Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN BUAH KARIKA SEBAGAI PENUNJANG EKONOMI MASYARAKAT TENGGERTOSARI JAWA TIMUR Roisatul Ainiyah; Desy Cahyaning Utami; Cahyaning Rini Utami
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 4, No 5 (2020): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3865.517 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v4i5.3153

Abstract

Abstrak: Buah Karika memiliki persebaran habitat yang sempit, hanya mampu tumbuh di daerah pegunungan dengan suhu rendah. Buah ini mampu tumbuh dengan baik di Tengger, sehingga sangat sesuai untuk dibudidayakan di Tosari. Keinginan warga untuk bisa mengolah Karika menjadi produk olahan pangan bernilai ekonomi sangat tinggi, dengan tujuan untuk meningkatkan value added. Salah satunya adalah Komunitas Baladaun Mertasari yaitu kelompok masyarakat yang melakukan pengolahan buah karikadan merupakan mitra dalam Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini. Baladaun biasanya mengolah buah karika menjadi manisan karika dalam sirup. Banyak kendala yang dihadapi Baladaun dalam mengolah karika, yaitu, dalam proses produksi, ijin produksi, pemasaran, pendidikan, lingkungan, pertanian, dan sosial. PKM ini dilakukan dalam rangka pengembangan produk olahan buah karika baik berupa olahan pangan maupun non pangan. Tujuan dari PKM ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam melakukan diversifikasi produk olahan buah karika, sehingga jenis produk olahan mitra semakin bertambah dan kualitasnya menjadi lebih baik. Metode yang digunakan meliputi observasi, Forum Group Discussion (FGD), Pelatihan, Seminar, Workshop, dan Pendampingan. Produk olahan berupa sirup, selai, permen jelly, dodol buah, dan sabun karika. Untuk menunjang keberlanjutan poduk, dalam kegiatan PKM ini ditunjang dengan kegiatan seminar bertema keamanan pangan, workshop pemasaran online, dan pendampingan pengurusan ijin produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Pelaksanaan pengabdian menggunakan pendekatan partisipasi kelompok. Hasil PKM yang telah dilaksanakan berupa peningkatan pengetahuan, keterampilan dan kualitas produk mitra yang diukur berdasarkan pengisian kuisioner oleh mitra, serta peningkatan jenis produk yang tadinya hanya satu produk menjadi 6 produk. Abstract: Karika fruit has a narrow distribution habitat, only able to grow in mountainous areas with low temperatures. This fruit is able to grow well in Tengger, so it is very suitable for cultivation in Tosari. Citizens are able to process Karika into processed food products with very high economic value, with the aim of increasing added value. One of them is the Baladaun Mertasari Community, a community group that processes karika fruit, and is a partner in this Community Partnership Program Baladauns usually process karika fruit into karika sweets in syrup. Many ngehap related to Baladaun in cultivating karika, namely in the production process, production permits, marketing, education, environment, agriculture, and social. This PKM is carried out in the context of developing karika fruit processed products in the form of processed food and non-food products. The purpose of this PKM is to increase the knowledge and skills of partners in diversifying karika fruit processed products, so that the types of processed products of partners are increasing and the quality is better. The methods used include observation, FGD, training, seminars, workshops, and mentoring. Processed products are syrup, jam, jelly candy, fruit lunkhead, and karika soap. To support the sustainability of products, this PKM activity is supported by seminars on the theme of food safety, online marketing workshops, and assistance in obtaining a Home Industry Food production permit (PIRT). The implementation of the service uses a group participation approach. The results of the PKM that have been implemented are in the form of increased knowledge, skills and product quality as measured by filling out questionnaires by partners, as well as increasing types of products from only one product to 6 products.
ANALISIS USAHA TERASI UDANG DI DESA TAMBAK LEKOK KABUPATEN PASURUAN Zaini Musthofa; Roisatul Ainiyah

Publisher : Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Yudharta, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.33 KB) | DOI: 10.35891/tp.v9i2.1191

Abstract

Potensi kelautan dan perikanan Kabupaten Pasuruan meliputi wilayah perairan laut yang mencapai sekitar 48 km mulai Kecamatan Nguling, Lekok, Rejoso, hingga Bangil. Desa Tambaklekok merupakan desa pesisir di Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan, dikenal sebagai tempat pengolahan hasil perikanan, seperti kerupuk ikan, keripik ikan, petis ikan, i kan asin, ikan asap, terasi, dan lain-lain. Terasi memiliki nilai ekonomis tingg i. Penduduk Desa Tambaklekok yang mata pencaharian sebagai nelayan mencapai 45% dari jumlah total penduduk, dan hanya ada 5 (lima) kepala keluarga yang memiliki usaha pembuatan terasi. Hal ini mengindikasikan wilayah Tambaklekok berpotensi bagi pengembangan usaha pembuatan terasi.Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis potensi kelayakan usaha pembuat an terasi udang di Desa Tambaklekok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, dengan melakukan pendekatan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner. Analisis kelayakan usaha dilakukan dengan pendekatan harga produksi, Break Even Point (BEP), R/C Ratio (Return Cost of Ratio), B/C Ratio (Benefit Cost of Ratio).Hasil analisis finansi al diketahui bahwa dari perhitungan rata-rata nilai R/C ratio dan B/C ratio, yang dapat menentukan kelayakan usaha terasi di Desa Tambaklekok. Diketahui bahwa usaha terasi mendapat nila i B/C ratio < 1 yaitu 0,82. Hal ini menunjukkan bahwa usaha terasi di Desa Tambaklekok tidak layak dijalankan. Namun, jika menurut kriteria R/C ratio, nilai R/C ratio > 1 yaitu sebesar 1,82. Hal ini menunjukkan usaha terasi di Desa Tambaklekok dapat dikatakan layak untuk dilanjutkan dan dikembangkan.Hasil tersebut menunjukan perhitungan rata-rata nilai R/C ratio, usaha teras i di Desa Tambaklekok termasuk kategori menguntungkan dan layak dilanjutkan.
PENGARUH JENIS TEGAKAN TERHADAP KOMPOSISI DAN KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN BAWAH DI HUTAN SAPEN KECAMATAN PRIGEN KABUPATEN PASURUAN Roisatul Ainiyah; Amang Fathurraman; Mulyono Wibisono; Fafit Rahmat Aji; Diyono Yusuf

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1101.177 KB) | DOI: 10.35891/agx.v8i1.564

Abstract

Penelitian keanekaragaman tumbuhan bawah dilakukan di Hutan Lindung Blok Sapen Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis tegakan terhadap komposisi dan keanekaragaman tumbuhan bawah di Hutan Sapen. Terdapat tiga stasiun pengambilan sampel berdasarkan jenis tegakan yang ada, yaitu stasiun 1 (dibawah tegakan mahoni), stasiun 2 (dibawah tegakan pinus), dan stasiun 3 (tanpa tegakan). Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode line transect. Dalam setiap stasiun pengamatan terdapat 70 plot pengamatan seluas 2x2 m2 sepanjang jalur line transect. Jumlah total spesies yang ditemukan di tiga stasiun pengamatan adalah 137 spesies dari 43 famili. Keanekaragaman tumbuhan bawah di hutan Blok Sapen bedasarkan indeks keanekaragaman (H’) tertinggi ada pada stasiun 1 (3,6518), kemudian stasiun 3 (tanpa tegakan) (3,54775), dan stasiun 2 ( 2,988). Struktur dan komposisi tumbuhan bawah Berdasarkan INP, pada stasiun 1 lima urutan teratas tumbuhan bawah yang mendominasi adalah Paspalum conjugatum, Athyrium sp, Pasphalum commersonii, Centrocema pubescens, dan Adiantum sp. Pada stasiun 2 adalah Pasphalum commersonii, Imperata cylindrica, Centrocema pubescens, Pennisetum purpureum, dan Axonopus enapositus, dan pada stasiun 3 adalah Desmodium triflorum, Imperata cylindrica, Axonopus sp, Juwawutan, dan Mimosa pudica.Jenis tegakan yang berbeda mempengaruhi iklim mikro yang berbeda pada lantai hutan, menyebabkan kondisi lingkungan (pH, suhu, kelembapan tanah, kelembapan udara, dan intensitas cahaya) berbeda. Selain itu zat alelopati dan kecepatan dekomposisi serasah, juga berperan serta dalam menentukan komposisi dan keanekaragaman tumbuhan bawah.
EFEKTIFITAS MIKROSATELIT INRA - 23 DAN INRA - 32 SEBAGAI PENANDA GENETIK KERBAU (Bubalus bubalis) Roisatul Ainiyah

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.151 KB) | DOI: 10.35891/agx.v7i2.713

Abstract

Penanda molekuler didefinisikan sebagai segmen DNA tertentu yang mewakili perbedaan pada tingkat genom. Mikrosatelit adalah salah satu penanda genetik. Mikrosatelit adalah sekuen DNA yang berulang, dimana satu motif mengandung satu sampai enam pasang basa yang diulang secara tandem dalam sejuml ah waktu. Saat ini banyak sekali penelitian yang dalam prosesnya melibatkan Penanda mikrosatelit. Informasi tentang keefektifan dan keinformatifan suatu mikrosatelit sangat dibutuhkan untuk membantu para peneliti dalam menentukan Penanda yang sesuai dengan kebutuhan penelitian mereka. Oleh karena itu penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas antara mikrosatelit INRA - 23 dengan INRA - 32. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah darah kerbau, terdiri dari 16 sampel dari dua populasi kerbau yang berbeda. Penelitian laboratorium dilakukan dengan pendekatan molekuler analisis DNA, meliputi kegiatan isolasi DNA, elektroforesis agarosa, PCR, dan elektroforesis poliakrilamid menggunakan dua macam primer, yaitu INRA - 23, dan INRA - 32. Data hasil pengamatan berupa pita ( band) DNA dianalisis menggunakan GENEPOP ver3.1d option 3 - 1 dan 3 - 3. Hasil penelitian menunjukkan frekuensi alel pada lokus INRA - 23 populasi 2 lebih tinggi dibanding populasi 1 , s edangkan frekuensi alel pada lokus INRA - 32 populasi 1 lebih tinggi daripada populasi 2. Rerata nilai heterozigositas populasi 1 yang diharapkan lebih tinggi (60%) dibandingkan dengan nilai heterozigosi tas yang teramati (50%) (tingkat heterozigositas rendah). Sedangkan, rerata nilai heterozigositas populasi 2 yang teramati lebih tinggi (62,5) dari pada nilai heterozigositas yang diharapkan (56%) (tingkat heterozigositas tinggi ). nilai polimorfisme (PIC) pada populasi 1 (0,49%) lebih rendah dari pada populasi 2 (0,51%) . Dari sini dapat dikatakan bahwa lokus INRA - 23 lebih informatif dibanding lokus INRA - 32. Tetapi selisih nilai polimorfisme kedua lokus tersebut tidak terlalu tinggi, sehingga keduanya merup akan lokus yang cukup informatif untuk digunakan.
Formulasi sabun karika (Carica pubescens) sebagai sabun kecantikan dan kesehatan Roisatul Ainiyah; Cahyaning Rini Utami

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.031 KB) | DOI: 10.35891/agx.v11i1.1652

Abstract

Soap is a mixture of sodium compounds with fatty acids that are used as a body cleansing agent, in the form of solid, foam, with or without other additives and does not cause irritation to the skin. To improve quality, bath soap can be given additional ingredients that contain vitamins and various nutrients needed by the skin such as the addition of extracts of karika fruit (Carica pubescens). The purpose of this research is to find out the right formulation in making karika soap. This research used an experimental method with randomized block design (RCBD), consisting of two factorial variations in the concentration of karika juice (0%, 100%, 80%, 60%) and variations in the concentration of NaOH (30%, 35%, and 40% ) so that 12 treatments were obtained each with 3 replications. The process of making soap uses the hot process method. Soap quality analysis is carried out by comparing the results of chemical tests for karika soap with SNI 06-3532-1994 (SNI for solid bath soap), foam stability test, soap hardness, and organoleptic test. The data obtained were analyzed using ANOVA with a confidence interval of 5%. If an effect is found on one of the variebel, a further Tukey test is performed. The results showed that the water content, pH, and free alkali did not meet SNI, while the amount of fatty acids and mineral oil was in accordance with SNI, the significant difference between treatments was only in the water content. Karika soap has abundant and stable foam. The higher concentration of karika juice make the lower hardness of the soap. Organoleptic test results showed a low level of preference for panelists on karika soap products. The suggestion from this research is that karika juice can be tried to applied it in the liquid bath.
KEANEKARAGAMAN SERANGGA DIURNAL DAN NOCTURNAL PADA HUTAN TAMAN KEHATI SAPEN NUSANTARA DI KABUPATEN PASURUAN Endik Deni Nugroho; Dwi Anggorowati Rahayu; Roisatul Ainiyah; Amang Fathurrohman; Zainul Ahwan; Muhammad Dayat; Mulyono Wibisono; Fafit Rahmat Aji; Kasiman Kasiman; Khoirul Anam
Borneo Journal Of Biology Education (BJBE) Vol 3, No 2 (2021): Oktober
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.512 KB) | DOI: 10.35334/bjbe.v3i2.2124

Abstract

AbstrakKeberadaan serangga dapat dijadikan sebagai indikator keseimbangan ekosistem. Spesies serangga diurnal dan nokturnal juga terdapat di Hutan Sapen. Hal ini dikarenakan serangga tersebut mendapatkan persediaan makanan dan lingkungan yang mendukung untuk hidup. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengukur keanekaragaman, dan kemerataan serangga diurnal dan nokturnal pada Hutan Taman Kehati Sapen Nusantara.  Pengumpulan spesimen dapat dilakukan secara teknik jelajah, yaitu terjun langsung ke lapangan dalam pengamatan dan pengambilan sampel. Sampel yang diambil dalam penelitian ini yaitu serangga yang aktif pada pagi sampai sore (serangga diurnal), dan serangga yang aktif pada malam hari (serangga nokturnal). Metode yang digunakan dalam pengamatan dan pengkoleksian serangga yaitu teknik tangkap langsung (direct sweeping) dan teknik jebakan (Trapping). Analisis data melalui identifikasi sampel, indeks Keanekaragamn (H’) dan Indeks Kemerataan (E). Hasil penelitian total temuan serangga malam dan serangga diurnal yaitu 344 individu, yang terdiri dari 8 ordo, 16 famili dan 35 spesies serangga terbanyak yaitu pada ordo Lepidoptera dan Ordo Orthoptera. Indeks Keanekaragaman (H’) pada serangga diurnal sebesar 2,363 dan serangga nokturnal sebesar 2,410 yang menunjukan bahwa nilai masing-masing serangga berkategori keanekaragaman sedang. Sedangkan Indeks kemerataan serangga diurnal sebesar 0,8 dan serangga nokturnal sebesar 0,9 yang menunjukan bahwa nilai masing masing serangga tersebut berkategori tinggi.Kata kunciSerangga Diurnal, Serangga Nokturnal, Keanekaragaman, Kemerataan, Hutan Sapen AbstractThe presence of insects can be used as an indicator of the balance of the ecosystem. Diurnal and nocturnal insect species are also found in the Sapen Forest. The abundance of insects is due to food supplies and a supportive environment to live in. This study was conducted to measure the diversity and even distribution of diurnal and nocturnal insects in the Sapen Nusantara Conservation Forest. Specimen collection was carried out through the roaming technique, going directly to the field for observation and sampling. The samples taken in this study were active from morning to evening (diurnal insects) and active at night (nocturnal insects). The methods used in observing and collecting insects are direct sweeping and trapping. Data analysis consists of sample identification, the diversity index (H') and Evenness Index (E). The results of the study total findings of nocturnal insects and diurnal insects were 344 individuals, consisting of 8 orders, 16 families and 35 species. Most insects are in the order Lepidoptera and Order Orthoptera. The Diversity Index (H') for diurnal insects is 2,363, and nocturnal insects are 2,410, which shows that the value of each insect is categorized as moderate diversity. While the evenness index of diurnal insects was 0.8 and nocturnal insects was 0.9, which showed that the value of each insect was in the high category.Keywords: Sapen Forest, Diurnal Insects, Nocturnal Insects, Diversity, Evenness
Diversity of bird agroforestry species in Sapen Nusantara Conservation Park of Mount Arjuno, Pasuruan Endik Deni Nugroho; Dwi Anggorowati Rahayu; Roisatul Ainiyah; Amang Fathurrohman; Zainul Ahwan; Muhammad Dayat; Mulyono Wibisono; Fafit Rahmat Aji; Kasiman Kasiman
Edubiotik : Jurnal Pendidikan, Biologi dan Terapan Vol 8 No 01 (2023): Edubiotik : Jurnal Pendidikan, Biologi dan Terapan
Publisher : Biology Education Department, IKIP Budi Utomo, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/ebio.v8i01.2680

Abstract

The Sapen Nusantara Conservation forest park is agroforestry that has certain vegetation. The vegetation in Sapen Nusantara Protected forest park seems to support the existence of birds as wildlife that need a living habitat. The existence of bird species in Sapen Nusantara Protected forest park is very important in supporting agroforestry vegetation. However, until now the diversity of bird species there has not been identified and recorded properly. The forest is one of the buffer forests of Mount Arjuno protection forest, so the ecosystem must be maintained. This study aims to analyze the diversity of bird species in the agroforest forest area in Sapen Nusantara Conservation forest park, Ledug Village, Pasuruan. The research was conducted in July 2021 using the direct observation method (point count) on ecotourism routes by calculating and recording the trails traversed using GPS, sampling by observing walking along the path/road accompanied by predetermined observation points, identification based on MacKinnon et al., (2010) and information on the status of its protection. Data analysis used the Shannon-Wiener diversity index, evenness index, and species richness index. The results of the study identified 18 bird species from 16 families with a total of 169 individuals. Of all the birds found, 18 species are listed in IUCN status, and 4 are listed in the protected status PP No. P.106 of 2018 and 3 species are listed in the CITES category Appendix II. It is known that the Shannon diversity index (H'=2,547) is in the medium diversity category. species evenness index (E=0.9) with a high evenness category and stable community. Then the specific wealth index (R=3.31) with the category of species richness is classified as medium. The presence of birds in the Sapen Nusantara conservation park forest indicates that the ecosystem in the forest is still maintained and this cannot be separated from the role of the community, especially the Ledug Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), which manages and maintains the forest.
Formulasi Insektisida Nabati Kombinasi Daun Brugmansia suaveolens Bercht. & J. Presl dan Daun Swietenia macrophylla King untuk Mengendalikan Hama Hypothenemus hampei Ferr. Ainiyah, Roisatul; Nugroho, Endik Deni; Fathurrohman, Amang; Ahwan, Zainul; Dayat, Muhammad; Wibisono, Mulyono; Aji, Fafit Rahmat; Kasiman, Kasiman; Anam, Khoirul
Agrikultura Vol 34, No 2 (2023): Agustus, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i2.43158

Abstract

Hama utama yang menyerang tanaman kopi adalah Hypothenemus hampei Ferr. Keberadaan hama ini menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya produksi kopi. Pengendalian yang umum dilakukan adalah menggunakan insektisida sintetik yang dapat berdampak buruk bagi lingkungan. Semnetara itu, tanaman kecubung gunung (Brugmansia Suaveolens) dan mahoni (Swietenia macrophylla) mengandung metabolit sekunder yang memiliki potensi sebagai bahan insektisida nabati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan fitokimia dan efektivitas insektisida nabati kombinasi daun B. suaveolens dan daun S. macrophylla dalam mengendalikan H. hampei. Penelitian dilakukan selama November 2021 sampai Januari 2022 di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan dan Laboratorium Biologi ITSNU Pasuruan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima formulasi perbandingan daun B. suaveolens dan S. macrophylla, yaitu F1 (500 g : 0 g), F2 (350 g : 150 g), F3 (250 g : 250 g), F4 (150 g : 350 g), dan F5 (0 g : 500 g) serta pelakuan kontrol negatif (air) dan kontrol positif (insektisida berbahan aktif karbaril 85%), masing-masing diulang tiga kali. Skrining fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder sedangkan uji efektivitas dilakukan untuk mengetahui tiga parameter uji yaitu intensitas serangan, lethal time (LT50), dan mortalitas. Data dianalisis menggunakan Anova dengan tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima formulasi insektisida nabati mengandung senyawa fenol, tanin, saponin, alkaloid, flavonoid, triterpenoid, dan steroid (kecuali F1 tidak mengandung saponin). Hasil uji efektivitas menunjukkan formulasi F2 dapat mengendalikan H. hampei dengan intensitas serangan sebesar 4,7 lubang gerekan mendekati kontrol positif (4,3 lubang gerekan), lethal time LT50 14,6 jam, dan mortalitas sebesar 53,3%.
PENGEMBANGAN DESA DIGITAL SEBAGAI UPAYA MENGANGKAT POTENSI LOKAL DESA KARANGREJO Ainiyah, Roisatul; Burhan, Shokiful; Ardiansyah, Muhammad Firman; Fidanti, Dhyan Putri
Jurnal Agro Dedikasi Masyarakat (JADM) Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.59 KB) | DOI: 10.31764/jadm.v2i2.5999

Abstract

Desa Karangrejo merupakan desa yang sedang berkembang dengan lokasi berada di Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Untuk mempercepat pertumbuhan dan perkembangannya, dibutuhkan dukungan sistem teknologi dan informasi sebagai upaya mengenalkan potensi lokal desa kepada masyarakat umum. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan digitalisasi desa. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengembangkan desa digital sebagai upaya mengangkat potensi lokal desa Karangrejo. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini meliputi observasi, wawancara, FGD, dan dokumentasi. Data yang diperoleh digunakan sebagai dasar membuat situs web desa yang berisi informasi profil desa, kependudukan, potensi desa (potensi wisata, UMKM & produk unggulan, pangan lokal), pelayanan publik, berita, dan informasi kontak. Potensi wisata desa Karangrejo meliputi kolam renang Arsmaper79, Wisata Air Sumber keling, BUMDES Mavendra, dan Perkebunan Melon. Produk unggulan desa berupa hasil tenun dan peralatan kebersihan (selimut, kain lap, kain pel, sumbu kompor, wiper air, sapu ijuk, gantungan baju, dan keset). Produk tersebut diproduksi oleh 806 UMKM di desa Karangrejo dan telah menembus pasar internasional. Beberapa produk diekspor ke negara tetangga seperti Malaysia (bekerja sama dengan pihak luar desa). Potensi pangan lokal desa meliputi umbi-umbian, rempah rimpang, dan perkebunan melon. Potensi pangan lokal tersebut akan terus dikembangkan ke pengolahan produk sehingga dihasilkan produk pangan unggulan. Melalui situs web diharapkan dapat mengangkat potensi lokal desa dan mengenalkan desa Karangrejo kepada masyarakat luas, sehingga mempercepat kemajuan desa. Digitalisasi desa dapat dilengkapi dengan program lain seperti pembuatan e-commerce desa dan aplikasi desa berbasis android, sehingga layanan digital menjadi lebih efektif dan efisien.
Formulasi Penyedap Rasa Alami Berbahan Dasar Ikan Teri (Stolephorus Sp) dan Tomat (Solanum Lycopersicum): Natural Flavoring Formulation Based on Anchovies (Stolephorus Sp) and Tomatoes (Solanum Lycopersicum) Rofiq, Ainur; Ainiyah, Roisatul
MIYANG Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Miyang Edisi April 2024
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine, Universitas PGRI Ronggolawe, Tuban, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55719/j.miy.v4i1.1003

Abstract

Penyedap rasa merupakan bahan tambahan pada makanan, sehingga makanan dapat bertambah manis, asin, asam, dan sebagainya. Penyedap rasa alami biasanya didapatkan dari ekstrak tumbuhan maupun hewan yang secara langsung melalui proses fisik, mikrobologi, atau enzimatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Formulasi penyedap rasa alami berbahan dasar ikan teri (Stolephorus sp) dan tomat (Solanum lycopersicum). Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 1 faktorial. Penelitian ini terdiri dari 5 perlakuan berupa variasi perbandingan penambahan ikan teri dan tomat yang berbeda yaitu F1 (50,4 g : 33,6 g), F2 (54,6 g : 29,4 g), F3 (58,8 g : 25,2 g), F4 (63 g : 21 g ), F5 (67,2 g : 8 g). Metode pengumpulan data pada penelitian ini melalui uji organoleptik (uji kesukaan). Data dianalisis menggunakan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik sesuai dengan tingkat kesukaan panelis terhadap penyedap rasa alami berbahan dasar ikan teri dan tomat yaitu perlakuan F5 . Hasil organoleptik aroma penyedap memiliki nilai rerata tertinggi pada sampel F5 sebesar 3,65 sedangkan F1 sebesar 3,35. Warna penyedap pada sampel F5 sebesar 3,85 dan F1 sebesar 3,2, tekstur dari hasil organoleptik penyedap memiliki nilai rerata tertinggi pada F5 sebesar 3,75 dan F1 sebesar 3,3, rasa dari hasil organoleptik penyedap memiliki nilai rerata tertinggi pada sampel F5 sebesar 3,75 dan F1 sebesar 2,8.