Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Prosiding Semnastek

PENGARUH KONSENTRASI ASAM SULFAT PADA PROSES HIDROLISIS DEDAK PADI MENJADI GLUKOSA UNTUK PEMBUATAN PLASTIK BIODEGRADABEL Yustinah Yustinah; Ummul Habibah Hasyim; Syamsudin AB; Aliyah Aliyah
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dedak padi (rice bran) adalah hasil samping proses pengolahan gabah menjadi beras. Pada proses penggilingan gabah menjadi beras akan menghasilkan 10% dedak padi. Kandungan tertinggi dalam dedak padi adalah karbohidrat sebesar 53%. Karbohidrat dalam dedak padi dapat diubah menjadi glukosa dengan proses hidrolisis. Selanjutnya glukosa digunakan sebagai sumber karbon pada pembuatan plastik biodegradeabel jenis Polyhydroxybutyrate (PHB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi katalis Asam Sulfat pada proses hidrolisis dedak padi menjadi glukosa. Konsentrasi Asam sulfat yang digunakan adalah 2, 4, 6, 8, 10%. Proses hidrolisis dilakukan dalam labu leher tiga pada suhu 90 oC selama 60 menit. Filtrat hasil proses hidrolisis dianalisa kadar glukosa. Hasil hidrolisis diperoleh kadar glukosa tertinggi sebesar 12,26 g/L pada konsentrasi asam sulfat 10%. Larutan hidrolisat dedak padi dengan kadar glukosa 8,73 g/L digunakan sebagai sumber karbon pada fermentasi pembuatan PHB menggunakan bakteri Bacillus cereus. Proses fermentasi menghasilkan berat sel kering 1,34 g/L dan produksi PHB 6,42% berat sel kering.
Pengaruh Penambahan Kitosan Dalam Pembuatan Plastik Biodegradabel dari Rumput Laut Gracilaria sp dengan Pemlastik Sorbitol Yustinah Yustinah; Sri Noviyanti; Ummul Habibah Hasyim; Syamsudin AB
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Plastik merupakan bahan yang selalu dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari, terutama banyak digunakan sebagai kemasan. Saat ini sebagian besar plastik merupakan plastik yang bersifat tidak mudah terurai (nondegradable). Sehingga limbah plastik tersebut akan menumpuk dan mengakibatkan pencemaran pada lingkungan. Untuk mengurangi penumpukkan limbah plastik, dilakukan penelitian pembuatan plastik yang mudah terurai secara alami (plastic biodegradable). Rumput laut merupakan bahan yang dapat dimakan (edible) dapat diuraikan oleh mikroorganisme (biodegrable), dan dapat diperbaharui (renewable), sehingga dapat dikatakan lebih ramah lingkungan. Ekstrak rumput laut berjenis Gracilaria sp dapat dijadikan plastik biodegradabel. Penelitian ini bertujuan untuk membuat plastik biodegradabel dari rumput laut Glacilaria sp, dengan penambahan kitosan pada konsentrasi bervariasi 1 – 6 % (m/v). Prosedur penelitian dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah mendapatkan ekstrak rumput laut dengan perbandingan rumput laut : aquadest adalah 1 gr : 50 ml. Tahap kedua adalah pembuatan plastik biodegradabel dari ekstrak rumput laut. Sebanyak 50 ml ekstrak rumput laut, pemlastik sorbitol 4 gr dan ditambahkan kitosan yang dilarutkan dalam 100 ml asam asetat 1%. Campuran dipanaskan 70 oC selama 15 menit. Kemudian larutan didinginkan, lalu dicetak, selanjutnya dikeringkan pada temperature 45 oC selama 18 jam. Setelah kering plastik biodegradabel dilepaskan dari cetakan dan dianalisa kuat tarik dan perpanjangan menggunakan alat Universal Testing Instrument (UTI). Hasil yang terbaik pada penambahan kitosann sejumlah 5% (m/v), plastik biodegradabel yang mempunyai sifat kuat tarik 15,26 kg/cm2, dan perpanjangan 5,13%.
MODIFIKASI SIFAT KIMIA SERBUK TEMPURUNG KELAPA (STK) SEBAGAI MATRIKS KOMPOSIT SERAT ALAM DENGAN PERBANDINGAN ALKALISASI NAOH DAN KOH Ummul Habibah Hasyim; Nur Adry Yansah; Mochammad Fadhilah Nuris
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komposit secara umum tersusun atas gabungan material yang terbentuk dari dua atau lebih material yang memiliki sifat kimia dan fisika berbeda dari material pembentuknya. Komposit terdiri atas material penyusun sebagai matriks dan serat sebagai bahan penguat (reinforcement). Perlakuan alkali dari serat alam adalah salah satu tahapan kimia dalam pembuatan komposit dengan tujuan meningkatkan selulosa dengan menghilangkan kandungan lignin dan hemiselulosa. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan limbah batok kelapa agar bernilai ekonomis, mengetahui alkali terbaik dalam proses kimia pembuatan komposit dari serbuk tempurung kelapa, mengetahui massa jenis dari serbuk tempurung kelapa, mengetahui persen kadar selulosa dalam serbuk tempurung kelapa setelah proses delignifikasi dengan Fourierr Transform Infared (FT-IR), serta mengetahui bending strength setelah menjadi komposit. Dengan variasi variabel yang digunakan adalah variasi alkali NaOH dan KOH, 5%, 10%, 15% dan 20%. Metode yang digunakan adalah dengan perendaman (maserasi) serbuk tempurung kelapa terhadap variasi alkali dalam waktu yang sudah ditemtukan .Setelah itu dilakukan pencetakan komposit serbuk kelapa. Pengujian dilakukan dengan uji kualitatif menggunakan spektrofotometer IR, dan uji mekanis bending strength. Hasil uji bending paling optimal yaitu spesimen KOH 5% dengan tebal 0,4 cm sebesar 18,89 MPa. Analisa data yang didapat pada uji bending hasil delignifikasi dengan NaOH mempunyai nilai R2= 0,809. Sedangkan pada spesimen KOH diperoleh dengan nilai R2 = 0,868.
KAJIAN MODEL KESETIMBANGAN ADSORPSI LOGAM PADA LIMBAH PELUMAS BEKAS MENGGUNAKAN BENTONIT Ummul Habibah Hasyim; Dwi Astuti Ningrum; Evi Apriliani
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLimbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan mengganggu keseimbangan ekosistem baik ekosistem di tanah maupun di air. Salah satu limbah B3 yang sering kita temukan ialah limbah pelumas. Beberapa senyawa yang banyak terkandung di dalam limbah pelumas bekas adalah logam berat, Polychlorinated Biphenyl (PCB), Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH). Limbah pelumas ini mengandung unsur logam berat yang dihasilkan dari pemakaian mesin pada kendaraan. Untuk mengurangi dampak dari pencemaran yang disebabkan oleh limbah pelumas, dapat dilakukan dengan mendaur ulang limbah tersebut menjadi pelumas dasar (Base Oil). Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan kadar logam berat yang terkandung di dalam limbah pelumas. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah (1) Aktivasi Bentonit (2) Tahap uji kandungan logam Limbah Pelumas Bekas  (3) Proses Adsorbsi dengan variasi waktu dan jumlah adsorben bentonit . Setelah pengujian logam dengan menggunakan Inductively Couple Plasma (ICP),  maka ditentukan efisiensi penurunan kadar logam Fe. Dari hasil penelitian diperoleh waktu kontak terbaik yaitu 4 jam dengan persamaan polynomial orde 4 y=4E-09x4-4E-06x3+0.0014x2-0.1356x+4.5982 R² = 1 massa bentonit 1 g. Proses penyerapan logam  dikaji menggunakan model kesetimbangan freundlich.
PENGARUH WAKTU DELIGNIFIKASI TERHADAP PEMBENTUKAN ALFA SELULOSA DAN IDENTIFIKASI SELULOSA ASETAT HASIL ASETILASI DARI LIMBAH KULIT PISANG KEPOK Divia Yannasandy; Ummul Habibah Hasyim; Gema Fitriyano
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pisang kepok merupakan salah satu komoditi buah buahan yang banyak ditemukan di Indonesia. Jumlah konsumsi buah pisang kepok yang tinggi akan menghasilkan kulit pisang yang tinggi. Pada kulit pisang kepok terdapat kandungan selulosa yang memiliki banyak manfaat jika diproses lebih lanjut. Salah satunya adalah sebagai bahan baku pembuatan selulosa asetat. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit pisang kepok sebagai bahan baku pembuatan selulosa asetat, mengetahui pengaruh waktu delignifikasi pada tahap asetilasi terhadap selulosa asetat yang dihasilkan, mengetahui hasil rendemen selulosa asetat yang terbaik dari massa kulit pisang kepok dan mengidentifikasi selulosa asetat hasil asetilasi menggunakan FTIR. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode delignifikasi dengan pelarut NaOH dilakukan pada suhu 45oC dan dengan variasi waktu reaksi 1, 2, 3, 4, 5 jam sebagai tahap awal pemisahan alfa selulosa dari senyawa lain yang terdapat dalam kulit pisang. Setelah didapatkan alfa selulosa dilakukan reaksi asetilasi dengan anhidrida asetat pada suhu 45oC dengan kecepatan pengadukan 1500 rpm dan waktu reaksi selama 6 jam. Hasil penelitian menunjukkan kondisi optimum waktu delignifikasi yaitu pada waktu reaksi 2 jam dengan yield sebesar 23.72%. Selanjutnya dilakukan uji FTIR untuk memastikan terbentuknya produk yang kita inginkan (selulosa asetat) dibuktikan dengan spektrum yang menunjukkan adanya senyawa selulosa asetat  yang di tandai dengan terbentuknya peak pada daerah serapan 1636 cm-1 yaitu dengan  cara membandingkan gugus pada selulosa asetat hasil reaksi dengan gugus selulosa asetat komersil.
MODIFIKASI PERMUKAAN PRECIPITATED CALCIUM CARBONATE (PCC) DENGAN COATING AGENTS ASAM STEARAT DAN GAMA MERCAPTOSILANE SEBAGAI REINFORCING FILLER PADA PEMBUATAN KOMPON KARET Ummul Habibah Hasyim
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Precipitated Calcium Carbonat (PCC) merupakan salah satu bahan pengisi (filler) karet bukan berwarna hitam. PCC yang telah dikembangkan merupakan filler semi reinforcing. Agar PCC dapat ditingkatkan menjadi PCC Reinforcing Filler maka diperlukan perlakuan terhadap permukaan filler PCC dengan memberikan coating agents. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan berbagai informasi mengenai kondisi proses terbaik dalam modifikasi permukaan filler PCC dari PCC sebagai semi reinforcing filler menjadi PCC Reinforcing filler, dengan identifikasi keberhasilan distribusi ukuran partikel, luas permukaan, porositas. Metode modifikasi permukaan diawali dengan menghilangkan kontaminan dan kadar air PCC dalam oven. Kondisi operasi proses pemanasan PCC pada suhu 100°C dan waktu pemansan 1jam.PCC yang telah dihilangkan kontaminan dan difluidisasi di campurkan dengan coating agent dalam mixer dengan konsentrasi coating agents 1% s/d 5% dan berat PCC 75g. Coating agents yang digunakan adalah asam stearat (CH3(CH2)16COOH) dan gama mercaptosilane(HSC3H6Si(OCH3)3). PCC yang telah di mixing difluidisasi kembali untuk mendapatkan pencampuran maksimal selama 1 jam. Modifikasi permukaan PCC tidak mengubah secara signifikan terhadap luas permukaan total partikel PCC, porositas dan distribusi ukuran artikel. Penambahan caoting agents 1-5% tidak dapat memberikan lapisan coating yang utuh. Hanya sebagian permukaan partikel yang terlapisi menjadi bagian permukaan PCC yang lebih aktif yang meningkatkan penguatan vulkanisat karet. Asam stearat berpengaruh meningkatkan kuat tarik, ketahanan sobek, dan kekerasan karet. Sedangkan gama mercaptosilane berpengaruh meningkatkan ketahanan kikis.
PENGARUH KECEPATAN PENGADUKAN TERHADAP RENDEMEN DAN IDENTIFIKASI SELULOSA ASETAT HASIL ASETILASI DARI LIMBAH KULIT PISANG KEPOK Hafshah Zhaafirah; Gema Fitriyano; Ummul Habibah Hasyim
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pisang kepok merupakan salah satu komoditi buah buahan yang banyak ditemukan di Indonesia. Buah ini memiliki banyak manfaat bagi manusia baik dimafaatkan secara langsung maupun menjadi bahan olahan. Jumlah konsumsi buah pisang kepok yang tinggi akan menghasilkan kulit pisang yang tinggi pula. Pada kulit pisang kepok terdapat kandungan selulosa yang memiliki banyak manfaat jika diproses lebih lanjut. Salah satunya adalah sebagai bahan baku pembuatan selulosa asetat. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah kulit pisang kepok sebagai bahan baku pembuatan selulosa asetat, mengetahui cara memperoleh selulosa asetat dari limbah kulit pisang kepok, mengetahui pengaruh kecepatan pengadukan pada tahap asetilasi, dan mengetahui hasil rendemen selulosa asetat terbaik. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode delignifikasi dengan pelarut NaOH dan dengan waktu reaksi 24 jam sebagai tahap awal pemisahan alfa selulosa dari senyawa lain yang terdapat dalam kulit pisang. Setelah didapatkan alfa selulosa dilakukan reaksi asetilasi dengan anhidrida asetat pada suhu 45oC dengan variasi  kecepatan pengadukan 900, 1050, 1200, 1350, dan 1500 rpm dan waktu reaksi selama 6 jam. Hasil penelitian menunjukkan yield terbesar pada kecepatan pengadukan 1500 rpm yaitu sebesar 27.04%.  Dan diperoleh R² = 0,9988 dengan persamaan y = 3E-05x2 - 0,0411x + 26,28. Selanjutnya dilakukan uji FTIR ((Fourier Transform Infra Red)) untuk memastikan terbentuknya produk yang kita ingingkan (selulosa asetat) dibuktikan dengan spektrum yang menunjukkan adanya senyawa selulosa yang di tandai dengan terbentuknya peak pada daerah serapan 1636 cm-1 yaitu dengan  cara membandingkan gugus pada selulosa asetat hasil reaksi dengan gugus selulosa asetat komersil.
Pemanfaatan Limbah Batang Pisang Sebagai Bioadsorbent Dalam Pengolahan Minyak Mentah (CPO ) Untuk Menurunkan Free Fatty Acid (FFA) Dengan Variabel Massa Bioadsorbent Mutiah Hermanti; Husnul Mahmudah; Ummul Habibah Hasyim; Ika Kurniaty
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil, CPO) merupakan bahan baku utama pembuatan minyak goreng. Proses pembuatan minyak goreng tersebut melibatkan adsorbent dalam pengolahannya sebagai pengotor, pengikat,pemucat warna serta dapat menurunkan konsentrasi asam lemak bebas. Dalam proses pemurnian CPO Bioadsorbent yang banyak digunakan adalah bleaching earth. Penelitian ini bertujuan menghasilkan bioadsorbent dengan memanfaatkan batang pisang sebagai bahan utama. Batang pisang dipilih sebagai sumber bahan bioadsorbent berdasarkan akan kandungan selulosa yang banyak pada batang pisang yang diharapkan dapat untuk terjadinya proses adsorpsi. Bioadsorbent dibuat dengan perlakukan awal yaitu dengan aktivasi batang pisang terhadap NaOH dengan konsentrasi 0,4N. Bioadsorbent batang pisang sesudah diaktivasi selanjutnya dikeringkan dan digunakan untuk menurunkan kadar asam lemak bebas terhadap CPO. Hasil kadar FFA (Free Fatty Acid) pada CPO yang sudah diaktivasi dihitung, kemudian ditentukan pola isotermalnya menggunakan persamaan Langmuir dan Freundlich. Hasil yang diperoleh atas penelitian ini didapatkan massa bioadsorbent optimum yaitu 8 g dengan presentase kadar FFA yang terserap adalah 9,142% dengan R² = 0,9784. Proses penurunan konsentrasi atau kadar FFA dibuat dengan menggunakan persamaan Freundlich dengan R2 ± 0,9.
Optimasi Waktu Maserasi Pada Ekstraksi Daun Pegagan (Centella Asiatica) Terhadap Uji Aktivitas Antioksidan Eka Putri, Cindy Emilia; Wulandari, Dewi Mayang; Hasyim, Ummul Habibah; Hasyim, Dzul Istiqomah; Ramadhan, Muhammad Satria
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun pegagan (Centella Asiatica) salah satu tanaman yang digunakan sebagai alternative pengobatan. Daun pegagan mempunyai komponen bioaktif seperti alkaloid, saponin, tannin, flavonoid, triterpenoid, steroid dan glikosida. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi optimum pengaruh lama waktu ekstraksi yang menghasilkan rendemen tinggi pada ekstrak daun pegagan, untuk memperoleh aktivitas antioksidan yang maksimum. Ekstrak daun pegagan diuji melalui metode DPPH (2,2- diphenyl-1-picrylhydrazyl) untuk mendapatkan aktivitas antioksidan tertinggi dinyatakan dengan nilai IC50 yang menunjukkan konsentrasi ekstrak yang dapat menghambat radikal bebas sebesar 50%. Proses pengujian dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pengukuran rendemen hasil ekstraksi, pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (2,2- diphenyl-1-picrylhydrazyl) dan analisis menggunakan teknik FTIR. Metode ekstraksi yang digunakan pada adalah metode maserasi dengan menggunakan etanol 70% sebagai pelarut, maserasi dilakukan dengan variasi waktu perendaman yaitu 18, 24, 30, 36, dan 42 jam. Pengujian ekstrak daun pegagan kemudian diuji untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak daun pegagan dianalisis menggunakan Spektrofotometri UV -Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu maserasi yang diperoleh dari rendemen tertinggi pada waktu perendaman 42 jam. Pada pengujian aktivitas antioksidan diperoleh hasil tertinggi pada waktu 18 jam sebesar 48,46% dan nilai IC50 yang diperoleh yaitu sebesar 7,0538 μL/mL. Analisis FTIR mengonfirmasi keberadaan senyawa flavonoid yang berkontribusi pada aktivitas antioksidan ekstrak daun pegagan.Kata kunci: aktivitas antioksidan, daun pegagan, FTIR, nilai IC50, waktu maserasi