Hindra Irawan Satari
Universitas Indonesia

Published : 31 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Validitas Skor Royal College of Paediatrics and Child Health London untuk Mendeteksi Infeksi Bakteri Serius pada Anak I Wayan Gustawan; Sri Rezeki S Hadinegoro; Hindra Irawan Satari; Mulya Rahma Karyanti
Sari Pediatri Vol 18, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.646 KB) | DOI: 10.14238/sp18.4.2016.291-8

Abstract

Latar belakang. Mengingat peningkatan angka kematian anak akibat peningkatan insiden penyakit infeksi bakteri serius (IBS) pada anak, serta faktor risiko IBS yang beragam di sarana pelayanan kesehatan yang terbatas, merupakan alasan untuk mempergunakan model skoring dalam mendeteksi IBS. Tujuan. Mengetahui validitas Skor Royal College of Paediatrics and Child Health London (RCPCH) dalam mendeteksi IBS pada anak dengan demam dan mencari faktor prediktor IBS.Metode. Dilakukan 2 jenis metode penelitian yaitu uji diagnostik untuk mengetahui validitas Skor RCPCH dalam mendeteksi IBS pada anak dengan demam, dan kohort prospektif untuk mencari faktor prediktor IBS. Baku emas adalah diagnosis akhir sesuai ICD-10. Hasil. Didapatkan 260 subyek penelitian, analisis dilakukan pada 253 subyek (97,3%) karena 7 pasien tidak dapat dihubungi (loss of follow-up). Umur berkisar dari 1 bulan sampai 12 tahun. Proporsi laki-laki lebih banyak dari pada perempuan, dan kelompok umur terbanyak adalah > 36 bulan (51,4%). Diagnosis IBS didapatkan pada 28,9% subyek; dengan diagnosis terbanyak pneumonia (19%). Skor RCPCH mempunyai sensitifitas 58,9%, spesifisitas 86,7%, nilai duga positif 64,2%, nilai duga negatif 83,8%, rasio kemungkinan positif 4,42, rasio kemungkinan negatif 0,47, post tes probabilitas 64,23%, serta area under ROC curve 72,8%. Batuk, sesak napas, mencret, kejang, umur 1-36 bulan, suhu tubuh ≥ 37,50 C, hipoksia, dan takipnea merupakan faktor prediktor terjadinya IBS.Kesimpulan. Skor RCPCH dapat digunakan untuk memprediksi IBS pada anak umur 1 bulan–12 tahun. Batuk, sesak napas, mencret, kejang, umur 1-36 bulan, suhu tubuh ≥ 37,50 C, hipoksia, dan takipnea merupakan faktor prediktor terjadinya IBS.
Imunogenitas dan Keamanan Vaksin Varisela pada Anak Sehat Hindra Irawan Satari; Sri Rezeki Hadinegoro; Alan R Tumbelaka; Hardjono Abdoerrachman; Htay H Han; Bock H
Sari Pediatri Vol 3, No 4 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.772 KB) | DOI: 10.14238/sp3.4.2002.202-5

Abstract

Untuk menilai reaktogenitas dan imunogenitas vaksin varisela hidup yang dilemahkan(galur-Oka) pada anak sehat. Studi deskriptif dilakukan pada 300 anak yang berumur1- 12 tahun dan dibagi menjadi 3 subgrup menurut umur (1 -<3 tahun, 3 -<7 tahun, 7-12 tahun). Sebelum penelitian anak-anak tersebut dimintakan kesediaan dari orang tuanyasecara tertulis, dilakukan anamnesis mengenai riwayat varisela sebelumnya, danpemeriksaan titer anti-varisela. Dalam kurun waktu waktu 2 minggu apabila hasil negatif,maka diberikan suntikan vaksin varisela (Varilrix) 0,5 ml pada lengan deltoid kiri, setelahdilakukan pemeriksan fisis sebelumnya. Sesuai penyuntikan pada orangtua pasiendiberikan kartu harian untuk mencatat suhu tubuh, gejala lokal atau umum yang terjadisetelah penyuntikan. Bila dianggap perlu, orang tua dapat membawa anak untukdiperiksa. Pada hari ke-42 dilakukan pemeriksaan fisis pada setiap anak dilanjutkandengan pengambilan darah pasca vaksinasi. Kartu harian dikumpulkan kembali untukdianalisis. Penelitian dilakukan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta,dari tanggal 3 Mei 1998 sampai dengan 22 Oktober 1998. Seluruh sediaan arahpravaksinasi diperiksa di Laboratorium Bioanalytical Research Corporation (Barc) Jakartadengan metode ELISA. Separuh diantara spesimen disimpan menunggu separuh spesimendarah pravaksinasi yang akan dikirim ke Rixenstat, Belgia untuk diperiksa ulang titerpra vaksinasi sekaligus memeriksa titer pasca vaksinasi, dengan metode IndirekImmunoflouresent test (IIF). Dari 300 anak yang masuk dalam penelitian ada 5 anakyang tidak menyelesaikan penelitian. Reaksi umum (9,80%) lebih banyak dijumpaidaripada reaksi lokal (1%). Demam tinggi didapatkan pada 3 anak (1,7%), tigadiantaranya disangka (probable/suspected) ada hubungannya dengan tindakan vaksinasi.Subyek yang memperlihatkan gejala ruam tidak menunjukan gejala demam tinggi. Semuagejala tadi menghilang tidak lebih dari 5 hari. Enam minggu setelah penyuntikan hanyasatu subyek yang tidak menunjukkan adanya serokonversi (0,7%). Golongan umur mudamenunjukkan nilai gmt yang lebih tinggi. Vaksin varisela hidup yang dilemahkan (galurOka) pada penelitian ini aman, ditoleransi dengan baik dan mempunyai tingkatperlindungan yang tinggi pada anak 1 – 12 tahun
Eradikasi Polio Hindra Irawan Satari; Laila Fitri Ibbibah; Sidik Utoro
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.245-50

Abstract

Poliomielitis atau yang lebih dikenal dengan polio merupakan penyakit menular yang dapat menyebabkan kelumpuhan dan atrofi otot yang ireversibel, bahkan kematian pada anak. Sejak dilaporkan kejadian luar biasa (KLB) terjadi di Eropa pada abad ke-19, angka kejadian polio terus meningkat hingga menjadi andemi pada awal abad ke-20. Saat ini, gerakan inisiatif global yang dibentuk oleh WHO telah berhasil menurunkan angka insidensi polio sampai 80%, berkat pemberian vaksin yang didukung oleh program pemerintah dan sistem pengawasan yang baik. Namun, muncul masalah terkait pemberian vaksin, oral poliovirus vaccine (OPV), yaitu circulating vaccine derived polio viruses (cVDPVs) dan vaccine associated paralytic poliomyelitis (VAPP). Untuk itu, American Academy of Pediatrics merekomendasikan pemberian inactivated poliovirus vaccine (IPV) sebagai pengganti OPV. Rekomendasi tersebut tidak efektif apabila diterapkan di negara berkembang yang masih banyak terdapat infeksi polio liar, seperti Indonesia, karena perlindungan IPV tidak cukup kuat, tidak dapat menimbulkan herd immunity, dan harganya jauh lebih mahal. Pemberian OPV masih menjadi pilihan, dengan rekomendasi terbaru dari WHO yang mempertimbangkan pemberian bivalent (bOPV) karena trivalent (tOPV) dapat meningkatkan angka kejadian cVDPV akibat virus polio tipe-2 (VP2). Upaya eradikasi polio ditunjang Global Polio Eradication Initiative (GPEI)melalui Eradication and Endgame Strategic Plan dengan target bebas polio pada tahun 2018.
Pilihan Terapi Empiris Demam Tifoid pada Anak: Kloramfenikol atau Seftriakson? Sondang Sidabutar; Hindra Irawan Satari
Sari Pediatri Vol 11, No 6 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.6.2010.434-9

Abstract

Demam tifoid pada anak besar (lebih dari usia sepuluh tahun) pada umumnya mempunyai gambaran klinisdemam tifoid menyerupai dewasa. Demikian juga derajat berat penyakit akan lebih parah dibandingkanpasien anak yang lebih muda. Oleh karena itu, pengamatan keadaan klinis pasien selama mendapatpengobatan harus dievaluasi dengan cermat terutama mengenai parameter keberhasilan pengobatan sepertikeadaan umum, suhu, gejala intestinal, komplikasi baik intra maupun ekstra intestinal, hitung leukosit, fungsihati, dan asupan cairan serta nutrisi. Pemeriksaan biakan darah terhadap Salmonella typhi merupakan bakuemas untuk diagnosis demam tifoid. Walaupun pada saat ini telah terdapat berbagai uji diagnostik cepat(rapid diagnostic test) yang dapat dipergunakan untuk pasien rawat jalan, untuk pasien rawat inap harusdilakukan pemeriksaan biakan Salmonella typhi. Selain untuk menegakkan diagnosis, adanya biakan positifsangat berguna untuk menilai apakah pengobatan empiris yang diberikan saat pertama kali pasien datang kerumah sakit sudah tepat. Perlu diperhatikan bahwa uji resistensi bakteri harus disertakan pada hasil biakan.Hasil uji resistensi diperlukan dalam menilai antibiotik pilihan alternatif apabila pengobatan empiris tidakseperti yang kita harapkan. Kloramfenikol sampai saat ini masih merupakan pengobatan lini pertama untukdemam tifoid pada anak yang dirawat di Departemen Ilmu Kesehatan RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.Namun saat ini banyak dilaporkan adanya keadaan multidrug resistance Salmonella typhi (MDSRT), sepertidilaporkan di Pakistan, Mesir, dan Thailand. Maka untuk kasus MDRST diberikan pilihan pengobatanlini kedua yaitu seftriakson atau kuinolon. Namun karena penggunaan kuinolon masih kontroversi untukanak mengingat dapat menyebabkan artropati, maka seftriakson menjadi pilihan kedua untuk demam tifoidpada anak.
Gambaran Epidemiologi Infeksi Nosokomial Aliran Darah pada Bayi Baru Lahir Fatima Safira Alatas; Hindra Irawan Satari; Imral Chair; Rinawati Rohsiswatmo; Zakiudin Munasir; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.80-6

Abstract

Latar belakang. Infeksi nosokomial (IN) pada bayi baru lahir sampai saat ini masih merupakan masalahserius di setiap rumah sakit karena dapat meningkatkan morbiditas, mortalitas, lama dan biaya rumahsakit serta risiko kecacatan pada bayi yang terinfeksi.Tujuan penelitian. Mengetahui gambaran epidemiologi, pola kuman dan resistensi mikroorganisme penyebabIN aliran darah (INAD) pada bayi baru lahir di ruang rawat Divisi Perinatologi Departemen IKA RSCM.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian prospektif deskriptif dengan desain studi seksi silang diruang rawat Divisi Perinatologi IKA RSCM.Hasil. Insidens INAD pada bayi baru lahir yaitu 34,8 infeksi per 100 pasien baru atau 50 infeksi per 1000kelahiran dengan case fatality rate 27,4% dari seluruh kasus INAD (2) Infeksi bakteri gram negatif (GN)merupakan bakteri terbanyak dengan kuman terbanyak Acinetobacter calcoaceticus 28,8% (3) Sensitivitasbakteri GN terhadap antibiotika lini pertama dan kedua rendah sedangkan lini ketiga yaitu meropenemdan lini keempat yaitu siprofloksasin cukup baik yaitu masing-masing 66,67 – 100%.Kesimpulan. Angka kejadian dan case fatality rate INAD pada bayi baru lahir masih cukup tinggi. Infeksibakteri gram negatif masih merupakan penyebab terbanyak
Hubungan antara Kadar High Density Lipoprotein dengan Derajat Sepsis Berdasarkan Skor Pediatric Logistic Organ Dysfunction Emi Yulianti; Antonius H. Pudjiadi; Mardjanis Said; E.M. Dady Suyoko; Hindra Irawan Satari; Pramita Gayatri
Sari Pediatri Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.041 KB) | DOI: 10.14238/sp15.2.2013.116-21

Abstract

Latar belakang. Sepsis masih merupakan penyebab kematian terbesar di Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Peran high density lipoprotein(HDL) pada keadaan sepsis mengikat dan menetralisir lipopolisakarida (LPS), menghambat adhesi molekul dalam kaskade inflamasi, dan sebagai antioksidan.Tujuan. Mengetahui profil HDL pada anak sepsis serta mengetahui hubungan kadar HDL dengan derajat sepsis berdasarkan skor pediatric logistic organ dysfunction (PELOD). Metode.Studi potong lintang pada anak sepsis di PICU Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) usia 1 bulan- 18 tahun antara April-Agustus 2011.Hasil. Didapatkan 34 subjek, dengan sebaran terbanyak pada kelompok usia <2 tahun (19/34). Terdapat hubungan antara kematian dengan skor PELOD >20 (p=0,000). Lima dari 7 pasien dengan skor PELOD >20 ditemukan mempunyai kadar HDL rendah (p=1). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara kematian dengan kadar HDL (p=0,248). Terdapat korelasi lemah berbanding terbalik antara kadar HDL dengan skoring PELOD tetapi tidak bermakna secara statistik (r =-0,304, p = 0,080)Kesimpulan. Pasien sepsis dengan skor PELOD tinggi cenderung memiliki kadar HDL rendah.
Antibodi Campak pada Bayi Baru Lahir dan Faktor yang Memengaruhi Raihan Raihan; Mohd Andalas; Hindra Irawan Satari; Sri Rezeki S Hadinegoro
Sari Pediatri Vol 17, No 6 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp17.6.2016.407-12

Abstract

Latar belakang. Penelitian terdahulu melaporkan kasus campak terjadi sebelum usia imunisasi campak. Seharusnya, bayi tersebutmasih terlindungi karena memiliki maternal antibodi campak yang diperoleh selama dalam kandungan. Tinggi titer yang dipunyaibayi dipengaruhi faktor ibu dan janin yang berakibat memengaruhi lamanya perlindungan.Tujuan. Mengetahui kadar antibodi campak bayi baru lahir dan menganalisis faktor yang memengaruhinyaMetode. Penelitian potong lintang dilakukan di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, sejak Maret – April 2015 pada bayi barulahir. Bayi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dipilih secara consecutive nonprobabality sampling. Dilakukan wawancaraterhadap orangtua, pemeriksaan New Ballard Score, dan pengambilan darah tali pusat untuk pemeriksaan antibodi campak yangdilakukan di laboratorium Prodia Jakarta. Analisis data dengan uji t untuk mengetahui rerata titer antibodi campak berdasarkan jeniskelamin, berat badan lahir, usia gestasi, usia ibu, paritas, dan penyakit ibu. Analisis regresi untuk mencari faktor yang memengaruhititer antibodi campak.Hasil. Di antara 68 bayi, 64 dengan titer rerata antibodi campak (2277,7±1830,7) IU/L. Bayi kurang bulan (2061,94±1554,44) IU/Lmempunyai titer lebih rendah daripada bayi cukup bulan (3006,83±1613,79) IU/L, walaupun secara statistik tidak bermakna. Hasiltersebut secara konsisten juga dijumpai pada variabel laki-laki, lahir kurang bulan, berat badan lahir tidak sesuai masa kehamilan,dan ibu dengan penyakit penyerta mempunyai titer lebih rendah, tetapi secara statistik tidak bermakna.Kesimpulan. Mayoritas bayi memiliki maternal antibodi campak dengan titer rerata (2277,7 ± 1830,7) IU/l. Tidak dijumpai variabelyang memengaruhi titer maternal antibodi campak pada bayi baru lahir secara bermakna.
Gambaran Klinis Fixed Drug Eruption pada Anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Afaf Susilawati; Arwin AP. Akib; Hindra Irawan Satari
Sari Pediatri Vol 15, No 5 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.707 KB) | DOI: 10.14238/sp15.5.2014.269-73

Abstract

Latar belakang. Erupsi obat pada kulit merupakan manifestasi terbanyak dari reaksi simpang obat. Fixed drug eruption (FDE) merupakan salah satu erupsi obat pada kulit yang sering ditemukan, tetapi angka prevalensnya sangat bervariasi. Walaupun gejala yang timbul bukan merupakan gejala yang fatal, FDE bisa menimbulkan masalah kosmetik yang berlangsung kronik. Gejala yang ringan dan ketidaktahuan dokter menyebabkan kasus FDE tidak banyak dilaporkan.Tujuan. Mengetahui proporsi FDE dibandingkan alergi obat yang bermanifestasi di kulit lainnya, serta profil pasien FDE yang meliputi profil usia, jenis kelamin, atopi, manifestasi klinis, predileksi lesi, dan obat yang terkait.Metode. Penelitian deskriptif dengan mengambil data rekam medik di RS. Cipto Mangunkusumo selama sepuluh tahun (Januari 2000-Desember 2009). Subjek diambil berdasarkan keterangan kode diagnosis alergi obat. Subjek dengan diagnosis FDE diambil data-data demografis, klinis, dan riwayat penggunaan obat sebelum munculnya gejala klinis FDE.Hasil. Dari 142 subjek dengan alergi obat, 96 didapatkan rekam medis yang lengkap. Diagnosis FDE terdapat pada 56 subjek. Proporsi yang sama didapatkan antara laki-laki dan perempuan dengan kelompok usia terbanyak pada usia di atas 5 tahun. Riwayat atopi didapatkan pada 32% subjek. Semua subjek menunjukkan awitan kurang dari 24 jam. Manifestasi klinis yang muncul berupa lesi hiperpigmentasi, lesi lebih dari satu di daerah wajah, bibir, ekstremitas atas, ekstremitas bawah, genitalia, dan badan. Terdapat 5 subjek dengan lesi berbentuk bula, dan 8 subjek dengan erosi kulit. Satu subjek harus dilakukan sistostomi karena nekrosis di mukosa penis. Kotrimoksasol merupakan obat tersering terkait dengan FDE selain parasetamol, amoksisilin, tetrasiklin, dimenhidrinat.Kesimpulan. Proporsi FDE ditemukan 58% dengan umur terbanyak di atas 5 tahun, dan perbandingan yang sama antara lelaki dan perempuan. Lesi hiperpigmentasi merupakan bentuk kelainan kulit yang paling sering ditemukan dan muncul paling sering di bibir. Kotrimoksasol merupakan obat tersering yang dikaitkan dengan FDE.
Pola Penyakit Malaria pada Anak Di RSU Manna, Bengkulu Selatan Hindra Irawan Satari
Sari Pediatri Vol 4, No 3 (2002)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp4.3.2002.141-6

Abstract

Penyakit malaria sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan yang perludiperhatikan di negara kita, karena penyakit ini masih termasuk dalam kelompok limabesar pola penyakit anak di Puskesmas, demikian pula di Rumah Sakit Umum MannaBengkulu Selatan. Untuk mengetahui pola penyakit malaria pada anak yang di rawatRSU Manna, dilakukan penelitian retrospektif dari dokumen medik pasien yang dirawatdari tanggal 1 Januari 1990 sampai dengan 31 Desember 1992. Dalam kurun waktutersebut telah dirawat 122 anak pasien malaria, tetapi dari jumlah tersebut hanya 68pasien (55,7%) yang memenuhi syarat penelitian yang terdiri atas 41 pasien anak laki-laki(60,3%) dan 27 pasien anak perempuan (39,7%). Semua pasien diobati sesuai denganpedoman pengobatan yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan R.I. Empat pasiendi antaranya meninggal dunia (5,9%). Kelompok umur yang terbanyak adalah kelompokumur 1-4 tahun (38,2%), sedangkan parasit penyebab terbanyak adalah Plasmodiumvivax (58,8%). Manifestasi klinis adalah demam (100%), diikuti oleh muntah (39,7%),sedangkan menggigil bukan merupakan gejala yang terbanyak (32,3%). Hepatomegalidan mencret ditemukan pada 33,9% pasien, sedangkan splenomegali didapatkan pada8,7% pasien. Pada penelitian ini tampak pedoman pengobatan dari DepartemenKesehatan R.I. masih menunjukkan hasil yang baik.
Duration of peripheral intravenous catheter use and development of phlebitis Rita Andriyani; Hindra Irawan Satari; Pustika Amalia
Paediatrica Indonesiana Vol 53 No 2 (2013): March 2013
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.897 KB) | DOI: 10.14238/pi53.2.2013.117-20

Abstract

Background Phlebitis is a common complication in patients withperipheral intravenous catheters, in addition to extravasation andbacterial colonization. Phlebitis may increase morbidity and lengthof hospitalization. One factor contributing to the rate of phlebitis isthe duration of peripheral intravenous catheter use. Several adultstudies have shown that the risk of developing phlebitis increasedwhen the peripheral intravenous catheter was used for more than72 hours. However, in pediatric patients this risk has not beenconsistently observed. As such, there is no recommendation forroutine catheter removal every 72 hours in children.Objective To assess for a possible relationship between durationof peripheral intravenous catheter use and the development ofphlebitis.Methods This analytic observational study had a case controldesign. Subjects consisted of 73 case subjects and 73 controlsubjects. We collected subj ects' data through history-taking andclinical examinations. The duration of peripheral intravenouscatheter use was reported in hours.Results From October 2011 to February 2012, 146 children fromthe Department of Child Health at Dr. Cipto MangunkusumoHosp ital and Tangerang Hospital who used peripheral intravenouscatheters were enrolled in this study. There was no significantdifference between <7 2-hour and 2: 72-hour duration ofperipheral catheter use (OR 1.31; 95%CI 0.687 to 2.526;P= 0.407) on the development of phlebitis.Conclusion We observe no relationship between duration ofperipheral intravenous catheter use and the development ofphlebitis in our subjects.
Co-Authors Abdullah Reza Afaf Susilawati Agus Firmansyah Agus Firmansyah Alam , Anggraini Alan R Tumbelaka Alan R Tumbelaka Alan R. Tumbelaka Amalia Almira Andi Annisa Rusyda Khafiyani Anggraini Alam, Anggraini Angky Budianti Anis Karuniawati Antonius H. Pudjiadi Arhana, Arhana Ari Prayitno Arwin AP Akib Arwin AP. Akib Aryono Hendarto Badriul Hegar Bock H Cissy B. Kartasasmita Corry S Matondang Dalima AW Astrawinata Damayanti Rusli Sjarif Delly Chipta Lestari Dewi Wulandari Diana Mettadewi Jong Dimas Seto Prasetyo Dina Muktiarti, Dina Djelantik, I.G.G. E.M. Dady Suyoko Emi Yulianti Endang Windiastuti Fatima Safira Alatas, Fatima Safira Gortap Sihotang Hana Paraswati Putri Hanifah Oswari Hardiono D Pusponegoro Hardjono Abdoerrachman Hardjono Abdoerrachman Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hartono Gunardi Hikari Ambara Sjakti, Hikari Ambara Htay H Han I Wayan Gustawan Idham Amir Imral Chair Indah S. Widyahening Jose RL Batubara Julitasari Sundoro Kemas Firman Ketut Dewi Kumara Wati Kusnandi Rusmil Laila Fitri Ibbibah Mardjanis Said Martin Hartiningsih Mei Neni Sitaresmi Mohd Andalas Mulya Rahma Karyanti, Mulya Rahma Mulyadi Mulyadi Munasir , Zakiudin Munasir, Zakiuddin Nabila Maudy Salma Natharina Yolanda, Natharina Nia Kuniati Nina Dwi Putri Novilia Sjafri Bachtiar Piprim B Yanuarso Pramita Gayatri Pratama Wicaksana Pustika Amalia Pustika Amalia Wahidiyat, Pustika Amalia Rahma Karyanti, Mulya Raihan Raihan Ranto, Huminsa Retno Asti Werdhani Riamin Sitorus Rinang Mariko Rinawati Rohsiswatmo Rini Mulia Sari Rini Sekartini Rita Andriyani Rossy Agus Mardani Santya Fatma Dewi Sari Wiraswasty Sasmono , R. Tedjo Sasmono, R. Tedjo Sharfina Fulki Adilla Shindy Claudya Aprianti Sidik Utoro Singgih, Adrian Himawan Soedjatmiko Soedjatmiko Soedjatmiko Sondang Sidabutar Sri Rezeki Hadinegoro Sri Rezeki Hadinegoro Sri Rezeki Hadinegoro Sri Rezeki Hadinegoro, Sri Rezeki Sri Rezeki S Hadinegoro Sri Rezeki S Hadinegoro Sri Rezeki S Hadinegoro Sri Rezeki S Hadinegoro Suharyono Suharyono Sumarmo Soedarmo Syafriyal Syafriyal, Syafriyal Teny Tjitra Sari, Teny Tjitra Theresia Theresia Toto Wisnu Hendrarto Widyahening , Indah Suci Yuliarti, Klara Yuni Astria Zakiudin Munasir