Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

KEBIJAKAN PENGUSAHA YANG MENIMBULKAN KETIDAKADILAN GENDER TERHADAP BURUH PEREMPUAN DI PT DIDACHI TANGERANG Nasihuddin, Abdul Aziz; Andriyan, Dody Nur; Indriasari, Dewi Chusna
Jurnal Dinamika Hukum Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdh.2008.8.2.38

Abstract

The regulation of Industrial affair between women labour with company or entrepreneur, contain in Law Number 13 Year 2003 concerning Labour, and the regulation that protect women labour contain in Law Number 7 Year 1984 concerning Convention Of The Elimination Of All Forms Of Discrimation Against Women. But in the reality, there are many problems in the labour environment. Especially, if it concerning the unfairness of gender for the women, like the case in PT. DIDACHI, Tangerang.  In this research, revealed about the entrepreneur policy that not only againts the regulation, but also in gender perspective they do the unfairness of gender in the term of behavior and policy. The labeling and the wrong interpretation about gender cause many policy that make the unfairness condition for the women labour in PT. DIDACHI, Tangerang. Kata kunci: Gender, interpretation of gender, unfairness of gender, women labour,  entrepreneur, company.
DISPARITY BETWEEN CRIMINAL SANCTIONS IN THE KUHP AND LAW NUMBER 1 OF 2023 CONCERNING THE CRIMINAL CODE Halilintar, Ilham Saputra; Nasihuddin, Abdul Aziz
EKSEKUSI Vol 7, No 2 (2025): Eksekusi : Journal Of Law
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/je.v7i2.38391

Abstract

Criminal Code (KUHP) is a legacy of the Dutch colonial era. Its substance and principles are still influenced by individualistic and colonialist views that are not in line with the ideological values of the Indonesian nation. With the enactment of Law Number 1 of 2023 concerning the Criminal Code, Indonesia seeks to reform its criminal law system to be more in line with social, cultural values, and current and future societal conditions. This study aims to analyze the differences or disparities in criminal sanctions between the old Criminal Code and Law Number 1 of 2023 concerning the Criminal Code. The method used is normative legal research, namely by examining the provisions of sanctions in both regulations in depth and systematically. The results of the study indicate that criminal sanctions and actions in the National Criminal Code for their imposition on perpetrators must pay attention to the provisions of 1) the purpose of punishment (Article 51-Article 52); 2) guidelines for punishment (Article 53-Article 56); 3) guidelines for the application of imprisonment with a single formulation and alternative formulation (Article 57); 4) aggravation of the sentence (Article 58-Article 59); 5) other provisions regarding sentencing (Article 60-Article 63). This is quite different from the use of types of criminal sanctions in the Criminal Code, which does not recognize these five important things to pay attention to because they are not regulated in the Criminal Code. The purpose of sentencing is one important aspect that forms the basis for analyzing the provisions of the main criminal sanctions in both regulations.
Constitutional Court and Enforcement of Constitutional Rights in the Fourth Revision of the Mining Law Kusmayanti, Shanti; Ardhanariswari , Riris; Kunarti, Siti; Nasihuddin, Abdul Aziz
As-Siyasi: Journal of Constitutional Law Vol. 5 No. 2 (2025): As-Siyasi: Journal of Constitutional Law
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/as-siyasi.v52.27481

Abstract

The fourth amendment to Law No. 4 of 2009 on Mineral and Coal Mining (Mining Law) has provoked widespread public criticism amid persistent mining-related problems, including land dispossession, environmental degradation, pollution, structural poverty, and the criminalization of local communities. These issues are intensified by the government’s limited responsiveness to public concerns, notwithstanding the Constitutional Court’s affirmation that state control over natural resources, as mandated by Article 33 of the 1945 Constitution, must constitute the fundamental basis for their management and utilization. This study aims to evaluate whether the fourth revision of the Mining Law has positive or negative impacts on society and the environment, and to examine the Constitutional Court's role in addressing constitutional issues arising from the law. The research employs a normative juridical approach, analyzing statutory regulations, supported by a literature review and a conceptual framework to interpret the principles of natural resource governance and environmental justice. The findings reveal that the revised Mining Law continues to contain substantial deficiencies, particularly regarding transparency, public participation, and the centralization of licensing authority at the national level. Such provisions weaken the role of local governments and restrict public oversight of mining activities. This study concludes that further harmonization of the Mining Law with constitutional principles is necessary, alongside strengthened environmental protection and a more inclusive policymaking process. In this regard, the Constitutional Court plays a crucial role as the guardian of the Constitution, ensuring that natural resource governance remains consistent with Article 33 of the 1945 Constitution and oriented toward sustainable and equitable prosperity.
Public Hearing dalam Pembentukan Peraturan Daerah: Instrumen Demokrasi atau Sekadar Legitimasi? Dwi Apriliastuti; Abdul Aziz Nasihuddin; Sundari Arum Kusumawati
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 2 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i2.3946

Abstract

Public hearing merupakan salah satu mekanisme partisipasi publik yang dilembagakan dalam pembentukan Peraturan Daerah sebagai perwujudan prinsip demokrasi dan kedaulatan rakyat. Namun, dalam praktik legislasi daerah, mekanisme ini kerap dipandang hanya sebagai pemenuhan prosedur formal tanpa menjamin keterlibatan publik yang substansial. Penelitian ini diarahkan untuk mengkaji pengaturan normatif public hearing dalam pembentukan Peraturan Daerah serta menilai apakah mekanisme tersebut berfungsi sebagai instrumen demokrasi atau sekadar sarana legitimasi kebijakan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, konseptual, dan pendekatan kasus, khususnya dengan merujuk pada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91/PUU-XVIII/2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan public hearing dalam hukum positif Indonesia telah mengakui hak masyarakat untuk berpartisipasi, namun masih berorientasi pada pemenuhan aspek prosedural. Norma yang ada belum secara memadai menjamin kualitas deliberasi, keterwakilan, dan responsivitas pembentuk Perda terhadap aspirasi publik. Akibatnya, public hearing berpotensi direduksi menjadi instrumen legitimasi formal atas kebijakan yang telah dirumuskan sebelumnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan penguatan desain normatif public hearing agar berfungsi sebagai sarana demokrasi deliberatif yang substantif dalam pembentukan Peraturan Daerah.
NASKAH AKADEMIK DALAM KERANGKA PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH Abdul Aziz Nasihuddin
Kosmik Hukum Vol. 11 No. 2 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/kosmikhukum.v11i2.736

Abstract

Sejak tahun 2001PemerintahPusat (MenteriDalamNegeri) melakukan kajian terhadap ribuan Perdadi seluruh wilayah Indonesia. Fenomena tersebut merupakan sejarah barubagi ketatanegaraan Indonesia, karena pada masa sebelumnya sangat jarang adanya peraturan yang dibatalkan oleh Pemerintah. Di dalam Ilmu Peraturan Perundang-undangan, Naskah Akademik merupakan prasyarat untuk menyusun rancangan peraturan perundang-undangan. Naskah Akademik adalah naskah yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai konsepsi yang berisi latar belakang, tujuan penyusunan, sasaran yang ingin diwujudkan dan lingkup, jangkauan, objek, atau arah pengaturan rancangan peraturan perundang-undangan.Suatu peraturan perundang-undangan yang baik sekurang-kurangnya harus memiliki tiga landasan, yaitu landasan filosofis, sosiologis dan yuridis .Dengan demikian Naskah Akademik memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan peraturan perundang-undangan karena didalamnya terdapat kajian yang mendalam mengenai substansi masalah yang akan diatur Kata Kunci: Naskah Akademik dan Raperda
DESAIN KETATANEGARAAN DALAM UPAYA MEWUJUDKAN PEMILUKADA YANG BERSIH, DEMOKRATIS DAN BERMARTABAT Abdul Aziz Nasihuddin
Kosmik Hukum Vol. 14 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/kosmikhukum.v14i2.746

Abstract

Pemilihan kepala daerah langsung ternyata tak kunjung menjamin adanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat di daerah secara otomatis. Pemilihan kepala daerah secara langsung justeru memicu masalah-masalah baru yang pelik seperti: pertama, munculnya sengketa horizontal di tingkat lokal dan kedua banyak anggaran yang dibuang percuma tanpa jaminan terpilihnya pemimpin yang komitmen kepada rakyat. UUD 1945 maupun UU No.32/2004 telah mengakui bahwa Pemilihan Kepala Daerah (Pemilihan Bupati – UU No. 15 Tahun 2011 Pasal 1 angka 4) adalah Pemilihan Umum. Untuk menjamin dan memastikan suatu pemilu yang demokratis, selain diterapkannya asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil, juga diperlukan pemisahan yang tegas antara rezim hukum pemilu dengan rezim hukum pemerintahan. Pemisahan ini penting agar proses pemilu dan proses pemerintahan tidak saling mempengaruhi, sehingga hasil pemilu maupun kebijakan pemerintahan mencerminkan proses demokrasi yang murni sebagai perwujudan kedaulatan rakyat sebagaimana digariskan pada UUD 1945 Pasal 1 ayat . Oleh karena itu diperlukan desain ketatanegaraan untuk menjamin pemilikada yang bersih, demokratis dan bermartabat. Kata Kunci: Desain Ketatanegaraan dan Pemilikada. .
NASKAH AKADEMIK DALAM KERANGKA PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH Abdul Aziz Nasihuddin
Kosmik Hukum Vol. 11 No. 2 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/kosmikhukum.v11i2.806

Abstract

Sejak tahun 2001 Pemerintah Pusat (Menteri Dalam Negeri) melakukan kajian terhadap ribuan Perda di seluruh wilayah Indonesia. Fenomena tersebut merupakan sejarah baru bagi ketatanegaraan Indonesia, karena pada masa sebelumnya sangat jarang adanya peraturan yang dibatalkan oleh Pemerintah. Di dalam Ilmu Peraturan Perundang-undangan, Naskah Akademik merupakan prasyarat untuk menyusun rancangan peraturan perundang-undangan. Naskah Akademik adalah naskah yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai konsepsi yang berisi latar belakang, tujuan penyusunan, sasaran yang ingin diwujudkan dan lingkup, jangkauan, objek, atau arah pengaturan rancangan peraturan perundang-undangan. Suatu peraturan perundang-undangan yang baik sekurang-kurangnya harus memiliki tiga landasan, yaitu landasan filosofis, sosiologis dan yuridis. Dengan demikian Naskah Akademik memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan peraturan perundang-undangan karena di dalamnya terdapat kajian yang mendalam mengenai substansi masalah yang akan diatur Kata Kunci: Naskah Akademik dan Raperda