Claim Missing Document
Check
Articles

Non-Specific Immune Potentiating activity of Multivitamins in Catfish (Clarias sp.) Cahyono Purbomartono; Ulfatun Rizkiyah; Dini Siswani Mulia; Arief Husin
Sainteks Vol 18, No 2 (2021): Oktober
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/sainteks.v18i2.13113

Abstract

Fish farming is well developed because many people like to consume fish. The main problem in cultivation is an attack of a disease. Generally, the disease in fish is MAS (Motile Aeromonas Septicemia) which is caused by Aeromonas hydrophila. Prevention of diseases in fish can be done by increasing immunity through the addition of multivitamins in feed. This study aims to determine the ability of multivitamins against non-specific immune responses in African catfish (C. gariepinus) as well as to know the optimum dose. The study used an experimental method with a completely randomized design using 3 treatments, 1 control, and 4 individual replications. The treatment using a multivitamin through feed with a dose of T1 = 2 g kg-1, T2 = 2.5 g kg-1, T3 = 3 g kg-1 and T0 = control. The parameters observed were phagocytic activity, and differential leukocytes of monocytes and lymphocytes. Data were analyzed using Analysis of variance (ANOVA) at the 95% confidence level. If there is a real difference, then proceed with the Duncan Multiple Range test Test (DMRT) at a 95% confidence level. The results showed that the addition of multivitamins through feed on African catfish had a significant effect (p<0.05) on phagocytic activity and differential leukocyte of monocytes, but had no significant effect (p> 0.05) on differential leucocytes of lymphocyte. The optimum dose for increasing non-specific immune responses in African catfish is T2 at a dose of 2.5 g kg-1 of feed. Based on research, the addition of multivitamins through the feed can potentially be used in fish farming to increase immunity.
Pengobatan Lele Dumbo (Clarias gariepinus L.) yang Terinfeksi Aeromonas hydrophila di Kabupaten Banyumas dengan Menggunakan Ekstrak Daun Api-Api (Avicennia marina) Dini Siswani Mulia; Syiva Vauziyyah
Sainteks Vol 18, No 1 (2021): April
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/sainteks.v18i1.10650

Abstract

Aeromonas hydrophila merupakan salah satu bakteri patogen yang sering menginfeksi lele dumbo (Clarias gariepinus L.) dan menyebabkan penyakit motile aeromonas septicemia (MAS) atau dikenal dengan aeromoniasis. Penyakit ini dapat menyebabkan gagal panen dan menimbulkan kerugian yang sangat besar pada budidaya ikan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengobatan lele dumbo yang terinfeksi bakteri A.hydrophila di Kabupaten Banyumas dengan menggunakan ekstrak daun api-api (Avicennia marina). Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL), yang terdiri atas 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan berupa konsentrasi pemberian ekstrak A.marina, yaitu P0=tanpa pemberian ekstrak daun A. marina, P1= konsentrasi ekstrak daun A. marina 0,2 g/L, P2= konsentrasi ekstrak daun A. marina 0,3 g/L, dan P3=konsentrasi ekstrak daun A. marina 0,4 g/L. Pengobatan ikan dilakukan secara rendaman. Proses recovery diamati selama 30 hari setelah pengobatan. Parameter utama dalam penelitian adalah perkembangan penyakit, proses recovery, sintasan, pertambahan berat ikan, dan panjang ikan. Parameter pendukung dalam penelitian, yaitu suhu, pH, dan kadar O2 terlarut. Data sintasan dianalisis menggunakan Analisis of Variance (anova) dan dilanjutkan dengan menggunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf uji 5%. Hasil penelitian menunjukkan lele dumbo yang diobati dengan menggunakan ekstrak daun A. marina mengalami penyembuhan pada hari ke-12, sedangkan kontrol pada hari ke-30. Hasil analisis data sintasan menunjukkan P0 berbeda nyata (P<0,05) dengan P1, P2, dan P3. Konsentrasi ekstrak A. marina yang paling efektif dan efisien pada penelitian ini adalah 0,2 g/L (P1). Kata-kata kunci: Aeromonas hydrophila, Avicennia marina, Banyumas, ekstrak, lele dumbo
Respon Imun Non-Spesifik Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) yang Diberi β-Glukan Melalui Diet Pakan Cahyono Purbomartono; Yusuf Aditya; Dini Siswani Mulia; Juli Rochmijati Wuliandari; Arif Husin
Sainteks Vol 17, No 2 (2020): Oktober
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/sainteks.v17i2.8970

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio L.) merupakan  ikan air tawar yang  banyak dibudidayakan di Jawa Barat dan memiliki harga jual yang relatif tinggi sehingga banyak dibudidayakan secara intensif. Tingginya padat tebar dan konsumsi pakan pada budidaya intensif menyebabkan penurunan kualitas air akibat timbunan sisa pakan dan  ekskresi ikan, menimbulkan stress sehingga ikan mudah terserang penyakit. Penyakit yang sering menyerang ikan air tawar adalah Motile Aeromonas Septicemia (MAS), disebabkan oleh Aeromonas hydrophila. Untuk mengatasinya, pada umumnya dilakukan pengobatan dengan antibiotik, namun dapat mengakibatkan resistensi bakteri sehingga perlu alternatif lain. Salah satu alternatif adalah penggunaan ß-glucan dari ekstraksi ragi roti Saccaromyces cerevisiae untuk meningkatkan imunitas ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan β-glucan terhadap respon imun non-spesifik pada ikan mas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) terdiri atas 5 perlakuan dan 3 ulangan. Dosis ß-glucan yang digunakan 0 g, 2,5 g, 5 g, 7,5 dan 10 g per kg pakan. Parameter yang diamati yaitu diferensial leukosit meliputi persentase limfosit, monosit dan neutrofil serta aktivitas fagositosis. Analisis data menggunakan Analisis of Varians (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk melihat pengaruh antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ß-glucan melalui pakan berpengaruh signifikan terhadap persentase limfosit, peresentase neutrofil dan aktivitas fagositosis namun tidak berpengaruh signifikan terhadap persentase monosit. Dosis optimum untuk meningkatkan respon imun non-spesifik ikan mas yaitu 5 g/kg pakan.
ISOLASI, KARAKTERISASI, DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PADA LELE DUMBO YANG TERSERANG PENYAKIT DI KABUPATEN BANYUMAS Dini Siswani Mulia; Heri Maryanto; Cahyono Purbomartono
Sainteks Vol 8, No 1 (2011): SAINTEKS
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/sainteks.v8i1.299

Abstract

The aim of this research is to isolate, characterize, and identify bacteria on infected African catfish in Banyumas Regency. The researcher used survey method and purposive random sampling technique. Samples were infected African catfish. They were taken from three areas that had potential cultivation for African catfish in Banyumas, namely Rempoah, Kebanggan, and Singosari. In each area, the researcher chose two African catfish cultivating ponds randomly and each pond was taken randomly 3 fishes. Symptoms of the disease in African catfish sample were carefully observed, both externally and internally with surgically. External observation covered wounds and bleeding in some parts of the body, sores or ulcers on the body, protruding eyes, while the internal observation included kidney. Isolation of bacteria carried from the skin (scales), body sores, fin, and kidney. Characterization was done by observing the structure of macroscopic, microscopic, and biochemical tests. The results indicated that 130 isolates of bacteria, and identified to be genus Alcaligenes, Bacillus, Arachnia, Acidomonas, Aeromonas, Amphibacillus, Salmonella, Neisseria, Pseudomonas, Micrococcus, and Clostridium. Keywords: isolation, characterize, identify, bacterium, African catfish, Banyumas regency
Respon Imun Non-spesifik Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) yang Diberi Fucoidan dari Ekstrak Rumput Laut Cokelat Padina sp. Cahyono Purbomartono; Dini Siswani Mulia; Danang Priyambodo
Sainteks Vol 16, No 1 (2019): April
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/sainteks.v16i1.7012

Abstract

Fucoidan merupakan senyawa polisakarida sulfat yang diekstrak dari rumput laut cokelat Padina sp. Fucoidan diketahui mempunyai beberapa bioaktivitas, salah satunya sebagai imunostimulan. Ikan gurami (Osphronemus gouramy) ukuran + 100 gr diberi perlakuan fucoidan yang dicampur kedalam pakan dengan dosis 0,2 gr kg-1 pakan (P1), 0,4 gr kg-1 pakan (P2) , 0,6 gr kg-1 pakan (P3) serta kontrol (Po) masing-masing dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan, fucoidan dari ekstrak rumput laut cokelat Padina sp. secara signifikan dapat meningkatkan respon imun non-spesifik terhadap persentase hematokrit, leukokrit dan superoksida anion pada ikan gurami. Perlakuan P3 (0,6 gr kg-1) merupakan dosis optimum yang dapat meningkatkan respon imun non-spesifik ikan, menunjukkan fucoidan dapat digunakan dalam budidaya ikan gurami.Kata kunci: fucoidan, Padina sp., ikan gurami, imun non-spesifik
Kandungan Asam Amino Tepung Bulu Ayam yang Difermentasi dengan Bacillus licheniformis B2560 dan Bacillus subtilis Sebagai Bahan Baku Pakan Ikan Dini Siswani Mulia; Arief Husin; Juli Rochmijati Wuliandari
Sainteks Vol 18, No 2 (2021): Oktober
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/sainteks.v18i2.13067

Abstract

Kualitas pakan ikan salah satunya ditentukan oleh kandungan protein dan asam amino. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kandungan asam amino tepung bulu ayam yang difermentasi dengan Bacillus licheniformis B2560 dan Bacillus subtilis sebagai bahan baku pakan ikan. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial, yaitu perlakuan I : fermentasi (A1 : kontrol/non fermentasi, A2 : fermentasi dengan B. licheniformis B2560, A3 : fermentasi dengan B. subtilis), dan perlakuan II : jumlah inokulum (B1 : jumlah inokulum 5 mL, B2 : jumlah inokulum 10 mL, B3 : jumlah inokulum 15 mL, masing-masing untuk tepung bulu ayam sebanyak 2 g). Parameter penelitian yang diamati adalah kandungan asam amino. Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (Anova) dan dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf uji 5%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi tepung bulu ayam menggunakan B. licheniformis B2560 dapat meningkatkan kandungan beberapa jenis asam amino lebih tinggi dibandingkan dengan B. subtilis. Jumlah inokulum 15 mL lebih optimal dalam mendegradasi protein keratin menjadi asam amino. Jenis asam amino dengan kandungan yang sesuai untuk kebutuhan ikan adalah asam glutamat, serin, glisin, treonin, arginin, tirosin, valin, fenilalanin, isoleusin, dan leusin.
PTK (PENELITIAN TINDAKAN KELAS) DENGAN PEMBELAJARAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL DAN PENULISAN ARTIKEL ILMIAH DI SD NEGERI KALISUBE, BANYUMAS Dini Siswani Mulia; Suwarno Suwarno
Khazanah Pendidikan Vol IX No 2 Maret 2016
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah dan Penerbitan (LPIP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jkp.v9i2.1062

Abstract

IbM activity aims to increase knowledge about local knowledge, improve skills develop proposals PTK Based Local Wisdom, compiling reports PTK (class action research) based Local Wisdom, and improve the skills of writing scientific articles. The method used in this activity is participatory learning and action (PLA), include: 1). coordination with partners in preparation for the implementation of the program, contact the team of experts, 2). preparation of several training modules to guide the activities, 3). training local wisdom Banyumas 4). technical training prepare proposals PTK Based Local Wisdom, 5). technical training prepare reports PTK Based Local Wisdom, 6). training technique of writing scientific articles, and 7). mentoring programs and evaluation. The result of this activity is the partner has insight into local wisdom Banyumas, and understand that PTK can be done using local wisdom as PTK Banyumas specific needs and character of students. Partners have the knowledge and skills in the preparation of proposals, the implementation of the PTK in the classroom, and the preparation of reports based on local wisdom PTK, partners have the knowledge and skill in preparing scientific articles, the partners have managed to draw up a report PTK and scientific articles have been published in scientific journals of education. Keywords: scientific articles, Banyumas, local knowledge, PTK (Classroom Action Research), SD Negeri Kalisube
POTENTIAL IMMUNOGENICITY OF BACTERIA Aeromonas hydrophila GPL-05 AND GL-02 STRAINS AS A CANDIDATE VACCINES Dini Siswani Mulia; Ani Khusniah; Heri Maryanto
AQUASAINS Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Perikanan dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.21 KB)

Abstract

Aeromonas hydrophila is very potential to be used in vaccines and disease control MAS (Motile Aeromonas Septicemia) caused by the bacteria. However, strains of A. hydrophila bacteria which have high immunogenicity limited. Not to mention, in the field often decrease the pathogenicity of the bacteria as vaccine material resulting in a decrease in the immunogenicity of a vaccine made. Therefore, it is necessary to inventory and collecting strains of A. hydrophila bacteria potentially good that vaccination continuity can be maintained. This study used an experimental method with a completely randomized design (CRD), with treatments such as P1: A. hydrophila vaccine strain GPL-05; P2: A. hydrophila vaccine strain GL-02; and P3: control (PBS), with five replicates.This study aims to assess the potential immunogenicity A.hydrophila bacterial strains as vaccine candidates. Test fish used is African catfish was about 2 months with a length of 10-15 cm and width 15-20 g. The main parameters are observed antibody titer and cross-reaction test, while supporting parameters are parameters of water quality include water temperature, pH, dissolved oxygen. Antibody titer data was analyzed by Analysis of Variance (ANOVA) and Duncan's Multiple Range Test (DMRT) at the test level of 5%, while the data and the results of cross-reaction of water quality parameters observed descriptively. The results showed that the bacteria A. hydrophila strain GPL-05 and GL-02 has a high immunogenicity, thus recommended a candidate vaccine.
Uji Fisik Pakan Ikan yang Menggunakan Binder Tepung Gaplek (Physical Test of Fish Feed Using Cassava Flour Binder) Dini Siswani Mulia; Fatih Wulandari; Heri Maryanto
JRST (Jurnal Riset Sains dan Teknologi) Volume 1 No. 1 Maret 2017: JRST
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.442 KB)

Abstract

AbstrakPakan ikan dibuat selain memiliki kandungan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan ikan budidaya, juga secara fisik harus kompak dan stabil di dalam air. Kelemahan yang sering terjadi, sebagian besar kandungan nutrisi sudah terpenuhi tetapi pakan mudah tenggelam di dalam air dan cepat terurai sebelum semuanya dimakan ikan. Langkah strategis adalah menambahkan binder (bahan perekat) dalam pembuatan pakan ikan agar bahan pakan tercampur dengan baik, kompak, serta memiliki daya apung yang baik pula. Salah satu bahan yang berpotensi sebagai binder pakan ikan adalah tepung gaplek. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji uji fisik pakan ikan yang menggunakan binder tepung gaplek. Metode penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 4 kali ulangan, yaitu P0 : pakan komersial (kontrol); P1 : pakan dengan binder tepung gaplek 5 %; P2 : pakan dengan binder tepung gaplek 7,5 %; dan P3 : pakan dengan binder tepung gaplek 10%. Bahan baku pakan adalah tepung bulu ayam yang difermentasi dengan Bacillus licheniformis B2560, ampas tahu yang difermentasi dengan Aspergillus niger, dan tepung ikan rucah. Parameter yang diamati adalah uji fisik pakan ikan meliputi daya apung, tingkat kekerasan, tingkat homogenitas, dan kecepatan pecah pakan ikan serta sebagai data pendukung adalah kadar protein dan kadar air pakan ikan. Parameter uji fisik pakan ikan dianalisis dengan menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf uji 5%, sedangkan data kadar protein dan kadar air dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian binder tepung gaplek berpengaruh nyata terhadap hasil uji fisik pakan ikan. Perlakuan dengan binder tepung gaplek dengan konsentrasi 10% memiliki kualitas pakan yang paling baik dan mampu menyamai kualitas pakan komersial. Kadar protein yang dihasilkan pakan uji dapat memenuhi kriteria kebutuhan nutrisi pakan yang berkualitas, yaitu berkisar 30-40%.Kata Kunci : binder, pakan ikan, tepung gaplek, uji fisikAbstractFish feed is made in addition to nutritional value that corresponds to the needs of farmed fish, also must physically compact and stable in the water. Weakness is often the case, most of the nutritional content has been fulfilled but the feed easily sink in water and rapidly unfolding before everything is eaten by fish. Strategic step is to add a binder (adhesive) in the manufacture of fish feed in order to feed ingredients well mixed, compact, and has a buoyancy that good anyway. One potential as a binder ingredient of fish feed is dried cassava flour. This study aims to assess the physical test fish feed using cassava flour binder. The research method used experimental method with a completely randomized design (CRD) 4 treatments and 4 replications, namely P0: commercial feed (control); P1: feed with cassava flour binder 5%; P2: feed with cassava flour binder of 7.5%; and P3: feed with 10% cassava flour binder. Feed ingredients are chicken feather flour fermented with Bacillus licheniformis B2560, tofu fermented with Aspergillus niger, and trash fish flour. Parameters measured were physically test fish feed include buoyancy, the level of violence, degree of homogeneity, and broke the speed of fish feed as well as supporting data is the protein content and the moisture content of fish feed. Physical test parameters of fish feed were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) and Duncan Multiple Range Test (DMRT) with a test level of 5%, while data on the nutrient content were analyzed descriptively. The results showed that treatment of cassava flour Award binders significantly affect the results of physical tests of fish feed. Treatment with cassava flour binder with a concentration of 10% has the most excellent feed quality and able to match the quality of commercial feed. The protein content of the resulting feed can meet the test criteria for the nutritional needs of high quality feed, which ranges from 30-40%.Keywords : binder, cassava flour, fish feed, physical tests
Perbandingan Efikasi Vaksin Produk Intra- dan Ekstraseluler Aeromonas Hydrophila untuk Menanggulangi Penyakit Motile Aeromonas Septicemia (Mas) pada Lele Dumbo (Clarias sp.) Dini Siswani Mulia; Cahyono Purbomartono
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.27

Abstract

The aims of this research were to evaluate the eficacy of intra- and extracellular products vaccines of Aeromonas hydrophila to control Motile Aeromonas Septicemia (MAS) in catfish (Clarias sp.). Catfish with 10-13 cm of total length were used for the experiment with three treatments in five replicates. The treatments were vaccinations with (1) A: intracellular product of A. hydrophila; (2) B: extracellular product of A. hydrophila; (3) without vaccination (control). Vaccination was conducted by intramuscular injection of 5 µg protein/fish (each fish was injected with 0.1 ml of vaccine). Booster was conducted one week after vaccination. The challenge test was conducted two weeks after booster. The results showed that the survival rate, Relative Percent Survival (RPS), and antibody titer of A treatment was significantly different (PA. hydrophila (A treatment) reached 85.33 and 82.26%, respectively. The highest antibody titer was 1843.2 which was obtained by the A treatment. The results suggested that intracellular product vaccine of A. hydrophila was more effective than extracellular product vaccine.
Co-Authors . Suwarsito Akhmad Darmawan Aman Suyadi Ana Miftahul Janah Ani Khusniah Ardhana Wikaneswari Arief Husin Arif Husin Arif Husin Arif Mahdiana, Arif Berlian Bun’ya Rista Cahyono Purbamartono Cahyono Purbomartono Cahyono Purbomartono Cahyono Purbomartono Cintya Windarti Danang Priyambodo Didik Trianto Nugroho, Didik Trianto Dwi Ma’rifatun Khasanah Eddy Sumardi, Eddy Eka Yulyanti Eka Yulyanti, Eka Eqwar Saputra Fatih Wulandari Gayuh Prasetyo Budi Hamzah Syarifuddin, Hamzah Haryanto Haryanto Heri Maryanto Heri Maryanto Heri Maryanto Heri Maryanto Heri Maryanto Heri Maryanto Heri Maryanto Heri Maryanto Heri Maryanto, Cahyono Purbomartono, Heri Maryanto, Hery Maryanto, Hery Hindayati Mustafidah Ikhsan Mujahid Ikhsan Pratama Irma Tri Susanti Jejentri, Jejentri Juanita Juanita Juanita Juanita Juli R. Wuliandari, Juli R. Juli Rochmijati Wuliandari Kartika Silfiana, Kartika Miftakhul Mudah, Miftakhul Mochammad Imron Awalludin Muhammad Muryanto Muryanto, Muhammad Nadifah, Itqon Ngaynun Nadiya Nur Apreli Noerhaliza Rachman Asriana Dwi Prihandoko, Arief Rachmansyah Rachmansyah Rakhmawati Utami, Rakhmawati Ratna Kartika Wati Restu Frida Utami Restu Frida Utami Rijal, Muhammad Azharul Rini Emawati Risna Tri Yuliningsih Rofiqoh Rofiqoh Saputra, Eqwar Saputra, Kukuh Andre Setya Shahiffa Nur Pranannisa Siti Muntasiroh Sri Wahyuni Sugeng Priyadi Sugeng Priyadi Susanto Susanto Susylowati, Dewi Suwarno Suwarno Syamsiar, Syamsiar Syaukaty Yasinta Syiva Vauziyyah Triyanto Triyanto Ulfatun Rizkiyah Wakhudin, Wakhudin Widjarnako, Beny Widya Apriyanti, Widya Wildan Ahid Mujamal Yanuar Verianto, Yanuar Yesi Nartanti Yusuf Aditya