangkat, Olivia; Mayulu, Nelly; Kawengian, shirley E.S.
eBiomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.2.2016.13902

Abstract

Abstract: According to Sustainable Development Goals/Millennium Development Goals (SDG's/MDG's), the infant mortality rate is still relatively high due to poor nutrition for pregnant women and infants. The best food for infants aged 0-6 months is breast milk. After 6 months, breast milk will only meet about 60-70% of the infant?s need, while 30-40% should be achieved from complementary foods. This study was aimed to describe the complementary feeding in Mopusi village, Lolayan, Bolaang Mongondow Induk. This was a descriptive study with a cross sectional design. Respondents were 90 mothers with children aged 6-24 months lived at Mopusi village from September 2014 until December 2014. Data were obtained by using questionnaires, and were analyzed with SPSS. The results showed that 32 infants (35.6%) were fed with manufactured complementary food; the most commonly given was formula milk (37.5%) and the least one was pureed Sun (15.6%). Of 58 infants (64.4%) who were fed with family foods, the most given food was rice (25.9%) and the least one was meat (3.4%). Conclusion: In this study, the most complementary food for infants aged 0-6 months was family food, rice. Keywords: breastfeeding, complementary feeding, manufactured, family foods Abstrak: Angka kematian bayi sesuai SDG?s/MDG?s (Sustainable Development Goals/Millenium Development Goals) relatif masih cukup tinggi. Penyebabnya antara lain nutrisi yang buruk untuk ibu hamil dan bayi. Makanan terbaik untuk bayi usia 0-6 bulan ialah ASI. Setelah 6 bulan, ASI hanya memenuhi sekitar 60-70% kebutuhan bayi, sedangkan 30-40% harus dipenuhi dari makanan pendamping ASI (MP-ASI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pemberian MP-ASI di Desa Mopusi, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow Induk. Jenis penelitian ini ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Responden ialah ibu yang memiliki bayi usia 6-24 bulan sebanyak 90 orang di Desa Mopusi pada bulan September 2014-Desember 2014. Data diperoleh melalui kuesioner dan dianalisis dengan SPSS. Hasil penelitian memperlihatkan sebanyak 32 bayi (35,6%) mendapat MP-ASI pabrikan, yang paling banyak diberikan ialah susu formula (37,5%) dan paling sedikit diberikan ialah bubur Sun (15,6%). Sebanyak 58 bayi (64,4%) mengonsumsi MP-ASI lokal, yang paling banyak diberikan ialah nasi (25,9%) dan yang paling sedikit diberikan ialah daging (3,4%). Simpulan: Pada studi ini, jenis MP-ASI yang paling sering diberikan pada bayi usia 6-24 bulan ialah MP-ASI local, yaitu nasi.Kata kunci: ASI, MP-ASI, lokal, pabrikan
Co-Authors ., Mety Agnes Madianung Agow, Mersi S Aguw, Marchia Alexander S. L. Bolang Amisi, Marsella D. Angel Lolita Danari Anita Ohe S. Fatie Aprilia Lombo Bahrudin Yamin Bolang, Christy R. Brilia Ch. Kereh, Brilia Ch. Budi T. Ratag Christine Yelika Nussy Daramu, Gorby Santinus Janis Deril Gansareng Dwi Christiani Audri Rahamis Dwi Mentari Datukramat Ekaristi, Pongtuluran Erina Utami Tandirerung Franly Onibala Gigir, Mega Sari Grace Debbie Kandou Gregoria S. S. Djarkasi Gresty Masi Gustaaf A. E. Ratag Gustaaf A.E. Ratag Hesti Lestari Hesti Sulistia Ningsih Hesty R. Masela, Hesty R. Ika R.I. Permatasari Joice N. A. Engka Joice N. Engka, Joice N. Julia Rottie Juwita Mangiri, Juwita Kawengian, Shirley Everdina Susanna Kawengian, Shriley E.S. Kezia, Immanuelle Kim, Bonglee Kolantung, Priska M. Kosanto, Vincent H. Larira, Dina Mariana Lastry Glory, Lastry Lele, Juan AJMN. Lucia Cecilia Mandey Made Ardika Wanantara Maki, Olvinda Malonda, Nancy S.H Mangkat, Olivia Manuputty, Michael Marchella Sege Meriam Assa, Meriam Mokodompit, Erza P. Nancy S. H. Malonda Narasiang, Bezaliel R. Ngurah Rai, I. G.B. Nova Hellen Kapantow Novita Hasyim Nur Padhilah Domu Nurkolis, Fahrul Nurpudji A. Taslim Pasaribu, Prisniade Paulina N. Gunawan Permatasari, Happy K. Pondagitan, Alpinia Shinta Pratama, Fauzan I. Pricilia Tan, Pricilia Rambing, Chorinne J. E. Rampengan , Derren DCH. Raven G. Katiho, Raven G. Rembet, Sindi R. Rendy R. Parengkuan Rina Kundre Risa K. F. Sahalessy, Risa K. F. Rivelino Hamel Rizqiansyah, Chrisandi Y. Romario M. Anthonie Runtu, Jessica G. Sabriani Pontoh, Sabriani Salni Saharman Sanjaya, Gusti D. Setiadhi, Yudhaputra Shirley E. Kawengian, Shirley E. Shirley E. S. Kawengian Shirley Kawengian, Shirley Sihaloho, Karlos B. Sri M. Buhang Sri Utami Arifin Stephanie Ch. P. Loong Supit, Enrico D. Syahputra, Rony A. Taraming, Yasinta N. Tati Ponidjan Tatiwakeng, Rezka V. Trina E. Tallei, Trina E. Vighneswara, Dewa Vinariani Tangkilisan Vincente L. Pranata, Vincente L. Vonny N. S. Wowor Watania, Tasya Winarsi Damapolii Wiraprasidi, I P.A. Yayuk A. Lasari Yuriansya Mangkat, Yuriansya