Claim Missing Document
Check
Articles

PENAMBAHAN MALTODEKTRIN PADA MINUMAN SERBUK MANGGA DENGAN METODE FOAM MAT DRYING Zahra Catrinnada Corie; Dyah Koesoemawardan; Fibra Nurainy; Otik Nawansih
Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan Vol 8, No 4 (2023): JURNAL AGROHITA
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jap.v8i4.13593

Abstract

Buah mangga bersifat musiman, selain itu mudah rusak, salah satu penangananya yaitu pengolahan menjadi minuman serbuk. Maltodekstrin berperan penting terhadap karakteristik minuman bubuk. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan maltodekstrin sebagai bahan pengisi terhadap karakteristik minuman serbuk mangga instan. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan faktor tunggal dan ulangan  empat kali.  Penambahan maltodekstrin  terhadap berat bubur mangga sebanyak enam taraf perlakuan yaitu K0 (0%), K1 (5%), K2 (7,5%), K3 (10%), K4 (12,5%), dan K5 (15%) b/b. Data dianalisis secara statistik dengan uji ANOVA dan dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan maltodekstrin berpengaruh nyata terhadap waktu larut, kadar air, kadar abu, kadar vitamin C, antioksidan minuman serbuk mangga instan, dan uji sensori meliputi warna, aroma, dan aftertaste minuman serbuk mangga instan. Perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan K5 (15% b/b) dengan karakteristik mutu waktu larut (50,025 detik), kadar air (2,083%), kadar Abu (0,764%), vitamin C (156,87mg/100 g bahan), aktivitas antioksidan nilai IC50 (585,64 ppm) karakteristik sensori warna agak oranye, aroma agak khas mangga, dan aftertaste agak pahit, serta penerimaan panelis terhadap warna agak suka, aroma suka dan aftertaste suka.
Effect of Prolonged Dehumidification on the Chemical Properties of Crassiacarpa and Mangium Honey Fadhallah, Esa Ghanim; Nawansih, Otik; Nurainy, Fibra; Mubarik, Depri
Biology, Medicine, & Natural Product Chemistry Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/biomedich.2025.141.25-31

Abstract

Honey is a natural substance bees produce from nectar, flower sap, or liquid collected from living plant parts. The honey undergoes bee modification and binding before being stored in hexagonal combs. Effective dehumidification is crucial for enhancing honey quality and extending its shelf life. This study aimed to evaluate the effects of prolonged dehumidification time, honey type, and their interaction on the quality of Crassiacarpa and Mangium honey and to determine the optimal dehumidification treatment to meet the SNI 8664-2018 standard. A factorial Completely Randomized Design (CRD) with three replications was employed. Two liters each of Crassiacarpa and Mangium honey were placed in trays with a thickness of ±2 cm and dehumidified at 25°C and 40% humidity for 24, 48, 72, and 96 hours. Following dehumidification, the honey was analyzed for moisture content, total acidity, pH, and sensory attributes (taste, color, aroma, texture). Data were analyzed descriptively. The results demonstrated that dehumidification time significantly impacted moisture content, total acidity, and pH. Honey type significantly affected moisture content and pH. The interaction between dehumidification time and honey type significantly affected pH. The optimal treatment for both honey types was dehumidification for 96 hours, which resulted in honey that met the SNI 8664-2018 standard.
PEMANFAATAN KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) SEBAGAI PENSTABIL ES KRIM SUSU KAMBING ETAWA UTILIZATION OF RED DRAGON FRUIT (Hylocereus polyrhizus) SKIN AS A STABILIZER FOR ETAWA GOAT’S MILK ICE CREAM Risa Nisriinaa; Susilawati -; Fibra Nurainy; Suharyono -
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 3, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i1.8852

Abstract

Red dragon fruit skin can be used as an additional ingredient in food. Red dragon fruit skin contains 10.80% pectin. The pectin content in the skin of red dragon fruit can be used as a stabilizer, one of which is an ice cream stabilizer. The aim of this research is to determine the effect of adding red dragon fruit peel flour as an ice cream stabilizer to produce ice cream with the best physical and sensory properties. The research was conducted using a Complete Randomized Block Design (RAKL) with a single factor consisting of 5 levels, namely the concentration of added red dragon fruit peel flour, namely 0.5%, 1%, 1.5%, 2%, and 2.5% and 4 repetition. As a control, 0.5% gelatin was used. The addition of red dragon fruit peel flour as an ice cream stabilizer has a significant effect on the taste, color, aroma, texture, overall acceptability, overrun, melting speed and stability of the ice cream emulsion. The addition of 1% red dragon fruit peel flour was the best treatment with a score for aroma of 2.79 (no prengus smell), texture of 3.15 (soft), color of 3.02 (liked), taste of 3.23 (liked) , overall acceptance of 3.27 (likes), overrun value of 69.69%, emulsion stability of 85.35 and melting speed of 53.83 minutes. Ice cream with the addition of dragon fruit peel flour contains 56.65% water content, 1.29% ash content, 6.32% fat, 4.96% protein and 30.78% carbohydrates.
Analisis Penerapan Good Manufacturing Practices di Usaha Kerupuk UD XYZ Nadyra Sari; Fibra Nurainy; Teguh Setiawan; Harun Al Rasyid
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 3, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9270

Abstract

Pelaku usaha pengolahan pangan memiliki kewajiban untuk menjamin mutu dan keamanan produk pangan yang dihasilkannya melalui penerapan Good Manufacturing Practices (GMP). Good Manufacturing Practices (GMP) adalah pedoman yang menjelaskan cara memproduksi atau mengolahan pangan olahan agar aman, bermutu dan layak untuk dikonsumsi Observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di UD XYZ menemukan adanya permasalahan pada higienitas pekerja, kebersihan alat dan lingkungan dan penyimpanan bahan yang digunakan sehingga diperlukan penelitian untuk mengetahui penerapan GMP di UD XYZ dan memberikan usulan perbaikan GMP yang dapat dilakukan pada UD XYZ untuk memperbaiki ketidaksesuaian serius dan kritis yang terjadi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan gap analysis untuk mengolah data hasil penilaian lembar checklist penerapan GMP yang telah dibuat sehingga menghasilkan hasil berupa 62,75% parameter yang pelaksanaannya di lapangan telah sesuai dan 31,37% parameter yang pelaksanaannya di lapangan tidak sesuai dengan persyaratan GMP yang terbagi menjadi ketidaksesuaian minor sebanyak 8 parameter, kategori serius sebanyak 34 parameter dan kategori kritis sebanyak 6 parameter. Analisis akar masalah dengan diagram fishbone yang menghasilkan faktor-faktor penyebab dijadikan acuan dalam pemberian rekomendasi perbaikan dan mendapatkan hasil sebanyak 53 rekomendasi perbaikan dan 6 prioritas rekomendasi perbaikan.
KARAKTERISTIK BIODEGRADABLE FILM BERBASIS SERAT SELULOSA ECENG GONDOK (Eichhornia Crassipes (Mart.) Solms) DENGAN PENAMBAHAN GLISEROL DAN CARBOXY METHYL CELLULOSE (CMC) CHARACTERISTICS OF BIODEGRADABLE FILM BASED ON CELLULOSE FIBER HYACINTH (Eichhornia Crassipes (Mart.) Solms) WITH ADDITION OF GLYCEROL AND CARBOXY METHYL CELLULOSE (CMC) Renita Affanti; Zulferiyenni -; Fibra Nurainy; Sri Hidayati
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 3, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i1.8801

Abstract

Hyacinth contains 60% cellulose which can be used as raw material for making biodegradable film. This study aims to determine the addition of glycerol and CMC concentrations to the biodegradable film characteristics of hyacinth cellulose fibers and to obtain the best treatment according to the Japanese Industrial Standard (JIS). This study was conducted with three repetitions and selected samples with the best visual appearance. The treatment consists of a combination of glycerol and CMC concentrations, namely P1 (0.5%:2%), P2 (0.5%:2.5%), P3 (0.5%:3%), P4 (1%:2%), P5 (1%:2.5%), P6 (1%:3%), P7 (1.5%:2%), P8 (1.5%:2.5%), P9 (1.5%:3%). Data collection is carried out triplo for parameters of tensile strength, percent elongation, thickness, and symplo for parameters of water vapor transmission rate (WVTR). Biodegradable film resistance test data at room temperature and biodegradability tests are presented in the form of drawings. The data of all parameters are analyzed and discussed descriptively. The addition of glycerol concentration increases tensile strength, percent elongation, and water vapor transmission rate (WVTR), and causes no tendency toward thickness. The addition of CMC concentration increases thickness, decreases tensile strength and water vapor transmission rate (WVTR), and causes no tendency towards percent elongation. The best results were obtained at P7 (1.5%:2%) for tensile strength parameters with values of 191.917 MPa, and at P3 (0.5%:3%) for thickness parameters and water vapor transmission rate (WVTR) with values of 0.172 and 3.438 g/m2/24 hours (WVTR). Biodegradable film decomposes in 21 days by biodegradability test.
PEMBUATAN MI BASAH DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG UMBI GARUT (Maranta arundinacea L.) DAN PENAMBAHAN KARAGENAN SEBAGAI PENGENYAL ALAMI Melda Safitri; Suharyono Suharyono; Dyah Koesoemawardani; Fibra Nurainy
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 2, No 1 (2023): JURNAL AGROINDUSTRI BERKELANJUTAN
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v2i1.7133

Abstract

Tepung garut merupakan salah satu jenis tepung yang berpotensi menjadi substitusi dalam pembuatan mi basah. Tepung garut memiliki kelemahan yaitu tidak mengandung gluten sehingga perlu dilakukan penambahan bahan pengenyal alami berupa karagenan untuk memperbaiki karakteristik mi basah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh konsentrasi karagenan pada pembuatan mi basah substitusi tepung garut dan mendapatkan konsentrasi terbaik dari penambahan karagenan yang menghasilkan mi basah substitusi tepung garut dengan sifat sensori dan fisik paling baik serta karakteristik kimia sesuai SNI 2987-2015. Penelitian ini disusun secara non-faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 4 kali ulangan. Pada penelitian ini digunakan formulasi karagenan dengan 6 taraf konsentrasi (0%; 2%; 4%; 6%; 8%; 10%) dari total tepung. Data yang diperoleh diuji kesamaan ragamnya dengan uji Barlett dan kemenambahan data diuji Tuckey. Data kemudian dianalisis sidik ragam dan diuji lanjut dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Pada penelitian ini, mi basah substitusi tepung garut dengan konsentrasi karagenan 10% (B6) merupakan perlakuan terbaik yang memiliki kadar air 63,63%, kadar abu tak larut asam 0,04%, kadar protein 5,22%, cooking loss 8,74% dan daya serap air 102,97%, warna putih gading, rasa sedikit asin, tekstur kenyal dan aroma agak tepung.
Pengaruh Perbandingan Konsentrasi Karagenan-Konjak Terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Sensori Jelly Drink Sari Buah Pepaya (Carica papaya. (L). var. Calina) Nova Andriani Pratiwi; Dyah Koesoemawardani; Diki Winanti; Fibra Nurainy
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 3, No 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9820

Abstract

AbstractPapaya fruit is susceptible to damage and has a shorter shelf life so product diversification efforts are needed to extend the shelf life of papaya fruit. Efforts to diversify papaya fruit by innovating it into a papaya juice jelly drink. Making jelly drinks requires two gelling agents, namely carrageenan and konjac. This research was carried out to find the effect and appropriate formulation of carrageenan and konjac on the sensory, physical and chemical properties of papaya juice jelly drink. Formulation of carrageenan and konjac at 55%:45% (P1), 60%:40% (P2), 65%:35% (P3), 70%:30% (P4), 75%:25% (P5) , 80%:20% (P6). The formulation of the 6 samples was then tested for viscosity, syneresis, water content, pH, suction power scoring test, hedonic test based on taste, color, aroma and overall acceptability parameters. P3 is the most preferred and best formulation of carrageenan and konjac 70%:30% based on the quality of the chemical content. Scoring test results suction power value 3.31 (like), hedonic test taste 3.70 (like), aroma 3.33 (like), color 3.68 (like), overall acceptance 3.98 (very like), viscosity 12.00 dPa.s, syneresis 0.77 %, water content 80.35%, pH 3.92, total plate count 24.5x 102 and beta-carotene of 0.057 mg/ 100g. Keywords: papaya, carrageenan, konjac, jelly drink, viscosity AbstrakBuah pepaya rentan terhadap kerusakan dan memiliki daya umur simpan yang lebih pendek sehingga diperlukan upaya diversifikasi produk untuk memperpanjang umur simpan buah pepaya. Upaya diversifikasi buah pepaya dengan menginovasikannya menjadi jelly drink sari buah pepaya. Pembuatan jelly drink diperlukan dua bahan gelling agent yaitu karagenan dan konjak. Penelitian ini dilaksanakan untuk menemukan pengaruh dan formulasi yang tepat antara karagenan dan konjak terhadap sifat sensori, fisik dan kimia jelly drink sari buah pepaya. Formulasi dari karagenan dan konjak sebesar 55%:45% (P1), 60%:40% (P2), 65%:35% (P3), 70%:30% (P4), 75%:25% (P5), 80%:20% (P6). Formulasi ke 6 sampel di uji viskositas, sineresis, kadar air, pH, uji skoring daya sedot, uji hedonik berdasarkan parameter rasa, warna, aroma, dan penerimaan keseluruhan. P3 adalah formulasi karagenan dan konjak sebesar 70%:30% yang paling disukai dan terbaik berdasarkan mutu kandungan kimia. Hasil uji skoring nilai daya sedot 3,31 (suka), uji hedonik rasa 3,70 (suka), aroma 3,33 (suka), warna 3,68 (suka), penerimaan keseluruhan 3,98 (sangat suka), viskositas 12,00 dPa.s, sineresis 0,77 %, kadar air 80,35%, pH 3,92, uji angka lempeng total 24,5x 102dan beta-karoten sebesar 0,057 mg/100g. Kata kunci: pepaya, karagenan, konjak, jelly drink, viskositas
KARAKTERISTIK BIODEGRADABLE FILM DARI KOMBINASI BEKATUL BERAS DAN SELULOSA SEKAM PADI Ningrum Fiqinanti; Zulferiyenni Zulferiyenni; Susilawati Susilawati; Fibra Nurainy
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 1, No 2 (2022): JURNAL AGROINDUSTRI BERKELANJUTAN
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v1i2.6382

Abstract

Plastik biodegradable adalah plastik ramah lingkungan yang dapat dibuat dari pati dan selulosa. Sekam padi mengandung 59,2% selulosa dan bekatul beras mengandung 39,8-48,1% pati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bekatul beras dan selulosa sekam padi terhadap karakteristik biodegradable film yang dihasilkan dan untuk mendapatkan perlakuan terbaik sesuai dengan Japanese Industrial Standard (JIS). Penelitian ini disusun dalam RAKL dengan tiga ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah P01 (10 g bekatul beras), P02 (10 g selulosa sekam padi), P1 (3 g bekatul beras : 7 g selulosa sekam padi), P2 (4 g bekatul beras : 6 g selulosa sekam padi) , P3 (5 g bekatul beras : 5 g selulosa sekam padi), P4 (6 g bekatul beras : 4 g selulosa sekam padi), P5 (7 g bekatul beras: 3 g selulosa sekam padi). Sekam padi dihaluskan dan disaring kemudian direndam dengan NaOH 2,5% dan dihidrolisis menggunakan H2O2 2%, kemudian dicampur dengan bahan lainnya. Data kuat tarik, persen pemanjangan dan lajutransmisi uap air diuji kesamaan ragamnya dengan uji Bartletts dan kenambahan data diuji dengan uji Tuckey. Data kemudian dilakukan analisis sidik ragam dan diolah lebih lanjut menggunakan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%. Hasil terbaik diperoleh pada 6 g bekatul beras : 4 g selulosa sekam padi dengan niali kuat tarik 11,505 MPa, persen pemanjangani 28,392%, dan laju transmisi uap air 6,548 g/m2/jam. Film biodegradable terurai 14 hari dengan uji biodegradabilitas
FORMULASI TEPUNG KACANG MERAH DAN TAPIOKA TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN SENSORI BAKSO ANALOG JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) Fransisca Debora; Susilawati Susilawati; Fibra Nurainy; Sussi Astuti
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 2, No 1 (2023): JURNAL AGROINDUSTRI BERKELANJUTAN
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v2i1.7061

Abstract

Bakso analog jamur tiram putih pada penelitian ini adalah bakso yang berbahan baku jamur tiram putih dengan penambahan tepung kacang merah dan tapioka.  Tujuan penelitian untuk mendapatkan formulasi tepung kacang merah dan tapioka yang menghasilkan bakso analog jamur tiram putih dengan sifat fisikokimia dan sensori terbaik mendekati SNI 3818:2014 tentang standar mutu bakso daging. Metode yang digunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 4 ulangan menggunakan faktor tunggal yang terdiri dari 6 taraf formulasi kacang merah dan tapioka yaitu P0 (0% :100%), P1 (10% : 90%), P2 (20% : 80%), P3 (30% : 70%), P4 (40% : 60%), dan P5 (50% :50%).  Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji Barlett dan Tukey dilanjutkan dengan uji ANOVA dan uji BNT pada taraf 5%.  Hasil penelitian menunjukan bahwa formulasi tepung kacang merah dan tapioka terbaik pada perlakuan P1 (10% : 90%) yang menghasilkan kadar air sebesar 68,59%, kadar lemak sebesar 0,19%, kadar protein sebesar 2,56%, kadar karbohidrat sebesar 27,37%, kadar abu sebesar 1,35%, kadar serat kasar sebesar 3,71%, warna putih keabuan, tekstur kenyal, aroma, rasa, dan penerimaan keseluruhan yang disukai oleh panelis.  
ANALISIS KADAR ASAM KLOROGENAT DAN KAFEIN BERDASARKAN PERBEDAAN LOKASI PENANAMAN DAN SUHU ROASTING PADA KOPI ROBUSTA (C. canephora Pierre) M Rakha Pradipta Virhananda; Erdi Suroso; Fibra Nurainy; Suharyono Suharyono; subeki subeki; Wisnu Satyajaya
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol 1, No 2 (2022): JURNAL AGROINDUSTRI BERKELANJUTAN
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v1i2.6361

Abstract

Kopi memiliki senyawa kimia seperti kafein dan asam klorogenat. Kandungan senyawa kimia dalam kopi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tingkat kematangan, tempat tanam, dan penanganan pasca panen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan ketinggian lokasi tanam terhadap kadar senyawa asam klorogenat dan kadar kafein kopi robusta serta untuk mengetahui perbedaan suhu roasting terhadap kadar asam klorogenat dan kadar kafein kopi robusta. Penelitian disajikan secara deskriptif dengan menggunakan 2 faktor. Faktor pertama yaitu perbedaan ketinggian lokasi tanam, yang terdiri K1 (Lampung Barat), K2 (Tanggamus), dan K3 (Way Kanan). Faktor kedua adalah suhu roasting, yang terdiri dari 2 level yaitu T1 (180oC), dan T2 (240oC). Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin tinggi lokasi penanaman maka akan semakin tinggi kandungan kafein dan asam klorogenat biji kopi yang dihasilkan, sedangkan semakin tinggi suhu penyangraian maka kandungan kafein dan asam klorogenat biji kopi yang dihasilkan akan semakin rendah
Co-Authors -, Naomi Azzahra Aditya Wahyu Nugraha Affanti, Renita Ahmad Sapta Zuidar Ahmad Sapta Zuidar Amanda Putra Seta Andi Antonika Ardiansyah - Artha Regina Tambunan Azhari Rangga Azhari Rangga Chintia Agrefina Brilian Danar Tri Winanti, Diki Dewi Wulan Sari Didit Haryanto Diki Winanti Dinda Dwi Jessica Dyah Koesoemawardan Dyah Koesoemawardani Dyah Koesoemawardani Eka Intan Kumala Putri Erdi Suroso Esa Ghanim Fadhallah Esa Susanti Etika, Delya Fiqinanti, Ningrum Fransisca Debora ginesti Haidawati Hakim, Shahelia Harun Al Rasyid Harun Al Rasyid Herdiana, Novita Hotma Ria Tumanggor Ika Mulawati Ikrar Triastuti Ikrar Triastuti Indraningtyas, Lathifa Indraputri, Qalbina Rifka Jannah, Nurul Jessica, Dinda Dwi Julieta, Kensa Kamilah Hafsah, Latifah Koesoemawardani, S.Pi., M.P., Dyah Larassati, Dyah Putri Latifah Kamilah Hafsah Lidya Sari Mas Indah, Lidya Sari Mas M A Chozin M Rakha Pradipta Virhananda Maftukh Zaina Luthfiyyah Mahesa Reyhan Prayoga Maria Erna Maulida Melvina Putri Melda Safitri Melvina Putri, Maulida Melza Fitriani Merliyanisa Merliyanisa Merry Monika Sitanggang Merry Monika Sitanggang Merry Monika Sitanggang, Merry Monika Mubarik, Depri Muhamad Kurniadi Muhammad Iqbal Meyza Mutiara Jayanti, Rienda Nadyra Sari Ningrum Fiqinanti Ningrum, Billa Aprilia Nisriinaa, Risa Nova Andriani Pratiwi Novita Herdiana Nurainy, Yulia Nurullia Febriati Nurwijayanti Oktabriyana, Tiara Otik Nawansih Otik Nawansih Otik Nawansih Otik Nawansih Otik Nawansih Otik Nawansih Permatasari, Kartini Prasetyo Hadi Prasetyo, Yusuf Eko Pratama, Muhammad Rafy Wahyu Pratiwi, Nova Andriani Putri, Nadia Eka Qalbina Rifka Indraputri Renita Affanti Ribut Sugiharto Ribut Sugiharto Risa Nisriinaa Riyan Arip Wibowo Rosa Rizki Ramadani Safitri, Melda Samsu Udayana Samsul Rizal Samsul Rizal Sari, Nadyra Silaturahmi Wiraputri Siti Nurdjanah Siti Nurdjanah Siti Nurjanah Sri Hidayati Sri Hidayati Sri Hidayati Sri, Sri Hidayati Subeki Subeki Suharyono - Suharyono - Suharyono Suharyono Suharyono Suharyono Suharyono Suharyono Suharyono, A. S. Suharyono, Suharyono Susi Astuti Susilawati - Susilawati - Susilawati Susilawati Sussi Astuti Syafita, Anggi Tanto Pratondo Utomo Teguh Setiawan Ulfa, Dzakiya Virhananda, M Rakha Pradipta Wahyu Nugraha Wan Abbas Zakaria Widaputri, Silaturahmi Winanti, Diki Winanti, Diki Danar Tri Wisnu Satyajaya Yudiantoro Yudiantoro Zahra Catrinnada Corie Zulferiyenni - Zulferiyenni Zulferiynni Zulferiyenni, Zulferiyenni Zulferiynni, Zulferiyenni